Harga Sebuah Martabat
Dua petugas keamanan berhenti di depan Fransiskus dan Maya. Salah satunya, pria bertubuh tinggi bernama Andi, langsung menatap Bu Rina seolah menunggu instruksi.
Bu Rina menunjuk Fransiskus.
“Bapak ini masuk ke area pelayanan tanpa izin, menolak keluar, dan mengganggu operasional kantin. Tolong antar keluar.”
Andi tidak segera bergerak.
Matanya justru jatuh pada dokumen yang berserakan di lantai.
Ia membaca beberapa kata yang tercetak besar di halaman paling atas.
Yayasan Koba.
Delapan puluh lima miliar rupiah.
Andi pernah mendengar nama itu.
Selama dua bulan terakhir, seluruh staf keamanan mendapat instruksi tambahan karena kampus sedang mempersiapkan kunjungan seorang donatur besar. Foto sang donatur bahkan pernah muncul sebentar dalam grup internal.
Andi menatap wajah Fransiskus sekali lagi.
Jantungnya seperti berhenti sesaat.
“Pak…” katanya pelan.
Bu Rina mengernyit.
“Kenapa malah diam? Bawa keluar.”
Sebelum Andi menjawab, ponsel Fransiskus bergetar.
Sebuah pesan masuk dari direktur hukumnya.
“Instruksi diterima. Seluruh pencairan, hibah, MoU penelitian, dan kerja sama beasiswa dengan Universitas Nusa Bangsa kami bekukan mulai pukul 12.47 WIB.”
Fransiskus membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Di gedung rektorat yang berjarak kurang dari tiga ratus meter, telepon mulai berdering hampir bersamaan.
Rektor Universitas Nusa Bangsa, Prof. Adrian Wijaya, sedang memimpin rapat ketika sekretarisnya berlari masuk tanpa mengetuk.
“Prof, maaf. Ini darurat.”
Beberapa dekan menoleh.
Adrian mengangkat alis.
“Ada apa?”
Sekretaris itu menyerahkan tablet dengan tangan gemetar.
“Yayasan Koba membekukan hibah.”
Adrian berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang.
“Apa?”
“Bukan hanya hibah, Prof. Semua kerja sama dengan Nusantara Biotek juga dihentikan sementara.”
Ruangan langsung sunyi.
Rp85 miliar bukan sekadar angka bagi universitas.
Pusat penelitian biomedis yang direncanakan sudah diumumkan kepada publik. Kontraktor sudah dipilih. Beberapa peneliti dari luar negeri telah direkrut. Program beasiswa untuk tahun berikutnya bahkan telah memasukkan dana Yayasan Koba ke dalam proyeksi anggaran.
“Kenapa?”
“Saya belum tahu.”
Saat itulah ponsel wakil rektor bidang kerja sama berbunyi.
Ia membaca sebuah pesan, lalu wajahnya berubah pucat.
“Prof…”
“Apa lagi?”
“Pak Fransiskus Koba ada di kampus.”
Adrian menatapnya.
“Di mana?”
“Di kantin utama.”
Tidak sampai tiga puluh detik kemudian, seluruh rapat dibubarkan.
Di kantin, Bu Rina masih belum memahami apa yang sedang terjadi.
Ia mengambil napas kesal.
“Andi, saya bilang antar orang ini keluar.”
Namun Andi justru menundukkan kepala sedikit kepada Fransiskus.
“Mohon maaf, Pak.”
Bu Rina menatapnya tidak percaya.
“Maaf untuk apa?”
Andi menelan ludah.
“Bu, sebaiknya Ibu jangan bicara dulu.”
“Apa maksud kamu?”
Suara langkah cepat terdengar dari pintu utama kantin.
Prof. Adrian masuk bersama tiga wakil rektor, kepala biro kemahasiswaan, kepala bagian hukum, dan beberapa staf lain. Mereka berjalan tergesa-gesa sampai beberapa mahasiswa spontan membuka jalan.
Bu Rina langsung tersenyum lega.
“Pak Rektor, kebetulan sekali. Ada pengunjung yang membuat masalah.”
Namun Adrian bahkan tidak melihatnya.
Ia berjalan lurus menuju Fransiskus.
“Pak Fransiskus.”
Suasana kantin berubah seketika.
Beberapa mahasiswa saling berpandangan.
Ada yang langsung membuka ponsel dan mencari nama Fransiskus Koba.
Dalam hitungan detik, bisikan mulai terdengar.
“Itu CEO Nusantara Biotek.”
“Serius?”
“Yang punya Yayasan Koba?”
“Bukannya gedung riset baru dibiayai dia?”
Bu Rina perlahan kehilangan warna di wajahnya.
Adrian berhenti di depan Fransiskus.
“Saya tidak tahu Bapak datang hari ini. Kalau kami tahu…”
Fransiskus mengangkat tangan.
“Justru karena Anda tidak tahu, saya akhirnya melihat apa yang mungkin tidak pernah saya lihat kalau datang dengan rombongan resmi.”
Adrian terdiam.
Fransiskus kemudian menunjuk dokumen di lantai.
“Surat hibah yang Anda tunggu ada di sana.”
Semua mata mengikuti arah tangannya.
Kepala bagian hukum kampus segera membungkuk dan memungut lembar demi lembar dengan hati-hati.

Adrian tampak seperti baru saja menerima pukulan telak.
“Pak Fransiskus, apa yang terjadi?”
Fransiskus tidak menjawab langsung.
Ia menatap Maya.
“Berapa lama?”
Maya menunduk.
“Pa…”
“Berapa lama kamu diperlakukan seperti ini?”
Maya menggigit bibir.
“Sejak awal semester.”
Wajah Fransiskus mengeras.
“Hampir lima bulan?”
Maya mengangguk kecil.
“Kenapa kamu tidak cerita?”
“Aku mau menjalani kuliah seperti orang lain.”
Suaranya bergetar.
“Aku tidak mau setiap masalah selesai karena orang tahu siapa Papa. Aku pikir kalau aku diam, aku bisa membuktikan bahwa aku mampu berdiri sendiri.”
Fransiskus menatap putrinya lama.
“Kamu memang mampu berdiri sendiri.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi berdiri sendiri tidak berarti membiarkan orang menginjak martabatmu.”
Maya menunduk dan air matanya akhirnya jatuh.
Fransiskus tidak memeluknya. Ia hanya menggenggam tangannya, seperti ketika Maya masih kecil dan takut memasuki ruang kelas pada hari pertama sekolah.
Adrian menoleh kepada Bu Rina.
“Jelaskan.”
Bu Rina buru-buru menggeleng.
“Ini salah paham, Prof. Saya hanya menjalankan aturan kantin.”
“Aturan apa?” tanya Fransiskus.
Bu Rina membeku.
“Antrean mahasiswa penerima beasiswa.”
Adrian menoleh tajam.
“Kampus tidak pernah punya aturan seperti itu.”
Bu Rina mulai gugup.
“Maksud saya, hanya pengaturan operasional agar pelayanan lebih cepat.”
Seorang mahasiswa laki-laki dari antrean belakang tiba-tiba mengangkat tangan.
“Pak Rektor, itu bukan cuma hari ini.”
Semua menoleh.
Namanya Farhan, mahasiswa teknik semester tiga.
Ia berjalan maju meski terlihat ragu.
“Jalur C memang sudah lama ada.”
Bu Rina langsung membentak.
“Jangan ikut campur!”
Namun Farhan tidak mundur.
“Mahasiswa beasiswa sering disuruh makan terakhir. Kadang porsinya dikurangi.”
Seorang mahasiswi lain ikut bicara.
“Saya pernah lihat petugas mencoret pilihan lauk mahasiswa karena katanya paket beasiswa tidak boleh ambil makanan tertentu.”
“Benar, Pak.”
“Sudah lama.”
“Kami kira memang aturan kampus.”
Suara-suara mulai bermunculan dari berbagai meja.
Wajah Adrian semakin tegang.
Kepala biro kemahasiswaan buru-buru berkata, “Kami tidak pernah mengeluarkan kebijakan semacam itu.”
Maya akhirnya mengangkat kepala.
“Ada lagi.”
Semua kembali diam.
Ia membuka ponselnya.
Selama beberapa bulan terakhir, Maya rupanya menyimpan foto dan pesan dari grup mahasiswa.
Ada foto papan kecil bertuliskan Jalur C.
Ada foto porsi makanan yang berbeda.
Ada tangkapan layar percakapan beberapa mahasiswa yang mengaku pernah dipermalukan karena menunggak biaya kegiatan.
Ada juga rekaman suara.
Maya menekan tombol putar.
Suara Bu Rina terdengar jelas.
“Kalau kuliah pakai bantuan orang, ya tahu diri. Jangan minta pelayanan sama seperti yang bayar penuh.”
Kantin hening.
Bu Rina memucat.
“Itu dipotong dari konteksnya.”
Maya menatapnya.
“Tidak, Bu. Saya merekam seluruh percakapan.”
Untuk pertama kalinya sejak kejadian dimulai, Bu Rina tidak memiliki jawaban.
Namun Fransiskus justru tidak terlihat puas.
Ia memandang Adrian.
“Saya bisa menerima satu pegawai yang berperilaku buruk.”
Adrian tampak bingung.
“Tapi saya sulit percaya perilaku seperti ini bisa berlangsung berbulan-bulan tanpa ada sistem yang membiarkannya.”
Kalimat itu membuat beberapa pejabat kampus saling menatap.
Fransiskus melanjutkan.
“Jangan pecat satu orang lalu menganggap persoalan selesai.”
Bu Rina terkejut mendengar itu.
Mungkin untuk sesaat ia mengira Fransiskus justru sedang membelanya.
Namun dugaan itu segera lenyap.
“Saya ingin audit menyeluruh. Sistem kantin. Program beasiswa. Mekanisme pengaduan. Perlakuan terhadap mahasiswa dari daerah. Semua.”
Adrian mengangguk cepat.
“Kami akan lakukan.”
“Bukan oleh tim internal saja.”
Fransiskus menatapnya tajam.
“Saya ingin auditor independen.”
Adrian terdiam beberapa detik.
“Baik.”
Fransiskus mengambil satu langkah mendekat.
“Hibah tetap dibekukan.”
Wajah Adrian menegang.
“Pak Fransiskus, pembangunan pusat penelitian sudah berjalan. Kalau dana itu berhenti sekarang, kami bisa mengalami masalah besar.”
“Saya tahu.”
“Ratusan mahasiswa akan terdampak.”
Fransiskus menggeleng.
“Jangan gunakan mahasiswa untuk meyakinkan saya.”
Nada suaranya tetap tenang, tetapi kini jauh lebih berat.
“Dana Rp85 miliar itu saya berikan karena saya percaya universitas ini memiliki nilai yang sama dengan yayasan kami. Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan hanya menghasilkan institusi yang terlihat hebat dari luar.”
Ia memandang sekeliling kantin.
“Kalau seorang mahasiswa bisa dihina hanya karena dianggap miskin, lalu semua orang menganggapnya normal, gedung laboratorium baru tidak akan memperbaiki apa pun.”
Tidak ada yang membantah.
Bu Rina tiba-tiba menangis.
“Pak, saya punya keluarga. Saya sudah bekerja di sini sebelas tahun.”
Fransiskus menatapnya.
“Saya tidak menentukan nasib pekerjaan Anda.”
Bu Rina terdiam.
“Universitas yang harus melakukannya sesuai prosedur.”
Kemudian Fransiskus menambahkan sesuatu yang tidak diduga siapa pun.
“Tapi saya ingin Anda menjawab satu pertanyaan.”
Bu Rina mengusap air matanya.
“Apa?”
“Andai hari ini Maya bukan anak saya, apakah Anda akan menyesal?”
Pertanyaan itu membuat kantin kembali sunyi.
Bu Rina membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Fransiskus mengangguk kecil.
“Itulah masalahnya.”
Ia menggenggam tangan Maya dan berbalik.
Namun sebelum mereka pergi, seorang petugas kantin muda bernama Sari berlari keluar dari balik dapur.
“Pak Fransiskus!”
Fransiskus berhenti.
Sari terlihat takut.
“Saya minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Saya pernah melihat semuanya. Saya tahu ada mahasiswa yang diperlakukan berbeda.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi saya diam karena takut kehilangan pekerjaan.”
Fransiskus menatap perempuan itu cukup lama.
“Terima kasih karena sekarang Anda bicara.”
Sari mengangguk sambil menangis.
“Tapi seharusnya saya bicara lebih cepat.”
“Ya.”
Jawaban Fransiskus sederhana.
“Seharusnya.”
Ia tidak memberikan penghiburan palsu.
“Tapi keberanian yang terlambat masih lebih berguna daripada diam selamanya.”
Tiga minggu berikutnya menjadi masa paling gaduh dalam sejarah Universitas Nusa Bangsa.
Audit independen menemukan bahwa Jalur C bukan kebijakan resmi, tetapi telah dibiarkan bertahun-tahun oleh beberapa pengelola kantin dan staf tertentu.
Yang lebih mengejutkan, sistem tersebut ternyata berawal dari program lama untuk mendistribusikan makanan bersubsidi. Lambat laun, beberapa petugas mengubahnya menjadi pembeda status sosial.
Namun temuan terbesar justru bukan di kantin.
Auditor menemukan puluhan laporan mahasiswa yang tidak pernah ditindaklanjuti.
Keluhan diskriminasi.
Perundungan.
Pemotongan fasilitas mahasiswa beasiswa.
Bahkan ada beberapa staf yang sengaja menghindari mahasiswa dari wilayah tertentu karena menganggap mereka “sulit beradaptasi”.
Bu Rina akhirnya diberhentikan setelah pemeriksaan resmi.
Dua supervisor lainnya menerima sanksi berat.
Kepala layanan mahasiswa mengundurkan diri.
Universitas kemudian membentuk unit pengaduan independen yang dapat diakses tanpa melalui fakultas.
Semua mahasiswa mendapat hak layanan yang sama tanpa identitas status beasiswa pada kartu layanan publik.
Namun publik menunggu satu pertanyaan lain.
Apakah Rp85 miliar itu akan kembali?
Sebulan kemudian, Fransiskus datang lagi ke Universitas Nusa Bangsa.
Kali ini pihak kampus mengetahuinya.
Tidak ada karpet merah.
Fransiskus memang melarangnya.
Ia berdiri di auditorium bersama mahasiswa, dosen, dan pegawai.
Prof. Adrian naik ke panggung.
“Kami telah menyerahkan hasil audit dan melaksanakan sebagian besar rekomendasi yang diberikan.”
Kemudian ia menatap Fransiskus.
“Kami berharap bisa mendapatkan kembali kepercayaan Yayasan Koba.”
Fransiskus berdiri dari kursinya.
Semua orang menunggu.
Ia naik ke atas panggung membawa sebuah map tipis.
Maya duduk di barisan depan.
Fransiskus membuka map tersebut.
“Hibah Rp85 miliar tidak akan diteruskan.”
Ruangan langsung riuh.
Adrian menahan napas.
Maya pun terkejut.
Namun Fransiskus belum selesai.
“Jumlahnya akan diubah.”
Riuh perlahan mereda.
“Yayasan Koba akan memberikan Rp100 miliar.”
Semua orang terdiam.
“Delapan puluh lima miliar tetap digunakan untuk pusat penelitian biomedis sesuai rencana.”
Ia berhenti.
“Tambahan Rp15 miliar akan digunakan untuk membangun dana perlindungan mahasiswa, layanan kesehatan mental, bantuan darurat, serta program dukungan bagi mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah dan wilayah dengan akses pendidikan terbatas.”
Tepuk tangan langsung memenuhi auditorium.
Namun Fransiskus mengangkat tangan.
“Saya tidak ingin tepuk tangan.”
Ruangan kembali tenang.
“Saya ingin janji.”
Ia menatap jajaran pimpinan kampus.
“Tidak ada satu rupiah pun dari dana ini yang boleh membuat mahasiswa merasa sedang menerima belas kasihan.”
Adrian mengangguk.
“Saya berjanji.”
Fransiskus tersenyum tipis.
Setelah acara selesai, Maya menghampiri ayahnya di taman kampus.
“Papa memang sudah merencanakan menambah dana itu?”
Fransiskus tertawa kecil.
“Tidak.”
“Lalu kenapa?”
Fransiskus duduk di bangku.
“Karena setelah membaca laporan audit, Papa sadar masalahnya lebih besar daripada satu orang.”
Maya ikut duduk.
“Jadi Papa tidak marah lagi?”
“Masih.”
Maya tertawa.
Fransiskus menatap putrinya.
“Tapi kemarahan paling berguna kalau menghasilkan sesuatu.”
Maya terdiam.
Kemudian ia berkata pelan, “Aku minta maaf karena tidak cerita.”
Fransiskus menggeleng.
“Papa juga salah.”
Maya menatapnya bingung.
“Papa terlalu sibuk memastikan kamu punya semua fasilitas terbaik sampai lupa bertanya apakah kamu merasa aman.”
Maya tersenyum kecil.
Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk menikmati angin sore.
Lalu Maya mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah kartu mahasiswa baru.
Fransiskus mengernyit.
“Kenapa kartu baru?”
Maya menyerahkannya.
Di sana hanya tertulis Maya Koba.
Tidak ada tanda khusus penerima beasiswa.
Tidak ada kode layanan.
Tidak ada kategori ekonomi.
Fransiskus tersenyum.
“Bagus.”
Maya lalu berkata, “Ada satu hal yang belum Papa tahu.”
“Apa?”
“Aku memang mahasiswa penerima beasiswa.”
Fransiskus terdiam.
Maya menahan tawa melihat ekspresi ayahnya.
“Aku ikut seleksi beasiswa prestasi diam-diam tahun lalu. Aku lolos seratus persen.”
Fransiskus menatap putrinya tidak percaya.
“Jadi selama ini Papa membayar uang kuliah…”
“Tidak pernah dipakai.”
Maya tersenyum lebar.
“Uangnya masih ada di rekening pendidikan.”
Fransiskus tertawa untuk pertama kalinya hari itu.
Kemudian Maya mengatakan sesuatu yang membuatnya terdiam lagi.
“Aku mau donasikan sebagian untuk mahasiswa lain.”
Fransiskus memandang putrinya lama.
Di hadapannya, ia tidak lagi melihat anak kecil yang dulu selalu menggenggam jarinya saat menyeberang jalan.
Ia melihat seorang perempuan muda yang telah menemukan jalannya sendiri.
Fransiskus mengangguk.
“Asalkan satu syarat.”
“Apa?”
“Tidak ada nama Koba di program itu.”
Maya tersenyum.
“Setuju.”
Beberapa bulan kemudian, sebuah program bantuan baru diluncurkan di kampus.
Tidak ada nama keluarga kaya di papan pengumuman.
Tidak ada foto donatur.
Program itu hanya diberi nama Ruang Setara.
Di bawah namanya terdapat satu kalimat sederhana.
Martabat seseorang tidak pernah ditentukan oleh siapa yang membayar makan siangnya.
Dan setiap kali Fransiskus datang ke kampus setelah hari itu, ia tetap mengenakan kemeja biasa, sepatu sederhana, dan datang tanpa rombongan.
Bukan karena ia ingin menguji siapa pun.
Melainkan karena ia sudah belajar sesuatu yang jauh lebih penting.
Tempat yang benar-benar menghormati manusia tidak perlu tahu siapa seseorang sebelum memperlakukannya dengan baik.
