Nadia tidak langsung bertanya.
Dia hanya berdiri di tengah ruang tamu sambil memegang map kulit cokelat itu, sementara Tiara terpaku di dekat tangga dengan wajah sepucat dinding.
Untuk pertama kalinya dalam dua belas hari, gadis itu tampak kehilangan semua keberaniannya.
“Tante dapat map itu dari mana?”
Suara Tiara bergetar.
Nadia menatapnya lama.
“Kenapa kamu takut?”
“Aku tidak takut.”
“Kalau begitu kenapa wajahmu seperti baru melihat hantu?”
Tiara membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Nadia mengangkat map tersebut sedikit.
“Di sini ada salinan KTP-ku, sertipikat rumahku, rekening pribadiku, dan draf laporan polisi yang menuduhku melakukan kekerasan. Jadi sekarang aku hanya ingin tahu satu hal.”
Tatapan Nadia menjadi tajam.
“Kamu sedang mencoba menjebakku?”
Tiara mundur selangkah.
“Bukan aku.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Nadia langsung menangkapnya.
“Aku belum menuduh siapa pun selain kamu.”
Tiara terdiam.
“Kalau memang bukan kamu, berarti kamu tahu siapa yang melakukannya.”
Gadis itu menggigit bibirnya.
Nadia berjalan ke meja makan dan meletakkan map tersebut di sana. Dia sengaja tidak menyentuh isinya lagi. Sebelumnya, Nadia sudah memotret setiap halaman menggunakan ponselnya dan mengirimkannya kepada pengacaranya, Ratih.
“Aku memberimu kesempatan sekali, Tiara. Bicara sekarang.”
Tiara menggeleng.
“Aku tidak tahu apa-apa.”
Nadia tersenyum tipis.
“Baik.”
Dia mengambil ponselnya.
“Kalau begitu kita tunggu polisi yang mencari tahu.”
Wajah Tiara langsung berubah.
“Jangan!”
Nadia berhenti.
Tiara menatap pintu depan, lalu kembali memandang Nadia.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
Tiara menarik napas panjang.
Namun sebelum dia sempat berbicara, terdengar suara mobil memasuki garasi.
Dimas pulang.
Aneh.
Biasanya pria itu baru tiba setelah pukul enam sore.
Hari itu belum pukul lima.
Tiara terlihat semakin panik.
“Om pulang.”
Nada suaranya bukan terdengar lega.
Justru ketakutan.
Nadia menyadarinya.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Dimas masuk sambil membawa tas kerja. Begitu melihat dua koper Tiara di dekat pintu, langkahnya langsung berhenti.
“Apa ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Kemudian matanya melihat map cokelat di meja.
Ekspresi Dimas berubah sangat cepat.
Hanya sepersekian detik.
Namun Nadia melihatnya.
Dimas tahu map itu.
“Nadia, kamu ngapain bongkar barang orang?”
Pertanyaan itu membuat semua keraguan Nadia lenyap.
Dia belum mengatakan map tersebut milik siapa.
Namun Dimas langsung menyebutnya barang orang lain.
“Kamu tahu map ini?”
Dimas meletakkan tasnya.
“Ya jelas tahu. Itu punya Tiara.”
Tiara langsung menoleh.
“Om!”
Satu kata itu terdengar seperti peringatan.
Dimas tampak sadar bahwa dia baru saja melakukan kesalahan.
Nadia justru semakin tenang.
“Menarik.”
Dia menarik kursi dan duduk.
“Jadi kamu tahu Tiara menyimpan salinan sertipikat rumahku?”
Dimas tidak menjawab.
“Dan mutasi rekening pribadiku?”
“Nadia, jangan mulai bikin drama.”
“Juga laporan polisi palsu yang menuduhku melakukan kekerasan?”
Ruangan langsung sunyi.
Tiara menunduk.
Dimas berjalan mendekati meja.
“Kasih map itu ke aku.”
Nadia tidak bergerak.
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak mengerti apa yang kamu baca.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Dimas mengembuskan napas kasar.
“Tiara cuma berjaga-jaga. Beberapa hari terakhir kamu memang emosional.”
Nadia hampir tertawa.

“Emosional?”
“Kamu terus mempermasalahkan hal kecil. Soal pakaian, makanan, teman-temannya. Pagi tadi kamu juga mengancam mau mengusir Tiara.”
“Aku pemilik rumah. Meminta orang yang tidak menghormatiku pergi dari rumahku bukan ancaman.”
“Rumah kita.”
Dimas menekankan dua kata terakhir.
Nadia menatapnya.
“Tidak. Rumahku.”
Wajah Dimas mengeras.
“Aku suamimu.”
“Dan kita punya perjanjian pisah harta.”
Kalimat itu membuat Dimas diam.
Nadia bangkit.
Dia berjalan menuju lemari kecil di dekat ruang kerja lalu mengambil map lain yang sudah disiapkannya.
Dari dalamnya, Nadia mengeluarkan Sertipikat Hak Milik asli.
Dia meletakkannya di atas meja.
Kemudian akta perjanjian perkawinan.
“Rumah ini diwariskan ibuku dua tahun sebelum kita menikah. Sertipikat asli atas namaku. Perjanjian perkawinan kita juga menyatakan harta bawaan tetap menjadi milik masing-masing.”
Tiara menatap Dimas.
Ekspresi gadis itu berubah.
“Om bilang rumah ini nanti bisa jadi milik Om.”
Nadia menoleh cepat.
Dimas membentak.
“Tiara, diam!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Nadia memandang suaminya.
“Jadi itu rencananya?”
Dimas mengepalkan tangan.
“Kamu jangan dengarkan anak kecil yang lagi panik.”
“Aku bukan anak kecil!”
Tiara tiba-tiba berteriak.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Om yang bilang kalau Tante dianggap tidak stabil secara mental, semuanya bakal lebih gampang!”
Keheningan jatuh seperti batu.
Dimas menatap keponakannya dengan wajah penuh kemarahan.
Nadia tidak bergerak.
“Teruskan, Tiara.”
Tiara menangis.
“Aku cuma disuruh bikin Tante marah.”
“Tiara!”
“Om yang suruh!”
Dimas bergerak maju, tetapi Nadia langsung mengangkat ponselnya.
“Jangan dekati dia.”
Layar ponselnya menunjukkan panggilan yang masih tersambung.
Ratih, pengacaranya, ternyata sudah mendengarkan sejak beberapa menit sebelumnya.
Dimas membeku.
Nadia meletakkan ponsel di meja dengan pengeras suara aktif.
Suara Ratih terdengar tenang.
“Pak Dimas, saya sarankan Anda tidak menyentuh dokumen apa pun dan tidak mengintimidasi siapa pun di rumah itu.”
Wajah Dimas langsung merah.
“Kamu telepon pengacara?”
“Aku menemukan rencana untuk membuat laporan polisi palsu terhadapku. Menurutmu aku harus menelepon siapa? Tukang kebun?”
Tiara tiba-tiba duduk dan menutupi wajahnya.
Kemudian pengakuannya keluar sedikit demi sedikit.
Dimas ternyata sudah mulai membicarakan rumah tersebut berbulan-bulan sebelumnya.
Bisnis distribusi miliknya sedang bermasalah.
Utangnya jauh lebih besar daripada yang pernah dia akui kepada Nadia.
Dia membutuhkan jaminan untuk mendapatkan pinjaman baru.
Rumah Nadia adalah aset paling berharga yang bisa dia incar.
Namun Dimas tidak dapat menjaminkannya karena namanya tidak tercantum dalam sertipikat.
Karena itu, dia mulai mencari cara lain.
Menurut cerita yang diberikan Dimas kepada Tiara, jika Nadia bisa digambarkan sebagai seseorang yang agresif, tidak stabil, dan membahayakan keluarga, Dimas berharap dapat menggunakan konflik tersebut untuk menekan Nadia secara hukum maupun psikologis agar menyerahkan pengelolaan aset kepadanya.
Rencana itu sebenarnya jauh lebih rapuh secara hukum daripada yang dibayangkan Dimas.
Namun tujuannya bukan semata-mata memenangkan perkara.
Tujuannya adalah membuat Nadia takut.
Laporan polisi.
Kesaksian beberapa orang.
Rekaman video Nadia sedang mengamuk.
Tekanan keluarga.
Kemudian Dimas akan menawarkan “jalan damai”.
Nadia cukup menandatangani beberapa dokumen.
Salah satunya surat kuasa terkait rumah.
“Teman-temanku yang datang ke sini juga diminta jadi saksi,” kata Tiara sambil menangis. “Kalau Tante marah, mereka harus merekam.”
Nadia merasakan tengkuknya dingin.
Jadi selama hampir dua minggu, rumahnya sendiri telah berubah menjadi panggung.
Dan dia adalah targetnya.
“Halaman lima di mana?”
Tiara mengangkat kepala.
“Apa?”
“Draf laporan itu. Halaman kelimanya hilang.”
Tiara menatap Dimas.
Dimas langsung memalingkan wajah.
Nadia memahami jawabannya.
“Kamu yang ambil?”
Dimas tidak menjawab.
Nadia berjalan mendekatinya.
“Siapa yang namanya ada di halaman lima?”
“Sudah cukup.”
“Siapa?”
“Sudah cukup, Nadia!”
Dimas menghantam meja dengan telapak tangan.
Suara keras itu membuat Tiara terkejut.
Namun Nadia tidak mundur.
Justru saat itulah terdengar bel rumah.
Dimas menoleh.
Nadia berjalan ke pintu.
Di luar berdiri Ratih bersama seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang membawa tas dokumen.
Pria itu adalah notaris yang enam tahun lalu menyusun perjanjian perkawinan Nadia dan Dimas.
Dimas terlihat seperti kehilangan darah dari wajahnya.
Nadia sudah menghubungi keduanya sejak siang.
Ratih masuk dan meminta semua dokumen diletakkan di meja.
Setelah memeriksa sertipikat asli dan akta perjanjian perkawinan, notaris memastikan tidak ada dasar bagi Dimas untuk mengklaim kepemilikan rumah tersebut hanya karena statusnya sebagai suami Nadia.
Kemudian Ratih melihat draf laporan.
“Halaman kelima penting,” katanya.
Tiara tiba-tiba berdiri.
“Aku tahu tempatnya.”
Dimas langsung berbalik.
“Tiara!”
Namun gadis itu berlari menuju lantai dua.
Beberapa menit kemudian dia kembali membawa sebuah amplop putih.
“Aku lihat Om mengambilnya kemarin. Tadi pagi aku ambil lagi dari tas kerjanya karena aku mulai takut.”
Tiara menyerahkan amplop itu kepada Nadia.
Tangannya gemetar.
Di dalamnya terdapat satu lembar kertas.
Halaman 5 dari 5.
Nadia membacanya.
Kemudian dia terdiam.
Nama yang tercantum sebagai pihak yang memberikan keterangan utama memang Dimas.
Tetapi bukan itu yang membuat Nadia terpukul.
Di bagian bawah terdapat daftar lampiran.
Salah satunya berbunyi bukti rekaman konsultasi psikologis Nadia Prameswari.
Nadia mengangkat kepala.
“Aku tidak pernah konsultasi psikolog.”
Ratih mengambil halaman tersebut.
“Kalau begitu kemungkinan ada dokumen lain yang dipalsukan.”
Dimas tiba-tiba mengambil tasnya.
“Aku pergi.”
“Silakan,” kata Nadia. “Tapi barang-barangmu akan dikirim setelah didata.”
Dimas tertawa sinis.
“Kamu pikir kamu bisa mengusir suamimu sendiri?”
Nadia menatapnya tanpa emosi.
“Yang aku pikirkan sekarang bukan mengusirmu.”
Dia menunjuk dokumen di meja.
“Aku sedang mempertimbangkan melaporkanmu.”
Untuk pertama kalinya selama enam tahun pernikahan mereka, Dimas tidak punya jawaban.
Malam itu dia meninggalkan rumah.
Tiara juga pergi, tetapi sebelum berangkat dia menyerahkan ponselnya kepada Ratih.
Di dalamnya terdapat percakapan dengan Dimas.
Instruksi untuk memancing Nadia.
Daftar hal yang harus dilakukan.
Menggunakan barang Nadia tanpa izin.
Membawa teman.
Meminta dilayani.
Memancing pertengkaran.
Bahkan ada satu pesan yang membuat Nadia lama terdiam.
Kalau dia sudah marah besar, pastikan kamera merekam semuanya.
Bukti itu mengubah segalanya.
Beberapa minggu kemudian, Nadia mengajukan gugatan cerai.
Melalui proses hukum, persoalan dugaan pemalsuan dokumen dan akses tanpa izin terhadap informasi pribadinya juga ditangani secara terpisah.
Namun kejutan terbesar justru datang dari tempat yang tidak Nadia duga.
Saat memeriksa transaksi rekening rumah tangga bersama Ratih, Nadia menemukan transfer rutin dalam jumlah besar selama hampir setahun.
Uangnya mengalir ke perusahaan milik Dimas.
Sedikit demi sedikit.
Nominalnya dibuat tidak mencolok.
Namun jika dijumlahkan, nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
Selama ini Nadia mengira bisnis suaminya masih berjalan baik.
Ternyata sebagian operasional perusahaan tersebut diam-diam ditopang uang rumah tangga mereka.
Rumah itu bukan awal dari masalah.
Rumah itu adalah target terakhir.
Dimas sudah kehabisan sumber dana.
Beberapa bulan setelah perceraian selesai, Nadia mengganti hampir seluruh bagian rumah yang mengingatkannya kepada masa lalu.
Bukan karena dia ingin menghapus kenangan.
Dia hanya ingin rumah tersebut kembali terasa seperti miliknya.
Suatu sore, Tiara datang.
Tidak membawa koper.
Tidak membawa teman.
Gadis itu berdiri di depan pintu dengan pakaian sederhana dan wajah yang jauh berbeda dari beberapa bulan sebelumnya.
“Aku tidak berharap Tante memaafkan aku,” katanya.
Nadia tidak langsung mempersilahkannya masuk.
Tiara menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat uang.
Tidak banyak.
“Aku mulai kerja paruh waktu. Itu sebagian uang yang pernah aku pakai dari rekening Tante. Aku akan bayar sisanya pelan-pelan.”
Nadia menatapnya.
“Kenapa kamu ikut rencana Dimas?”
Tiara menunduk.
“Karena Om bilang Tante orang kaya yang pelit dan jahat. Om bilang rumah itu sebenarnya dibeli dari uang keluarga kami, cuma ditaruh atas nama Tante.”
Nadia tersenyum pahit.
Kebohongan memang sering bekerja paling baik ketika dibungkus dengan cerita yang ingin dipercaya seseorang.
“Aku percaya karena aku ingin percaya,” lanjut Tiara. “Karena kalau cerita Om benar, berarti semua yang aku lakukan terasa seperti bukan kesalahan.”
Nadia mengembalikan amplop itu.
Tiara terkejut.
“Gunakan untuk menyelesaikan kuliahmu.”
“Tapi Tante…”
“Jangan salah paham. Aku belum tentu memaafkan semuanya.”
Nadia menatapnya lurus.
“Tapi aku tidak mau kamu menghabiskan hidupmu membayar kesalahan yang sebenarnya bisa kamu perbaiki dengan menjadi orang berbeda.”
Tiara menangis.
Nadia kemudian menutup pintu perlahan.
Di ruang kerja, sertipikat asli rumah itu kini tersimpan dalam brankas baru.
Namun Nadia tidak lagi melihat dokumen tersebut hanya sebagai bukti kepemilikan.
Sertipikat itu mengingatkannya pada sesuatu yang jauh lebih penting.
Selama bertahun-tahun, Nadia mengira mempertahankan rumah tangga berarti terus mengalah.
Diam ketika diremehkan.
Memaafkan ketika batas dilanggar.
Menghindari konflik agar hubungan tetap terlihat baik.
Padahal rumah bukan sekadar bangunan yang namanya tercetak di atas sertipikat.
Rumah adalah tempat seseorang seharusnya merasa aman.
Dan ketika orang yang paling dekat justru mengubahnya menjadi tempat jebakan, mempertahankan rumah tidak selalu berarti mempertahankan orang-orang di dalamnya.
Kadang-kadang, cara menyelamatkan rumah adalah dengan berani menunjukkan pintu kepada orang yang telah lupa bagaimana menghormati pemiliknya.
