SAAT MAKAM PUTRANYA YANG BARU BERUSIA 6 TAHUN DITIMBUN TANAH, SUAMINYA JUSTRU SIBUK MERAWAT ANJING MILIK ADIK ANGKATNYA DENGAN OBAT TERAKHIR DARI RUMAH SAKIT…

Keesokan paginya, pukul delapan lewat dua belas menit, bel rumah berbunyi.

Sarah sudah duduk di ruang tamu sejak setengah jam sebelumnya. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam. Wajahnya pucat karena hampir tidak tidur, tetapi sorot matanya berbeda.

Tidak ada lagi keraguan di sana.

Ketika pintu dibuka, Rendy berdiri di teras.

Ia tampak sama lelahnya. Rambutnya berantakan, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya.

“Aku mau bicara.”

Sarah bergeser memberi jalan.

Rendy masuk dan langsung melihat map biru di atas meja.

Wajahnya berubah.

“Apa itu?”

“Duduk.”

Nada suara Sarah datar.

Rendy menurut.

Sarah mendorong map itu ke arahnya.

Begitu membaca halaman pertama, Rendy mengangkat kepala dengan cepat.

“Gugatan cerai?”

“Iya.”

“Sarah, kita baru kehilangan Arka.”

“Justru karena aku kehilangan Arka.”

Rendy berdiri.

“Kamu pikir aku tidak kehilangan dia juga?”

Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, suara Sarah meninggi.

“Kalau kamu merasa kehilangan, kenapa pada malam terakhir hidupnya kamu bahkan tidak ada di sana?”

Rendy terdiam.

Sarah menatapnya lurus.

“Dia memanggilmu sebelum meninggal.”

Wajah Rendy perlahan memucat.

“Apa?”

“Dia bertanya apakah papanya sudah ada di depan pintu.”

Bibir Rendy bergetar.

Sarah menarik napas panjang.

“Aku bilang kamu sedang berlari menuju ruangannya.”

Rendy menunduk.

Kedua tangannya menutupi wajah.

Sarah melihat bahunya bergerak, tetapi anehnya tidak ada lagi rasa iba yang muncul.

Yang tersisa hanya kelelahan.

“Aku minta maaf.”

“Permintaan maaf tidak akan membangunkan Arka.”

“Aku benar-benar pikir obat pengganti akan datang.”

Sarah tidak menjawab.

Ia justru menarik sebuah amplop putih dari bawah map.

“Buka.”

Rendy mengerutkan kening.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar laporan distribusi obat dan transkrip percakapan.

Rendy membaca halaman pertama.

Beberapa detik kemudian, tangannya berhenti bergerak.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Dari seseorang di perusahaanmu.”

“Siapa?”

“Nama itu tidak penting.”

Rendy membaca lagi.

Ada laporan internal mengenai stok obat impor yang ia ambil malam itu.

Nomor batch tercatat dengan jelas.

Begitu juga waktu keluar dari gudang.

Namun bukan itu yang membuat wajah Rendy kehilangan warna.

Ada catatan lain.

Permintaan obat tersebut ternyata sudah dibuat dua hari sebelum Arka masuk ICU.

Atas nama sebuah klinik hewan.

Pemohonnya adalah Clarissa.

Rendy menatap Sarah.

“Ini tidak mungkin.”

“Aku juga berharap begitu.”

“Clarissa baru tahu Milo sakit malam itu.”

Sarah mengambil ponselnya.

Ia memutar sebuah rekaman suara.

Suara perempuan terdengar jelas.

Clarissa.

“Aku cuma perlu Rendy mengambil botol itu dari gudang. Selama dia yang menandatangani, semua tanggung jawab nanti masuk ke dia.”

Kemudian terdengar suara seorang pria.

“Kalau anaknya benar-benar butuh obat itu bagaimana?”

Clarissa tertawa kecil.

“Distributor Jakarta bilang stok pengganti mungkin datang malam itu. Lagipula, satu botol tidak akan langsung menentukan hidup mati seseorang.”

Rendy membeku.

Rekaman berhenti.

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

“Siapa pria itu?” tanya Rendy.

Sarah menjawab perlahan.

“Dimas Prasetyo.”

Nama itu langsung dikenali Rendy.

Dimas adalah kepala pengadaan regional perusahaan farmasi tempatnya bekerja.

Selama dua tahun terakhir, Dimas beberapa kali mengajukan skema pembelian obat impor melalui distributor alternatif. Rendy selalu menolak karena harga yang mereka tawarkan tidak masuk akal.

“Tidak mungkin.”

Sarah menatapnya.

“Masih mau bilang semua orang berbohong kecuali Clarissa?”

Rendy bangkit dan berjalan mondar-mandir.

“Clarissa kenal Dimas dari mana?”

“Itu yang juga ingin kutanyakan.”

Sarah mengeluarkan lembar lain.

Terdapat bukti transfer sebesar empat ratus delapan puluh juta rupiah ke rekening Clarissa selama enam bulan terakhir.

Pengirimnya sebuah perusahaan konsultasi bernama PT Asterindo Medika Solusi.

Rendy mengenal nama itu.

Perusahaan tersebut adalah salah satu vendor yang pernah ia blacklist.

“Sarah…”

“Perusahaan itu dimiliki kakak Dimas.”

Rendy terduduk kembali.

Keningnya berkeringat.

Sedikit demi sedikit, potongan-potongan yang selama ini terlihat acak mulai tersusun di kepalanya.

Beberapa bulan terakhir Clarissa memang sering bertanya mengenai pekerjaannya.

Tentang proses persetujuan pengeluaran barang.

Tentang siapa yang memiliki akses gudang.

Tentang tanda tangan digital direksi.

Rendy menganggapnya sekadar rasa ingin tahu.

Clarissa bahkan pernah bercanda ingin bekerja di bidang farmasi.

Rendy tidak pernah curiga.

“Untuk apa mereka mengincar obat itu?”

Sarah menjawab, “Bukan obatnya.”

Ia meletakkan laporan audit awal di depan Rendy.

“Mereka mengincar tanda tanganmu.”

Rendy membaca cepat.

Ternyata nomor dokumen pengeluaran obat yang ia tanda tangani malam Arka kritis telah digunakan sebagai referensi untuk memvalidasi sejumlah transaksi lain.

Nilainya mencapai hampir sebelas miliar rupiah.

Beberapa transaksi dilakukan ke distributor fiktif.

Sebagian obat tercatat dikirim ke rumah sakit kecil di Jawa Timur, padahal tidak pernah sampai.

Tanda tangan elektronik Rendy muncul di semua dokumen.

“Aku tidak pernah menyetujui ini.”

“Karena tanda tanganmu dikloning dari sistem setelah kamu membuka akses darurat malam itu.”

Rendy memejamkan mata.

Ia ingat.

Clarissa menelepon berkali-kali.

Dalam keadaan panik, Rendy meminta staf gudang membuka jalur persetujuan darurat agar obat bisa keluar secepat mungkin.

Kode autentikasi dikirim ke ponselnya.

Saat itu Clarissa berdiri di sampingnya di klinik hewan.

Rendy bahkan sempat meninggalkan ponselnya di meja ketika berbicara dengan dokter.

Darah di wajahnya seakan surut.

“Dia mengambil kodeku.”

Sarah tidak menjawab.

Rendy langsung menelepon Clarissa.

Tidak diangkat.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Rendy meraih kunci mobil.

“Aku harus ke rumahnya.”

Sarah berdiri.

“Aku ikut.”

Rendy memandangnya.

“Kamu tidak perlu.”

“Aku bukan ikut untuk membantumu.”

Suara Sarah dingin.

“Aku ingin mendengar sendiri perempuan itu menjelaskan kenapa anakku harus mati demi rencananya.”

Empat puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah Clarissa di kawasan Citraland.

Pintu depan tidak terkunci.

Ruang tamu berantakan.

Beberapa koper terbuka di lantai.

Lemari kecil dekat televisi kosong.

Clarissa jelas sedang bersiap pergi.

“Clarissa!”

Rendy berteriak.

Tidak ada jawaban.

Dari lantai atas terdengar suara benda jatuh.

Rendy berlari menaiki tangga.

Sarah mengikutinya.

Mereka menemukan Clarissa di kamar, sedang memasukkan laptop ke sebuah tas.

Begitu melihat Sarah, wajah Clarissa langsung berubah.

“Ngapain kalian ke sini?”

Rendy melempar dokumen transfer ke tempat tidur.

“Apa ini?”

Clarissa menatap lembaran itu.

Hanya satu detik.

Namun cukup bagi Rendy untuk memahami bahwa semua itu benar.

“Jawab aku!”

Clarissa menelan ludah.

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan sekarang.”

Sarah berdiri di dekat pintu.

Milo terlihat tidur di atas bantal kecil di sudut ruangan.

Anjing itu tampak sehat.

Tidak ada infus.

Tidak ada alat medis.

Tidak ada tanda-tanda pernah mengalami kondisi kritis.

Sarah berjalan mendekat.

“Jadi Milo bahkan tidak sekarat malam itu?”

Clarissa menatapnya.

“Dia memang kejang.”

“Karena apa?”

Clarissa tidak menjawab.

Sarah menoleh ke meja.

Di sana terdapat satu botol kecil suplemen hewan.

Ia mengambilnya.

Rendy membaca labelnya.

Kemudian ekspresinya berubah.

“Itu efek samping overdosis vitamin.”

Clarissa segera merebut botol tersebut.

“Jangan sok tahu.”

Rendy menatapnya tak percaya.

“Kamu sengaja memberi Milo dosis berlebihan?”

“Aku cuma butuh alasan supaya kamu mau keluarkan obat dari gudang.”

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Begitu menyadari kesalahannya, Clarissa langsung diam.

Rendy seperti baru saja ditampar.

“Kamu sengaja?”

Clarissa memejamkan mata beberapa detik.

Lalu wajahnya berubah.

Tidak ada lagi kepanikan.

Tidak ada lagi air mata.

Yang tersisa justru ekspresi lelah dan kesal.

“Iya.”

Sarah menggenggam sisi meja agar tubuhnya tidak goyah.

Clarissa melanjutkan.

“Aku tidak tahu anakmu bakal meninggal malam itu.”

“Namanya Arka,” kata Sarah.

Clarissa menatapnya.

Sarah mendekat satu langkah.

“Anakku punya nama.”

Clarissa menghela napas.

“Aku tidak merencanakan kematian Arka.”

“Tapi kamu tahu obat itu untuk dia.”

Clarissa terdiam.

Sarah mengulang dengan suara lebih rendah.

“Kamu tahu?”

“Iya.”

Satu kata itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Rendy.

Ia mundur dan duduk di tepi tempat tidur.

“Kamu tahu obat itu untuk Arka?”

Clarissa menoleh kepadanya.

“Mas, dengar dulu.”

“Jawab.”

“Iya.”

Rendy menatap lantai.

Selama bertahun-tahun ia selalu melihat Clarissa sebagai seseorang yang harus ia lindungi.

Mereka tumbuh bersama sejak ayah Rendy mengadopsi Clarissa setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.

Rendy berusia sembilan belas tahun saat itu.

Clarissa baru sebelas.

Ia berjanji kepada ayahnya bahwa ia akan selalu menjaga gadis itu.

Janji itu ia bawa terlalu jauh.

Bahkan setelah menikah.

Bahkan setelah memiliki anak.

“Aku melakukan semua ini karena aku butuh uang,” kata Clarissa.

“Empat ratus delapan puluh juta belum cukup?” tanya Sarah.

Clarissa tertawa pahit.

“Itu cuma uang muka.”

Rendy mengangkat kepala.

“Untuk apa?”

Clarissa akhirnya mengaku.

Dua tahun sebelumnya, ia terjerat utang setelah investasi kripto dan bisnis impor kosmetiknya gagal. Awalnya hanya beberapa ratus juta rupiah.

Kemudian ia meminjam dari pinjaman ilegal.

Bunganya terus bertambah.

Dimas mengetahui masalah tersebut dan menawarkan jalan keluar.

Clarissa hanya diminta membantu mendapatkan akses ke sistem Rendy.

Sebagai imbalannya, seluruh utangnya akan dilunasi dan ia mendapat bagian dari transaksi fiktif.

“Jadi selama ini semua teleponmu…”

Rendy tidak mampu melanjutkan.

Clarissa menunduk.

Beberapa keadaan darurat memang nyata.

Namun sebagian lainnya sengaja dibuat untuk membiasakan Rendy datang kapan pun dipanggil.

Untuk memastikan bahwa pada saat yang tepat, Rendy tidak akan curiga.

“Kenapa malam Arka?”

Clarissa tidak menjawab.

Rendy berdiri.

“Kenapa harus malam itu?”

“Karena Dimas bilang pengawasan sistem sedang lemah. Ada pergantian server. Kami cuma punya beberapa jam.”

Sarah merasakan mual.

Bagi Clarissa dan Dimas, malam terakhir Arka bukan tragedi.

Itu hanya sebuah kesempatan.

Suara sirene tiba-tiba terdengar dari luar.

Clarissa menoleh tajam ke jendela.

“Apa itu?”

Sarah tetap tenang.

“Aku mengirim semua dokumen ke polisi tadi malam.”

Clarissa membelalakkan mata.

“Kamu menjebakku?”

Sarah menatapnya tanpa berkedip.

“Tidak.”

Suara langkah kaki terdengar dari bawah.

“Semua yang terjadi hari ini adalah akibat pilihanmu sendiri.”

Clarissa panik.

Ia mengambil ponsel dan tasnya.

Namun sebelum sempat keluar kamar, dua petugas kepolisian muncul bersama seorang penyidik.

Clarissa dibawa untuk pemeriksaan.

Laptop, ponsel, dan beberapa dokumen disita.

Dua hari kemudian, Dimas ditangkap di Bandara Juanda saat hendak terbang ke Singapura.

Penyelidikan berkembang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Sarah.

Audit menemukan transaksi fiktif mencapai dua puluh tiga miliar rupiah.

Ada empat orang internal perusahaan yang terlibat.

Nama Rendy awalnya tercantum sebagai pihak yang menyetujui sebagian besar dokumen.

Namun rekaman sistem, pesan Clarissa, serta bukti manipulasi autentikasi menunjukkan bahwa tanda tangannya dipakai tanpa izin.

Meski akhirnya terbebas dari tuduhan pidana utama, karier Rendy tetap runtuh.

Dewan direksi meminta ia mengundurkan diri.

Bukan karena terbukti mencuri.

Melainkan karena kelalaiannya memberikan akses sistem perusahaan kepada pihak lain.

Rendy menerimanya tanpa perlawanan.

Ia tahu kehilangan pekerjaan tidak sebanding dengan apa yang telah hilang dari hidupnya.

Tiga minggu setelah kematian Arka, Rendy menemui Sarah di sebuah kedai kopi dekat Pengadilan Negeri Surabaya.

Ia tampak jauh lebih kurus.

Di tangannya terdapat dokumen perceraian yang sudah ia tanda tangani.

“Aku tidak akan mempersulit prosesnya.”

Sarah menerima dokumen itu.

“Terima kasih.”

Rendy terdiam cukup lama.

“Aku setiap malam masih dengar pertanyaan Arka.”

Sarah memandangnya.

Rendy menunduk.

“Kamu bilang dia tanya apakah aku sudah di depan pintu.”

Sarah tidak menjawab.

“Aku seharusnya ada di sana.”

“Iya.”

Tidak ada usaha menghibur.

Karena beberapa kesalahan memang tidak membutuhkan kalimat penenang.

Rendy mengusap wajah.

“Aku pikir menjaga Clarissa adalah bentuk menepati janji kepada Ayah.”

Sarah berkata pelan, “Menjaga seseorang tidak berarti membiarkan dia menghancurkan semua orang di sekitarmu.”

Rendy mengangguk.

Air matanya jatuh.

“Aku baru sadar setelah semuanya terlambat.”

Sarah berdiri.

Sebelum pergi, ia meletakkan sebuah benda kecil di atas meja.

Boneka dinosaurus hijau milik Arka.

Rendy menatapnya.

Sarah berkata, “Arka pernah bilang mau kasih itu ke Papa kalau Papa harus pergi kerja jauh. Katanya supaya Papa tidak kesepian.”

Rendy menutup mulutnya.

Tangisnya pecah untuk pertama kali.

Sarah berjalan keluar tanpa menoleh.

Enam bulan kemudian, kasus tersebut mulai memasuki persidangan.

Clarissa dan Dimas didakwa atas penipuan, pemalsuan dokumen elektronik, penggelapan, serta manipulasi distribusi farmasi.

Dalam persidangan, jaksa menunjukkan satu bukti baru yang bahkan belum pernah diketahui Rendy.

Sebuah pesan suara yang dikirim Clarissa kepada Dimas tiga jam sebelum ia menelepon Rendy malam itu.

Suara Clarissa terdengar jelas.

“Kalau Rendy tahu obatnya untuk Arka, dia pasti tidak akan kasih. Jadi kita buat dia percaya stok pengganti sudah pasti datang.”

Kemudian suara Dimas menjawab.

“Kalau anak itu kenapa-kenapa?”

Clarissa terdiam sesaat.

Lalu berkata,

“Bukan urusan kita.”

Ketika rekaman itu diputar, Sarah duduk di kursi pengunjung persidangan.

Untuk pertama kalinya sejak Arka meninggal, ia menangis tanpa berusaha menahannya.

Bukan karena baru mengetahui betapa kejam Clarissa.

Bukan pula karena teringat penghianatan Rendy.

Sarah menangis karena akhirnya memahami satu hal.

Tidak semua kehilangan bisa diperbaiki oleh keadilan.

Tidak ada vonis seberat apa pun yang mampu mengembalikan jemari kecil yang pernah menggenggam tangannya.

Tidak ada penjara yang bisa mengembalikan suara Arka memanggilnya Mama.

Setelah sidang selesai, Sarah pergi ke TPU Keputih seorang diri.

Langit Surabaya sore itu mendung.

Ia membawa enam bunga matahari.

Satu untuk setiap tahun kehidupan Arka.

Sarah duduk di depan makam kecil itu.

“Mama sudah menyelesaikannya, Jagoan.”

Angin bergerak pelan di antara pepohonan.

Sarah tersenyum sambil menangis.

“Semua orang akhirnya tahu kebenarannya.”

Ia meletakkan bunga terakhir.

“Papa juga akhirnya tahu.”

Beberapa meter di belakangnya terdengar langkah kaki.

Sarah menoleh.

Rendy berdiri jauh dari makam sambil memegang boneka dinosaurus hijau.

Ia tidak mendekat.

Tidak meminta izin.

Tidak pula mencoba berbicara kepada Sarah.

Ia hanya berdiri di sana dengan mata merah.

Sarah kembali menghadap makam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa marah melihat Rendy berada di dekatnya.

Karena kemarahannya perlahan sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tenang.

Bukan pengampunan.

Melainkan penerimaan.

Sarah sadar bahwa ada keputusan yang hanya membutuhkan beberapa detik untuk dibuat, tetapi konsekuensinya bisa mengikuti seseorang sepanjang hidup.

Malam itu, Rendy pernah memilih mengangkat telepon Clarissa dan meninggalkan putranya.

Ia mengira dirinya hanya sedang menolong seseorang yang membutuhkan.

Padahal tanpa sadar, selama bertahun-tahun ia telah mengajarkan Clarissa satu hal yang paling berbahaya.

Bahwa apa pun yang dilakukan perempuan itu, Rendy akan selalu memilihnya.

Pada akhirnya, bukan Clarissa seorang yang menghancurkan keluarga mereka.

Rendy juga ikut membangun jalan menuju kehancuran itu, sedikit demi sedikit, setiap kali ia mengabaikan Sarah, setiap kali ia membatalkan janji kepada Arka, dan setiap kali ia menganggap pengorbanan keluarganya sebagai sesuatu yang bisa diminta tanpa batas.

Sarah menyentuh batu nisan putranya.

Kemudian bangkit.

Sebelum pergi, ia berbisik,

“Sekarang Mama akan belajar hidup lagi.”

Ia berjalan meninggalkan pemakaman.

Di belakangnya, Rendy akhirnya berlutut di depan makam Arka.

Boneka dinosaurus hijau diletakkannya perlahan di samping bunga matahari.

Tidak ada siapa pun yang mendengar ketika pria itu menangis dan mengucapkan kalimat yang seharusnya ia katakan enam bulan sebelumnya.

“Papa sudah di depan pintu, Ka.”

Namun kali ini, tidak ada suara kecil yang menjawab.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang