JAM 2:17 DINI HARI, SEORANG WANITA TANPA ALAS KAKI MENGETUK PAGAR. WAJAHNYA PERSIS PUTRI KAMI YANG SUDAH MENIKAH DAN MENINGGAL EMPAT TAHUN LALU!

Surya tidak tidur sama sekali malam itu.

Kalimat perempuan misterius tersebut terus berputar di kepalanya.

Bukan satu-satunya bayi yang keluar hidup-hidup dari rumah sakit dua puluh delapan tahun lalu.

Menjelang subuh, dia sudah duduk di ruang kerja dengan laptop terbuka, dikelilingi map-map lama yang selama bertahun-tahun hanya berisi penyelidikan tentang kecelakaan Nisa.

Untuk pertama kalinya, Surya menarik keluar kotak dokumen kelahiran putrinya.

Akta kelahiran.

Kartu kontrol kehamilan Retno.

Kuitansi rumah sakit.

Beberapa foto lama yang warnanya mulai pudar.

Nisa lahir di sebuah rumah sakit bersalin swasta kecil di Malang, Rumah Bersalin Bina Kasih, pada malam ketika hujan besar menyebabkan listrik padam selama hampir dua jam.

Surya masih mengingat malam itu.

Dia menunggu di lorong sempit dengan pakaian basah karena sebelumnya menerobos hujan.

Seorang perawat sempat keluar dan mengatakan proses persalinan mengalami komplikasi.

Kemudian seorang dokter mengatakan bayi mereka selamat.

Hanya itu yang dia ingat.

Dua puluh delapan tahun telah mengaburkan detail-detail kecil.

Namun kini setiap detail terasa penting.

Retno masuk ke ruang kerja sekitar pukul enam pagi.

Wajahnya sembap.

“Aku ingat sesuatu,” katanya pelan.

Surya menoleh.

Retno duduk di kursi.

“Setelah melahirkan, aku sempat sadar sebentar. Aku mendengar bayi menangis.”

Surya tidak langsung mengerti.

“Ya. Itu Nisa.”

Retno menggeleng.

“Bukan satu.”

Ruangan itu mendadak terasa sempit.

“Aku dengar dua tangisan.”

Surya menatap istrinya lama.

“Mungkin dari ruang sebelah.”

“Mungkin,” jawab Retno. “Tapi aku juga ingat ada seorang perawat berkata, ‘Yang satu jangan dibawa ke kamar ibu.’”

Surya berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Kamu tidak pernah cerita.”

“Aku pikir aku sedang setengah sadar karena obat bius.”

Mereka saling menatap.

Pada pukul sembilan pagi, Surya mencoba menghubungi Rumah Bersalin Bina Kasih.

Nomor teleponnya sudah tidak aktif.

Pencarian internet menunjukkan rumah sakit itu ditutup tujuh belas tahun lalu setelah pemiliknya meninggal dan izin operasionalnya dicabut.

Namun sebuah nama muncul dalam arsip berita lama.

Dokter kandungan yang bertugas pada malam kelahiran Nisa.

Dr. Wibowo Prasetya.

Surya mencarinya lebih jauh.

Dokter itu ternyata masih hidup dan tinggal di sebuah kawasan perumahan di Singosari.

Siang itu juga Surya dan Retno pergi menemuinya.

Rumah Dr. Wibowo tampak tua dan sepi.

Seorang pria berusia hampir tujuh puluh tahun membuka pintu.

Begitu Surya menyebut tanggal kelahiran Nisa dan nama Rumah Bersalin Bina Kasih, ekspresi lelaki itu langsung berubah.

“Saya sudah pensiun,” katanya cepat.

Surya menahan pintu sebelum dokter itu menutupnya.

“Anak saya meninggal empat tahun lalu.”

Dokter Wibowo diam.

“Tadi malam seorang perempuan datang ke rumah saya,” lanjut Surya. “Wajahnya persis anak saya.”

Tangan dokter tua itu terlihat gemetar.

“Pergilah.”

“Dokter tahu sesuatu.”

“Saya bilang pergi.”

Retno yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata,

“Apakah saya melahirkan dua bayi malam itu?”

Wajah dokter Wibowo kehilangan warna.

Itu sudah menjadi jawaban sebelum dia mengucapkan apa pun.

Mereka akhirnya duduk di ruang tamu.

Dokter Wibowo mengambil napas panjang.

“Saya sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun.”

Surya menggenggam lututnya keras-keras.

“Apa yang terjadi?”

“Malam itu listrik padam. Rumah sakit menggunakan generator, tetapi generator hanya bertahan sekitar dua puluh menit.”

Dokter Wibowo menunduk.

“Istri Anda melahirkan bayi kembar perempuan.”

Retno menutup mulut.

Air matanya jatuh seketika.

Surya tidak bisa bergerak.

“Kembar?”

“Ya.”

Dokter itu melanjutkan dengan suara berat.

“Bayi pertama sehat. Bayi kedua mengalami gangguan pernapasan. Kami melakukan resusitasi. Saat itu pemilik rumah sakit datang. Namanya Harsono.”

Surya pernah mendengar nama itu.

Seorang pengusaha alat kesehatan yang terkenal kaya pada masanya.

“Harsono memberi instruksi agar bayi kedua dipindahkan.”

“Dipindahkan ke mana?”

Dokter Wibowo memejamkan mata.

“Dia punya anak perempuan yang baru saja melahirkan mati pada malam yang sama.”

Retno berdiri.

“Tidak.”

Suara itu seperti keluar dari tenggorokannya yang terluka.

“Tidak mungkin.”

“Harsono membayar beberapa orang untuk mengubah catatan.”

Surya menatap dokter tua itu dengan kemarahan yang hampir tidak terkendali.

“Dan Dokter diam?”

“Saya pengecut.”

Dokter Wibowo menatap Surya.

“Saya punya dua anak kecil waktu itu. Harsono mengancam keluarga saya.”

“Jadi anak kami dicuri?”

“Bayi kedua dinyatakan meninggal sebelum sempat dicatat secara resmi.”

Retno mulai menangis tersedu-sedu.

“Siapa yang membawanya?”

Dokter Wibowo menggeleng.

“Saya hanya tahu dia diserahkan kepada keluarga Harsono.”

Surya langsung berdiri.

“Nama anak perempuan Harsono.”

Dokter Wibowo memandangnya lama.

“Ratih Pradipta.”

Perjalanan pulang terasa seperti mimpi buruk.

Namun nama itu menjadi pintu pertama.

Dari pencarian sederhana, Surya menemukan Ratih Pradipta pernah tinggal di Jakarta dan meninggal delapan tahun lalu.

Dia meninggalkan seorang anak perempuan.

Namanya Laras Pradipta.

Usianya dua puluh delapan tahun.

Foto profil akun media sosial lamanya membuat Retno menjatuhkan ponsel.

Wajah Laras adalah wajah perempuan yang berdiri di depan pagar.

Nyaris identik dengan Nisa.

Surya langsung mencoba mencari alamatnya.

Namun akun itu tidak aktif selama tiga tahun.

Tidak ada nomor telepon.

Tidak ada pekerjaan tercantum.

Yang lebih aneh, nama Laras muncul dalam salah satu artikel lama mengenai kasus pasien hilang dari sebuah klinik rehabilitasi psikologis di Batu.

Nama kliniknya membuat Surya membeku.

Klinik Pratama Lentera Jiwa.

Tempat Aris bekerja.

Malam itu, Surya menghubungi Aris.

“Datang ke rumah.”

Nada suaranya datar.

“Sekarang.”

Aris tiba satu jam kemudian.

Dia masih mengenakan kemeja kerja.

Begitu masuk ruang tamu, dia melihat Retno duduk sambil memegang foto Laras.

Aris langsung berhenti.

Surya memperhatikan reaksinya.

“Kamu mengenalnya.”

Aris tidak menjawab.

“Namanya Laras Pradipta.”

Keheningan berlangsung beberapa detik.

Kemudian Aris menghela napas.

“Bapak seharusnya berhenti.”

Surya bangkit.

“Jadi benar.”

“Saya hanya mencoba melindungi keluarga ini.”

“Melindungi siapa?”

Aris menatap Retno.

“Kalau semuanya terbongkar, keadaan akan jauh lebih buruk.”

Surya mencengkeram kerah bajunya.

“Putri saya meninggal.”

Aris tidak melawan.

“Dan seorang perempuan yang wajahnya sama persis dengannya muncul di rumah saya. Jangan bicara tentang perlindungan.”

Retno berdiri.

“Di mana Laras?”

Aris menutup mata sesaat.

“Dia pasien saya.”

Surya melepaskan kerahnya.

“Pasien?”

“Laras mengalami gangguan kecemasan berat setelah ibunya meninggal. Dia dirawat di klinik tempat saya bekerja sekitar lima tahun lalu.”

Lima tahun.

Satu tahun sebelum Nisa meninggal.

“Nisa pernah bertemu Laras?” tanya Surya.

Aris diam.

Retno langsung memahami.

“Pernah.”

Aris akhirnya mengangguk.

“Secara tidak sengaja.”

Dia duduk perlahan.

“Nisa datang ke klinik membawakan makan siang untuk saya. Saat itu dia melihat Laras di taman.”

Aris menelan ludah.

“Nisa pikir dia sedang melihat dirinya sendiri.”

Surya merasa dadanya sesak.

“Lalu?”

“Mereka mulai berbicara.”

Awalnya, kata Aris, keduanya mengira kemiripan itu kebetulan.

Namun semakin lama mereka saling mengenal, semakin banyak persamaan muncul.

Tanggal lahir sama.

Golongan darah sama.

Alergi obat sama.

Bahkan ada tanda lahir kecil di bahu kiri dengan bentuk hampir identik.

Nisa kemudian melakukan tes DNA diam-diam.

Hasilnya menunjukkan mereka saudara kembar identik.

Retno menangis tanpa suara.

“Kenapa Nisa tidak pernah memberi tahu kami?”

“Karena dia ingin memastikan semuanya dulu.”

Aris menjawab pelan.

“Nisa mulai mencari catatan rumah sakit. Dia menemukan dugaan pemalsuan dokumen kelahiran.”

“Dan kamu membantunya?”

Aris tidak langsung menjawab.

Surya menatapnya tajam.

“Kamu membantunya?”

“Pada awalnya.”

Kata-kata itu membuat Surya merasakan sesuatu yang buruk.

“Apa maksudmu pada awalnya?”

Aris menunduk.

“Laras bukan hanya pewaris keluarga Harsono.”

Dia mengambil napas panjang.

“Ada aset besar yang diwariskan kepada garis keturunan biologis Ratih. Kalau terbukti Laras bukan anak kandung Ratih, kepemilikan beberapa perusahaan dan tanah bisa dipersoalkan.”

Surya mendekat.

“Siapa yang berkepentingan?”

Aris menatapnya.

“Paman Laras. Dimas Pradipta.”

Nama itu membuat suasana berubah.

Surya mengenalnya.

Pengusaha properti yang cukup dikenal di Jawa Timur.

Aris melanjutkan.

“Dimas tahu Nisa dan Laras melakukan penyelidikan.”

“Lalu kecelakaan Nisa?”

Aris memalingkan wajah.

Surya langsung menghantam meja.

“Jawab!”

“Saya tidak tahu pasti.”

“Kamu bohong.”

“Saya tidak tahu siapa yang menyentuh mobilnya.”

Surya membeku.

Menyentuh mobilnya.

Bukan kecelakaan.

“Jadi mobil Nisa disabotase?”

“Saya hanya menemukan laporan teknisi yang mengatakan selang rem pernah diganti sehari sebelum kecelakaan.”

Retno terduduk lemas.

“Kenapa kamu tidak ke polisi?”

“Karena Dimas mengancam Laras.”

“Dan kamu memilih diam?”

“Kalau saya bicara, dia akan membunuh Laras juga.”

Surya menatap lelaki yang pernah dia anggap sebagai anak sendiri.

“Lalu selama empat tahun kamu membiarkan kami percaya Nisa mati karena kecelakaan biasa?”

Wajah Aris runtuh.

“Saya takut.”

Surya mengangkat tangan hendak memukulnya, tetapi Retno menahan.

Saat itulah terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah.

Mereka semua terdiam.

Surya menoleh ke jendela.

Mobil hitam yang sama seperti malam sebelumnya berhenti di ujung pagar.

Pintu belakang terbuka.

Laras turun.

Namun kali ini dia tidak sendirian.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun turun dari kursi pengemudi.

Laras berjalan cepat ke arah rumah.

Begitu pintu dibuka, Retno langsung memeluknya.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada keraguan.

Tubuh seorang ibu seperti mengenali sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.

Laras menangis di bahunya.

“Ibu…”

Retno hampir roboh mendengarnya.

Surya berdiri beberapa langkah dari mereka dengan mata merah.

Laras menatapnya.

“Bapak.”

Surya memeluk kedua perempuan itu sekaligus.

Untuk beberapa saat, tidak seorang pun mampu bicara.

Setelah semuanya sedikit tenang, perempuan yang mengantar Laras memperkenalkan diri sebagai Sari, mantan perawat di Klinik Lentera Jiwa.

Dia menjelaskan bahwa beberapa bulan terakhir Laras sengaja ditempatkan di fasilitas pemulihan tertutup oleh Dimas menggunakan surat rekomendasi psikiatri palsu.

“Dia bukan dirawat,” kata Sari. “Dia disembunyikan.”

Aris langsung menatap lantai.

Sari menunjuknya.

“Dan surat pertama yang membuat Laras dinyatakan tidak stabil ditandatangani oleh dia.”

Retno perlahan menoleh kepada Aris.

Ruangan mendadak sunyi.

Aris pucat.

“Saya dipaksa.”

“Tidak,” jawab Laras.

Suaranya tenang tetapi tajam.

“Kamu dibayar.”

Surya menatap Aris.

Laras mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku jaket hijau.

“Nisa tahu dia sedang dalam bahaya sebelum kecelakaan.”

Dia menyerahkan flashdisk itu kepada Surya.

“Dia memberikan salinan semua bukti kepadaku.”

Di dalamnya terdapat rekaman percakapan, hasil tes DNA, dokumen kelahiran palsu, laporan teknis mobil Nisa, dan rekaman CCTV sebuah bengkel.

Rekaman terakhir menunjukkan seseorang masuk ke area penyimpanan mobil Nisa malam sebelum kecelakaan.

Orang itu bukan Dimas.

Melainkan Aris.

Surya menatap layar.

Kemudian perlahan berbalik.

Aris sudah berdiri di dekat pintu.

“Mas Aris?” suara Retno bergetar.

Aris mundur.

“Saya tidak berniat membunuh Nisa.”

“Lalu apa yang kamu lakukan di mobilnya?” tanya Surya.

“Saya hanya memasang alat pelacak.”

Laras tertawa pendek tanpa humor.

“Bohong.”

Dia mengeluarkan ponselnya.

“Nisa merekam percakapan kalian dua hari sebelum dia meninggal.”

Suara Nisa terdengar dari speaker.

“Kalau aku tidak berhenti menyelidiki, kamu mau apa, Ris?”

Kemudian suara Aris.

“Kamu tidak mengerti. Aku sudah terlalu jauh terlibat.”

“Apa Dimas membayarmu?”

Keheningan.

Lalu suara Aris.

“Aku cuma butuh kamu berhenti.”

Rekaman berakhir.

Aris langsung berlari ke pintu.

Namun sebelum dia sempat keluar, dua mobil polisi berhenti di depan rumah.

Sari telah menghubungi mereka sebelum datang.

Aris ditangkap malam itu.

Penyelidikan berikutnya mengungkap bahwa Aris memang tidak secara langsung merusak rem mobil Nisa.

Namun dia memberikan jadwal perjalanan Nisa dan lokasi mobil kepada orang suruhan Dimas sebagai imbalan uang.

Dimas kemudian memerintahkan sabotase.

Kecelakaan itu dirancang terlihat seperti kehilangan kendali akibat hujan.

Yang paling menghancurkan Surya adalah fakta bahwa beberapa minggu sebelum meninggal, Nisa sudah berencana membawa Laras pulang menemui kedua orang tua mereka.

Dia bahkan menulis sebuah surat.

Surat itu ditemukan di antara dokumen milik Laras.

Bapak, Ibu.

Kalau suatu hari aku datang membawa seseorang yang wajahnya mirip denganku, jangan takut.

Jangan pikir aku bercanda.

Aku mungkin akhirnya menemukan bagian keluarga kita yang selama ini hilang.

Dan kalau sesuatu terjadi padaku sebelum aku sempat menjelaskan semuanya, tolong jangan salahkan diri kalian.

Cari dia.

Namanya Laras.

Dia juga anak kalian.

Retno menangis sambil memeluk surat itu.

Surya tidak menangis.

Dia hanya duduk lama di kamar Nisa yang tidak pernah mereka ubah sejak empat tahun lalu.

Di sampingnya, Laras duduk mengenakan jaket hijau tua.

Surya akhirnya bertanya sesuatu yang sejak malam pertama mengganggunya.

“Kenapa kamu datang jam 2:17?”

Laras menatapnya.

“Itu jam kelahiran kami.”

Surya terdiam.

“Dan jaket ini?”

Laras menyentuh lengannya.

“Nisa memberikannya kepadaku beberapa hari sebelum dia meninggal.”

“Lalu telepon malam itu?”

Laras menggeleng.

“Aku tidak menelepon.”

Surya menatapnya.

“Apa?”

“Aku datang ke pagar, iya. Tapi aku tidak pernah menelepon Bapak.”

Surya merasa tengkuknya dingin.

“Suara yang bilang ‘Bapak, buka pintunya’?”

Laras perlahan menggeleng.

Retno yang berdiri di ambang pintu ikut membeku.

Surya mengambil ponselnya dan memeriksa riwayat panggilan malam itu.

Tidak ada panggilan masuk pukul 2:17.

Tidak pernah ada.

Namun Surya tahu dia mendengarnya.

Jelas.

Suara Nisa.

Malam berikutnya, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Surya membersihkan ruang kerjanya.

Dia menurunkan peta kecelakaan.

Membuang potongan berita.

Menyimpan semua dokumen penyelidikan ke dalam satu kotak.

Di dinding dia hanya menyisakan sebuah foto.

Foto Nisa tersenyum saat wisuda.

Di bawahnya, Surya meletakkan foto baru.

Foto dirinya, Retno, dan Laras berdiri bersama di halaman rumah.

Sesaat sebelum mematikan lampu, terdengar suara kecil dari pipa air di samping rumah.

Tang.

Tang.

Tang.

Surya berhenti.

Dua ketukan lambat menyusul.

Tang.

Tang.

Kemudian satu ketukan terakhir.

Tang.

Surya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Selamat malam, Nisa.”

Tidak ada lagi suara setelah itu.

Dan sejak malam tersebut, ketukan itu tidak pernah terdengar lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang