SOPIR TAKSI ITU MENGIRA AKU PENUMPANG BIASA, SAMPAI AKU BERDIRI DI DEPAN SERSAN YANG MEMERASNYA DI TENGAH JALAN

“Bu, saya sengaja lewat jalan ini untuk Ibu. Biasanya saya tidak pernah lewat sini.”

Aku menoleh dari kursi belakang. Sopir taksi itu tetap menatap jalan, tetapi kedua tangannya mencengkeram kemudi terlalu kuat. Namanya Arman, tertulis pada kartu pengemudi yang tergantung di dekat dasbor.

“Kenapa, Pak?”

Arman menarik napas.

“Di depan ada pemeriksaan polisi. Sersan yang bertugas di sana sering meminta uang dari sopir taksi.”

Aku sempat mengira ia hanya takut terkena tilang. Namun ketika Arman menjelaskan bahwa beberapa sopir dipaksa membayar ratusan ribu hingga jutaan rupiah tanpa surat tilang resmi, nada suaranya berubah. Itu bukan keluhan biasa. Itu ketakutan.

Aku sedang cuti hari itu. Gaun merah sederhana yang kukenakan sengaja kupilih agar tidak seorang pun mengenaliku sebagai Kapten Sarah Wijaya, perwira yang selama hampir dua tahun bertugas di bagian pengawasan internal kepolisian daerah.

Aku hendak menghadiri pernikahan adikku, Dimas.

Setidaknya, itulah rencanaku.

Beberapa ratus meter kemudian, sebuah tangan terangkat di tengah jalan.

Arman langsung menginjak rem.

Dua mobil patroli terparkir di pinggir jalan. Tiga polisi berdiri di dekat sebuah pos kecil. Seorang sersan bertubuh besar mendekati taksi kami.

“Itu dia,” bisik Arman.

Sersan itu mengetuk kaca.

“Turun!”

Arman turun dengan wajah pucat.

Aku tetap berada di belakang.

“Surat-surat!”

Arman menyerahkan SIM dan dokumen kendaraan. Semuanya diperiksa.

“Lengkap,” kata sersan itu.

Arman menghela napas lega.

“Tapi kamu melanggar batas kecepatan. Denda satu juta lima ratus ribu.”

Arman terdiam.

“Pak, saya tidak mengebut.”

“Sekarang kamu mengajari saya?”

“Bukan begitu. Kalau memang saya melanggar, tolong tunjukkan buktinya dan berikan surat tilangnya.”

Wajah sersan itu mengeras.

“Banyak bicara.”

Ia mendekat.

“Bayar sembilan ratus ribu sekarang. Selesai.”

“Saya tidak punya uang sebanyak itu.”

“Kalau begitu kendaraanmu kami tahan.”

“Pak, saya punya keluarga. Hari ini bahkan belum dapat cukup uang untuk membawa belanjaan pulang.”

Sersan itu tiba-tiba mencengkeram kerah Arman.

Aku menunggu.

Dua polisi lain melihatnya.

Tak satu pun bergerak.

Saat itulah aku membuka pintu.

“Lepaskan dia.”

Sersan itu menoleh.

“Nyonya, masuk kembali ke mobil.”

“Lepaskan kerahnya.”

“Ini urusan polisi.”

“Justru karena ini urusan polisi saya meminta Anda melepaskannya.”

Ia mendekat kepadaku.

“Siapa kamu?”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Orang yang sedang merekam Anda.”

Ia mencoba meraih ponselku.

Aku mundur.

“Jangan sentuh.”

“Kamu mau saya tahan juga?”

“Silakan.”

Aku mengeluarkan kartu identitasku.

Ia merampasnya, membaca sekilas, lalu ekspresinya berubah.

Kapten Sarah Wijaya.

Inspektorat Kepolisian Daerah.

Tangannya perlahan turun.

Pada saat bersamaan, suara sirene terdengar.

Dua kendaraan dinas berhenti di belakang taksi. Enam petugas turun bersama seorang komisaris yang sangat kukenal.

Komisaris Adrian berjalan mendekat.

“Kapten Sarah.”

Sersan itu menelan ludah.

Aku mengambil kembali kartu identitasku.

“Sersan Tomi, saya kira kita perlu bicara.”

Tomi mencoba tersenyum.

“Kapten, ini salah paham.”

“Bagian mana?”

“Pengemudi ini melakukan pelanggaran.”

“Buktinya?”

Tomi diam.

“Radar kecepatan?”

Tidak ada jawaban.

“Rekaman kamera?”

Diam.

“Surat tilang?”

Wajahnya semakin pucat.

Aku menoleh kepada Adrian.

“Periksa pos.”

Adrian memberi isyarat kepada anak buahnya.

Tomi langsung panik.

“Kapten, tunggu.”

Aku memandangnya.

“Kenapa?”

“Tidak perlu sampai seperti ini.”

Kalimat itu membuatku semakin yakin.

Dua petugas masuk ke dalam pos. Tidak sampai tiga menit, salah satunya keluar membawa tas hitam.

“Komandan.”

Tas itu diletakkan di kap mobil.

Ketika dibuka, terdapat puluhan amplop berisi uang tunai.

Tomi buru-buru berkata, “Itu bukan milik saya.”

Aku mengambil salah satu amplop.

Di bagian depannya tertulis nomor pelat kendaraan.

Amplop lain memiliki catatan serupa.

Ada puluhan nomor.

Arman memandangnya dengan mulut terbuka.

“Itu nomor taksi teman saya,” katanya tiba-tiba.

Ia menunjuk salah satu amplop.

“Teman saya, Joko, kehilangan hampir satu juta dua bulan lalu di sini.”

Tomi menatap Arman tajam.

“Diam kamu!”

Aku langsung berdiri di depannya.

“Jangan mengancam saksi.”

“Kapten, Anda tidak memahami situasinya.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Tomi tidak menjawab.

Seorang petugas lain keluar dari pos membawa buku catatan.

“Kapten, ada daftar.”

Aku membukanya.

Tanggal.

Nomor kendaraan.

Jumlah uang.

Inisial petugas.

Catatan itu tersusun terlalu rapi untuk pemerasan spontan.

Aku membalik halaman demi halaman.

Ada lebih dari seratus transaksi.

Namun sesuatu membuat tanganku berhenti.

Di kolom terakhir terdapat kode yang sama berulang kali.

A17.

Aku mengenal kode itu.

Kode tersebut pernah muncul dalam penyelidikan internal yang kutangani enam bulan sebelumnya.

Kasusnya mengenai dugaan pungutan ilegal di beberapa jalur distribusi barang. Investigasi dihentikan karena informan utama tiba-tiba menarik keterangannya.

Saat itu kami mengira A17 adalah kode lokasi.

Ternyata bukan.

“Adrian.”

Komisaris Adrian mendekat.

Aku menunjukkan buku itu.

Wajahnya berubah.

“Ini jaringan yang sama?”

“Sepertinya.”

Tomi tiba-tiba berbalik hendak pergi.

Dua petugas langsung menahannya.

“Lepaskan saya!”

“Borgol dia,” kataku.

Tomi berhenti melawan.

Ia menatapku lama.

Lalu tertawa kecil.

“Kapten Sarah, Anda pikir menangkap saya akan menyelesaikan semuanya?”

Aku tidak menjawab.

“Aku cuma orang lapangan.”

“Siapa yang memberi perintah?”

Tomi tersenyum.

“Kalau saya bicara, saya mati.”

“Kalau tidak bicara, Anda tetap menghadapi proses hukum.”

Wajahnya perlahan kehilangan keberanian.

Ia menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada orang asing mendekat.

“A17 bukan nama.”

“Lalu?”

“Nomor rekening penampungan.”

Adrian langsung menghubungi tim keuangan.

Aku menatap buku catatan itu lagi.

“Siapa pemilik rekeningnya?”

Tomi menggeleng.

“Saya tidak tahu. Kami hanya menyetor.”

“Berapa?”

“Setiap minggu.”

“Berapa?”

Tomi menutup mata.

“Kadang tiga puluh juta. Kadang lima puluh. Dari beberapa titik.”

Arman yang berdiri beberapa meter dariku terlihat syok.

“Jadi selama ini bukan cuma di sini?”

Tomi tidak menjawab.

Aku bertanya, “Berapa banyak titik?”

“Sebelas.”

Suasana langsung berubah.

Ini bukan lagi tentang seorang sersan nakal.

Ini jaringan.

Telepon Adrian berbunyi.

Ia menjauh sebentar, kemudian kembali dengan wajah tegang.

“Sarah.”

“Apa?”

“Rekening A17 sudah ditemukan.”

“Pemilik?”

Adrian tidak langsung menjawab.

“Rekening perusahaan.”

“Perusahaan apa?”

Ia menunjukkan layar ponselnya.

Nama perusahaan itu membuat dadaku seolah dihantam sesuatu.

Wijaya Mitra Utama.

Aku mengenal nama itu.

Perusahaan milik pamanku.

Dan orang yang menjabat sebagai direktur operasionalnya adalah calon mertua Dimas.

Pernikahan yang hendak kuhadiri sore itu tiba-tiba terasa seperti bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku mengambil ponsel.

Ada tujuh panggilan tidak terjawab dari Dimas.

Aku meneleponnya.

Ia langsung mengangkat.

“Kak, kamu di mana? Semua orang menunggu.”

“Dimas, dengarkan aku.”

“Ada apa?”

“Di mana Pak Surya?”

Pak Surya adalah ayah calon istrinya.

“Di hotel. Kenapa?”

“Jangan katakan kepada siapa pun bahwa aku sedang menuju ke sana.”

Dimas terdiam.

“Kak, kamu membuatku takut.”

“Percayalah kepadaku.”

Aku menutup telepon.

Tomi mendengar percakapan kami.

Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar menunjukkan ketakutan.

“Jangan ke hotel,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Ia diam.

Aku mendekat.

“Kenapa saya tidak boleh ke sana?”

Tomi menelan ludah.

“Karena mereka sudah tahu Anda menemukan buku itu.”

Aku menatap Adrian.

“Bagaimana?”

Tomi menunjuk salah satu polisi yang sejak tadi berdiri di belakang kami.

“Dia.”

Semua kepala menoleh.

Polisi muda bernama Raka tiba-tiba berlari.

“Berhenti!”

Dua petugas mengejarnya.

Raka mencoba masuk ke mobil patroli, tetapi Adrian berhasil menarik pintunya sebelum tertutup. Setelah perlawanan singkat, ia diborgol.

Ponselnya diperiksa.

Pesan terakhir dikirim kurang dari lima menit sebelumnya.

Buku ditemukan. Sarah Wijaya di lokasi.

Pesan itu dikirim kepada kontak bernama S.

Aku tahu kami tidak punya banyak waktu.

“Adrian, kirim tim ke hotel.”

Aku menoleh kepada Arman.

“Pak, perjalanan kita berhenti di sini. Anda boleh pulang.”

Arman menggeleng.

“Tidak.”

Aku menatapnya heran.

“Ibu tadi mau pergi ke pernikahan, kan?”

Aku tidak menjawab.

“Kalau tempatnya masih satu arah, saya antar.”

“Pak Arman, ini bisa berbahaya.”

Ia tersenyum kecil.

“Tadi Ibu berdiri di depan polisi untuk saya. Sekarang biarkan saya mengantar Ibu sampai tujuan.”

Aku menatap pria yang beberapa menit sebelumnya gemetar karena takut kehilangan penghasilan hariannya.

Kini tangannya sudah tidak gemetar.

Aku masuk kembali ke taksi.

“Hotel Santika.”

Arman mengangguk.

Kami melaju dengan dua kendaraan dinas mengikuti dari belakang.

Ketika tiba, pesta pernikahan sudah berlangsung.

Musik terdengar dari ballroom.

Aku masuk masih mengenakan gaun merah yang sama.

Dimas melihatku dari kejauhan dan langsung menghampiri.

“Kak, apa yang terjadi?”

Sebelum sempat kujawab, Pak Surya muncul.

Pria berusia sekitar enam puluh tahun itu tersenyum tenang.

“Kapten Sarah akhirnya datang.”

Aku berhenti.

Aku belum memperkenalkan diriku sebagai kapten kepadanya.

Selama ini keluarga calon istri Dimas hanya tahu aku bekerja sebagai pegawai negeri di luar kota.

“Kok Bapak tahu pangkat saya?”

Senyumnya menghilang.

Beberapa petugas berpakaian sipil mulai masuk melalui pintu samping.

Pak Surya melihat mereka.

Ia langsung memahami situasinya.

“Sarah, jangan rusak hari bahagia adikmu.”

“Kalau memang tidak ada yang disembunyikan, hari ini tidak akan rusak.”

Aku menunjukkan foto buku catatan.

“Kenal A17?”

Wajahnya berubah.

Calon istri Dimas, Alya, berdiri beberapa langkah di belakang ayahnya.

“Ayah?”

Pak Surya tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Rekening perusahaan Bapak menerima setoran dari sebelas titik pemeriksaan ilegal. Kami akan memeriksa seluruh transaksi.”

Dimas menatap calon mertuanya dengan tidak percaya.

“Pak Surya?”

Pak Surya tertawa kecil.

“Kalian pikir dunia berjalan hanya dengan aturan tertulis?”

Ia menatapku.

“Semua orang mendapatkan bagian.”

“Tidak semua.”

“Kamu naif.”

“Dan Bapak ditahan.”

Dua petugas maju.

Namun sebelum mereka menyentuhnya, Alya tiba-tiba berkata,

“Tunggu.”

Semua orang menoleh.

Tangannya gemetar saat membuka tas kecilnya.

Ia mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Aku yang mengirim laporan anonim enam bulan lalu.”

Aku membeku.

Informan dalam penyelidikan A17.

Orang yang kemudian menarik keterangannya.

“Alya?”

Air matanya jatuh.

“Ayah tahu aku mengambil salinan pembukuan perusahaan. Dia mengancam akan menghancurkan Dimas kalau aku meneruskan laporan.”

Dimas memandang perempuan yang beberapa menit lagi seharusnya menjadi istrinya.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena aku takut.”

Pak Surya berteriak, “Alya, diam!”

Alya justru berjalan ke arahku.

“Semua transaksi ada di sini. Nama petugas, rekening, perusahaan yang dipakai untuk mencuci uang, semuanya.”

Ia menyerahkan flashdisk itu.

Pak Surya mencoba merebutnya.

Petugas langsung menahannya.

Ballroom menjadi sunyi.

Alya menangis.

“Aku tidak mau memulai pernikahanku dengan membawa kebohongan keluarga.”

Dimas mendekatinya.

Aku mengira ia akan membatalkan semuanya.

Sebaliknya, adikku menggenggam tangan Alya.

“Kita tidak memilih keluarga tempat kita dilahirkan.”

Alya menatapnya.

“Tapi kita bisa memilih menjadi orang seperti apa setelah mengetahui kebenaran.”

Pak Surya dibawa keluar.

Penyelidikan yang berlangsung setelah hari itu jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan. Sejumlah petugas diperiksa. Beberapa pejabat dicopot. Rekening perusahaan dibekukan. Bukti dari Alya membuka aliran uang yang selama bertahun-tahun tidak pernah terlihat.

Tomi akhirnya menjadi saksi yang membantu membongkar jaringan tersebut.

Namun ada satu orang yang hampir terlupakan.

Dua minggu kemudian, aku kembali melewati jalan tempat semuanya dimulai.

Pos pemeriksaan itu sudah kosong.

Aku melihat sebuah taksi berhenti di seberang jalan.

Arman turun sambil membawa dua gelas kopi.

“Kapten.”

Aku tersenyum.

“Sekarang sudah tahu pangkat saya?”

Ia tertawa.

Ia menyerahkan satu gelas kepadaku.

“Gratis. Jangan ditilang.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya sejak kasus itu dimulai.

Kemudian Arman mengeluarkan sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Surat dari para sopir.”

Di dalamnya terdapat puluhan tanda tangan dan satu kalimat sederhana.

Terima kasih karena hari itu Ibu percaya kepada seorang sopir sebelum percaya kepada seragam.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Selama bertahun-tahun aku berpikir tugas seorang polisi adalah membuat masyarakat percaya kepada institusinya.

Hari itu aku memahami sesuatu yang lebih sulit.

Seragam tidak otomatis membuat seseorang pantas dipercaya.

Pangkat juga tidak.

Kepercayaan lahir ketika orang yang memiliki kekuasaan memilih untuk tidak menyalahgunakannya.

Aku menatap jalan tempat Arman pernah diperas.

Kendaraan kini melintas tanpa dihentikan.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tangan yang meminta uang.

Hanya lalu lintas sore Jakarta yang padat seperti biasa.

Arman masuk kembali ke taksinya.

Sebelum pergi, ia menurunkan kaca.

“Kapten, kalau suatu hari naik taksi saya lagi, saya kasih diskon.”

“Berapa?”

“Lima persen.”

“Cuma lima?”

Arman tertawa.

“Kalau terlalu banyak, nanti saya bangkrut.”

Taksinya perlahan menghilang di antara kendaraan.

Aku masih memegang surat para sopir.

Kasus besar itu memang dibongkar oleh penyelidikan, rekening bank, buku catatan, dan sebuah flashdisk.

Namun semuanya bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Seorang sopir taksi yang ketakutan akhirnya berani bercerita.

Dan seorang penumpang yang seharusnya hanya pulang untuk menghadiri pernikahan memilih untuk mendengarkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang