BARU 3 JAM MENGUBURKAN SUAMI, KELUARGA BESARNYA DATANG MEREBUT PAKSA MOBIL MEWAH DAN RUMAHNYA—TANPA TAHU 4 KAMERA TERSEMBUNYI MEREKAM SETIAP KEJAHATAN MEREKA!

Tiga jam setelah pemakaman Dimas, Ratna mengira hal terburuk yang bisa terjadi hari itu sudah selesai.

Ia salah.

Yang baru saja direbut keluarganya bukan sekadar sebuah Mercedes. Dan dokumen yang ditinggalkan Dimas menunjukkan bahwa kematiannya mungkin berkaitan dengan sesuatu yang jauh lebih gelap daripada kecelakaan biasa.

Ratna duduk membeku di depan layar komputer. Bibir kirinya masih terasa perih akibat tamparan Surya, tetapi rasa sakit itu seolah menghilang ketika ia membaca laporan yang disusun Dimas.

Nama Surya muncul berulang kali dalam transaksi sebuah perusahaan bernama PT Arunika Prima Sentosa.

Ratna mengenal perusahaan itu.

Delapan tahun lalu, Surya pernah mengatakan bahwa bisnis tersebut gagal dan meninggalkan utang hampir dua miliar rupiah. Saat itu Ratna baru menikah dengan Dimas. Karena kasihan melihat ayahnya didatangi penagih utang, Ratna menjual apartemen kecil yang dibelinya sebelum menikah.

Dimas bahkan ikut membantu.

Namun menurut dokumen di layar, perusahaan itu tidak pernah benar-benar bangkrut.

Surya hanya memindahkan asetnya.

Lebih mengejutkan lagi, sebagian transaksi menggunakan identitas Ratna.

Ada pinjaman, pembelian aset, hingga surat kuasa dengan tanda tangan yang menyerupai tanda tangannya.

Ratna memperbesar salah satu dokumen.

“Itu bukan tanda tanganku.”

Suaranya bergetar.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Pesan dari nomor Dimas.

Ratna hampir menjatuhkan ponsel.

Dimas sudah meninggal.

Nomornya seharusnya tidak mungkin mengirim apa pun.

Dengan tangan dingin, Ratna membuka pesan tersebut.

Pesannya singkat.

“Jika pesan ini terkirim, berarti aku gagal pulang. Buka surel yang sudah kujadwalkan. Kata sandinya nama tempat kita pertama kali bertemu.”

Ratna menutup mulutnya.

Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh.

Dimas rupanya telah menjadwalkan pesan otomatis.

Ratna membuka surel suaminya.

Kata sandinya langsung ia ingat.

Senayan.

Di dalam kotak masuk terdapat sebuah surat yang dijadwalkan terkirim malam itu.

Ratna membacanya perlahan.

“Ratna, maaf karena aku menyembunyikan semua ini. Aku tahu kamu akan marah. Tapi aku lebih takut kalau mereka menyakitimu sebelum aku punya bukti cukup. Ayahmu sudah lama menggunakan identitasmu untuk menutupi transaksi perusahaan. Fikri membantu memindahkan uang. Ibumu mengetahui sebagian transaksi. Aku belum yakin sejauh mana Nadia terlibat.”

Ratna berhenti membaca.

Dadanya seperti dihantam sesuatu.

Kalimat berikutnya jauh lebih mengerikan.

“Tiga minggu terakhir seseorang mengikutiku. Dua hari lalu rem mobil terasa aneh. Besok aku akan membawa kendaraan ke bengkel resmi. Kalau sesuatu terjadi sebelum itu, jangan percaya kesimpulan pertama siapa pun.”

Ratna langsung berdiri.

Kursinya terdorong keras ke belakang.

Rem.

Dimas meninggal karena mobilnya kehilangan kendali di Tol Cipali.

Menurut polisi, dugaan awal adalah kecelakaan tunggal akibat jalan licin dan kecepatan tinggi.

Namun malam sebelum kecelakaan, Dimas mengatakan kepada Ratna bahwa ia merasa mobil perusahaan yang dipakainya “agak aneh”.

Ratna saat itu tidak memikirkannya.

Sekarang kalimat itu menghantam ingatannya.

Ia segera menelepon seseorang.

“Pak Armand?”

Armand adalah pengacara perusahaan Dimas sekaligus teman lama mereka.

“Ratna? Kamu baik-baik saja?”

“Tidak. Saya punya sesuatu yang harus Bapak lihat malam ini.”

Kurang dari satu jam kemudian, Armand tiba bersama seorang asistennya.

Ketika melihat luka di bibir Ratna, wajahnya langsung berubah.

“Siapa yang melakukan ini?”

“Ayah saya.”

Ratna menunjukkan rekaman kamera.

Armand menontonnya tanpa berkata apa-apa. Setelah selesai, ia meminta Ratna menyalin seluruh rekaman ke tiga tempat berbeda.

“Jangan cuma simpan di rumah.”

Ratna kemudian menunjukkan arsip Dimas.

Semakin lama membaca, ekspresi Armand semakin serius.

“Ratna, kita harus melaporkan pencurian mobil dan kekerasan ini sekarang. Untuk dokumen lainnya, saya perlu verifikasi. Tapi kalau semua ini asli, masalahnya jauh lebih besar.”

“Bagaimana dengan kecelakaan Dimas?”

Armand terdiam.

“Kita jangan membuat tuduhan tanpa bukti.”

“Saya tahu.”

Ratna menatap layar.

“Tapi saya juga tidak akan membiarkan mobil Dimas dimakamkan bersama kebenaran.”

Malam itu juga laporan polisi dibuat.

Ratna tidak memberi tahu keluarganya.

Ia sengaja membiarkan mereka percaya bahwa dirinya masih perempuan yang sama seperti dulu, perempuan yang selalu mengalah karena takut disebut anak durhaka.

Keesokan paginya, Fikri mengunggah foto Mercedes milik Dimas ke media sosial.

Ia berpose di depan sebuah kafe di Kemang.

Keterangan fotonya hanya dua kata.

“Rezeki baru.”

Ratna melihat unggahan itu tanpa emosi.

Armand justru tersenyum tipis.

“Bagus.”

“Bagus?”

“Dia baru saja menunjukkan lokasi barang yang kamu laporkan hilang.”

Siang harinya Mercedes tersebut ditemukan di parkiran sebuah pusat perbelanjaan. Fikri dibawa untuk dimintai keterangan.

Namun Surya langsung menghubungi Ratna.

“Kamu laporkan adikmu sendiri?”

Suara ayahnya menggelegar dari telepon.

Ratna menjawab tenang.

“Dia mengambil mobil tanpa izin.”

“Itu cuma mobil keluarga!”

“Bukan.”

Ratna berhenti sejenak.

“Itu mobil suami saya.”

Surya mengancam akan datang ke rumah.

Ratna justru menjawab, “Silakan.”

Jumat sore, tepat seperti ancaman sebelumnya, mereka benar-benar datang.

Surya, Linda dan Nadia.

Kali ini Fikri tidak ikut karena masih harus menjalani pemeriksaan.

Surya memukul pagar.

“Buka!”

Ratna membuka pintu setelah memastikan seluruh kamera aktif.

Armand berada di ruang kerja lantai dua bersama asistennya.

“Apa maumu?” tanya Surya.

Ratna hampir tertawa mendengarnya.

“Seharusnya saya yang bertanya.”

Surya masuk tanpa diundang.

“Keluarkan sertifikat rumah. Kita selesaikan semuanya hari ini.”

“Kenapa Ayah begitu menginginkan sertifikat rumah ini?”

“Karena kamu tidak bisa mengurus aset sebesar ini sendirian.”

Ratna menatap ayahnya.

“Lalu kenapa Ayah juga menginginkan dokumen Dimas?”

Surya terdiam sepersekian detik.

Itu cukup.

Ratna melihat kepanikan kecil di matanya.

“Kamu ngomong apa?”

“Dimas menyimpan banyak dokumen.”

Wajah Linda langsung pucat.

Nadia mengangkat kepala.

Ratna melanjutkan.

“Termasuk dokumen PT Arunika Prima Sentosa.”

Keheningan jatuh.

Surya tidak lagi terlihat marah.

Ia terlihat takut.

“Di mana dokumennya?”

“Kenapa Ayah peduli?”

“Ratna!”

Surya menerjang meja dan menarik laci.

Ratna mundur.

“Sedang cari apa?”

“Jangan main-main sama Ayah!”

Surya membuka laci berikutnya.

Kosong.

Lalu laci berikutnya.

Tetap kosong.

Ratna memperhatikannya.

Sekarang ia tahu.

Ayahnya memang datang untuk menghilangkan bukti.

“Sudah terlambat,” kata Ratna.

Surya berhenti.

“Semuanya sudah disalin.”

Wajah Surya berubah.

Ia berbalik dan berjalan cepat ke arah Ratna.

Namun sebelum tangannya menyentuh putrinya, Armand turun dari tangga.

“Cukup, Pak Surya.”

Surya terkejut.

Armand mengangkat ponselnya.

“Dan sebaiknya Bapak tidak melakukan sesuatu yang akan memperburuk posisi Bapak.”

Surya memandang Ratna dengan kebencian.

“Kamu memilih orang luar daripada keluargamu sendiri?”

Untuk pertama kalinya Ratna tidak merasa bersalah mendengar kalimat itu.

“Orang luar itu tidak pernah menampar saya tiga jam setelah saya menguburkan suami.”

Surya membeku.

Ratna melanjutkan.

“Orang luar itu juga tidak memalsukan tanda tangan saya.”

Linda mulai menangis.

“Ratna, Ibu bisa jelaskan.”

“Jelaskan apa?”

Linda menatap suaminya.

“Itu awalnya cuma untuk menyelamatkan usaha ayahmu.”

“Diam!” bentak Surya.

Ratna menatap ibunya.

“Ibu tahu?”

Linda tidak menjawab.

Tetapi diamnya sudah menjadi jawaban.

Tiba-tiba Nadia maju.

“Aku juga punya sesuatu.”

Semua orang menoleh.

Nadia mengeluarkan ponselnya.

Tangannya gemetar.

“Aku sebenarnya datang waktu pemakaman.”

Ratna mengernyit.

“Aku nggak masuk. Aku lihat dari jauh.”

Air mata Nadia jatuh.

“Ayah melarang kami datang. Katanya kalau kita datang, kita bisa ditanya macam-macam tentang Mas Dimas.”

Surya membentak, “Nadia!”

Namun Nadia justru berteriak balik.

“Cukup, Yah!”

Ratna belum pernah melihat adiknya melawan.

Nadia membuka sebuah rekaman suara.

Suara Fikri terdengar.

“Kalau mobil itu sudah nggak ada, polisi nggak bisa cek apa-apa lagi, kan?”

Kemudian suara Surya.

“Bukan Mercedes itu, bodoh. Mobil yang dipakai Dimas waktu kecelakaan sudah diamankan polisi.”

Ratna merasa darahnya berhenti mengalir.

Rekaman berlanjut.

Fikri bertanya lagi.

“Kalau bengkel ngomong soal selang rem gimana?”

Lalu suara Surya menjawab dengan kasar.

“Makanya aku bilang jangan sentuh apa pun lagi.”

Ratna memegang tepi meja.

Armand segera mengambil ponsel Nadia.

“Kapan ini direkam?”

“Malam sebelum pemakaman.”

“Kenapa kamu merekamnya?”

Nadia menangis.

“Karena aku takut.”

Ia menatap Ratna.

“Mas Dimas pernah menelepon aku dua minggu lalu. Dia bilang kalau terjadi sesuatu padanya, aku harus berani memilih mana keluarga dan mana kejahatan.”

Surya bergerak hendak merebut ponsel itu.

Armand menghalanginya.

Beberapa menit kemudian, dua petugas yang sebelumnya sudah dihubungi Armand tiba.

Surya tidak lagi berteriak.

Untuk pertama kalinya, pria yang sepanjang hidup Ratna selalu terlihat dominan itu kehilangan kendali.

Penyelidikan kemudian berkembang cepat.

Pemeriksaan kendaraan Dimas menemukan indikasi kerusakan yang tidak wajar pada sistem pengereman. Rekaman CCTV dari sebuah area parkir yang dikunjungi Dimas sehari sebelum kecelakaan menunjukkan Fikri berada di dekat kendaraan tersebut.

Namun penyelidikan juga mengungkap kejutan lain.

Fikri akhirnya mengaku bahwa Surya memang menyuruhnya mendekati mobil Dimas.

Tetapi ia bersikeras tidak merusak rem.

Ia hanya diminta mengambil sebuah flashdisk dari mobil.

Polisi kemudian menemukan rekaman lain.

Seorang mekanik bayaran ternyata memasuki area parkir beberapa jam setelah Fikri pergi.

Jejak pembayaran mengarah pada rekening perusahaan yang dikendalikan Surya.

Kasus yang semula dianggap kecelakaan berubah menjadi penyelidikan pidana.

Pada saat yang sama, dokumen Dimas membuka rangkaian dugaan pemalsuan, penyalahgunaan identitas dan penggelapan dana yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Linda akhirnya memberikan kesaksian.

Fikri juga mulai bekerja sama.

Surya ditahan.

Beberapa bulan kemudian, Ratna kembali ke makam Dimas.

Ia membawa setangkai mawar putih.

Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.

Ratna berjongkok dan menyentuh batu nisan suaminya.

“Aku akhirnya belajar bilang tidak, Mas.”

Ia tersenyum kecil sambil menangis.

“Aku cuma terlambat.”

Ponselnya berbunyi.

Sebuah surel terjadwal kembali masuk dari akun Dimas.

Ratna terdiam.

Ternyata Dimas menyiapkan beberapa pesan dengan tanggal berbeda.

Ia membukanya.

“Kalau kamu membaca pesan terakhir ini, semoga semuanya sudah selesai. Ada satu hal yang belum pernah kukatakan. Rumah kita sepenuhnya atas namamu sejak dua tahun lalu. Aku mengubah kepemilikannya karena aku tahu keluargamu suatu hari akan mencoba mengambilnya.”

Ratna tertawa kecil di tengah tangis.

Namun ada satu kalimat terakhir.

“Jangan habiskan hidupmu membenci mereka. Keadilan diperlukan agar kejahatan berhenti. Tapi setelah itu, hiduplah. Itu balasan terbaik.”

Ratna menatap nama Dimas di batu nisan cukup lama.

Lalu ia meletakkan bunga itu.

Ketika berdiri, Nadia menunggunya beberapa meter dari sana.

Hubungan mereka belum pulih sepenuhnya.

Mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Tetapi Nadia datang tanpa meminta uang, tanpa meminta rumah, tanpa meminta apa pun.

Ia hanya membawa dua gelas kopi.

“Satu buat Mbak,” katanya pelan.

Ratna menerimanya.

Mereka berjalan meninggalkan pemakaman bersama.

Ratna akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pahami.

Darah memang bisa membuat orang menjadi kerabat.

Tetapi darah tidak otomatis membuat seseorang menjadi keluarga.

Kadang keluarga adalah orang yang melindungimu ketika semua orang berusaha mengambil sesuatu darimu.

Dan terkadang, cinta seseorang tetap melindungimu bahkan setelah tanah makam menutup tubuhnya untuk selamanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang