Hartini tidak kembali ke terminal.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memilih tidak menuruti Hendra.
Ia mematikan suara ponsel, memasukkan kertas dari Nala ke dalam dompet, lalu berjalan cepat menuju deretan taksi daring di area penjemputan. Tangannya masih gemetar ketika menyebut alamat rumahnya di Bogor.
Sepanjang perjalanan, pesan Hendra terus bermunculan.
“Ibu di mana?”
“Jangan paksa aku datang mencari Ibu.”
“Nala ada sama aku.”
Lalu satu pesan terakhir masuk.
“Kalau Ibu pulang ke rumah, semuanya selesai.”
Hartini menatap layar cukup lama.
Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatnya langsung menyerah.
Ia terlalu terbiasa memaafkan Hendra.
Sejak kecil, Hendra memang pandai membuat Hartini merasa bersalah. Ketika nilainya buruk, Hartini menyalahkan dirinya karena terlalu sibuk bekerja. Ketika Hendra gagal mendapatkan pekerjaan pertama, Hartini menjual gelang emas untuk membantunya membuka usaha. Ketika bisnis itu bangkrut, Hartini kembali menjual sebidang tanah warisan.
Hendra selalu punya alasan.
Hartini selalu punya maaf.
Namun kali ini, ada Nala di tengah semuanya.
Dan anak berusia delapan tahun itu tampak jauh lebih takut kepada ayahnya daripada kepada siapa pun.
Hartini akhirnya membuka aplikasi pesan dan mengetik satu kalimat.
“Ibu cuma mau mengambil obat.”
Ia menatap tulisan itu beberapa detik sebelum mengirimkannya.
Hendra menjawab hampir seketika.
“Jangan bohong.”
Hartini tidak membalas lagi.
Dua jam kemudian, taksi berhenti sekitar dua ratus meter dari rumahnya.
Hartini sengaja turun di depan minimarket.
Ia tidak tahu apakah Hendra memasang kamera atau meminta seseorang menjaga rumah.
Langit Bogor mendung. Udara terasa berat setelah hujan pagi.
Hartini berjalan melalui gang kecil di samping kompleks perumahan, menggunakan jalan belakang yang biasa dipakai tukang kebun.
Ketika akhirnya melihat rumahnya, dada Hartini terasa sesak.
Rumah itu tampak seperti bukan miliknya lagi.
Tirai sudah dilepas.
Garasi kosong.
Tanaman anggrek yang dirawatnya selama bertahun-tahun hilang dari teras.
Bahkan papan nama kecil bertuliskan “Hartini Tailor” yang dahulu dipasang almarhum suaminya sudah dicabut.
Ia masuk menggunakan kunci cadangan yang selama ini disimpan di dalam dompet.
Pintu masih bisa dibuka.
Hartini mengembuskan napas panjang.
Setidaknya Hendra belum mengganti kunci.
Rumah itu sunyi.
Terlalu sunyi.
Hartini langsung menuju kamar jahit.
Pintu kayunya sedikit terbuka.
Ruangan kecil itu penuh debu dan kardus kosong. Mesin jahit tua miliknya masih berada di sudut, ditutupi kain putih.
Ia teringat saat Hendra masih SD.
Anak itu sering tidur di lantai kamar jahit sambil menunggu Hartini menyelesaikan pesanan seragam sekolah.
“Kalau Hendra besar nanti, Hendra akan bikin Ibu tidak perlu kerja lagi.”
Kalimat itu masih terdengar jelas di kepalanya.
Hartini menutup mata sesaat.
Lalu ia teringat pesan Nala.
Cari persegi panjang hitam di kamar jahit.
Hartini mulai memeriksa ruangan.
Ia membuka lemari.
Menggeser kotak benang.
Memeriksa bawah meja.
Tidak ada apa-apa.
Hampir lima belas menit berlalu.
Keringat mulai membasahi pelipisnya.
Kemudian ia melihat dinding di belakang mesin jahit.
Ada perbedaan warna kecil pada bagian bawah tembok.
Hartini menarik mesin jahit perlahan.
Di belakangnya terdapat panel kayu berbentuk persegi panjang, dicat hitam.
Persis seperti gambar Nala.
Jari Hartini menjadi dingin.
Ia mencoba menarik panel itu, tetapi tidak bergerak.
Setelah beberapa kali mencoba, ia menemukan lubang kecil di sisi kanan.
Hartini memasukkan ujung gunting jahit.
Terdengar suara klik.
Panel itu terbuka.
Di baliknya terdapat sebuah ruang sempit di dalam dinding.
Dan di sana ada tas hitam.
Hartini menariknya keluar.
Tas itu cukup berat.
Di dalamnya terdapat beberapa map dokumen, sebuah laptop kecil, dua ponsel, dan satu amplop cokelat bertuliskan nama lengkapnya.
Hartini membuka amplop itu terlebih dahulu.
Ada salinan paspornya.
Salinan sertifikat rumah.
Data rekening bank.
Dan sebuah dokumen berbahasa Inggris dengan kop sebuah fasilitas perawatan lansia di pinggiran Sydney.
Hartini tidak memahami semua kalimatnya.
Namun satu bagian membuat napasnya terhenti.
Permanent residential care.
Di bagian berikutnya terdapat pernyataan bahwa wali hukum pasien diberikan wewenang untuk mengelola aset dan keputusan finansial apabila pasien dinilai tidak lagi kompeten secara mental.
Nama wali itu sudah terisi.
Hendra Pratama.
Hartini terduduk di lantai.
Tangannya gemetar hebat.
Bukan sekadar membawa dirinya ke Australia.
Hendra sudah menyiapkan jalan agar Hartini kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Namun sesuatu masih tidak masuk akal.
Hartini sehat.
Ia memang memiliki tekanan darah tinggi ringan, tetapi pikirannya masih sangat jernih.
Bagaimana mungkin Hendra bisa menyatakan dirinya tidak kompeten secara mental?
Jawabannya muncul ketika Hartini membuka map kedua.
Di dalamnya terdapat surat dari seorang dokter.
Diagnosis awal tertulis dengan istilah yang membuat Hartini hampir tidak bisa bernapas.
Early onset dementia with episodes of paranoia and confusion.
Hartini membaca nama pasien.
Hartini Wibowo.
Tanggal lahirnya benar.
Nomor paspornya benar.
Tetapi Hartini tidak pernah diperiksa untuk demensia.

Ia bahkan tidak mengenal nama dokter tersebut.
Di bawah surat itu terdapat rangkaian catatan medis.
“Pasien sering lupa arah pulang.”
“Pasien mengalami halusinasi.”
“Pasien menunjukkan kecenderungan mencurigai anggota keluarga.”
Semua itu bohong.
Lalu Hartini menemukan sesuatu yang lebih mengerikan.
Foto.
Beberapa foto dirinya sedang tidur.
Foto dirinya duduk di ruang makan dengan ekspresi kosong.
Foto dirinya terlihat seperti sedang berbicara sendiri.
Hartini mengenali situasinya.
Beberapa bulan terakhir, Hendra sering memberikan vitamin setiap malam.
“Biar Ibu tidurnya nyenyak.”
Setelah meminum kapsul itu, Hartini memang sering merasa sangat lemas dan sulit mengingat percakapan sebelum tidur.
Jantungnya berdebar.
Apakah Hendra sengaja memberinya sesuatu?
Suara mobil tiba-tiba terdengar dari depan rumah.
Hartini membeku.
Pintu mobil ditutup.
Lalu terdengar suara pagar.
Hendra.
Hartini buru-buru memasukkan beberapa dokumen ke dalam tasnya.
Ponselnya bergetar.
“Ibu ada di rumah.”
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Hartini menatap sekeliling.
Ia tidak punya waktu untuk keluar lewat pintu depan.
Maka ia masuk ke gudang kecil yang terhubung dengan kamar jahit.
Dulu ada pintu belakang menuju halaman samping.
Ia menarik gagangnya.
Terkunci dari luar.
Suara pintu utama terbuka.
“Ibu?”
Hartini menahan napas.
Langkah kaki Hendra terdengar.
Perlahan.
Tidak terburu-buru.
Itulah yang justru membuatnya semakin menakutkan.
“Ibu jangan bikin semuanya susah.”
Hartini menggenggam tas hitam di dadanya.
Hendra masuk ke ruang tamu.
“Aku tahu Ibu menemukan sesuatu.”
Langkah kakinya semakin dekat.
“Dengar dulu penjelasan Hendra.”
Hartini menatap gudang.
Ada jendela kecil di bagian atas.
Terlalu tinggi untuk tubuhnya.
Namun di sebelah dinding terdapat bangku kayu.
Hartini menyeretnya perlahan.
Kayunya menggesek lantai.
Suara langkah Hendra berhenti.
“Ibu?”
Hartini langsung naik ke bangku.
Tangannya meraih bingkai jendela.
Pintu kamar jahit terbuka.
“Nah.”
Suara Hendra terdengar sangat dekat.
Hartini memaksa tubuhnya naik.
Jendela itu sempit.
Siku dan pinggangnya terbentur.
Namun akhirnya ia berhasil keluar dan jatuh ke halaman samping.
Rasa sakit menjalar dari lutut.
Tetapi Hartini bangkit.
Ia berlari menuju rumah tetangga.
“Hartini!”
Hendra berteriak dari belakang.
Hartini tidak menoleh.
Ia mengetuk pagar rumah Pak Darto, pensiunan polisi yang tinggal tiga rumah darinya.
“Pak Darto!”
Pintu terbuka.
Pak Darto muncul dengan kaus putih dan celana pendek.
Melihat wajah Hartini, ekspresinya langsung berubah.
“Ada apa, Bu?”
“Tolong panggil polisi.”
Beberapa detik kemudian Hendra muncul dari gang.
Ia langsung mengubah wajahnya.
“Pak Darto, maaf. Ibu saya sedang kambuh.”
Hartini menatapnya.
“Kambuh apa?”
Hendra tersenyum prihatin.
“Dementianya.”
Pak Darto menoleh kepada Hartini.
Hendra melanjutkan dengan suara lembut.
“Sudah beberapa bulan Ibu sering paranoid. Saya sebenarnya mau membawanya berobat ke Australia.”
Hartini mengeluarkan dokumen dari tas.
“Dia memalsukan semuanya.”
Ekspresi Hendra akhirnya berubah.
Hanya sepersekian detik.
Namun Pak Darto melihatnya.
“Jangan sentuh beliau,” kata Pak Darto tegas.
Hendra mengangkat tangan.
“Saya anaknya.”
“Dan beliau meminta polisi.”
Pak Darto menutup pagar.
Hendra berdiri di luar.
Wajahnya mengeras.
Hartini untuk pertama kalinya melihat sosok yang selama ini bersembunyi di balik senyum anak berbakti itu.
Bukan Hendra kecil yang tidur di bawah meja jahit.
Bukan anak yang dulu berjanji akan membahagiakannya.
Melainkan seorang pria yang sudah memutuskan bahwa ibunya hanyalah aset.
Polisi datang sekitar tiga puluh menit kemudian.
Hartini menyerahkan dokumen yang ditemukannya.
Laptop dan dua ponsel dari ruang rahasia juga diamankan.
Hendra bersikeras semua itu hanyalah persiapan pengobatan.
Namun pemeriksaan digital mengubah semuanya.
Di laptop ditemukan percakapan Hendra dengan seorang perantara di Australia.
Isi pesannya sangat jelas.
Setelah Hartini ditempatkan di fasilitas perawatan, Hendra berencana menggunakan surat kuasa medis untuk mengambil alih seluruh rekening dan menjual rumah atas nama ibunya.
Lebih buruk lagi, ditemukan bukti bahwa Hendra memiliki utang hampir sembilan miliar rupiah akibat investasi kripto dan perjudian daring.
Ia sudah dikejar penagih utang selama berbulan-bulan.
Rumah Hartini adalah jalan terakhirnya.
Namun polisi menemukan satu percakapan lain.
Percakapan itu bukan dengan orang Australia.
Melainkan dengan istrinya sendiri, Maya, ibu Nala.
“Aku tidak mau Nala tahu.”
“Dia sudah dengar.”
“Kalau dia bicara ke Nenek?”
“Anak kecil gampang ditakuti.”
Hartini membaca pesan itu di kantor polisi dengan napas tertahan.
Ia langsung bertanya.
“Nala di mana?”
Polisi ternyata juga sedang mencari anak itu.
Hendra mengatakan Nala bersama ibunya.
Maya mengatakan Nala bersama Hendra.
Selama hampir satu jam, tidak ada yang tahu lokasi sebenarnya.
Sampai polisi memeriksa rekaman CCTV bandara.
Setelah Hartini keluar dari terminal, Hendra sempat membawa Nala menuju area parkir.
Namun sepuluh menit kemudian, Nala terlihat berjalan kembali ke dalam terminal sendirian.
Polisi menemukannya di ruang layanan penumpang.
Anak itu duduk memeluk tas kecilnya.
Ketika Hartini datang, Nala langsung berlari.
“Nenek!”
Hartini memeluknya erat.
Tubuh kecil itu gemetar.
“Nala pikir Nenek sudah naik pesawat.”
“Tidak.”
Hartini mencium rambut cucunya.
“Nenek baca surat Nala.”
Nala mulai menangis.
“Aku dengar Papa ngomong sama Mama.”
Hartini membeku.
“Apa yang kamu dengar?”
Nala mengusap air mata.
“Mama bilang kalau Nenek sudah di Australia, rumahnya bisa dijual.”
Hartini menatap cucunya.
“Terus Papa bilang apa?”
Nala menjawab dengan suara sangat pelan.
“Papa bilang dokter akan bikin Nenek kelihatan seperti orang yang sudah tidak ingat apa-apa.”
Ruangan terasa hening.
Namun kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.
Polisi memanggil Hartini kembali.
Ada satu hal yang baru ditemukan dari telepon kedua di ruang rahasia.
Telepon itu ternyata milik Maya.
Dan sebagian besar percakapan menunjukkan sesuatu yang tidak pernah diduga Hartini.
Rencana awal bukan dibuat Hendra.
Maya-lah yang pertama menghubungi jaringan perantara.
Maya pula yang mencari dokter yang bersedia membuat catatan medis palsu.
Maya mengetahui utang Hendra dan menawarkan jalan keluar.
“Kalau ibumu dianggap tidak cakap, semua aset bisa kamu kendalikan.”
Hendra sempat menolak.
Namun kemudian ikut menjalankannya.
Hartini merasa dunia kembali berputar.
Selama ini ia mengira Maya hanya istri yang terlalu pasif terhadap suaminya.
Ternyata Maya justru otak di balik semuanya.
Nala mengetahui sebagian rencana itu karena suatu malam ia terbangun untuk mengambil air dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar.
Maya menyadari Nala mendengar.
Sejak itu, ia berulang kali mengancam putrinya agar diam.
“Kamu ngomong ke Nenek, Papa bisa masuk penjara.”
Itulah sebabnya Nala terus menggambar.
Ia takut berbicara.
Tetapi ia masih ingin menyelamatkan Hartini.
Beberapa bulan kemudian, Hendra dan Maya resmi menjalani proses hukum atas dugaan pemalsuan dokumen, penipuan, ancaman, dan percobaan pengambilalihan aset.
Sertifikat rumah Hartini berhasil diamankan.
Rekeningnya dibekukan sementara untuk mencegah transaksi ilegal.
Tetapi bagi Hartini, kehilangan terbesar bukan uang.
Melainkan kenyataan bahwa dua orang dewasa yang seharusnya melindungi keluarga justru menggunakan cinta sebagai senjata.
Pada suatu sore, Hartini kembali ke kamar jahit.
Rumah itu sudah perlahan diisi kembali.
Mesin jahit tua dibersihkan.
Foto mendiang suaminya kembali dipasang.
Nala duduk di samping meja sambil menggambar.
Hartini melirik kertasnya.
Kali ini rumah yang digambar Nala tidak memiliki tanda silang hitam.
Jendelanya terbuka.
Di halaman ada dua sosok perempuan bergandengan tangan.
Satu kecil.
Satu tua.
Hartini tersenyum.
“Yang ini siapa?”
Nala menunjuk sosok kecil.
“Nala.”
“Yang sebelahnya?”
“Nenek.”
Hartini mengangguk.
Kemudian ia melihat sebuah pesawat kecil di sudut langit.
“Kalau pesawat itu?”
Nala berpikir sebentar.
Lalu tersenyum.
“Pesawat ke Australia.”
Hartini terdiam.
Nala cepat-cepat menambahkan.
“Tapi nanti kita pergi kalau Nenek memang mau.”
Hartini tertawa kecil.
Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
Ia memeluk cucunya.
Selama puluhan tahun, Hartini percaya bahwa anak yang baik adalah anak yang selalu menuruti keluarga.
Tetapi di usia tujuh puluh dua tahun, justru seorang bocah delapan tahun yang mengajarinya sesuatu yang tidak pernah ia pahami sebelumnya.
Cinta tidak selalu berarti percaya tanpa bertanya.
Keluarga tidak selalu berarti aman.
Dan terkadang, orang yang paling menyayangi kita bukanlah orang yang mengatakan, “Percayalah kepadaku.”
Melainkan orang kecil yang gemetar ketakutan, tetapi tetap berani menyelipkan secarik kertas ke telapak tangan kita dan berkata,
“Nenek, lari sebelum terlambat.”
