“Bagaimana caranya kalian menjual properti senilai puluhan miliar rupiah kalau nama kalian bahkan tidak pernah tercantum di sertifikat ini?”
Kalimat Maya jatuh seperti palu di tengah halaman Villa Coral.
Tak ada yang bergerak.
Suara ombak dari Pantai Senggigi terdengar samar dari balik deretan pohon kelapa, berbanding terbalik dengan suasana tegang di halaman rumah putih itu.
Rian menatap sertifikat di atas meja dengan wajah pucat. Endang yang sejak tadi begitu lantang kini seperti kehilangan suara.
Beberapa tamu yang semula duduk santai mulai saling berbisik.
Seorang pria asing yang baru saja menyerahkan deposit bahkan perlahan mengambil kembali dompetnya.
“Maya, dengar dulu,” kata Rian akhirnya.
“Dengar apa?”
Nada suara Maya tetap datar.
“Kamu mau bilang sertifikat itu salah?”
Rian mengusap wajahnya.
“Bukan begitu. Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Bagus. Jelaskan.”
Maya menyilangkan tangan di dada.
“Mulai dari kenapa rumah yang saya beli untuk orang tua saya berubah menjadi penginapan. Lalu jelaskan kenapa orang tua saya tidur di gudang. Setelah itu, jelaskan bagaimana kamu bisa menandatangani draft penjualan rumah yang bukan milikmu.”
Rian membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Endang tiba-tiba maju.
“Sudahlah, jangan dibuat seolah-olah kami penjahat!”
Maya menatapnya tanpa berkedip.
Endang melanjutkan dengan nada lebih tinggi.
“Rian mengurus rumah ini selama kamu berbulan-bulan di laut. Dia mengeluarkan tenaga, waktu, juga uang. Kalau rumah ini menghasilkan, wajar dia punya hak.”
Maya tersenyum tipis.
“Hak?”
Dia meraih ponselnya, lalu membuka aplikasi perbankan.
“Renovasi terakhir rumah ini Rp1,8 miliar. Semuanya saya transfer langsung ke kontraktor.”
Dia menggulir layar.
“Biaya furnitur Rp640 juta. Saya bayar.”
Gulir lagi.
“Perizinan renovasi, pajak, jasa desain interior, pemasangan sistem keamanan. Semua dari rekening saya.”
Maya memandang Rian.
“Uang apa yang kamu keluarkan?”
Rian menunduk.
Endang menjawab cepat.
“Bukan cuma soal uang.”
“Benar,” kata Maya. “Ada soal kepercayaan juga.”
Kalimat itu membuat Rian mengangkat kepala.
Untuk pertama kalinya, sorot mata Maya terlihat terluka.
Bukan marah.
Terluka.
“Aku memberimu kunci karena aku percaya.”
Rian maju satu langkah.
“Maya, aku salah. Tapi ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Rian menarik napas panjang.
“Aku terdesak.”
Maya diam.
Rian melanjutkan.
“Bisnisku bermasalah.”
Maya mengernyit.
“Bisnis apa?”
Rian menelan ludah.
Selama hampir dua tahun terakhir, Rian selalu mengaku mengelola perusahaan konsultan logistik kecil bersama dua rekannya. Penghasilannya tidak sebesar Maya, tetapi cukup baik.
Setidaknya begitulah yang Maya tahu.
Rian meremas jarinya sendiri.
“Perusahaan itu sudah berhenti beroperasi delapan bulan lalu.”
Maya membeku.
“Apa?”
“Aku rugi.”
“Berapa?”
Rian tak langsung menjawab.
“Berapa, Rian?”
“Sekitar sebelas miliar.”
Marni menutup mulutnya.
Sastro menatap menantunya dengan mata tak percaya.
Maya sendiri tidak bereaksi selama beberapa detik.
Sebelas miliar.
Angka itu terlalu besar untuk dianggap sekadar kegagalan usaha biasa.
“Kamu punya utang sebelas miliar?”
Rian mengangguk kecil.
“Sebagian pinjaman bisnis. Sebagian lagi dari investor pribadi.”
“Dan kamu tidak pernah bilang kepadaku?”
“Aku takut.”
Maya tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
“Takut saya marah, jadi kamu memilih menjual rumah saya?”
Rian menggeleng cepat.
“Aku pikir setelah rumah terjual, aku bisa mengembalikan sebagian uangmu.”
Maya menatapnya seperti sedang melihat orang asing.
“Dengan menjual rumah tanpa izin saya?”
“Aku akan menjelaskan setelah semuanya selesai.”
“Setelah selesai?”
Suara Maya mulai meninggi.
“Setelah rumah orang tua saya berpindah tangan?”
Endang kembali menyela.
“Kalau kamu memang istri yang baik, kamu seharusnya membantu suamimu!”
Maya langsung menoleh.
“Jangan bawa-bawa soal istri yang baik.”
Endang terdiam.
“Saya bekerja enam belas tahun di kapal. Saya menghadapi badai, kecelakaan mesin, kebakaran ruang generator, dan berbulan-bulan jauh dari keluarga.”
Maya menunjuk ke arah gudang.
“Saya melakukan semua itu supaya dua orang yang membesarkan saya bisa hidup tenang.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Bukan supaya mereka diusir dari kamar mereka sendiri oleh orang yang saya izinkan tinggal selama lima belas hari.”
Endang memalingkan wajah.
Marni perlahan mendekati putrinya.
“Maya, sudah.”
Namun Maya menggeleng.

“Belum, Bu.”
Dia mengambil draft perjanjian jual beli yang tadi diberikan Sastro.
“Siapa pembelinya?”
Rian diam.
Maya membaca nama perusahaan yang tercetak di sana.
PT Samudra Nusa Properti.
Dia mengenal nama itu.
Salah satu perusahaan pengembang vila terbesar di Lombok.
Maya segera mengeluarkan ponsel.
Namun sebelum dia menelepon siapa pun, sebuah mobil hitam memasuki halaman.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun bersama dua orang lain yang membawa map.
Rian langsung berubah panik.
“Pak Darma?”
Pria itu melihat Maya, lalu sertifikat di meja.
“Sepertinya saya datang pada waktu yang kurang tepat.”
Maya menatapnya.
“Anda pembelinya?”
Darma mengangguk.
“Saya Darmawan. Direktur PT Samudra Nusa Properti.”
Maya mengangkat draft perjanjian.
“Besok Anda mau membeli rumah ini?”
Darma menatap Rian.
“Begitulah informasi yang kami terima.”
“Dari siapa?”
“Pak Rian.”
“Dia bilang pemiliknya siapa?”
Darma terdiam sejenak.
“Keluarga.”
Maya tersenyum hambar.
“Menarik sekali.”
Dia menyerahkan sertifikat asli kepada Darma.
Pria itu membacanya.
Wajahnya berubah.
Nama pemegang hak tercantum jelas.
Maya Prameswari.
Tidak ada nama Rian.
Tidak ada nama Endang.
Tidak ada satu pun klausul yang memberi mereka hak untuk menjual.
Darma segera menutup map.
“Pak Rian, ini berbeda dari informasi yang Anda berikan.”
Rian mencoba mendekat.
“Pak, saya bisa jelaskan.”
“Tidak perlu.”
Nada Darma berubah dingin.
“Tim legal kami tidak akan melanjutkan transaksi ini.”
Rian pucat.
“Pak Darma, tunggu. Kita sudah sepakat.”
“Kesepakatan berdasarkan informasi palsu tidak ada nilainya.”
Darma menatap Maya.
“Saya minta maaf, Bu. Kalau saya tahu sejak awal pemilik sahnya bukan Pak Rian, kami tidak akan pernah masuk sejauh ini.”
Maya mengangguk.
“Saya ingin salinan semua komunikasi dan dokumen yang diberikan suami saya kepada perusahaan Anda.”
Rian langsung menoleh tajam.
“Maya!”
Darma berpikir sebentar, lalu berkata, “Kami akan menyerahkannya kepada kuasa hukum Anda jika diminta secara resmi.”
Maya mengangguk lagi.
“Itu cukup.”
Rian kini benar-benar panik.
Dia meraih lengan Maya.
“Kita suami istri. Kamu tidak perlu melakukan ini.”
Maya langsung menarik tangannya.
“Justru karena kita suami istri, seharusnya kamu bicara kepadaku saat kamu kesulitan.”
Rian menunduk.
“Aku malu.”
“Jadi karena malu, kamu menipu saya?”
“Aku tidak berniat merugikanmu.”
Sastro tiba-tiba tertawa pahit.
“Kalau bukan merugikan, namanya apa?”
Semua orang menoleh kepadanya.
Lelaki tua itu berjalan perlahan mendekati Rian.
“Kamu tahu siapa yang pertama kali memberi Maya uang supaya dia bisa kuliah?”
Rian tidak menjawab.
“Saya jual satu-satunya motor yang saya punya.”
Sastro menatap rumah itu.
“Saya tidak pernah minta rumah seperti ini. Saya dan ibunya juga tidak pernah minta anak kami jadi kaya.”
Suara Sastro bergetar.
“Tapi ketika anak kami memberi sesuatu dari hasil kerja kerasnya, kami menjaganya seperti menjaga harga dirinya.”
Tatapannya kembali kepada Rian.
“Yang kamu ambil bukan rumah.”
“Kamu menginjak harga diri anak saya.”
Rian menunduk lebih dalam.
Maya menarik napas.
Lalu dia menatap para wisatawan yang masih berada di halaman.
“Bapak dan Ibu, saya minta maaf atas situasi ini.”
Seorang perempuan berdiri.
“Kalau begitu, kami harus pergi?”
“Tidak malam ini.”
Maya mengejutkan semua orang.
“Kalian sudah membayar. Saya tidak akan mengusir siapa pun pada malam hari.”
Dia menoleh kepada pria yang tadi mencatat deposit.
“Semua tamu yang sudah masuk boleh tinggal sampai besok pukul dua belas. Setelah itu tempat ini ditutup.”
Endang langsung membentak.
“Kamu tidak bisa begitu!”
Maya menoleh.
“Kenapa?”
“Sudah ada reservasi untuk tiga bulan ke depan!”
“Uangnya ke mana?”
Endang terdiam.
Maya memandang Rian.
Rian menutup mata.
Jawabannya sudah cukup jelas.
“Berapa totalnya?”
Tak ada yang menjawab.
Maya mengambil buku catatan di meja.
Dia membuka beberapa halaman.
Puluhan transaksi tercatat.
Transfer.
Tunai.
Deposit.
Sewa kendaraan.
Paket makan malam.
Maya menghitung cepat.
“Lebih dari satu miliar?”
Rian berbisik, “Sekitar satu koma empat.”
“Masuk rekening siapa?”
“Rekening Ibu.”
Endang langsung berkata, “Itu untuk operasional!”
Maya tidak membantah.
Dia hanya mengeluarkan ponsel.
Kemudian menghubungi seseorang.
“Selamat sore, Pak Aditya. Saya perlu bantuan hukum segera.”
Rian berdiri diam seperti kehilangan tenaga.
Endang mulai berteriak.
“Kamu mau memenjarakan suamimu sendiri?”
Maya menutup telepon.
“Saya belum mengatakan apa pun soal penjara.”
“Tapi kamu panggil pengacara!”
“Saya sedang melindungi aset saya.”
Endang mencibir.
“Memangnya keluarga sendiri harus dihitung-hitung seperti orang asing?”
Maya menatapnya lama.
“Orang asing tidak pernah menyuruh ibu saya tidur di gudang.”
Endang terdiam.
Menjelang sore, halaman rumah berubah seperti lokasi pembongkaran sebuah kebohongan.
Pengelola lokal datang.
Kontraktor datang.
Kuasa hukum Maya tiba dari Mataram.
Satu per satu dokumen diperiksa.
Barulah terungkap bahwa masalahnya jauh lebih besar.
Rian ternyata tidak hanya menggunakan rumah itu sebagai vila ilegal.
Dia juga pernah mencoba menggunakan salinan sertifikat sebagai bagian dari dokumen pengajuan pembiayaan kepada seorang investor.
Tanda tangan Maya dalam salah satu surat persetujuan bahkan terlihat sangat mirip.
Terlalu mirip.
Aditya, pengacara Maya, mengamati kertas itu cukup lama.
“Bu Maya, Anda pernah menandatangani ini?”
Maya menggeleng.
Rian langsung berkata, “Itu cuma draft.”
Aditya menatapnya.
“Draft dengan tanda tangan?”
Rian terdiam.
Maya membaca dokumen tersebut.
Tangannya gemetar.
Bukan karena takut.
Karena akhirnya dia mengerti.
Ini bukan keputusan panik satu hari sebelum penjualan.
Rian telah merencanakan semuanya selama berbulan-bulan.
Penginapan.
Pembiayaan.
Penjualan.
Semua dilakukan sedikit demi sedikit selama Maya berada di laut.
Maya menutup map.
“Aku ingin bicara berdua dengan Rian.”
Endang langsung protes.
Namun Rian mengangkat tangan.
“Biarkan.”
Mereka masuk ke ruang keluarga.
Ruangan itu sangat indah.
Jendela besar menghadap laut.
Maya sengaja memilih ruangan itu karena membayangkan ayah dan ibunya duduk menikmati kopi di sana setiap pagi.
Kini ada meja bar, rak minuman, dan brosur paket wisata.
Maya berdiri di depan jendela.
Rian di belakangnya.
“Apa kamu pernah mencintaiku?”
Pertanyaan itu begitu sederhana sampai Rian terdiam.
“Apa?”
Maya berbalik.
“Jawab.”
Rian menghela napas.
“Tentu.”
“Lalu sejak kapan kamu mulai melihat semua yang saya punya sebagai milikmu?”
Rian mengusap wajah.
“Aku tertekan.”
“Bukan itu pertanyaannya.”
Rian akhirnya menatap Maya.
“Aku merasa kecil di sebelahmu.”
Maya membeku.
Rian tertawa pahit.
“Kamu selalu punya jawaban. Selalu punya uang. Semua orang kagum pada pekerjaanmu.”
“Aku tidak pernah merendahkanmu.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku merendahkan diriku sendiri.”
Suasana hening.
Rian melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Setiap kali bisnisku gagal, aku merasa makin tidak berguna.”
“Aku takut kalau kamu tahu semuanya, kamu akan pergi.”
Maya menatapnya lama.
“Dan sekarang?”
Rian tersenyum getir.
“Sekarang kamu pasti pergi.”
Maya tidak menjawab.
Dia berjalan keluar.
Tiga hari kemudian, seluruh tamu terakhir meninggalkan rumah.
Papan Villa Coral diturunkan.
Akun pemesanan daring ditutup.
Rekening yang menampung hasil sewa diperiksa.
Kuasa hukum Maya mulai mengurus proses hukum terkait dokumen palsu, transaksi tanpa kewenangan, dan penggunaan aset tanpa izin.
Namun ada satu hal yang Maya lakukan diam-diam.
Dia tidak langsung mengajukan laporan pidana terhadap Rian.
Sebaliknya, dia mengajukan gugatan perceraian.
Rian meninggalkan rumah tanpa perlawanan.
Endang jauh lebih sulit.
Perempuan itu menangis, marah, bahkan menuduh Maya menghancurkan keluarganya.
Namun Maya hanya berkata satu kalimat.
“Keluarga tidak hancur ketika kebohongan terbongkar. Keluarga hancur ketika kebohongan mulai dianggap wajar.”
Dua bulan kemudian, rumah itu selesai direnovasi kembali.
Nomor-nomor kamar dilepas.
Gudang tempat Marni dan Sastro tidur diubah menjadi ruang penyimpanan seperti semula.
Kamar utama dikembalikan menjadi kamar dengan jendela besar menghadap laut.
Pada suatu pagi, Maya mengajak kedua orang tuanya duduk di ruang keluarga.
Marni tampak gelisah.
“Kita pulang kapan?”
Maya tersenyum.
“Pulang ke mana?”
“Ya ke rumah kontrakan.”
Maya mengeluarkan map hitam yang sama.
Marni dan Sastro saling berpandangan.
Maya meletakkannya di depan mereka.
“Ibu ingat waktu Maya umur sembilan tahun?”
Marni tertawa kecil.
“Banyak sekali.”
“Waktu kita pertama kali lihat laut.”
Senyum Marni perlahan menghilang.
Dia mengingatnya.
Maya membuka map.
“Dulu Ibu bilang ingin tua dekat laut.”
Marni menatap putrinya.
“Maya…”
“Rumah ini dari awal bukan untuk saya.”
Maya mendorong sebuah amplop ke arah mereka.
Di dalamnya terdapat dokumen baru yang telah disiapkan secara resmi.
Bukan sekadar sertifikat lama.
Maya telah mengurus hibah hak atas rumah tersebut kepada Marni dan Sastro dengan pengaturan hukum yang memastikan rumah tidak dapat dialihkan tanpa persetujuan keduanya selama mereka hidup.
Tangan Marni langsung gemetar.
“Ini… nama Ibu?”
Maya mengangguk.
Sastro membaca dokumennya tiga kali.
Matanya memerah.
“Kenapa dipindahkan ke kami?”
Maya menatap ayahnya.
“Karena saya akhirnya sadar sesuatu.”
Dia tersenyum.
“Hadiah yang masih atas nama saya membuat orang lain berpikir masih ada sesuatu yang bisa mereka rebut.”
Maya menggenggam tangan ibunya.
“Sekarang tidak ada lagi yang bisa mengambil rumah ini dari Ibu dan Bapak.”
Marni menangis.
Sastro berdiri dan berjalan ke jendela.
Laut terlihat biru terang.
Ombak memecah perlahan di kejauhan.
Lelaki tua itu menunduk, menyeka matanya diam-diam.
Namun kejutan terakhir datang enam bulan kemudian.
Suatu pagi, Marni menerima surat.
Pengirimnya Rian.
Dia tidak meminta kembali.
Tidak meminta uang.
Tidak pula meminta Maya membatalkan perceraian.
Rian hanya menulis bahwa seluruh aset pribadinya sudah dijual untuk membayar sebagian besar utang bisnis.
Dia juga menyertakan bukti transfer.
Rp1.437.000.000.
Jumlahnya hampir sama persis dengan seluruh uang hasil penginapan yang pernah masuk ke rekening Endang.
Di bagian terakhir surat, Rian menulis bahwa uang itu bukan miliknya.
Dia mengembalikannya tanpa syarat.
Marni menyerahkan surat tersebut kepada Maya.
“Apa kamu mau balas?”
Maya membaca surat itu cukup lama.
Kemudian dia melipatnya kembali.
“Tidak.”
“Masih marah?”
Maya menggeleng.
“Tidak lagi.”
Dia berjalan menuju teras.
Sastro sedang menyiram tanaman.
Marni duduk menghadap laut dengan secangkir teh hangat.
Rumah yang dulu hampir menjadi sumber kehancuran kini terasa tenang.
Maya tersenyum.
“Ada orang yang memang harus kehilangan sesuatu dulu supaya mengerti nilainya.”
Marni menatap putrinya.
“Dan kamu?”
Maya memandang laut.
“Aku juga kehilangan sesuatu.”
“Apa?”
“Kepercayaan yang salah tempat.”
Maya lalu menggenggam tangan ibunya.
“Tapi ternyata setelah kehilangan itu, aku justru menemukan kembali alasan kenapa dulu aku bekerja begitu keras.”
Di hadapan mereka, matahari pagi perlahan naik dari balik garis laut.
Marni menutup mata.
Suara ombak memenuhi udara.
Persis seperti mimpi sederhana yang pernah dia ucapkan puluhan tahun lalu.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak perlu lagi terburu-buru mengejar pekerjaan.
Dia hanya duduk di rumahnya sendiri.
Rumah yang nyaris dicuri oleh orang-orang yang mengira sertifikat hanyalah selembar kertas.
Padahal terkadang, satu nama yang tercantum di atas kertas itulah yang menjadi garis terakhir antara kebaikan dan keserakahan.
