LIMA HARI SETELAH PEMAKAMAN SUAMIKU, MERTUA MENGUSIR AKU DAN ANAKKU SERTA MENGAMBIL SEMUA UANG KAMI. SAAT AKU SEDANG MENGEMASI BAJU PUTRIKU, TIBA-TIBA MASUK SEBUAH PESAN: “AKU MASIH HIDUP. JANGAN PERCAYA KELUARGAKU!”

Hujan masih turun ketika aku meninggalkan rumah Ibu menjelang tengah malam.

Aku tidak memberi tahu siapa pun tentang pesan itu.

Bahkan kepada Ibu.

Aku hanya mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus kuperiksa dan meminta beliau mengunci pintu serta tidak membukanya untuk siapa pun sampai aku kembali.

“Maya, kamu mau pergi ke mana malam-malam begini?” tanya Ibu dengan wajah cemas.

“Aku cuma perlu memastikan sesuatu, Bu.”

“Sendirian?”

Aku mengangguk.

Ibu menatapku lama. Mungkin beliau melihat sesuatu di wajahku yang membuatnya sadar bahwa pertanyaan apa pun tidak akan mampu menghentikanku.

Sebelum keluar, aku masuk ke kamar dan mencium kening Alya.

Putriku masih tertidur pulas sambil memeluk boneka kelincinya.

Gelang peraknya kusimpan di saku jaket.

Sepanjang perjalanan menuju kawasan perbukitan, pikiranku dipenuhi kemungkinan terburuk.

Bagaimana jika ini jebakan?

Bagaimana jika orang yang mengirim pesan itu hanya mengetahui rahasia gelang karena pernah mendengar Aris membicarakannya?

Namun semakin dekat aku ke lokasi, semakin kuat satu keyakinan aneh tumbuh dalam diriku.

Aris masih hidup.

Gerbang makam tua itu berada sekitar dua puluh menit dari jalan raya. Tempatnya gelap, hanya diterangi lampu kecil dari sebuah warung yang sudah tutup.

Aku turun dari ojek daring sekitar seratus meter sebelum gerbang.

Udara dingin langsung menusuk kulit.

Tidak ada siapa-siapa.

Aku berdiri di bawah payung sambil memandang ke sekeliling.

“Aris?”

Tidak ada jawaban.

Aku mulai menyesali keputusan datang sendirian ketika terdengar suara ranting patah dari balik pepohonan.

Aku mundur.

Seseorang muncul dari kegelapan.

Tubuhnya kurus. Kepalanya ditutupi hoodie hitam. Cara berjalannya sedikit pincang.

Aku hampir berteriak ketika lelaki itu membuka penutup kepalanya.

Payung terlepas dari tanganku.

“Aris…”

Wajahnya penuh luka yang mulai mengering. Pelipis kirinya diperban. Ada bekas memar di pipinya.

Tetapi aku mengenali mata itu.

Aku mengenali caranya menatapku.

Aku berlari.

Tanganku memukul dadanya berkali-kali sebelum akhirnya memeluknya sekuat tenaga.

“Kamu hidup!”

Aris memelukku.

Tubuhnya bergetar.

“Aku minta maaf.”

“Lima hari, Ris!”

Aku menangis sambil terus memukul bahunya.

“Aku menguburkanmu! Alya setiap hari menunggu kamu pulang! Mereka mengusir kami! Kenapa kamu tidak menghubungiku?”

“Aku tidak bisa.”

Aku melepaskan pelukan.

“Kenapa?”

Aris memandang jalan di belakangku sebelum menarikku masuk ke sebuah bangunan penjaga makam yang sudah tidak digunakan.

Di sana ada seorang lelaki tua bernama Pak Darto, mantan mandor proyek yang pernah bekerja bersama Aris.

Dialah yang menyelamatkan Aris malam kecelakaan.

Aris kemudian menceritakan semuanya.

Malam itu, ia memang membawa map hitam.

Namun isi map tersebut bukan sekadar kuitansi.

Selama berbulan-bulan, Aris menemukan kejanggalan dalam proyek renovasi gedung yang dikerjakan perusahaannya bersama distributor milik Pak Hendra.

Material yang tercatat sebagai baja kualitas tinggi ternyata diganti produk murah. Jumlah semen dimanipulasi. Beberapa faktur dibuat atas nama pemasok fiktif.

Selisih uangnya mencapai miliaran rupiah.

“Pak Hendra?” tanyaku.

Aris mengangguk.

“Bukan cuma dia.”

Aku sudah tahu nama berikutnya sebelum Aris mengucapkannya.

“Rian.”

Aris menunduk.

Adiknya ternyata menggunakan akses keluarga untuk membantu memalsukan dokumen pengiriman.

Ketika Aris mengetahui semuanya, ia diam-diam mengumpulkan bukti.

Namun tiga hari sebelum kecelakaan, Rian memergokinya menyalin data transaksi.

Malam kecelakaan, rem mobil operasional Aris telah dirusak.

Saat mobil melaju di jalan menurun, Aris kehilangan kendali.

Ia berhasil melompat sebelum mobil jatuh ke jurang.

Pak Darto yang kebetulan melintas menemukan Aris dalam kondisi terluka dan membawanya ke sebuah klinik kecil.

“Lalu siapa yang dikuburkan?” tanyaku.

Aris terdiam.

“Di mobil ada satu orang lagi.”

Aku menatapnya.

“Siapa?”

“Yusuf. Pekerja gudang Pak Hendra.”

Ternyata Yusuf menemui Aris malam itu karena ingin memberikan bukti tambahan. Ia berada di kursi penumpang ketika kecelakaan terjadi dan tidak sempat keluar.

Tubuhnya terbakar sehingga sulit dikenali.

“Kenapa keluarga mengira itu kamu?”

“Mereka tidak mengira.”

Kalimat itu membuat tengkukku dingin.

“Mereka tahu.”

Aku menatap Aris tidak percaya.

Aris mengeluarkan sebuah ponsel kecil.

“Aku mendengar percakapan Rian dengan Pak Hendra sehari setelah kecelakaan. Mereka tahu aku mungkin selamat karena tidak menemukan gelang pernikahanku di tubuh korban.”

Aku refleks melihat tangan Aris.

Cincin pernikahan kami masih melingkar di jarinya.

“Mereka sengaja mempercepat identifikasi,” lanjutnya. “Kalau aku dinyatakan mati, mereka berharap aku tidak berani muncul.”

“Lalu uang kami?”

“Dipindahkan untuk memancingmu.”

Aku menggigit bibir.

“Polis asuransi?”

Aris menghela napas.

“Itu dibuat menggunakan dokumen yang dipalsukan.”

Aku merasa mual.

Semua kepingan yang selama ini terasa tidak masuk akal tiba-tiba menyatu.

Pertanyaan Ibu Lestari tentang map hitam.

Rian mengambil barang-barang Aris.

Pak Hendra mengurus surat kematian.

Rekening kami dikosongkan.

Aku dan Alya diusir.

“Mereka mencari sesuatu,” kataku.

“Bukti.”

“Map hitam?”

Aris menggeleng.

“Map itu umpan.”

Aku menatapnya.

“Bukti sebenarnya ada di gelang Alya.”

Tanganku langsung masuk ke saku.

Aku mengeluarkan gelang kecil itu.

Aris mengambilnya lalu menekan bagian ukiran dengan kuku.

Terdengar bunyi klik sangat kecil.

Salah satu ujung gelang terbuka.

Di dalamnya tersembunyi sebuah kartu memori mungil.

Aku sampai tidak mampu berkata-kata.

“Semua salinan faktur, rekaman percakapan dan laporan transaksi ada di sini.”

“Kenapa kamu menyimpannya di gelang anak kita?”

“Karena tidak ada satu pun dari mereka yang pernah benar-benar memperhatikan Alya.”

Kalimat itu menyakitkan karena benar.

Aris kemudian menggenggam tanganku.

“Maya, kita harus membuat mereka percaya bahwa kamu tidak tahu aku masih hidup.”

Rencana kami dimulai keesokan harinya.

Aku pulang sebelum subuh.

Selama tiga hari berikutnya, aku berpura-pura menjadi janda yang putus asa.

Aku menelepon Ibu Lestari dan memohon agar beberapa barang Alya dikembalikan.

Awalnya ia menolak.

Sampai aku sengaja mengatakan satu kalimat.

“Aku cuma ingin mengambil boneka dan dokumen lama Aris. Aku menemukan sesuatu di jaketnya, tapi mungkin tidak penting.”

Umpan itu langsung dimakan.

Sore harinya Rian menelepon.

“Apa yang kamu temukan?”

Aku berpura-pura bingung.

“Entahlah. Ada catatan soal gudang dan angka-angka.”

Hening.

Kemudian suaranya berubah ramah.

“Kak Maya, datang saja besok. Kita bicarakan baik-baik.”

Aku tahu mereka ketakutan.

Sebelum datang ke rumah mertua, aku menyerahkan salinan kartu memori kepada seorang penyidik yang dikenalkan Pak Darto.

Aris juga sudah memberikan kesaksian secara diam-diam.

Namun polisi membutuhkan bukti bahwa keluarga itu sengaja menutupi identitas korban dan berusaha menghilangkan barang bukti.

Karena itu aku kembali ke rumah yang tiga hari sebelumnya mengusirku.

Ibu Lestari menyambutku dengan wajah dingin.

Pak Broto duduk di kursi yang sama.

Rian berdiri di dekat jendela.

Pak Hendra datang beberapa menit kemudian.

“Mana catatannya?” tanyanya tanpa basa-basi.

Aku mengeluarkan selembar kertas dari tas.

Itu bukan catatan asli.

Hanya salinan yang sengaja kami buat.

Pak Hendra membacanya.

Wajahnya berubah.

“Barang lain?”

“Tidak ada.”

Rian mendekat.

“Jangan bohong.”

“Aku tidak bohong.”

Ia mencengkeram lenganku.

“Gelang Alya di mana?”

Aku membeku.

Jadi mereka tahu.

“Kenapa mencari gelang anakku?”

Rian sadar telah salah bicara.

Namun terlambat.

Pak Hendra menatapnya tajam.

“Bodoh.”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Kalian tahu Aris menyimpan sesuatu di gelang itu?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian suara yang sangat kukenal terdengar dari pintu.

“Karena aku pernah bilang kepada Rian bahwa benda paling berharga dalam hidupku ada pada Alya.”

Semua orang menoleh.

Aris berdiri di ambang pintu.

Wajah Ibu Lestari seketika pucat.

Pak Broto bangkit begitu cepat hingga kursinya terjatuh.

Rian mundur.

“Kak…”

Aris masuk perlahan.

“Aku masih hidup.”

Ibu Lestari mulai menangis.

“Aris… Ibu kira…”

“Jangan.”

Suara Aris dingin.

“Jangan bilang Ibu mengira aku mati.”

Pak Hendra bergerak menuju pintu belakang.

Namun dua polisi muncul dari sana.

Beberapa petugas lain masuk dari depan.

Rian langsung panik.

“Ini semua ide Paman! Aku cuma membantu!”

Pak Hendra berbalik dengan wajah merah.

“Kurang ajar! Siapa yang merusak rem mobilnya?”

Ruangan mendadak sunyi.

Rian baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.

Aris menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca.

“Mengapa, Rian?”

Rian gemetar.

“Karena selalu kamu!”

“Apa?”

“Sejak kecil selalu kamu! Ayah bangga padamu. Ibu membandingkan aku denganmu. Paman mempercayakan proyek kepadamu. Bahkan setelah aku bekerja bertahun-tahun, semua orang tetap bilang aku adiknya Aris!”

Aris tidak menjawab.

Mungkin karena tidak ada jawaban yang bisa membenarkan percobaan pembunuhan.

Polisi memborgol Rian.

Pak Hendra juga ditahan atas dugaan penggelapan, pemalsuan dokumen, manipulasi identitas korban, dan keterlibatan dalam upaya menghilangkan barang bukti.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Pak Broto.

Ketika polisi hendak pergi, ia tiba-tiba berkata,

“Saya punya bukti lain.”

Semua menoleh.

Pak Broto masuk ke kamar lalu kembali membawa sebuah kotak kayu.

Di dalamnya terdapat buku catatan transaksi yang ditulis tangan.

Ternyata selama bertahun-tahun ia mengetahui bisnis ilegal Pak Hendra.

Ia diam karena takut keluarganya hancur.

“Ayah tahu?” suara Aris bergetar.

Pak Broto menangis.

“Ayah pengecut.”

Aris memandangnya lama.

“Diam bukan berarti tidak terlibat, Yah.”

Pak Broto menunduk.

Untuk pertama kalinya, lelaki yang sepanjang hidupnya memilih tidak ikut campur akhirnya memahami bahwa sikap diam juga bisa menghancurkan orang lain.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan membuktikan identitas jasad yang dikuburkan adalah Yusuf.

Keluarganya akhirnya menerima kebenaran dan pemakaman dilakukan kembali dengan layak.

Perusahaan Pak Hendra diperiksa.

Sejumlah aset dibekukan.

Uang tabungan kami yang dipindahkan secara ilegal akhirnya dikembalikan.

Namun ada satu hal yang tidak pernah kembali seperti semula.

Hubungan Aris dengan keluarganya.

Kami memutuskan pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil di sisi lain Kota Malang.

Rumah itu jauh lebih sederhana.

Tidak ada halaman luas.

Tidak ada perabot mahal.

Namun malam pertama kami tinggal di sana, aku melihat sesuatu yang sudah lama hilang.

Ketenangan.

Sore itu, Alya duduk di lantai ruang tamu sambil menggambar.

Ia belum mengetahui seluruh kebenaran.

Kami hanya mengatakan bahwa Ayah mengalami kecelakaan dan harus bersembunyi sementara sampai keadaan aman.

Ketika suara motor berhenti di depan pagar, Alya langsung mengangkat kepala.

Matanya membesar.

Ia berlari menuju pintu.

“Ayah!”

Aris baru sempat melepas helm ketika Alya menabrak tubuhnya dengan pelukan kecil.

“Ayah pulang!”

Aris berlutut dan memeluk putrinya.

Aku berdiri beberapa langkah dari mereka sambil menahan air mata.

Kemudian Alya melepaskan pelukan dan menunjukkan gelang peraknya.

“Ayah, gelangnya sudah diperbaiki Ibu.”

Aris tersenyum.

“Bagus.”

Alya memutar gelang itu.

“Kenapa ada tulisan di dalam?”

Aris menatapku.

Aku mengangguk kecil.

Ia mengangkat Alya ke dalam pelukannya.

“Kamu mau tahu artinya?”

Alya mengangguk.

Aris berbisik,

“Artinya, sejauh apa pun Ayah pergi, Ayah akan berusaha pulang.”

Alya tertawa.

“Tapi kemarin Ayah lama sekali.”

Aris terdiam sesaat.

Kemudian ia mencium kening putrinya.

“Iya. Maaf.”

Malam itu, setelah Alya tertidur, aku duduk bersama Aris di teras.

Aku bertanya sesuatu yang selama ini menggangguku.

“Kalau waktu itu aku tidak menemukan kartu SIM itu, kamu akan tetap menghubungiku?”

Aris menatap halaman.

“Tentu.”

“Kapan?”

“Setelah aku yakin kalian aman.”

Aku menghela napas.

“Aku sempat membencimu.”

“Aku tahu.”

“Aku mengira kamu meninggalkan kami.”

Aris menggenggam tanganku.

“Aku justru bersembunyi karena takut kehilangan kalian.”

Kami duduk dalam diam.

Beberapa menit kemudian, ponsel Aris berbunyi.

Pesan dari penyidik.

Ada perkembangan baru.

Aku melihat wajah Aris berubah ketika membacanya.

“Ada apa?”

Ia menyerahkan ponsel kepadaku.

Penyidik menemukan satu fakta dari rekaman CCTV sebuah minimarket dekat lokasi kecelakaan.

Satu jam sebelum mobil Aris jatuh ke jurang, seseorang terlihat bertemu Rian.

Seorang perempuan.

Aku memperbesar gambar.

Napas terasa tercekat.

Perempuan itu adalah Dina.

Adik perempuan Aris.

Aku menatap suamiku.

“Dia juga terlibat?”

Aris tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan lain masuk.

Kali ini langsung ke ponselku.

Dari nomor Dina.

“Mbak Maya, aku tahu kalian sudah menemukan rekaman itu.”

Pesan kedua muncul.

“Tapi sebelum kalian menyerahkanku ke polisi, ada satu hal yang harus kalian tahu.”

Aku dan Aris saling memandang.

Pesan terakhir muncul.

“Orang yang menyuruh Rian merusak rem bukan Pak Hendra.”

Jantungku berdetak keras.

Lalu muncul sebuah foto.

Foto sebuah dokumen asuransi.

Nama penerima manfaatnya membuat tubuhku membeku.

Bukan Rian.

Bukan Pak Hendra.

Bukan Ibu Lestari.

Nama yang tercantum di sana adalah Alya Aris Pratama.

Putri kami sendiri.

Di bawah foto itu Dina menulis satu kalimat.

“Sekarang tanyakan kepada Aris mengapa, tiga bulan sebelum kecelakaan, dia diam-diam membuat polis senilai lima miliar rupiah atas namanya sendiri dan menjadikan Alya satu-satunya penerima manfaat.”

Aku perlahan menoleh kepada suamiku.

Wajah Aris kehilangan warna.

Untuk pertama kalinya sejak ia kembali dari kematian, aku melihat ketakutan murni di matanya.

Dan saat itulah aku sadar.

Kebenaran yang baru saja kami bongkar mungkin belum seluruhnya.

Namun kali ini aku tidak akan menjadi Maya yang dulu.

Perempuan yang percaya hanya karena seseorang adalah keluarga.

Aku menggenggam tangan Aris dan menatap tepat ke matanya.

“Besok kita temui penyidik. Kamu ceritakan semuanya. Tidak ada lagi rahasia.”

Aris terdiam cukup lama.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

Di dalam rumah, Alya tertawa kecil dalam tidurnya.

Aku menatap jendela kamar putriku.

Dulu aku mengira rumah adalah tempat di mana keluarga tinggal bersama.

Sekarang aku tahu rumah bukan soal darah, nama belakang, atau harta yang diwariskan.

Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu takut pada orang yang seharusnya melindungi kita.

Dan cinta, sebesar apa pun, tidak pernah boleh meminta kita menutup mata terhadap kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang