Sinta menatap amplop cokelat di hadapannya tanpa berani menyentuhnya.
Ucapan Bu Ratna terus terngiang di kepalanya.
Dimas bukan satu-satunya orang yang sedang berpura-pura di rumah ini.
“Maksud Ibu apa?”
Bu Ratna tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil ponsel dari saku kardigannya, membuka sebuah aplikasi, lalu meletakkannya di atas meja.
Di layar terlihat beberapa rekaman kamera pengawas.
Sinta mengenali ruang tengah, dapur, taman belakang, garasi, dan lorong menuju kamar Bu Ratna.
“Ada kamera di rumah ini?”
“Sejak tiga minggu lalu.”
“Ibu memasangnya?”
“Maya yang membantu.”
Bu Ratna menyentuh salah satu rekaman.
Tanggalnya lima hari sebelumnya.
Dalam video itu, Dimas memasuki ruang kerja Bu Ratna sekitar pukul dua dini hari. Ia memeriksa laci meja, membuka beberapa buku, lalu berjongkok di depan lemari jati.
Sinta menahan napas.
Dimas ternyata mencari sesuatu.
Rekaman berikutnya memperlihatkan Dimas berbicara melalui telepon di taman belakang.
Suara rekamannya cukup jelas.
“Belum ketemu.”
Dimas terdengar kesal.
“Surya bilang dokumen itu pasti disimpan di rumah.”
Sinta menatap Bu Ratna.
“Dia bekerja sama dengan orang tua kandungnya?”
“Lanjutkan.”
Rekaman berganti.
Kali ini suara Dimas lebih pelan.
“Kalau surat wasiat lama masih berlaku, semuanya aman. Begitu Ibu meninggal, rumah dan perusahaan akan jadi milikku.”
Beberapa detik kemudian ia tertawa.
“Setelah itu Sinta gampang. Tinggal suruh pergi.”
Sinta memejamkan mata.
Ancaman yang tadi sore diucapkan Dimas ternyata bukan luapan emosi.
Itu rencana.
Bu Ratna menghentikan video.
“Ibu sudah curiga sejak Surya dan Mirna datang.”
“Dimas tahu mereka orang tua kandungnya?”
“Sudah hampir setahun.”
Sinta tercengang.
Bu Ratna menjelaskan bahwa setahun sebelumnya Surya menghubungi Dimas secara diam-diam. Awalnya ia hanya mengaku ingin memperbaiki hubungan. Namun setelah mengetahui kehidupan Bu Ratna dan nilai aset yang dimilikinya, hubungan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk.
Surya mulai menanamkan gagasan bahwa Dimas berhak atas seluruh kekayaan Bu Ratna.
Mirna bahkan beberapa kali mengatakan bahwa mereka telah melakukan pengorbanan besar dengan menyerahkan Dimas untuk diadopsi.
Padahal kenyataannya berbeda.
“Mereka meninggalkan Dimas karena terlilit utang,” kata Bu Ratna. “Saat itu Dimas baru berumur beberapa bulan. Mereka pergi tanpa pernah kembali.”
“Lalu Ibu mengadopsinya?”
Bu Ratna mengangguk.
“Ibu dan almarhum suami Ibu membesarkannya seperti anak kandung. Tidak pernah sekalipun Ibu membedakan.”
Suara Bu Ratna mulai berat.
“Ibu mungkin terlalu memanjakannya.”
Sinta menggenggam tangan perempuan itu.
“Jangan menyalahkan diri sendiri, Bu.”
Bu Ratna tersenyum pahit.
“Ibu tidak menyesal mengadopsinya. Yang Ibu sesali adalah membiarkannya tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta selalu bisa diukur dengan apa yang akan diwariskan.”
Kemudian Bu Ratna mendorong amplop bertuliskan nama Dimas ke arah Sinta.
“Buka.”
Di dalamnya terdapat salinan surat wasiat.
Sinta membaca halaman pertama.
Kemudian halaman kedua.
Keningnya berkerut.
Nama Dimas memang tercantum.
Namun ia bukan penerima utama.
Sebagian besar kepemilikan perusahaan telah dialihkan ke sebuah yayasan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Beberapa properti komersial akan menjadi sumber dana yayasan tersebut.
Rumah di Menteng tetap menjadi milik Bu Ratna selama hidupnya.
Setelah itu, rumah tersebut tidak diwariskan kepada Dimas.
Sinta membalik halaman terakhir.
Tangannya berhenti.
Namanya tertulis di sana.
Sinta Maharani.
“Ibu…”
“Rumah ini akan menjadi milikmu.”
Sinta segera menutup dokumen itu.
“Tidak. Saya tidak bisa menerima.”
“Kenapa?”
“Saya merawat Ibu bukan untuk mendapatkan rumah.”
“Itulah alasan Ibu memberikannya kepadamu.”
Sinta terdiam.
Bu Ratna menatapnya tegas.
“Kalau kamu merawat Ibu karena menginginkan harta, namamu tidak akan pernah ada di sana.”
Air mata yang sejak sore tidak keluar akhirnya memenuhi mata Sinta.
Namun Bu Ratna belum selesai.
“Emas itu juga bukan untukmu.”
Sinta mengangguk cepat.
“Saya tidak menginginkannya.”
Bu Ratna justru tersenyum.
“Bagus. Karena emas itu umpan.”
Sinta menatap sepuluh batang emas di dalam kotak.
“Ibu sengaja menyimpannya di sini?”
“Dimas yakin Ibu menyimpan emas dan dokumen penting di rumah. Ibu ingin melihat seberapa jauh dia berani melangkah.”
Malam itu Maya datang sekitar pukul satu dini hari.
Ia membawa sebuah tas kerja dan setumpuk dokumen.
Untuk pertama kalinya Sinta mengetahui bahwa Bu Ratna telah melakukan perubahan besar terhadap struktur kepemilikan asetnya beberapa bulan sebelum kecelakaan.
Semua sah secara hukum.
Tidak ada keputusan yang dibuat ketika kondisi mentalnya terganggu.
Bahkan dokter telah memberikan keterangan bahwa Bu Ratna berada dalam kondisi kognitif yang sehat.
Maya juga telah menyimpan salinan rekaman percakapan, pesan elektronik, dan dokumen lain yang menunjukkan bahwa Dimas beberapa kali mencoba memperoleh akses ke rekening perusahaan tanpa izin.
Namun ada sesuatu yang membuat Sinta semakin terkejut.
“Tania bukan sekadar selingkuhan,” kata Maya.
Sinta menatapnya.
“Apa maksudnya?”
Maya membuka laptop.
“Tania bekerja di perusahaan investasi yang pernah menawarkan pembelian salah satu properti Bu Ratna.”
Di layar terlihat serangkaian surat elektronik.
Nama Tania muncul beberapa kali.
Dimas ternyata telah membocorkan informasi internal mengenai aset Bu Ratna kepada Tania.
Mereka berharap setelah Bu Ratna meninggal, Dimas dapat menjual beberapa properti dengan harga rendah kepada perusahaan yang terhubung dengan Tania.

Sebagai gantinya, Dimas akan menerima komisi tersembunyi.
Sinta merasa mual.
Jadi perselingkuhan itu bukan hanya pengkhianatan terhadap pernikahan.
Ada uang.
Ada rencana.
Ada keserakahan.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Sinta.
Bu Ratna menutup kotak besi.
“Kita tidak melakukan apa-apa malam ini.”
Sinta terkejut.
“Kita tunggu Dimas pulang.”
Selama enam hari berikutnya, rumah itu kembali terlihat normal.
Setiap kali Dimas melakukan panggilan video, Bu Ratna kembali duduk di kursi roda.
Sinta berpura-pura tidak mengetahui apa pun.
Ia bahkan menjawab singkat ketika Dimas bertanya tentang kondisi ibunya.
“Masih sama.”
Dimas tidak pernah bertanya lebih jauh.
Pada hari ketujuh, sebuah pesan masuk.
Aku pulang besok. Pastikan rumah rapi.
Sinta membaca pesan itu sambil tersenyum hambar.
Keesokan sorenya, sedan putih Tania berhenti di depan pagar.
Dimas turun membawa koper.
Anehnya, Tania ikut masuk.
Di belakang mereka datang mobil lain.
Surya dan Mirna turun.
Sinta yang berdiri di ruang tengah langsung memahami semuanya.
Mereka tidak datang untuk sekadar berkunjung.
Dimas berjalan masuk dengan percaya diri.
“Ibu mana?”
“Di ruang makan.”
Ketika mereka memasuki ruangan, Bu Ratna terlihat duduk di kursi roda.
Dimas meletakkan sebuah map di atas meja.
“Ibu, ada beberapa dokumen yang perlu ditandatangani.”
Bu Ratna menatap map itu.
“Dokumen apa?”
“Cuma pengurusan aset. Biar nanti tidak ribet.”
Surya segera menyela.
“Ratna, umur kita sudah tidak muda. Lebih baik semuanya dibereskan dari sekarang.”
Bu Ratna menatapnya.
“Kamu sangat peduli rupanya.”
Surya tersenyum kaku.
“Kami cuma memikirkan masa depan Dimas.”
Tania berdiri di samping Dimas tanpa berbicara.
Sinta memperhatikan perempuan itu.
Tidak ada lagi senyum santai seperti ketika menunggu Dimas pergi ke Bali.
Bu Ratna membuka map tersebut.
Maya sudah menduga langkah mereka.
Dokumen itu merupakan surat kuasa luas yang akan memberikan Dimas kewenangan mengelola beberapa aset.
“Kalau Ibu tanda tangan di sini,” kata Dimas, “semua urusan akan lebih mudah.”
“Untuk siapa?”
Dimas mengerutkan kening.
“Untuk kita.”
Bu Ratna tertawa kecil.
Lalu ia meletakkan pena.
“Dimas.”
“Ya?”
“Selama kamu di Bali, apakah liburanmu menyenangkan?”
Wajah Dimas berubah.
Sinta melihat Tania langsung menunduk.
“Lumayan.”
“Hotel bagus?”
“Ibu kenapa bertanya begitu?”
“Karena sebagian pembayaran hotel itu menggunakan kartu perusahaan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dimas membeku.
Bu Ratna meletakkan kedua tangannya pada sandaran kursi roda.
Kemudian, perlahan, ia berdiri.
Wajah Surya kehilangan warna.
Mirna menutup mulut.
Tania mundur selangkah.
Sedangkan Dimas terlihat seperti baru saja melihat orang mati bangkit dari kubur.
“Ibu…”
Bu Ratna berdiri tegak.
“Ada apa?”
“Kaki Ibu…”
“Sudah jauh lebih baik sejak beberapa minggu lalu.”
Dimas menatap Sinta.
“Kamu tahu?”
Sinta tidak menjawab.
Bu Ratna berjalan menuju lemari jati.
Ia mengeluarkan kotak besi hitam dan meletakkannya di atas meja.
Mata Dimas langsung terpaku pada kotak tersebut.
Bu Ratna membukanya.
Kilau emas terlihat jelas.
Dimas menelan ludah.
Bu Ratna menangkap perubahan ekspresi itu.
Dan saat itulah wajahnya benar-benar berubah dingin.
“Jadi benar,” katanya.
Dimas buru-buru menggeleng.
“Apa?”
“Bahkan ketika Ibu berdiri setelah kamu mengira Ibu lumpuh selama dua bulan, hal pertama yang kamu lihat tetap isi kotak ini.”
Dimas kehilangan kata-kata.
Maya kemudian keluar dari ruang kerja.
Dimas semakin pucat.
“Bu Maya?”
“Selamat sore, Dimas.”
Maya meletakkan beberapa dokumen di meja.
“Ini pemberitahuan resmi pencabutan seluruh kewenanganmu dalam perusahaan Bu Ratna.”
“Apa?”
“Dan ini laporan mengenai penggunaan dana perusahaan tanpa izin.”
Tania langsung memandang Dimas.
“Kamu bilang itu uangmu sendiri.”
Dimas berbisik kasar.
“Diam.”
Tania mundur.
“Jangan suruh aku diam. Kamu bilang semua aset itu sebentar lagi jadi milikmu.”
Surya segera berdiri.
“Jangan bodoh, Tania!”
Terlambat.
Kalimat itu sudah keluar.
Maya hanya tersenyum tipis.
“Terima kasih. Pernyataan itu cukup membantu.”
Pertengkaran pecah.
Surya menyalahkan Dimas.
Dimas menuduh Tania memanfaatkannya.
Mirna menangis dan mengatakan semua itu dilakukan demi masa depan anak mereka.
Namun Bu Ratna tetap berdiri tanpa meninggikan suara.
“Cukup.”
Seketika ruangan sunyi.
Ia menatap Surya dan Mirna.
“Tiga puluh empat tahun lalu kalian meninggalkan bayi kalian. Hari ini kalian kembali bukan untuk mendapatkan anak kalian, tetapi untuk mendapatkan hartanya.”
Kemudian ia menatap Dimas.
“Ibu tidak pernah meminta kamu membayar kembali biaya membesarkanmu. Ibu juga tidak pernah meminta kamu membalas kasih sayang.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ibu hanya berharap kamu menjadi manusia yang baik.”
Dimas mencoba mendekat.
“Bu, dengarkan aku…”
“Tidak.”
Satu kata itu membuat Dimas berhenti.
Bu Ratna mengambil surat wasiat.
“Kamu pernah mengatakan kepada Sinta bahwa ketika Ibu meninggal, semua ini akan menjadi milikmu.”
Wajah Dimas langsung menoleh kepada istrinya.
“Sinta!”
“Jangan bentak dia.”
Bu Ratna meletakkan surat itu di hadapannya.
“Sebagian besar aset Ibu akan masuk ke yayasan. Rumah ini akan menjadi milik Sinta.”
Dimas seperti kehilangan kendali.
“Apa?”
“Dan kamu?”
Bu Ratna mengeluarkan sebuah amplop kecil.
“Kamu mendapatkan ini.”
Dimas merobek amplop tersebut.
Di dalamnya hanya ada sebuah surat tulisan tangan.
Ia membaca beberapa baris pertama.
Tangannya mulai gemetar.
Sinta tidak mengetahui seluruh isinya sampai beberapa bulan kemudian.
Namun ia selalu mengingat kalimat terakhir surat itu.
Aku pernah memberimu sebuah keluarga ketika kamu tidak memiliki siapa-siapa. Kalau setelah semua itu yang kamu cari dariku hanya warisan, maka tidak ada harta yang bisa memperbaiki kekosongan di dalam dirimu.
Dimas pergi dari rumah malam itu.
Bukan karena diusir Sinta.
Bu Ratna sendiri yang memintanya pergi.
Hubungan Sinta dan Dimas berakhir beberapa bulan kemudian melalui proses perceraian.
Investigasi internal perusahaan juga berjalan. Beberapa transaksi yang dilakukan Dimas diperiksa dan ia diwajibkan mempertanggungjawabkan penggunaan dana yang tidak sah.
Tania menghilang dari kehidupannya bahkan sebelum proses perceraian selesai.
Surya dan Mirna pun tidak pernah kembali ke rumah Menteng.
Setahun kemudian, kondisi Bu Ratna jauh membaik.
Ia masih menggunakan tongkat ketika berjalan jauh, tetapi hampir setiap pagi ia dapat berjalan sendiri mengelilingi taman belakang.
Yayasan yang direncanakannya akhirnya resmi berdiri.
Sebagian emas dalam kotak dijual untuk membiayai beasiswa pertama bagi dua puluh siswa dari keluarga kurang mampu.
Suatu sore, Sinta menemani Bu Ratna duduk di teras.
“Bu,” katanya, “ada sesuatu yang sejak dulu ingin saya tanyakan.”
“Apa?”
“Malam ketika Ibu pertama kali berdiri di depan saya, Ibu bilang Dimas bukan satu-satunya orang yang berpura-pura.”
Bu Ratna tersenyum.
“Sampai sekarang kamu masih memikirkan itu?”
Sinta mengangguk.
“Saya kira maksud Ibu adalah diri Ibu sendiri.”
“Sebagian benar.”
“Sebagian?”
Bu Ratna memandang taman.
Kemudian ia berkata pelan.
“Ibu juga sedang menguji kamu.”
Sinta terdiam.
“Kalau malam itu kamu langsung meminta bagian dari emas atau bertanya berapa banyak yang akan kamu warisi, nama kamu akan Ibu hapus dari surat wasiat keesokan paginya.”
Sinta tertawa kecil karena tidak tahu harus marah atau terkejut.
“Jadi saya juga diuji?”
“Ya.”
“Dan kalau saya gagal?”
“Rumah ini akan dijual dan uangnya masuk ke yayasan.”
Sinta menggeleng sambil tersenyum.
Bu Ratna menggenggam tangannya.
“Tapi ada satu hal yang tidak Ibu rencanakan.”
“Apa?”
“Ibu berpura-pura lemah untuk mengetahui siapa yang benar-benar mencintai Ibu.”
Tatapannya melembut.
“Yang Ibu temukan justru seorang anak perempuan.”
Sinta tidak mampu menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan Bu Ratna lebih erat.
Di dalam rumah, kotak besi hitam itu masih tersimpan di lemari jati.
Namun kini hampir kosong.
Emasnya telah berubah menjadi biaya sekolah.
Dokumen-dokumennya telah tersimpan aman di kantor Maya.
Dan rahasia yang selama puluhan tahun tersembunyi akhirnya tidak lagi memiliki kekuatan untuk menghancurkan siapa pun.
Sinta akhirnya memahami bahwa warisan terbesar yang ditinggalkan seseorang bukanlah rumah, tanah, perusahaan, ataupun emas.
Harta hanya memperlihatkan apa yang selama ini tersembunyi di dalam hati manusia.
Di tangan orang yang serakah, ia dapat menghancurkan sebuah keluarga.
Namun di tangan orang yang tepat, ia bisa mengubah kehidupan banyak orang.
Dan Bu Ratna telah menemukan jawabannya bukan ketika ia berdiri kembali di atas kedua kakinya.
Melainkan ketika ia berpura-pura tidak mampu berdiri dan melihat siapa yang memilih tetap berada di sisinya.
