Senin pagi setelah libur Tahun Baru, aku datang ke kantor dengan satu tujuan yang menurutku sangat masuk akal.
Mencium Arman Pratama sekali lagi.
Bukan karena aku menyukainya.
Tentu saja bukan.
Aku hanya ingin mengambil kembali keberuntunganku.

Setelah tiga hari mengalami rangkaian bencana mulai dari antrean sial, bola tenis menghantam dahi, sampai robot penyedot debu menyebarkan kotoran Bongo ke seluruh apartemen, aku sudah tidak punya ruang untuk bersikap rasional.
Begitu pintu lift terbuka di lantai dua puluh tiga, aku langsung mencari Arman.
Mejanya kosong.
Aku berjalan ke pantry.
Kosong.
Ruang rapat.
Kosong.
Akhirnya aku menemukan Dimas dari tim pemasaran sedang menuang kopi.
“Arman mana?”
Dimas menoleh. “Belum datang.”
Aku melihat jam.
Pukul delapan lewat dua puluh.
Aku hampir tersenyum.
Arman terlambat.
Selama dua tahun bekerja dengannya, pria itu bahkan datang lebih cepat daripada petugas kebersihan.
Berarti teoriku benar.
Dia juga terkena dampaknya.
“Kenapa senyum-senyum?” tanya Dimas.
“Tidak apa-apa.”
Tepat pukul delapan tiga puluh, pintu lift terbuka.
Arman keluar dengan setelan abu-abu rapi, rambut tertata sempurna, dan ekspresi setenang orang yang hidupnya tidak pernah disentuh kesialan.
Di belakangnya berjalan seorang perempuan cantik membawa map.
Direktur kami, Pak Hendra, menyambut mereka.
“Selamat, Man. Akhirnya deal juga.”
Langkahku berhenti.
Deal?
Arman melihatku.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Aku langsung merasa firasat buruk.
Ternyata selama liburan dia berhasil mendapatkan kontrak dengan perusahaan properti besar yang selama enam bulan terakhir sulit ditembus tim kami.
Nilainya hampir tiga kali lipat dari klien terbesar tahun lalu.
Aku menatap Arman dari kejauhan.
Jadi bukan hanya keberuntunganku yang dia ambil.
Dia menggunakannya untuk memperkaya diri.
Kurang ajar.
Saat dia melewatiku, aku berbisik, “Kita perlu bicara.”
“Boleh.”
“Sekarang.”
“Aku ada rapat.”
“Lima menit.”
Dia menatapku.
“Mau menciumku lagi?”
Aku tersedak ludah sendiri.
Dua staf yang lewat menoleh.
“Jangan bicara sembarangan!”
Arman berjalan pergi sambil menahan senyum.
Aku mengejarnya sampai ruang arsip kecil di belakang kantor.
Begitu pintu tertutup, aku berdiri di depannya.
“Kembalikan.”
“Apa?”
“Keberuntunganku.”
Dia terdiam dua detik.
Lalu tertawa.
Benar-benar tertawa.
Aku belum pernah melihat Arman tertawa seperti itu. Biasanya pria ini hanya tersenyum tipis seolah penggunaan otot wajah dikenai pajak.
“Lucu?”
“Lumayan.”
“Sejak kamu menciumku balik, hidupku kacau.”
“Jadi?”
“Aku perlu mengambilnya kembali.”
Arman menyandarkan tubuh ke lemari arsip.
“Bagaimana caranya?”
Aku mendadak diam.
Dia tahu.
Aku tahu dia tahu.
Dan yang paling menyebalkan, dia sengaja ingin mendengarnya langsung dariku.
Aku mengangkat dagu.
“Aku harus mencium kamu.”
Arman mengangguk pelan.
“Silakan.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Katanya mau menciumku.”
Dia bahkan sedikit membungkukkan tubuh.
“Silakan.”
Kenapa sekarang justru aku yang gugup?
Malam Tahun Baru aku bisa melakukannya karena marah dan impulsif. Sekarang, ketika pria itu berdiri dengan tenang di depanku dan menunggu, mendadak bibirnya terlihat terlalu dekat.
Aku menarik napas.
Demi peringkat.
Demi harga diri.
Demi hoodie hitamku yang penuh serpihan tisu.
Aku meraih dasinya.
Namun sebelum sempat menariknya, pintu terbuka.
Pak Hendra berdiri di sana.
Tanganku masih memegang dasi Arman.
Arman berdiri sangat dekat denganku.
Keheningan berlangsung tiga detik.
Pak Hendra menutup pintu kembali.
“Maaf.”
“Pak!”
Aku langsung keluar.
Hari itu rumor menyebar lebih cepat daripada laporan penjualan bulanan.
Menjelang makan siang, dua orang sudah bertanya kapan aku dan Arman mulai pacaran.
Menjelang sore, jumlahnya menjadi tujuh.
Nasib burukku belum selesai.
Saat presentasi, laptopku mendadak memperbarui sistem.
Ketika akhirnya menyala, file presentasiku rusak.
Aku terpaksa menjelaskan strategi penjualan tanpa slide selama dua puluh menit.
Anehnya, klien justru menyukainya.
Mereka bilang presentasiku terasa lebih spontan dan meyakinkan.
Aku pulang dengan perasaan aneh.
Kesialan pertama justru menghasilkan sesuatu yang baik.
Besoknya lebih aneh lagi.
Aku terlambat karena ban mobil bocor.
Karena itu aku tidak sempat ikut lift bersama beberapa rekan.
Lima menit kemudian lift tersebut mengalami gangguan dan berhenti hampir setengah jam di antara dua lantai.
Hari berikutnya, kopi tumpah ke bajuku tepat sebelum pertemuan penting.
Aku terpaksa membeli kemeja murah di toko dekat kantor.
Di sana aku bertemu direktur sebuah perusahaan teknologi yang pernah gagal kutemui selama tiga bulan.
Percakapan spontan selama sepuluh menit berakhir dengan jadwal pertemuan resmi.
Aku mulai bingung.
Kesialanku seperti selalu membawa sesuatu di belakangnya.
Sementara Arman semakin menyebalkan.
Dia mendapatkan dua klien baru.
Presentasinya dipuji direksi.
Bahkan mesin kopi yang selalu rusak kalau kugunakan mendadak berfungsi sempurna ketika dia menekan tombol.
Jumat sore, kesabaranku habis.
Aku menyeretnya ke tangga darurat.
“Kali ini tidak ada yang akan mengganggu.”
Arman melipat tangan.
“Kamu masih percaya soal keberuntungan?”
“Diam.”
Aku mendekat.
Dia tidak bergerak.
Aku menatap bibirnya.
Jantungku mulai berdetak tidak masuk akal.
“Kenapa?” tanyanya.
“Aku sedang mengumpulkan emosi kuat.”
“Kamu bisa marah padaku.”
“Aku memang marah.”
“Kelihatannya lebih seperti gugup.”
Aku langsung menarik kerah kemejanya.
Namun sekali lagi, sebelum bibir kami bertemu, ponselnya berbunyi.
Arman melihat layar.
Ekspresinya berubah.
“Aku harus pergi.”
“Sekarang?”
“Ibu masuk rumah sakit.”
Semua kekesalanku hilang.
Aku melepaskan kerahnya.
“Aku antar.”
“Tidak perlu.”
“Mobilmu dipakai servis, kan?”
Dia menatapku.
Aku tahu karena pagi tadi mendengar dia bicara dengan bengkel.
Dua puluh menit kemudian kami sudah berada di tengah kemacetan Jakarta menuju rumah sakit di kawasan Kuningan.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Arman tidak tenang.
Tangannya berkali-kali membuka dan menutup layar ponsel.
“Ibumu kenapa?”
“Pingsan di rumah.”
Aku tidak bertanya lagi.
Setibanya di rumah sakit, kami berlari menuju IGD.
Untungnya kondisi ibunya tidak seburuk yang kami takutkan. Tekanan darahnya turun drastis karena kelelahan dan kurang makan. Dokter meminta observasi semalam.
Aku berniat pulang.
Namun ketika melihat Arman duduk sendirian di lorong rumah sakit, aku tidak tega.
Aku membelikannya kopi.
“Terima kasih.”
Aku duduk di sampingnya.
Beberapa menit kami diam.
Lalu dia berkata, “Ayah meninggal enam tahun lalu.”
Aku menoleh.
“Ibu tinggal sendiri. Sudah berkali-kali kuminta pindah ke apartemen dekat tempatku, tapi dia keras kepala.”
Aku tersenyum kecil.
“Sekarang aku tahu sifat keras kepalamu dari siapa.”
Arman tertawa pelan.
Itulah pertama kalinya kami berbicara tanpa membahas target, klien, atau siapa yang lebih unggul.
Aku baru tahu Arman membayar kuliah adiknya sejak ayahnya meninggal.
Aku juga baru tahu dia pernah hampir berhenti kuliah karena kondisi ekonomi keluarganya.
Dan entah kenapa aku akhirnya menceritakan alasan sebenarnya kenapa aku sangat membenci peringkat dua.
Sejak kecil, ayahku selalu membandingkanku dengan kakakku.
Nilai sembilan puluh delapan dianggap kurang karena kakakku mendapat seratus.
Juara dua dianggap gagal karena bukan juara satu.
Bahkan setelah dewasa, aku masih mengejar kemenangan seperti anak kecil yang berharap suatu hari seseorang berkata bahwa aku sudah cukup baik.
Arman mendengarkan tanpa menyela.
Kemudian dia berkata pelan, “Kamu tahu kenapa aku selalu berusaha mengalahkanmu?”
Aku menoleh.
“Karena kamu menyebalkan?”
“Karena kamu bagus.”
Aku diam.
“Kalau lawanku orang biasa, aku mungkin tidak akan bekerja sekeras itu.”
Dia memandangku.
“Setiap kamu mendapatkan klien, aku merasa harus belajar lebih banyak. Setiap presentasimu bagus, aku memperbaiki presentasiku. Kamu pikir aku menikmati menang nol koma lima persen?”
“Bukankah kamu menikmatinya?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena setelah pengumuman peringkat, kamu tidak bicara denganku tiga hari.”
Aku berkedip.
“Apa hubungannya?”
Arman tidak menjawab.
Saat itulah sesuatu mulai terasa berbeda.
Aku pulang hampir tengah malam.
Untuk pertama kalinya sejak Tahun Baru, aku tidak memikirkan keberuntungan.
Senin berikutnya, kantor mendadak gempar.
Perusahaan mengumumkan kompetisi internal untuk memperebutkan proyek nasional terbesar tahun itu.
Aku dan Arman otomatis menjadi kandidat utama.
Pemenangnya akan memimpin divisi baru.
Ini seharusnya menjadi perang yang kutunggu.
Anehnya, aku justru tidak merasa senang.
Selama dua minggu berikutnya kami bersaing habis-habisan.
Sampai malam sebelum presentasi final, aku menerima surel anonim.
Lampirannya berisi proposal Arman.
Lengkap.
Strategi harga.
Analisis klien.
Bahkan kelemahan presentasinya.
Dengan dokumen itu, aku bisa menang mudah.
Tanganku berada di atas mouse cukup lama.
Setahun lalu aku mungkin akan membacanya.
Namun malam itu aku menutup surel tersebut.
Besok paginya aku menemui Arman.
“Ada orang membocorkan proposalmu.”
Wajahnya berubah.
Aku menunjukkan surel itu.
“Sudah kamu baca?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Aku menatapnya.
“Karena kalau aku menang dengan cara begitu, itu bukan kemenangan.”
Untuk beberapa saat Arman hanya menatapku.
Lalu dia tersenyum.
“Sepertinya keberuntunganmu sudah kembali.”
Aku mendengus.
Presentasi final berlangsung sengit.
Arman luar biasa.
Aku juga memberikan semua yang kupunya.
Ketika direksi mengumumkan hasilnya, tanganku dingin.
Pak Hendra berdiri di depan ruangan.
“Setelah mempertimbangkan semuanya, pimpinan memutuskan proyek ini tidak akan dipimpin satu orang.”
Aku dan Arman saling menatap.
“Kalian berdua akan menjadi co-lead.”
Aku hampir protes.
Arman lebih cepat mengangkat tangan.
“Saya setuju.”
Aku menatapnya tajam.
Dia berbisik, “Daripada kalah nol koma lima persen lagi.”
Aku menendang sepatunya di bawah meja.
Tiga bulan kemudian proyek kami menjadi salah satu kontrak terbesar dalam sejarah perusahaan.
Anehnya, sejak bekerja bersama, aku tidak lagi menghitung siapa mendapatkan pujian lebih banyak.
Kami masih bertengkar.
Masih saling mengejek.
Masih berlomba siapa yang datang lebih pagi.
Namun sekarang semuanya terasa berbeda.
Pada malam Tahun Baru berikutnya, perusahaan kembali mengadakan pesta di hotel yang sama.
Aku berdiri di balkon sambil melihat kembang api mulai memenuhi langit Jakarta.
Seseorang berdiri di sampingku.
Arman.
Dia menyerahkan segelas minuman.
“Sudah satu tahun.”
Aku mengangguk.
“Dan ternyata ramalan orang pintar itu salah.”
“Yang mana?”
“Soal mencuri keberuntungan.”
Arman tersenyum.
“Menurutku benar.”
Aku menoleh.
“Maksudmu?”
“Setelah kamu menciumku, hidupku memang berubah.”
Aku tertawa.
“Berubah lebih beruntung?”
“Tidak.”
Dia menatapku.
“Aku jadi jatuh cinta pada rival kantor yang paling menyebalkan.”
Aku kehilangan kata-kata.
Kembang api meledak di belakang gedung-gedung Jakarta.
“Sejak kapan?” tanyaku.
“Jauh sebelum malam itu.”
Aku membeku.
Arman mengeluarkan ponsel.
Dia membuka percakapan lama.
Nama kontak di bagian atas membuatku hampir menjatuhkan gelas.
Tiara.
Aku membaca pesan-pesan mereka.
Arman bertanya bagaimana cara mendekatiku.
Tiara menjawab bahwa aku terlalu kompetitif dan tidak akan sadar meski seseorang menyukaiku terang-terangan.
Lalu mataku berhenti pada satu pesan yang dikirim beberapa hari sebelum Tahun Baru.
Arman menulis, “Cari cara apa pun supaya Laras berhenti menganggapku musuh.”
Aku menatapnya.
“Orang pintar itu…”
Arman menahan tawa.
Aku langsung menghubungi Tiara.
Dia mengangkat pada dering pertama.
“Selamat Tahun Baru!”
“TIARA!”
Tawanya langsung pecah.
Ternyata tidak pernah ada orang pintar.
Semua pesan tentang perpindahan keberuntungan dibuat Tiara sendiri.
Hadiah dua belas juta yang katanya dia menangkan?
Uang bonus kantornya.
Bagas?
Dia memang menciumnya, tetapi karena mereka akhirnya resmi berpacaran setelah sepuluh tahun saling menyangkal perasaan.
Aku menutup telepon perlahan.
Kemudian menatap Arman.
“Jadi kamu terlibat?”
“Tidak semuanya.”
“Kamu tahu soal kebohongan keberuntungan?”
“Baru setelah kamu menciumku.”
“Lalu kenapa kamu mencium balik?”
Arman mendekat.
“Karena aku sudah menunggu kesempatan itu hampir setahun.”
Wajahku panas.
“Berarti semua kesialanku cuma kebetulan?”
“Sepertinya.”
Aku teringat mesin pembayaran rusak, mi terbang, bola tenis, tisu di mesin cuci, robot penyedot debu, ban bocor, kopi tumpah.
Semua hal yang selama ini kusalahkan pada Arman.
Dan mendadak aku tertawa.
Aku tertawa sampai mataku berair.
Selama bertahun-tahun aku hidup seolah keberhasilan adalah angka yang harus direbut dari orang lain. Seolah jika seseorang menang, berarti aku kalah.
Padahal mungkin keberuntungan tidak pernah berpindah lewat ciuman.
Kadang sesuatu yang terlihat seperti kesialan hanya memaksa kita mengambil jalan yang berbeda.
Dan jalan berbeda itulah yang membawa kita ke tempat yang seharusnya.
Arman mendekat sedikit.
“Jadi?”
“Jadi apa?”
“Tahun baru.”
Dia menunjuk bibirnya.
“Kamu tidak mau mencuri keberuntunganku lagi?”
Aku tersenyum.
Kali ini aku tidak menarik dasinya.
Aku hanya berdiri berjinjit dan menciumnya pelan.
Ketika kami berpisah, Arman berbisik, “Kalau menurut hukum kekekalan energi Tiara, sekarang siapa yang rugi?”
Aku melingkarkan tangan di lehernya.
“Tidak ada.”
“Kenapa?”
Karena akhirnya aku mengerti satu hal yang tidak pernah diajarkan ayahku, tidak pernah muncul dalam laporan penjualan, dan tidak bisa dihitung dengan persentase.
Tidak semua hal dalam hidup harus memiliki pemenang dan pecundang.
“Ada beberapa keberuntungan,” kataku, lalu kembali mendekat kepadanya, “yang justru bertambah kalau dibagi berdua.”
