Rendy tidak langsung pergi ke rumah orang tuanya.
Selama hampir dua puluh menit, ia hanya duduk di balik kemudi mobil, memandangi layar ponselnya yang sudah gelap.
Pesan terakhir dari nomor tak dikenal terus terngiang di kepalanya.
Buka laci paling bawah di ruang kerjamu yang lama.
Ada satu bagian dari masa lalu yang selama bertahun-tahun berhasil ia kubur begitu dalam sampai dirinya sendiri hampir percaya bahwa semua itu tidak pernah terjadi.
Rendy menyalakan mesin.
Empat puluh menit kemudian, mobilnya berhenti di depan rumah lama keluarga Pratama di Kebayoran Baru.
Rumah itu masih berdiri megah, tetapi suasananya berbeda jauh dari mansion Menteng yang baru saja lepas dari tangannya.
Bangunannya lebih tua.
Lebih sunyi.
Dan menyimpan terlalu banyak kenangan.
Pak Hendra, ayah Rendy, sedang duduk di teras ketika melihat anaknya turun dari mobil.
“Kamu kenapa?”
Rendy tidak menjawab.
Ia langsung berjalan masuk.
“Rendy.”
“Aku mau ke ruang kerja.”
Pak Hendra berdiri.
Wajah lelaki berusia enam puluh tujuh tahun itu mendadak berubah tegang.
“Ruang kerja mana?”
Rendy berhenti.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk sesaat, Rendy merasa ayahnya tahu persis apa yang sedang ia cari.
“Ruang kerja lama aku.”
Pak Hendra menarik napas.
“Buat apa?”
“Ayah tahu sesuatu?”
“Jawab dulu pertanyaan Ayah.”
Rendy tertawa pendek, tetapi tidak ada humor di sana.
“Rumahku dijual Maya. Dia gugat cerai. Dia beli dua puluh sembilan persen saham perusahaan. Sekarang ada orang menyuruh aku membuka laci di ruang kerja lama.”
Wajah Pak Hendra kehilangan warna.
“Siapa?”
“Aku nggak tahu.”
Pak Hendra melangkah mendekat.
“Jangan dibuka.”
Kalimat itu justru membuat seluruh tubuh Rendy menegang.
“Kenapa?”
“Karena beberapa hal lebih baik tetap terkubur.”
Rendy menatap ayahnya cukup lama.
Kemudian ia berjalan melewatinya.
Ruang kerja lama itu berada di lantai dua.
Pintu kayunya sudah jarang dibuka. Bau debu dan kayu tua langsung menyambut ketika Rendy menyalakan lampu.
Meja besar masih berada di posisi yang sama.
Rak buku masih dipenuhi dokumen-dokumen lama.
Di sudut ruangan ada lemari besi kecil.
Namun bukan itu yang ia cari.
Rendy berlutut di depan meja.
Tangannya menyentuh gagang laci paling bawah.
Terkunci.
Ia merogoh saku, tetapi kemudian teringat bahwa kunci lama sudah bertahun-tahun tidak dibawanya.
Rendy menarik laci keras-keras.
Tidak terbuka.
Ia mengambil pembuka surat logam dari meja, mencongkel sisi kunci, lalu menghantamnya beberapa kali.
Klik.
Laci terbuka.
Kosong.
Rendy terdiam.
Kemudian ia melihat sesuatu menempel di bagian bawah laci.
Sebuah kartu memori kecil.
Di sampingnya ada secarik kertas.
Kali ini bukan tulisan Maya.
Tulisan itu milik seseorang yang sangat ia kenal.
Dion.
Jika Bapak membaca ini, berarti saya sudah memutuskan berhenti melindungi Bapak.
Rendy merasa tengkuknya dingin.
Ia berdiri cepat, mengambil laptop tua dari rak, kemudian memasukkan kartu memori itu melalui adaptor.
Satu folder muncul.
Namanya singkat.
PROYEK TENGGARA.
Rendy berhenti bernapas.
Pintu ruang kerja terbuka.
Pak Hendra berdiri di sana.
“Matikan laptop itu.”
Rendy menoleh perlahan.
“Ayah tahu?”
“Matikan.”
“Ayah tahu?”
Suara Rendy naik.
Pak Hendra berjalan mendekat.
“Waktu itu kamu masih muda. Perusahaan sedang terdesak. Ada banyak hal yang harus dilakukan supaya Pratama Group bertahan.”
Rendy tertawa tidak percaya.
“Jadi Ayah tahu.”
“Semua keputusan bisnis punya harga.”
“Empat orang meninggal.”
Sunyi memenuhi ruangan.
Tujuh tahun lalu, Pratama Group ingin menguasai sebidang tanah strategis di kawasan pesisir Tangerang untuk pembangunan kompleks logistik.
Masalahnya, puluhan keluarga menolak menjual tanah.
Rendy yang saat itu baru diberi kendali atas divisi pengembangan properti memilih jalan tercepat.
Tekanan.
Intimidasi.
Pemutusan akses.
Dan pada satu malam, sebuah gudang kosong terbakar.
Api merambat ke bangunan di sekitarnya.
Empat orang meninggal.
Kasus itu secara resmi dinyatakan sebagai kebakaran akibat korsleting.
Tidak pernah ada hubungan dengan Pratama Group.
Setidaknya itulah yang dipercaya publik.
Rendy menatap layar.
Di dalam folder terdapat video.
Rekaman percakapan.
Transfer dana.
Pesan antara dirinya, Dion, dan seorang kontraktor bernama Bagas.
Ada satu file yang membuat tangannya membeku.
Audio.
Rendy menekan tombol putar.
Suara dirinya sendiri terdengar.
“Yang penting mereka pergi. Kalau perlu bikin mereka takut sampai nggak berani kembali.”
Suara Bagas menjawab.
“Kalau ada korban?”
Lalu suara Rendy.
“Pastikan nggak ada hubungan ke perusahaan.”
Rendy menutup laptop dengan keras.
Napasnya memburu.
“Aku nggak pernah suruh mereka membakar rumah.”
Pak Hendra menatapnya tajam.
“Tapi kamu menciptakan keadaan yang memungkinkan itu terjadi.”
“Ayah juga tahu semuanya!”
“Dan Ayah yang membersihkannya.”
Rendy menatap ayahnya dengan wajah tidak percaya.
“Apa?”
Pak Hendra berjalan ke jendela.
“Kalau kasus itu terbuka tujuh tahun lalu, perusahaan hancur. Ribuan karyawan kehilangan pekerjaan. Jadi Ayah memastikan polisi menerima laporan yang benar.”
“Laporan palsu.”
“Laporan yang menyelamatkan perusahaan.”
Rendy menggeleng pelan.
Kemudian ponselnya bergetar.
Satu pesan baru.
Nomor tak dikenal yang sama.
Sudah dibuka?
Rendy langsung menelepon nomor itu.
Kali ini seseorang mengangkat.
“Siapa kamu?”
Tidak ada jawaban.
“Siapa?!”
Kemudian terdengar suara perempuan.
Tenang.
Dingin.
Dan sangat dikenalnya.
“Maya.”
Rendy terasa kehilangan keseimbangan.
“Kamu tahu tentang itu?”
“Aku tahu lebih banyak daripada yang kamu bayangkan.”
“Kamu dapat file itu dari siapa?”
Maya tidak menjawab.

Rendy membentak.
“Dari Dion?”
“Dion hanya menyimpan salinannya.”
“Jadi siapa?”
“Korban.”
Rendy terdiam.
Di ujung telepon, suara Maya tetap stabil.
“Tujuh tahun lalu, salah satu keluarga yang kehilangan rumah adalah keluarga Pak Rahman.”
Nama itu terasa samar di ingatan Rendy.
Maya melanjutkan.
“Anaknya, Arif Rahman, bekerja sebagai staf keuangan di salah satu anak perusahaan Pratama Group.”
Rendy mulai mengingat.
Seorang pegawai muda yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu.
“Arif menemukan transaksi pembayaran ke perusahaan Bagas.”
Rendy memejamkan mata.
“Dia mencoba mengumpulkan bukti. Sebelum meninggal, dia menitipkan sebagian dokumen kepada seseorang.”
“Siapa?”
“Dion.”
Rendy mencengkeram meja.
“Kenapa Dion nggak pernah bilang?”
“Karena dia takut.”
Maya berhenti sebentar.
“Dan karena dia merasa berutang kepada keluargamu. Ayahmu membiayai kuliahnya.”
Rendy menoleh kepada Pak Hendra.
Lelaki tua itu tidak menyangkal.
“Lalu kamu tahu dari mana?”
Kali ini Maya terdiam beberapa detik.
“Dari ibuku.”
Rendy mengernyit.
“Apa hubungannya dengan ibumu?”
“Dana wali amanat yang membeli mansion Menteng bukan satu-satunya peninggalan ibuku.”
Maya menarik napas.
“Ibuku pernah menjadi komisaris di perusahaan investasi yang mendanai proyek kawasan itu. Setelah kebakaran, ia mulai curiga ketika nilai tanah tiba-tiba turun dan kemudian dibeli perusahaan afiliasi Pratama Group dengan harga sangat murah.”
Rendy merasa seluruh tubuhnya dingin.
“Jadi selama ini…”
“Selama ini keluargaku tahu ada sesuatu yang tidak beres.”
“Kenapa kamu menikah denganku kalau kamu tahu?”
“Karena waktu aku menikah denganmu, aku belum tahu.”
Suara Maya berubah.
Untuk pertama kalinya terdengar luka di sana.
“Aku baru menemukan dokumen ibu tiga tahun lalu.”
Rendy menutup mata.
Tiga tahun.
Berarti selama tiga tahun Maya hidup bersamanya sambil mengetahui rahasia itu.
“Kenapa kamu diam?”
“Karena aku masih berharap aku salah.”
Maya terdengar menahan emosi.
“Aku melihat kamu dengan Kenzie. Aku melihat kamu pulang, makan bersama kami, tertawa seolah kamu manusia yang tidak pernah menghancurkan hidup siapa pun.”
Rendy duduk pelan.
“Jadi semua ini balas dendam?”
“Awalnya tidak.”
Maya menjawab cepat.
“Aku hanya ingin memastikan kebenaran.”
“Lalu?”
“Lalu aku menemukan Siska.”
Rendy membisu.
“Bukan perselingkuhanmu yang membuatku pergi, Rendy.”
Nada Maya justru menjadi sangat tenang.
“Perselingkuhan itu hanya membuatku berhenti mencari alasan untuk tetap tinggal.”
Rendy menggigit rahangnya.
“Kamu ambil anakku.”
“Kenzie bukan aset perusahaan.”
“Dia anakku.”
“Dan kamu akan tetap punya hak bertemu dengannya sesuai keputusan pengadilan. Aku tidak akan menggunakan anak kita untuk menghukummu.”
Rendy tidak bisa menjawab.
Kalimat itu justru terasa seperti tamparan.
Maya masih berbicara.
“Yang aku ambil hanya hal-hal yang memang milikku.”
“Rumah.”
“Dibeli dana keluargaku.”
“Saham.”
“Aku membelinya secara legal.”
“Perusahaan itu milik keluargaku.”
“Perusahaan publik tidak bekerja berdasarkan perasaanmu.”
Rendy berdiri lagi.
“Kamu mau menjatuhkan aku.”
“Aku ingin kamu bertanggung jawab.”
“Apa yang kamu lakukan dengan file itu?”
Sunyi panjang.
Maya akhirnya menjawab.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
Rendy mengernyit.
“Apa maksudmu?”
“Aku hanya memastikan kamu menemukan salinannya.”
“Lalu file aslinya?”
“Bukan di tanganku.”
Jantung Rendy berdegup keras.
“Di mana?”
“Di tangan orang yang selama ini kamu anggap paling bisa kamu percaya.”
Sambungan terputus.
Rendy langsung menatap ayahnya.
Pak Hendra juga tampak pucat.
“Dion.”
Rendy menekan nomor Dion.
Tidak aktif.
Sekali lagi.
Tetap tidak aktif.
Kemudian televisi kecil di sudut ruang kerja mendadak menyala otomatis.
Pak Hendra menoleh.
Breaking news muncul di layar.
Otoritas Jasa Keuangan sedang melakukan pemeriksaan mendadak terhadap beberapa transaksi PT Pratama Group.
Rendy mendekat.
Presenter melanjutkan.
Dalam perkembangan terpisah, Kepolisian Daerah Metro Jaya juga mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima bukti baru terkait kasus kebakaran kawasan pesisir Tangerang tujuh tahun lalu yang menewaskan empat orang.
Wajah Rendy menjadi putih.
“Tidak.”
Pak Hendra meraih remote.
Tangan lelaki tua itu gemetar.
Presenter terus berbicara.
Sumber internal menyebut bukti tersebut diserahkan langsung oleh mantan pejabat senior Pratama Group yang meminta perlindungan saksi.
Rendy membeku.
“Mantan pejabat?”
Pak Hendra menatap layar.
Kemudian ponsel Rendy menerima pesan masuk.
Bukan dari Maya.
Dari Dion.
Saya minta maaf, Pak.
Saya seharusnya bicara tujuh tahun lalu.
Saya terlalu takut kehilangan pekerjaan dan terlalu berutang kepada keluarga Bapak.
Tapi setelah Arif meninggal, saya berjanji suatu hari akan memperbaiki kesalahan saya.
Rendy membaca pesan berikutnya.
Bu Maya tidak pernah meminta saya menyerahkan bukti kepada polisi.
Itu keputusan saya sendiri.
Rendy langsung menelepon.
Nomor Dion sudah tidak aktif.
Pak Hendra menjatuhkan tubuh ke kursi.
“Kita masih bisa menangani ini.”
Rendy menatap ayahnya.
“Apa?”
“Kita punya pengacara. Kita punya koneksi. Kita cari Dion.”
Rendy tidak menjawab.
Pak Hendra berdiri.
“Dengar Ayah. Jangan panik. Kasus seperti ini bisa diatur.”
Kalimat itu terasa begitu familiar.
Diatur.
Dibersihkan.
Dikubur.
Selama bertahun-tahun, itulah cara keluarga Pratama bertahan.
Kemudian Rendy teringat sesuatu.
Siska.
Ia langsung menghubungi perempuan itu.
Tidak dijawab.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Akhirnya sebuah pesan masuk.
Aku rasa hubungan kita selesai.
Rendy menatap layar tidak percaya.
Ia menelepon lagi.
Siska menolak panggilan.
Kemudian pesan kedua muncul.
Dan satu hal lagi.
Aku tidak hamil.
Rendy berdiri kaku.
Tangannya hampir menjatuhkan ponsel.
Apa?
Balasan Siska datang.
Aku sudah bilang ke Dion dari awal. Tes kehamilan itu milik sepupuku.
Aku cuma perlu memastikan kamu cukup percaya padaku untuk terus menggunakan kartu perusahaan.
Rendy merasa mual.
Pesan berikutnya membuat lututnya lemas.
Terima kasih untuk tasnya.
Rendy membuka aplikasi bank perusahaan.
Beberapa transaksi mencurigakan muncul.
Ratusan juta.
Kemudian miliaran.
Sebagian melalui kartu perusahaan.
Sebagian melalui vendor fiktif.
Dion ternyata sudah menandai semua transaksi itu sejak dua bulan sebelumnya.
Bukti penyalahgunaan dana perusahaan.
Bukti yang mencantumkan tanda tangan digital Rendy.
Pak Hendra membaca layar dari belakang.
“Kamu pakai uang perusahaan buat perempuan itu?”
Rendy menoleh.
Untuk pertama kalinya, ada ketakutan nyata di mata ayahnya.
Bukan takut kehilangan anak.
Bukan takut keluarganya hancur.
Takut kehilangan perusahaan.
Rendy tertawa kecil.
Suaranya kosong.
Tiba-tiba ia mengerti.
Maya tidak pernah membuat jebakan.
Ia hanya berhenti menutup lubang-lubang yang selama ini Rendy gali sendiri.
Perselingkuhan.
Kesombongan.
Penyalahgunaan uang perusahaan.
Rahasia proyek lama.
Semua sudah ada sebelum Maya bergerak.
Maya hanya menyingkir.
Dan ketika ia menyingkir, seluruh bangunan yang selama ini berdiri karena orang lain terus menyangga Rendy mulai roboh satu per satu.
Dua minggu kemudian, rapat luar biasa pemegang saham digelar.
Maya hadir melalui konferensi video.
Tidak ada ekspresi kemenangan di wajahnya.
Dengan kepemilikan dua puluh sembilan persen saham dan dukungan beberapa investor institusi, ia mengajukan pembentukan komite independen untuk menyelidiki transaksi lama dan penyalahgunaan dana perusahaan.
Usulan itu lolos.
Rendy diberhentikan sementara dari jabatan direktur utama.
Pak Hendra mengundurkan diri dari komisaris utama tiga hari kemudian dengan alasan kesehatan.
Siska menghilang dari Jakarta.
Belakangan diketahui ia telah menggunakan sebagian uangnya untuk pindah ke luar negeri.
Dion masuk program perlindungan saksi.
Kasus kebakaran lama dibuka kembali.
Untuk pertama kalinya, keluarga korban menerima kesempatan nyata untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
Empat bulan setelah semuanya runtuh, Rendy duduk di ruang kunjungan sebuah kantor pengacara.
Ia lebih kurus.
Rambutnya tidak serapi dulu.
Di atas meja hanya ada secangkir kopi yang sudah dingin.
Pintu terbuka.
Maya masuk.
Sendirian.
Rendy langsung berdiri.
“Kenzie?”
“Di Surabaya. Sama ibuku.”
Rendy mengangguk.
Mereka duduk berhadapan.
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Akhirnya Rendy bertanya.
“Kamu bahagia?”
Maya menatapnya.
“Belum.”
Jawaban itu mengejutkan.
“Aku kira kamu datang untuk lihat aku hancur.”
“Aku datang karena pengacara bilang kamu mau bicara sebelum sidang.”
Rendy tersenyum pahit.
“Aku kehilangan semuanya.”
Maya tidak menjawab.
“Rumah. Perusahaan. Siska. Ayah hampir nggak mau bicara sama aku.”
Ia menatap Maya.
“Anakku juga jauh.”
“Rumah itu bukan milikmu.”
Maya berkata pelan.
“Perusahaan juga bukan milik satu orang.”
Rendy menunduk.
“Dan Siska nggak pernah mencintai aku.”
Maya tetap diam.
Rendy mengusap wajahnya.
“Aku terus mikir kamu menghancurkan hidupku.”
Ia tertawa kecil.
“Ternyata kamu bahkan nggak perlu melakukan itu.”
Maya menatapnya lama.
“Tidak.”
“Aku melakukannya sendiri.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Rendy mengucapkan sesuatu tanpa menyalahkan siapa pun.
Maya berdiri.
Sebelum pergi, ia meletakkan sebuah amplop di atas meja.
Rendy menatapnya.
“Apa itu?”
“Surat dari keluarga Pak Rahman.”
Rendy tidak berani menyentuhnya.
“Mereka tahu kamu mungkin akan dihukum.”
Maya berjalan menuju pintu.
“Tapi mereka tetap ingin kamu membaca itu.”
Setelah Maya pergi, Rendy membuka amplop.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.
Tidak ada makian.
Tidak ada ancaman.
Hanya satu kalimat.
Kami tidak membutuhkan hidupmu hancur. Kami hanya ingin hidup kami yang hancur dulu akhirnya diakui.
Rendy membaca kalimat itu berkali-kali.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menangis tanpa ada seorang pun yang melihat.
Enam bulan kemudian, pengadilan menjatuhkan putusan perceraian.
Hak pengasuhan utama Kenzie berada pada Maya, tetapi Rendy mendapatkan jadwal kunjungan teratur selama proses hukumnya memungkinkan.
Maya tidak pernah mengganti nama keluarga Kenzie.
Ia juga tidak pernah mengajarkan anak itu membenci ayahnya.
Ketika Kenzie bertanya kenapa ayahnya tidak tinggal bersama mereka lagi, Maya hanya menjawab bahwa orang dewasa terkadang membuat keputusan buruk dan harus belajar bertanggung jawab atas akibatnya.
Sementara itu, Pratama Group tetap berdiri.
Namun untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, nama keluarga Pratama tidak lagi otomatis menentukan siapa yang memegang kekuasaan.
Sebuah dewan independen dibentuk.
Dana kompensasi untuk keluarga korban proyek lama disiapkan.
Dan sebagian saham Maya kemudian dimasukkan ke dalam yayasan yang mendanai bantuan hukum bagi warga yang berhadapan dengan perusahaan besar.
Banyak orang mengira itulah balas dendam terakhirnya.
Mereka salah.
Karena bertahun-tahun kemudian, ketika seorang wartawan bertanya kepada Maya apa yang paling memuaskan dari kejatuhan mantan suaminya, Maya hanya menggeleng.
“Aku tidak pernah ingin melihat dia jatuh.”
“Lalu kenapa Anda melakukan semua itu?”
Maya terdiam sejenak.
Kemudian ia menjawab.
“Karena selama terlalu lama, dia percaya mencintai seseorang berarti orang itu harus bergantung kepadanya.”
Maya menatap keluar jendela.
“Aku hanya berhenti bergantung.”
Dan mungkin itulah hal yang paling tidak pernah diperhitungkan Rendy.
Bukan rumah senilai Rp320 miliar.
Bukan warisan Rp820 miliar.
Bukan dua puluh sembilan persen saham perusahaan.
Bukan pula bukti yang akhirnya menyeret masa lalunya ke pengadilan.
Melainkan kenyataan sederhana bahwa seseorang yang selama ini ia anggap lemah ternyata tidak pernah lemah.
Maya hanya terlalu lama memilih diam.
Dan ketika akhirnya ia berjalan pergi, Rendy baru menyadari bahwa kekuasaan yang paling mudah hilang adalah kekuasaan yang dibangun dari keyakinan bahwa orang lain tidak akan pernah berani meninggalkan kita.
