DIA DITINGGALKAN DI BANDARA HANYA DEMI DUA EKOR KUCING! SAAT ITU JUGA DIA MEMBATALKAN TIKET MEREKA, MEMBLOKIR REKENING, DAN MENJUAL RUMAH MEWAH YANG SELAMA INI MEREKA TINGGALI!

Bu Pertiwi berdiri terpaku di depan konter check-in Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Usianya sudah 72 tahun.

Kedua tangannya yang mulai keriput menggenggam erat tali tas selempang di dadanya. Pagi itu seharusnya menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupnya.

Impian yang ia simpan selama dua puluh tahun bersama mendiang suaminya akhirnya hampir menjadi kenyataan.

Pergi ke Paris.

Berdiri di depan Menara Eiffel dengan mantel merah, lalu berfoto seperti yang dulu selalu mereka bayangkan bersama.

Sayangnya, suaminya meninggal dunia sebelum mereka sempat mewujudkan impian tersebut. Setelah bertahun-tahun menunda karena rasa kehilangan, Bu Pertiwi akhirnya memberanikan diri pergi seorang diri.

Namun Hendra, anak tunggalnya, bersikeras ikut bersama istrinya, Siska.

“Ibu sudah tua. Kalau pergi sendirian nanti tersesat atau kenapa-kenapa. Biar aku dan Siska yang menemani,” kata Hendra waktu itu.

Bu Pertiwi percaya begitu saja.

Bagaimanapun, Hendra adalah anak satu-satunya.

Demi perjalanan tersebut, Bu Pertiwi bahkan menjual sebidang tanah warisan keluarganya di Bogor seharga Rp450 juta.

Uang itu digunakan untuk membayar tiga tiket pesawat kelas bisnis, hotel bintang lima di Paris, paket tur, makan, transportasi, hingga berbagai pakaian mahal yang diminta Siska dengan alasan ingin tampil pantas selama berada di Eropa.

Pagi itu, Hendra memegang semua paspor dan dokumen perjalanan.

Sementara Siska sibuk berswafoto di area keberangkatan dengan kacamata hitam besar dan tas bermerek yang baru dibelinya beberapa minggu sebelumnya.

Tas itu pun dibayar menggunakan kartu kredit tambahan atas nama Bu Pertiwi.

Ketika waktu boarding tinggal sekitar 45 menit, Hendra tiba-tiba menghampiri ibunya.

Wajahnya datar.

“Bu, Ibu enggak jadi ikut.”

Bu Pertiwi menatap putranya, mengira dirinya salah dengar.

“Apa maksudmu, Hendra?”

“Ibu pulang saja sekarang,” jawab Hendra tanpa berani menatap mata ibunya.

Bu Pertiwi semakin bingung.

“Kenapa Ibu harus pulang?”

Hendra menghela napas seolah pertanyaan itu merepotkannya.

“Milo harus minum obat jam delapan pagi. Mochi juga enggak bisa ditinggal sendirian terlalu lama.”

Milo dan Mochi adalah dua ekor kucing kesayangan Siska.

Untuk beberapa detik, Bu Pertiwi hanya diam.

Dadanya terasa sesak.

“Kamu menyuruh Ibu membatalkan perjalanan ke Paris untuk menjaga kucing?”

Siska yang berdiri tak jauh dari sana malah tertawa kecil sambil merapikan riasannya.

“Aduh, Ibu jangan dibikin drama, dong. Paris itu dingin, banyak jalan kaki, banyak tangga juga. Ibu sudah 72 tahun.”

Ia menurunkan kacamata hitamnya sedikit, lalu menatap Bu Pertiwi dari ujung kepala sampai kaki.

“Kalau Ibu ikut, nanti kami malah sibuk jagain Ibu. Liburannya jadi enggak nyaman.”

Bu Pertiwi menatap menantunya tak percaya.

“Perjalanan ini Ibu yang bayar, Siska. Paris adalah impian Ibu sejak ayahnya Hendra masih hidup.”

Bukannya merasa bersalah, Siska justru mengangkat bahu.

Hendra lalu mengambil tiket milik ibunya dan memasukkannya ke saku jaket.

“Sudahlah, Bu. Jangan keras kepala.”

“Hendra…”

“Ibu sudah terlalu tua untuk perjalanan sejauh ini,” potong Hendra. “Pulang saja. Di rumah lebih aman. Nonton sinetron, istirahat, sekalian urus Milo sama Mochi.”

Beberapa calon penumpang yang berada di sekitar mereka mulai melirik.

Wajah Bu Pertiwi memanas karena malu sekaligus terluka.

Perlahan ia mengulurkan tangan.

“Kembalikan tiket dan paspor Ibu.”

Namun Hendra justru mendekat dan berbisik dengan suara tajam.

“Jangan bikin malu di tempat umum, Bu.”

Lalu, tanpa meminta izin, Hendra menarik koper merah milik Bu Pertiwi dan menggabungkannya dengan koper-koper miliknya dan Siska.

“Kopernya biar kami bawa saja. Sayang kalau barang-barangnya sudah dibeli tapi enggak dipakai.”

Siska tersenyum tipis.

“Nanti kami belikan oleh-oleh dari Paris. Gantungan kunci Menara Eiffel juga lucu, kok.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi Bu Pertiwi.

Dua orang yang selama ini hidup nyaman dari uangnya kini berjalan santai menuju pemeriksaan paspor.

Mereka membawa koper miliknya.

Membawa dokumen perjalanannya.

Dan berniat menikmati impian dua puluh tahunnya menggunakan uang yang ia kumpulkan bersama mendiang suaminya.

Sementara dirinya disuruh pulang hanya untuk menjaga dua ekor kucing.

Bu Pertiwi berdiri sendirian di tengah ramainya terminal.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Namun kali ini ia tidak menangis lama.

Tangannya perlahan masuk ke dalam tas selempang.

Jari-jarinya menyentuh sesuatu.

Ponsel.

Kartu debit utama.

Dan sebuah kartu lain yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kenyamanan hidup Hendra dan Siska.

Bu Pertiwi tiba-tiba teringat sesuatu.

Rumah mewah yang mereka tinggali bukan milik Hendra.

Mobil yang mereka gunakan bukan dibeli dengan uang Hendra.

Kartu kredit yang dipakai Siska berbelanja juga bukan atas nama mereka.

Bahkan sebagian besar biaya hidup mereka selama beberapa tahun terakhir berasal dari rekening miliknya.

Bu Pertiwi menyeka air mata di pipinya.

Punggungnya yang tadi membungkuk perlahan kembali tegak.

Tatapannya berubah.

Ia kemudian berbalik dan berjalan mantap menuju konter layanan pelanggan maskapai.

Seorang petugas perempuan menyambutnya dengan ramah.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

Bu Pertiwi mengeluarkan kartu identitas asli dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.

Tidak ada lagi suara gemetar.

Tidak ada lagi air mata.

Hanya ketenangan seseorang yang akhirnya menyadari bahwa kebaikannya selama ini telah dianggap sebagai kelemahan.

“Saya yang membayar tiga tiket perjalanan ini,” katanya.

Petugas itu mengangguk sambil memeriksa data di layar.

“Baik, Bu.”

Bu Pertiwi menarik napas pelan.

“Saya ingin membatalkan dua tiket atas nama anak dan menantu saya.”

Petugas itu terdiam sesaat.

“Sekarang juga, Bu?”

Bu Pertiwi menatap lurus ke depan.

“Sekarang juga.”

Petugas tersebut kembali memeriksa data pemesanan. Karena seluruh transaksi dilakukan menggunakan kartu milik Bu Pertiwi dan nama pemesan utama tercatat atas dirinya, pembatalan masih bisa diproses sebelum boarding ditutup.

“Butuh beberapa menit untuk konfirmasi sistem, Bu,” kata petugas.

“Tidak masalah.”

Bu Pertiwi lalu membuka aplikasi perbankan di ponselnya.

Hal pertama yang ia lakukan adalah memblokir dua kartu kredit tambahan yang selama ini dipegang Hendra dan Siska.

Setelah itu, ia menghubungi manajer relationship bank yang sudah dikenalnya lebih dari lima belas tahun.

“Pak Ridwan, saya mau seluruh akses rekening tambahan atas nama Hendra dicabut hari ini.”

Di seberang telepon, Ridwan sempat terdiam.

“Semua, Bu?”

“Semua. Termasuk fasilitas autodebet kartu, dompet digital, dan transfer rutin bulanan.”

“Baik. Kami akan proses setelah verifikasi.”

Bu Pertiwi menjawab semua pertanyaan keamanan tanpa ragu.

Beberapa menit kemudian, notifikasi muncul berturut-turut di layar ponselnya.

Akses kartu tambahan dinonaktifkan.

Transfer otomatis dihentikan.

Limit kartu kredit dibekukan.

Bu Pertiwi memandangi layar itu lama.

Setiap notifikasi terasa seperti satu ikatan yang diputus.

Sementara itu, di area pemeriksaan keberangkatan, Hendra baru menyadari ada masalah ketika petugas memindai boarding pass miliknya.

“Maaf, Pak. Boarding pass ini tidak valid.”

Hendra mengernyit.

“Tidak valid bagaimana? Saya baru check-in tadi.”

Petugas memeriksa sistem.

“Reservasi Anda dibatalkan beberapa menit lalu.”

“Apa?”

Siska langsung mendekat.

“Coba punya saya.”

Hasilnya sama.

Reservasi dibatalkan.

Wajah Hendra memucat.

“Siapa yang membatalkan?”

Petugas hanya menjawab bahwa perubahan dilakukan oleh pemesan utama.

Hendra langsung tahu.

“Ibu.”

Ia berbalik dan berlari kembali menuju konter layanan pelanggan, diikuti Siska yang mulai panik.

Mereka menemukan Bu Pertiwi duduk tenang di kursi dekat konter sambil memegang secangkir kopi.

Hendra berhenti di depannya dengan napas terengah-engah.

“Ibu ngapain?”

Bu Pertiwi mengangkat wajah.

“Minum kopi.”

“Bukan itu! Tiket kami kenapa dibatalkan?”

“Oh.”

Bu Pertiwi meletakkan cangkirnya.

“Ibu yang batalkan.”

Siska melotot.

“Ibu sadar tiket itu mahal?”

Bu Pertiwi tersenyum tipis.

“Ibu sangat sadar. Karena Ibu yang membayarnya.”

“Ibu keterlaluan!” bentak Hendra.

Beberapa orang di sekitar mereka mulai memperhatikan.

Bu Pertiwi justru tetap tenang.

“Kamu tadi bilang jangan bikin malu di tempat umum, kan?”

Hendra mengatupkan rahang.

“Ibu cuma marah karena enggak jadi ikut. Kita bisa bicarakan di rumah.”

“Tidak perlu.”

“Apa maksud Ibu?”

Bu Pertiwi mengambil ponselnya.

“Rekening tambahanmu sudah Ibu blokir.”

Wajah Hendra berubah.

“Apa?”

“Kartu kredit Siska juga.”

Siska refleks membuka aplikasi bank di ponselnya.

Benar saja.

Aksesnya sudah gagal.

“Bu, ini keterlaluan!”

“Keterlaluan?”

Bu Pertiwi menatap menantunya.

“Yang keterlaluan itu memakai uang orang tua untuk membeli tas puluhan juta, lalu menyuruh orang tua itu pulang menjaga kucing supaya kalian bisa menikmati liburan yang dia bayar.”

Siska terdiam.

Hendra menurunkan suara.

“Bu, jangan emosional.”

Kalimat itu membuat Bu Pertiwi tertawa pendek.

Aneh.

Selama bertahun-tahun, setiap kali Hendra ingin meminta sesuatu, ia selalu memanggil ibunya sebagai perempuan paling bijaksana yang dikenalnya.

Sekarang, saat ibunya berkata tidak, tiba-tiba ia dianggap emosional.

Bu Pertiwi berdiri.

“Masih ada satu hal.”

Hendra menatapnya waspada.

“Apa lagi?”

“Rumah di Pondok Indah.”

Hendra membeku.

Rumah dua lantai dengan kolam renang dan taman luas yang selama enam tahun terakhir mereka tempati tanpa pernah membayar cicilan maupun sewa.

Rumah itu dibeli Bu Pertiwi dan suaminya sebagai investasi jauh sebelum Hendra menikah.

“Ibu sudah menghubungi agen properti minggu lalu,” ujar Bu Pertiwi.

Hendra tampak bingung.

“Minggu lalu?”

Bu Pertiwi mengangguk.

Kenyataannya, kejadian di bandara bukanlah luka pertama.

Selama beberapa bulan terakhir, ia sebenarnya mulai merasa ada yang salah.

Hendra semakin sering meminta uang dengan alasan investasi.

Siska menggunakan kartu kredit tanpa pernah menunjukkan tagihan.

Dan dua minggu sebelumnya, Bu Pertiwi tanpa sengaja mendengar percakapan mereka di dapur.

“Kalau rumah itu nanti atas nama kita, hidup bakal jauh lebih gampang,” ujar Siska.

Hendra menjawab, “Pelan-pelan saja. Ibu gampang dibujuk.”

Saat itu Bu Pertiwi tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya berpura-pura tidak mendengar.

Namun diam-diam ia meminta notaris memeriksa seluruh asetnya dan menghubungi agen properti untuk menilai rumah tersebut.

Bandara pagi itu hanya menjadi kepastian terakhir.

Hendra menatap ibunya dengan wajah semakin pucat.

“Ibu mau jual rumah itu?”

“Ya.”

“Kami tinggal di sana!”

“Justru itu masalahnya. Kalian terlalu lama tinggal di rumah orang lain sampai lupa siapa pemiliknya.”

Siska mulai meninggikan suara.

“Kami keluarga Ibu!”

Bu Pertiwi memandangnya tanpa marah.

“Keluarga tidak membuat orang tua merasa seperti pembantu di rumahnya sendiri.”

Hendra mendekat.

“Kalau rumah dijual, kami tinggal di mana?”

Bu Pertiwi menatap putranya beberapa detik.

Pertanyaan itu menyakitkan bukan karena sulit dijawab, tetapi karena dari semua yang terjadi, Hendra masih hanya memikirkan dirinya sendiri.

“Ibu tidak tahu.”

“Ibu serius?”

“Sangat serius.”

Hendra mengusap wajahnya.

“Bu, aku minta maaf. Oke? Kita semua lagi capek. Siska juga cuma khawatir Ibu enggak kuat jalan jauh. Kita bisa beli tiket lagi. Kita bertiga tetap ke Paris.”

Bu Pertiwi tersenyum getir.

“Sekarang kamu ingin Ibu ikut?”

Hendra tidak menjawab.

Karena keduanya tahu jawabannya.

Ia hanya ingin fasilitasnya kembali.

Bu Pertiwi mengangkat tas selempangnya.

“Ibu tidak akan membatalkan tiket Ibu sendiri.”

Siska langsung menyela.

“Terus Ibu mau pergi sendirian?”

“Iya.”

“Di umur segini?”

Bu Pertiwi menatapnya tajam.

“Di umur segini.”

Lalu ia mengambil paspor pengganti sementara yang baru saja dibantu prosesnya oleh petugas keamanan bandara setelah menjelaskan bahwa paspor aslinya dibawa tanpa izin oleh anggota keluarga. Karena waktu keberangkatan tak lagi memungkinkan untuk penerbangan semula, maskapai menawarkan perubahan jadwal ke penerbangan malam berikutnya.

Bu Pertiwi menerimanya.

Hendra tampak putus asa.

“Bu, dengarkan dulu.”

Namun Bu Pertiwi sudah berjalan menjauh.

Beberapa jam kemudian, ia duduk sendirian di lounge keberangkatan.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, tidak ada orang yang meminta uang kepadanya.

Tidak ada yang menyuruhnya diam.

Tidak ada yang mengatakan bahwa usianya membuatnya menjadi beban.

Bu Pertiwi memesan teh hangat.

Saat melihat pantulan dirinya di kaca besar terminal, ia teringat pada mendiang suaminya.

“Pak,” bisiknya, “ternyata aku masih bisa pergi.”

Malam itu, pesawat yang membawanya terbang meninggalkan Jakarta.

Sementara Hendra dan Siska pulang dengan taksi karena kartu mereka tidak lagi bisa digunakan untuk membayar layanan mobil langganan.

Masalah mereka bahkan belum benar-benar dimulai.

Dua hari kemudian, seorang agen properti datang ke rumah membawa fotografer dan dokumen pemasaran.

Hendra langsung menelepon ibunya berkali-kali.

Tak satu pun dijawab.

Kemudian pesan masuk.

Ibu memberi kalian waktu tiga puluh hari untuk pindah.

Rumah akan dijual.

Jaga baik-baik Milo dan Mochi.

Siska membaca pesan itu dengan wajah pucat.

Untuk pertama kalinya, nama kedua kucing kesayangannya terdengar seperti sindiran.

Tiga minggu kemudian, rumah tersebut terjual kepada seorang pengusaha dengan harga Rp12,8 miliar.

Bu Pertiwi tidak kembali tinggal bersama Hendra.

Sebagian hasil penjualan ia masukkan ke deposito dan investasi konservatif. Sebagian lagi ia gunakan membeli sebuah apartemen nyaman di Jakarta Selatan dengan dua kamar tidur, balkon besar, dan keamanan 24 jam.

Sisanya ia gunakan untuk sesuatu yang bahkan tidak diketahui Hendra.

Ketika Bu Pertiwi pulang dari Eropa satu bulan kemudian, kulit wajahnya sedikit lebih cerah dan langkahnya terlihat lebih ringan.

Di ponselnya tersimpan ratusan foto.

Museum Louvre.

Sungai Seine.

Jalan-jalan kecil di Montmartre.

Dan satu foto yang paling ia sukai.

Dirinya berdiri di depan Menara Eiffel menggunakan mantel merah.

Persis seperti impian dua puluh tahun lalu.

Namun foto itu memiliki satu perbedaan.

Di sampingnya tidak ada suaminya.

Tidak ada Hendra.

Tidak ada Siska.

Bu Pertiwi berdiri sendirian.

Dan untuk pertama kalinya, kesendirian itu tidak terasa seperti kehilangan.

Ia merasa bebas.

Hendra datang menemuinya beberapa hari setelah kepulangannya.

Penampilannya jauh berbeda.

Tidak ada lagi mobil mewah.

Tidak ada jam mahal.

Ia datang menggunakan kendaraan sewaan murah dan duduk di ruang tamu apartemen ibunya seperti anak sekolah yang menunggu hukuman.

“Ibu benar-benar enggak mau bantu kami lagi?”

Bu Pertiwi menuangkan teh.

“Bantu apa?”

“Aku sedang cari kerja. Tabungan kami hampir habis. Rumah kontrakan juga mahal.”

“Kamu sudah 43 tahun, Hendra.”

Hendra menunduk.

“Selama ini aku kerja di perusahaan teman.”

Bu Pertiwi tahu.

Pekerjaan itu tidak pernah benar-benar stabil karena Hendra sering berpindah-pindah dan merasa tidak perlu serius selama ibunya selalu menutupi kekurangan hidupnya.

“Aku menyesal, Bu.”

Bu Pertiwi diam.

“Aku benar-benar menyesal.”

“Karena menyakiti Ibu?”

Hendra tidak langsung menjawab.

Bu Pertiwi melanjutkan.

“Atau karena kehilangan rumah, kartu kredit, dan uang bulanan?”

Pertanyaan itu membuat Hendra tidak mampu mengangkat kepala.

Lama sekali mereka terdiam.

Kemudian sesuatu yang tidak diduga terjadi.

Bu Pertiwi mengambil sebuah map cokelat dari laci.

Ia meletakkannya di meja.

Hendra menatap penuh harap.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya terdapat dokumen kepemilikan sebuah kios kecil di kawasan Tangerang Selatan.

Bukan rumah mewah.

Bukan uang tunai miliaran.

Hanya sebuah kios dua lantai yang cukup untuk membuka usaha.

“Ibu beli ini?”

“Ya.”

Hendra menatap ibunya bingung.

“Untuk aku?”

“Bukan.”

Harapan di wajah Hendra lenyap.

Bu Pertiwi lalu menunjuk lembar berikutnya.

Itu adalah surat perjanjian sewa dengan harga sangat rendah selama dua tahun.

“Ibu kasih kamu kesempatan menggunakan tempat itu untuk usaha. Bukan gratis. Kamu tetap bayar sewa. Kamu kelola sendiri. Kalau gagal, kamu tanggung sendiri.”

Hendra memandangi dokumen itu lama.

“Kenapa Ibu masih mau bantu aku?”

Bu Pertiwi menatap putranya.

“Karena kamu anak Ibu. Tapi mulai sekarang, Ibu hanya akan membantu kamu berdiri. Ibu tidak akan lagi menggendong kamu.”

Mata Hendra mulai memerah.

Bu Pertiwi belum selesai.

“Dan satu syarat lagi.”

“Apa?”

“Kamu harus datang setiap minggu ke rumah singgah lansia yang Ibu bantu dan menjadi relawan minimal enam bulan.”

Hendra mengernyit.

“Kenapa?”

“Supaya kamu belajar sesuatu.”

“Apa?”

Bu Pertiwi tersenyum tipis.

“Bahwa orang tua bukan barang tua yang boleh disingkirkan ketika sudah tidak nyaman dibawa ke mana-mana.”

Hendra menundukkan kepala.

Kali ini air mata benar-benar jatuh.

Enam bulan kemudian, kios itu berubah menjadi usaha kecil pemasok makanan hewan dan perlengkapan rumah tangga.

Tidak langsung sukses.

Hendra beberapa kali hampir menyerah.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada ibunya yang datang menyelesaikan semuanya dengan uang.

Siska juga akhirnya bekerja kembali sebagai staf pemasaran di sebuah perusahaan lokal.

Mereka tinggal di rumah kontrakan sederhana.

Dan ironisnya, Milo serta Mochi tetap hidup bersama mereka dalam keadaan sehat.

Suatu Minggu pagi, Hendra datang mengunjungi ibunya.

Ia membawa sebuah amplop.

“Apa ini?” tanya Bu Pertiwi.

“Pembayaran sewa kios bulan ini.”

Bu Pertiwi menerimanya.

Hendra kemudian melihat sebuah koper biru di dekat pintu.

“Ibu mau ke mana?”

Bu Pertiwi tersenyum.

“Swiss.”

“Sendirian?”

“Tidak.”

Hendra tampak terkejut.

Seorang perempuan berusia sekitar tujuh puluh tahun keluar dari kamar sambil mengenakan jaket perjalanan.

Namanya Bu Ratna, teman baru Bu Pertiwi dari komunitas lansia yang ia temui setelah pulang dari Paris.

Bu Ratna tersenyum kepada Hendra.

“Kami mau naik kereta keliling beberapa kota.”

Hendra tertawa kecil.

“Wah, Ibu sekarang malah lebih sibuk traveling daripada aku.”

Bu Pertiwi berdiri dan merapikan syalnya.

“Karena sekarang Ibu tahu satu hal.”

“Apa?”

Ia menatap putranya lama.

“Umur tidak pernah mencuri kebebasan kita.”

Bu Pertiwi kemudian tersenyum.

“Yang sering mencurinya justru orang-orang yang kita izinkan mengatur hidup kita.”

Hendra terdiam.

Sebelum pergi, Bu Pertiwi menyerahkan sebuah kotak kecil kepadanya.

Hendra membukanya.

Di dalamnya ada gantungan kunci berbentuk Menara Eiffel.

Hendra menatap benda itu, lalu menatap ibunya.

Bu Pertiwi tertawa ringan.

“Kemarin katanya lucu, kan?”

Wajah Hendra langsung memerah.

Namun beberapa detik kemudian, mereka berdua tertawa.

Bukan karena luka masa lalu sudah sepenuhnya hilang.

Beberapa luka memang tidak perlu dilupakan agar bisa dimaafkan.

Cukup dipahami supaya tidak terulang.

Bu Pertiwi kemudian menarik kopernya menuju lift.

Di usia 72 tahun, ia memang kehilangan rumah besar yang selama bertahun-tahun menjadi pusat keluarganya.

Ia kehilangan sebagian ilusi tentang anak yang selama ini dianggapnya selalu membutuhkan perlindungan.

Namun sebagai gantinya, ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Kendali atas hidupnya sendiri.

Dan kali ini, ketika pintu lift tertutup, Bu Pertiwi tidak merasa sedang meninggalkan siapa pun.

Ia hanya sedang menuju kehidupan yang selama bertahun-tahun terlalu takut ia pilih untuk dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang