HARI AKU TAK MAMPU MEMBAYAR PEMERIKSAAN KEHAMILAN RP1,3 JUTA, IBU MERTUAKU MENUDUH UANG BULANAN HABIS UNTUK KELUARGAKU—SAMPAI SATU KALIMATNYA DI LORONG RUMAH SAKIT MEMBUAT TANGANKU DINGIN: “SETIAP BULAN IBU KIRIM DELAPAN JUTA LEWAT SUAMIMU. KAMU TIDAK PERNAH TERIMA?”

Aku tidak ingat bagaimana aku berdiri dari kursi di lorong rumah sakit itu.

Yang kuingat hanya wajah Arief di ujung lorong.

Pucat.

Kaku.

Dan matanya terus menatap ponselku seolah benda kecil itu baru saja berubah menjadi bom yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya.

“Arief,” panggilku.

Dia tidak bergerak.

Suara Bu Ratna masih terdengar dari telepon.

“Nadia? Kamu masih di sana?”

Aku menatap suamiku.

“Masih, Bu.”

“Arief ada bersamamu?”

Aku melihat rahang Arief mengeras.

“Ada.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Bu Ratna berkata, “Nyalakan pengeras suara.”

Arief akhirnya berjalan mendekat.

“Nadia, kita bicara di rumah saja.”

Aku berdiri.

Perutku terasa kosong dan kepalaku mulai ringan, tetapi untuk pertama kalinya aku tidak takut pada nada suaranya.

“Tidak.”

“Nadia.”

“Kenapa ada pinjaman Rp46,8 juta atas namaku?”

Wajahnya berubah.

Hanya sepersekian detik, tetapi aku melihatnya.

Ketakutan.

Kemudian ekspresi itu hilang.

“Aku tidak tahu.”

Aku menunjukkan pesan penagihan.

“Nomor daruratnya kamu.”

“Bisa saja penipuan.”

“Lalu Rp8 juta dari Mama setiap bulan juga penipuan?”

Arief menoleh ke sekitar.

Beberapa orang mulai memperhatikan kami.

Dia meraih lenganku.

“Ayo keluar dulu.”

Aku menarik tanganku.

“Jawab.”

“Nadia, jangan bikin keributan di rumah sakit.”

Dari telepon, suara Bu Ratna tiba-tiba terdengar.

“Arief.”

Suamiku membeku.

“Ma.”

“Delapan juta yang Mama transfer setiap bulan ke kamu, kamu kasih ke Nadia berapa?”

Arief diam.

“Jawab!”

Beberapa orang menoleh.

Aku hampir tidak mengenali suara Bu Ratna. Tidak ada lagi nada perempuan yang tadi menuduhku boros. Yang terdengar sekarang adalah seorang ibu yang mulai menyadari anaknya sendiri mungkin telah membohonginya.

Arief mengusap wajah.

“Ma, masalah keuangan rumah tangga itu rumit.”

“Berapa?”

“Ma…”

“BERAPA?”

Arief akhirnya menatapku.

“Rp1,2 juta.”

Aku mendengar Bu Ratna menarik napas tajam.

“Lalu sisanya?”

“Dipakai untuk kebutuhan.”

“Kebutuhan siapa?”

Arief tidak menjawab.

Bu Ratna langsung memutus telepon.

Aku menatap layar.

Kemudian tubuhku mendadak terasa sangat ringan.

Lorong berputar.

Suara orang-orang menjauh.

Hal terakhir yang kurasakan adalah tangan seseorang menahan bahuku sebelum semuanya gelap.

Ketika membuka mata, aku sudah berada di ruang observasi.

Ada infus di tangan kiriku.

Bu Ratna duduk di samping tempat tidur.

Matanya merah.

Arief tidak ada.

“Bayinya?” tanyaku cepat.

“Baik.”

Bu Ratna menggenggam tanganku.

“Dokter bilang kamu kelelahan, anemia, dan belum makan sejak tadi malam.”

Aku memejamkan mata.

Malu rasanya menangis di depan perempuan yang beberapa jam lalu menuduhku menghamburkan uang.

Namun air mataku tetap keluar.

“Maaf, Bu.”

Bu Ratna justru menundukkan kepala.

“Harusnya Ibu yang minta maaf.”

Aku menatapnya.

Ia membuka aplikasi bank di ponselnya.

Satu per satu riwayat transfer ditunjukkannya kepadaku.

Rp8.000.000.

Rp8.000.000.

Rp8.000.000.

Setiap tanggal satu.

Nama penerima selalu sama.

Arief Pratama.

“Sejak kamu positif hamil, Ibu tambah dari lima juta menjadi delapan juta,” katanya.

Aku tidak sanggup berbicara.

“Arief bilang kamu ingin uang diberikan lewat dia karena kamu tidak nyaman menerima langsung dari Ibu.”

Aku menggeleng.

“Dia bilang kamu sering membantu keluargamu. Ibu kesal, tapi Ibu pikir itu uangmu. Hakmu.”

Bu Ratna berhenti sebentar.

“Makanya tadi Ibu marah. Ibu kira delapan juta sebulan masih kurang.”

Aku menatap langit-langit.

Ternyata selama berbulan-bulan kami hidup dalam kebohongan yang sama dari dua sisi berbeda.

Aku mengira Bu Ratna pelit dan mengendalikan keuangan anaknya.

Bu Ratna mengira aku boros dan diam-diam mengirim uang kepada keluargaku.

Dan di tengah-tengah kami berdiri satu orang yang memperoleh keuntungan dari kesalahpahaman itu.

Arief.

“Bagaimana dengan Rp220 juta?” tanyaku.

Bu Ratna terdiam.

“Itu tabungan almarhum ayah Arief. Ibu serahkan setelah kalian menikah. Seratus juta untuk dana darurat, sisanya persiapan rumah dan persalinan.”

Dadaku semakin sesak.

Aku tidak pernah melihat satu rupiah pun.

Pintu terbuka.

Arief masuk.

Dia membawa kantong makanan dan mencoba tersenyum.

“Aku beli bubur.”

Bu Ratna berdiri.

“Duduk.”

“Ma, Nadia harus makan dulu.”

“Ibu bilang duduk.”

Arief meletakkan makanan.

Bu Ratna menunjukkan pesan pinjaman di ponselku.

“Ini apa?”

“Sudah kubilang mungkin penipuan.”

“Bagus.”

Bu Ratna mengambil ponselnya.

“Kalau begitu kita lapor polisi sekarang.”

Arief langsung berdiri.

“Tidak perlu sejauh itu.”

Aku menatapnya.

Kalimat itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Jadi benar?” tanyaku.

Arief tidak menjawab.

Aku merasa sesuatu di dalam diriku patah.

Bukan karena uang.

Bukan karena Rp46,8 juta.

Tetapi karena aku mengenal wajah laki-laki di depanku selama tiga tahun dan baru hari itu menyadari aku tidak mengenal orang di balik wajah tersebut.

“Kenapa?”

Arief duduk perlahan.

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan.”

Dia menunduk.

Awalnya kecil.

Trading.

Dia mengatakan seorang teman kantor memperkenalkannya pada investasi aset kripto dan perdagangan berjangka.

Ia mendapat keuntungan hampir Rp12 juta dalam dua minggu.

Kemudian memasukkan uang lebih banyak.

Kalah.

Mengejar kerugian.

Kalah lagi.

Menggunakan uang bulanan dari ibunya.

Mengambil dana Rp220 juta.

Ketika uang itu habis, dia mulai mencari pinjaman daring.

“Tapi pinjaman atas namaku bagaimana?”

Arief diam.

“BAGAIMANA?”

“Aku pakai datamu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Waktu kamu ganti ponsel, KTP dan foto verifikasi masih tersimpan.”

Tubuhku gemetar.

“Kamu memalsukan pengajuan pinjaman atas nama istrimu yang sedang hamil?”

“Aku berniat melunasinya.”

“Kapan?”

“Aku sedang berusaha.”

“Dengan uang apa?”

Arief mengusap rambut.

“Aku cuma butuh satu kesempatan lagi.”

Bu Ratna tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Itu suara seseorang yang terlalu kecewa sampai tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Kamu mencuri uang istrimu, membohongi ibumu, memakai identitas Nadia untuk berutang, lalu masih bicara soal kesempatan?”

Arief mendadak meninggikan suara.

“Semua juga untuk keluarga!”

Aku menatapnya.

“Untuk keluarga?”

“Aku ingin punya uang lebih banyak! Aku capek dianggap cuma hidup dari usaha Mama!”

“Lalu selama aku hamil, aku makan telur dan tahu hampir setiap hari karena kamu ingin membuktikan diri?”

Dia diam.

Aku melanjutkan.

“Aku naik bus ke rumah sakit supaya hemat.”

“Nadia…”

“Aku menunda beli buah.”

Mataku mulai panas.

“Aku pernah menghitung harga susu satu per satu di minimarket lalu mengembalikannya karena kupikir kita sedang kesulitan.”

Arief menunduk.

“Dan kamu tahu semuanya.”

Tidak ada jawaban.

“Setiap malam kamu melihat aku makan seadanya.”

Air mataku jatuh.

“Lalu kamu tetap tidur di sebelahku.”

Bu Ratna berbalik dan menutup wajah.

Hari itu aku tidak pulang bersama Arief.

Maya menjemputku.

Bu Ratna sendiri yang meminta agar aku tinggal sementara di apartemen kecil miliknya di daerah Wonokromo.

Dua hari kemudian, kami mendatangi kantor penyedia pinjaman bersama seorang pengacara yang direkomendasikan Maya.

Ternyata Rp46,8 juta bukan satu-satunya.

Ada tiga pinjaman menggunakan dataku.

Total kewajiban mencapai hampir Rp97 juta.

Sebagian sudah menunggak.

Aku menangis ketika melihat dokumen-dokumennya.

Namun pengacara menjelaskan bahwa transaksi tersebut dapat disengketakan karena ada indikasi penggunaan identitas tanpa persetujuan.

Kami membuat laporan resmi dan mengumpulkan bukti.

Saat itulah kebohongan lain muncul.

Di salah satu mutasi rekening Arief terdapat transfer rutin kepada seorang perempuan bernama Selvi Anggraini.

Rp3 juta.

Rp5 juta.

Rp7,5 juta.

Aku menatap Bu Ratna.

Ia juga melihatku.

Untuk sesaat aku mengira semuanya menjadi semakin buruk.

Perselingkuhan.

Tetapi ketika kami menelusurinya, kenyataannya berbeda.

Selvi bukan kekasih Arief.

Dia adalah agen sebuah platform investasi ilegal.

Arief telah mengirim hampir Rp180 juta kepadanya.

Perempuan itu menjanjikan pengembalian modal jika Arief menambah deposit terakhir sebesar Rp50 juta.

Itulah alasan identitasku digunakan.

Arief bahkan berencana mengajukan pinjaman keempat.

Aku merasa mual.

Bukan karena kehamilan.

Karena kalau pesan penagihan itu datang terlambat beberapa hari saja, mungkin utang atas namaku akan bertambah lagi.

Arief berkali-kali menghubungiku.

Aku tidak menjawab.

Sampai suatu malam dia datang ke apartemen.

Dia berdiri di depan pintu dengan mata sembap.

“Aku sudah berhenti.”

Aku tidak membukakan pintu sepenuhnya.

“Aku jual motor. Aku akan bayar utangnya.”

“Bukan utang yang paling sulit kubayar, Arief.”

Dia menatapku.

“Lalu apa?”

“Kepercayaan.”

Dia menangis.

Untuk pertama kalinya aku melihat suamiku menangis.

“Aku sakit, Nad.”

Aku terdiam.

“Aku tahu aku salah. Tapi setiap kalah, aku merasa harus mengembalikannya. Setiap ada sedikit keuntungan, aku merasa bisa memperbaiki semuanya.”

“Aku bisa menemanimu mencari bantuan profesional.”

Wajahnya sedikit berubah, seolah melihat harapan.

“Tapi bukan sebagai istrimu.”

Dia membeku.

“Aku sudah mengajukan gugatan.”

“Nadia…”

“Aku harus melindungi diriku dan anakku.”

Dia memegang kusen pintu.

“Aku ayahnya.”

“Dan aku tidak akan menghapus fakta itu.”

Aku menatapnya lurus.

“Tapi menjadi ayah tidak memberimu hak menghancurkan ibunya.”

Pintu kututup perlahan.

Empat bulan kemudian, putriku lahir.

Kami menamainya Kirana.

Beratnya 3,1 kilogram.

Sehat.

Saat perawat meletakkannya di dadaku, aku menangis sampai tubuhku gemetar.

Bu Ratna berdiri di samping tempat tidur sambil mengusap kepalaku.

Hubungan kami berubah sejak hari di rumah sakit itu.

Dia tidak lagi memberikan uang melalui siapa pun.

Biaya persalinan dan kebutuhan Kirana ia masukkan ke rekening khusus yang aksesnya berada di tanganku.

Lebih mengejutkan lagi, ia menjual salah satu mobilnya untuk membantu menyelesaikan biaya hukum dan kewajiban yang benar-benar harus dibereskan.

“Mobil bisa dibeli lagi,” katanya.

“Keamanan kamu dan cucu Ibu lebih penting.”

Arief datang menjenguk Kirana dua hari setelah kelahirannya.

Tubuhnya lebih kurus.

Dia sudah menjalani konseling dan bekerja sama dalam proses penyelesaian kasus pinjaman.

Aku membiarkannya menggendong putrinya.

Tangannya gemetar.

“Hai,” bisiknya.

Kirana membuka mata sebentar.

Arief menangis.

Aku tidak membencinya.

Aneh, tetapi benar.

Aku hanya tidak lagi ingin hidup bersamanya.

Beberapa bulan kemudian, ketika proses perceraian hampir selesai, aku kembali bekerja dari rumah sebagai staf administrasi untuk sebuah perusahaan distribusi.

Penghasilanku belum besar.

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ketika membeli buah, susu, atau vitamin, aku tidak perlu meminta izin kepada siapa pun.

Suatu sore Bu Ratna datang membawa sebuah map.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya terdapat dokumen deposito atas nama Kirana.

Aku langsung menatapnya.

“Bu, saya tidak bisa menerima sebanyak ini.”

Bu Ratna tersenyum.

“Bukan untukmu.”

Ia menyentuh pipi cucunya.

“Untuk dia.”

Aku hendak menolak lagi ketika melihat jumlahnya.

Rp220 juta.

Angka yang sama.

Aku terdiam.

Bu Ratna seolah memahami pikiranku.

“Uang yang dulu Ibu berikan kepada Arief sudah hilang. Ini bukan uang yang sama.”

“Lalu kenapa jumlahnya sama?”

Ia menatapku lama.

“Karena Ibu ingin menutup satu kesalahan dengan satu keputusan yang benar.”

Mataku berkaca-kaca.

Bu Ratna kemudian mengeluarkan selembar kertas lain.

Surat pernyataan.

Di sana tertulis bahwa deposito tersebut hanya dapat dicairkan untuk pendidikan Kirana dan tidak boleh dikelola oleh Arief maupun anggota keluarga lain tanpa persetujuanku.

Aku memeluk Bu Ratna.

Perempuan yang dulu kukira adalah sumber penderitaanku ternyata menjadi orang yang berdiri paling keras di sisiku ketika kebenaran terbuka.

Setahun setelah hari ketika aku tidak mampu membayar pemeriksaan kehamilan Rp1,3 juta, aku kembali melewati lorong rumah sakit yang sama.

Bukan sebagai pasien.

Aku membawa Kirana untuk imunisasi.

Di tempat yang hampir sama, aku melihat seorang perempuan hamil sedang menghitung uang di dompetnya di depan loket.

Wajahnya cemas.

Suaminya berdiri di samping sambil membuka aplikasi bank.

Kemudian laki-laki itu berkata, “Kurangnya berapa? Aku transfer sekarang.”

Kalimat sederhana.

Aku berhenti berjalan.

Dulu aku mengira cinta dalam pernikahan diukur dari kesetiaan, kata-kata manis, atau seseorang yang pulang ke rumah setiap malam.

Ternyata cinta juga hidup dalam hal-hal yang jauh lebih kecil.

Kejujuran tentang uang.

Makanan yang cukup di meja.

Kesediaan menemani pasangan ke dokter.

Keberanian mengatakan kebenaran meskipun kebenaran itu membuat kita terlihat buruk.

Aku memandang Kirana yang tertidur di gendonganku.

Lalu ponselku berbunyi.

Pesan dari Arief.

Hari ini adalah jadwalnya bertemu Kirana.

Dia menulis bahwa sesi konselingnya sudah memasuki bulan kesembilan dan ia baru saja melunasi cicilan terakhir dari utang yang menjadi tanggung jawab pribadinya.

Di bawahnya ada satu kalimat.

“Aku tahu maaf tidak bisa mengembalikan apa yang sudah kurusak. Aku cuma ingin suatu hari Kirana tahu ayahnya pernah jatuh sangat jauh, tapi memilih berhenti berbohong.”

Aku membaca pesan itu lama.

Kemudian membalas.

“Datang pukul empat. Jangan terlambat.”

Aku memasukkan ponsel ke tas.

Aku tidak kembali kepada Arief.

Dan mungkin tidak akan pernah.

Namun aku juga tidak ingin Kirana tumbuh dengan mewarisi kebencian kami.

Sebab hari itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Kebenaran tidak selalu datang untuk menyelamatkan sebuah pernikahan.

Kadang kebenaran datang untuk menghancurkan rumah yang sejak awal dibangun di atas kebohongan.

Supaya orang-orang di dalamnya bisa keluar.

Bernapas.

Dan membangun hidup baru di tempat yang lebih jujur.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang