EMPAT BOCAH YANG WAJAHNYA PERSIS SEPERTI DIRINYA BERDIRI DI DEPAN RESTORAN MEWAH. RAHASIA BESAR YANG DISEMBUNYIKAN IBUNYA SELAMA ENAM TAHUN TERBONGKAR, TEPAT SEBELUM ACARA PERTUNANGANNYA DIMULAI!

Maya menatap Rendra dengan mata yang basah, tetapi suaranya tetap tenang ketika mengucapkan kalimat yang selama enam tahun hanya berani dia simpan sendiri.

“Kalau kamu benar-benar tidak tahu apa yang terjadi enam tahun lalu, berarti ibumu sendiri yang sudah menghancurkan kita.”

Rendra berdiri seperti kehilangan kemampuan untuk bergerak.

Suara kendaraan dari Jalan Sudirman terdengar jauh, seolah berasal dari dunia lain.

“Apa maksudmu?”

Maya menoleh ke arah mobil. Keempat anaknya sudah duduk di dalam SUV. Gael sedang membantu Leo merapikan sabuk pengaman, sementara Nico dan Bruno memperhatikan mereka dari balik kaca.

“Aku tidak mau bicara di sini.”

“Kalau begitu kita pergi sekarang.”

Maya menatap seragam kerjanya.

“Aku masih bekerja.”

“Aku akan bicara dengan manajermu.”

“Aku tidak butuh kamu menyelesaikan semua masalahku dengan uang.”

Kalimat itu membuat Rendra terdiam.

Nada Maya bukan nada seseorang yang ingin memanfaatkan seorang pria kaya yang tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya.

Justru sebaliknya.

Ada harga diri yang terluka di sana.

Ada enam tahun perjuangan yang tidak diketahui siapa pun.

Maya akhirnya masuk ke dalam mobil setelah manajer restoran mengizinkannya pulang lebih awal.

Mereka pergi ke apartemen kecil yang disewa Maya di kawasan Tebet.

Begitu Rendra memasuki tempat itu, dadanya semakin terasa sesak.

Apartemen tersebut hanya memiliki dua kamar.

Ruang tamunya dipenuhi buku sekolah, kotak mainan bekas, beberapa seragam yang sedang dijemur di dekat jendela, serta empat tempat minum dengan nama berbeda.

Gael.

Bruno.

Nico.

Leo.

Di atas meja makan terdapat sebuah kalender dengan banyak tulisan kecil.

Uang sekolah.

Tagihan listrik.

Kontrol Leo.

Bayar kontrakan.

Rendra berdiri lama di depan kalender itu.

Selama bertahun-tahun dia menandatangani proyek bernilai ratusan miliar rupiah tanpa berpikir dua kali.

Sementara empat anak yang mungkin darah dagingnya sendiri tumbuh di sebuah apartemen kecil dengan kehidupan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo ke tanggal jatuh tempo berikutnya.

Maya menyuruh anak-anak masuk kamar.

“Ganti baju dulu. Setelah itu Ibu masak.”

“Aku bisa pesan makanan,” kata Rendra.

Maya menatapnya.

“Tidak.”

“Mereka lapar.”

“Aku tahu.”

“Maya.”

“Aku bilang tidak.”

Rendra akhirnya diam.

Maya berjalan ke dapur kecil dan membuka kulkas.

Isinya tidak banyak.

Beberapa telur, sayuran, tempe, susu kotak, dan sebuah wadah berisi ayam ungkep.

Tanpa banyak bicara, Maya mulai memasak.

Rendra berdiri di dekat meja makan.

“Aku mau tahu apa yang terjadi.”

Maya tidak menoleh.

“Enam tahun lalu, setelah aku tahu aku hamil, aku menghubungimu.”

“Aku tidak pernah menerima teleponmu.”

“Aku menelepon puluhan kali.”

Rendra menggeleng.

“Nomorku aktif.”

“Aku juga datang ke kantor.”

“Kamu tidak pernah datang.”

Maya berhenti mengaduk tumisan.

Dia menoleh perlahan.

“Aku datang tiga kali.”

Rendra membeku.

“Resepsionis bilang kamu sedang di Singapura.”

“Aku memang di Singapura selama lima hari.”

“Aku datang lagi setelah kamu pulang. Satpam mengatakan kamu tidak ingin bertemu denganku.”

“Aku tidak pernah mengatakan itu.”

Maya menatapnya dalam-dalam.

“Aku mulai curiga setelah hari itu.”

Dia mematikan kompor.

Kemudian berjalan menuju lemari kecil di dekat kamar.

Dari dalam laci, Maya mengambil sebuah kotak plastik bening.

Kotak itu terlihat tua.

Di dalamnya tersimpan beberapa amplop, foto USG, salinan dokumen, dan sebuah ponsel lama.

Maya meletakkannya di depan Rendra.

“Dua minggu setelah aku tahu aku hamil, ibumu datang menemuiku.”

Rendra tidak bergerak.

“Apa yang dia lakukan?”

“Dia membawa pengacara.”

Maya mengeluarkan sebuah dokumen.

“Dia menawarkan uang tiga miliar rupiah kalau aku mau pergi dari hidupmu.”

Rendra menatap dokumen tersebut.

Di bagian bawah terdapat nama sebuah firma hukum yang memang selama bertahun-tahun bekerja untuk keluarga Wardhana.

“Aku menolak,” lanjut Maya.

“Lalu?”

“Dia bilang aku tidak pantas masuk keluarga kalian. Dia bilang kamu sedang dipersiapkan untuk menikah dengan perempuan dari keluarga yang bisa memperkuat bisnis Wardhana.”

Rendra memejamkan mata.

Clarissa.

Semua mendadak terasa lebih masuk akal.

“Kenapa kamu tidak mencari aku?”

“Aku terus mencari.”

Maya membuka ponsel lama.

Layar retak itu masih bisa menyala.

Dia memperlihatkan beberapa pesan.

Rendra membacanya.

Aku sudah tahu tentang kehamilanmu.

Jangan hubungi Rendra lagi.

Dia sudah memilih keluarganya.

Beberapa pesan dikirim dari nomor yang dulu digunakan Rendra.

Rendra langsung meraih ponsel itu.

“Itu bukan aku.”

“Aku tahu sekarang.”

“Apa?”

Maya mengeluarkan sebuah kertas lain.

“Beberapa bulan setelah anak-anak lahir, aku meminta teman yang bekerja di perusahaan telekomunikasi memeriksa nomor itu. Ternyata kartu penggantinya pernah diterbitkan menggunakan surat kuasa perusahaan Wardhana.”

Wajah Rendra berubah.

“Siapa yang mengurusnya?”

Maya tidak langsung menjawab.

“Seseorang dari kantor ibumu.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Rendra merasa seluruh fondasi hidupnya runtuh.

Enam tahun lalu dia benar-benar percaya Maya pergi membawa uang.

Henny bahkan menunjukkan bukti transfer.

“Ibu menunjukkan kepadaku transfer tiga miliar ke rekeningmu.”

Maya tertawa pahit.

“Rekeningku dibekukan waktu itu.”

“Apa?”

“Karena ada transaksi mencurigakan yang tidak pernah aku lakukan.”

Rendra menatap Maya.

“Maksudmu?”

“Uang itu masuk ke rekeningku, lalu beberapa jam kemudian dipindahkan lagi ke rekening lain.”

“Kamu tahu rekening siapa?”

Maya mengambil sebuah berkas terakhir.

“Perusahaan cangkang bernama Sentra Kencana Abadi.”

Rendra langsung mengenal nama itu.

Perusahaan tersebut pernah menjadi vendor salah satu proyek lama Wardhana Group.

Namun perusahaan itu sudah dibubarkan.

“Maya, kenapa kamu tidak melapor?”

“Aku melapor.”

“Kepada siapa?”

“Polisi.”

Maya menatapnya tanpa ekspresi.

“Tiga hari kemudian, aku diberhentikan dari klinik tempatku bekerja.”

Rendra mengerutkan kening.

“Kamu dipecat?”

“Direkturnya bilang ada laporan bahwa aku mencuri obat.”

“Itu tidak mungkin.”

“Aku tahu.”

Maya menarik kursi dan duduk.

“Tapi saat itu aku hamil empat anak, tidak punya pekerjaan, dan setiap kali mencoba mencari bantuan, selalu ada sesuatu yang terjadi.”

Rendra merasa tengkuknya dingin.

“Empat?”

Maya menatapnya.

“Aku baru tahu kembar empat ketika usia kandunganku hampir tiga bulan.”

Rendra menatap ke arah kamar.

Ada suara anak-anak tertawa pelan dari dalam.

Dia membayangkan Maya sendirian menghadapi kehamilan berisiko tinggi tanpa dirinya.

“Kenapa setelah mereka lahir kamu tidak datang lagi?”

Mata Maya berkaca-kaca.

“Karena aku takut.”

“Takut kepada siapa?”

“Ibumu.”

Rendra hendak mengatakan sesuatu, tetapi pintu kamar terbuka.

Leo muncul.

Dia sudah mengganti seragam sekolah dengan kaus bergambar dinosaurus.

“Ibu, nasi sudah jadi?”

Maya segera menghapus air matanya.

“Sebentar lagi.”

Leo kemudian menatap Rendra.

Dengan polos dia bertanya, “Om ini siapa?”

Pertanyaan itu menghantam Rendra lebih keras daripada segala tuduhan Maya.

Dia membuka mulut.

Namun tidak ada kata yang keluar.

Maya menjawab pelan.

“Teman lama Ibu.”

Leo mengangguk lalu kembali masuk kamar.

Rendra menunduk.

“Teman lama.”

Maya tidak menjawab.

Ponsel Rendra tiba-tiba berdering.

Nama Henny Wardhana muncul di layar.

Maya langsung menegang.

Rendra menerima panggilan itu.

“Rendra! Kamu di mana?”

Suara Henny terdengar marah.

“Keluarga Adhitama dipermalukan! Clarissa menangis! Wartawan sudah mencium sesuatu!”

Rendra memandang Maya.

“Bu.”

“Apa?”

“Aku bertemu Maya.”

Hening.

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Kemudian Henny berkata perlahan, “Pulang sekarang.”

“Kenapa?”

“Jangan membuat keputusan bodoh hanya karena perempuan itu muncul lagi.”

Jantung Rendra berdegup keras.

“Ibu bahkan tidak bertanya Maya yang mana.”

Henny diam.

Rendra menatap Maya.

“Berarti Ibu tahu.”

“Rendra, pulang.”

“Ada empat anak di sini.”

Kali ini napas Henny terdengar jelas.

“Pulang sekarang!”

Rendra memutus telepon.

Wajahnya sudah berubah.

“Aku mau menemui Ibu.”

Maya langsung berdiri.

“Jangan.”

“Aku harus tahu.”

“Rendra, kalau ibumu sampai tahu tempat tinggal kami—”

“Dia sudah tahu.”

Maya terdiam.

“Apa?”

Rendra menatap jendela.

“Kalau semua yang kamu ceritakan benar, perempuan seperti Ibu tidak mungkin membiarkanmu hidup enam tahun tanpa pengawasan.”

Malam itu juga Rendra meminta kepala keamanan pribadinya menjemput Maya dan keempat anak untuk dipindahkan ke sebuah serviced apartment yang menggunakan nama perusahaan lain.

Setelah memastikan mereka aman, dia pergi ke rumah keluarga Wardhana di Menteng.

Henny menunggunya di ruang kerja.

Perempuan berusia 59 tahun itu masih mengenakan gaun pesta dari acara pertunangan yang gagal.

“Kamu sudah menghancurkan kerja sama bernilai hampir delapan ratus miliar rupiah.”

Rendra berdiri di depan meja.

“Ibu memalsukan pesan atas namaku?”

Henny tidak menjawab.

“Ibu membayar orang untuk menjauhkan Maya dariku?”

“Perempuan itu tidak cocok untukmu.”

“Empat anakku hidup tanpa ayah selama enam tahun.”

“Kita bahkan belum tahu mereka anakmu.”

Rendra tertawa pendek.

“Wajah mereka seperti aku dicetak empat kali.”

“DNA tetap harus diperiksa.”

“Bagus.”

Rendra meletakkan sebuah alat perekam kecil di meja.

“Besok kita periksa.”

Henny menatap benda itu.

“Apa itu?”

“Tidak penting.”

Rendra sebenarnya sengaja berbohong.

Alat itu tidak merekam apa pun.

Dia hanya ingin melihat reaksi ibunya.

Henny terlihat pucat.

Dan itu cukup.

“Ibu melakukan semuanya?”

“Rendra.”

“Jawab.”

Henny berdiri.

“Aku menyelamatkan masa depanmu.”

“Dengan mencuri enam tahun hidupku?”

“Maya akan menghancurkan semua yang sudah keluarga ini bangun.”

“Bagaimana?”

“Dia bukan siapa-siapa.”

Rendra menatap ibunya seolah baru pertama kali benar-benar mengenal perempuan itu.

“Bagi Ibu, manusia cuma dinilai dari nama keluarga?”

“Kamu tidak mengerti bagaimana dunia bekerja.”

“Tidak.”

Rendra mengangguk perlahan.

“Sepertinya selama ini justru aku terlalu lama hidup di dunia buatan Ibu.”

Henny kehilangan kesabaran.

“Aku melakukan semua ini karena ayahmu!”

Nama itu membuat Rendra berhenti.

Ayah Rendra meninggal sembilan tahun sebelumnya karena serangan jantung.

“Apa hubungannya dengan Ayah?”

Henny terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, kesombongan di wajahnya runtuh.

“Ayahmu pernah berselingkuh.”

Rendra membeku.

“Dengan siapa?”

“Seorang perempuan biasa. Pegawai hotel.”

Henny tertawa getir.

“Dia hampir meninggalkan kami. Hampir menyerahkan sebagian perusahaan kepada perempuan itu.”

“Jadi?”

“Aku tidak akan membiarkan anakku melakukan kesalahan yang sama.”

“Maya bukan selingkuhanku.”

“Semua dimulai dari cinta.”

Rendra menggeleng tak percaya.

“Ibu menghancurkan Maya karena trauma Ibu sendiri.”

“Aku melindungimu!”

“Tidak.”

Suara Rendra berubah dingin.

“Ibu melindungi ketakutan Ibu.”

Keesokan paginya, Rendra melakukan tes DNA bersama keempat anak.

Hasil dipercepat melalui laboratorium independen.

Dua hari kemudian, hasilnya keluar.

Probabilitas hubungan biologis lebih dari 99,99 persen.

Gael, Bruno, Nico, dan Leo adalah anak kandung Rendra Wardhana.

Namun pada hari yang sama, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.

Tim hukum Rendra menemukan fakta bahwa Sentra Kencana Abadi bukan sekadar perusahaan cangkang.

Pemilik manfaat terakhir perusahaan tersebut bukan Henny.

Melainkan Handoko Pratama.

Direktur keuangan Wardhana Group.

Orang kepercayaan keluarga selama hampir dua puluh tahun.

Rendra langsung memerintahkan audit forensik.

Dan hasilnya membuka lapisan rahasia lain.

Handoko ternyata menggunakan konflik antara Henny dan Maya untuk mencuri uang perusahaan selama bertahun-tahun.

Dia membantu Henny mengatur transfer palsu kepada Maya.

Namun setelah uang itu dipindahkan, dia memasukkannya ke jaringan perusahaan miliknya sendiri.

Bukan hanya tiga miliar.

Total dana yang dialihkan selama enam tahun mencapai hampir seratus dua puluh miliar rupiah.

Henny memang merencanakan pemisahan Rendra dan Maya.

Tetapi Handoko memanfaatkan rencana tersebut untuk menjalankan pencurian jauh lebih besar.

Ketika Rendra menunjukkan hasil audit itu, Henny terduduk.

“Aku tidak tahu.”

Rendra menatap ibunya tanpa simpati.

“Kalimat itu tidak menghapus apa yang Ibu lakukan.”

Handoko akhirnya ditangkap setelah mencoba meninggalkan Indonesia melalui Bandara Soekarno Hatta.

Penyelidikan polisi juga menemukan bukti bahwa dia menyuap beberapa pihak untuk membuat laporan palsu terhadap Maya enam tahun sebelumnya.

Namun bagi Rendra, penangkapan Handoko bukan akhir dari masalah.

Masalah sesungguhnya justru dimulai ketika dia mencoba mendekati anak-anaknya.

Gael paling sulit menerima kehadirannya.

Suatu sore, Rendra datang membawa empat sepeda baru.

Gael berdiri di depan pintu.

“Kami nggak butuh.”

Rendra terdiam.

“Aku cuma ingin memberi kalian sesuatu.”

“Kami punya sepeda.”

“Yang kalian punya cuma satu.”

“Bisa gantian.”

Rendra menatap bocah enam tahun yang memiliki sorot mata hampir sama dengannya.

“Gael.”

Anak itu tiba-tiba bertanya, “Kalau Om memang ayah kami, kenapa baru datang sekarang?”

Rendra tidak memiliki jawaban yang bisa memperbaiki enam tahun dalam satu kalimat.

Akhirnya dia berjongkok.

“Karena Ayah tidak tahu kalian ada.”

Gael menatapnya curiga.

“Kalau sekarang sudah tahu, Ayah bakal pergi lagi?”

Pertanyaan itu membuat mata Rendra memanas.

“Tidak.”

“Janji?”

Rendra mengangguk.

“Janji.”

Gael masih tidak tersenyum.

Tetapi sore itu, untuk pertama kalinya, dia membiarkan Rendra masuk.

Rendra tidak langsung membawa Maya dan anak-anak ke rumah besar.

Dia tidak memaksa mereka mengganti kehidupan dalam semalam.

Dia belajar membantu membuat bekal sekolah.

Belajar membedakan susu yang disukai Bruno dan Nico.

Belajar bahwa Leo takut suara petir.

Belajar bahwa Gael selalu memastikan adik-adiknya makan lebih dulu.

Dan semakin banyak hal yang dia ketahui, semakin besar rasa kehilangan yang dirasakannya.

Tiga bulan kemudian, Clarissa datang menemui Rendra.

Tidak ada kemarahan di wajahnya.

Hanya senyum tipis.

“Jadi benar kamu punya empat anak.”

Rendra mengangguk.

“Aku minta maaf soal malam itu.”

Clarissa duduk di depannya.

“Awalnya aku marah.”

“Aku tahu.”

“Tapi sekarang aku malah bersyukur.”

Rendra mengernyit.

Clarissa tertawa.

“Aku juga tidak mencintaimu.”

Untuk pertama kalinya Rendra tersenyum.

Clarissa kemudian mengaku bahwa dirinya juga menerima tekanan dari keluarga untuk menjalani pernikahan bisnis.

Pembatalan pertunangan justru memberi keberanian kepadanya untuk menolak.

Kerja sama antara dua perusahaan tetap berlangsung, tetapi tanpa pernikahan.

Henny mengundurkan diri dari seluruh jabatan di Wardhana Group setelah skandal Handoko terungkap.

Hubungannya dengan Rendra tidak pernah kembali seperti sebelumnya.

Namun beberapa bulan kemudian, dia meminta bertemu Maya.

Pertemuan itu berlangsung di sebuah taman kecil dekat sekolah anak-anak.

Henny datang tanpa sopir.

Tanpa pengawal.

Tanpa perhiasan mahal.

“Aku tidak berharap kamu memaafkanku,” katanya.

Maya menatap perempuan yang pernah menghancurkan hidupnya.

“Bagus.”

Henny menunduk.

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku salah.”

Maya tidak langsung menjawab.

“Aku pernah berharap setiap hari Ibu datang meminta maaf.”

Henny mengangkat kepala.

“Sekarang?”

“Sekarang aku cuma ingin anak-anak saya tumbuh tanpa membawa kebencian orang dewasa.”

Mata Henny mulai berkaca-kaca.

“Bolehkah aku mengenal mereka?”

Maya menatap empat bocah yang sedang bermain di kejauhan bersama Rendra.

“Bukan keputusan saya sendiri.”

Henny mengangguk.

Itulah pertama kalinya dalam hidupnya dia belajar bahwa tidak semua hal bisa dia dapatkan hanya karena menginginkannya.

Setahun kemudian, Rendra tidak mengadakan pesta mewah.

Tidak ada ballroom.

Tidak ada bunga impor.

Tidak ada delapan puluh tamu penting.

Hanya sebuah halaman kecil di rumah yang baru dia beli tidak jauh dari sekolah anak-anak.

Maya berdiri mengenakan gaun sederhana.

Keempat bocah duduk di barisan paling depan.

Ketika Rendra mengeluarkan cincin, Leo tiba-tiba berdiri.

“Ayah.”

Semua orang menoleh.

“Apa?”

Leo menunjuk cincin itu.

“Yang dulu buat Tante Clarissa lebih mahal nggak?”

Semua orang tertawa.

Rendra ikut tertawa sampai matanya berkaca-kaca.

“Jauh lebih mahal.”

Leo terlihat bingung.

“Terus kenapa yang buat Ibu lebih kecil?”

Rendra menatap Maya.

Kemudian dia menjawab pelan.

“Karena dulu Ayah pikir harga cincin menentukan seberapa penting seseorang.”

Dia menggenggam tangan Maya.

“Sekarang Ayah tahu yang paling berharga justru hal yang tidak bisa dibeli.”

Maya tersenyum.

Gael memandang adik-adiknya lalu berbisik cukup keras hingga semua orang mendengar.

“Berarti Ayah akhirnya pintar juga.”

Tawa kembali memenuhi halaman.

Rendra menatap empat anak laki-laki yang setahun sebelumnya ditemukannya secara tidak sengaja di koridor sebuah restoran.

Malam itu seharusnya menjadi malam ketika dia mengikat hidupnya pada sebuah pernikahan yang tidak dia inginkan.

Namun justru di tempat itulah hidup mengembalikan sesuatu yang telah dirampas darinya selama enam tahun.

Bukan perusahaan.

Bukan kekuasaan.

Bukan nama keluarga Wardhana.

Melainkan empat suara kecil yang sekarang memanggilnya Ayah.

Dan seorang perempuan yang, meski telah kehilangan begitu banyak karena keluarganya, masih memilih memberinya kesempatan untuk membangun kembali sesuatu yang hampir dihancurkan selamanya.

Rendra akhirnya memahami satu hal.

Ada rahasia yang mampu menghancurkan sebuah keluarga.

Tetapi ada pula kebenaran yang datang terlambat bukan untuk mengembalikan waktu yang hilang, melainkan untuk mengajarkan manusia agar tidak menyia-nyiakan waktu yang masih tersisa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang