SUAMI TEGA MENINGGALKAN ISTRINYA YANG CEDERA DI TENGAH HUJAN DERAS… NAMUN WANITA ITU MENGUBAH PESTA ULANG TAHUN SUAMINYA MENJADI “PENGADILAN” TERBUKA YANG TAK AKAN PERNAH DILUPAKAN!

Maya tidak membatalkan satu pun undangan.

Justru pukul tujuh pagi, dengan tangan kanan masih terbungkus gips, ia menghubungi koordinator katering yang dulu pernah bekerja bersamanya.

“Bu Maya? Ya ampun, saya dengar Ibu masuk rumah sakit.”

“Saya baik-baik saja, Mbak Sari. Saya butuh bantuan untuk malam ini.”

“Tentu. Berapa orang?”

“Sekitar empat puluh. Semua hidangan yang sudah saya siapkan tetap digunakan. Saya hanya butuh tim untuk menyelesaikan dan menyajikannya.”

Sari terdiam sejenak.

“Bukankah Pak Rendy bilang semuanya akan Ibu kerjakan sendiri?”

Maya menatap tangannya.

“Rencana berubah.”

Dua jam kemudian, empat orang dari tim Sari tiba di rumah.

Rendy baru turun dari lantai atas ketika melihat mereka memenuhi dapur.

Wajahnya langsung mengeras.

“Ini apa?”

“Saya tidak mungkin memasak untuk empat puluh orang dengan tangan seperti ini.”

Rendy mendekat dan berbisik tajam agar staf katering tidak mendengar.

“Kamu tahu berapa biaya tambahan yang harus saya keluarkan?”

Maya menatapnya tanpa ekspresi.

“Tidak perlu. Saya yang bayar.”

Rendy mendengus.

“Pakai uang saya juga, kan?”

Untuk pertama kalinya, Maya hampir tertawa.

Rendy benar-benar tidak tahu.

Selama sepuluh tahun, laki-laki itu mengira Maya sudah tidak memiliki apa-apa sejak menutup bisnis kateringnya.

Padahal Maya tidak pernah menjual seluruh aset perusahaan. Sebagian tabungan, investasi, dan satu ruko kecil di Jakarta Selatan masih tercatat atas namanya sendiri.

Rendy hanya tidak pernah bertanya karena menurutnya segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan dirinya tidak penting.

“Anggap saja begitu,” jawab Maya.

Rendy pergi sambil menggelengkan kepala.

Menjelang sore, rumah mereka berubah menjadi tempat pesta yang sempurna.

Lampu taman dinyalakan.

Rangkaian bunga putih memenuhi ruang makan.

Meja panjang dihiasi lilin dan peralatan makan berwarna perak.

Di sudut ruang keluarga berdiri layar besar yang biasanya digunakan Rendy untuk presentasi bisnis.

Rendy sempat bertanya mengapa layar itu dinyalakan.

“Untuk video ulang tahun,” jawab Maya.

Wajah Rendy langsung melunak.

“Bagus. Kamu ternyata masih tahu cara membuat kejutan.”

Maya tersenyum tipis.

“Semoga kamu menyukainya.”

Pukul tujuh malam, para tamu mulai berdatangan.

Rendy mengenakan setelan jas biru gelap. Ia berdiri di dekat pintu sambil menyambut setiap tamu dengan senyum lebar.

Tidak seorang pun yang melihatnya malam itu akan membayangkan bahwa kurang dari dua puluh empat jam sebelumnya, laki-laki tersebut meninggalkan istrinya yang cedera di bawah hujan.

Ketika seorang kolega bertanya tentang tangan Maya, Rendy bahkan menjawab lebih dulu.

“Maya terpeleset kemarin. Dia memang kadang kurang hati-hati.”

Maya menoleh.

Rendy masih tersenyum.

“Untung tidak parah.”

Maya merasakan sesuatu di dadanya seperti hendak meledak.

Namun ia menahannya.

Belum waktunya.

Sekitar pukul delapan, Arman Wijaya, direktur utama perusahaan tempat Rendy bekerja, tiba bersama istrinya.

Rendy langsung menyambutnya dengan antusias.

“Pak Arman! Terima kasih sudah datang.”

Arman menjabat tangannya.

“Mana mungkin saya melewatkan ulang tahun direktur regional baru kita?”

Beberapa orang tertawa.

Rendy tampak semakin percaya diri.

Ia kemudian merangkul pinggang Maya.

Sentuhan itu membuat tubuh Maya menegang.

“Semua ini Maya yang siapkan,” katanya bangga. “Dia memang luar biasa kalau soal mengurus rumah.”

Arman tersenyum kepada Maya.

“Pak Rendy beruntung sekali.”

Maya memandang suaminya.

“Iya, Pak. Selama ini memang sangat beruntung.”

Rendy tidak menangkap nada dalam kalimat itu.

Makan malam berlangsung meriah.

Para tamu memuji hidangan.

Rendy berkali-kali mengatakan bahwa resep-resep tersebut adalah hasil kreasi istrinya.

Setiap pujian yang diberikan kepada Maya justru digunakan Rendy untuk meninggikan dirinya sendiri.

“Makanya saya selalu bilang, di belakang laki-laki sukses harus ada istri yang tahu tugasnya.”

Beberapa tamu tersenyum canggung.

Maya tetap diam.

Pukul sembilan lewat lima belas menit, Arman berdiri sambil membawa segelas minuman.

Ruangan perlahan tenang.

“Sebelum kita memotong kue, saya ingin mengatakan beberapa kata.”

Rendy langsung berdiri lebih tegak.

Arman berbicara tentang perjalanan karier Rendy selama hampir dua belas tahun.

Tentang target penjualan.

Tentang ekspansi wilayah.

Tentang keberhasilan memenangkan sejumlah proyek besar.

Kemudian ia mengangkat gelas.

“Mulai bulan depan, Rendy resmi memegang tanggung jawab penuh sebagai Direktur Regional Jawa dan Bali.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Rendy tersenyum lebar.

Ia menoleh kepada Maya, seolah menunggu istrinya menunjukkan kebanggaan.

Maya ikut bertepuk tangan.

Hanya tiga kali.

Lalu bel rumah berbunyi.

Rendy mengernyit.

“Kamu mengundang siapa lagi?”

Maya meletakkan gelasnya.

“Tamu terakhir.”

Seorang staf membuka pintu.

Rina masuk dengan pakaian formal, membawa sebuah map cokelat tebal.

Rendy langsung mengenalinya.

Enam bulan sebelumnya, ia pernah bertemu Rina dalam sebuah acara komunitas bisnis.

“Bu Rina?”

Rina berjalan mendekat.

“Selamat malam, Pak Rendy.”

“Ada keperluan apa?”

Rina menyerahkan sebuah amplop.

“Saya datang mewakili klien saya.”

“Klien?”

Rendy menatap amplop itu.

“Siapa?”

“Maya Prameswari.”

Ruangan mendadak sunyi.

Rendy perlahan menoleh kepada istrinya.

“Apa-apaan ini?”

“Buka saja.”

Rendy merobek amplop.

Matanya bergerak cepat membaca halaman pertama.

Wajahnya berubah.

“Gugatan perceraian?”

Beberapa tamu saling berpandangan.

Ibu Rendy yang duduk tidak jauh dari meja makan langsung berdiri.

“Maya! Kamu sudah gila?”

Rendy membanting dokumen itu ke meja.

“Kamu sengaja melakukan ini malam ini?”

Maya berdiri.

“Ya.”

“Kamu mau mempermalukan saya?”

“Tidak.”

Maya berjalan menuju layar besar.

“Saya hanya tidak mau lagi membantu kamu menyembunyikan kenyataan.”

Rendy mengikuti langkahnya.

“Maya, hentikan.”

Maya mengambil remote.

Layar menyala.

Rekaman kamera pengawas mulai diputar.

Suara hujan terdengar dari speaker.

Semua orang melihat Maya berdiri di teras.

Kemudian Rendy muncul.

Perdebatan singkat.

Tangan Rendy mencengkeram bahu Maya.

Dorongan.

Tubuh Maya jatuh.

Suara benturan terdengar jelas.

Beberapa perempuan di ruangan itu refleks menutup mulut.

Namun bagian yang membuat suasana benar-benar membeku terjadi beberapa detik kemudian.

Rendy terlihat berdiri di ambang pintu.

Ia menatap Maya yang tergeletak di bawah hujan.

Kemudian masuk.

Pintu ditutup.

Rendy pucat.

“Matikan!”

Ia mencoba merebut remote.

Maya mundur.

Arman berdiri di antara mereka.

“Jangan sentuh dia.”

Kalimat itu sederhana.

Namun Rendy langsung berhenti.

“Pak Arman, ini masalah rumah tangga saya.”

Arman menatap layar.

“Kalau begitu selesaikan tanpa menyentuh istri Anda.”

Rendy menoleh kepada para tamu.

“Video itu tidak menunjukkan semuanya. Kami bertengkar. Dia terpeleset.”

Pak Hendra yang sejak tadi duduk di bagian belakang ruangan tiba-tiba berdiri.

“Saya yang menemukan Bu Maya.”

Rendy membeku.

Pak Hendra melanjutkan.

“Dia tidak bisa bangun. Tangannya patah. Saya yang menelepon ambulans.”

Suasana semakin berat.

Namun Maya belum selesai.

Ia mengganti tampilan layar.

Sebuah invoice muncul.

Logo di bagian atas bertuliskan Maya Prameswari Catering.

Rendy seketika kehilangan warna di wajahnya.

Arman memperhatikan layar.

“Apa ini?”

Maya menarik napas.

“Perusahaan katering saya berhenti beroperasi aktif hampir sembilan tahun lalu. Tetapi badan usahanya tidak pernah saya tutup.”

Ia menampilkan invoice berikutnya.

“Enam bulan lalu saya menemukan transaksi yang menggunakan identitas perusahaan saya.”

Nominalnya Rp186.500.000.

Kemudian invoice lain.

Rp247.000.000.

Rp312.000.000.

Puluhan transaksi memenuhi layar.

“Total yang berhasil saya identifikasi sampai pagi tadi adalah dua miliar sembilan ratus delapan puluh juta rupiah.”

Arman tidak lagi melihat Maya.

Tatapannya tertuju kepada Rendy.

“Transaksi apa ini?”

Rendy tertawa gugup.

“Saya tidak tahu. Mungkin kesalahan administrasi.”

Maya membuka dokumen lain.

“Semua invoice dikirim kepada vendor atau proyek yang berkaitan dengan divisi Rendy.”

Dokumen berikutnya menunjukkan nomor rekening penerima.

“Pembayaran kemudian dialihkan melalui dua perusahaan perantara.”

Rina menyerahkan salinan dokumen kepada Arman.

Maya melanjutkan.

“Salah satu perusahaan itu dimiliki oleh seseorang bernama Dimas Santoso.”

Arman mengernyit.

“Saya kenal nama itu.”

“Tentu.”

Maya menatap Rendy.

“Dia sepupu Rendy.”

Ruang makan mendadak riuh.

Rendy maju satu langkah.

“Kamu mencuri dokumen perusahaan saya?”

“Tidak.”

Maya menatapnya lurus.

“Kamu menggunakan identitas perusahaan saya. Saya memeriksa transaksi perusahaan milik saya sendiri.”

Rendy membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Arman membaca beberapa lembar dokumen.

Semakin lama, wajahnya semakin keras.

Kemudian ia mengambil ponsel.

“Pak Arman,” kata Rendy cepat. “Kita bisa bicara di kantor besok.”

Arman tidak menjawab.

Ia menelepon seseorang.

“Budi, bekukan sementara seluruh akses sistem atas nama Rendy Pratama. Malam ini juga.”

Rendy terpaku.

“Pak…”

“Besok pukul delapan, audit internal mulai.”

“Pak Arman, saya baru saja dipromosikan.”

Arman menatapnya dingin.

“Itu diumumkan sebelum saya melihat dokumen ini.”

Kalimat tersebut menghantam lebih keras daripada bentakan.

Rendy kemudian menoleh kepada Maya.

“Kamu menghancurkan hidup saya.”

Maya menatapnya beberapa detik.

Anehnya, ia tidak merasakan kemenangan.

Yang ada hanya kelelahan.

“Tidak, Ren.”

Suaranya pelan.

“Saya cuma berhenti membersihkan kekacauan yang kamu buat.”

Rendy tertawa getir.

“Setelah semua yang saya berikan kepadamu?”

Pertanyaan itu membuat Maya akhirnya tersenyum.

“Rumah?”

Maya melihat sekeliling.

“Mobil? Kartu kredit? Liburan yang semuanya kamu pilih untuk terlihat sukses di depan orang lain?”

Ia mendekat satu langkah.

“Saya memberikan sepuluh tahun hidup saya. Saya meninggalkan usaha yang saya bangun sendiri. Saya mengurus rumahmu, keluargamu, acara kantormu, klienmu. Saya membantu kamu terlihat seperti laki-laki yang tidak pernah gagal.”

Mata Maya mulai berkaca-kaca.

“Tapi ketika saya tergeletak dengan tulang retak di bawah hujan, kamu bahkan tidak membuka pintu.”

Tidak ada seorang pun berbicara.

Rendy tampak ingin membalas, tetapi ibunya lebih dulu berkata,

“Masalah suami istri seharusnya tidak dibawa keluar.”

Maya menatap perempuan itu.

“Selama bertahun-tahun saya juga berpikir begitu, Bu.”

Ia menarik napas.

“Itulah sebabnya saya diam.”

Kemudian Maya mengangkat tangannya yang dibalut gips.

“Dan diam membawa saya sampai ke sini.”

Malam itu pesta berakhir lebih cepat.

Tidak ada pemotongan kue.

Tidak ada foto keluarga.

Tidak ada ucapan selamat tambahan.

Satu per satu tamu meninggalkan rumah dengan ekspresi yang berbeda dari saat mereka datang.

Rendy duduk sendirian di ruang makan.

Dekorasi ulang tahunnya masih sempurna.

Lilin masih menyala.

Di depannya tergeletak surat gugatan perceraian.

Maya naik ke lantai atas ditemani Rina dan Sari untuk mengambil beberapa barang penting.

Ketika turun membawa koper kecil, Rendy berdiri.

“Kamu mau ke mana?”

“Pergi.”

“Ini rumah kita.”

Maya berhenti.

“Bukan lagi.”

Rendy menatapnya lama.

Lalu suaranya berubah.

Tidak lagi keras.

“Maya.”

Untuk pertama kalinya malam itu, terdengar ketakutan dalam suaranya.

“Kalau audit itu berjalan, saya bisa kehilangan semuanya.”

Maya memandang laki-laki tersebut.

Ia tiba-tiba teringat dirinya sepuluh tahun lalu.

Perempuan yang menutup usaha karena percaya bahwa pernikahan berarti dua orang saling menjaga.

Betapa jauh ia telah berjalan sejak saat itu.

Rendy mendekat.

“Tolong bilang kepada Pak Arman kalau dokumen itu salah paham.”

Maya hampir tidak percaya.

Bahkan sekarang, Rendy masih tidak meminta maaf karena mendorongnya.

Ia hanya takut kehilangan pekerjaan.

“Saya tidak bisa.”

“Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”

“Kita?”

Maya menggeleng.

“Kamu bahkan tidak tahu apa yang perlu diperbaiki.”

Ia keluar dari rumah.

Pak Hendra sudah menunggu dengan mobilnya.

Hujan sudah berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, udara Jakarta terasa ringan.

Tiga minggu kemudian, hasil audit internal menemukan persoalan yang bahkan lebih besar daripada dugaan Maya.

Invoice palsu hanyalah permulaan.

Ada penggelembungan harga, vendor fiktif, serta pembayaran proyek yang dialihkan melalui beberapa rekening.

Perusahaan menyerahkan hasil audit kepada pihak berwenang.

Rendy diberhentikan.

Proses hukum berjalan bersamaan dengan gugatan perceraian.

Namun kejutan terbesar justru muncul dua bulan kemudian.

Maya sedang menjalani fisioterapi ketika menerima telepon dari Arman.

“Saya ingin bertemu.”

Maya sempat ragu, tetapi akhirnya menyetujui.

Mereka bertemu di sebuah kafe di Jakarta Selatan.

Arman datang membawa sebuah map.

Maya langsung tertawa kecil.

“Sepertinya hidup saya belakangan ini terlalu banyak berurusan dengan map.”

Arman tersenyum.

“Kali ini isinya berbeda.”

Ia mendorong map itu ke arah Maya.

Di dalamnya terdapat proposal kerja sama.

Perusahaan Arman sedang mencari penyedia katering baru untuk beberapa kegiatan korporat.

“Saya mendengar makanan di pesta itu sebenarnya resep Anda.”

Maya mengangguk.

“Kami butuh vendor yang profesional.”

“Pak Arman, usaha saya sudah lama berhenti.”

“Badannya masih ada, kan?”

Maya terdiam.

Arman tersenyum.

“Kadang sesuatu tidak benar-benar berakhir. Hanya menunggu kita kembali.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Maya.

Enam bulan kemudian, sebuah dapur baru dibuka di kawasan Cilandak.

Tidak terlalu besar.

Tidak mewah.

Namun setiap pagi tempat itu dipenuhi aroma mentega, rempah, kopi, dan suara orang-orang bekerja.

Di dinding dekat pintu masuk tergantung sebuah papan sederhana.

Maya Prameswari Kitchen.

Sari menjadi kepala operasional.

Beberapa mantan pegawai Maya kembali bergabung.

Dalam waktu singkat, pesanan perusahaan mulai berdatangan.

Pada hari pembukaan resmi, Pak Hendra datang membawa tanaman kecil.

“Buat meja kantor,” katanya.

Maya tertawa.

“Terima kasih, Pak.”

Pak Hendra melihat sekeliling.

“Kalau malam itu saya tidak keluar memeriksa saluran air…”

Maya menggeleng.

“Bapak memang menolong saya. Tapi saya belajar satu hal.”

“Apa?”

Maya memandang dapur di belakangnya.

“Seseorang bisa membuka pintu untuk kita. Tapi kita sendiri yang harus berani berjalan keluar.”

Setahun setelah malam ulang tahun itu, Maya menerima sebuah amplop dari pengadilan.

Perceraiannya resmi selesai.

Ia membaca dokumen tersebut di meja kerjanya.

Tidak menangis.

Tidak merasa ingin merayakan.

Ia hanya menutup map dan menyimpannya di laci.

Kemudian ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan dari nomor yang sudah lama tidak menghubunginya.

Rendy.

Hari ini ulang tahun saya.

Maya menatap pesan itu cukup lama.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

Saya baru mengerti kenapa malam itu kamu melakukan semuanya.

Maya tidak membalas.

Pesan ketiga muncul.

Maaf.

Hanya satu kata.

Kata yang dulu sangat ingin didengarnya.

Namun sekarang, kata itu tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengubah apa pun.

Maya mematikan layar ponsel.

Dari dapur terdengar Sari memanggil.

“Bu Maya! Pesanan untuk acara besok sudah dikonfirmasi. Seribu dua ratus porsi!”

Maya berdiri.

“Saya ke sana!”

Sebelum meninggalkan ruangan, ia berhenti sebentar di depan jendela.

Di luar, hujan mulai turun.

Hujan yang hampir sama derasnya dengan malam ketika Rendy menguncinya di luar rumah.

Dulu suara hujan itu mengingatkannya pada rasa sakit, ketakutan, dan pintu yang tertutup di depan wajahnya.

Sekarang Maya justru tersenyum.

Karena akhirnya ia memahami sesuatu.

Malam paling buruk dalam hidupnya ternyata bukan malam ketika semuanya berakhir.

Itu adalah malam ketika hidupnya, yang selama sepuluh tahun perlahan diambil orang lain, akhirnya kembali menjadi miliknya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang