Ponsel Bramanda mulai bergetar tepat dua puluh tiga menit setelah Maya meninggalkan hotel.
Saat itu ia sedang berdiri di atas panggung ballroom, satu tangan menggenggam mikrofon, tangan lainnya melingkar ringan di pinggang Sheila.
Di belakang mereka, layar LED raksasa menampilkan tulisan selamat atas pengangkatan Bramanda sebagai Direktur Utama PT Nusantara Megah.
“Keberhasilan ini bukan hasil kerja satu orang,” ujar Bramanda dengan senyum lebar. “Ini adalah hasil keberanian mengambil risiko.”
Para tamu bertepuk tangan.
Sheila menatapnya penuh kekaguman.
Bramanda baru saja hendak melanjutkan pidato ketika ponselnya bergetar lagi.
Lalu lagi.
Ia melirik layar.
Direktur Keuangan.
Direktur Operasional.
Kepala Treasury.
Bank Mandala Korporasi.
Bank Arunika.
Nomor dari Singapura.
Bramanda mengerutkan kening.
Ia mematikan layar ponsel dan kembali tersenyum kepada para tamu.
“Dan malam ini,” katanya, “kita memasuki babak baru.”
Seorang pria berjas abu-abu berdiri tergesa-gesa di dekat panggung.
Namanya Denny Pratama, Direktur Keuangan PT Nusantara Megah.
Wajahnya pucat.
“Pak Bram.”
Bramanda mengabaikannya.
Denny menaikkan suara.
“Pak Bram, ini darurat.”
Beberapa tamu mulai menoleh.
Bramanda menurunkan mikrofon.
“Apa?”
Denny mendekat dan berbisik.
“Seluruh fasilitas kredit kita dibekukan.”
Senyum Bramanda menghilang.
“Apa maksudmu dibekukan?”
“Bank tidak bisa mencairkan apa pun. Garansi proyek baru ditolak. Transfer treasury di atas seratus juta tidak bisa diproses.”
“Itu mustahil.”
Denny menelan ludah.
“Jaminan keluarga Kusumah ditarik ke status proteksi.”
Bramanda menatapnya beberapa detik.
Lalu ia tertawa kecil.
Mungkin karena terkejut.
Mungkin karena tidak percaya.
“Maya tidak akan melakukan itu.”
Denny tidak menjawab.
Bramanda menatap layar ponselnya.
Ada dua puluh satu panggilan tak terjawab.
Pesan terbaru berasal dari Kepala Treasury.
Pak, pembayaran vendor proyek Cikarang gagal. Bank menyatakan underlying guarantee ditangguhkan atas instruksi pemegang kuasa.
Pesan berikutnya masuk.
Fasilitas bridging loan proyek Surabaya tidak bisa diperpanjang.
Lalu yang lain.
Investor Jepang meminta pertemuan darurat.
Bramanda merasakan tengkuknya dingin.
Ia turun dari panggung tanpa menyelesaikan pidato.
Sheila mengikutinya.
“Ada apa?”
“Tidak ada.”
“Wajahmu pucat.”
“Aku bilang tidak ada.”
Bramanda berjalan cepat menuju lorong VIP.
Denny dan dua direktur lain menyusul.
Di dalam ruangan kecil di belakang ballroom, Bramanda membanting pintu.
“Hubungi semua bank.”
“Sudah.”
“Siapa yang mengeluarkan instruksi?”
Denny ragu.
“Secara teknis, Kusumah Family Asset Management.”
“Siapa penandatangannya?”
Denny menatap Bramanda.
“Nyonya Maya.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Bramanda menarik napas panjang.
“Batalkan.”
“Kita tidak punya kewenangan.”
“Aku Direktur Utama.”
“Di PT Nusantara Megah, iya. Tapi jaminan aset bukan milik perusahaan.”
Bramanda menghantam meja dengan telapak tangannya.
“Perusahaan ini dibangun keluarga saya!”
Denny tetap diam.
Ia tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Perusahaan memang didirikan oleh keluarga Bramanda. Tetapi dalam dua belas tahun terakhir, perusahaan itu dua kali hampir bangkrut karena ekspansi yang terlalu agresif.
Pertama, saat proyek properti Batam gagal.
Kedua, saat anak perusahaan energi mengalami krisis likuiditas.
Broto Kusumah datang membawa dana segar, membeli obligasi internal, menjaminkan tanah keluarga, dan memasukkan modal melalui perusahaan investasi pribadinya.
Setelah Broto meninggal, seluruh struktur itu diwariskan kepada Maya.
Bramanda tahu sebagian.
Tetapi ia tidak pernah benar-benar membaca seluruh perjanjiannya.
Ia menganggap semua itu hanya formalitas keluarga.
“Hubungi Maya,” katanya.
Denny mengambil ponsel.
“Telepon Bapak sendiri mungkin lebih baik.”
Bramanda menatap tajam.
“Aku bilang hubungi dia.”
Denny menghubungi.
Tidak dijawab.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sheila bersandar di dekat pintu sambil memeluk lengannya.
“Jadi ini gara-gara istrimu?”
Bramanda menoleh.
“Bukan sekarang.”
Sheila mendengus.
“Kamu bilang dia tidak punya peran lagi dalam bisnis.”
“Aku bilang bukan sekarang.”
“Tapi kamu juga bilang setelah malam ini semuanya selesai.”
Bramanda mendekatinya.
“Apa maksudmu?”
Sheila menurunkan suara.
“Kamu bilang setelah kamu resmi jadi direktur utama, kamu bisa mengeluarkan dia dari semua urusan perusahaan.”
Denny menatap keduanya.
Bramanda menyadari itu.
“Keluar.”
Denny tidak bergerak.
“Pak, kita punya kewajiban pembayaran jatuh tempo malam ini.”
“Keluar!”
Denny dan dua direktur meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, Bramanda menatap Sheila.
“Jangan bicara sembarangan.”
Sheila mencibir.
“Kenapa? Takut orang tahu?”
“Ini urusan bisnis.”
“Ini urusan kita juga.”
“Kita tidak punya ‘kita’ kalau perusahaan ini runtuh.”
Ucapan itu membuat wajah Sheila berubah.
“Jadi begitu?”
Bramanda mengusap wajahnya kasar.
“Jangan mulai.”
Sheila mengambil tasnya.
“Aku datang ke semua perjalanan bisnis itu karena kamu bilang semuanya terkendali.”
“Memang terkendali.”
“Sekarang bank membekukan perusahaanmu.”
“Untuk sementara.”

“Dan istrimu yang melakukannya.”
Bramanda tidak menjawab.
Sheila tertawa hambar.
“Ternyata selama ini aku bukan perempuan yang merebut suami orang hebat.”
Ia berjalan mendekati pintu.
“Aku hanya merebut suami dari perempuan yang ternyata jauh lebih kuat darimu.”
Bramanda meraih lengannya.
“Jangan pergi.”
Sheila melepaskan tangannya.
“Aku perlu udara.”
Ketika Sheila membuka pintu, kilatan kamera langsung menyambar.
Beberapa wartawan sudah menunggu di lorong.
“Pak Bramanda, benarkah fasilitas pendanaan Nusantara Megah dibekukan?”
“Apakah ada konflik dengan pemegang jaminan?”
“Apakah pengusiran Nyonya Maya berkaitan dengan krisis perusahaan?”
Bramanda membeku.
Berita itu terlalu cepat menyebar.
Seseorang dari dalam perusahaan pasti sudah membocorkannya.
Atau mungkin bank.
Atau investor.
Dalam dunia korporasi, berita buruk memang selalu bergerak lebih cepat daripada klarifikasi.
Di Menteng, Maya memasuki sebuah gedung tua berlantai tiga yang sejak kematian ayahnya jarang ia kunjungi malam hari.
Di bagian depan tidak ada papan nama besar.
Hanya plakat kecil bertuliskan Kusumah Family Office.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun sudah menunggunya.
Namanya Harjono Wibawa.
Ia pernah menjadi penasihat hukum Broto Kusumah selama hampir tiga puluh tahun.
“Maya.”
Maya memeluknya singkat.
“Om Har.”
Harjono menatap wajah Maya.
“Saya lihat videonya.”
Maya tersenyum tipis.
“Cepat sekali.”
“Internet selalu cepat untuk penghinaan.”
Mereka masuk ke ruang kerja Broto yang masih dipertahankan hampir sama seperti ketika pemiliknya masih hidup.
Meja kayu jati.
Rak dokumen.
Jam tua.
Foto keluarga.
Maya meletakkan kotak kancing manset di atas meja.
Harjono memandanginya.
“Kamu tadinya mau memberikan itu kepada Bramanda?”
“Iya.”
“Untung tidak jadi.”
Maya duduk.
“Apa semua klausul sudah aktif?”
“Sudah.”
“Dampaknya?”
“Besok pagi bisa berat.”
“Berapa berat?”
Harjono membuka laptop.
“Perusahaan mereka punya kewajiban pembayaran sekitar seratus delapan puluh miliar dalam lima hari ke depan. Tanpa fasilitas revolving credit dan garansi Kusumah, mereka harus menggunakan kas internal.”
“Kas internal cukup?”
“Tidak.”
Maya diam.
Harjono menatapnya.
“Kamu mau menghancurkan Bramanda?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun Maya membutuhkan waktu untuk menjawab.
“Aku mau berhenti menyelamatkannya.”
“Itu berbeda.”
“Memang.”
Harjono mengangguk pelan.
“Ayahmu pernah berharap kamu mengatakan kalimat itu lebih cepat.”
Maya mengangkat wajah.
“Ayah membenci Bramanda?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa Ayah membuat begitu banyak klausul perlindungan?”
Harjono terdiam sejenak sebelum membuka sebuah laci.
Ia mengeluarkan map cokelat tua.
“Karena ayahmu sudah melihat sesuatu yang dulu kamu tidak mau lihat.”
Maya menerima map itu.
Di dalamnya terdapat salinan perjanjian investasi lama, catatan rapat, serta sebuah surat tulisan tangan.
Tulisan Broto.
Untuk Maya.
Jangan membuka surat ini kecuali suatu hari kamu harus memilih antara mempertahankan pernikahanmu atau mempertahankan dirimu sendiri.
Tangan Maya berhenti.
Ia membaca lebih lanjut.
Ayah tidak melarangmu mencintai Bramanda. Tetapi ayah ingin kamu tahu bahwa sejak tahun kedua pernikahan kalian, Bramanda pernah mencoba meyakinkan dewan untuk memindahkan aset penjamin keluarga Kusumah ke perusahaan induk miliknya. Ketika ayah menolak, ia mengatakan suatu hari nanti semua aset itu akan menjadi miliknya juga karena kamu adalah istrinya.
Dada Maya terasa sesak.
Ia melanjutkan.
Ayah sengaja tidak memberitahumu saat itu karena kamu sedang bahagia. Tetapi ayah mengubah struktur kepemilikan agar tidak seorang pun, termasuk suamimu, dapat memindahkan aset tanpa persetujuanmu.
Maya menutup mata.
Selama bertahun-tahun ia mengira perlindungan hukum itu dibuat karena ayahnya terlalu protektif.
Ternyata ayahnya telah melihat keserakahan Bramanda jauh sebelum dirinya.
Ponselnya bergetar.
Bramanda.
Maya membiarkannya.
Panggilan berhenti.
Kemudian datang pesan.
Kita harus bicara. Sekarang.
Maya membaca tanpa membalas.
Pesan kedua muncul.
Kamu sedang menghancurkan perusahaan yang menghidupi ribuan orang.
Maya menatap kalimat itu cukup lama.
Lalu ia mengetik.
Aku tidak menghancurkan perusahaanmu. Aku hanya berhenti menggunakan hartaku untuk menutup risiko yang kamu buat.
Balasan datang hampir seketika.
Jangan sok suci. Semua yang kita punya dibangun bersama.
Maya tersenyum hambar.
Ia mengetik lagi.
Besok pagi datang ke kantor Menteng. Bawa CFO, penasihat hukum, dan daftar seluruh fasilitas yang bergantung pada aset Kusumah.
Bramanda menelepon.
Kali ini Maya mengangkat.
“Apa maumu?” suara Bramanda terdengar berat.
“Transparansi.”
“Jangan bermain denganku.”
“Aku sudah enam tahun berhenti bermain, Bram. Kamu saja yang baru sadar.”
“Maya, ada ribuan pegawai.”
“Aku tahu.”
“Kalau perusahaan terganggu, mereka bisa kehilangan pekerjaan.”
“Aku juga tahu.”
“Jadi aktifkan kembali fasilitasnya.”
“Tidak.”
Bramanda terdiam.
Maya melanjutkan dengan suara tenang.
“Besok kita audit seluruh ketergantungan Nusantara Megah pada aset keluargaku. Fasilitas yang memang sehat akan dibahas kembali. Yang dipakai untuk menutup proyek spekulatif akan dihentikan.”
“Kamu tidak bisa memerintah perusahaan saya.”
“Saya tidak sedang memerintah perusahaanmu.”
Maya menatap foto ayahnya di meja.
“Saya sedang mengatur milik saya sendiri.”
Sambungan terputus dari pihak Bramanda.
Keesokan paginya, berita tentang gala itu sudah berada di hampir semua portal bisnis dan hiburan.
Video Maya ditolak masuk tersebar luas.
Lebih buruk lagi bagi Bramanda, sebuah rekaman lain muncul.
Rekaman dari dalam ballroom.
Bramanda terlihat mengangkat gelas ke arah Maya sambil tertawa bersama Sheila.
Nilai saham Nusantara Megah turun tajam pada pembukaan perdagangan.
Pukul sembilan, Bramanda tiba di kantor Menteng.
Ia tidak datang sendiri.
Denny.
Dua pengacara.
Komisaris utama.
Dan seorang bankir senior.
Maya sudah duduk di ujung meja panjang.
Tidak ada gaun pesta malam ini.
Ia mengenakan setelan putih sederhana.
Di depannya tersusun tiga map.
Bramanda duduk berhadapan dengannya.
“Kita selesaikan ini.”
Maya mengangguk.
“Bagus.”
Salah satu pengacara Bramanda membuka dokumen.
“Kami meminta aktivasi kembali seluruh fasilitas untuk menjaga stabilitas perusahaan.”
Maya mendorong map pertama.
“Ini daftar proyek yang bisa tetap menerima dukungan.”
Map kedua.
“Ini fasilitas yang akan dihentikan karena risikonya tidak sesuai perjanjian.”
Map ketiga.
“Dan ini yang harus dijelaskan Bramanda.”
Bramanda membuka map ketiga.
Wajahnya berubah.
Ada transfer.
Beberapa transaksi investasi pribadi.
Pembelian apartemen.
Pembayaran perusahaan konsultan milik rekan Sheila.
Dan satu transaksi bernilai dua belas miliar rupiah yang dibukukan sebagai biaya konsultasi ekspansi regional.
Maya menatapnya.
“Jelaskan.”
Bramanda membalik halaman dengan cepat.
“Ini operasional.”
Denny menggeleng perlahan.
“Pak Bram, angka ini tidak pernah masuk laporan yang saya tanda tangani.”
Bramanda menatapnya tajam.
“Kamu diam.”
Maya menyandarkan tubuh.
“Dana itu berasal dari fasilitas yang dijamin aset Kusumah.”
Pengacara Bramanda langsung berkata, “Kita belum bisa menyimpulkan pelanggaran.”
“Benar,” jawab Maya. “Karena itu saya meminta audit forensik.”
Komisaris utama menghela napas panjang.
“Bramanda, apakah dewan tahu soal transaksi ini?”
Bramanda tidak menjawab.
Di saat itulah Denny meletakkan sebuah flashdisk di atas meja.
“Pak, saya juga harus menyampaikan sesuatu.”
Bramanda menatapnya.
“Apa?”
Denny terlihat gugup.
“Saya menyimpan salinan instruksi yang Bapak kirim dua bulan lalu.”
Ia menatap Maya.
“Bapak Bramanda meminta kami menyiapkan restrukturisasi agar beberapa jaminan keluarga Kusumah bisa dialihkan secara bertahap ke entitas baru setelah beliau menjadi direktur utama.”
Maya membeku.
Bramanda berdiri.
“Kamu gila?”
Denny mundur sedikit.
“Saya tidak pernah menjalankannya.”
“Kamu mencuri dokumen perusahaan!”
“Saya melindungi diri.”
Ruangan menjadi kacau.
Pengacara berbicara bersamaan.
Komisaris meminta semua orang diam.
Namun Maya justru merasa sangat tenang.
Sekarang semuanya masuk akal.
Gala itu bukan sekadar perayaan.
Pelantikan Bramanda sebagai direktur utama bukan sekadar ambisi karier.
Ia membutuhkan posisi tertinggi untuk membuka jalan menuju aset yang selama ini tidak bisa disentuhnya.
Dan kemungkinan besar, setelah berhasil, Maya memang akan disingkirkan.
Secara perlahan.
Secara hukum.
Secara finansial.
Pengusiran tadi malam mungkin hanya permulaan.
Maya berdiri.
Semua orang diam.
Ia menatap Bramanda.
“Jadi ini sebabnya kamu ingin aku tidak berada di gala?”
Bramanda mengepalkan tangan.
“Maya, dengarkan aku.”
“Supaya aku tidak mendengar pembicaraan investor?”
“Bukan.”
“Supaya Sheila bisa diperkenalkan sebagai bagian dari lingkaran barumu?”
“Tidak sesederhana itu.”
“Memang.”
Maya mengangguk.
“Jauh lebih buruk.”
Bramanda mendekatinya.
“Aku memang salah soal Sheila.”
Maya tertawa kecil.
“Yang lucu, Bram, sekarang Sheila justru menjadi bagian paling kecil dari masalahmu.”
Wajah Bramanda memucat.
Maya mengambil map ketiga.
“Aku akan mengaktifkan kembali fasilitas yang dibutuhkan untuk pembayaran gaji, vendor penting, dan proyek sehat.”
Denny menatapnya lega.
“Terima kasih, Bu.”
“Tapi seluruh fasilitas yang bisa dipakai untuk ekspansi baru akan tetap dibekukan sampai audit selesai.”
Komisaris utama mengangguk.
“Itu masuk akal.”
Bramanda menatap komisaris.
“Kalian berpihak padanya?”
Komisaris menatap dingin.
“Kami berpihak pada perusahaan.”
Kemudian ia menambahkan sesuatu yang membuat wajah Bramanda benar-benar kehilangan warna.
“Dan mulai siang ini, dewan akan melakukan rapat luar biasa untuk menangguhkan kewenanganmu sebagai direktur utama sampai investigasi selesai.”
Bramanda jatuh terduduk.
Malam sebelumnya, lebih dari empat ratus orang mengangkat gelas untuk merayakan kekuasaannya.
Kurang dari dua belas jam kemudian, ia bahkan tidak lagi memiliki otoritas menandatangani satu transfer.
Sheila mengirim pesan kepadanya siang itu.
Aku tidak mau ikut terseret. Jangan hubungi aku lagi.
Bramanda menatap layar lama sekali.
Lalu tertawa pahit.
Semua yang ia kira miliknya pergi hampir bersamaan.
Jabatan.
Kekasih.
Kepercayaan dewan.
Dan istrinya.
Beberapa minggu kemudian, audit selesai.
Beberapa transaksi Bramanda memang melanggar aturan internal perusahaan, tetapi tidak semuanya merupakan tindak pidana.
Ia kehilangan jabatan direktur utama.
Dewan menunjuk Denny sebagai pelaksana tugas sementara.
Maya tidak mengambil alih perusahaan.
Ia juga tidak menjual semua saham atau menutup seluruh fasilitas.
Sebaliknya, ia merestrukturisasi perjanjian agar PT Nusantara Megah bisa berdiri dengan jaminannya sendiri secara bertahap.
Saat Harjono bertanya mengapa ia tidak sekalian membiarkan perusahaan keluarga Bramanda runtuh, Maya hanya menjawab,
“Karena ribuan pegawai tidak ikut mengusirku dari ballroom.”
Enam bulan kemudian, proses perceraian Maya dan Bramanda hampir selesai.
Pada pertemuan terakhir mereka di kantor mediator, Bramanda terlihat jauh lebih tua.
Ia tidak lagi memakai jam mahal.
Tidak ada sopir.
Tidak ada ajudan.
Sebelum Maya pergi, Bramanda memanggilnya.
“Maya.”
Maya berhenti.
Bramanda menatapnya lama.
“Kalau malam itu aku keluar menemuimu, apa semuanya akan berbeda?”
Maya memikirkan pertanyaan itu.
Lalu ia menggeleng.
“Tidak.”
Bramanda tersentak.
“Kenapa?”
“Karena masalahnya bukan kamu mengusirku malam itu.”
Maya menatapnya tanpa kebencian.
“Masalahnya adalah selama bertahun-tahun kamu merasa berhak atas semua yang kuberikan, sampai kamu lupa bahwa aku memberikannya karena cinta, bukan karena kewajiban.”
Bramanda menunduk.
Maya melanjutkan,
“Orang yang menerima pertolongan terlalu lama kadang mulai percaya bahwa penolongnya adalah orang lemah.”
Ia berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, Maya menoleh untuk terakhir kali.
“Dan kamu baru memahami kekeliruan itu ketika aku berhenti menolongmu.”
Maya meninggalkan ruangan.
Di luar gedung, Jakarta tetap bising seperti biasa.
Mobil bergerak.
Orang-orang bergegas.
Gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya sore.
Maya membuka clutch kecil yang masih sering ia gunakan.
Di dalamnya terdapat kotak beludru hitam.
Kancing manset peninggalan ayahnya masih tersimpan rapi.
Ia tidak pernah memberikannya kepada Bramanda.
Dan sekarang ia tahu kepada siapa benda itu seharusnya diberikan.
Bukan kepada seorang suami.
Bukan kepada seorang direktur utama.
Melainkan kepada putra Harjono yang baru saja lulus dari sekolah bisnis dan memilih bekerja membangun yayasan pendidikan milik keluarga Kusumah.
Seseorang yang ketika ditawari mobil mewah sebagai hadiah justru berkata,
“Simpan saja dananya untuk beasiswa, Tante. Saya masih bisa naik MRT.”
Maya tersenyum.
Barangkali warisan ayahnya memang tidak pernah dimaksudkan untuk jatuh ke tangan orang yang paling berkuasa.
Melainkan ke tangan orang yang mengerti bahwa kekuasaan terbesar bukanlah kemampuan menguasai milik orang lain.
Melainkan kemampuan menjaga kepercayaan saat seseorang memilih menopang kita.
