BRAK! BRAK! BRAK!
Gedoran itu datang lagi, lebih keras dari sebelumnya.
“Pak Rendy! Buka pintunya!”
Suara seorang pria terdengar dari luar.
Rendy berdiri kaku di samping meja makan. Wajahnya yang tadi merah karena marah kini berubah pucat seperti kertas.
Ibu Hartini masih memegang kuitansi Rp650.000.000 dengan tangan gemetar.
Nisa memperhatikan perubahan ekspresi suaminya.
“Siapa itu, Ren?” tanyanya.
Rendy tidak menjawab.
“Rendy?” suara Ibu Hartini meninggi. “Siapa yang datang malam-malam begini?”
“Aku nggak tahu, Bu.”
Jawabannya terlalu cepat.
Nisa langsung tahu ia berbohong.
Gedoran kembali terdengar.
“Pak Rendy, kami dari pihak bengkel. Tolong buka pintu. Masalah ini nggak bisa ditunda lagi.”
Nisa mengerutkan kening.
“Bengkel?”
Rendy buru-buru berjalan menuju ruang tamu.
“Jangan ada yang ikut!”
Namun Ibu Hartini langsung bangkit dari kursinya.
“Kenapa tidak boleh ikut?”
“Ibu duduk saja!”
“Jangan bentak Ibu!”
Suara Ibu Hartini menggema di ruang makan.
Rendy berhenti.
Selama bertahun-tahun, Nisa hampir tidak pernah mendengar ibu mertuanya berbicara setegas itu kepada putranya.
Rendy akhirnya membuka pintu hanya selebar tubuhnya.
Di luar berdiri dua pria mengenakan seragam bengkel. Salah satunya membawa map hitam, sementara pria yang lain berdiri di dekat sebuah mobil derek yang terparkir di tepi jalan.
“Pak Rendy,” kata pria bermap hitam, “kami sudah menghubungi Bapak berkali-kali.”
“Besok saja kita bicara.”
“Nggak bisa, Pak.”
Pria itu membuka map.
“Pembayaran tahap kedua jatuh tempo tiga minggu lalu. Pihak leasing juga sudah mengirim pemberitahuan.”
Nisa yang berdiri beberapa meter dari pintu langsung menangkap kata itu.
Leasing.
Rendy menoleh tajam ke belakang.
“Nisa, masuk!”
Tetapi Ibu Hartini malah berjalan mendekat.
“Pembayaran apa?”
Kedua pegawai bengkel itu tampak kikuk.
Rendy mencoba menutup pintu.
Namun Ibu Hartini menahannya.
“Saya ibunya. Jelaskan.”
Pria bermap itu menarik napas.
“Mobil milik Pak Rendy dimodifikasi dengan total biaya Rp650.000.000. Uang muka Rp500.000.000 memang sudah masuk. Sisa Rp150.000.000 dibuat dalam skema pembiayaan.”
Ibu Hartini mengangguk pelan.
“Lalu?”
“Sudah menunggak.”
Rendy langsung menyela.
“Sudah, Mas. Nggak usah jelaskan semuanya.”
Pria itu terlihat mulai kesal.
“Maaf, Pak. Kami justru datang karena beberapa hari lalu pihak leasing menemukan masalah pada dokumen pengajuan.”
Nisa merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
“Masalah apa?”
Pria itu memandang Rendy sebelum menjawab.
“Slip penghasilan yang digunakan ternyata berbeda dengan data perusahaan.”
Hening.
Rendy mengepalkan tangan.
“Keluar dari rumah saya.”
“Dan ada satu lagi.”
Pria itu mengeluarkan selembar fotokopi.
“Surat persetujuan penggunaan dana jaminan dari pemilik rekening.”
Ibu Hartini mengambil kertas itu.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Itu tanda tangan Ibu.”
Ia menunjuk bagian bawah dokumen.
“Tapi Ibu tidak pernah menandatangani surat ini.”
Nisa langsung menatap Rendy.
Rendy mundur satu langkah.
“Bu, dengarkan dulu.”
“Ini tanda tangan palsu?”
“Nggak begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Rendy mengusap wajahnya kasar.
“Waktu itu aku butuh cepat.”
Ibu Hartini tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Suara itu justru terdengar menyakitkan.
“Jadi kamu memalsukan tanda tangan Ibu?”
“Aku cuma pinjam!”
“Pinjam?”
Ibu Hartini mengangkat kuitansi modifikasi mobil tinggi-tinggi.
“Uang operasi mata Ibu kamu pakai buat velg?”
Rendy mulai kehilangan kesabaran.
“Aku akan ganti!”
“Dengan apa?”
“Aku kerja!”
“Gajimu berapa?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Rendy terdiam.
Nisa baru sadar bahwa selama enam bulan terakhir, Rendy tidak pernah lagi terbuka mengenai pendapatannya.
Dulu mereka saling tahu nominal gaji masing-masing.
Setelah promosi, Rendy mulai mengatakan bahwa urusan penghasilan adalah urusan pribadi seorang suami.
Pegawai bengkel tadi menutup mapnya.
“Pak Rendy, kami akan menarik kendaraan malam ini sesuai pemberitahuan. Untuk persoalan dokumen, kemungkinan akan ditindaklanjuti pihak pembiayaan.”
“Mobil itu nggak boleh dibawa!”
Rendy melangkah maju.
“Pak, kami cuma menjalankan prosedur.”
“Besok aku bayar!”
“Bapak sudah bilang begitu empat kali.”
Nisa memejamkan mata sebentar.
Empat kali.
Jadi masalah ini sudah berlangsung cukup lama.
Tak lama kemudian suara mesin derek menyala.
Rendy berlari keluar.
Nisa dan Ibu Hartini berdiri di ambang pintu melihat mobil SUV hitam yang selama ini dibanggakan Rendy perlahan dinaikkan ke atas mobil derek.
Mobil yang setiap minggu dicuci premium.
Mobil yang tidak boleh disentuh Nisa ketika tangannya habis memasak.
Mobil yang menurut Rendy adalah simbol keberhasilannya.
Malam itu pergi dari rumah mereka di atas truk derek.
Rendy berdiri di jalan dengan kedua tangan di pinggang.
Beberapa tetangga mulai mengintip dari balik pagar.
Ia terlihat seperti seseorang yang baru kehilangan seluruh harga dirinya.
Namun ternyata itu baru permulaan.
Ketika mereka kembali masuk ke rumah, Ibu Hartini belum duduk ketika ia langsung bertanya, “Berapa gajimu sebenarnya?”
Rendy melempar kunci rumah ke meja.
“Bu, jangan mulai lagi.”
“Berapa?”
“Sekitar dua belas juta.”
Nisa terdiam.
Ia mengira promosi Rendy membuat penghasilannya jauh lebih besar.
Selama ini Rendy bercerita seperti seseorang yang menghasilkan puluhan juta setiap bulan.
“Dua belas juta?” ulang Ibu Hartini. “Dengan gaji dua belas juta kamu memodifikasi mobil enam ratus lima puluh juta?”
“Ada bonus!”
“Berapa bonusmu?”
Rendy tidak menjawab.
Ibu Hartini menunjuk kursi.
“Duduk.”
Anehnya, Rendy menurut.
Nisa juga kembali duduk.
Makanan di atas meja sudah dingin.

Ceker dan leher ayam yang sebelumnya dianggap memalukan kini bahkan tidak lagi menjadi masalah terbesar malam itu.
Ibu Hartini meletakkan kedua telapak tangannya di meja.
“Sekarang ceritakan semuanya.”
Rendy menatap lantai.
“Aku cuma ingin memperbaiki posisi di kantor.”
“Dengan mobil?”
“Orang-orang di tempatku kerja beda, Bu. Mereka datang pakai mobil bagus. Mereka makan di tempat mahal. Klien melihat penampilan.”
Nisa menatapnya.
“Jadi kamu kasih aku Rp300.000 supaya kamu bisa menjaga penampilan?”
Rendy mendengus.
“Jangan dibesar-besarkan.”
Nisa tertawa lirih.
Kalimat itu terasa begitu ironis.
“Yang dibesar-besarkan siapa, Ren? Aku yang menghitung harga telur, atau kamu yang membeli velg puluhan juta?”
Rendy menatapnya tajam.
“Aku lakukan itu buat karier.”
“Karier siapa?”
“Karierku juga untuk keluarga!”
“Kalau untuk keluarga, kenapa operasi mata Ibu dikorbankan?”
Rendy langsung diam.
Ibu Hartini menunduk.
Nisa melihat mata wanita itu mulai berkaca-kaca.
Baru saat itulah ia memahami sesuatu.
Uang Rp500.000.000 itu bukan tabungan biasa.
Selama bertahun-tahun Ibu Hartini mengalami penurunan fungsi penglihatan akibat komplikasi pada retina. Ia sudah beberapa kali berobat dan akhirnya mendapat rekomendasi menjalani tindakan medis lanjutan di Jakarta.
Beberapa bulan lalu, ia menjual sebidang tanah warisan kecil di kampung.
Dana itu dititipkan sementara kepada Rendy karena Ibu Hartini merasa putranya lebih paham urusan perbankan.
Rendy bahkan mengatakan akan membantu memilih rumah sakit terbaik.
Ternyata uang itu tidak pernah sampai ke rumah sakit.
“Kenapa?” tanya Ibu Hartini.
Suaranya pelan.
Justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.
“Kenapa kamu tega?”
Rendy mengusap tengkuk.
“Aku pikir uangnya bisa diputar dulu.”
“Diputar?”
“Aku butuh tampil meyakinkan supaya bisa masuk lingkaran klien besar. Kalau berhasil dapat proyek, komisinya bisa ratusan juta.”
“Berhasil?”
Rendy terdiam.
Ibu Hartini menatapnya.
“Kamu dapat proyek itu?”
Tidak ada jawaban.
Nisa sudah tahu jawabannya.
Tidak.
Rendy akhirnya berkata pelan, “Belum.”
Ibu Hartini menutup wajahnya.
Untuk beberapa saat hanya terdengar dengung kulkas dari dapur.
Kemudian ponsel Rendy berdering.
Ia melihat layar dan langsung mematikannya.
Beberapa detik kemudian berdering lagi.
Kali ini Nisa sempat melihat nama di layar.
Pak Adrian Kantor.
“Angkat,” kata Ibu Hartini.
“Besok saja.”
“Angkat sekarang.”
Rendy mematung.
Telepon berhenti.
Lalu masuk sebuah pesan.
Nisa tidak berniat membacanya.
Namun notifikasi muncul jelas di layar.
Besok jam 09.00 datang ke HR. Bawa dokumen klaim entertainment dan semua invoice. Ada ketidaksesuaian audit.
Nisa menatap Rendy.
“Entertainment?”
Rendy buru-buru mengambil ponselnya.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Ibu Hartini juga melihatnya.
“Apa lagi itu?”
“Nggak ada apa-apa.”
Nisa tiba-tiba teringat.
Steak.
Daging panggang.
Restoran mahal.
Rendy sering pulang membawa aroma makanan mewah dan selalu mengatakan sedang menjamu klien.
“Ren,” kata Nisa perlahan. “Selama ini kamu makan di restoran pakai uang siapa?”
“Uangku.”
“Yakin?”
Rendy berdiri.
“Sudah cukup!”
Namun suara kerasnya kali ini tidak lagi membuat Nisa takut.
Mungkin karena malam itu kebohongannya sudah terlihat terlalu jelas.
Atau mungkin karena setelah bertahun-tahun mencoba menjaga rumah tangga, Nisa akhirnya sadar bahwa diam tidak selalu berarti sabar.
Kadang diam hanya memberi ruang bagi seseorang untuk semakin jauh melewati batas.
“Nisa,” kata Rendy, “kamu istriku. Harusnya kamu bela aku.”
Nisa menatapnya lama.
“Aku sudah membelamu delapan tahun.”
“Apa maksudmu?”
“Aku menutup mulut setiap kali kamu merendahkan masakanku. Aku diam waktu kamu mulai menyembunyikan penghasilan. Aku tetap masak saat kamu kasih uang belanja yang bahkan nggak cukup untuk makan layak.”
Nisa menarik napas.
“Tapi membela suami bukan berarti ikut menutupi kebohongan.”
Rendy mencibir.
“Jadi sekarang kamu merasa paling benar?”
“Tidak.”
Nisa menggeleng.
“Aku cuma sudah selesai merasa bersalah atas kesalahan yang bukan milikku.”
Malam itu Rendy tidur di ruang tamu.
Ibu Hartini tidur di kamar tamu.
Nisa hampir tidak tidur sama sekali.
Pukul enam pagi, ia sudah bangun.
Ia menyeduh teh untuk Ibu Hartini.
Wanita itu duduk di meja makan dalam keadaan jauh lebih tua dibanding malam sebelumnya.
“Nisa.”
“Iya, Bu.”
“Maaf.”
Nisa berhenti menuangkan teh.
Ibu Hartini menunduk.
“Ibu sering bilang kamu boros.”
Nisa terdiam.
“Rendy selalu cerita kalau kamu nggak bisa mengatur uang. Katanya gajinya habis karena kebutuhan rumah terlalu besar.”
Nisa tersenyum pahit.
Selama ini ternyata Rendy bukan hanya mempermalukannya di rumah.
Ia juga membangun cerita di belakangnya.
“Ibu percaya,” lanjut Hartini. “Karena dia anak Ibu.”
Nisa duduk di seberangnya.
“Wajar Ibu percaya anak sendiri.”
Ibu Hartini menggeleng.
“Percaya tidak berarti boleh menutup mata.”
Kalimat itu membuat Nisa terpaku.
Sekitar pukul delapan, Rendy keluar dari kamar mandi mengenakan kemeja kantor.
“Aku ke kantor.”
Ibu Hartini menatapnya.
“Setelah itu kita ke bank.”
Rendy berhenti.
“Untuk apa?”
“Semua akses rekening Ibu akan diganti.”
“Bu…”
“Dan Ibu akan bicara dengan pengacara.”
Rendy terlihat benar-benar terkejut.
“Ibu mau melaporkan anak sendiri?”
“Ibu mau melindungi sisa hidup Ibu.”
Rendy menatap Nisa.
“Kamu yang hasut Ibu, ya?”
Nisa bahkan belum sempat menjawab ketika Ibu Hartini menghantam meja dengan telapak tangan.
“Jangan salahkan istrimu!”
Rendy membeku.
“Kamu mencuri uang Ibu, memalsukan tanda tangan Ibu, lalu menyuruh istrimu hidup dengan sepuluh ribu rupiah sehari.”
Ibu Hartini berdiri.
“Yang membuat keluarga ini hancur bukan Nisa.”
Ia menunjuk dada anaknya.
“Kamu.”
Rendy pergi tanpa sarapan.
Siang harinya, Nisa menerima telepon dari nomor tak dikenal.
Ternyata dari bagian HR perusahaan tempat Rendy bekerja.
Mereka meminta konfirmasi mengenai beberapa transaksi karena nama Nisa tercantum sebagai kontak keluarga.
Nisa tidak memberikan informasi lebih dari yang diperlukan.
Namun menjelang sore, Rendy pulang lebih cepat.
Ia tidak membawa tas kerja.
Wajahnya kusut.
“Aku diskors.”
Nisa yang sedang menyapu ruang tamu berhenti.
“Kenapa?”
Rendy menjatuhkan tubuh ke sofa.
“Ada audit pengeluaran.”
Ternyata selama beberapa bulan, Rendy mengklaim sebagian makan malam bersama teman-temannya sebagai jamuan klien.
Jumlahnya memang tidak sampai ratusan juta.
Namun cukup untuk membuat perusahaan mencurigai pola pengeluaran yang tidak wajar.
Masalah menjadi semakin serius karena beberapa invoice ternyata dicatat sebagai pertemuan bisnis, padahal klien yang disebutkan menyangkal pernah hadir.
Nisa menatapnya.
“Jadi restoran mahal itu…”
Rendy memejamkan mata.
“Kadang teman kantor.”
“Dibayar perusahaan?”
Rendy tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Tiga minggu berikutnya menjadi masa paling kacau dalam hidup mereka.
Pihak pembiayaan membawa persoalan dokumen palsu ke proses hukum.
Perusahaan Rendy memutus hubungan kerja setelah investigasi internal.
Ibu Hartini mencabut seluruh kuasa yang pernah diberikan kepada putranya dan menggunakan bukti transaksi untuk mengurus perkara melalui pengacara.
Namun hal yang paling mengejutkan justru terjadi ketika Nisa mulai membereskan dokumen rumah tangga.
Di dalam sebuah folder lama, ia menemukan rekening tabungan pribadinya sendiri.
Rekening yang hampir dua tahun tidak pernah ia sentuh.
Sebelum menikah, Nisa bekerja sebagai admin keuangan.
Setelah menikah, ia tetap menerima beberapa pekerjaan pembukuan usaha kecil dari rumah.
Sedikit demi sedikit, tanpa pernah membicarakannya, ia menyisihkan uang.
Bukan karena berencana meninggalkan Rendy.
Ia hanya ingin memiliki dana darurat.
Jumlahnya sekarang Rp87.400.000.
Nisa menatap angka itu lama sekali.
Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, ia merasa bisa bernapas.
Dua bulan kemudian, Nisa menyewa rumah kecil tidak jauh dari tempat tinggal lamanya.
Ia juga kembali bekerja penuh waktu di sebuah perusahaan distribusi sebagai staf akuntansi.
Ibu Hartini menjalani prosedur medis menggunakan dana yang berhasil diselamatkan dari aset lain, dibantu adik Rendy yang tinggal di Surabaya.
Sementara Rendy menjual hampir semua barang bermereknya.
Jam tangan.
Sepatu.
Koleksi kemeja.
Bahkan perangkat elektronik.
Sebagian untuk membayar utang.
Sebagian lagi untuk biaya hukum.
Suatu sore, Rendy datang menemui Nisa.
Tubuhnya terlihat lebih kurus.
Tidak ada jam mahal di pergelangan tangannya.
Tidak ada parfum kuat.
Tidak ada mobil.
Ia datang menggunakan ojek online.
“Aku mau bicara.”
Nisa mempersilahkannya duduk di teras.
Rendy memandang rumah kecil itu.
“Kamu serius mau cerai?”
Nisa mengangguk.
Rendy menelan ludah.
“Delapan tahun, Nis.”
“Aku tahu.”
“Kamu buang begitu saja?”
Nisa tersenyum tipis.
“Aku nggak membuang delapan tahun.”
Ia menatap Rendy.
“Aku belajar dari delapan tahun itu.”
Rendy menunduk.
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
“Kita bisa mulai lagi.”
Nisa terdiam cukup lama.
Kemudian ia bertanya, “Kamu tahu kesalahan terbesarmu apa?”
Rendy mengangkat wajah.
“Pakai uang Ibu?”
“Bukan cuma itu.”
“Bohong ke kantor?”
“Bukan.”
Rendy terlihat bingung.
Nisa berkata pelan, “Kamu mulai mengukur harga diri dengan apa yang dilihat orang lain.”
Rendy tidak menjawab.
“Kamu takut dianggap miskin oleh teman-temanmu sampai rela membuat orang di rumah benar-benar hidup kekurangan.”
Mata Rendy memerah.
Nisa melanjutkan.
“Dan yang paling menyedihkan, Ren, kamu bukan kehilangan keluarga karena nggak punya uang.”
Ia menatap mantan suaminya itu dengan tenang.
“Kamu kehilangan keluarga karena uang jadi lebih penting daripada orang yang mencintaimu.”
Rendy pulang tanpa banyak bicara.
Enam bulan setelah malam makan malam itu, proses perceraian mereka selesai.
Ibu Hartini tetap berhubungan dengan Nisa.
Sesekali mereka makan bersama.
Suatu hari, saat Nisa datang menjenguk setelah kontrol mata, Ibu Hartini meletakkan sebuah kotak kecil di meja.
“Apa ini, Bu?”
“Buka.”
Di dalamnya ada tiga lembar uang seratus ribuan.
Nisa menatap ibu mertuanya dengan bingung.
Ibu Hartini tersenyum.
“Masih ingat?”
Nisa langsung tertawa kecil.
Tentu saja ia ingat.
Rp300.000.
Angka yang dulu membuatnya merasa begitu tidak dihargai.
Ibu Hartini kemudian mengeluarkan amplop lain.
Di dalamnya terdapat bukti transfer Rp300.000.000.
Nisa tersentak.
“Bu, ini apa?”
“Bukan hadiah.”
Ibu Hartini tersenyum.
“Modal.”
“Modal apa?”
“Kamu pernah bilang ingin punya usaha jasa pembukuan sendiri.”
Nisa tercekat.
Ia memang pernah mengatakannya bertahun-tahun lalu.
Saat itu bahkan Rendy menertawakannya.
Menurutnya, usaha pembukuan kecil-kecilan tidak akan membuat seseorang terlihat sukses.
Ibu Hartini menggenggam tangan Nisa.
“Ibu sudah tua. Ibu salah percaya orang sekali.”
Ia menatap Nisa.
“Kali ini Ibu ingin percaya kepada orang yang tepat.”
Nisa menggeleng cepat.
“Aku nggak bisa terima sebanyak ini.”
“Bisa.”
“Tapi…”
“Anggap pinjaman.”
Ibu Hartini tersenyum.
“Bayar kalau usahamu sudah besar.”
Setahun kemudian, sebuah kantor kecil berdiri di daerah Antapani.
Namanya sederhana.
Nisa Accounting Partner.
Klien pertamanya hanya tiga UMKM.
Enam bulan kemudian menjadi dua belas.
Setahun berikutnya bertambah menjadi puluhan.
Dan pada suatu malam, setelah menyelesaikan laporan keuangan klien terakhir, Nisa pulang membawa satu bungkus makanan.
Ia membukanya di meja makan rumahnya.
Ada tumis kangkung.
Tempe goreng.
Dan sedikit semur daging sapi.
Cimot yang kini semakin gemuk duduk di dekat kursinya sambil mengeong meminta bagian.
Nisa tertawa.
Ia memotong sedikit daging, lalu memindahkannya jauh dari jangkauan kucing itu.
“Jangan. Kamu makan makananmu sendiri.”
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Ibu Hartini.
Besok makan siang bareng, ya. Ibu yang traktir. Tapi jangan restoran mahal. Ibu sekarang takut lihat velg mahal.
Nisa tertawa sampai matanya berkaca-kaca.
Di atas meja, di dalam bingkai kecil, ia masih menyimpan fotokopi kuitansi Rp650.000.000 itu.
Bukan untuk mengingat Rendy.
Bukan pula untuk memelihara dendam.
Di bawah bingkai tersebut, Nisa menulis satu kalimat.
Kemiskinan tidak selalu dimulai ketika uang habis.
Kadang kemiskinan dimulai ketika seseorang punya banyak hal untuk dipamerkan, tetapi tidak lagi punya cukup hati untuk dibagikan kepada orang di rumahnya.
