Ponsel Adrian hampir terlepas dari tangannya.
Selama beberapa detik, dia hanya menatap layar tanpa mampu bernapas dengan benar.
Di rekaman langsung itu, Kirana masih berlutut di lantai. Wajahnya pucat. Rambutnya berada dalam genggaman Ibu Ratna, sementara gelas berisi air dengan bubuk obat berada hanya beberapa sentimeter dari bibirnya.
Adrian langsung berdiri.
Kursinya terhempas ke belakang dan membentur dinding kaca ruang kerja.
Tangannya gemetar saat menekan tombol perekam layar.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berharap apa yang dilihatnya hanyalah kesalahan kamera.
Namun suara ibunya terdengar terlalu jelas.
“Kamu tidak akan pernah bisa membuktikan apa pun,” kata Ibu Ratna. “Adrian lebih percaya kepadaku daripada kepadamu.”
Kirana menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak pernah ingin memisahkan Adrian dari Ibu.”
“Jangan sok suci.”
“Aku cuma ingin Kevin aman.”
Ibu Ratna mendengus.
“Aman? Kamu bahkan tidak sadar ketika anakmu menangis selama hampir satu jam minggu lalu.”
Kirana terdiam.
Lalu perlahan wajahnya berubah.
“Itu karena minuman yang Ibu berikan.”
Ibu Ratna tersenyum.
Akhirnya Adrian mengerti.
Beberapa minggu sebelumnya, dia pulang dari perjalanan bisnis dan menemukan Kirana tertidur sangat pulas di kamar. Kevin menangis di ranjang bayi dengan popok penuh.
Ibu Ratna yang menggendong Kevin saat itu.
Dia berkata Kirana sengaja tidur karena tidak tahan mendengar tangisan bayi.
Adrian marah besar.
Dia bahkan berkata kepada Kirana bahwa menjadi ibu bukan hanya soal melahirkan.
Malam itu Kirana hanya menangis.
Sekarang setiap kalimat yang pernah dia ucapkan terasa seperti pisau yang berbalik menusuk dirinya sendiri.
Adrian meraih kunci mobil dan berlari keluar kantor.
Namun sebelum memasuki lift, dia berhenti.
Jika dia langsung pulang dan menghadapi ibunya tanpa persiapan, Ibu Ratna mungkin menghancurkan barang bukti.
Dia segera menghubungi Bayu, sahabatnya sejak kuliah yang kini bekerja sebagai pengacara keluarga.
“Bayu.”
Suara Adrian terdengar tidak seperti biasanya.
“Aku butuh bantuanmu sekarang.”
“Ada apa?”
“Datang ke rumahku. Bawa seseorang yang bisa menjadi saksi. Kalau perlu polisi.”
“Adrian, ini jam dua pagi.”
“Bayu.”
Hening.
“Aku baru saja melihat ibuku mencoba membius Kirana.”
Bayu tidak bertanya lagi.
Adrian berlari menuju parkiran bawah tanah.
Sepanjang perjalanan ke Pondok Indah, aplikasi CCTV tetap terbuka di dashboard mobil.
Dia melihat Ibu Ratna memaksa Kirana memegang gelas.
“Minum.”
“Tidak.”
“Kalau kamu tidak minum, aku bisa melakukan sesuatu yang lebih buruk.”
Kirana memandang Kevin.
Bayi itu mulai menangis lemah.
Suaranya tidak lagi sekeras sebelumnya.
Kirana tiba-tiba menyadari sesuatu.
Dia menyentuh dahi Kevin lagi.
“Kenapa panasnya semakin tinggi?”
Ibu Ratna tidak menjawab.
“Ibu memberi apa ke Kevin?”
Pertanyaan itu membuat Adrian menginjak pedal gas lebih dalam.
Di layar, Ibu Ratna tampak kehilangan ketenangannya sesaat.
“Hanya vitamin.”
“Apa?”
“Vitamin bayi.”
“Kapan?”
“Sore tadi.”
Kirana berdiri dengan susah payah.
“Aku tidak pernah memberikan vitamin tanpa resep dokter.”
“Duduk.”
“Apa yang Ibu berikan kepada anakku?”
Kirana mendorong tangan Ibu Ratna.
Itulah pertama kalinya malam itu dia melawan.
Ibu Ratna langsung menamparnya.
Suara tamparan terdengar jelas melalui mikrofon kamera.
Namun Kirana tidak jatuh.
Dia meraih Kevin dari ranjang bayi dan memeluknya erat.
“Buka pintunya.”

“Taruh bayi itu kembali.”
“Buka pintu sekarang.”
“Dia cucuku.”
“Dia anakku.”
Wajah Ibu Ratna berubah.
Untuk sesaat, tidak ada lagi sosok ibu mertua yang selalu berbicara lembut di depan Adrian.
Yang terlihat hanya seorang perempuan yang sedang kehilangan kendali.
“Kamu pikir aku akan membiarkan keluarga ini jatuh ke tangan perempuan sepertimu?”
Kirana menahan napas.
“Perempuan sepertiku?”
“Kamu datang dari keluarga biasa. Tidak punya nama. Tidak punya aset. Tidak punya jaringan. Adrian membangun semuanya bertahun-tahun, lalu kamu datang dan dalam waktu singkat menjadi istrinya.”
Kirana memandangnya tidak percaya.
“Jadi semua ini tentang uang?”
“Ini tentang keluargaku.”
“Tidak. Ini tentang kendali.”
Kalimat itu membuat Ibu Ratna membeku.
Kirana melanjutkan.
“Sejak aku menikah dengan Adrian, Ibu tidak pernah bisa menerima bahwa dia memiliki kehidupan yang tidak Ibu atur.”
“Diam.”
“Ibu memilih apartemennya. Ibu memilih asistennya. Ibu ikut menentukan investasi pribadinya. Bahkan ketika kami menikah, Ibu yang menentukan rumah mana yang harus kami beli.”
“Diam!”
“Tapi Kevin tidak akan menjadi milik Ibu.”
Ibu Ratna maju.
Adrian membanting setir karena lampu merah.
Dia hanya berjarak beberapa menit dari rumah.
Di CCTV, Kirana memeluk bayi itu lebih erat.
Ibu Ratna tiba-tiba menarik selimut Kevin dan berusaha mengambil bayi tersebut.
Kirana memutar tubuhnya.
“Jangan sentuh dia!”
Kevin menangis.
Kirana menjerit kali ini.
“Jangan sentuh anakku!”
Suara itu membuat Adrian merasa dadanya pecah.
Dia akhirnya tiba di depan rumah.
Mobil bahkan belum berhenti sempurna ketika dia membuka pintu.
Satpam rumah terkejut melihatnya berlari masuk.
“Pak Adrian?”
“Buka pintu kamar bayi dari luar kalau saya bilang.”
Adrian naik ke lantai dua.
Namun dia tidak langsung masuk.
Dia berdiri di depan pintu kamar Kevin dan mendengar suara ibunya dari dalam.
“Kamu tidak mengerti. Adrian membutuhkan aku.”
“Adrian membutuhkan seorang ibu,” jawab Kirana. “Bukan seseorang yang menghancurkan keluarganya.”
Adrian membuka pintu.
Ibu Ratna berbalik.
Wajahnya seketika pucat.
“Adrian?”
Kirana menatap suaminya.
Tidak ada kelegaan di wajahnya.
Hanya ketakutan.
Ketakutan kepada seorang pria yang selama dua bulan terakhir tidak pernah mempercayainya.
Adrian merasa jauh lebih sakit melihat tatapan itu dibandingkan apa pun.
“Aku melihat semuanya,” katanya.
Ibu Ratna langsung mengubah ekspresinya.
“Nak, dengarkan Mama. Kirana sedang tidak stabil. Dia mencoba membawa Kevin keluar dalam keadaan demam. Mama hanya menghentikannya.”
Adrian mengangkat ponselnya.
“Aku melihat semuanya.”
Ibu Ratna terdiam.
“Dari kapan?”
“Cukup lama.”
“Adrian, Mama bisa menjelaskan.”
“Apa isi gelas itu?”
“Vitamin.”
“Untuk siapa?”
Tidak ada jawaban.
Adrian mengambil gelas dari meja dengan tisu.
“Jangan sentuh itu,” katanya ketika Ibu Ratna mencoba meraihnya.
Lalu dia melihat botol kecil di lantai.
Labelnya sudah dilepas.
Adrian mengenali bentuk tablet di dalamnya.
Dua minggu sebelumnya, dokter memberinya obat tidur dosis rendah ketika insomnia akibat pekerjaan mulai mengganggu kesehatannya.
Botol itu pernah disimpan di lemari kerja.
“Dari mana Mama dapat ini?”
Ibu Ratna tidak menjawab.
Kirana duduk di tepi ranjang sambil memeluk Kevin.
Tubuhnya gemetar.
Adrian berjongkok di depannya.
“Kirana.”
Istrinya mundur refleks.
Gerakan kecil itu menghancurkan sesuatu dalam dirinya.
“Aku tidak akan menyentuhmu,” katanya pelan.
Kirana menatapnya.
“Aku menelepon dokter anak,” katanya terbata. “Kevin harus dibawa ke rumah sakit.”
“Kita pergi sekarang.”
Ibu Ratna bergerak menuju pintu.
Namun sebelum dia sempat keluar, dua petugas keamanan rumah berdiri di sana.
Tidak lama kemudian Bayu tiba bersama seorang anggota kepolisian yang kebetulan masih bertugas malam dan dua petugas tambahan menyusul.
Ibu Ratna mulai berteriak.
“Kamu memanggil polisi untuk ibumu sendiri?”
Adrian menatapnya.
“Tidak.”
Suaranya datar.
“Aku memanggil polisi untuk seseorang yang mencoba membius istriku dan membahayakan anakku.”
Kevin segera dibawa ke rumah sakit swasta terdekat.
Hasil pemeriksaan membuat situasi menjadi jauh lebih buruk.
Dokter menemukan bahwa demam Kevin bukan semata-mata akibat infeksi ringan.
Dari pemeriksaan darah, ditemukan kandungan obat yang seharusnya tidak ada di tubuh bayi berusia enam minggu.
Jumlahnya kecil.
Namun cukup untuk membuatnya lebih lemah dan mengantuk.
Kirana hampir jatuh ketika dokter menjelaskan itu.
“Apakah anak saya akan baik-baik saja?”
“Kami akan mengawasinya semalaman. Untung dosisnya sangat kecil.”
Adrian berdiri di sampingnya.
Tangannya mengepal.
Dokter kemudian meminta mereka menunggu di luar ruang observasi.
Di lorong rumah sakit, Kirana duduk sendirian.
Adrian mencoba duduk di sampingnya.
Namun Kirana berdiri.
“Aku mau ke toilet.”
“Kirana.”
Dia berhenti.
“Aku minta maaf.”
Kirana tidak menoleh.
Adrian melanjutkan.
“Aku seharusnya percaya padamu.”
Hening panjang.
“Aku sudah mencoba bicara.”
“Aku tahu.”
“Berkali-kali.”
“Aku tahu.”
“Kamu bilang aku terlalu emosional.”
Adrian menunduk.
“Kamu bilang aku mungkin mengalami depresi setelah melahirkan.”
“Aku salah.”
“Kamu bahkan meminta dokter memeriksa kondisiku karena ibumu bilang aku mulai berhalusinasi.”
Suara Kirana bergetar.
“Tahu apa yang paling menyakitkan?”
Adrian tidak menjawab.
“Aku sampai mulai meragukan diriku sendiri.”
Kirana akhirnya menatapnya.
“Aku berpikir mungkin benar aku gila.”
Adrian tidak sanggup mengatakan apa pun.
Tiga hari kemudian, Kevin dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang.
Namun Kirana tidak ikut pulang ke rumah mereka.
Dia membawa Kevin ke rumah kakaknya di Bintaro.
Adrian tidak menghentikannya.
Untuk pertama kalinya, dia memahami bahwa meminta maaf tidak selalu berarti berhak langsung mendapat pengampunan.
Penyelidikan polisi dimulai.
Rekaman CCTV menjadi barang bukti utama.
Namun kejutan terbesar muncul seminggu kemudian.
Bayu menemukan sebuah map berisi salinan surat konsultasi hukum di kamar pribadi Ibu Ratna.
Di dalamnya terdapat rancangan permohonan hak asuh, catatan medis Kirana, foto-foto Kirana sedang tidur, serta jurnal berisi tanggal dan jam ketika Kirana dianggap lalai merawat Kevin.
Semuanya telah disusun selama hampir dua bulan.
Lebih mengejutkan lagi, beberapa foto ternyata diambil setelah Ibu Ratna memberikan minuman kepada Kirana.
Ada juga percakapan antara Ibu Ratna dan seorang staf rumah tangga yang memperlihatkan bahwa tangisan Kevin sengaja dibiarkan beberapa menit sebelum Kirana dibangunkan dan direkam.
Adrian membaca semua dokumen itu dengan tangan dingin.
Namun ada satu berkas yang membuatnya benar-benar terpukul.
Sebuah surat lama dari notaris ayahnya.
Surat itu dibuat bertahun-tahun sebelum ayah Adrian meninggal.
Isinya menjelaskan bahwa sebagian besar saham keluarga akan dialihkan kepada Adrian ketika dia memiliki keturunan.
Jika Adrian meninggal, saham tersebut akan diwariskan kepada anak kandungnya.
Selama anak itu masih di bawah umur, wali keluarga memiliki kekuasaan besar atas pengelolaan aset.
Nama yang selama bertahun-tahun tercantum sebagai calon wali keluarga adalah Ratna Wijaya.
Bayu menatap Adrian.
“Sekarang kamu tahu kenapa ibumu begitu terobsesi dengan hak asuh Kevin.”
Adrian merasa mual.
Semua ucapan tentang nama keluarga, warisan, dan masa depan akhirnya masuk akal.
Ibunya tidak hanya ingin menyingkirkan Kirana.
Dia ingin tetap memiliki akses penuh terhadap aset keluarga melalui Kevin.
Kasus itu kemudian berjalan secara hukum.
Ibu Ratna akhirnya ditahan setelah hasil laboratorium memperkuat bukti bahwa obat tidur ditemukan dalam minuman Kirana dan zat obat tertentu juga terdeteksi pada Kevin.
Namun bagi Adrian, proses hukum bukan bagian tersulit.
Bagian tersulit adalah setiap kali datang menemui Kirana.
Pada bulan pertama, Kirana hanya mengizinkannya bertemu Kevin beberapa jam.
Pada bulan kedua, dia mulai mengizinkan Adrian membantu memandikan bayi mereka.
Pada bulan ketiga, mereka akhirnya duduk bersama lebih lama tanpa membicarakan pengacara.
Suatu sore, Adrian berkata, “Kalau kamu ingin bercerai, aku akan menerima.”
Kirana menatapnya.
“Aku belum tahu.”
“Aku tidak akan memaksa.”
“Kenapa kamu tidak membela diri?”
“Karena tidak ada yang perlu dibela.”
Adrian menelan ludah.
“Aku tidak menyakitimu dengan tanganku. Tapi aku membuatmu sendirian ketika seseorang menyakitimu. Mungkin itu sama buruknya.”
Mata Kirana mulai berkaca-kaca.
“Aku hanya ingin satu hal kalau kita mencoba lagi.”
“Apa pun.”
“Jangan percaya seseorang hanya karena dia keluarga.”
Adrian mengangguk.
“Percayalah pada fakta. Dan dengarkan orang yang meminta pertolongan.”
Enam bulan kemudian, Kirana dan Kevin kembali ke rumah.
Bukan karena semua luka sudah sembuh.
Namun karena kepercayaan mulai dibangun kembali, perlahan dan dengan batas yang jelas.
Kamar bayi itu direnovasi.
Lampu berbentuk awan yang menyembunyikan kamera CCTV tetap dipasang.
Kirana sempat ingin membuangnya.
Namun Adrian meminta agar benda itu disimpan.
Bukan sebagai alat pengawasan.
Melainkan sebagai pengingat.
Pada pukul 02.13 suatu dini hari, kamera kecil itu pernah menunjukkan sesuatu yang gagal dilihat Adrian selama berbulan-bulan.
Bahwa kebohongan paling berbahaya bukan selalu datang dari orang asing.
Kadang-kadang ia datang dari seseorang yang memanggil dirinya keluarga.
Dan sejak malam itu, Adrian memahami satu hal yang tidak pernah diajarkan dunia investasi kepadanya.
Kerugian terbesar bukanlah ketika kita salah mempercayai seseorang.
Kerugian terbesar adalah ketika orang yang paling kita cintai sudah meminta kita percaya kepadanya, tetapi kita memilih untuk tidak mendengar.
