Maya masih berdiri di tengah lobi Menara Pratama Energi ketika bunyi penguncian otomatis terdengar dari pintu-pintu kaca di belakangnya.
Beberapa pegawai saling berpandangan. Dua satpam yang beberapa menit sebelumnya hendak mengusir Maya kini berdiri kaku, tidak tahu harus berbuat apa.
Surya Pratama tidak memedulikan mereka.
Matanya hanya tertuju pada foto tua di tangannya.
Foto Sari.
Dan satu kata yang tertulis di belakangnya.
Maya.
“Pak…” Maya menarik tali ranselnya dengan gelisah. “Saya harus pulang. Ibu pasti khawatir.”
Surya seperti tersadar.
Ia menatap jam tangannya, lalu kembali berjongkok di depan Maya.
“Ibumu sekarang ada di rumah?”
“Iya.”
“Dia sakit?”
Maya ragu sebelum mengangguk.
“Sudah beberapa hari batuk. Tapi Ibu tetap kerja kalau ada panggilan mencuci atau menyetrika.”
Rahang Surya mengeras.
“Kenapa kalian bisa menunggak kontrakan?”
Maya menunduk.
“Ibu pernah jatuh waktu kerja. Setelah itu tidak bisa kerja hampir sebulan.”
Surya memejamkan mata sesaat.
Semua informasi itu terasa seperti pukulan bertubi-tubi.
Sementara itu, kepala keamanan berlari menghampirinya membawa sebuah tablet.
“Pak, rekaman CCTV sudah kami cek.”
Surya berdiri.
“Apa yang kalian temukan?”
“Anak ini masuk sendirian sekitar dua puluh menit lalu. Tidak ada orang yang mengikutinya.”
“Bukan itu yang saya cari.”
Kepala keamanan terdiam.
Surya menunjuk surat pengosongan di tangannya.
“Cari siapa yang datang ke gedung ini hari ini membawa dokumen dari PT Cakrawala Properti Utama.”
Salah satu pengacara Surya, Bima, langsung berubah ekspresi.
“Cakrawala Properti?”
Surya menoleh tajam.
“Kamu tahu perusahaan itu?”
Bima tidak langsung menjawab.
Hanya sepersekian detik.
Namun Surya menangkap keraguan tersebut.
“Bima.”
Pengacara itu menarik napas.
“Perusahaan itu salah satu anak usaha yang baru diakuisisi Pratama Energi enam bulan lalu.”
Lobi mendadak terasa lebih dingin.
Surya menatap kembali surat di tangannya.
Di bagian bawah surat memang terdapat logo PT Cakrawala Properti Utama.
“Jadi rumah yang ditempati Sari berada di lahan milik perusahaan saya?”
“Sepertinya begitu.”
Surya menatap Bima tanpa berkedip.
“Dan perusahaan saya sedang menggusurnya?”
Tidak ada yang menjawab.
Maya yang tidak memahami percakapan orang-orang dewasa itu hanya memandang mereka bergantian.
Akhirnya ia memberanikan diri bertanya.
“Pak Surya…”
Surya menoleh.
“Bapak kenal ibu saya?”
Pertanyaan sederhana itu membuat ketegangan di wajah Surya runtuh.
Ia memandang foto lama tersebut sekali lagi.
“Dulu,” katanya pelan, “ibumu adalah orang yang sangat penting bagi saya.”
Maya mengerutkan kening.
“Teman?”
Surya tersenyum pahit.
“Lebih dari sekadar teman.”
Ia kemudian meminta sopir menyiapkan mobil.
Pertemuan dengan investor Singapura yang seharusnya dimulai tiga puluh menit lagi dibatalkan.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Surya meninggalkan jadwal bisnis bernilai ratusan miliar rupiah tanpa memikirkan konsekuensinya.
Maya duduk di kursi belakang mobil mewah itu dengan tubuh kaku.
Sepanjang perjalanan menuju Tanjung Priok, ia nyaris tidak menyentuh apa pun.
Bahkan ketika seorang staf memberinya kotak makanan, Maya hanya mengambil sebotol air.
“Kenapa tidak dimakan?” tanya Surya.
“Nanti saja.”
“Kamu belum makan siang, kan?”
Maya diam.
Surya akhirnya mengerti.
“Kamu mau membawanya untuk ibumu?”
Maya mengangguk.
Surya memalingkan wajah ke jendela.
Entah mengapa, tindakan kecil itu membuat matanya terasa panas.
Empat puluh menit kemudian, mobil berhenti di sebuah gang sempit.
Surya turun.
Sepatu kulit mahalnya menginjak genangan air.
Ia tidak peduli.
Maya berjalan cepat di depan.
“Rumah saya di sana.”
Rumah yang dimaksud Maya sebenarnya hanyalah kontrakan kecil dengan dinding kusam dan atap seng.
Di beberapa pintu rumah lain sudah tertempel tanda merah.
PENGOSONGAN LAHAN.
Surya berhenti.
Ia mengenali logo perusahaannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, logo yang selama ini menjadi simbol keberhasilannya justru terasa memalukan.
Maya mengetuk pintu.
“Bu?”
Tidak ada jawaban.
“Ibu?”
Maya mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci.
Di dalam, seorang perempuan terbaring di kasur tipis.
“Sari.”
Suara itu keluar dari mulut Surya hampir seperti bisikan.
Perempuan tersebut membuka mata.

Wajahnya pucat.
Rambutnya sudah memiliki beberapa helai uban.
Namun Surya mengenal mata itu.
Mata yang sama seperti dua puluh tahun lalu.
Sari memandang Maya, lalu pria yang berdiri di belakang anaknya.
Tubuhnya langsung menegang.
“Surya?”
Maya terkejut.
“Ibu benar-benar kenal Pak Surya?”
Sari berusaha bangun.
“Kenapa kamu datang?”
Nada suaranya bukan bahagia.
Justru dingin.
Surya berdiri terpaku.
“Sari… aku mencarimu.”
“Jangan.”
“Aku mencarimu bertahun-tahun.”
“Cukup.”
Maya belum pernah melihat ibunya seperti itu.
Sari selalu lembut, bahkan ketika sedang marah.
Namun sekarang tangannya gemetar.
Surya mengeluarkan foto lama dari dompet.
“Aku masih menyimpannya.”
Sari menatap foto itu.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
“Kenapa nama Maya tertulis di belakang foto itu?” tanya Surya.
Sari terdiam.
“Foto ini kita ambil dua puluh tiga tahun lalu. Saat itu kamu bilang, kalau suatu hari punya anak perempuan, kamu ingin menamainya Maya.”
Maya memandang ibunya.
“Benarkah?”
Sari menutup mata.
“Ya.”
Surya melanjutkan, “Ketika Maya bilang usianya delapan tahun, aku tahu dia bukan anakku. Tapi aku juga tahu kamu tidak mungkin memberi nama itu tanpa alasan.”
Sari akhirnya menatapnya.
“Apa yang sebenarnya ingin kamu tahu?”
“Kenapa kamu menghilang?”
Ruangan kecil itu mendadak sunyi.
Dua puluh tiga tahun sebelumnya, Surya bukanlah miliarder.
Ia hanya pemuda ambisius yang baru merintis usaha distribusi bahan bakar.
Sari adalah kekasihnya.
Mereka bahkan sudah berencana menikah.
Namun tiga minggu sebelum pernikahan, Sari tiba-tiba menghilang.
Nomornya tidak aktif.
Rumah kosnya kosong.
Keluarganya pindah.
Surya hanya menerima sepucuk surat.
Jangan cari aku. Aku sudah memilih orang lain.
Surya mempercayainya.
Dan kebencian itu menjadi bahan bakar hidupnya.
Ia bekerja tanpa henti, membangun perusahaan, membeli perusahaan lain, menikah sekali lalu bercerai.
Namun tidak pernah benar-benar melupakan Sari.
“Aku tidak pernah menulis surat itu,” kata Sari.
Surya membeku.
“Apa?”
Sari bangkit perlahan dari kasur.
“Surat itu bukan dariku.”
“Lalu siapa?”
Sari menatapnya lama.
“Ayahmu.”
Surya seolah baru saja kehilangan keseimbangan.
“Ayahku meninggal lima belas tahun lalu.”
“Aku tahu.”
“Jangan membawa orang mati untuk menjelaskan sesuatu yang tidak masuk akal.”
“Ayahmu datang menemuiku.”
Sari menunjuk sebuah kursi kayu.
“Dia duduk di depan rumah ibuku dan meletakkan sebuah amplop di meja. Isinya uang seratus juta rupiah.”
“Untuk apa?”
“Supaya aku meninggalkanmu.”
Surya tertawa pendek karena tidak percaya.
“Kamu menerimanya?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Sari menatap Maya.
“Dia menunjukkan dokumen utang ayahku.”
Ayah Sari saat itu memiliki usaha kecil yang hampir bangkrut.
Tanpa sepengetahuan keluarganya, ia berutang kepada perusahaan yang ternyata dikendalikan ayah Surya.
“Dia bilang kalau aku tetap bersamamu, rumah orang tuaku akan disita dan ayahku akan dilaporkan karena dokumen pinjaman yang katanya bermasalah.”
Surya menggeleng.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
“Aku mencoba.”
Sari tersenyum getir.
“Tiga kali aku datang ke kantormu. Aku tidak pernah diizinkan masuk.”
Surya terdiam.
“Lalu seseorang memberiku surat.”
“Surat apa?”
Sari berjalan ke lemari tua.
Dari dalam kotak plastik, ia mengeluarkan sebuah amplop menguning.
Surya membuka surat itu.
Tulisan di dalamnya membuat tangannya gemetar.
Sari, berhenti mencariku. Aku sudah tahu semuanya tentang keluargamu. Jangan pernah datang lagi.
Di bagian bawah terdapat tanda tangan Surya.
“Itu bukan tulisanku.”
“Aku tahu sekarang.”
“Sekarang?”
“Bertahun-tahun kemudian.”
Sari menatapnya.
“Waktu itu aku percaya.”
Surya duduk.
Seluruh hidupnya tiba-tiba terasa dibangun di atas kebohongan.
Namun belum selesai.
Sari mengatakan bahwa beberapa bulan setelah mereka berpisah, ayahnya meninggal. Ibunya kemudian sakit keras. Seluruh tabungan keluarga habis.
Sari menikah bertahun-tahun kemudian dengan seorang sopir truk bernama Arman.
Dari pernikahan itulah Maya lahir.
Arman meninggal dalam kecelakaan ketika Maya baru berusia dua tahun.
Sejak saat itu, Sari membesarkan putrinya sendirian.
“Kenapa tidak pernah menghubungiku setelah tahu surat itu palsu?”
Sari menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Untuk apa?”
“Untuk memberitahuku kebenaran.”
“Dan kemudian apa?”
Surya terdiam.
“Kamu sudah menikah. Aku juga sudah punya keluarga. Aku tidak ingin datang sebagai hantu dari masa lalu lalu merusak hidup semua orang.”
Maya duduk di samping ibunya dan menggenggam tangannya.
Surya baru ingin berbicara ketika suara mobil terdengar dari luar.
Kemudian langkah kaki memasuki gang.
Seorang pria berusia sekitar empat puluhan datang membawa map.
Di belakangnya ada dua petugas lapangan.
“Bu Sari?”
Pria itu berhenti ketika melihat Surya.
Wajahnya langsung pucat.
“Pak Surya?”
Surya mengenalinya.
Dimas.
Direktur PT Cakrawala Properti Utama.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Dimas tampak gugup.
“Kami sedang melakukan pendataan akhir sebelum pengosongan.”
“Siapa yang menyetujui pengosongan ini?”
“Sudah sesuai keputusan direksi.”
“Direksi mana?”
Dimas diam.
Surya mengambil map dari tangannya.
Di dalamnya terdapat daftar penghuni.
Puluhan keluarga.
Beberapa sudah tinggal di kawasan tersebut lebih dari dua puluh tahun.
Yang membuat Surya semakin marah adalah nilai proyek di halaman terakhir.
Lahan itu akan dibersihkan untuk pembangunan kompleks apartemen premium.
“Berapa kompensasi untuk warga?”
Dimas menyebut angka.
Surya mengangkat kepala.
“Itu bahkan tidak cukup untuk menyewa rumah satu tahun di Jakarta.”
“Secara hukum—”
“Saya tidak bertanya soal celah hukum.”
Nada Surya berubah dingin.
“Saya bertanya apakah itu adil.”
Dimas tidak menjawab.
Surya segera menelepon sekretarisnya.
“Hentikan seluruh proses pengosongan di Tanjung Priok.”
“Pak, tetapi proyek—”
“Hentikan.”
Ia kemudian meminta audit independen terhadap akuisisi lahan tersebut.
Dimas semakin gelisah.
Dan kegelisahan itu ternyata memiliki alasan.
Dua minggu kemudian, audit menemukan fakta mengejutkan.
Sebagian penghuni sebenarnya memiliki hak atas bangunan dan perjanjian lama yang seharusnya membuat mereka menerima kompensasi jauh lebih besar.
Dokumen tersebut sengaja disembunyikan.
Lebih mengejutkan lagi, nama Sari termasuk dalam daftar.
Nilai hak yang seharusnya ia terima bukan beberapa juta rupiah.
Melainkan hampir Rp1,4 miliar.
Dimas dan dua pejabat perusahaan akhirnya diberhentikan dan dilaporkan setelah ditemukan indikasi pemalsuan dokumen.
Namun Surya tidak berhenti di sana.
Ia memerintahkan seluruh proyek ditinjau ulang dan kompensasi warga dihitung kembali secara transparan.
Sari mendapatkan haknya.
Bukan karena belas kasihan.
Bukan karena hubungan masa lalu.
Melainkan karena memang itulah haknya.
Ketika Surya menawarkan rumah baru, Sari menolak.
“Aku tidak mau Maya tumbuh dengan berpikir bahwa kejujuran harus selalu mendapatkan hadiah dari orang kaya.”
Surya tersenyum.
“Lalu apa yang kamu inginkan?”
“Tidak ada.”
Maya yang duduk di antara mereka tiba-tiba mengangkat tangan.
“Saya boleh minta sesuatu?”
Sari dan Surya menoleh bersamaan.
“Apa?” tanya Surya.
Maya berpikir sebentar.
“Kalau nanti Bapak kehilangan dompet lagi, jangan taruh uang banyak-banyak.”
Surya tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sari ikut tertawa.
Beberapa bulan kemudian, Sari membuka usaha laundry kecil menggunakan sebagian uang kompensasinya.
Ia pindah ke rumah sederhana yang dibelinya sendiri.
Surya beberapa kali datang.
Hubungan mereka tidak kembali menjadi kisah cinta seperti dua puluh tiga tahun lalu.
Mereka sudah menjadi orang yang berbeda.
Namun perlahan, luka lama berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang.
Persahabatan.
Suatu sore, Surya datang membawa sebuah kotak kecil.
Ia menyerahkannya kepada Maya.
“Ini bukan hadiah.”
Maya membukanya.
Di dalamnya terdapat dompet kulit hitam yang dulu ia temukan.
“Bukannya ini dompet Bapak?”
“Dulu.”
Maya membukanya.
Tidak ada uang.
Hanya foto lama Sari di Taman Suropati.
Di belakangnya masih tertulis satu kata.
Maya.
Surya berkata pelan, “Selama bertahun-tahun aku pikir nama itu adalah pengingat tentang sesuatu yang hilang.”
Ia memandang Sari.
“Ternyata aku salah.”
Maya menatapnya.
“Terus artinya apa?”
Surya tersenyum.
“Pengingat bahwa sesuatu yang baik kadang kembali melalui jalan yang tidak pernah kita duga.”
Maya kemudian menemukan selembar kertas kecil di belakang foto.
Tulisan tangan Surya.
Kejujuranmu tidak membuatmu kaya hari itu. Kejujuranmu membuat orang-orang dewasa menemukan kebenaran yang selama puluhan tahun mereka sembunyikan.
Maya membacanya dua kali.
Lalu ia memasukkan kembali foto tersebut dengan hati-hati.
Delapan bulan sebelumnya, di halte tua Tanjung Priok, Maya sebenarnya hanya memiliki dua pilihan.
Mengambil uang Rp18 juta yang bisa menyelamatkan keluarganya untuk sementara.
Atau mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya meskipun dirinya sendiri sedang membutuhkan.
Ia memilih pilihan kedua.
Dan tidak pernah menyangka bahwa dompet yang dikembalikannya justru membuka kebohongan dua puluh tiga tahun, menyelamatkan puluhan keluarga dari penggusuran yang tidak adil, serta mengembalikan hak ibunya yang hampir dirampas.
Namun ada satu hal yang tidak pernah Maya ketahui.
Surya sengaja tidak pernah memberitahunya.
Pada hari ketika dompet itu hilang, Surya sebenarnya hampir menyuruh asistennya memblokir seluruh kartu dan melupakan uang tunai di dalamnya.
Delapan belas juta rupiah bukan sesuatu yang berarti besar baginya.
Yang membuatnya panik hanyalah foto tua yang tersembunyi di balik jahitan dompet.
Foto Sari.
Karena selama dua puluh tiga tahun, Surya tidak pernah bisa membuangnya.
Dan ironisnya, foto itulah yang akhirnya kembali kepadanya melalui seorang anak perempuan bernama Maya.
Nama yang ditulis Sari puluhan tahun sebelumnya untuk seorang anak yang bahkan belum pernah ada.
Nama yang kemudian ia berikan kepada putrinya sebagai pengingat bahwa meskipun beberapa bagian hidup direnggut oleh kebohongan, manusia tetap berhak menyimpan satu bagian kecil dari mimpinya.
Pada akhirnya, bukan uang Rp18 juta yang mengubah kehidupan mereka.
Melainkan keputusan seorang anak berusia delapan tahun untuk tidak mengambil apa yang bukan miliknya.
Karena terkadang kejujuran memang tidak langsung membayar kontrakan.
Tidak langsung mengisi lemari makanan.
Tidak selalu membuat hidup menjadi mudah.
Namun pada hari itu, kejujuran membuka pintu yang bahkan uang miliaran rupiah milik Surya Pratama tidak pernah mampu membukanya.
Pintu menuju kebenaran.
