Pagi belum benar-benar datang ketika Nadia menerima pesan pertama dari Bu Maya.
Ia sedang duduk di kamar sebuah hotel bisnis di kawasan Kuningan, masih mengenakan kemeja yang sama sejak malam sebelumnya. Pelipisnya sudah dibersihkan dan ditutup perban kecil oleh dokter yang dipanggil ke hotel. Di atas meja, laptop menyala dengan puluhan folder transaksi PT Mahameru Konstruksi yang selama berbulan-bulan diam-diam ia salin dari sistem perusahaan.
Ponselnya bergetar.
“Nadia, polisi sudah menerima laporan awal. Tapi ada sesuatu yang harus kamu lihat sekarang.”
Sebuah rekaman video masuk.
Nadia membuka file itu.
Tanggal dan waktu di sudut kanan atas menunjukkan pukul 21.17 malam sebelumnya.
Kamera dapur memperlihatkan seorang perempuan masuk dengan langkah tergesa-gesa.
Nadia langsung mengenalinya.
“Siska?”
Siska Pramesti adalah sekretaris pribadi Dimas selama hampir tiga tahun.
Usianya sekitar tiga puluh tahun, penampilannya selalu rapi, tutur katanya lembut, dan selama ini ia dikenal sangat loyal kepada keluarga Danuarta.
Dalam rekaman itu, Siska menoleh beberapa kali ke arah pintu.
Kemudian ia mengeluarkan botol kecil tanpa label dari tasnya.
Cairan bening dituangkan ke dalam gelas.
Setelah itu, Siska memasukkan botol tersebut ke balik deretan gelas kristal.
Nadia memperbesar gambar.
Tangan perempuan itu gemetar hebat.
Beberapa detik kemudian Ratna masuk ke dapur.
Siska langsung berdiri kaku.
Ratna menunjuk gelas.
Bibirnya bergerak.
Sayangnya kamera di dapur tidak memiliki rekaman suara.
Namun ekspresi wajah Ratna cukup jelas.
Siska tampak ketakutan.
Ratna kemudian meninggalkan ruangan.
Nadia menatap layar tanpa berkedip.
Jadi Ratna memang tahu.
Tetapi mengapa Siska yang menuangkan cairan itu?
Dan apa sebenarnya isi botol tersebut?
Belum sempat Nadia menyusun jawabannya, Bu Maya menelepon.
“Tim kami sudah menghubungi petugas untuk mengamankan rumah. Jangan kembali ke sana sendirian.”
“Apa polisi bisa menyita botol itu?”
“Kalau masih ada, ya. Saya juga meminta pemeriksaan laboratorium.”
Nadia mengusap wajah.
“Ada satu hal lagi, Bu. Saya mau semua server Mahameru diamankan sebelum Dimas sempat menghapus apa pun.”
“Sudah saya ajukan melalui mekanisme hukum yang memungkinkan. Tapi Nadia, kamu harus siap. Begitu audit dimulai, masalahnya mungkin jauh lebih besar dari perselingkuhan finansial biasa.”
Nadia tertawa pendek tanpa humor.
“Setelah semalam, saya rasa tidak banyak hal yang bisa mengejutkan saya lagi.”
Ternyata ia salah.
Pukul delapan pagi, Dimas menelepon tujuh kali.
Nadia tidak mengangkat.
Pesan masuk bertubi-tubi.
“Kamu keterlaluan.”
“Tarik laporan polisi.”
“Investor Surabaya menghubungi saya.”
“Kamu mau menghancurkan perusahaan yang baru saja kamu selamatkan sendiri?”
Pesan terakhir berbeda.
“Nadia, kita masih bisa bicara baik-baik.”
Nadia membaca kalimat itu lama.
Baru beberapa jam sebelumnya laki-laki yang sama mendorongnya hingga kepalanya membentur meja.
Kini ia ingin bicara baik-baik.
Nadia memblokir nomor Dimas.
Setengah jam kemudian, nomor lain menelepon.
Ratna.
Nadia membiarkannya berbunyi.
Kemudian masuk pesan suara.
“Dasar perempuan tidak tahu diri. Kamu pikir polisi akan percaya sama kamu? Dimas itu suamimu. Masalah rumah tangga jangan dibawa ke luar. Kalau keluarga besar tahu, kamu sendiri yang malu.”
Nadia menghapus pesan itu setelah menyimpannya sebagai bukti.
Menjelang siang, keadaan berubah cepat.
Audit forensik yang dilakukan tim independen menemukan pola transaksi mencurigakan senilai lebih dari seratus dua puluh miliar rupiah dalam tiga tahun terakhir.
Sebagian dana berasal dari pembayaran proyek.
Sebagian lagi berasal dari kredit modal kerja yang seharusnya digunakan untuk operasional perusahaan.
Uangnya mengalir melalui tiga vendor.
PT Arunika Persada.
PT Lentera Cipta Abadi.
Dan CV Sembilan Pilar.
Ketiganya memiliki alamat kantor berbeda.
Namun satu hal menarik muncul ketika tim memeriksa dokumen pendirian.
Nomor telepon administratif dua perusahaan pertama sama.
Nomor itu terdaftar atas nama seseorang bernama Ratna Danuarta.
Nadia membaca laporan tersebut sambil berdiri di depan jendela hotel.
Jakarta bergerak seperti biasa di bawahnya.
Kendaraan memenuhi jalan.
Orang-orang pergi bekerja.
Tidak ada yang tahu bahwa kerajaan bisnis yang selama bertahun-tahun dipamerkan Dimas di majalah ekonomi mulai runtuh dari dalam.
Kemudian Bu Maya menunjukkan temuan berikutnya.
“Yang lebih serius ada di sini.”
Sebuah tabel transaksi muncul.
Beberapa pembayaran proyek pemerintah telah dialihkan melalui vendor fiktif.
Ada indikasi pencucian uang, pemalsuan invoice, dan pembayaran kepada sejumlah pihak melalui rekening perantara.
Nadia terdiam.
“Dimas bisa dipenjara?”
“Kalau bukti ini terverifikasi dan penegak hukum masuk, bukan hanya Dimas.”
Nama Ratna juga muncul.
Bahkan lebih sering dari yang diperkirakan.
Namun ada satu nama lain yang mengejutkan Nadia.
Siska Pramesti.
Perempuan yang menuangkan cairan ke gelasnya tercatat sebagai penerima transfer senilai dua miliar rupiah selama delapan bulan terakhir.
Nadia menggenggam ujung meja.
“Jadi dia bagian dari mereka.”
“Belum tentu.”
Bu Maya menggeser layar.
“Lihat keterangan transfernya.”
Biaya konsultasi.
Uang muka.
Penggantian dana.
Pembayaran terakhir terjadi tiga hari sebelumnya.
Jumlahnya lima ratus juta rupiah.
Pada sore hari yang sama, sebuah mobil polisi berhenti di depan hotel.
Bukan untuk menangkap Nadia.

Seorang penyidik bernama AKP Reza datang bersama Bu Maya.
Mereka membawa kabar mengenai isi botol kecil yang ditemukan di rumah Menteng.
“Hasil laboratorium sementara menunjukkan cairan itu mengandung obat sedatif dosis tinggi,” ujar Reza.
Nadia merasakan tengkuknya dingin.
“Kalau saya meminumnya?”
“Dalam dosis tersebut, kemungkinan besar Anda kehilangan kesadaran dalam waktu singkat. Apalagi jika dikombinasikan dengan alkohol.”
Nadia teringat botol wine yang biasanya selalu disiapkan Ratna ketika ia pulang malam.
“Apakah bisa membunuh saya?”
Reza tidak langsung menjawab.
“Bergantung kondisi tubuh dan jumlah yang masuk. Tapi risikonya serius.”
Ruangan terasa semakin sempit.
“Kenapa mereka ingin membuat saya tidak sadar?”
Reza membuka sebuah folder.
“Karena semalam bukan hanya surat pengalihan rumah yang disiapkan.”
Ia mengeluarkan salinan dokumen lain.
Surat kuasa pengelolaan aset.
Surat persetujuan transaksi perbankan.
Beberapa formulir yang memberi Dimas kewenangan besar atas harta pribadi Nadia.
Tanda tangan Nadia sudah tercetak di sebagian dokumen.
Palsu.
“Tapi untuk beberapa dokumen tertentu,” lanjut Reza, “mereka tetap membutuhkan tanda tangan langsung atau rekaman persetujuan.”
Nadia memejamkan mata.
Kini semuanya masuk akal.
Mereka ingin membuatnya lemah.
Mungkin setengah sadar.
Kemudian memaksanya menandatangani dokumen.
Kalau sesuatu yang lebih buruk terjadi setelah itu, siapa yang tahu?
Seorang istri pengusaha kaya ditemukan pingsan karena kelelahan.
Atau kecelakaan rumah tangga.
Atau overdosis obat.
Nadia menelan ludah.
“Cari Siska.”
Reza mengangguk.
“Kami sedang mencarinya.”
Namun malamnya, Siska justru menemukan Nadia lebih dulu.
Pukul 20.30, resepsionis hotel menghubungi kamar.
Ada seorang perempuan yang meminta bertemu.
Nadia turun bersama Bu Maya dan dua petugas keamanan.
Di sudut lobi, Siska duduk dengan wajah pucat.
Begitu melihat Nadia, ia langsung berdiri.
Matanya merah.
“Saya minta maaf, Bu Nadia.”
Nadia tidak menjawab.
Siska menangis.
“Saya yang menuangkan obat itu.”
“Aku tahu.”
Siska terperanjat.
“Kamera.”
Tubuhnya langsung lemas.
“Tapi saya tidak berniat membunuh Ibu.”
“Lalu apa niatmu?”
Siska memegang tangannya sendiri agar berhenti gemetar.
“Pak Dimas bilang itu obat penenang ringan. Katanya Ibu sulit diajak bicara soal pembagian aset. Bu Ratna menyuruh saya mencampurkannya ke minuman supaya Ibu lebih tenang.”
“Dan kamu percaya?”
Siska menunduk.
“Awalnya.”
Nadia duduk di hadapannya.
“Kenapa ada transfer dua miliar ke rekeningmu?”
Tangis Siska terhenti.
Ia terlihat semakin takut.
“Karena Pak Dimas menggunakan rekening saya.”
Nadia mengernyit.
“Untuk apa?”
“Untuk memindahkan uang perusahaan.”
Lobi hotel terasa sunyi.
Siska mengeluarkan flashdisk kecil dari dalam tas.
“Semua ada di sini.”
Bu Maya langsung maju.
“Apa isinya?”
“Email, rekaman suara, instruksi transfer, salinan invoice palsu.”
Nadia memandang perempuan itu tajam.
“Kenapa kamu menyimpan semuanya?”
Siska menangis lagi.
“Karena saya tahu suatu hari mereka akan menjadikan saya kambing hitam.”
Ternyata delapan bulan sebelumnya, Dimas mulai menggunakan Siska sebagai perantara beberapa transaksi.
Pada awalnya Siska mengira transaksi itu legal.
Namun setelah menemukan invoice fiktif, ia mulai curiga.
Saat mencoba mengundurkan diri, Dimas mengancam akan melaporkannya sebagai pelaku penggelapan.
Transfer ke rekening Siska sengaja dibuat agar seolah-olah ia menerima uang hasil kejahatan.
“Pak Dimas bilang kalau saya pergi, semua bukti akan diarahkan ke saya.”
“Kenapa tidak lapor polisi?”
“Ayah saya sakit. Saya butuh pekerjaan. Saya takut.”
Nadia menatapnya cukup lama.
Tidak semua keputusan buruk lahir dari niat jahat.
Sebagian lahir dari ketakutan.
Namun ketakutan tetap memiliki akibat.
“Kamu tetap menuangkan obat ke gelas saya.”
Siska mengangguk sambil menangis.
“Saya tahu.”
“Kalau aku meminumnya dan mati?”
Wajah Siska runtuh.
“Saya tidak punya alasan yang bisa membenarkan itu.”
Nadia tidak segera memaafkannya.
Ia juga tidak menghina.
“Kalau kamu benar-benar mau memperbaiki ini, serahkan semuanya kepada polisi.”
Siska mengangguk.
“Saya siap.”
Flashdisk itu menjadi titik balik.
Di dalamnya terdapat rekaman percakapan yang jauh lebih buruk daripada dugaan siapa pun.
Dalam salah satu rekaman, suara Dimas terdengar jelas.
“Kalau Nadia sudah tanda tangan, rumah bisa kita jadikan jaminan.”
Ratna menjawab.
“Dan setelah akses rekeningnya pindah, dia sudah tidak punya pegangan.”
Kemudian Dimas tertawa.
“Kalau dia tetap keras kepala?”
Hening beberapa detik.
Lalu Ratna berkata pelan.
“Bikin saja seolah-olah dia mengalami kecelakaan.”
Rekaman itu membuat Nadia kehilangan kata-kata.
Namun kejutan terbesar muncul di file berikutnya.
Suara Ratna terdengar marah kepada Dimas.
“Kamu sudah habiskan uang perusahaan untuk judi saham dan perempuan itu, sekarang jangan libatkan Ibu lebih jauh!”
Nadia membeku.
Perempuan itu?
Siska yang duduk di ruang pemeriksaan juga terkejut ketika diperdengarkan rekaman tersebut.
Ternyata selama lebih dari setahun, Dimas memiliki hubungan dengan seorang perempuan bernama Celine.
Celine bukan pegawai biasa.
Ia direktur salah satu perusahaan vendor fiktif.
Sebagian dana yang hilang mengalir ke rekening miliknya.
Dan rencana mengambil rumah Nadia bukan sekadar untuk menutup utang perusahaan.
Dimas membutuhkan uang karena kerugian investasinya mencapai puluhan miliar rupiah.
Dua hari kemudian, polisi menahan Dimas untuk pemeriksaan intensif.
Ratna menyusul setelah bukti transaksi dan rekaman percakapan dinilai cukup kuat.
Saat Dimas dibawa keluar dari kantor polisi, puluhan wartawan sudah menunggu.
Wajah pria yang biasanya muncul di majalah bisnis dengan jas mahal kini tertunduk di balik masker.
Ia sempat melihat Nadia berdiri di kejauhan bersama Bu Maya.
“Nadia!”
Nadia berhenti.
“Kamu puas sekarang?” teriak Dimas.
Beberapa wartawan langsung mengarahkan kamera.
“Kamu menghancurkan keluarga sendiri!”
Nadia menatapnya datar.
“Bukan aku yang menghancurkannya.”
Dimas berusaha maju, tetapi petugas menahannya.
“Aku suamimu!”
Nadia tersenyum tipis.
“Tidak lama lagi.”
Gugatan perceraian diajukan pada hari yang sama.
Karena perjanjian pranikah mereka jelas, Dimas tidak memiliki hak atas rumah Menteng, perusahaan teknologi Nadia, rekening pribadinya, maupun investasi yang ia miliki sebelum dan selama pernikahan.
Yang lebih ironis, suntikan dana empat puluh lima miliar rupiah yang Nadia amankan malam sebelum kejadian belum pernah dicairkan.
Kesepakatan investor memiliki klausul due diligence final.
Begitu audit menemukan dugaan kejahatan finansial, investasi dibatalkan.
PT Mahameru Konstruksi akhirnya masuk proses restrukturisasi dan pengawasan.
Dimas kehilangan posisi direktur.
Beberapa aset yang terkait transaksi ilegal dibekukan.
Tiga bulan kemudian, Nadia kembali ke rumah Menteng.
Untuk pertama kalinya setelah malam itu.
Rumah itu kosong.
Gaun mahal Ratna sudah tidak ada.
Koleksi jam Dimas sudah disita sebagai bagian penyidikan.
Ruang tamu terlihat jauh lebih luas tanpa suara mereka.
Nadia berjalan perlahan menuju meja tempat surat pengalihan rumah pernah dilemparkan ke wajahnya.
Bekas benturan di sudut kayu masih terlihat.
Ia menyentuh pelipisnya.
Lukanya sudah sembuh.
Namun ada luka lain yang membutuhkan waktu lebih panjang.
Bu Maya berdiri di belakangnya.
“Rumah ini masih mau dipertahankan?”
Nadia menatap sekeliling.
Lima tahun kenangan hidup di antara dinding itu.
Ada ulang tahun.
Ada makan malam.
Ada pertengkaran kecil.
Ada tawa yang ternyata sebagian dibangun di atas kebohongan.
Nadia menggeleng.
“Jual.”
Bu Maya terkejut.
“Yakin?”
“Yakin.”
Beberapa bulan kemudian rumah tersebut resmi terjual.
Bukan untuk menutup utang Dimas.
Bukan pula untuk menyelamatkan Mahameru.
Nadia menggunakan sebagian hasil penjualan untuk mendirikan sebuah lembaga bantuan hukum dan dana darurat bagi perempuan yang mengalami kekerasan ekonomi maupun kekerasan rumah tangga.
Ia menamainya Rumah Pulang.
Pada hari peresmian, seseorang datang membawa bunga.
Siska.
Perempuan itu kini menjadi saksi utama dalam perkara Dimas dan Ratna.
Ia tidak bebas dari tanggung jawab hukum, tetapi karena bekerja sama dan menyerahkan bukti penting, posisinya dipertimbangkan secara berbeda oleh penyidik dan jaksa.
“Saya tidak berharap Ibu memaafkan saya,” katanya pelan.
Nadia menerima bunga tersebut.
“Aku memang belum bisa.”
Siska mengangguk.
“Tapi saya tetap ingin berterima kasih karena Ibu tidak membiarkan saya terus hidup dalam ketakutan.”
Nadia menatap papan bertuliskan Rumah Pulang di belakang mereka.
“Aku juga pernah hidup dalam ketakutan tanpa menyadarinya.”
Siska tersenyum lemah lalu pergi.
Sore itu, setelah acara selesai, Nadia menerima telepon dari penyidik.
Ada perkembangan baru.
Hasil pemeriksaan transaksi lama menemukan satu fakta yang selama ini tersembunyi.
Empat tahun lalu, ketika Mahameru hampir bangkrut dan Nadia menyuntikkan dana besar untuk menyelamatkannya, perusahaan sebenarnya masih memiliki cadangan kas puluhan miliar rupiah.
Uang itu sengaja dipindahkan Dimas ke perusahaan lain beberapa minggu sebelum Nadia diminta membantu.
Artinya, kebangkrutan yang dulu membuat Nadia menjual sebagian saham perusahaan teknologinya ternyata sebagian direkayasa.
Dimas sejak awal sudah memanfaatkan kepercayaannya.
Nadia menutup telepon perlahan.
Untuk beberapa detik dadanya terasa sesak.
Ia pernah mengira malam hujan itu adalah hari ketika suaminya berubah menjadi monster.
Ternyata tidak.
Malam itu hanyalah hari ketika topengnya akhirnya terlepas.
Nadia berdiri di depan jendela kantor barunya.
Jakarta berkilau di bawah cahaya senja.
Dulu Dimas pernah mengatakan bahwa tanpa keluarganya, Nadia tidak akan memiliki tempat untuk pulang.
Sekarang Nadia tahu sesuatu yang jauh lebih penting.
Rumah tidak selalu berarti bangunan dengan pagar tinggi, marmer mahal, dan alamat bergengsi.
Kadang rumah adalah keberanian untuk meninggalkan tempat yang terus melukai kita.
Kadang rumah adalah kemampuan untuk mengambil kembali hidup yang hampir dirampas orang lain.
Dan bagi Nadia, setelah bertahun-tahun tinggal bersama orang yang menganggap cintanya sebagai kelemahan, akhirnya ia menemukan rumah yang sesungguhnya.
Dirinya sendiri.
