Suara sirene itu tidak berhenti di depan gerbang.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara keras dari arah halaman depan.
“Polisi! Mohon jangan ada yang meninggalkan lokasi!”
Kalimat itu membuat wajah Pak Baskoro berubah seketika.
Hendra yang sejak tadi berdiri dengan dada membusung langsung menoleh ke arah ayahnya.
“Ayah, ini apa?”
Pak Baskoro tidak menjawab.
Ibu Herlina justru berlari kecil menuju jendela. Dari balik tirai, ia melihat tiga mobil polisi, dua kendaraan tanpa tanda, dan sebuah ambulans memasuki halaman rumah.
Beberapa pria berjaket gelap turun lebih dulu.
Di belakang mereka, sejumlah penyidik berseragam berjalan cepat menuju pintu utama.
Para tamu mulai berbisik.
“Ada penggerebekan?”
“Baskoro Group bermasalah?”
“Kenapa polisi sebanyak itu?”
Siska yang sejak tadi tampak percaya diri tiba-tiba merapat kepada Hendra.
“Hendra, aku takut.”
Hendra menggenggam tangannya.
“Tenang. Pasti salah alamat.”
Lalu terdengar suara Maya dari lantai.
“Tidak.”
Semua kepala menoleh.
Maya perlahan mencoba bangkit.
Seorang tamu perempuan bernama Ratih segera menghampirinya dan membantu menyangga tubuhnya.
“Kamu jangan bergerak dulu, Maya. Kamu habis jatuh.”
“Aku baik-baik saja.”
“Tidak, kamu tidak baik-baik saja. Kita harus panggil dokter.”
Maya memegang lengan Ratih.
“Sebentar lagi dokter akan datang.”
Ratih menatapnya bingung.
Maya kemudian memandang Hendra.
“Dan mereka tidak salah alamat.”
Pintu utama terbuka.
Seorang perwira polisi berpangkat komisaris masuk bersama beberapa penyidik.
Di belakangnya berjalan seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan setelan abu-abu gelap.
Begitu melihat pria itu, Pak Baskoro terlihat seperti kehilangan seluruh darah dari wajahnya.
“Pak Aditya?”
Pria itu tidak menjawab sapaan tersebut.
Ia justru langsung berjalan menuju Maya.
“Mbak Maya.”
Ia membungkuk sedikit, lalu menatap pecahan kaca dan kotak hadiah yang berserakan.
Ekspresinya berubah.
“Apa yang terjadi?”
Maya menunjuk Hendra.
“Suami saya mendorong saya.”
Ruangan seketika senyap.
Komisaris yang berdiri di samping Aditya langsung memberi isyarat kepada seorang petugas perempuan.
“Panggil tim medis sekarang.”
Hendra tertawa pendek.
“Sebentar. Ini urusan keluarga. Kalian masuk ke rumah pribadi tanpa izin, lalu mendengar cerita sepihak?”
Komisaris tersebut menatapnya tenang.
“Saudara Hendra Baskoro?”
“Iya.”
“Mohon jangan meninggalkan ruangan.”
Hendra mendengus.
“Kalian tahu saya siapa?”
Maya tiba-tiba tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena kalimat itu terdengar begitu ironis.
Hendra menatapnya tajam.
“Apa?”
Maya menggeleng.
“Tidak ada.”
Pria bernama Aditya kemudian berbalik menghadap Pak Baskoro.
“Bapak Surya Baskoro, berdasarkan surat perintah yang diterbitkan hari ini, kami bersama penyidik kepolisian dan tim audit khusus akan melakukan penyitaan terhadap sejumlah dokumen dan perangkat elektronik terkait dugaan penggelapan dana, pemalsuan laporan keuangan, pencucian uang, serta transaksi fiktif yang melibatkan Baskoro Group dan beberapa perusahaan cangkang.”
Tangan Pak Baskoro gemetar.
“Ini tidak mungkin.”
Aditya mengeluarkan sebuah map.
“Surat perintahnya.”
Pak Baskoro tidak mengambilnya.
Tatapannya malah berpindah ke Maya.
Pelan-pelan.
Seolah sebuah dugaan mengerikan mulai terbentuk dalam pikirannya.
“Kamu…”
Maya tidak mengatakan apa-apa.
Ibu Herlina menghampiri suaminya.
“Surya, apa maksud mereka?”
Pak Baskoro berbisik,
“Diam dulu.”
Hendra semakin kesal.
“Apa hubungan semua ini dengan Maya?”
Aditya menatapnya.
“Hubungannya sangat besar.”
Ia menoleh kepada Maya.
“Mbak, apakah identitas Anda boleh kami jelaskan sekarang?”
Maya mengangguk.
“Silakan.”
Aditya menghadap para tamu.
“Nama lengkap perempuan yang kalian kenal sebagai Maya Pradipta adalah Maya Adiningrat Pradipta.”
Beberapa orang mulai saling berpandangan.
Nama belakang itu terdengar familier bagi sebagian pengusaha yang hadir.
Seorang pria tua di dekat meja minuman tiba-tiba berbisik,
“Adiningrat?”
Aditya melanjutkan.
“Maya adalah putri tunggal almarhum Rendra Adiningrat, pendiri Adiningrat Capital.”
Suasana berubah total.
Salah satu tamu tanpa sadar menjatuhkan gelas.
Adiningrat Capital bukan nama kecil.
Perusahaan investasi itu selama puluhan tahun menjadi pemegang saham dalam berbagai bank, perusahaan energi, konstruksi, dan logistik di Indonesia.
Namun keluarga Adiningrat dikenal sangat tertutup.
Mereka hampir tidak pernah tampil dalam pemberitaan.
Hendra menatap Maya seolah sedang melihat orang asing.
“Kamu bohong.”
Maya tetap tenang.
“Aku tidak pernah berbohong.”
“Enam tahun menikah dan kamu tidak pernah bilang ayahmu Rendra Adiningrat?”
“Kamu tidak pernah bertanya.”
“Itu tidak masuk akal!”
“Yang kamu tanyakan sebelum menikah hanya apakah aku mau menandatangani perjanjian pisah harta.”
Wajah Ibu Herlina ikut berubah.
Maya menatapnya.
“Masih ingat, Bu? Ibu yang paling memaksa.”
Herlina membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Maya melanjutkan,
“Ibu bilang keluarga Baskoro harus dilindungi dari perempuan yang mungkin hanya mengejar kekayaan.”
Beberapa tamu mulai berbisik lagi.
Kini nadanya berbeda.
Lebih tajam.
Lebih sinis.
Maya tersenyum tipis.

“Saya menyetujuinya karena saat itu saya juga ingin tahu apakah Hendra menikahi saya karena saya, atau karena sesuatu yang saya punya.”
Hendra menggeleng keras.
“Tapi selama ini kamu bilang ayahmu sudah meninggal dan ibumu tinggal di luar negeri.”
“Itu benar.”
“Dan kamu bilang kamu bekerja sebagai konsultan.”
“Itu juga benar.”
“Kalau begitu Adiningrat Capital…”
“Aku pemegang saham pengendalinya.”
Hendra membeku.
Maya tidak berhenti.
“Dan ada satu hal lagi.”
Pak Baskoro mendadak menutup mata.
Seolah ia sudah tahu kalimat berikutnya.
Maya menatapnya.
“Adiningrat Capital adalah kreditur terbesar Baskoro Group.”
Hendra berpaling kepada ayahnya.
“Ayah?”
Pak Baskoro diam.
“Ayah!”
“Cukup!”
Bentakan Pak Baskoro terdengar pecah.
Namun Maya justru berbicara semakin tenang.
“Empat tahun lalu, Baskoro Group hampir gagal membayar utang setelah proyek kawasan industri di Bekasi mengalami masalah. Bank menolak memberikan fasilitas tambahan.”
Ia memandang Hendra.
“Ayahmu datang meminta bantuan.”
“Tidak mungkin.”
“Tanyakan sendiri.”
Hendra menatap Pak Baskoro.
Lelaki tua itu tidak sanggup membalas tatapan putranya.
Maya berkata,
“Aku menyetujui restrukturisasi utang melalui salah satu perusahaan investasi yang tidak memakai nama Adiningrat secara langsung.”
Hendra mundur satu langkah.
“Jadi selama ini…”
“Sebagian besar perusahaan keluargamu masih berdiri karena dana yang aku setujui.”
Herlina langsung menyangkal.
“Jangan percaya! Dia hanya ingin mempermalukan kita!”
Aditya membuka dokumen lain.
“Perjanjian restrukturisasi ada di sini.”
Herlina terdiam.
Maya memandang perempuan yang selama bertahun-tahun merendahkannya itu.
“Ibu pernah bilang saya tidak pantas berada di keluarga Baskoro karena tidak membawa apa-apa.”
Suaranya tetap lembut.
“Padahal selama empat tahun terakhir, secara tidak langsung saya yang menjaga keluarga ini agar tidak kehilangan rumah, perusahaan, dan reputasi.”
Herlina terlihat hendak mengatakan sesuatu.
Namun Maya mengangkat tangan.
“Sayangnya, saya juga baru mengetahui bahwa kebaikan itu dipakai untuk menutup hal-hal lain.”
Pak Baskoro langsung menatapnya.
“Apa yang kamu tahu?”
“Lebih banyak daripada yang Bapak kira.”
Aditya memberikan sebuah tablet kepada komisaris polisi.
Maya melanjutkan,
“Sekitar enam bulan lalu, tim audit internal menemukan transaksi tidak wajar dari perusahaan yang terafiliasi dengan Baskoro Group.”
Ia menatap Hendra.
“Transfer ke rekening pribadi. Faktur fiktif. Penggelembungan nilai proyek. Pembelian aset menggunakan perusahaan cangkang.”
Hendra langsung memotong.
“Aku tidak tahu apa-apa soal itu.”
Maya menatapnya tajam.
“Benarkah?”
Ia mengambil ponsel dari tas kecilnya yang masih berada di bawah meja.
Layarnya retak setelah jatuh, tetapi masih menyala.
Maya membuka sebuah rekaman suara.
Suara Hendra terdengar jelas.
“Kalau invoice-nya dinaikkan tiga puluh persen, selisihnya masuk perusahaan Singapura. Ayah sudah setuju. Jangan sampai Maya tahu.”
Wajah Hendra seketika pucat.
Siska melepaskan genggaman tangannya.
“Apa itu?”
Hendra menoleh gugup.
“Itu bukan…”
Rekaman berlanjut.
“Dana yang atas nama Aruna Consulting pindahkan ke rekening Siska dulu. Nanti baru kita pecah.”
Semua orang langsung menatap Siska.
Perempuan itu terlihat panik.
“Aku tidak tahu apa-apa! Hendra cuma minta pinjam rekening!”
Maya memandangnya.
“Rp8,7 miliar bukan jumlah yang biasanya seseorang pinjamkan rekening tanpa bertanya.”
Siska mulai menangis.
“Hendra bilang itu uang bisnis!”
Hendra membentak,
“Diam!”
Komisaris polisi memberi isyarat kepada dua petugas.
“Saudari Siska, untuk sementara Anda juga diminta tetap berada di tempat.”
Siska mundur.
“Tidak! Saya sedang hamil!”
Hendra segera merangkulnya.
“Jangan sentuh dia!”
Maya menatap mereka berdua.
Lalu bertanya pelan,
“Hamil berapa minggu?”
Ruangan kembali sunyi.
Siska menatap Hendra.
“Dua belas.”
Maya tersenyum kecil.
“Menarik.”
Hendra mengernyit.
“Apa maksudmu?”
“Dua belas minggu lalu kamu berada di Jepang selama hampir satu bulan untuk proyek Osaka.”
Hendra membeku.
Siska langsung memucat.
Maya melanjutkan,
“Dan berdasarkan laporan perjalanan perusahaan, kamu kembali ke Jakarta sembilan minggu lalu.”
“Siska…”
Hendra menatap kekasihnya.
“Apa?”
Siska mulai mundur.
“Hendra, aku bisa jelaskan.”
“Apa yang mau kamu jelaskan?”
Maya tidak perlu mengatakan apa pun lagi.
Kecurigaan telah bekerja sendiri.
Hendra meraih lengan Siska.
“Anak siapa?”
Siska mencoba melepaskan diri.
“Aku bilang lepaskan!”
“ANAK SIAPA?”
Seorang petugas langsung memisahkan mereka.
“Saudara Hendra, tenang!”
Siska menangis histeris.
“Aku juga tidak yakin!”
Hendra seperti tersambar petir.
Seluruh ruangan yang tadi menjadi panggung penghinaan Maya kini berubah menjadi tempat kehancuran keluarga Baskoro sendiri.
Namun mendadak Maya meringis.
Tangannya mencengkeram perut.
Ratih langsung panik.
“Maya?”
Maya menarik napas.
Ada rasa sakit tajam di bagian bawah perutnya.
Kemudian ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir.
Wajahnya berubah.
“Sepertinya ketubanku pecah.”
Semua orang membeku.
Petugas medis yang baru masuk segera berlari mendekatinya.
“Kita bawa ke rumah sakit sekarang.”
Hendra refleks hendak maju.
“Maya!”
Namun Maya mengangkat tangan.
“Jangan.”
Hendra berhenti.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ada ketakutan nyata di mata lelaki itu.
“Maya, aku ikut.”
“Tidak.”
“Itu anakku.”
Maya menatapnya lama.
“Beberapa menit lalu kamu membiarkan ibumu mengatakan anak ini tidak akan diakui sebagai ahli waris.”
Hendra kehilangan kata-kata.
“Kamu juga baru saja mendorong ibunya sampai jatuh.”
“Maya, aku emosi. Aku tidak bermaksud…”
“Kalimat itu sudah enam tahun kudengar setiap kali kamu menyakitiku.”
Maya dibaringkan di atas tandu.
Sebelum dibawa keluar, ia menoleh kepada komisaris.
“Rekaman CCTV di ruang ini sudah otomatis dicadangkan ke server pengacara saya.”
Komisaris mengangguk.
“Kami akan memprosesnya.”
Hendra terlihat panik.
“Maya, kamu melaporkanku?”
Maya menatapnya.
“Bukan hari ini.”
Hendra terdiam.
“Aku membuat laporan dua minggu lalu.”
“Kamu sudah merencanakan semua ini?”
“Tidak.”
Maya menggeleng.
“Aku berharap sampai detik terakhir bahwa aku salah tentangmu.”
Tatapannya melembut sesaat.
“Itulah sebabnya aku masih datang ke baby shower ini.”
Kemudian tandu didorong keluar.
Sirene ambulans kembali terdengar.
Enam jam kemudian, Maya melahirkan melalui operasi darurat.
Seorang bayi laki-laki lahir prematur, tetapi selamat.
Beratnya hanya sedikit di atas dua kilogram.
Maya menangis saat pertama kali mendengar tangis kecil itu.
Bukan karena takut.
Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia merasa sesuatu dalam hidupnya benar-benar menjadi miliknya sendiri.
Tiga hari kemudian, Hendra datang ke rumah sakit dengan didampingi pengacara.
Ia belum ditahan karena proses pemeriksaan masih berjalan, tetapi paspornya telah disita.
Wajahnya kusut.
Maya sedang duduk di kursi roda di depan ruang perawatan bayi ketika ia datang.
“Aku cuma mau lihat anakku.”
Maya diam sejenak.
Kemudian mengangguk.
“Kamu boleh melihatnya.”
Hendra terkejut.
“Maya…”
“Tapi itu tidak mengubah apa pun.”
Ia menyerahkan sebuah map.
Hendra menerimanya dengan tangan gemetar.
Di dalamnya ada gugatan perceraian.
Dan salinan laporan kekerasan dalam rumah tangga.
Hendra menelan ludah.
“Aku akan berubah.”
Maya memandangnya.
“Mungkin.”
“Aku serius.”
“Aku harap kamu berubah.”
Hendra seperti mendapatkan sedikit harapan.
Namun Maya melanjutkan,
“Tapi bukan untuk mendapatkan aku kembali.”
Wajah Hendra runtuh.
Maya memandang bayi kecil di balik kaca.
“Aku terlalu lama mengira mempertahankan keluarga berarti mempertahankan pernikahan apa pun yang terjadi.”
Ia tersenyum tipis.
“Ternyata keluarga bukan tempat kita bertahan dari penghinaan. Keluarga seharusnya menjadi tempat kita aman.”
Hendra menunduk.
Sebelum pergi, ia bertanya,
“Kenapa kamu tidak pernah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya?”
Maya berpikir beberapa detik.
Kemudian menjawab,
“Karena aku ingin dicintai ketika namaku hanya Maya.”
Hendra memejamkan mata.
Maya melanjutkan,
“Dan kamu justru menunjukkan siapa dirimu ketika mengira aku tidak punya apa-apa.”
Hendra tidak lagi punya jawaban.
Beberapa bulan kemudian, penyidikan terhadap Baskoro Group berkembang semakin besar.
Pak Baskoro ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara manipulasi laporan keuangan dan pencucian uang.
Hendra ikut menjadi tersangka karena keterlibatannya dalam sejumlah transaksi perusahaan cangkang.
Siska akhirnya mengakui bahwa sebagian dana yang masuk ke rekeningnya digunakan untuk membeli apartemen dan kendaraan atas namanya.
Hasil tes DNA yang dilakukan setelah bayinya lahir beberapa bulan kemudian juga memastikan satu hal yang bahkan Maya tidak pernah menduga akan menjadi penutup paling ironis dari semuanya.
Anak Siska bukan anak Hendra.
Ayah biologisnya adalah salah satu direktur muda Baskoro Group yang selama ini menjadi orang kepercayaan Hendra sendiri.
Sedangkan putra Maya tumbuh sehat.
Maya memberinya nama Arka.
Ia tidak memakai Baskoro sebagai nama belakang.
Bukan karena dendam.
Melainkan karena Maya menyadari bahwa warisan terbaik yang dapat diberikan seorang ibu kepada anaknya bukanlah nama keluarga besar.
Bukan perusahaan.
Bukan pula kekayaan.
Melainkan sebuah rumah tempat anak itu kelak tidak perlu takut menjadi dirinya sendiri.
Dan setiap kali seseorang bertanya kepada Maya bagaimana seluruh kehidupan keluarga Baskoro bisa berubah tepat pukul dua siang pada hari baby shower itu, Maya selalu memberikan jawaban yang sama.
“Sebenarnya sirene polisi tidak mengubah apa pun.”
Ia kemudian tersenyum.
“Mereka hanya datang tepat ketika saya akhirnya berhenti menutupi siapa mereka sebenarnya.”
