Saat menangkap belut, bos dinginku menyuruhku segera kembali. kukira akan dipecat—Ternyata besok paginya, dia mengunci pintu dan mengatakan sesuatu yang membuatku terpaku.

“Ya.”

Bara mengetuk meja sekali dengan ujung jarinya.

“Itu juga salah satu alasan saya menyukaimu.”

Aku membeku.

Untuk beberapa detik, suara pendingin ruangan terdengar lebih keras daripada napasku sendiri.

Aku menatapnya, lalu menunjuk diriku sendiri dengan bodoh.

“Menyukai saya sebagai… karyawan?”

Bara tidak langsung menjawab.

Tatapannya turun sebentar ke bakpao yang masih kugenggam sejak dari luar, kemudian kembali ke wajahku.

“Kamu datang ke ruangan direktur utama sambil membawa sarapan?”

Aku tersentak dan buru-buru menyembunyikan bakpao itu di belakang map.

“Maaf, Pak. Saya belum sempat makan.”

“Duduk.”

“Saya bisa makan nanti.”

“Kirana.”

Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup membuatku langsung duduk.

Bara membuka laci meja, mengambil sebuah kotak makan kecil, lalu mendorongnya ke arahku.

“Habiskan.”

Aku menatap kotak itu.

“Apa ini?”

“Sarapan.”

“Bapak sudah makan?”

“Belum.”

“Kalau begitu Bapak saja.”

“Saya menyuruhmu makan, bukan bernegosiasi.”

Aku membuka tutupnya pelan. Ada dua roti isi, buah potong, dan susu kedelai yang biasa kubeli di minimarket dekat apartemen.

Aku menatapnya curiga.

“Bapak beli ini?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Saya menyuruh orang membelinya.”

“Kenapa?”

Bara menghela napas seperti sedang menghadapi pertanyaan paling melelahkan di dunia.

“Karena saya tahu kamu akan mengejar penerbangan pagi, lalu langsung ke kantor tanpa sarapan.”

Jantungku mendadak berdebar aneh.

Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, pintu ruangan terbuka.

Seorang perempuan tinggi dengan rambut hitam sebahu masuk tanpa mengetuk.

Ia mengenakan blazer krem dan celana panjang putih. Wajahnya cantik dengan cara yang membuat orang otomatis menoleh.

“Nah, akhirnya kembali juga.”

Aku langsung tahu siapa dia.

Nadine Wicaksono.

Tatapan Nadine berpindah dari Bara kepadaku, lalu ke kotak sarapan di meja.

Senyumnya melebar.

“Jadi ini Kirana.”

Aku berdiri.

“Selamat pagi, Mbak.”

“Jangan formal begitu. Panggil Nadine saja.”

Ia menjabat tanganku dengan hangat, sangat berbeda dengan bayanganku setelah mendengar gosip tadi.

Kemudian ia menoleh kepada Bara.

“Kamu menyuruh dia pulang dari cuti?”

Bara menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Saya membutuhkan asistennya.”

Nadine terkekeh.

“Kamu membutuhkan asistennya atau orangnya?”

Aku hampir menjatuhkan map.

Bara menatap Nadine dingin.

“Nadine.”

“Apa? Aku cuma bertanya.”

Aku buru-buru berdiri.

“Kalau begitu saya kembali ke meja dulu.”

“Tidak.”

Bara dan Nadine mengatakan itu hampir bersamaan.

Aku berhenti di tempat.

Nadine menyilangkan tangan.

“Saya datang justru karena ingin bicara dengan kamu, Kirana.”

“Dengan saya?”

“Ya.”

Ia menarik kursi di sebelahku lalu duduk santai.

“Aku dengar seisi kantor sedang membicarakan wajah kita.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Nadine memperhatikan wajahku beberapa saat, kemudian tertawa.

“Mirip dari mana?”

Aku ikut tertawa canggung.

“Katanya tipe wajah.”

“Kalau begitu separuh perempuan Jakarta tipe wajahnya juga sama.”

Bara memijat pelipisnya.

“Nadine, kamu datang ke kantor saya untuk membahas gosip?”

“Bukan.”

Wajah Nadine tiba-tiba berubah serius.

“Aku datang membawa berkas yang kamu minta.”

Ia mengeluarkan amplop dari tas.

Bara langsung mengambilnya.

Aku tidak berniat memperhatikan, tetapi ketika amplop terbuka, mataku sempat menangkap beberapa lembar dokumen transaksi dan nama perusahaan yang kukenal.

PT Raksa Investama.

Perusahaan itu sedang dalam proses negosiasi untuk membeli sebagian saham anak usaha Mahesa Group.

Aku pernah memeriksa dokumen mereka.

Ada sesuatu yang tidak cocok.

“Pak Bara.”

Tanganku spontan menunjuk lembar pertama.

“Boleh saya lihat?”

Bara menyerahkannya tanpa bertanya.

Aku membacanya cepat.

Nomor registrasi, nama direksi, nilai investasi, alamat perusahaan.

Kemudian aku membuka laptop dan memeriksa salinan data yang kusimpan.

“Ini palsu.”

Nadine mengerutkan kening.

“Apa?”

“Dokumen ini sudah diubah.”

Aku memutar layar.

“Di versi yang mereka kirim tiga minggu lalu, pemegang saham pengendali Raksa Investama tercatat atas nama perusahaan Singapura. Di sini diganti menjadi yayasan investasi domestik.”

Bara menatap kedua dokumen itu.

“Kenapa mereka mengubahnya?”

“Untuk menyembunyikan beneficial owner.”

Aku memperbesar satu bagian.

“Dan ini lebih aneh. Nomor akta perubahannya sama dengan nomor akta perusahaan lain.”

Wajah Bara seketika mengeras.

“Nadine, kamu dapat dokumen itu dari mana?”

“Dari ayahku.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku perlahan menatap Nadine.

Keluarga Wicaksono memang mitra lama keluarga Mahesa.

“Pak Wicaksono terlibat?”

“Aku belum tahu.”

Nadine menatap Bara.

“Itulah alasan aku pulang ke Indonesia.”

Sebelum pembicaraan berlanjut, ponsel Bara bergetar.

Ia melihat layar dan ekspresinya berubah.

“Rapat direksi dimajukan.”

“Sekarang?”

“Sepuluh menit lagi.”

Aku langsung berdiri.

“Saya siapkan dokumennya.”

Bara juga berdiri.

“Kirana.”

Aku menoleh.

“Jangan tinggalkan ruangan rapat sampai saya bilang.”

Entah kenapa, kalimat itu membuat tengkukku meremang.

Sepuluh menit kemudian kami duduk di ruang rapat lantai tiga puluh dua.

Semua direktur hadir.

Termasuk Surya Mahesa, paman Bara sekaligus komisaris perusahaan.

Aku baru beberapa kali bertemu dengannya.

Pria itu selalu tersenyum ramah, tetapi matanya tidak pernah ikut tersenyum.

“Bara,” katanya, “kita sudah menunda investasi Raksa terlalu lama.”

“Karena due diligence belum selesai.”

“Tidak ada perusahaan yang sempurna.”

“Tidak berarti kita menutup mata.”

Surya tertawa kecil.

“Kadang saya pikir kamu terlalu banyak mendengar asistennya.”

Beberapa orang menoleh kepadaku.

Aku diam.

Surya melanjutkan.

“Seorang direktur utama seharusnya berani mengambil keputusan, bukan menunggu seorang asisten memeriksa setiap angka.”

Bara meletakkan penanya.

“Kalau seorang asisten menemukan kesalahan yang tidak ditemukan sepuluh eksekutif senior, bukankah justru seharusnya kita mendengarnya?”

Wajah Surya berubah tipis.

Aku membuka berkas.

“Mohon izin.”

Semua mata beralih kepadaku.

Aku menjelaskan ketidaksesuaian dokumen Raksa satu per satu.

Ketika menyebut nomor akta ganda, direktur legal langsung berdiri dan memeriksa.

“Benar.”

Ruangan mulai gaduh.

Surya tiba-tiba memotong.

“Itu hanya kesalahan administrasi.”

“Kalau hanya satu, mungkin.”

Aku membuka dokumen lain.

“Tapi ada enam.”

Senyum Surya menghilang.

Aku menunjukkan aliran dana yang sebelumnya kupikir hanya transaksi biasa.

“Selain itu, nilai aset yang diajukan Raksa dilebihkan hampir empat puluh persen.”

Seseorang mengumpat pelan.

Bara menatap Surya.

“Masih mau dilanjutkan?”

Surya tidak menjawab.

Rapat ditunda.

Begitu semua orang keluar, lututku terasa lemas.

Bara berdiri di dekat jendela.

“Pak.”

Ia tidak menoleh.

“Kamu tahu kenapa saya menyuruhmu pulang lebih cepat?”

“Karena berkas ini?”

“Sebagian.”

Aku menatap punggungnya.

“Sebagian lagi?”

Ia berbalik.

“Kemarin seseorang masuk ke meja kerjamu.”

Darahku serasa berhenti mengalir.

“Apa?”

“Kamera keamanan merekam seseorang mencoba membuka komputer dan laci dokumenmu.”

“Siapa?”

“Belum diketahui. Wajahnya tertutup.”

Aku langsung teringat kartu akses, hard disk, dan seluruh data proyek yang kusimpan.

“Jadi Bapak menyuruh saya pulang karena takut ada kebocoran?”

“Ya.”

Jawaban itu seharusnya membuatku lega.

Entah kenapa aku malah merasa sedikit kecewa.

Aku tersenyum tipis.

“Baik. Berarti memang urusan kerja.”

Bara memperhatikanku.

“Kirana.”

“Ya?”

“Kamu kecewa?”

Aku langsung menggeleng terlalu cepat.

“Tidak.”

“Kamu buruk sekali kalau berbohong.”

Aku merapikan dokumen untuk menghindari tatapannya.

“Saya cuma lelah.”

“Kemarin adikmu bilang saya calon kakak ipar.”

Tanganku berhenti.

Wajahku seketika panas.

“Pak, tolong lupakan itu.”

“Saya tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena sejak kemarin saya memikirkannya.”

Aku menatapnya.

Bara berjalan mendekat.

Jarak di antara kami semakin sempit.

“Tiga tahun ini saya selalu tahu jadwalmu, makananmu, penerbanganmu, bahkan kapan kamu mulai sakit kepala hanya dari cara kamu mengetuk meja.”

Aku tidak bergerak.

“Tapi kemarin, untuk pertama kalinya, saya tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.”

Ia tersenyum sangat tipis.

“Lalu ketika telepon diangkat seorang laki-laki, dia bertanya siapa laki-laki yang meneleponmu malam-malam.”

“Dia adik saya.”

“Saya baru tahu setelah dia memanggilmu Kakak.”

Aku memerlukan beberapa detik untuk memahami maksudnya.

“Bapak… cemburu?”

Bara menghela napas.

“Sayangnya, iya.”

Aku hampir tidak percaya.

Pria yang pernah memecat seseorang karena salah menggunakan font presentasi sedang berdiri di depanku dan mengaku cemburu kepada adikku.

Namun sebelum aku sempat bereaksi, terdengar ketukan keras di pintu.

Direktur legal masuk tergesa-gesa.

“Pak Bara, ada masalah.”

Ia menyerahkan tablet.

“Raksa menarik proposal investasi.”

“Bagus.”

“Bukan cuma itu.”

Ia menelan ludah.

“Mereka juga mengirim surat somasi kepada Mahesa Group dan menyatakan kebocoran data mereka berasal dari Bu Kirana.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Dan ada bukti transfer.”

Tablet diserahkan kepadaku.

Di layar terpampang rekening atas namaku.

Ada transfer lima ratus juta rupiah dari perusahaan konsultasi yang terhubung dengan Raksa.

Tanganku dingin.

“Saya tidak pernah menerima uang ini.”

Bara mengambil tablet.

“Rekeningnya benar?”

Aku melihat nomor rekening.

“Benar.”

“Tapi rekening itu hampir tidak pernah saya pakai.”

Direktur legal tampak pucat.

“Uangnya masuk kemarin malam.”

Aku baru menyadari sesuatu.

ATM cadangan.

Aku memberikannya kepada Galen.

Aku langsung menelepon adikku.

Tidak aktif.

Sekali.

Dua kali.

Tetap tidak aktif.

Kepalaku terasa ringan.

“Galen.”

Bara meraih lenganku.

“Tenang.”

“ATM rekening ini ada pada adik saya.”

Wajahnya berubah.

Kami memeriksa transaksi lebih lanjut.

Lima ratus juta masuk pukul 22.14.

Lalu pukul 22.19, hampir seluruh uang dipindahkan ke rekening lain.

Nama penerima membuatku hampir menjatuhkan ponsel.

Surya Mahesa.

Bara menatap layar lama sekali.

Kemudian tersenyum dingin.

“Ketemu.”

Malam itu, tim audit internal dan kepolisian mulai bergerak.

Ternyata rekeningku dipakai sebagai rekening perantara untuk membuat seolah-olah aku menerima suap, lalu uang itu dialihkan kepada Surya.

Seseorang memang mengincar akses ke komputerku karena ingin mencuri dokumen yang bisa menutupi transaksi mereka.

Namun rencana itu gagal karena aku pulang lebih cepat.

Yang paling mengejutkan, Galen ternyata tidak terlibat.

Ia meneleponku sekitar tengah malam.

“Kak, maaf. Tadi ponselku mati.”

“ATM yang kuberikan?”

“Ada di aku.”

“Kamu pakai?”

“Belum.”

“PIN?”

Galen terdiam.

“Bukannya Kakak pernah tulis PIN di belakang kartu?”

Aku menutup mata.

Kebiasaan bodoh.

Seseorang kemungkinan memotret kartu itu ketika aku masih di rumah, lalu menggunakan akses digital melalui data rekening yang bocor dari internal perusahaan.

Dua hari kemudian, Surya ditangkap setelah tim audit menemukan aliran dana, komunikasi rahasia, serta bukti bahwa dialah pihak yang mendorong Mahesa Group membeli saham Raksa dengan valuasi palsu.

Kasus itu mengguncang perusahaan.

Dan selama dua hari itu, Bara hampir tidak meninggalkanku.

Bukan sebagai bos.

Lebih seperti penjaga.

Pada pagi ketiga setelah semuanya mereda, ia memanggilku ke ruangannya.

Begitu aku masuk, ia menutup pintu.

Lalu menguncinya.

Aku menelan ludah.

“Pak?”

Bara berjalan ke meja.

Ia mengeluarkan sebuah amplop.

Jantungku langsung jatuh.

“Surat pemecatan?”

Ia menatapku tanpa ekspresi.

“Buka.”

Tanganku sedikit gemetar saat menarik isi amplop.

Bukan surat pemecatan.

Itu surat penawaran jabatan.

Chief of Staff Direktur Utama.

Gajinya hampir dua kali lipat.

Aku membaca angka itu tiga kali.

“Pak Bara.”

“Ya.”

“Ini…”

“Promosi.”

“Kenapa pintunya dikunci?”

Ia diam beberapa detik.

Kemudian mengambil selembar kertas lain dari laci.

Kali ini bukan dokumen perusahaan.

Aku menatapnya.

“Apa itu?”

Bara berjalan ke depanku.

“Surat pengunduran diri saya dari satu posisi.”

Aku mengerutkan kening.

“Posisi apa?”

“Bos yang menyukaimu diam-diam.”

Aku terpaku.

Ia menyerahkan kertas itu.

Kosong.

Hanya ada satu kalimat tulisan tangan.

Saya tidak ingin lagi hanya menjadi atasan Kirana.

Aku mengangkat kepala.

Wajah Bara masih tenang, tetapi telinganya merah.

Untuk pertama kalinya selama tiga tahun, aku melihat Bara Mahesa gugup.

“Saya tahu hubungan kerja membuat semuanya rumit,” katanya. “Karena itu promosi itu tetap berlaku apa pun jawabanmu. Tidak ada tekanan. Tidak ada konsekuensi.”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Ia melanjutkan.

“Tapi kalau kamu bertanya apa alasan sebenarnya saya menyuruhmu pulang malam itu…”

Ia menarik napas.

“Saya memang membutuhkanmu untuk menyelamatkan perusahaan.”

Dadaku terasa sesak.

“Dan?”

“Dan saya sadar tiga puluh koma lima jam tanpa melihatmu terasa terlalu lama.”

Aku tertawa pelan.

Air mataku malah muncul.

“Bapak benar-benar menghitung?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Saya menghitung tiga puluh satu jam.”

Aku memukul lengannya dengan dokumen.

Bara tertawa.

Benar-benar tertawa.

Bukan senyum tipis.

Bukan ekspresi sopan.

Tawa yang selama tiga tahun hampir tidak pernah kudengar.

Aku menatap pria di depanku dan tiba-tiba menyadari betapa aneh hidup ini.

Aku dulu bertahan di perusahaan hanya karena gaji empat orang digabung menjadi satu.

Lalu aku bertahan karena merasa dibutuhkan.

Tanpa kusadari, di antara ribuan laporan, puluhan penerbangan, ratusan rapat, dan secangkir kopi tanpa gula setiap pagi, aku mulai menemukan seseorang yang juga membutuhkan keberadaanku bukan hanya sebagai pekerja.

Aku mengusap sudut mata.

“Pak Bara.”

“Ya?”

“Kalau kita benar-benar mencoba hubungan ini, saya punya satu syarat.”

“Apa?”

“Di luar kantor, jangan panggil saya Kirana dengan nada seperti sedang memanggil orang ke ruang rapat.”

Ia mengangguk serius.

“Baik.”

“Dan satu lagi.”

“Kamu bilang satu.”

“Saya berubah pikiran.”

Bara menghela napas.

“Apa lagi?”

Aku tersenyum.

“Kalau Galen suatu hari memanggil Bapak calon kakak ipar lagi…”

Bara menatapku.

“Ya?”

“Jangan matikan telepon.”

Sudut bibirnya naik.

“Kali ini saya akan jawab.”

“Apa?”

Ia mendekat, lalu berkata pelan.

“Bukan calon.”

Aku langsung memukul lengannya lagi.

Dan untuk pertama kalinya, pintu ruang direktur utama yang terkunci tidak membuatku merasa takut kehilangan pekerjaan.

Justru di balik pintu itu, sesuatu yang selama tiga tahun kami sembunyikan akhirnya mendapat kesempatan untuk dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang