Maya menatap Nadia tanpa berkedip.
Kalimat terakhir perempuan itu terasa jauh lebih menakutkan daripada kabar perselingkuhan yang baru saja menghancurkan pernikahannya.
“Semua aset atas nama saya?”
Nadia mengangguk perlahan.
“Saya tidak tahu detailnya. Rendy cuma pernah bilang minggu depan semuanya selesai. Setelah itu dia dan Ayah akan pergi ke Singapura dulu, lalu entah ke mana.”
“Siapa nama lengkap ayahmu?”
“Bram Wijaya.”
Maya memejamkan mata sesaat.
Nama itu memang tidak asing.
Bram Wijaya adalah konsultan investasi yang dikenalkan Rendy kepadanya hampir dua tahun lalu. Saat itu Rendy mengatakan Bram membantu beberapa pengusaha mengelola portofolio investasi dan restrukturisasi aset.
Maya hanya pernah bertemu dengannya dua kali.
Namun delapan bulan terakhir, nama perusahaan milik Bram mulai muncul dalam mutasi rekening keluarga mereka.
Maya segera teringat sesuatu.
Tiga bulan lalu Rendy pernah menyodorkan setumpuk dokumen kepadanya saat ia baru pulang setelah operasi panjang.
Katanya hanya pembaruan administrasi investasi.
Maya menandatanganinya tanpa membaca seluruh halaman.
Dadanya langsung terasa sesak.
“Ya Tuhan.”
“Ada apa?” tanya Nadia.
“Saya pernah menandatangani dokumen.”
Maya segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Pukul enam pagi itu, ia menelepon sahabat lamanya, Dimas Hartono, seorang pengacara korporasi yang pernah membantu keluarga mereka mengurus beberapa aset.
Dimas mengangkat telepon dengan suara mengantuk.
“Maya?”
“Mas, aku butuh bantuan.”
Nada suara Maya membuat Dimas langsung terjaga.
“Ada masalah apa?”
“Periksa semua perubahan kepemilikan aset atas namaku dan Rendy selama delapan bulan terakhir. Rumah, deposito, saham perusahaan, investasi, semuanya.”
“Maya, ini jam enam pagi.”
“Aku tahu.”
Maya menatap pintu ICU.
“Tapi kalau dugaanku benar, beberapa jam lagi mungkin sudah terlambat.”
Dimas tidak bertanya lagi.
“Aku cek.”
Sementara menunggu, Maya kembali memikirkan ponsel kedua Rendy yang ia temukan.
Perangkat itu masih berada di sakunya.
Ia mengeluarkannya.
Layarnya terkunci.
Namun beberapa notifikasi masih muncul.
Salah satunya berasal dari seseorang bernama B.
Jangan lupa pukul 09.00. Dokumen final harus masuk hari ini.
Pesan lain muncul beberapa menit kemudian.
Begitu transfer selesai, matikan nomor ini.
Maya merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
B bukan sekadar huruf.
Ia hampir yakin itu Bram.
Nadia membaca ekspresi Maya.
“Itu ponsel Rendy?”
Maya mengangguk.
“Pernah lihat?”
“Pernah. Dia selalu menyimpannya di mobil.”
Maya menatap Nadia.
“Kenapa dia ada di rumahmu malam tadi?”
Nadia menunduk.
“Dia datang sekitar jam sebelas. Katanya besok pagi harus pergi ke Surabaya.”
Maya hampir tertawa mendengar kebohongan yang sama.
“Lalu?”
“Kami makan malam. Setelah itu dia minum anggur.”
Nadia berhenti.
“Tiba-tiba dia berkeringat. Tangannya memegang dada. Beberapa detik kemudian dia jatuh.”
Maya menatap dua tangannya sendiri.
Jika ambulans datang beberapa menit terlambat, Rendy mungkin sudah meninggal.
Ironisnya, orang yang menyelamatkan nyawa pria itu justru perempuan yang sedang ia khianati dan rencanakan untuk dihancurkan.
Pukul 06.43, Dimas menelepon kembali.
“Maya.”
Nada suaranya terdengar berat.
“Aku menemukan sesuatu.”
Maya berjalan menjauh dari Nadia.
“Apa?”
“Tiga bulan lalu ada pengajuan perubahan struktur kepemilikan saham PT Pramudya Sentosa.”
Perusahaan itu didirikan Maya dan Rendy lima belas tahun lalu.
Rendy menjalankan operasionalnya, tetapi modal awal terbesar berasal dari Maya setelah ia menjual sebidang tanah warisan ibunya.
“Sahamku?”
“Empat puluh lima persen milikmu sedang dalam proses dialihkan.”
“Kepada siapa?”
“Perusahaan bernama BW Capital Advisory.”
Maya sudah tahu jawabannya.
“Bram Wijaya.”
“Benar.”
Dimas melanjutkan.
“Bukan cuma itu. Ada dokumen kuasa pengelolaan beberapa deposito dan surat berharga atas namamu.”
Maya merasakan ujung jarinya dingin.
“Ada tanda tanganku?”
“Ada.”
“Mas, aku tidak pernah memberi kuasa seperti itu.”
Dimas terdiam.
“Kalau begitu kita punya masalah besar.”
Maya teringat dokumen yang ia tanda tangani dalam keadaan kelelahan tiga bulan sebelumnya.
“Mungkin ada satu tanda tangan asli. Tapi aku tidak pernah menyetujui pemindahan saham.”
“Aku akan minta salinan lengkap.”
“Bisa dihentikan?”
“Kalau belum final, bisa. Tapi kita harus bergerak sekarang.”
Maya menatap jam.
06.48.
Pesan di ponsel Rendy menyebut pukul 09.00.
Mereka memiliki waktu sedikit lebih dari dua jam.
“Blokir apa pun yang bisa diblokir.”
“Aku butuh laporan resmi bahwa tanda tangan atau persetujuan itu disengketakan.”
“Siapkan.”
Maya menutup telepon.
Nadia berdiri beberapa meter darinya.
“Ayah saya melakukan semua ini?”
“Entahlah.”
Maya menatap perempuan itu.
“Tapi kalau kamu benar-benar tidak tahu, sekarang waktunya memilih.”
Nadia terlihat bingung.
“Memilih apa?”
“Melindungi ayahmu atau mengatakan semua yang kamu tahu.”
Air mata kembali memenuhi mata Nadia.
Beberapa saat ia tidak berkata apa-apa.
Kemudian ia mengambil ponselnya.
“Ada percakapan saya dengan Rendy.”
Maya menerima ponsel tersebut.
Puluhan pesan terbuka.
Sebagian memang percakapan romantis.

Namun semakin lama Maya membaca, isinya berubah.
Rendy beberapa kali menyebut proses pengalihan aset.
Tinggal saham Maya.
Bram bilang tanda tangannya sudah aman.
Begitu semuanya selesai kita bebas.
Ada pula pesan yang membuat napas Maya tertahan.
Setelah dana masuk, bagian Aria juga bisa kita urus. Anak itu gampang percaya.
Maya menutup mata.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan suaminya di rumah Nadia, kemarahan benar-benar muncul.
Rendy bukan hanya mengkhianati dirinya.
Ia telah menggunakan anak mereka.
Maya mengambil tangkapan layar seluruh percakapan dan mengirimkannya kepada Dimas.
Tepat pukul tujuh lewat sedikit, Rendy sadar.
Seorang perawat memberitahu Maya bahwa pasien meminta bertemu dengannya.
Maya masuk ke ruang ICU.
Rendy terbaring lemah dengan selang oksigen terpasang.
Begitu melihat Maya, wajahnya berubah.
“Maya.”
Maya berdiri di sisi ranjang.
“Bagaimana perasaanmu?”
“Dada masih sakit.”
“Dokter jantung akan memeriksamu lagi.”
Rendy menatapnya lama.
“Aku minta maaf.”
“Untuk Nadia?”
Rendy tidak menjawab.
“Atau Rp860 juta?”
Wajah Rendy langsung kehilangan warna.
Maya melanjutkan.
“Atau saham perusahaan?”
“Maya, dengarkan aku.”
“Atau dokumen Aria?”
“Maya.”
Suara Rendy berubah panik.
“Aku bisa jelaskan.”
“Kamu selalu bilang begitu.”
Maya menarik kursi dan duduk.
“Sekarang jelaskan.”
Rendy menatap pintu, memastikan tidak ada orang lain.
“Aku terlilit utang.”
Maya mengernyit.
“Utang apa?”
“Investasi.”
Ternyata dua tahun sebelumnya Rendy diam-diam menanamkan dana perusahaan ke beberapa proyek berisiko tinggi melalui jaringan Bram.
Awalnya menghasilkan keuntungan besar.
Rendy menjadi serakah.
Ia meminjam uang untuk menambah investasi.
Ketika pasar berbalik, semuanya runtuh.
Kerugiannya mencapai miliaran rupiah.
“Kenapa tidak bilang padaku?”
“Aku takut.”
“Jadi solusimu mencuri aset istrimu?”
“Aku cuma mau mengembalikannya nanti.”
Maya menatapnya tidak percaya.
“Dan Nadia?”
Rendy terdiam.
Jawaban itu sudah cukup.
“Bram menawarkan jalan keluar,” katanya akhirnya. “Dia bilang bisa menutup utangku kalau beberapa aset dialihkan sementara.”
“Sementara?”
Maya tersenyum pahit.
“Kamu berencana kabur minggu depan.”
Rendy membeku.
“Siapa bilang?”
“Nadia.”
Rendy memalingkan wajah.
Maya semakin yakin bahwa masih ada sesuatu yang disembunyikan.
“Kenapa Singapura?”
Rendy tidak menjawab.
“Rendy.”
“Aku tidak bisa bilang.”
Maya berdiri.
“Baik.”
Ia berjalan menuju pintu.
“Tunggu.”
Suara Rendy terdengar panik.
Maya berhenti.
“Bram bukan cuma konsultan.”
Maya menoleh.
Rendy menelan ludah.
“Dia mengendalikan beberapa perusahaan nominee. Uang dipindahkan melalui banyak rekening.”
“Pencucian uang?”
“Aku tidak tahu semuanya.”
“Kamu tahu cukup banyak untuk kabur bersamanya.”
Rendy menutup mata.
“Aku ingin keluar dari semua ini.”
Maya hampir tidak percaya.
“Kamu ingin keluar setelah mengambil hampir seluruh hidupku?”
Rendy membuka mata.
“Aku tidak pernah berniat membuatmu kehilangan semuanya.”
“Lalu apa yang kamu rencanakan?”
Rendy tidak menjawab.
Ponsel Maya bergetar.
Dimas.
Ia mengangkatnya.
“Bagaimana?”
“Kita berhasil menahan proses pengalihan saham.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, Maya bisa bernapas sedikit lega.
“Tapi ada masalah lain.”
“Apa?”
“BW Capital baru saja mencoba mencairkan deposito atas namamu senilai 2,4 miliar.”
Maya menatap Rendy.
“Berhasil?”
“Tidak. Bank menahannya setelah menerima pemberitahuan sengketa.”
Rendy mendengar percakapan itu.
Wajahnya langsung pucat.
“Jam berapa sekarang?” tanyanya.
“Delapan lewat dua belas.”
Rendy tiba-tiba berusaha bangun.
Monitor jantung berbunyi lebih cepat.
“Kamu harus hentikan Bram.”
Maya menatapnya.
“Aku sedang melakukannya.”
“Bukan soal uang.”
Rendy terlihat benar-benar ketakutan.
“Kalau transfer gagal, dia tahu aku ketahuan.”
“Lalu?”
Rendy menatap Maya.
“Dia akan menghilang.”
Maya terdiam.
“Dengan bukti semuanya.”
Ternyata Rendy selama berbulan-bulan menyimpan salinan transaksi Bram di ponsel keduanya.
Bukan karena ingin melaporkannya.
Melainkan sebagai jaminan agar Bram tidak mengkhianatinya setelah aset berpindah.
Namun Rendy tidak tahu bahwa ponsel itu kini berada di tangan Maya.
“Password-nya apa?”
Rendy menatapnya lama.
“041107.”
Maya memasukkan angka itu.
Ponsel terbuka.
Di dalamnya terdapat ratusan dokumen, percakapan, rekaman suara, dan bukti transaksi.
Maya segera mengirim semuanya kepada Dimas.
Beberapa jam berikutnya berlangsung cepat.
Dimas menghubungi bank, notaris, dan kemudian aparat berwenang setelah menemukan indikasi pemalsuan dokumen serta transaksi mencurigakan.
Namun kejutan terbesar datang dari Nadia.
Sekitar pukul sebelas siang, ia menerima telepon dari ayahnya.
Nadia menyalakan pengeras suara.
“Kamu di mana?” suara Bram terdengar.
“Rumah sakit.”
“Rendy sadar?”
“Iya.”
Bram terdiam beberapa detik.
“Kamu jangan bicara kepada siapa pun.”
Nadia menatap Maya.
“Ayah sebenarnya sedang melakukan apa?”
“Jangan banyak tanya.”
“Ayah memakai aku untuk mendekati Rendy?”
Keheningan panjang.
Kemudian Bram berkata dingin.
“Rendy yang mendekatimu. Ayah cuma membuka pintu.”
Nadia mulai menangis.
“Kenapa?”
“Karena orang seperti dia mudah dikendalikan kalau merasa punya sesuatu yang harus disembunyikan.”
Maya merasakan seluruh kepingan akhirnya menyatu.
Nadia bukan hadiah untuk Rendy.
Ia adalah perangkap.
Bram mengetahui kelemahan Rendy, membiarkan hubungan itu berkembang, lalu menggunakan perselingkuhan tersebut untuk membuat Rendy semakin bergantung kepadanya.
Utang.
Perempuan lain.
Dokumen palsu.
Pelarian.
Semuanya membentuk jerat.
“Ayah mau ke mana?” tanya Nadia.
Bram langsung menutup telepon.
Namun percakapan itu telah direkam.
Siang itu, laporan resmi dibuat.
Bram sempat berusaha meninggalkan Jakarta, tetapi pergerakannya berhasil terlacak setelah penyelidikan terhadap transaksi dan perusahaan yang dikelolanya berkembang jauh lebih besar daripada dugaan Maya.
Rendy tidak ikut ditahan hari itu karena masih menjalani perawatan.
Namun statusnya segera berubah menjadi pihak yang diperiksa dalam kasus pemalsuan dokumen dan penggelapan aset.
Tiga hari kemudian, Maya berdiri di depan kamar Rendy.
Kondisi suaminya sudah jauh lebih baik.
Rendy menatap sebuah koper kecil di sudut ruangan.
Koper yang dibawa Maya dari rumah.
Koper yang seharusnya ia gunakan untuk perjalanan palsunya ke Surabaya.
“Kamu membawanya,” katanya.
Maya mengangguk.
“Aku pikir kamu akan membutuhkannya.”
Rendy tersenyum pahit.
“Maya, setelah semua ini… masih ada kesempatan buat kita?”
Maya menatap pria yang telah bersamanya selama sembilan belas tahun.
Dulu ia berpikir pengkhianatan terbesar adalah ketika seorang suami mencintai perempuan lain.
Sekarang ia mengerti ada pengkhianatan yang jauh lebih dalam.
Ketika seseorang menggunakan kepercayaan orang yang mencintainya sebagai alat untuk menghancurkan hidup orang itu sendiri.
Maya meletakkan sebuah amplop di meja.
Rendy menatapnya.
“Apa itu?”
“Gugatan cerai.”
Wajah Rendy runtuh.
“Maya.”
“Aku menyelamatkan nyawamu malam itu karena aku dokter.”
Suara Maya tetap tenang.
“Tapi aku tidak berkewajiban menyelamatkan pernikahan yang kamu sendiri habiskan delapan bulan untuk menghancurkannya.”
Rendy menunduk.
Maya berbalik menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia berhenti.
“Ada satu hal yang mungkin ingin kamu tahu.”
Rendy mengangkat kepala.
“Aria datang ke Jakarta.”
Wajah Rendy berubah.
“Dia mau bertemu aku?”
“Bukan.”
Maya menatapnya.
“Dia datang untuk memberikan kesaksian tentang semua dokumen yang pernah kamu minta darinya.”
Rendy terdiam.
Maya membuka pintu.
Empat bulan kemudian, kehidupan mereka berubah sepenuhnya.
Proses hukum terhadap jaringan Bram berkembang. Sebagian besar aset Maya berhasil diamankan karena pengalihan belum selesai dan sejumlah dokumen terbukti bermasalah.
Nadia memutus hubungan dengan ayahnya dan menjadi salah satu saksi penting.
Sementara Rendy harus menghadapi konsekuensi dari keputusan-keputusan yang selama ini ia sembunyikan.
Pada suatu sore, Maya pulang dari rumah sakit dan menemukan sebuah kotak di depan pintu rumah.
Di dalamnya terdapat kemeja biru milik Rendy.
Kemeja yang dikenakannya pada malam ketika semua kebohongan terbongkar.
Rendy mengirimkannya melalui Aria.
Ada secarik kertas di dalam kotak.
Maya membaca tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Seandainya malam itu dokter yang datang bukan kamu, mungkin aku sudah mati membawa semua kebohongan ini.
Maya memandangi kemeja tersebut lama.
Kemudian ia melipatnya perlahan.
Persis seperti malam itu.
Bedanya, kali ini ia tidak memasukkannya ke koper.
Ia memasukkannya ke dalam kardus bersama barang-barang Rendy yang lain.
Aria yang berdiri di dekat pintu memandang ibunya.
“Ibu enggak sedih?”
Maya tersenyum tipis.
“Sedih.”
“Terus kenapa Ibu kelihatan tenang?”
Maya menutup kardus itu.
“Karena kehilangan seseorang tidak selalu berarti hidup kita berakhir.”
Ia memandang putranya.
“Kadang kita baru sadar hidup kita hampir hilang setelah orang itu pergi.”
Aria memeluk ibunya.
Maya membalas pelukan itu.
Di luar jendela, Jakarta mulai diguyur hujan.
Maya tidak tahu seperti apa kehidupannya setelah sembilan belas tahun pernikahan berakhir.
Namun ia tahu satu hal.
Malam ketika ia menemukan Rendy sekarat di rumah perempuan lain semula terasa seperti malam paling buruk dalam hidupnya.
Ternyata bukan.
Itu adalah malam yang menyelamatkannya.
Bukan hanya dari kehilangan hampir seluruh hartanya.
Melainkan dari menghabiskan sisa hidup bersama seseorang yang selama delapan bulan diam-diam merencanakan masa depan tanpa dirinya.
