SUAMI DAN SELINGKUHANNYA MENGANGGAP KEHAMILANKU SEPERTI SEBUAH KONTRAK BISNIS. TIGA TAHUN KEMUDIAN, HASIL TES DNA MEMBONGKAR KEBOHONGAN BESAR DI BALIK HANCURNYA RUMAH TANGGA KAMI!

Tiga tahun kemudian, Kania sudah tidak lagi mengenali perempuan yang pernah meninggalkan Jakarta dengan koper kecil dan foto USG robek di dalam tasnya.

Perempuan itu dulu hidup dengan rasa takut.

Takut tidak mampu membesarkan anak seorang diri.

Takut Dimas datang dan merebut bayinya.

Takut masa lalu akan terus mengejarnya sampai kapan pun.

Namun pagi itu, ketika Kania berdiri di depan cermin rumah sederhana dua lantai di Kota Malang, dia hanya melihat seorang perempuan berusia tiga puluh tiga tahun yang telah belajar berdiri tanpa bergantung kepada siapa pun.

Di kamar sebelah, suara tawa anak laki-laki memenuhi rumah.

“Mama, lihat!”

Kania menoleh.

Raka berlari keluar sambil membawa mobil-mobilan berwarna merah. Rambutnya masih berantakan setelah bangun tidur.

Usianya sudah hampir tiga tahun.

Matanya bulat.

Pipinya sedikit tembam.

Dan setiap kali tersenyum, ada lekukan kecil di sudut bibir kirinya.

Lekukan yang sering membuat Kania teringat kepada seseorang yang berusaha keras dia lupakan.

Dimas.

Selama tiga tahun, Dimas hanya melihat Raka melalui beberapa foto yang disampaikan melalui pengacara.

Perceraian mereka selesai enam bulan setelah Kania meninggalkan Jakarta.

Kania mendapatkan hak asuh penuh.

Dimas diperbolehkan meminta jadwal pertemuan, tetapi anehnya, dia tidak pernah benar-benar menggunakan hak itu.

Pada tahun pertama, dia mengirim beberapa pesan.

Pada tahun kedua, hanya ucapan ulang tahun.

Memasuki tahun ketiga, hampir tidak ada komunikasi sama sekali.

Kania menganggap itu sebagai berkah.

Dia membangun kehidupan baru.

Dengan bantuan Bu Ratna, Kania membuka studio desain interior kecil di Malang.

Awalnya hanya menerima proyek renovasi kafe dan rumah tinggal.

Lambat laun, namanya mulai dikenal.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Namun cukup untuk membuatnya hidup tanpa harus menunggu uang dari siapa pun.

Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasanya.

Sampai telepon dari pengacaranya di Jakarta masuk.

“Kania, kamu sedang sibuk?”

Suara Adrian terdengar tegang.

“Ada apa, Mas?”

“Ada permintaan resmi dari pihak Dimas.”

Kania langsung terdiam.

“Tentang Raka?”

“Iya.”

Jantung Kania mulai berdebar.

“Mereka meminta tes DNA.”

Kania bahkan sempat mengira dirinya salah mendengar.

“Tes DNA?”

“Pengacara mereka mengirim surat tadi pagi. Dimas mempertanyakan status biologis Raka.”

Kania menutup mata.

Tiga tahun.

Setelah tiga tahun tidak pernah datang, tidak pernah menggendong anaknya sendiri, pria itu tiba-tiba mempertanyakan hubungan darah mereka.

“Kenapa sekarang?”

“Itu yang sedang saya cari tahu.”

Kania menatap Raka yang sedang duduk di lantai ruang keluarga.

Anaknya tertawa sendirian sambil menggerakkan mobil-mobilan.

Rasa marah yang selama bertahun-tahun dia kubur perlahan muncul kembali.

“Kalau dia mau tes DNA, lakukan.”

Adrian terkejut.

“Kamu yakin?”

“Sangat yakin.”

Kania tersenyum hambar.

“Kalau hasilnya membuktikan sesuatu, setidaknya setelah itu Dimas tidak punya alasan lagi untuk membuat Raka sebagai bagian dari permainan bisnis keluarganya.”

Namun apa yang tidak diketahui Kania adalah permintaan tes tersebut sebenarnya bukan berasal dari Dimas.

Dua hari sebelumnya, suasana di kantor pusat Danuarta Group sedang kacau.

Perusahaan memang berhasil diselamatkan setelah mendapatkan suntikan dana dari keluarga Tanudidjaja.

Dimas akhirnya menikahi Sheila setahun setelah perceraian.

Secara publik, pernikahan mereka terlihat sempurna.

Dua keluarga bisnis besar bergabung.

Danuarta Group kembali mendapatkan kepercayaan bank.

Sheila menjadi direktur strategi perusahaan.

Dimas tetap menjabat sebagai CEO.

Namun di balik semua foto resmi dan acara sosial, hubungan mereka tidak pernah benar-benar seperti pernikahan.

Mereka lebih mirip dua orang yang terikat kontrak.

Dan selama hampir dua tahun menikah, Sheila belum memiliki anak.

Masalah mulai muncul ketika ayah Dimas meninggal dunia.

Dalam surat wasiatnya terdapat klausul yang tidak pernah diketahui Sheila.

Saham pengendali Danuarta Group akan diwariskan kepada keturunan biologis pertama Dimas.

Jika Dimas tidak memiliki keturunan biologis sampai usia empat puluh tahun, saham tersebut akan dibagi kepada saudara-saudaranya.

Sheila langsung memahami satu hal.

Jika Raka benar-benar anak Dimas, suatu hari anak itu bisa menguasai perusahaan.

Itulah sebabnya tes DNA diminta.

Bukan untuk mencari kebenaran.

Melainkan untuk menghapus Raka dari garis pewaris.

Seminggu kemudian, Kania datang ke Jakarta bersama Raka.

Tes dilakukan di sebuah rumah sakit swasta di kawasan Kuningan.

Dimas datang sendirian.

Ketika melihat Kania setelah tiga tahun, dia terlihat kehilangan kata-kata.

Kania mengenakan blus putih sederhana dan celana hitam.

Tidak ada lagi perempuan rapuh yang dulu meninggalkan rumah sebelum matahari terbit.

“Kamu terlihat berbeda,” ujar Dimas.

Kania tidak menjawab.

Lalu mata Dimas berpindah kepada Raka.

Anak kecil itu berdiri di belakang kaki ibunya.

Untuk beberapa detik, ekspresi Dimas berubah.

Seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya.

“Dia besar sekali.”

Kania menatapnya dingin.

“Tiga tahun memang cukup lama.”

Dimas menunduk.

Ada rasa malu di wajahnya.

“Kania, soal tes ini…”

“Bukan kamu yang minta?”

Dimas mendadak diam.

Kania langsung memahami sesuatu.

“Sheila?”

Dimas menghela napas.

“Ada urusan warisan perusahaan.”

Kania tertawa kecil, tetapi tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam tawanya.

“Tiga tahun berlalu dan kalian masih melihat anakku sebagai bagian dari dokumen perusahaan.”

“Kania, aku hanya ingin semuanya jelas.”

“Semuanya sudah jelas sejak hari kamu membiarkan istrimu saat itu melihat foto USG anakmu seperti kertas kontrak.”

Dimas tidak membalas.

Tes berlangsung singkat.

Sampel diambil dari Dimas dan Raka.

Hasil resmi dijadwalkan keluar tujuh hari kemudian.

Namun pada hari keenam, Adrian menelepon Kania.

Kali ini suaranya jauh lebih serius.

“Kania, kamu harus datang ke Jakarta.”

“Hasilnya sudah keluar?”

“Sudah.”

Kania berdiri dari kursinya.

“Lalu?”

Adrian menarik napas.

“Hasilnya menunjukkan kemungkinan hubungan biologis antara Dimas dan Raka kurang dari nol koma satu persen.”

Dunia seperti berhenti.

Kania tidak langsung memahami kalimat tersebut.

“Artinya apa?”

“Dimas bukan ayah biologis Raka.”

Kania menjatuhkan ponselnya.

Selama beberapa menit, dia hanya berdiri tanpa bergerak.

Tidak mungkin.

Kania tidak pernah memiliki hubungan dengan pria lain.

Bahkan sebelum menikah, Dimas adalah satu-satunya pria yang pernah menjadi pasangannya.

Dia mengambil kembali ponselnya.

“Hasilnya salah.”

“Laboratorium melakukan pemeriksaan ulang.”

“Salah.”

“Kania…”

“Saya tidak pernah berselingkuh.”

“Saya tahu.”

Air mata mulai memenuhi mata Kania.

“Lalu bagaimana mungkin?”

Adrian terdiam beberapa detik.

“Itulah sebabnya saya ingin kamu datang.”

Besoknya, Kania tiba di Jakarta.

Di ruang kantor Adrian sudah ada Dimas.

Wajahnya pucat.

Namun yang paling mengejutkan, di atas meja terdapat sebuah map lama.

Map berlogo klinik swasta.

Logo yang sama dengan map yang dilihat Kania tiga tahun sebelumnya di ruang kerja Dimas.

“Apa itu?” tanya Kania.

Dimas tidak menjawab.

Adrian membuka beberapa dokumen.

“Kami menemukan berkas ini dalam proses audit legal Danuarta Group.”

Kania melihat nama dirinya tercetak di halaman pertama.

Formulir persetujuan tindakan medis.

Tanggalnya hanya beberapa minggu sebelum Kania diketahui hamil.

Kania membaca lembar demi lembar.

Semakin jauh membaca, tangannya semakin gemetar.

Empat tahun sebelumnya, Kania dan Dimas pernah menjalani program fertilitas sederhana karena hampir dua tahun belum memiliki anak.

Mereka datang ke sebuah klinik reproduksi terkenal di Jakarta.

Dokter mengatakan kualitas sperma Dimas cukup rendah.

Namun setelah beberapa terapi, Kania akhirnya dinyatakan hamil secara alami.

Setidaknya itulah yang selama ini mereka percaya.

Adrian mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Dokumen ini adalah instruksi penyimpanan dan penggunaan sampel.”

Nama pasien perempuan adalah Kania.

Tetapi nama pemilik sampel sperma bukan Dimas.

Nama yang tercetak di sana adalah Armand Tanudidjaja.

Ayah Sheila.

Kania hampir tidak bisa bernapas.

Dimas berdiri dari kursinya.

“Apa maksud semua ini?”

Adrian menatapnya.

“Sepertinya tiga tahun lalu ada manipulasi data medis.”

Dimas membanting telapak tangannya ke meja.

“Armand itu hampir enam puluh tahun!”

Adrian tetap tenang.

“Secara biologis bukan berarti tidak mungkin.”

Kania membaca tanggal dokumen.

Semuanya semakin mengerikan.

Dokumen persetujuan yang dilihatnya saat memergoki Dimas dan Sheila ternyata bukan dokumen untuk menggugurkan kandungannya.

Itu adalah perjanjian penyelesaian sengketa antara klinik, keluarga Tanudidjaja, dan pihak tertentu dari Danuarta Group.

Seseorang telah mengetahui sejak awal bahwa terjadi pertukaran sampel.

Namun kebenaran sengaja ditutup.

Kania menatap Dimas.

“Kamu tahu?”

Dimas langsung menggeleng.

“Aku bersumpah, aku tidak tahu.”

“Tapi map ini ada di ruanganmu.”

“Aku pikir itu dokumen tentang tindakan medis untukmu.”

Kania membeku.

Jadi Dimas memang tetap bersalah.

Dia mungkin tidak tahu mengenai pertukaran sampel.

Namun saat itu dia tetap menyetujui gagasan menghilangkan kehamilan Kania demi pernikahan bisnisnya.

Kebenaran baru tidak menghapus dosa lama.

Pintu ruang rapat terbuka.

Sheila masuk bersama dua pengacara.

Wajahnya tetap tenang.

“Kalian seharusnya tidak membuka dokumen itu.”

Dimas berjalan mendekatinya.

“Kamu tahu?”

Sheila tidak menjawab.

“Kamu tahu selama ini?” ulang Dimas.

Sheila akhirnya menatap Kania.

“Kesalahan klinik terjadi bertahun-tahun lalu.”

“Kesalahan?” suara Kania meninggi. “Anakku bukan kesalahan.”

Sheila menghela napas.

“Ayahku menyimpan sampel untuk program bayi tabung bersama mendiang ibuku sebelum beliau sakit. Klinik salah memasukkan kode.”

Kania menatapnya tidak percaya.

“Lalu kenapa semuanya ditutup?”

“Karena saat itu perusahaan keluarga kami sedang masuk proses tender pemerintah dan ayahku tidak ingin skandal medis menjadi konsumsi publik.”

“Jadi kalian membeli diam semua orang?”

Sheila tidak menjawab.

Dimas memandang istrinya dengan tatapan yang belum pernah Kania lihat sebelumnya.

“Kamu tahu Raka adalah saudara biologismu?”

Ruangan mendadak sunyi.

Kania merasa darahnya berhenti mengalir.

Sheila menatap ke arah jendela.

Jawabannya muncul melalui keheningan.

Dimas mundur selangkah.

“Kamu tahu.”

Sheila akhirnya berbicara.

“Aku mengetahui hasil investigasi klinik beberapa minggu sebelum kalian bercerai.”

Kania menahan napas.

“Lalu dokumen yang kamu selipkan ke dalam berkas perusahaan?”

Sheila menatapnya.

“Itu perjanjian kerahasiaan.”

Adrian segera membuka halaman terakhir.

Di sana terdapat tanda tangan seorang manajer klinik, perwakilan perusahaan keluarga Tanudidjaja, dan tanda tangan digital yang menyerupai milik Dimas.

Namun pemeriksaan forensik menunjukkan tanda tangan Dimas telah disalin dari dokumen lain.

Dimas memejamkan mata.

Selama tiga tahun dia mengira Sheila menyelamatkan perusahaan keluarganya.

Ternyata perempuan itu juga memastikan sebuah skandal besar tidak pernah muncul.

Dan pernikahan mereka menjadi lapisan perlindungan paling sempurna.

Jika Dimas menikahi Sheila, kedua keluarga menjadi satu kepentingan.

Tidak ada alasan bagi Danuarta Group untuk menyerang Tanudidjaja.

Tidak ada alasan untuk membongkar kesalahan klinik.

Kania tiba-tiba mengingat percakapan tiga tahun lalu.

“Aku tidak mungkin menikah denganmu selama anak itu masih ada di antara kita.”

Kini kalimat itu memiliki makna berbeda.

Sheila tidak hanya ingin menyingkirkan seorang anak yang menghalangi pernikahannya.

Dia ingin menyingkirkan bukti hidup dari kesalahan besar keluarganya.

Dimas menatap Sheila.

“Jadi dana talangan itu bukan sekadar investasi.”

Sheila tersenyum tipis.

“Itu solusi untuk semua pihak.”

“Tidak.”

Dimas menggeleng.

“Itu cara keluargamu membeli hidup semua orang.”

Beberapa bulan berikutnya, kasus tersebut berubah menjadi skandal besar.

Kania tidak pernah menjual cerita kepada media.

Namun setelah audit internal, dokter yang terlibat mengakui telah menerima tekanan untuk menutup kesalahan identifikasi sampel.

Klinik membayar ganti rugi.

Beberapa pejabat perusahaan diperiksa.

Armand Tanudidjaja mengundurkan diri dari seluruh jabatan bisnisnya.

Pernikahan Dimas dan Sheila berakhir tidak lama kemudian.

Namun bagi Kania, semua itu bukan bagian paling penting.

Suatu sore di Malang, Dimas datang ke rumahnya.

Raka sedang bermain sepeda kecil di halaman.

Dimas berdiri di dekat pagar cukup lama.

“Dia bahagia,” katanya.

Kania mengangguk.

“Iya.”

Dimas menatap Raka.

Secara biologis, anak itu bukan putranya.

Namun selama kehamilan Kania dulu, Dimas pernah mendengar detak jantungnya.

Pernah mengecat kamar untuknya.

Pernah memilih nama untuknya.

“Aku tidak punya hak meminta apa pun,” ujar Dimas.

Kania tidak membantah.

“Aku hanya ingin minta maaf.”

Kania menatapnya.

“Bukan karena hasil DNA?”

Dimas menggeleng.

“Karena tiga tahun lalu aku menjadikan kalian sebagai harga yang bisa dibayar demi perusahaan.”

Untuk pertama kalinya, Kania melihat penyesalan yang benar-benar jujur.

Namun penyesalan bukan mesin waktu.

Kania tidak lagi membutuhkan permintaan maaf untuk melanjutkan hidup.

“Raka mungkin bukan darahmu,” katanya. “Tapi alasan kamu kehilangan kami tidak pernah ada hubungannya dengan DNA.”

Dimas menunduk.

“Aku tahu.”

Raka tiba-tiba berlari mendekati mereka.

“Mama, sepedanya jatuh.”

Kania berjongkok dan memperbaiki posisi roda kecilnya.

Raka kemudian menatap Dimas.

“Om siapa?”

Dimas membeku.

Kania menatap wajah mantan suaminya beberapa detik.

Lalu dia menjawab dengan tenang.

“Teman lama Mama.”

Dimas tersenyum pahit.

Tidak ada protes.

Tidak ada tuntutan.

Mungkin karena akhirnya dia mengerti bahwa hubungan keluarga tidak hanya dibentuk oleh darah.

Hubungan keluarga dibangun oleh pilihan yang dilakukan seseorang ketika orang yang dicintainya berada dalam keadaan paling rapuh.

Dan tiga tahun lalu, Dimas telah membuat pilihannya.

Malam itu, setelah Raka tidur, Kania membuka kotak kecil yang selama bertahun-tahun tersimpan di lemari.

Di dalamnya terdapat foto USG yang robek.

Kania menyatukan kedua sisinya.

Garis sobekan tepat melewati gambar kecil tubuh Raka.

Dulu dia mengira foto itu adalah simbol kehancuran hidupnya.

Sekarang dia memahami sesuatu.

Anaknya lahir dari sebuah kesalahan medis.

Pernikahannya hancur karena keserakahan.

Identitas biologis Raka disembunyikan demi reputasi perusahaan.

Namun tidak satu pun dari semua itu menentukan nilai kehidupan anaknya.

Kania memasukkan foto itu ke dalam album keluarga.

Di halaman sebelahnya terdapat foto Raka saat pertama belajar berjalan.

Kemudian foto ulang tahun pertamanya.

Foto ketika masuk sekolah bermain.

Dan sebuah foto sederhana dirinya bersama Bu Ratna di halaman rumah.

Tidak ada Danuarta Group.

Tidak ada Tanudidjaja Group.

Tidak ada dokumen bisnis.

Hanya orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal.

Kania menutup album perlahan.

Selama tiga tahun dia mengira tes DNA kelak akan membuktikan siapa ayah Raka.

Ternyata hasil itu justru mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Darah mampu menjelaskan dari mana seseorang berasal.

Tetapi darah tidak pernah bisa menentukan siapa yang pantas disebut keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang