IBU MERTUAKU BERBISIK, “SETIAP MALAM ADA MAKHLUK DARI BAWAH TANAH YANG MENCIUM TUBUHKU…” SAAT POLISI MEMBUKA PINTU BESI ITU, SUAMIKU MALAH TERSENYUM, “AYAH SUDAH BANGUN!”

“Ayah sudah tahu kamu ada di sini.”

Kalimat itu keluar dari mulut Hendra dengan nada nyaris penuh kasih, justru membuat tengkuk Maya terasa dingin.

Dari bawah lantai terdengar lagi suara benturan.

BRAK!

Kali ini lebih keras.

Gelas di atas meja kecil bergetar. Air di dalamnya membentuk lingkaran-lingkaran kecil.

Bu Ratna mulai terisak.

“Hendra, cukup… Ibu mohon.”

Namun Hendra seolah tidak mendengar.

Ia berlutut di dekat garis persegi pada lantai lalu menempelkan telapak tangannya pada ubin.

“Ayah,” bisiknya. “Sebentar lagi.”

Maya menatap suaminya dengan campuran takut dan tidak percaya.

Pria di hadapannya masih memiliki wajah yang sama dengan laki-laki yang enam tahun lalu mengucapkan janji pernikahan kepadanya. Laki-laki yang dulu menangis ketika mereka kehilangan kehamilan pertama. Laki-laki yang setiap Minggu pagi memasakkan nasi goreng terlalu asin dan tertawa setiap kali Maya mengeluh.

Namun sorot mata itu bukan sorot mata Hendra yang dikenalnya.

Maya perlahan berdiri.

“Apa sebenarnya yang ada di bawah sana?”

Hendra tersenyum.

“Tubuh baru Ayah.”

“Tubuh baru?”

“Macan kumbang.”

Maya merasa perutnya berputar.

Hendra membuka laci meja di dekat ranjang dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah penuh coretan.

“Ayah menemukan seekor macan kumbang jantan bertahun-tahun lalu di Sumatra. Dia percaya hewan itu berbeda. Kuat. Cerdas. Seolah memahami manusia.”

“Hendra, itu hanya tulisan ayahmu.”

“Bukan.”

Nada suaranya meninggi.

“Ayah sudah membuktikannya.”

Ia menunjuk ke arah lantai.

“Macan itu masih hidup.”

Maya terdiam.

Pikirannya bekerja cepat.

Seekor satwa liar berada di bawah rumah mereka.

Dirantai.

Disembunyikan selama berbulan-bulan.

“Bagaimana kamu membawanya ke sini?”

Hendra terkekeh pendek.

“Itu bukan urusanmu.”

Bu Ratna tiba-tiba menyela.

“Gudang lama.”

Hendra menoleh tajam.

Bu Ratna menelan ludah.

“Bambang punya gudang di pinggir kota. Dulu dia menyimpan alat berburu di sana.”

“Diam, Bu.”

“Setelah Bambang meninggal, Hendra pergi ke sana setiap malam.”

“DIAM!”

Teriakan itu begitu keras sampai Maya tersentak.

Namun kini sesuatu mulai masuk akal.

Bau tanah.

Rantai.

Bulu hitam.

Luka-luka di tubuh Bu Ratna.

Maya memandang jarum suntik di atas meja.

“Kenapa Ibu harus disuntik?”

Hendra mengembuskan napas panjang, seperti seorang guru yang lelah menjelaskan sesuatu kepada murid bodoh.

“Ayah menulis bahwa peralihan membutuhkan tiga hal. Tubuh pengganti. Darah keluarga. Dan aroma orang yang paling dicintai.”

Ia menatap ibunya.

“Ibu adalah satu-satunya orang yang bersama Ayah selama tiga puluh delapan tahun.”

Bu Ratna memejamkan mata.

“Kamu mencampurkan darah Ibu ke tubuh hewan itu?”

Hendra tidak menjawab.

Keheningan itu sudah cukup.

Maya menahan rasa mual.

“Dan cairan yang kamu suntikkan?”

“Hanya obat penenang.”

“Setiap malam?”

“Aku tidak ingin Ibu panik.”

“Kamu hampir membunuhnya!”

“Aku menyelamatkan keluarga kita!”

Hendra melangkah mendekat.

Maya mundur.

“Besok adalah delapan bulan sejak Ayah meninggal. Catatannya mengatakan siklusnya selesai setelah delapan bulan.”

Maya sadar satu hal.

Hendra benar-benar mempercayai semua itu.

Tidak ada gunanya berdebat.

Ia harus keluar.

Harus membawa Bu Ratna.

Harus memanggil polisi.

Tatapan Maya bergerak ke pintu.

Hendra menangkapnya.

“Jangan coba-coba.”

“Aku cuma mau mengambil air.”

“Kamu pikir aku bodoh?”

Hendra mengambil ponsel Maya dari meja samping ranjang.

Lalu ponselnya sendiri.

Ia memasukkan keduanya ke dalam lemari dan menguncinya.

“Malam ini kalian di sini.”

“Apa?”

“Kita akan menyaksikan semuanya bersama.”

Maya merasakan napasnya tercekat.

Hendra lalu membuka pintu kamar dan keluar sebentar.

Saat kembali, ia membawa rantai kecil dan gembok.

Ia mengikat gagang pintu kamar dari luar.

Maya dan Bu Ratna terkunci.

Namun Hendra melakukan satu kesalahan.

Ia tidak menyadari Maya masih menyimpan ponsel lama di saku belakang celananya.

Ponsel itu tidak memiliki kartu SIM.

Tetapi masih bisa terhubung ke Wi-Fi rumah.

Begitu langkah Hendra menjauh, Maya langsung mengeluarkannya.

Baterainya hanya sembilan persen.

Tangannya gemetar saat membuka aplikasi pesan.

Wi-Fi tersambung.

Ia mengirim pesan kepada Bu Ningsih.

“Bu, tolong hubungi polisi sekarang. Ada hewan liar berbahaya di bawah rumah kami. Bu Ratna dikurung dan disuntik obat. Jangan datang sendiri.”

Pesan terkirim.

Maya hampir menangis lega.

Dua menit kemudian muncul balasan.

“Saya sudah telepon polisi.”

Namun sesaat setelah itu, seluruh rumah mendadak gelap.

Listrik padam.

Bu Ratna menjerit kecil.

Maya menyalakan senter ponsel.

Dari bawah lantai terdengar geraman berat.

Kali ini bukan lagi sekadar napas.

Suara itu hidup.

Nyata.

Dan marah.

Kemudian terdengar suara logam patah.

KRAK!

Maya menatap pintu lantai.

“Apa rantainya putus?”

Bu Ratna mulai menangis.

“Hendra bilang hewan itu beberapa hari ini semakin sulit dikendalikan.”

Maya meraih kursi kayu dan menyeretnya ke dekat ranjang.

Jika pintu bawah tanah terbuka, ia tidak tahu apa yang bisa dilakukan kursi itu.

Namun setidaknya tangannya memegang sesuatu.

Lima menit terasa seperti satu jam.

Lalu suara langkah kaki berlari mendekat.

Hendra masuk membawa lampu darurat.

Wajahnya berseri-seri.

“Hari ini.”

“Apa?”

“Hari ini waktunya.”

“Hendra, dengarkan aku. Rantainya mungkin putus.”

“Karena Ayah sudah siap.”

“Itu hewan liar!”

Hendra tidak peduli.

Ia menggeser ranjang Bu Ratna menjauh dari garis pintu tersembunyi.

Di bawah salah satu ubin terdapat cincin besi.

Hendra memasukkan batang logam ke sana lalu menariknya.

Sebuah bagian lantai terangkat.

Udara busuk langsung memenuhi kamar.

Bu Ratna menutup mulutnya.

Di balik lubang itu terlihat tangga beton menuju ruang bawah tanah.

Dindingnya lembap.

Lampu kecil berwarna kekuningan berkedip di bawah.

Dan dari kegelapan terdengar suara rantai bergerak cepat.

Maya menarik napas.

“Hendra, jangan.”

Namun Hendra sudah turun.

Satu anak tangga.

Dua.

Tiga.

“Ayah?”

Geraman rendah menjawabnya.

Hendra tertawa kecil.

“Aku datang.”

Tiba-tiba terdengar suara keras dari luar rumah.

“POLISI!”

Maya hampir jatuh karena lega.

“Hendra!”

Wajah Hendra berubah.

Ia menaiki tangga dengan panik.

Maya segera berlari ke pintu kamar dan memukulnya.

“DI SINI! KAMI DI SINI!”

Suara langkah kaki memenuhi lorong.

Beberapa detik kemudian rantai di pintu dipotong.

Dua polisi masuk bersama seorang petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang ternyata dihubungi setelah laporan tentang satwa liar.

“Ada ruang bawah tanah!” teriak Maya.

Hendra berdiri di depan lubang.

“Jangan masuk!”

Seorang polisi menariknya menjauh.

“Pak, mundur.”

“Kalian tidak mengerti!”

Hendra meronta.

“Itu ayah saya!”

Polisi menatapnya bingung.

Petugas konservasi menyorotkan senter ke bawah.

Geraman terdengar lagi.

Wajahnya langsung berubah tegang.

“Semua mundur.”

Ia meminta petugas lain membawa peralatan penanganan satwa.

Bu Ratna segera dibawa keluar oleh petugas medis yang baru tiba.

Sementara Maya berdiri di lorong dengan tubuh gemetar.

Hendra terus berteriak.

“Jangan tembak dia!”

“Kami tidak akan menembak jika tidak perlu,” kata petugas.

Setelah hampir dua puluh menit, tim berhasil memasuki ruang bawah tanah.

Maya tidak diperbolehkan mengikuti.

Namun dari atas ia mendengar suara petugas saling berkomunikasi.

“Ada kandang.”

“Rantai terlepas.”

“Hati-hati sebelah kanan.”

Lalu hening.

Beberapa menit kemudian seorang petugas naik.

“Macan tutul hitam jantan,” katanya. “Kondisinya sangat buruk, tapi hidup.”

Maya menutup mulutnya.

Hendra justru tersenyum.

“Ayah sudah bangun.”

Polisi menatapnya lama.

Kemudian petugas lain muncul sambil membawa sebuah tas pendingin kecil.

Wajahnya jauh lebih serius.

“Pak,” katanya kepada rekannya, “kami menemukan ini.”

Tas itu dibuka.

Di dalamnya terdapat beberapa tabung darah, obat penenang hewan, jarum suntik, dan dokumen.

Namun bukan itu yang membuat semua orang terdiam.

Ada kartu identitas seorang pria.

Nama pada kartu itu adalah Bambang Santoso.

Ayah Hendra.

Maya mengernyit.

“Mengapa KTP almarhum ada di bawah?”

Petugas tidak menjawab.

Ia menyerahkan sebuah map plastik bening kepada polisi.

Di dalamnya ada kuitansi pembelian obat, catatan transportasi satwa, dan sebuah laporan medis.

Salah satu polisi membaca halaman pertama.

Kemudian menatap Hendra.

“Pak Bambang meninggal karena aneurisma otak?”

Hendra langsung berhenti tersenyum.

“Ya.”

Polisi mengangkat laporan tersebut.

“Ini laporan toksikologi.”

Wajah Hendra memucat.

Maya merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada ketakutan mulai tumbuh di dadanya.

“Apa maksudnya?”

Polisi menatapnya.

“Dokumen ini menunjukkan bahwa beberapa minggu sebelum Pak Bambang meninggal, ada pemeriksaan darah yang menemukan kandungan obat antikoagulan dalam dosis sangat tinggi.”

Hendra berteriak.

“Itu bohong!”

Namun Bu Ratna, yang sedang duduk di kursi roda dekat pintu, tiba-tiba menangis keras.

Semua orang menoleh.

“Hendra tidak tahu,” katanya.

“Ibu?” Maya berbisik.

Bu Ratna menatap putranya.

“Ayahmu bukan meninggal mendadak.”

Hendra membeku.

“Apa?”

“Ayahmu sakit selama hampir setahun.”

“Itu tidak benar.”

“Dia menyembunyikannya darimu.”

Bu Ratna terisak.

“Dokter bilang pembuluh darah di otaknya sudah sangat rapuh. Dia juga minum banyak obat. Dia tahu waktunya tidak lama.”

Hendra menggeleng keras.

“Tidak. Ayah kuat.”

“Dia takut kamu tidak bisa menerimanya.”

Hendra mundur satu langkah.

Bu Ratna melanjutkan.

“Karena itu Bambang menulis banyak hal aneh di buku catatannya.”

“Bukan aneh!”

“Itu cerita.”

Hendra terdiam.

“Apa?”

Bu Ratna menutup wajahnya sesaat sebelum menatap putranya lagi.

“Ayahmu suka membuat cerita tentang hutan. Tentang roh penjaga. Tentang macan kumbang. Dia menulisnya sejak kamu kecil karena kamu selalu takut kehilangan dia.”

Maya teringat buku catatan itu.

Sketsa.

Kalimat-kalimat mistis.

Petunjuk yang dianggap Hendra sebagai ritual.

Bu Ratna menangis semakin keras.

“Tidak pernah ada ritual membangkitkan orang mati.”

Hendra menatap kosong.

“Lalu macan itu?”

“Bambang pernah ikut menyelamatkan macan tutul dari perdagangan ilegal bertahun-tahun lalu. Foto dan catatannya ada di gudang.”

Petugas konservasi menatap Hendra tajam.

“Jadi Anda mengambil satwa dari fasilitas ilegal yang masih aktif?”

Hendra tidak menjawab.

Polisi segera memahami arah penyelidikan.

Gudang peninggalan Pak Bambang ternyata bukan hanya tempat penyimpanan barang.

Setelah digeledah keesokan harinya, polisi menemukan bahwa beberapa orang telah memanfaatkannya sebagai titik transit perdagangan satwa liar.

Hendra mengetahui keberadaan macan tutul hitam itu empat bulan sebelumnya.

Alih-alih melapor, ia membelinya secara diam-diam.

Ia kemudian membangun ruang bawah tanah di bawah kamar ibunya dengan bantuan dua pekerja yang diberi tahu bahwa ruangan itu untuk penyimpanan.

Semua karena satu keyakinan.

Bahwa ayahnya dapat kembali.

Namun kejutan terbesar baru ditemukan tiga hari kemudian.

Saat polisi memeriksa rekaman CCTV dari gudang, mereka menemukan video Pak Bambang yang direkam dua minggu sebelum kematiannya.

Dalam video itu, Pak Bambang duduk di kursi plastik, tampak kurus dan lelah.

Ia berbicara langsung ke kamera.

“Hendra, kalau suatu hari kamu menemukan catatan-catatan Ayah, jangan terlalu serius membacanya.”

Pria itu tertawa kecil.

“Itu hanya dongeng seorang bapak yang terlalu banyak masuk hutan.”

Hendra menonton video itu di ruang pemeriksaan polisi.

Maya duduk di seberang kaca bersama Bu Ratna.

Di layar, Pak Bambang melanjutkan.

“Ayah tahu kamu takut kehilangan orang. Sejak kecil kamu selalu begitu.”

Senyumnya perlahan hilang.

“Tapi dengarkan Ayah. Orang yang kita cintai tidak kembali lewat tubuh lain.”

Hendra menundukkan kepala.

“Mereka kembali lewat kebiasaan yang kita ingat. Lewat nasihat yang masih kita dengar di kepala. Lewat keberanian yang dulu mereka ajarkan kepada kita.”

Air mata pertama jatuh dari mata Hendra.

“Ayah tidak ingin kamu menghabiskan hidup mengejar orang mati sampai melukai orang yang masih hidup.”

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Bu Ratna menutup mulutnya sambil menangis.

Maya memandang suaminya dari balik kaca.

Untuk pertama kali dalam delapan bulan, wajah Hendra tidak menunjukkan kegembiraan, obsesi, atau keyakinan.

Hanya seorang anak yang akhirnya memahami bahwa ayahnya benar-benar telah pergi.

Ia menangis sampai bahunya berguncang.

Namun penyesalan tidak menghapus apa yang telah dilakukannya.

Hendra tetap harus menjalani proses hukum atas penyekapan, penganiayaan, penggunaan obat tanpa kewenangan, serta kepemilikan dan penyembunyian satwa dilindungi.

Macan tutul hitam itu dipindahkan ke pusat rehabilitasi satwa.

Butuh berbulan-bulan sebelum kondisinya cukup stabil.

Bu Ratna pun perlahan pulih.

Luka-lukanya mengering.

Obat penenang sudah tidak lagi masuk ke tubuhnya.

Namun ia memilih tidak kembali ke rumah tersebut.

Maya juga tidak.

Rumah itu akhirnya disegel selama penyelidikan.

Beberapa bulan kemudian, Maya mengunjungi Bu Ratna di rumah kecil milik kakaknya di Malang.

Sore itu hujan tipis.

Bu Ratna sedang duduk di teras sambil memandangi pot bunga.

“Aku sering berpikir,” katanya pelan, “mungkin aku seharusnya lebih cepat menyadari Hendra tidak sedang berduka dengan cara yang sehat.”

Maya duduk di sebelahnya.

“Kita semua mengira dia hanya kehilangan ayah.”

Bu Ratna mengangguk.

“Kadang orang yang tenggelam dalam kesedihan tidak terlihat seperti orang yang sedang tenggelam.”

Maya terdiam.

Di kejauhan terdengar suara anak-anak bermain di gang.

Suara kehidupan yang sederhana.

Normal.

Sesuatu yang selama berbulan-bulan terasa sangat jauh.

Bu Ratna menggenggam tangannya.

“Maya.”

“Ya, Bu?”

“Terima kasih karena malam itu kamu membuka pintu kamar.”

Maya menatap perempuan itu.

Ia teringat larangan Hendra.

Jangan pernah masuk ke kamar Ibu lagi.

Jika malam itu ia memilih patuh, mungkin tidak ada polisi.

Tidak ada penyelamatan.

Tidak ada kebenaran.

Maya tersenyum tipis.

“Kadang pintu yang paling keras dilarang untuk kita buka justru menyimpan seseorang yang sedang menunggu pertolongan.”

Bu Ratna mengangguk perlahan.

Beberapa minggu setelah itu, Maya menerima sebuah amplop dari kantor polisi.

Di dalamnya ada satu benda yang dikembalikan setelah penyidikan selesai.

Buku catatan Pak Bambang.

Maya membukanya.

Pada halaman terakhir terdapat tulisan yang sebelumnya tidak pernah ia lihat karena dua lembar kertas saling menempel.

Tulisan tangan Pak Bambang tampak goyah.

“Hendra selalu percaya kematian adalah pintu yang bisa dibuka kembali.”

Di bawahnya ada satu kalimat lagi.

“Semoga suatu hari dia mengerti bahwa tugas orang hidup bukan membuka pintu itu, melainkan menutupnya dengan ikhlas.”

Maya menatap tulisan tersebut cukup lama.

Lalu ia menutup buku itu.

Untuk pertama kalinya sejak malam mengerikan tersebut, bunyi sebuah pintu yang tertutup tidak membuatnya takut.

Karena kini ia tahu, tidak semua pintu harus dibuka kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang