GADIS 7 TAHUN MENYEMBUNYIKAN ALAT SUNTIK DI DALAM SEPATUNYA, LALU LARI KE KANTOR POLISI. BEGITU MELIHAT NAMA DOKTER DI RESEP, POLISI LANGSUNG MENGUNCI PINTU!

Hujan turun semakin deras ketika dr. Hendra Pratama berdiri di balik pintu kaca Polsek Coblong sambil terus menggedor.

“Bambang! Buka pintunya! Anak saya butuh pertolongan medis!”

Aipda Bambang tidak bergeming.

Tatapannya justru tertuju pada tas punggung merah muda yang dibawa Hendra.

Tas itu tampak biasa saja. Ada gantungan boneka kecil di resletingnya, beberapa bercak air hujan, dan nama Nisa yang ditulis dengan spidol di salah satu sisinya.

Namun setelah mendengar bisikan Maya, tas itu tidak lagi terlihat seperti barang milik anak-anak.

Tas itu terlihat seperti kotak yang menyimpan jawaban atas sesuatu yang jauh lebih besar.

“Pak,” ujar Bambang melalui pintu kaca, “letakkan tas itu di lantai.”

Hendra menatapnya tidak percaya.

“Apa?”

“Letakkan tasnya.”

“Anda sedang menghalangi saya menemui anak saya!”

“Letakkan tasnya, Dokter.”

Nada Bambang berubah tegas.

Beberapa anggota polisi yang berada di ruangan belakang mulai keluar setelah mendengar keributan.

Hendra menoleh ke kanan dan kiri.

Wajahnya yang tadi tampak marah perlahan berubah waspada.

“Apa yang dikatakan anak-anak itu kepada Anda?”

Pertanyaan itu membuat Bambang semakin yakin bahwa ketakutan Maya bukan tanpa alasan.

“Bukan itu yang perlu Anda tanyakan sekarang.”

Hendra menggenggam tali tas semakin erat.

“Anak saya sedang mengalami episode emosional. Keduanya bisa mengatakan apa saja ketika panik.”

Maya yang berdiri beberapa meter dari pintu langsung berseru.

“Aku tidak bohong!”

Suara kecil itu menggema di ruangan.

Hendra terdiam.

Matanya mencari wajah Maya.

Ketika pandangan mereka bertemu, ekspresi Hendra berubah.

Bukan seperti seorang ayah yang lega menemukan anaknya.

Melainkan seperti seseorang yang baru menyadari bahwa rahasianya sudah sampai ke tangan orang lain.

“Maya,” katanya lebih lembut, “Papa cuma mau menolong Nisa.”

Maya memeluk saudari kembarnya dari samping.

“Jangan panggil aku begitu.”

Tubuh Hendra menegang.

Pada saat yang sama, suara sirene ambulans terdengar dari kejauhan.

Beberapa detik kemudian kendaraan medis berhenti di depan kantor polisi.

Dua tenaga medis masuk melalui pintu samping yang dibukakan petugas lain.

Nisa segera dibaringkan di tandu.

Petugas medis memeriksa tekanan darah dan kesadarannya.

“Anaknya harus dibawa sekarang,” ujar salah satu paramedis. “Denyut nadinya cepat dan ada nyeri abdomen berat.”

Hendra kembali menggedor pintu.

“Saya ikut!”

Bambang menggeleng.

“Anda tetap di luar sampai kami selesai bicara.”

“Anda tidak punya hak!”

“Saya punya kewajiban melindungi anak yang datang ke kantor polisi meminta perlindungan.”

Kalimat itu membuat Hendra bungkam sesaat.

Nisa dibawa ke ambulans melalui jalur samping.

Maya menolak melepaskan tangannya.

“Aku ikut Nisa.”

Bambang mengangguk.

Sebelum Maya pergi, ia kembali mendekat.

“Pak…”

“Ya?”

“Kalau Ayah tahu aku bawa alat itu, dia pasti bilang aku mencurinya.”

Maya menunjuk tas merah muda di luar.

“Jangan kasih tas itu ke Ayah.”

Bambang menatapnya dalam-dalam.

“Tas itu akan kami amankan.”

Barulah Maya mengikuti tandu Nisa.

Ambulans melaju menuju rumah sakit.

Hendra berdiri di bawah hujan, menatap kendaraan itu menjauh dengan rahang mengeras.

Tak lama kemudian, seorang perwira lain keluar melalui pintu samping bersama dua anggota.

Hendra akhirnya diminta menyerahkan tas.

Awalnya ia menolak.

Namun setelah dijelaskan bahwa barang tersebut diperlukan untuk klarifikasi karena berkaitan dengan dugaan pemberian obat terhadap anak, Hendra tidak punya banyak pilihan.

Ia menyerahkan tas itu.

“Isinya perlengkapan medis biasa.”

Bambang membuka tas tersebut di ruang pemeriksaan dengan disaksikan dua petugas.

Ada baju ganti anak, beberapa tisu, botol minum, obat flu, dan sebuah kotak plastik putih.

Ketika Bambang membuka kotak tersebut, ia menemukan tiga alat suntik oral.

Dua masih terbungkus.

Satu sudah digunakan.

Di sisi alat itu menempel label kecil.

Nama pasien: Larasati Pratama.

Bambang membaca nama itu pelan.

“Siapa Larasati?”

Hendra yang duduk di seberang meja menjawab cepat.

“Istri saya.”

“Yang menurut anak Anda sudah pergi meninggalkan keluarga?”

Hendra menarik napas.

“Itu urusan rumah tangga.”

“Di mana istri Anda sekarang?”

“Dia pergi.”

“Ke mana?”

“Saya tidak tahu.”

“Sejak kapan?”

Hendra mengusap wajah.

“Enam bulan lalu.”

“Melapor orang hilang?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena dia meninggalkan kami atas kemauannya sendiri.”

Bambang menatap alat suntik di meja.

“Lalu kenapa ada resep dengan namanya yang masih Anda gunakan?”

Hendra langsung menjawab.

“Itu resep lama.”

Bambang tidak percaya begitu saja.

Label transaksi menunjukkan tanggal pembelian tiga hari sebelumnya.

Ketika Bambang menyebut tanggal itu, wajah Hendra berubah.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup terlihat.

“Sistem apotek bisa salah.”

“Resep elektronik dibuat menggunakan identitas dokter Anda.”

“Bisa jadi admin klinik.”

“Obat apa isinya?”

Hendra diam.

Bambang mengulang pertanyaannya.

“Obat apa yang Anda berikan kepada istri dan anak Anda?”

“Itu bukan obat berbahaya.”

“Lalu sebutkan namanya.”

Hendra mengepalkan kedua tangan.

“Saya ingin pengacara.”

Bambang bersandar di kursinya.

“Baik.”

Jawaban singkat itu justru membuat Hendra terlihat semakin gelisah.

Di rumah sakit, Nisa langsung dibawa ke instalasi gawat darurat.

Maya duduk di kursi lorong dengan selimut tipis di bahunya.

Seorang polisi wanita bernama Briptu Sari mendampinginya.

Maya terus menatap pintu ruangan tempat Nisa diperiksa.

“Kalau Nisa mati, itu salah aku.”

Sari menoleh.

“Kenapa kamu bilang begitu?”

“Aku seharusnya lari lebih cepat.”

“Tidak.”

Sari meraih tangan Maya.

“Kamu sudah melakukan sesuatu yang sangat berani.”

Maya menggeleng.

“Aku sebenarnya mau lari sejak minggu lalu.”

“Kenapa tidak jadi?”

“Ayah mengunci pintu dari luar.”

Maya terdiam sebentar.

“Lalu tadi sore listrik mati. Pintu belakang tidak terkunci sempurna.”

Sari memperhatikan setiap kata.

“Kenapa kamu membawa Nisa ke polisi, bukan ke tetangga?”

Maya menjawab tanpa ragu.

“Karena dulu Ibu bilang kalau ada orang dewasa yang membuat kami takut, kami harus cari polisi.”

Kalimat itu membuat Sari terdiam.

“Terakhir kali kamu melihat Ibu kapan?”

Maya menunduk.

“Malam waktu Ibu dan Ayah bertengkar.”

“Kapan itu?”

“Sudah lama.”

“Apa yang terjadi?”

Maya mulai memainkan ujung selimut.

“Aku bangun karena dengar sesuatu jatuh.”

Sari tidak memotong.

“Ayah bilang Ibu mau pergi.”

Maya menarik napas.

“Tapi Ibu waktu itu tidak pakai sepatu.”

Sari membeku.

“Apa?”

“Kalau Ibu pergi, pasti pakai sepatu. Ibu selalu marah kalau aku keluar rumah tanpa sandal.”

Maya menatap Sari.

“Malam itu aku lihat sepatu Ibu masih di rak.”

Sari segera menghubungi Bambang.

Informasi baru itu mengubah arah penyelidikan.

Beberapa jam kemudian, hasil pemeriksaan awal Nisa keluar.

Dokter jaga menemukan adanya zat penenang dosis tinggi di dalam tubuhnya.

Bukan obat untuk gangguan emosi.

Bukan pula obat rutin anak.

Zat tersebut termasuk obat yang tidak lazim diberikan kepada anak tanpa indikasi sangat khusus.

Dosis yang diterima Nisa cukup besar untuk menyebabkan gangguan kesadaran dan iritasi lambung.

Jika Maya tidak membawanya keluar malam itu, kondisinya bisa jauh lebih buruk.

Bambang menerima laporan tersebut tepat ketika pengacara Hendra tiba di kantor polisi.

Hendra masih duduk dengan wajah dingin.

Ketika Bambang menyebut nama zat yang ditemukan di tubuh Nisa, Hendra akhirnya kehilangan ketenangannya.

“Saya dokter. Saya tahu dosis aman.”

Bambang menatapnya.

“Jadi Anda mengakui memberikannya?”

Hendra langsung sadar telah salah bicara.

Pengacaranya menoleh tajam.

Hendra terdiam.

Bambang tidak menekan lagi.

Sebaliknya, ia meminta tim bergerak ke rumah Hendra di kawasan Dago Atas.

Malam itu juga, polisi datang dengan izin penggeledahan darurat karena ada dugaan tindak kekerasan terhadap anak dan potensi barang bukti yang dapat dimusnahkan.

Rumah Hendra berdiri megah di ujung jalan kecil.

Dari luar, tidak ada yang mencurigakan.

Halaman bersih.

Mobil terparkir rapi.

Bahkan ada papan kecil bertuliskan rumah keluarga bahagia di dekat taman.

Namun di dalam, polisi menemukan sesuatu yang berbeda.

Pintu kamar anak-anak memiliki kunci tambahan di sisi luar.

Lemari obat di ruang kerja Hendra penuh dengan obat resep.

Sebagian memiliki catatan pasien.

Sebagian tidak.

Di kamar utama, pakaian wanita masih tergantung.

Kosmetik masih tersusun.

Tas kerja masih berada di lemari.

Tidak ada tanda-tanda seseorang benar-benar pergi dengan membawa barang pribadi.

Di dapur, salah satu petugas menemukan ponsel lama di belakang kabinet.

Ponsel itu mati.

Ketika dinyalakan menggunakan charger, layar menampilkan foto seorang perempuan bersama Maya dan Nisa.

Larasati.

Di dalam ponsel terdapat puluhan pesan yang belum sempat terkirim.

Sebagian ditujukan kepada kakak Larasati.

Isinya pendek-pendek.

Hendra mulai aneh.

Dia memaksa Nisa minum obat padahal Nisa sehat.

Aku mau bawa anak-anak pergi.

Kalau besok aku tidak menghubungi kamu, tolong datang.

Pesan terakhir ditulis enam bulan sebelumnya.

Belum terkirim.

Namun penemuan paling penting justru datang dari Maya.

Pagi berikutnya, setelah Nisa stabil, Bambang meminta Sari bertanya apakah ada tempat di rumah yang sering dilarang Hendra untuk dimasuki.

Maya langsung menjawab.

“Gudang kecil di belakang garasi.”

“Kenapa?”

“Ayah bilang ada tikus.”

“Apakah kamu pernah masuk?”

Maya mengangguk.

“Sekali.”

“Apa yang kamu lihat?”

Maya menatap tangannya.

“Freezer besar.”

Tim penyidik kembali ke rumah.

Gudang itu memang terkunci.

Di dalamnya ada sebuah freezer komersial yang tidak terhubung listrik.

Kosong.

Namun lantai di bawah freezer terlihat lebih baru dibanding bagian lainnya.

Semen berwarna sedikit berbeda.

Penyelidik memutuskan membongkar bagian tersebut.

Mereka tidak menemukan jasad.

Namun mereka menemukan sebuah kotak logam kecil yang dikubur dangkal.

Di dalamnya terdapat paspor Larasati, kartu identitas, perhiasan, dan sebuah flashdisk.

Flashdisk itu menyimpan beberapa rekaman video dari kamera kecil.

Rupanya Larasati diam-diam merekam Hendra beberapa minggu sebelum ia menghilang.

Dalam salah satu video, Hendra terlihat menuangkan obat ke minuman.

Video lain memperlihatkan Larasati menghadap kamera.

Wajahnya terlihat lelah.

“Kalau ada yang menemukan rekaman ini, berarti sesuatu mungkin sudah terjadi kepada saya.”

Ia menarik napas panjang.

“Hendra sedang melakukan uji coba obat secara ilegal.”

Bambang yang menonton rekaman itu langsung menegakkan tubuh.

Larasati melanjutkan.

“Dia mengambil obat sisa dari program penelitian klinik dan memberikannya kepada orang rumah dalam dosis kecil. Awalnya kepada saya.”

Suara Larasati mulai pecah.

“Dia bilang hanya vitamin untuk membantu tidur.”

Ternyata Hendra terlibat dalam penelitian obat baru melalui jaringan kliniknya.

Namun sebagian obat penelitian diduga diselewengkan.

Larasati mengetahui suaminya memalsukan laporan penggunaan obat untuk keuntungan finansial.

Ketika Larasati mengancam melaporkannya, Hendra mulai memberinya obat penenang dan membangun narasi bahwa istrinya mengalami gangguan mental.

Persis seperti yang kemudian dilakukannya kepada Nisa.

Namun satu pertanyaan tetap belum terjawab.

Di mana Larasati?

Polisi menelusuri transaksi, rekaman tol, kamera lalu lintas, dan data telepon Hendra.

Sebuah petunjuk muncul dari rekaman CCTV enam bulan sebelumnya.

Mobil Hendra terlihat menuju sebuah vila milik keluarga di Lembang pada malam Larasati menghilang.

Keesokan paginya, mobil itu kembali ke Bandung.

Hendra sendirian.

Tim langsung menuju vila.

Bangunannya lama tidak digunakan.

Di ruang belakang, polisi menemukan bekas renovasi.

Namun lagi-lagi tidak ada jasad.

Yang mereka temukan adalah sebuah pintu kecil menuju ruang bawah tanah.

Di sana terdapat kasur tipis, botol air, beberapa bungkus makanan, dan borgol plastik.

Sari yang ikut bersama tim menutup mulutnya.

Di salah satu dinding ada goresan.

Tanggal.

Puluhan tanggal.

Semua dibuat setelah malam yang disebut Hendra sebagai hari ketika Larasati pergi.

Artinya Larasati tidak langsung dibunuh.

Ia pernah ditahan di sana.

Penyelidikan kemudian menemukan bukti transaksi tunai Hendra di sebuah terminal bus di Cirebon sekitar empat bulan lalu.

Dari kamera lama yang masih tersimpan, terlihat seorang perempuan turun dari mobil dengan langkah sempoyongan.

Hendra membantunya berjalan.

Perempuan itu adalah Larasati.

Namun setelah itu, sesuatu yang tidak diduga terjadi.

Rekaman kamera menunjukkan Hendra meninggalkan terminal seorang diri.

Larasati justru terlihat masuk ke sebuah bus tujuan Yogyakarta.

Hidup.

Tim menyebarkan pencarian.

Dua hari kemudian, Larasati ditemukan di sebuah rumah singgah perempuan di Bantul.

Ia kurus dan masih mengalami gangguan ingatan akibat penggunaan obat dalam waktu lama.

Namun ia hidup.

Ketika polisi menunjukkan foto Maya dan Nisa, Larasati langsung menangis.

Ia mengingat semuanya perlahan.

Hendra menahannya di vila selama hampir dua bulan.

Setelah kondisinya melemah, Hendra berencana meninggalkannya jauh dari Bandung agar kemunculannya kelak dianggap sebagai bukti bahwa ia memang pergi sendiri.

Di terminal Cirebon, Larasati sempat sadar penuh.

Ia melarikan diri ke bus pertama yang berangkat.

Karena kebingungan dan ketakutan, ia tidak berani menghubungi keluarga.

Ia hanya mengingat satu hal.

Hendra memiliki banyak koneksi.

Ia takut suaminya akan menemukannya lebih dulu.

Ketika Larasati akhirnya kembali ke Bandung dengan pengawalan polisi, Maya berlari paling cepat.

“Ibu!”

Larasati jatuh berlutut.

Maya menabrak pelukannya.

Nisa yang masih lemah berjalan pelan dari belakang.

Larasati memeluk keduanya.

Tangis mereka pecah di lorong rumah sakit.

“Ibu nggak pergi karena nggak sayang kami, kan?” tanya Maya.

Larasati menggeleng keras.

“Tidak pernah.”

Maya memeluknya semakin kuat.

Hendra kemudian ditetapkan sebagai tersangka atas sejumlah dugaan tindak pidana, termasuk kekerasan terhadap anak, perampasan kemerdekaan, penyalahgunaan obat, pemalsuan dokumen medis, dan pelanggaran dalam pengelolaan obat penelitian.

Kasus itu mengguncang dunia medis.

Kliniknya diperiksa.

Beberapa rekan Hendra juga ikut diselidiki.

Namun bagi Bambang, bagian paling sulit dari kasus itu bukanlah nama besar dokter yang jatuh.

Bukan pula jaringan ilegal yang terbongkar.

Melainkan kesadaran bahwa seluruh kasus bermula dari seorang anak tujuh tahun yang tahu sesuatu yang sering dilupakan orang dewasa.

Ketakutan tidak selalu berarti anak sedang berlebihan.

Beberapa bulan kemudian, Maya datang kembali ke Polsek Coblong.

Kali ini tidak dalam hujan.

Ia memakai seragam sekolah yang bersih.

Nisa berdiri di sampingnya sambil membawa sekotak kue.

Larasati menunggu di belakang.

Maya menyerahkan sesuatu kepada Bambang.

Sepasang sepatu kets lama.

Sepatu yang dulu dipakainya untuk menyembunyikan alat suntik.

Bambang tertawa kecil.

“Kenapa diberikan ke saya?”

Maya tersenyum.

“Karena Ibu belikan sepatu baru.”

Bambang mengangguk.

Maya lalu menatap sepatu itu.

“Dulu aku kira benda paling penting yang aku bawa malam itu adalah alat suntiknya.”

Bambang menatapnya.

“Ternyata bukan.”

“Apa?”

Maya menggenggam tangan Nisa.

“Yang paling penting adalah aku percaya kalau orang dewasa yang salah tetap bisa dilawan.”

Bambang tidak langsung menjawab.

Di belakang Maya, Larasati menahan air mata.

Sementara Nisa tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, dua saudari kembar itu pulang tanpa rasa takut bahwa seseorang akan mengunci pintu dari luar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang