“Aneh sekali Rendy lama sekali hanya untuk mengambil sebotol tequila.”
Rania Wijaya mengangkat gelasnya sedikit, lalu menatap ke arah tangga.
“Atau mungkin dia menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik di lantai atas.”
Delapan belas orang yang memenuhi ruang makan rumah mewah keluarga Pratama di Pondok Indah langsung tertawa.
Tante Dewi menepuk meja sambil tersenyum.
“Rania sekarang makin pintar bercanda.”
Hanya Rania yang tidak ikut tertawa.
Perempuan berusia 31 tahun itu duduk dengan punggung tegak, mengenakan blus putih sederhana dan celana hitam yang membuatnya tampak lebih seperti seseorang yang hendak menghadiri rapat penting daripada makan malam keluarga.
Di ujung meja, Ibu Ratna mengangkat gelas anggurnya.
“Mari kita bersulang untuk Rendy. Anak Ibu yang paling membanggakan.”
Beberapa anggota keluarga tersenyum setuju.
“Bisnisnya berkembang pesat, sebentar lagi dapat proyek besar di Surabaya, dan yang paling penting, dia suami yang bertanggung jawab.”
Rania memandang cairan di dalam gelasnya.
Suami yang bertanggung jawab.
Kalimat itu terasa seperti lelucon yang terlalu kejam.
Rendy sudah berada di lantai atas hampir lima menit.
Empat puluh detik setelah suaminya naik dengan alasan mengambil tequila dari ruang kerja ayahnya, Maya Novita ikut naik sambil mengatakan ingin menggunakan kamar mandi.
Maya bukan orang asing.
Dia adalah mantan kekasih Rendy semasa kuliah.
Kini status resminya adalah konsultan bisnis yang beberapa bulan terakhir sering terlihat di kantor Pratama Solusi.
Dua hari sebelumnya, Rania menemukan alasan sebenarnya.
Sebuah percakapan di laptop Rendy masih tersinkronisasi dengan aplikasi pesan.
“Aku sudah capek pura-pura jadi rekan bisnis biasa di depan dia,” tulis Maya.
Rendy membalas, “Sabar. Saat makan malam keluarga kita punya kesempatan. Ibu akan sibuk mengalihkan perhatian Rania.”
Rania membaca kalimat itu sebanyak empat kali.
Bukan karena dia tidak mengerti.
Justru karena dia mengerti terlalu baik.
Perselingkuhan itu ternyata bukan pengkhianatan dua orang.
Ada keluarga yang membantu menutupinya.
Selama 48 jam berikutnya, Rania tidak menangis di depan siapa pun.
Dia bekerja.
Dia membuka laporan keuangan perusahaan, mencocokkan mutasi rekening, mencari invoice, memeriksa kartu kredit korporat, dan menelusuri dokumen legal yang tersimpan di server internal.
Semakin lama dia mencari, semakin buruk kenyataannya.
Ada tagihan hotel di SCBD.
Pembelian gelang berlian di Kuningan.
Perjalanan ke Bali yang dicatat sebagai pertemuan investor.
Lalu transfer sebesar Rp480 juta ke rekening Maya dengan keterangan biaya konsultasi independen.
Semua dibayar menggunakan kas perusahaan.
Perusahaan yang Rania bangun bersama Rendy sejak mereka belum punya apa-apa.
Rania masih ingat ketika kantor pertama mereka hanya berupa ruko sempit di Tebet.
Saat itu Rendy menangani penjualan.
Rania mengurus produk, sistem, administrasi, bahkan membuat kopi sendiri untuk tiga karyawan pertama.
Ketika kas perusahaan hampir habis, tabungan Rania sebesar Rp170 juta menjadi penyelamat.
Saat proyek pertama datang, justru jaringan klien milik Rania yang membawa perusahaan mereka keluar dari masa sulit.
Namun malam ini semua orang hanya mengenal satu nama.
Rendy Pratama.
Pengusaha muda sukses.
Sang suami sempurna.
Rania membuka ponselnya.
Dengan beberapa sentuhan, layar proyektor besar di ruang makan perlahan turun.
Lampu meredup.
Percakapan berhenti.
Ibu Ratna mengerutkan kening.
“Rania, kamu mau menunjukkan apa?”
“Kenangan keluarga,” jawab Rania.
Sebuah foto liburan keluarga muncul di layar.
Orang-orang tertawa kecil.
Lalu gambar berubah.
Tayangan langsung kamera lantai dua muncul.
Maya berdiri di dekat tempat tidur.
Rendy memeluk pinggangnya.
Maya berbalik.
Keduanya berciuman.
Suara gelas pecah langsung terdengar.
Tante Dewi menjatuhkan gelasnya.
Tidak ada yang bergerak.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki berlari.
Rendy muncul dari tangga dengan kancing kemeja yang belum terpasang sempurna.
Maya berada beberapa langkah di belakangnya.
Begitu melihat layar, wajah Rendy memutih.
“Rania!”
Suara bentakannya menggema.
“Matikan itu sekarang!”
Rania mengambil amplop cokelat dari dalam tas.
Dia menaruhnya di atas meja.
“Layar itu masalah paling kecil yang harus kamu khawatirkan malam ini.”
Ibu Ratna melihat logo bank dan stempel kantor hukum pada beberapa lembar yang menyembul keluar.
Gelas di tangannya terlepas.
Kaca pecah untuk kedua kalinya.
Rania memperhatikan wajah mertuanya.
Reaksi itu terlalu kuat untuk seseorang yang baru pertama kali melihat dokumen tersebut.
Rania sudah menduganya.
“Kenapa Ibu terlihat begitu takut?” tanyanya.
Rendy maju satu langkah.
“Jangan bawa Ibu ke dalam masalah kita.”
“Masalah kita?”
Rania tertawa pendek.
“Kamu benar. Perselingkuhan seharusnya masalah kita. Sayangnya, pemindahan saham perusahaan bukan.”
Ayah Rendy, Pak Harsono, yang sejak tadi diam, mengangkat kepala.
“Pemindahan saham apa?”
Rania membuka amplop.
Dia mengeluarkan fotokopi dokumen legal dan meletakkannya satu per satu di atas meja.
“Ini draft keputusan pemegang saham luar biasa.”
Rendy langsung bergerak.
“Jangan sentuh dokumen perusahaan!”
Rania menatapnya.
“Aku komisaris dan pemilik 42 persen saham. Aku punya hak yang sama besar untuk menyentuhnya.”
Beberapa anggota keluarga mulai saling berbisik.
Rania melanjutkan.
“Di dokumen ini disebutkan bahwa setelah proyek Surabaya ditandatangani, perusahaan akan menerbitkan saham baru kepada investor strategis.”
Pak Harsono mengambil salah satu lembar.
Wajahnya menegang.
“Kalau saham baru diterbitkan sebesar ini, kepemilikan Rania terdilusi.”
“Tepat,” kata Rania.
“Dari 42 persen menjadi kurang dari 15 persen.”
Seseorang menarik napas tajam.
Rania mengambil dokumen berikutnya.
“Dan investor strategis itu adalah perusahaan bernama Nusa Advisory.”
Maya langsung pucat.
Rania menoleh kepadanya.
“Perusahaan milik kamu, kan?”
Maya membuka mulut tetapi tidak ada suara keluar.
Rendy membentak.
“Itu bagian dari strategi bisnis!”
“Strategi bisnis?”
Rania mengeluarkan bukti transfer.
“Lalu ini apa?”
Dia menggeser lembar transaksi Rp480 juta ke tengah meja.
“Pembayaran kepada Maya untuk jasa konsultasi yang tidak pernah mendapatkan persetujuan dewan.”
Rendy mengepalkan tangan.
“Kamu mengakses data pribadiku tanpa izin.”
“Kamu memakai uang perusahaan untuk membiayai perempuan lain, lalu yang kamu khawatirkan adalah privasi?”
Rania tidak meninggikan suara.
Justru ketenangannya membuat suasana semakin menyesakkan.
Ibu Ratna tiba-tiba berdiri.

“Cukup.”
Semua orang menoleh.
“Perselingkuhan Rendy memang salah. Ibu tidak membenarkan itu.”
Rania tersenyum tipis.
“Tapi?”
Ratna menarik napas.
“Tapi persoalan perusahaan jangan diumbar di depan keluarga.”
Rania menatap mertuanya lama.
“Ibu tahu tentang rencana dilusi saham itu?”
Ratna tidak menjawab.
Diamnya sudah cukup.
Pak Harsono menoleh kepada istrinya.
“Ratna?”
“Ini demi perusahaan,” jawab Ratna akhirnya. “Rania terlalu banyak menahan keputusan Rendy. Setiap ekspansi dipertanyakan. Setiap pinjaman diperiksa. Perusahaan tidak akan bisa tumbuh kalau semua harus mengikuti standar Rania.”
Rania merasa dadanya dingin.
Jadi benar.
Perempuan yang tujuh tahun dipanggilnya Ibu itu memang terlibat.
“Makanya Ibu membantu Rendy?”
“Aku membantu anakku.”
“Dengan mengambil perusahaan dariku?”
“Perusahaan itu memakai nama keluarga Pratama.”
Kalimat itu langsung membuat suasana berubah.
Rania diam beberapa detik.
Lalu mengangguk perlahan.
“Sekarang aku mengerti.”
Rendy memanfaatkan kesempatan itu.
“Sudahlah, Ran. Kita bicarakan besok. Jangan hancurkan semuanya gara-gara emosi.”
Rania menatapnya.
“Emosi?”
“Aku tahu aku salah soal Maya.”
Maya terlihat tersinggung mendengar dirinya disebut seolah sekadar kesalahan.
Rendy melanjutkan.
“Tapi pernikahan kita sudah lama tidak sehat. Kamu selalu sibuk, selalu curiga, selalu ingin mengontrol semuanya.”
Rania hampir kagum.
Bahkan ketika tertangkap basah, Rendy masih mampu menjadikan dirinya korban.
“Kalau memang pernikahan kita tidak sehat, kamu bisa minta cerai.”
Rania mendorong dokumen ke arahnya.
“Kamu tidak perlu tidur dengan perempuan lain sambil mencuri perusahaan.”
“Aku tidak mencuri!”
Rendy menghantam meja.
“Aku yang membesarkan perusahaan itu!”
Untuk pertama kalinya malam itu, suara Rania sedikit meninggi.
“Kamu membesarkannya bersama aku!”
Ruangan langsung sunyi.
“Aku yang menjual apartemen kecil peninggalan ayahku untuk menutup utang perusahaan tahun kedua. Aku yang membawa klien pertama dari jaringan lamaku. Aku yang membangun sistem operasional. Aku yang menandatangani jaminan pribadi ketika bank menolak pinjamanmu.”
Air mata mulai menggenang di mata Rania, tetapi dia tidak membiarkannya jatuh.
“Jangan pernah mengatakan aku hanya berdiri di belakangmu.”
Rendy terdiam.
Pak Harsono meletakkan dokumen.
“Rendy, apakah semua ini benar?”
Rendy memalingkan wajah.
Maya tiba-tiba bersuara.
“Aku tidak tahu soal rencana mengambil saham Rania.”
Semua orang melihatnya.
Rendy menatap tajam.
“Maya.”
“Aku serius.”
Maya mundur satu langkah.
“Kamu bilang Nusa Advisory akan masuk sebagai investor karena Rania memang mau keluar dari perusahaan.”
Rania mengangkat alis.
“Aku tidak pernah mengatakan itu.”
Maya mulai terlihat panik.
Rendy mendekatinya.
“Jangan bicara sembarangan.”
Namun sesuatu dalam diri Maya seperti pecah.
“Justru kamu yang sembarangan!”
Suaranya bergetar.
“Kamu bilang setelah proyek Surabaya selesai, kamu akan cerai dan kita mulai hidup baru. Kamu bilang Rania sudah setuju menjual sebagian sahamnya.”
Ibu Ratna menutup mata.
Rendy meraih lengan Maya.
“Diam.”
Maya menepis tangannya.
“Jangan sentuh aku.”
Untuk pertama kalinya, topeng kendali Rendy benar-benar runtuh.
Rania mengamati semuanya tanpa kepuasan.
Anehnya, dia justru merasa lelah.
Dia mengeluarkan ponsel lain dari tas.
“Ada satu hal lagi.”
Wajah Rendy langsung berubah.
“Apa lagi?”
Rania menekan layar.
Rekaman suara terdengar dari speaker ruang makan.
Suara Rendy.
“Begitu kontrak Surabaya cair, kita pindahkan sebagian dana ke anak perusahaan. Setelah itu saham Rania diencerkan. Dia tidak akan punya kekuatan untuk melawan.”
Lalu suara Ibu Ratna terdengar.
“Pastikan semuanya legal. Ibu tidak mau nama keluarga kena masalah.”
Ruang makan seperti membeku.
Pak Harsono berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser keras.
“Ratna!”
Ratna menatap suaminya dengan wajah pucat.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Menjelaskan apa? Bahwa kamu dan anakmu merencanakan ini di belakang semua orang?”
Rendy menunjuk Rania.
“Dia merekam pembicaraan pribadi! Itu bisa ilegal!”
Rania menggeleng.
“Bukan aku yang merekam.”
Rendy terdiam.
Rania menoleh kepada seseorang di sisi meja.
Seorang pria sekitar 60 tahun berdiri perlahan.
Pak Harsono.
Rendy membeku.
“Ayah?”
Pak Harsono menatap putranya dengan kekecewaan yang hampir tidak bisa disembunyikan.
“Aku yang memberi rekaman itu kepada Rania sore tadi.”
Ratna tampak seperti baru dipukul.
“Harsono, sejak kapan kamu tahu?”
“Sudah cukup lama.”
Pak Harsono menghela napas.
“Awalnya aku tidak percaya Rendy menggunakan perusahaan untuk urusan pribadi. Jadi aku minta audit internal diam-diam.”
Rendy mundur.
“Ayah mengaudit aku?”
“Aku mengaudit perusahaan yang sahamnya sebagian masih kumiliki.”
Pak Harsono menatap Rania.
“Dan ternyata yang ditemukan lebih buruk dari perkiraanku.”
Rania sendiri sebenarnya baru mengetahui bagian rekaman suara beberapa jam sebelum acara makan malam.
Pak Harsono meneleponnya dan meminta bertemu di sebuah kafe.
Di sana, lelaki itu menyerahkan salinan audio.
“Aku tidak tahu soal perselingkuhan,” katanya waktu itu. “Tapi aku tahu mereka sedang mencoba menyingkirkanmu.”
Rania hampir batal datang ke makan malam.
Namun kemudian dia memutuskan untuk hadir.
Bukan untuk mempermalukan siapa pun.
Melainkan memastikan semuanya berhenti malam itu juga.
Pak Harsono mengambil satu dokumen lain dari saku jasnya.
“Mulai sore tadi, aku juga sudah mencabut surat kuasa yang pernah kuberikan kepada Rendy untuk mewakili sahamku.”
Rendy menatap ayahnya.
“Ayah tidak bisa melakukan ini.”
“Aku baru saja melakukannya.”
Pak Harsono menatap putranya tajam.
“Dan besok pagi akan ada rapat darurat dewan.”
Rania menambahkan dengan tenang.
“Laporan audit awal sudah dikirim kepada firma hukum perusahaan.”
Rendy menatapnya.
“Kamu mau menghancurkanku?”
Rania menggeleng.
“Tidak.”
Dia berdiri.
“Aku hanya berhenti menyelamatkanmu dari konsekuensi pilihanmu sendiri.”
Maya perlahan mengambil tasnya.
Rendy menoleh.
“Kamu mau ke mana?”
Maya tertawa hambar.
“Kamu pikir setelah tahu semua ini aku masih mau bersamamu?”
“Kita bisa jelaskan.”
“Kamu membohongi aku sama seperti kamu membohongi istrimu.”
Maya menatap Rania.
“Aku tahu hubungan kami salah. Untuk itu aku tidak punya alasan.”
Dia menelan ludah.
“Tapi soal perusahaan, aku benar-benar tidak tahu.”
Rania menatapnya beberapa detik.
“Aku percaya kamu tidak tahu semuanya.”
Maya terlihat terkejut.
“Tapi kamu tahu dia menikah.”
Maya menunduk.
“Dan itu cukup.”
Maya pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Ibu Ratna duduk kembali.
Tiba-tiba dia terlihat jauh lebih tua daripada satu jam sebelumnya.
“Rania.”
Rania mengambil tasnya.
“Ya, Bu?”
Ratna menatapnya.
“Kalau kamu pergi malam ini, semuanya akan hancur.”
Rania tersenyum kecil.
“Bukan aku yang menghancurkannya.”
Dia melihat meja panjang yang dipenuhi makanan mahal, gelas kristal, bunga segar, dan keluarga yang satu jam lalu masih tertawa sambil memuji pernikahannya.
“Yang hancur malam ini cuma kebohongan yang selama ini kita semua pura-pura percaya.”
Rendy berdiri kaku.
“Jadi kamu benar-benar mau cerai?”
Rania menatap lelaki yang sudah tujuh tahun menjadi suaminya.
Dia masih bisa mengingat Rendy yang dulu.
Pemuda yang naik motor tua menjemputnya setelah kerja.
Laki-laki yang pernah tidur di lantai kantor karena mereka tidak mampu menyewa tempat tinggal dekat proyek.
Pria yang dulu berjanji bahwa jika suatu hari mereka kaya, mereka tidak akan pernah berubah.
Mungkin janji itu benar.
Mereka memang tidak berubah bersama.
Hanya salah satu dari mereka yang berubah sendirian.
“Aku sudah mengajukan gugatan pagi tadi.”
Wajah Rendy kosong.
Rania mengeluarkan satu amplop putih lebih kecil.
Dia meletakkannya di depan Rendy.
“Salinannya mungkin sampai ke pengacaramu hari Senin.”
Rendy tidak menyentuhnya.
Rania berbalik menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Pak Harsono memanggilnya.
“Rania.”
Dia berhenti.
Pak Harsono berdiri dengan mata berkaca-kaca.
“Aku minta maaf.”
Rania menggeleng perlahan.
“Bapak tidak perlu meminta maaf atas pilihan orang lain.”
Lalu dia pergi.
Enam bulan kemudian, Pratama Solusi memiliki direktur utama baru.
Bukan Rendy.
Setelah audit independen menemukan penggunaan dana perusahaan tanpa otorisasi serta serangkaian transaksi bermasalah, Rendy mengundurkan diri sebelum dewan resmi memberhentikannya.
Dia tidak masuk penjara.
Tidak ada akhir dramatis seperti dalam film.
Sebagian dana dikembalikan, beberapa aset dijual, dan proses hukum diselesaikan melalui jalur perdata serta restrukturisasi perusahaan.
Ibu Ratna tidak pernah lagi datang ke kantor.
Maya memutus seluruh hubungannya dengan Rendy dan mengembalikan sebagian uang yang diterimanya setelah terbukti beberapa invoice dibuat tanpa sepengetahuannya.
Sementara itu, Rania tetap memiliki sahamnya.
Namun dia tidak mengambil posisi direktur utama.
Dia justru memilih menjadi komisaris dan menyerahkan operasional kepada profesional independen.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, hidupnya tidak lagi berputar di sekitar Rendy atau perusahaan.
Suatu sore, Rania kembali ke ruko kecil di Tebet yang dulu menjadi kantor pertama mereka.
Bangunannya kini berubah menjadi kedai kopi.
Dia duduk dekat jendela sambil memandang lalu lintas.
Di dinding masih terlihat bekas paku tempat papan nama Pratama Solusi pernah tergantung.
Pak Harsono pernah bertanya mengapa Rania tidak mengganti nama perusahaan setelah semuanya terjadi.
Jawabannya sederhana.
Karena dia tidak membutuhkan namanya tertulis di gedung untuk mengetahui apa yang telah dia bangun.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak disimpan.
Rendy.
“Aku cuma mau bilang satu hal. Ternyata semua orang pergi saat aku gagal. Cuma kamu yang dulu tetap tinggal.”
Rania membaca pesan itu cukup lama.
Lalu dia mengetik balasan.
“Aku tidak pergi ketika kamu gagal, Rendy. Aku pergi ketika kamu memilih mengkhianati orang yang selalu tinggal.”
Dia menekan kirim.
Kemudian memblokir nomor itu.
Di luar, hujan tipis mulai turun di Jakarta.
Rania tersenyum untuk pertama kalinya tanpa harus berpura-pura.
Malam di Pondok Indah itu memang mengakhiri pernikahannya.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, jika seseorang bertanya kapan hidupnya benar-benar dimulai kembali, Rania selalu mengingat satu hal.
Bukan saat dia melihat suaminya mencium perempuan lain di layar proyektor.
Bukan saat rahasia perusahaan terbongkar.
Melainkan saat dia akhirnya mengerti bahwa mempertahankan sebuah rumah tangga tidak selalu berarti menyelamatkannya.
Kadang-kadang, menyelamatkan diri sendiri adalah satu-satunya cara untuk keluar dari rumah yang sejak lama sudah berhenti menjadi rumah.
