8 TAHUN MENIKAH, SUAMI TEGA MENGUSIRNYA BERSAMA BAYI PREMATUR. 46 HARI KEMUDIAN, DIA KEMBALI MEMBAWA BUKTI YANG MENGHANCURKAN KELUARGA MERTUANYA!

Laras menatap lembar pelepasan hak asuh itu cukup lama hingga Ibu Ratna mulai kehilangan kesabaran.

“Tidak usah berpikir terlalu lama,” katanya. “Semakin cepat kamu tanda tangan, semakin cepat semuanya selesai.”

Laras mengangkat wajah.

“Bima bagaimana?”

Pertanyaan itu membuat Ibu Ratna menyipitkan mata.

“Bima tetap bersama Dimas. Dia sudah besar. Dia membutuhkan kehidupan yang stabil.”

“Dan Arka?”

“Kalau dia selamat, kamu urus sendiri.”

Kalimat itu keluar begitu ringan, seolah-olah mereka sedang membicarakan barang yang tidak diinginkan.

Laras merasakan jemarinya mencengkeram ujung selimut.

“Kalau Arka tidak selamat?”

Ibu Ratna mendekat dan merendahkan suaranya.

“Lebih mudah. Kita bilang saja kepada orang-orang bahwa dia meninggal setelah lahir.”

Di balik selimut, layar ponsel Laras tetap menyala.

Perekaman masih berjalan.

Beberapa detik kemudian, Laras menggeleng.

“Saya tidak akan tanda tangan.”

Wajah Ibu Ratna seketika berubah.

“Kamu jangan membuat masalah.”

“Yang membuat masalah bukan saya.”

Ibu Ratna tertawa pendek.

“Kamu pikir siapa yang akan percaya kepadamu? Kamu tidak punya orang tua. Tidak punya keluarga. Rumah yang kamu tempati milik saya. Mobil yang dipakai Dimas milik keluarga kami. Bahkan sekolah Bima dibayar sebagian oleh saya.”

Laras tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya selama delapan tahun, penghinaan itu tidak terasa seperti pisau.

Justru seperti bukti.

Semakin lama Ibu Ratna berbicara, semakin banyak yang Laras simpan.

Hari itu menjadi awal dari 46 hari terpanjang dalam hidupnya.

Arka berada di NICU dengan kondisi yang naik turun.

Pada hari ketiga, kadar oksigennya turun drastis.

Hari kelima, dokter menemukan infeksi.

Hari ketujuh, berat badannya malah turun.

Setiap kali telepon rumah sakit berbunyi, jantung Laras seperti berhenti.

Tetapi di tengah ketakutan itu, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.

Dia tidak lagi memikirkan bagaimana menyelamatkan pernikahan.

Dia hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan kedua anaknya.

Dimas baru muncul pada hari keempat.

Dia datang mengenakan kemeja kantor, membawa wajah lelah yang dibuat-buat.

“Bagaimana kondisinya?”

Laras duduk di kursi dekat ruang NICU.

“Kamu bisa bertanya kepada dokter.”

Dimas menghela napas.

“Laras, jangan begini.”

Laras menatapnya.

“Begini bagaimana?”

“Aku sedang banyak masalah di kantor.”

“Empat hari?”

“Ponselku rusak.”

“Kebetulan sekali.”

Dimas terdiam.

Laras lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto mobil Dimas di depan apartemen Sukajadi.

Wajah pria itu seketika pucat.

“Kamu mengikuti aku?”

“Tidak perlu. Kalian tidak bersembunyi.”

Dimas menurunkan suara.

“Siska hanya teman.”

“Teman yang kamu peluk?”

“Kamu sedang emosional karena baru melahirkan.”

Laras hampir tertawa.

Dulu, mungkin kalimat semacam itu akan membuatnya meragukan dirinya sendiri.

Sekarang tidak lagi.

“Aku tidak ingin berdebat,” kata Dimas. “Ibu cuma ingin kita mengambil keputusan yang realistis.”

“Realistis menurut kalian berarti membuang bayi kita?”

Dimas melihat ke kanan dan kiri.

“Jangan bicara keras.”

“Kenapa? Takut orang dengar?”

“Laras.”

“Jawab.”

Dimas mengepalkan rahang.

“Aku tidak pernah bilang membuang.”

“Tapi kamu membiarkan ibumu meminta aku melepas hak asuh.”

Dimas tidak langsung menjawab.

Itu sudah cukup.

Laras berdiri perlahan.

Bekas operasi masih terasa nyeri.

“Mulai hari ini, jangan datang kepadaku kalau bukan untuk bicara soal kondisi Arka.”

“Rumah itu tetap rumahku.”

“Tidak lama lagi.”

Dimas menatapnya curiga.

Namun Laras berjalan pergi.

Malam itu, dari kamar rawat sederhana yang dia sewa di dekat rumah sakit, Laras mulai membuka seluruh arsip digitalnya.

Percakapan WhatsApp.

Transfer bank.

Tagihan.

Foto.

Email.

Dokumen sekolah Bima.

Surat kepemilikan aset yang pernah tidak sengaja difoto Dimas dan tersimpan di laptop lama mereka.

Laras menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah dia perhatikan.

Selama tiga tahun terakhir, beberapa pemasukan usaha kecil Dimas ternyata masuk ke rekening atas nama Laras.

Bukan karena Dimas baik hati.

Tetapi karena Dimas pernah bermasalah dengan kredit usaha.

Nama Laras digunakan untuk mengajukan pinjaman, membuka rekening, bahkan mendaftarkan sebuah usaha distribusi kosmetik bernama Lestari Cantika.

Di atas kertas, Laras adalah pemilik 70 persen.

Dimas 30 persen.

Saat usaha itu dibentuk, Dimas berkata kepadanya bahwa itu hanya formalitas.

“Biar administrasinya gampang.”

Laras dulu menandatangani tanpa banyak bertanya.

Sekarang dia mulai memeriksa semuanya.

Dia menghubungi seorang kenalan lama bernama Mira, pelanggan salon yang bekerja sebagai pengacara.

“Aku butuh bantuan,” kata Laras.

Mira datang malam itu juga.

Selama hampir dua jam, dia membaca dokumen sambil sesekali mengerutkan kening.

“Aku akan tanya sesuatu, dan kamu jawab sejujurnya,” ujar Mira.

Laras mengangguk.

“Kamu tahu usaha ini punya omzet hampir dua miliar setahun?”

Laras membeku.

“Apa?”

Mira memutar laptop.

Ada laporan transaksi.

Pembelian.

Invoice.

Transfer distributor.

Dimas selama ini mengaku bahwa usaha tersebut hampir tidak menghasilkan apa-apa.

Padahal jumlah uang yang keluar masuk jauh lebih besar daripada gaji resminya.

“Lebih parah lagi,” lanjut Mira. “Ada pinjaman atas namamu.”

Laras merasakan tengkuknya dingin.

“Berapa?”

“Hampir enam ratus juta.”

“Aku tidak pernah menerima uang itu.”

“Tapi tanda tangan digitalnya memakai identitasmu.”

Laras memejamkan mata.

Dimas bukan hanya berselingkuh.

Dia telah menggunakan nama Laras sebagai tameng finansial.

Mira melanjutkan pemeriksaan.

Semakin dalam mereka menggali, semakin gelap yang ditemukan.

Sebagian dana usaha mengalir ke rekening Siska.

Ada pembayaran apartemen.

Pembelian perhiasan.

Uang muka mobil.

Bahkan biaya perjalanan ke Bali tiga bulan sebelumnya.

“Ini bukan sekadar perselingkuhan,” kata Mira. “Kalau bisa dibuktikan kamu tidak memberikan persetujuan, ada dugaan penyalahgunaan identitas dan pemalsuan dokumen elektronik.”

Laras menatap layar cukup lama.

“Kalau aku melaporkan semuanya?”

“Kamu harus siap perang.”

Laras melihat ke arah NICU dari balik jendela koridor.

Tubuh Arka terlihat begitu kecil di dalam inkubator.

“Aku sudah berperang sejak dia lahir.”

Hari ke-12, Laras pulang ke rumah untuk mengambil beberapa barang.

Dia menemukan kunci sudah diganti.

Di depan pintu terdapat dua koper miliknya.

Pak Hadi, satpam kompleks, terlihat serba salah.

“Maaf, Bu Laras. Saya disuruh Bu Ratna.”

“Bima di mana?”

“Katanya dibawa ke rumah Bu Ratna.”

Laras langsung menelepon Dimas.

“Aku mau bicara dengan Bima.”

“Dia sedang tidur.”

“Jam empat sore?”

“Dia capek.”

“Dimas, kasih teleponnya.”

“Kamu jangan bikin suasana makin sulit. Bima sementara tinggal dengan Ibu.”

“Tanpa izin aku?”

“Kamu sibuk di rumah sakit.”

“Itu anakku.”

“Anakku juga.”

“Kalau begitu kenapa kamu tidak pernah datang menemui Arka?”

Dimas memutus sambungan.

Kesalahan mereka berikutnya adalah menganggap Laras akan berteriak dan memohon.

Dia tidak melakukannya.

Dia menghubungi Mira.

Malam itu juga mereka menyusun kronologi pengusiran, akses terhadap Bima yang dibatasi, dan percakapan ancaman.

Dua hari kemudian, Laras membuat laporan resmi terkait dugaan penyalahgunaan identitas dan pemalsuan dokumen.

Dia juga mengajukan langkah hukum terkait akses terhadap anak.

Dimas baru menyadari situasinya serius ketika dua orang petugas datang ke kantornya.

Teleponnya masuk ke Laras berkali-kali.

Laras tidak menjawab.

Kemudian pesan mulai berdatangan.

Kamu keterlaluan.

Kita bisa bicarakan baik-baik.

Kamu mau menghancurkan masa depan anak-anak?

Ibuku sudah tua.

Cabut laporanmu.

Setiap pesan disimpan.

Hari ke-19, Siska menelepon.

Laras hampir tidak mengangkatnya.

“Bu Laras?”

“Ya.”

Suara perempuan itu gemetar.

“Saya ingin bertemu.”

“Untuk apa?”

“Saya baru tahu sesuatu.”

Mereka bertemu di sebuah kafe dekat rumah sakit.

Siska datang tanpa riasan, berbeda dari perempuan yang Laras lihat memeluk Dimas di Sukajadi.

Matanya sembap.

“Saya tahu Ibu membenci saya.”

“Saya tidak punya energi untuk membenci siapa pun.”

Siska menunduk.

“Dimas bilang dia sudah bercerai.”

Laras tidak bereaksi.

“Dia bilang Ibu meninggalkan dia dua tahun lalu. Dia bilang Bima tinggal dengan neneknya karena Ibu tidak stabil.”

Laras merasa muak.

Siska mengeluarkan sebuah map.

“Ini dokumen yang dia kasih ke saya.”

Di dalamnya ada salinan akta perceraian.

Palsu.

Nama Laras tercantum.

Nomor perkara juga ada.

Mira memeriksanya beberapa jam kemudian dan menemukan bahwa nomor perkara tersebut milik pasangan lain.

Namun kejutan terbesar belum selesai.

Siska memberikan rekaman percakapan dengan Dimas.

Dalam salah satu rekaman, Dimas berkata bahwa setelah Laras “keluar dari rumah”, seluruh usaha akan mudah dikuasai karena semua rekening operasional bisa dialihkan.

Dalam rekaman lain, suara Ibu Ratna terdengar jelas.

“Yang penting dia tanda tangan surat anak itu dulu. Setelah itu urusan perusahaan kita selesaikan. Perempuan seperti dia tidak ngerti hukum.”

Mira menatap Laras.

“Ini besar.”

Laras tidak tersenyum.

“Belum.”

Hari ke-27, seorang dokter memberi kabar yang akhirnya membuat Laras menangis bahagia.

Arka mulai bernapas tanpa ventilator invasif.

Berat badannya perlahan naik.

Untuk pertama kalinya, Laras diperbolehkan menggendongnya lebih lama.

Dia menempelkan bayi mungil itu di dadanya.

“Kamu kuat,” bisiknya.

Air mata jatuh ke pipi.

“Ibu juga akan kuat.”

Hari ke-33, Dimas datang ke rumah sakit.

Kali ini dia tidak marah.

Dia terlihat takut.

“Aku mau menyelesaikan semuanya.”

“Lewat pengacara.”

“Jangan begitu.”

“Memangnya bagaimana?”

“Aku suamimu.”

Laras menatapnya lama.

“Suami saya tidak akan membiarkan ibunya mengatakan anaknya lebih baik mati.”

Dimas mengusap wajah.

“Ibu sedang emosi.”

“Dia mengatakannya dengan sangat tenang.”

“Kamu merekamnya?”

Laras tidak menjawab.

Wajah Dimas berubah.

“Laras, dengar aku. Jangan seret Ibu.”

“Kalian menyeret diri kalian sendiri.”

“Aku bisa kembalikan Bima.”

Kalimat itu membuat darah Laras mendidih.

“Bima bukan barang yang bisa kamu jadikan alat tawar.”

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Tapi itulah yang kamu lakukan.”

Dimas mendekat.

“Kita masih bisa jadi keluarga.”

Laras mundur satu langkah.

“Keluarga kita berakhir saat kamu memintaku memilih antara mempertahankan anakku atau mempertahankan kenyamananmu.”

Hari ke-40, Laras akhirnya bertemu Bima setelah proses mediasi sementara.

Anak itu berlari memeluknya.

“Ibu!”

Laras memeluknya erat.

Bima menangis.

“Nenek bilang Ibu sudah tidak mau pulang.”

Laras menutup mata.

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dirinya patah.

“Dengar Ibu,” katanya sambil memegang wajah Bima. “Apa pun yang terjadi, Ibu tidak pernah meninggalkan kamu.”

“Arka kapan pulang?”

“Sebentar lagi.”

“Nenek bilang Arka sakit karena Ibu keras kepala.”

Laras tidak sanggup menjawab beberapa detik.

Kemudian dia memeluk Bima lagi.

Hari ke-46 akhirnya tiba.

Arka diperbolehkan pulang.

Berat badannya belum ideal, tetapi kondisinya stabil.

Laras mengenakan pakaian bayi berwarna biru muda yang dibelinya sendiri.

Saat keluar dari rumah sakit, dia tidak menuju kamar kontrakan.

Dia meminta taksi mengantarnya ke rumah Ibu Ratna.

Mira sudah menunggu di depan.

Begitu mobil berhenti, Ibu Ratna keluar bersama Dimas.

“Apa-apaan ini?” tanya Ibu Ratna.

Laras turun sambil menggendong Arka.

Di belakangnya, Mira membawa sebuah map tebal.

Beberapa tetangga mulai memperhatikan.

Dimas berbisik.

“Jangan bikin keributan.”

“Aku justru datang untuk mengakhirinya.”

Ibu Ratna tertawa sinis.

“Kamu pikir setelah membuat laporan, kamu masih boleh datang ke rumah saya?”

Laras menyerahkan Arka sebentar kepada Mira.

Kemudian dia mengeluarkan beberapa dokumen.

“Ini gugatan perceraian.”

Wajah Dimas menegang.

“Ini laporan tambahan atas dugaan pemalsuan dokumen.”

Dimas pucat.

“Ini bukti aliran dana usaha ke rekening Siska.”

Ibu Ratna mulai kehilangan ketenangan.

“Dan ini rekaman ketika Ibu meminta saya meninggalkan bayi saya jika dia lahir bermasalah.”

Suasana mendadak sunyi.

Namun Laras belum selesai.

Dia mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Yang ini mungkin paling menarik.”

Dimas menatapnya.

“Apa itu?”

“Perubahan pengurus Lestari Cantika.”

Dimas merebut kertas itu dan membaca cepat.

Wajahnya langsung berubah.

“Kamu tidak bisa melakukan ini.”

“Bisa.”

“Perusahaan itu aku yang bangun!”

“Dengan namaku. Dengan identitasku. Dengan pinjaman atas namaku. Dan secara hukum, kepemilikan mayoritas juga atas namaku.”

Ibu Ratna mencibir.

“Kamu tidak tahu apa-apa soal bisnis.”

Laras menoleh.

“Memang. Karena selama delapan tahun, kalian sengaja memastikan saya tidak tahu.”

Mira kemudian berkata tenang, “Rekening operasional perusahaan sudah dibekukan sementara untuk audit internal dan proses hukum.”

Dimas menatap Laras seperti baru melihat orang asing.

“Kamu menghancurkan semuanya.”

Laras menggeleng.

“Aku tidak menghancurkan apa pun. Aku hanya berhenti melindungi kalian dari akibat perbuatan kalian sendiri.”

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di belakang taksi.

Seorang perempuan tua turun perlahan dengan tongkat.

Laras menoleh.

Wajahnya membeku.

“Nenek?”

Marni berdiri beberapa meter darinya.

Nenek yang selama hampir dua puluh tahun dia yakini tidak pernah menginginkannya.

Perempuan itu menangis.

Laras tidak bergerak.

“Apa Nenek datang karena mereka?” tanyanya dingin.

Marni menggeleng.

“Saya yang menghubungi beliau,” kata Mira.

Laras menatap Mira.

“Mengapa?”

“Karena ada satu hal yang perlu kamu tahu.”

Marni mengeluarkan amplop tua.

“Tujuh belas tahun lalu, setelah orang tuamu meninggal, saya tidak pernah menolak kamu.”

Laras merasa napasnya berhenti.

“Apa?”

“Saya mencarimu.”

Marni menangis semakin keras.

“Tapi saya diberi tahu kamu tidak mau tinggal bersama saya.”

“Siapa?”

Marni menoleh kepada Ibu Ratna.

Semua mata ikut berpindah.

Ibu Ratna mundur satu langkah.

Laras merasa dunia seperti berputar.

Marni membuka amplop dan menunjukkan surat lama.

Surat dari pengurus panti.

Di sana tercatat bahwa seseorang yang mengaku sebagai kerabat calon suami Laras pernah meminta informasi mengenai keluarga Laras bertahun-tahun kemudian.

Nama orang itu tercantum jelas.

Ratna Kusumawati.

“Apa hubungan Ibu dengan ini?” suara Laras hampir berbisik.

Ibu Ratna diam.

Mira menjelaskan.

“Setelah Laras mulai dekat dengan Dimas, Bu Ratna ternyata pernah mencari latar belakang keluarganya. Dia mengetahui nenek Laras masih hidup.”

Dimas menoleh kepada ibunya.

“Ibu?”

Ibu Ratna menggeleng cepat.

“Itu tidak seperti yang kalian pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

Marni menatap Ratna dengan mata merah.

“Perempuan ini datang kepada saya delapan tahun lalu.”

Laras merasa lututnya melemah.

“Dia bilang Laras membenci saya. Dia bilang kalau saya muncul, saya hanya akan menghancurkan kehidupan Laras.”

“Tidak!” seru Ratna.

“Dia juga memberi tahu Laras bahwa saya menolaknya, bukan?”

Laras menatap ibu mertuanya.

Kenangan delapan tahun bermunculan sekaligus.

Kamu tidak punya keluarga.

Tidak ada yang akan membelamu.

Asal-usulmu tidak jelas.

Ternyata semua itu bukan sekadar penghinaan.

Itu adalah sesuatu yang sengaja dipelihara.

“Kenapa?” tanya Laras.

Ibu Ratna akhirnya kehilangan kendali.

“Karena sejak awal saya tahu kamu tidak cocok untuk Dimas!”

“Lalu kenapa menyembunyikan nenek saya?”

“Karena kalau kamu punya keluarga, kamu akan merasa punya pilihan!”

Keheningan menyelimuti halaman.

Bahkan Dimas terlihat terpukul.

Ratna baru menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.

Laras menatap perempuan itu.

Anehnya, tidak ada kemarahan yang meledak.

Yang ada hanya rasa lelah.

“Jadi selama ini,” katanya pelan, “Ibu tidak sekadar membuat saya merasa sendirian.”

Ratna tidak menjawab.

“Ibu memastikan saya tetap sendirian.”

Marni mendekati Laras.

“Nenek minta maaf.”

Laras menatap perempuan tua itu.

Banyak tahun yang hilang.

Terlalu banyak untuk diperbaiki dalam satu sore.

Namun kemudian Arka menangis kecil di pelukan Mira.

Laras menoleh.

Dia mengambil bayi itu.

Bima keluar dari mobil lain bersama pendamping mediasi dan langsung berlari mendekat.

“Ibu, itu Arka?”

Laras berjongkok agar Bima bisa melihat adiknya.

“Iya.”

Bima tersenyum lebar.

“Kecil sekali.”

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Laras tertawa.

Marni berdiri di samping mereka, menangis.

Dimas tetap di depan rumah ibunya.

Sendirian.

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian berjalan.

Penyelidikan terhadap dokumen usaha terus dilakukan.

Sebagian aset dibekukan selama audit.

Laras tidak mengambil alih perusahaan untuk membalas dendam.

Dia menjual bagian kepemilikannya setelah kewajiban hukum selesai dan menggunakan sebagian uangnya untuk membuka studio rias kecil sekaligus program pelatihan bagi perempuan yang sedang berusaha membangun hidup kembali.

Hubungannya dengan Marni tidak langsung sempurna.

Ada luka yang membutuhkan waktu.

Ada pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

Namun perlahan, mereka mulai mengenal satu sama lain lagi.

Suatu sore, Laras duduk di teras rumah kontrakan barunya.

Bima bermain di halaman.

Arka tertidur di dalam gendongannya.

Marni duduk di sampingnya.

“Nenek sering berpikir,” kata Marni, “kalau saja kita bertemu lebih cepat.”

Laras menatap Arka.

“Dulu saya juga begitu.”

“Sekarang?”

Laras tersenyum tipis.

“Sekarang saya lebih suka berpikir tentang apa yang masih bisa kita lakukan dengan waktu yang tersisa.”

Ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan dari nomor Dimas muncul.

Aku menyesal.

Laras membacanya sekali.

Kemudian menghapusnya.

Bukan karena dia membenci Dimas.

Bukan pula karena dia sudah melupakan semua yang terjadi.

Dia hanya akhirnya memahami bahwa memaafkan tidak selalu berarti membuka kembali pintu yang sama.

Kadang-kadang, memaafkan berarti berhenti membawa seseorang ke dalam masa depan kita.

Laras menatap kedua anaknya.

Empat puluh enam hari sebelumnya, dia keluar dari ruang operasi sebagai perempuan yang hampir kehilangan segalanya.

Rumahnya.

Pernikahannya.

Rasa aman.

Bahkan nyawa anaknya.

Namun ternyata, yang benar-benar hilang hanyalah kehidupan yang selama bertahun-tahun membuatnya percaya bahwa dia tidak memiliki pilihan.

Arka bergerak kecil dalam pelukannya.

Laras membungkuk dan mengecup dahinya.

Anak yang pernah dianggap sebagai beban itu justru menjadi alasan Laras menemukan keberanian untuk membongkar semuanya.

Dan ironisnya, keluarga yang selama delapan tahun selalu mengingatkan bahwa Laras tidak punya siapa-siapa akhirnya hancur bukan karena kekuasaan, uang, atau balas dendam.

Mereka hancur karena perempuan yang selama ini mereka anggap sendirian akhirnya menyadari satu hal paling sederhana.

Untuk membela dirinya sendiri, dia tidak perlu menunggu siapa pun datang menyelamatkannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang