PULANG SETELAH MEMAKAMKAN SUAMI, ANITA DITELANTARKAN KELUARGANYA HINGGA NYARIS TEWAS. KETIKA KEBENARAN TENTANG UANG 700 JUTA TERUNGKAP, PENYESALAN MEREKA SUDAH TERLAMBAT!

Pintu yang didobrak itu menghantam dinding dengan keras.

“ANITA!”

Suara itu terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

Anita mencoba membuka mata, tetapi pandangannya hanya menangkap bayangan seseorang berlari menembus ruang tamu yang gelap.

Orang itu menutup hidung dengan lengan bajunya, lalu berjongkok di samping Anita.

“Ya Tuhan… Anita! Kamu dengar saya?”

Anita mengenali suara itu.

Namun otaknya terlalu lemah untuk mempercayainya.

“Sri…?”

Perempuan yang tadi malam membantunya di Bandara Juanda menatapnya dengan wajah pucat.

“Iya, Bu. Saya Sri. Jangan tidur. Tolong jangan tidur.”

Sri menyeret tubuh Anita perlahan mendekati pintu depan yang terbuka. Dengan tangan gemetar, ia menghubungi ambulans sambil berteriak meminta bantuan tetangga.

Beberapa menit kemudian, dua warga datang dan membantu membawa Anita keluar rumah.

Udara pagi terasa menusuk wajahnya.

Anita terbatuk hebat.

Setelah itu, semuanya kembali gelap.

Saat sadar, Anita sudah berada di sebuah rumah sakit di Malang.

Langit di luar jendela sudah gelap.

Kepalanya terasa berat. Lengan kanannya dibalut. Ada selang infus di tangan kirinya.

Seorang dokter menjelaskan bahwa Anita mengalami sengatan listrik, gegar ringan akibat benturan, serta keracunan karbon monoksida dalam kadar yang cukup berbahaya.

“Kalau ditemukan tiga puluh atau empat puluh menit lebih lambat, kondisinya mungkin berbeda,” kata dokter itu.

Anita menoleh ke kursi di samping tempat tidur.

Sri tertidur di sana.

Masih mengenakan seragam kebersihan bandara.

Anita menatapnya lama.

Ketika Sri akhirnya terbangun, hal pertama yang keluar dari mulut Anita adalah pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya.

“Kenapa Mbak bisa ada di rumah saya?”

Sri tampak ragu.

“Saya menemukan dompet kecil Ibu di dekat tempat bagasi setelah Ibu pergi.”

Anita mengernyit.

“Dompet?”

“Isinya bukan uang. Ada kartu nama almarhum suami Ibu, beberapa dokumen, sama alamat rumah ini.”

Sri kemudian menjelaskan bahwa setelah menyelesaikan shift malam, ia berniat mengirimkan dompet itu melalui jasa pengiriman. Namun saat membaca alamat Malang dan menyadari keretanya pulang melewati kota tersebut, ia memutuskan mengantarkannya langsung.

“Saya pikir… Ibu baru kehilangan suami. Mungkin dokumen itu penting.”

Sri tiba sekitar pukul tujuh pagi.

Ia mengetuk pintu berkali-kali tetapi tidak ada jawaban.

Kemudian ia mendengar alarm dari dalam rumah.

Sri memanggil tetangga. Mereka mencium bau aneh dari celah pintu dan akhirnya mendobraknya.

Anita menutup wajah dengan tangan kirinya.

Air matanya jatuh.

Perempuan yang bahkan baru dikenalnya beberapa menit justru datang dari Surabaya membawa barang miliknya.

Sementara keluarganya sendiri bahkan menolak memberinya tempat tidur untuk satu malam.

“Keluarga Ibu sudah saya hubungi,” kata Sri pelan.

Anita langsung membuka mata.

“Mereka datang?”

Sri terdiam.

Jawaban itu sudah cukup.

Ternyata rumah sakit telah menelepon Heni dan Denny sejak siang.

Denny menjawab bahwa dirinya sedang menghadiri pertemuan penting.

Heni mengatakan tekanan darahnya sedang tinggi dan tidak bisa bepergian.

Tidak satu pun datang.

Anita tertawa kecil.

Kali ini tawanya tidak mengandung kemarahan.

Hanya kelelahan.

Dua hari berikutnya menjadi titik perubahan dalam hidupnya.

Selama dirawat, Anita menerima telepon dari nomor Jepang.

Penelepon itu bernama Kenji Watanabe, manajer keuangan perusahaan tempat Rian bekerja.

Ia berbicara bahasa Indonesia dengan bantuan seorang penerjemah perusahaan.

“Bu Anita, ada beberapa dokumen milik Pak Rian yang harus kami serahkan kepada Anda sebagai ahli waris.”

Anita mengira itu hanya dokumen asuransi kerja.

Namun ternyata jumlahnya jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

Rian memiliki tabungan kerja, pesangon, asuransi jiwa perusahaan, serta investasi yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia ceritakan kepada Anita secara rinci.

Setelah seluruh kewajiban pajak dan biaya administrasi dihitung, nilai yang akan diterima Anita sekitar tujuh ratus juta rupiah.

Anita sampai terdiam.

“Tujuh ratus juta?”

“Iya. Kurang lebih. Bisa sedikit berubah tergantung kurs.”

Rian selama ini hidup sederhana.

Ia jarang membeli barang mahal.

Ponselnya bahkan sudah digunakan hampir lima tahun.

Ketika Anita pernah bertanya ke mana uang lembur dan bonus tahunan Rian pergi, suaminya hanya menjawab sambil tersenyum, “Aku simpan untuk hari ketika kita benar-benar membutuhkan.”

Anita tidak pernah menyangka hari itu akan datang setelah kematiannya.

Namun ada satu hal lain yang disampaikan Kenji.

Sebelum meninggal, Rian ternyata sudah menunjuk seorang pengacara di Indonesia untuk membantu pengurusan aset.

Namanya Bima Santoso.

Dan Bima meminta bertemu Anita setelah ia keluar dari rumah sakit.

Tiga hari kemudian, Anita pulang bukan ke rumahnya yang rusak, melainkan ke sebuah hotel kecil dekat pusat kota.

Sri sempat menawarkan agar Anita tinggal di rumah kontrakannya.

Namun Anita menolak dengan halus.

“Mbak sudah menyelamatkan hidup saya. Saya nggak mungkin merepotkan lagi.”

Sri tersenyum.

“Kalau menolong orang dianggap merepotkan, mungkin dunia sudah terlalu aneh.”

Kalimat itu terus teringat oleh Anita.

Sore itu, Bima datang ke hotel.

Pengacara berusia sekitar empat puluh tahun itu membawa satu map tebal.

Ia menjelaskan seluruh aset Rian dengan rinci.

Namun sebelum pergi, Bima mengeluarkan sebuah amplop.

“Pak Rian menitipkan ini enam bulan lalu.”

Anita menatapnya.

“Untuk saya?”

Bima mengangguk.

“Dia meminta saya menyerahkannya kalau suatu hari terjadi sesuatu.”

Tangan Anita bergetar ketika membuka amplop itu.

Tulisan Rian langsung dikenalnya.

Nit,

Kalau kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak bisa pulang.

Aku tahu kamu selalu merasa bertanggung jawab pada keluargamu. Kamu selalu bilang mereka tetap keluarga meskipun sering membuatmu kecewa.

Aku tidak akan pernah memintamu membenci mereka.

Tapi aku ingin kamu berhenti mengorbankan dirimu demi orang-orang yang hanya mengingatmu ketika membutuhkan sesuatu.

Uang yang aku simpan bukan untuk membuatmu kaya.

Aku ingin uang ini membuatmu bebas.

Bebas tinggal di tempat yang aman.

Bebas mengambil keputusan tanpa takut membuat orang lain marah.

Dan kalau suatu hari kamu bertemu seseorang yang membantumu tanpa meminta apa pun, jangan lupa bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh darah.

Anita tidak mampu membaca kalimat terakhir.

Air matanya jatuh di atas kertas.

Ironisnya, pada hari yang sama kabar mengenai uang itu mulai menyebar.

Rupanya salah satu kerabat Heni bekerja di perusahaan asuransi yang terlibat dalam pengurusan klaim.

Malamnya, ponsel Anita berdering.

Denny.

Untuk pertama kalinya sejak Anita kembali ke Indonesia, kakaknya menelepon lebih dari sekali.

Anita akhirnya menjawab.

“Nit, kamu sudah keluar rumah sakit?”

“Sudah.”

“Kok nggak bilang?”

Anita hampir tertawa.

“Kamu juga nggak datang.”

Suasana di seberang langsung canggung.

Denny berdeham.

“Waktu itu situasinya memang nggak memungkinkan.”

Anita tidak menjawab.

Kemudian Denny memasuki topik sebenarnya.

“Aku dengar Rian punya asuransi besar.”

Anita menutup mata.

Cepat sekali.

“Dengar dari siapa?”

“Ya… keluarga ngomong.”

“Terus?”

“Nggak apa-apa. Aku cuma mau bilang, kalau kamu butuh bantuan mengelola uang, aku bisa bantu. Kebetulan aku punya rencana bisnis.”

Anita memandang langit-langit kamar hotel.

Tiga hari lalu ia meminta tempat tidur.

Denny mengatakan keberadaannya akan merepotkan klien.

Sekarang kakaknya tiba-tiba memiliki waktu untuk membantu mengelola uangnya.

“Berapa yang kamu butuhkan?” tanya Anita.

Denny terdiam sesaat, mungkin terkejut karena mengira adiknya tertarik.

“Kalau bisa dua ratus juta. Tapi ini investasi, Nit. Bukan minta.”

Anita tersenyum tipis.

“Aku pikir dulu.”

Keesokan paginya, Heni datang ke hotel.

Ia membawa sup ayam, buah, dan ekspresi khawatir yang baru muncul beberapa hari setelah anaknya hampir meninggal.

“Ya Allah, Anita… kenapa kamu nggak bilang kondisimu separah itu?”

Anita menatap ibunya.

“Rumah sakit menelepon Ibu.”

Heni terdiam.

“Ibu waktu itu benar-benar nggak enak badan.”

“Waktu aku minta tinggal satu malam, Ibu juga nggak bisa.”

“Kan ada arisan.”

Anita mengangguk perlahan.

Heni duduk lebih dekat.

“Kamu jangan terlalu memikirkan itu. Keluarga kadang memang salah paham.”

Kemudian, seperti yang sudah Anita duga, pembicaraan mengarah ke uang.

“Ibu dengar Rian meninggalkan uang cukup banyak.”

Anita tidak menjawab.

“Kalau memang benar, Ibu cuma mau kasih saran. Rumah Denny masih ada cicilan. Adik sepupumu juga mau masuk universitas. Kita kan keluarga. Rezeki satu orang kadang memang jalan untuk membantu yang lain.”

Anita menatap perempuan yang melahirkannya.

Ada masa ketika kalimat seperti itu pasti membuatnya merasa bersalah.

Namun setelah berbaring sendirian di lantai rumah sambil mendengar alarm karbon monoksida, sesuatu dalam dirinya telah berubah.

“Bu.”

“Iya?”

“Kalau waktu itu aku meninggal di rumah, apa Ibu akan menyesal?”

Wajah Heni berubah.

“Jangan ngomong sembarangan.”

“Aku serius.”

Heni tidak menjawab.

Anita melanjutkan dengan suara tenang.

“Aku minta tempat tinggal satu malam. Bukan uang. Bukan mobil. Bukan biaya rumah sakit. Cuma satu tempat tidur.”

“Anita…”

“Denny bilang aku bakal merepotkan. Ibu bilang ada arisan.”

Heni mulai menangis.

Namun Anita tidak merasa lega melihatnya.

Ia hanya merasa sangat lelah.

“Sekarang kalian datang karena dengar ada tujuh ratus juta.”

Heni terkejut.

Jadi jumlah itu memang benar.

Ekspresi tersebut tidak luput dari perhatian Anita.

“Uang itu milikmu,” kata Heni cepat. “Ibu nggak bilang semuanya harus dibagi.”

“Tapi Ibu datang setelah tahu uangnya.”

Tidak ada lagi yang bisa dikatakan.

Beberapa hari kemudian, Anita mengundang Heni dan Denny ke sebuah kantor notaris.

Mereka datang dengan cepat.

Denny bahkan mengenakan kemeja terbaiknya.

Mungkin mereka mengira Anita akhirnya akan membicarakan pembagian uang.

Bima juga hadir.

Anita duduk di ujung meja.

“Aku mau kalian tahu keputusan yang sudah aku buat.”

Denny langsung mencondongkan tubuh.

“Aku akan menjual rumah lama.”

Heni mengangguk.

“Itu bagus. Rumahnya memang sudah banyak masalah.”

“Aku juga akan menggunakan sebagian uang Rian untuk membeli apartemen kecil.”

“Bagus,” kata Denny cepat.

Anita melanjutkan.

“Seratus juta akan aku simpan sebagai dana darurat.”

Denny mulai menghitung dalam kepalanya.

“Dua ratus juta akan aku investasikan.”

Ia semakin terlihat antusias.

“Lalu sisanya?”

Anita menatap kakaknya.

“Sebagian akan digunakan untuk membangun yayasan kecil.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Yayasan?” tanya Heni.

Anita mengangguk.

“Untuk membantu keluarga pekerja migran Indonesia yang meninggal di luar negeri dan keluarganya kesulitan mengurus pemulangan atau administrasi.”

Denny mengerutkan kening.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Kenapa uang sebanyak itu diberikan ke orang asing?”

Anita menahan napas.

Kemudian ia tersenyum.

“Karena ketika aku berada di posisi paling buruk dalam hidupku, orang asing yang menolongku.”

Denny langsung berdiri.

“Jadi keluarga sendiri nggak dapat apa-apa?”

Anita menatapnya tanpa emosi.

“Kalian mendapat kesempatan.”

“Apa maksudmu?”

“Kesempatan untuk hadir ketika aku membutuhkan kalian.”

Denny terdiam.

“Kalian memilih tidak datang.”

Heni mulai menangis.

“Anita, Ibu salah.”

“Aku tahu.”

“Ibu benar-benar menyesal.”

“Aku juga tahu.”

“Kalau begitu kenapa kamu menghukum kami?”

Anita menggeleng.

“Aku nggak menghukum siapa pun. Aku cuma berhenti menghukum diriku sendiri.”

Ruangan kembali sunyi.

Sebelum meninggalkan kantor, Anita menyerahkan sebuah amplop kepada Heni.

Di dalamnya bukan uang.

Melainkan fotokopi surat Rian.

Heni membacanya sambil menangis.

Denny berdiri di belakangnya dengan wajah kaku.

Beberapa bulan berlalu.

Yayasan kecil itu benar-benar didirikan.

Namanya Rumah Pulang Rian.

Anita tidak pernah menyangka program pertamanya justru membantu seorang perempuan asal Kediri yang suaminya meninggal dalam kecelakaan kerja di Korea Selatan.

Anita mengurus tiket, dokumen, dan pendampingan hukum.

Saat perempuan itu tiba di bandara bersama jenazah suaminya, Anita datang menjemput sendiri.

Di sebelahnya berdiri Sri.

Anita telah menawarkan Sri pekerjaan sebagai koordinator pendamping keluarga di yayasan tersebut.

Awalnya Sri menolak.

“Saya cuma petugas kebersihan, Bu.”

Anita langsung menjawab, “Justru orang seperti Mbak yang saya cari. Orang yang tahu caranya melihat manusia sebelum melihat statusnya.”

Sri akhirnya menerima.

Suatu sore, sekitar setahun setelah kematian Rian, Anita kembali ke Bandara Juanda.

Ia berdiri di area kedatangan yang sama tempat kopernya dulu terbuka dan pakaian Rian berhamburan.

Sri berjalan di sampingnya.

“Kadang saya masih mikir,” kata Sri, “kalau waktu itu saya nggak menemukan dompet Ibu, bagaimana?”

Anita tersenyum kecil.

“Mungkin hidup saya selesai pagi itu.”

Sri menggeleng.

“Jangan ngomong begitu.”

Anita menatap orang-orang yang baru keluar dari pintu kedatangan.

Ada yang berpelukan.

Ada yang menangis.

Ada yang disambut seluruh keluarga.

Ada pula yang berjalan sendirian sambil menarik koper.

Ponsel Anita bergetar.

Pesan dari Heni.

Ibu tahu mungkin kamu belum bisa memaafkan semuanya. Ibu cuma mau bilang Ibu bangga melihat apa yang kamu lakukan.

Beberapa detik kemudian muncul pesan lain dari Denny.

Nit, kalau suatu saat kamu butuh bantuan di yayasan, bilang saja. Aku tidak meminta apa pun.

Anita membaca kedua pesan itu.

Ia tidak menghapusnya.

Namun juga tidak langsung membalas.

Ia memasukkan ponsel ke tas.

Sri menatapnya.

“Keluarga?”

Anita mengangguk.

“Mau balas?”

“Nanti.”

Sri tersenyum.

Mereka kemudian berjalan menuju seorang perempuan yang berdiri sendirian dekat pintu keluar sambil menangis di samping dua koper besar.

Anita mendekatinya perlahan.

“Ibu Sari?”

Perempuan itu mengangkat kepala.

“Iya.”

Anita mengulurkan tangan.

“Saya Anita, dari Rumah Pulang Rian. Kami datang menjemput Ibu.”

Perempuan itu langsung menangis lebih keras.

Untuk sesaat, Anita melihat dirinya sendiri setahun lalu.

Lelah.

Kehilangan.

Takut.

Dan merasa tidak memiliki siapa pun.

Anita memeluk perempuan itu.

Di belakang mereka, Sri mengambil salah satu koper.

Saat berjalan keluar dari bandara, Anita akhirnya memahami sesuatu yang dulu ingin disampaikan Rian dalam surat terakhirnya.

Tujuh ratus juta rupiah memang telah mengubah hidupnya.

Tetapi bukan karena jumlahnya.

Uang itu hanya memberinya kesempatan untuk melihat siapa yang datang ketika dirinya tidak memiliki apa-apa, dan siapa yang baru datang setelah mengira dirinya memiliki segalanya.

Anita akhirnya memaafkan keluarganya.

Tetapi ia tidak pernah kembali menjadi perempuan yang sama.

Karena memaafkan tidak selalu berarti membuka kembali pintu yang pernah membuat kita hampir mati di belakangnya.

Kadang memaafkan berarti menutup pintu itu dengan tenang, lalu menggunakan tangan yang sama untuk membuka pintu bagi orang lain yang sedang membutuhkan tempat untuk pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang