SAAT BULAN MADU DI KAPAL PESIAR MEWAH, AKU TAK SENGAJA MENDENGAR SUAMI DAN MERTUAKU MERENCANAKAN KEMATIANKU DEMI HARTA 300 MILIAR!

Nindy menatap foto di layar ponsel itu begitu lama sampai suara ombak di luar kabin seolah menghilang.

Foto tersebut diambil di sebuah kafe tua di kawasan Menteng, Jakarta, empat tahun lalu. Danu duduk di sudut ruangan mengenakan kemeja biru gelap. Wajahnya lebih muda, tetapi tidak mungkin salah.

Di seberangnya duduk seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun.

Pria itu adalah Hendra Wiratama.

Adik kandung ayah Nindy.

Paman yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai orang paling dipercaya dalam keluarga Larasati.

“Nggak mungkin,” bisik Nindy.

Maya menjawab pelan, “Aku mengambil foto itu sendiri.”

Nindy merasa tenggorokannya mengering.

Om Hendra bukan sekadar kerabat. Ia menjabat komisaris di perusahaan keluarga dan mengurus banyak persoalan hukum serta investasi sejak Nindy masih kecil.

Ketika Nindy bertemu Danu untuk pertama kalinya di sebuah acara arsitektur di Jakarta, justru Hendra yang paling mendukung hubungan mereka.

“Anak itu kelihatannya baik,” katanya kepada ayah Nindy.

Sekarang semua potongan ingatan itu terasa berbeda.

“Kenapa kamu tidak pernah menunjukkan foto ini?”

“Aku pernah mencoba.”

Maya terdiam sejenak.

“Empat tahun lalu aku melihat Danu bertemu Om Hendra beberapa kali. Aku curiga karena waktu itu Danu selalu bilang belum pernah mengenal keluargamu. Aku mencoba memberitahumu, tapi kamu mengira aku iri.”

Nindy menutup mata.

Ia masih mengingat pertengkaran mereka.

Saat itu Nindy bahkan menuduh Maya tidak bahagia melihatnya menemukan pasangan.

“Aku minta maaf.”

“Nanti saja minta maafnya. Sekarang kamu harus hidup dulu.”

Kalimat itu mengembalikan Nindy pada kenyataan.

Ia sedang berada di tengah laut bersama tiga orang yang merencanakan kematiannya.

Dan mungkin dalang sebenarnya sedang berada ratusan kilometer jauhnya di Jakarta.

“Maya, kirim foto itu ke ayahku.”

“Sudah.”

Nindy terkejut.

“Aku juga sudah menghubungi Pak Arman.”

Pak Arman adalah kepala keamanan keluarga Larasati, mantan perwira kepolisian yang telah bekerja bersama ayah Nindy hampir dua puluh tahun.

“Ayahmu sedang menuju kantor polisi bersama pengacara keluarga. Mereka juga menghubungi otoritas pelabuhan dan pihak keamanan laut.”

Nindy hampir menangis karena lega.

Namun Maya segera memperingatkan, “Bantuan belum bisa sampai sekarang. Posisi kapalmu terlalu jauh. Kamu harus bertahan beberapa jam.”

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Nindy membeku.

“Sayang?”

Suara Danu.

Nindy langsung mematikan suara ponsel dan menyelipkannya ke bawah kasur.

“Sebentar.”

Ia berdiri di depan cermin.

Wajahnya pucat. Matanya merah.

Nindy mengambil sedikit air, membasahi wajah, kemudian membuka pintu.

Danu berdiri sambil membawa nampan.

Di atasnya terdapat secangkir teh hangat.

“Aku bawakan teh jahe.”

Nindy memandang cangkir itu.

Untuk pertama kalinya ia tidak melihat perhatian.

Ia melihat ancaman.

“Kamu kenapa?” tanya Danu.

“Masih mual.”

Danu masuk dan meletakkan nampan di meja.

“Minum dulu.”

“Nanti.”

Danu tersenyum.

Namun senyumnya tidak lagi terasa hangat.

“Lebih baik sekarang.”

Nindy menatapnya.

Untuk sesaat, keduanya terdiam.

Kemudian Nindy mengambil cangkir itu.

Ia pura-pura menyesap, tetapi membiarkan cairan hanya menyentuh bibirnya.

Danu memperhatikan.

“Habiskan.”

“Aku mau ke kamar mandi dulu.”

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Nindy menuangkan teh tersebut ke wastafel dan membuka keran agar suara air menutupi bunyinya.

Ketika kembali, ia membawa cangkir kosong.

Danu tampak puas.

“Istirahatlah.”

Sebelum keluar, Danu mencium keningnya.

Sentuhan itu membuat Nindy merinding.

Sekitar satu jam kemudian, langit mulai gelap.

Angin bertiup semakin kuat. Kapal bergoyang perlahan.

Nindy berbaring sambil berpura-pura tidur.

Pukul sembilan lewat dua puluh menit, pintu terbuka.

Danu masuk bersama Rahma.

“Nindy?”

Tidak ada jawaban.

Rahma mendekat dan menggoyangkan bahunya.

“Nindy?”

Nindy membiarkan tubuhnya lemas.

Danu menyentuh pergelangan tangannya.

“Masih sadar sedikit mungkin.”

“Angkat sekarang?” tanya Rahma.

“Tunggu Papa.”

Beberapa menit kemudian Surya masuk.

Ketiganya berbicara dengan suara rendah.

“Kru depan sedang sibuk karena cuaca,” kata Surya. “Dek belakang kosong.”

Nindy merasakan darahnya berdesir.

Danu mengangkat tubuhnya.

Nindy menahan seluruh refleks untuk melawan.

Kepalanya bersandar di dada pria yang baru seminggu menjadi suaminya.

Mereka membawanya keluar.

Angin malam menghantam wajahnya.

Ombak bergulung gelap di bawah kapal.

Sesampainya di dek belakang, Danu membaringkannya di dekat pagar.

“Pastikan kameranya mati,” kata Rahma.

“Sudah dari tadi.”

Surya memandang laut.

“Cepat. Sebelum ada kru datang.”

Danu membungkuk.

Tangannya baru menyentuh bahu Nindy ketika mata perempuan itu terbuka.

Danu terkejut.

Nindy langsung menghantamkan lutut ke tubuhnya dan berguling menjauh.

“Apa-apaan!”

Nindy berdiri dengan susah payah.

“Jangan sentuh aku!”

Wajah Danu berubah.

Tidak ada lagi suami penyayang.

“Sejak kapan kamu sadar?”

“Cukup lama untuk mendengar semuanya.”

Rahma memucat.

Surya segera menutup pintu menuju dek utama.

Danu menatap Nindy dengan ekspresi dingin.

“Seharusnya kamu minum tehnya.”

“Aku buang.”

Danu mengumpat.

Kemudian ia berjalan perlahan mendekat.

“Nindy, dengarkan aku. Kamu salah paham.”

Nindy tertawa getir.

“Kamu mau melemparku ke laut, lalu bilang aku salah paham?”

Danu berhenti.

Senyumnya lenyap.

“Kalau begitu kita tidak perlu berpura-pura lagi.”

Ia melangkah maju.

Nindy mundur sampai punggungnya hampir menyentuh pagar.

“Semua ini karena tiga ratus miliar?”

“Bukan cuma uang.”

Jawaban itu membuat Nindy terdiam.

Danu memandangnya dengan kebencian yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan.

“Keluargamu menghancurkan keluarga kami.”

“Apa?”

Surya tiba-tiba berkata, “Dua puluh tujuh tahun lalu, ayahmu mengambil perusahaan milik kakakku.”

Nindy menatap mereka bergantian.

Danu melanjutkan.

“Kakekku meninggal dalam keadaan bangkrut. Ayahku tumbuh dengan utang. Kami kehilangan rumah, tanah, semuanya.”

“Dan kalian pikir membunuhku adalah balas dendam?”

Danu tersenyum pahit.

“Awalnya tidak.”

Nindy teringat foto tadi.

“Om Hendra.”

Wajah Danu berubah.

Surya langsung menoleh kepadanya.

“Kamu tahu soal Hendra?”

“Dia yang merencanakan semua ini, kan?”

Keheningan mereka sudah menjadi jawaban.

Danu akhirnya berkata, “Hendra yang menemukan kami lima tahun lalu.”

Rupanya Hendra menyimpan dendam terhadap kakaknya sendiri.

Bertahun-tahun ia merasa hanya menjadi bayangan ayah Nindy. Ia ingin menguasai perusahaan, tetapi selama Nindy masih hidup sebagai pewaris tunggal, sebagian besar saham keluarga tidak pernah bisa jatuh ke tangannya.

Hendra kemudian menemukan keluarga Danu.

Ia memberi mereka uang.

Membantu Danu membangun karier.

Mengatur agar Danu hadir dalam acara yang sama dengan Nindy.

Bahkan pertemuan pertama yang selama ini Nindy anggap sebagai takdir ternyata sudah dirancang.

“Jadi selama ini…”

“Ya,” jawab Danu.

“Aku mendekatimu karena disuruh.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada ancaman kematian.

Nindy menahan air mata.

“Tapi aku mencintaimu.”

Danu terdiam sesaat.

Untuk pertama kalinya terlihat keraguan di wajahnya.

Rahma langsung berkata, “Danu, jangan bodoh.”

Nindy melihat perubahan kecil itu.

Ia memanfaatkannya.

“Kalau semua ini hanya pekerjaan, kenapa kamu ragu?”

Danu mengepalkan tangan.

“Diam.”

“Kamu benar-benar mau membunuh perempuan yang kamu nikahi enam hari lalu demi seseorang yang mungkin akan membuang kalian setelah mendapatkan saham?”

Surya mendekat.

“Jangan dengarkan dia.”

Nindy menatap Surya.

“Om Hendra menjanjikan berapa?”

Surya tidak menjawab.

“Lima puluh miliar?”

Rahma menelan ludah.

Nindy langsung tahu ia mengenai sasaran.

“Dia akan mendapatkan perusahaan bernilai triliunan. Kalian cuma mendapatkan pecahan.”

“Diam!” bentak Surya.

Tiba-tiba terdengar suara dari pengeras kapal.

“Perhatian seluruh penumpang. Harap tetap berada di dalam kabin karena kondisi cuaca memburuk.”

Nindy melihat lampu dari kejauhan.

Sebuah kapal lain.

Surya juga melihatnya.

“Itu apa?”

Danu menoleh.

Cahaya tersebut semakin mendekat.

Kemudian terdengar sirene.

Wajah Rahma langsung pucat.

“Kamu menelepon siapa?”

Nindy tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.

“Orang yang dulu kalian kira sudah berhasil kalian jauhkan dariku.”

Maya.

Danu bergerak hendak menangkap Nindy.

Namun pintu dek tiba-tiba terbuka.

Dua petugas keamanan kapal muncul bersama kapten.

“Jangan bergerak!”

Danu berhenti.

Rupanya Maya tidak hanya menghubungi keluarga Nindy. Ia juga berhasil menghubungi perusahaan pengelola kapal menggunakan nomor registrasi kapal yang pernah Nindy kirim sebelum perjalanan.

Kapten menerima perintah darurat untuk mengamankan Nindy dan mempertahankan seluruh rekaman kamera.

Surya mencoba melarikan diri, tetapi petugas menahannya.

Rahma menangis histeris.

Danu hanya berdiri diam.

Sebelum dibawa pergi, ia menatap Nindy.

“Aku memang mendekatimu karena rencana Hendra.”

Nindy tidak menjawab.

“Tapi ada satu hal yang tidak ada dalam rencana.”

“Apa?”

Danu menunduk.

“Aku benar-benar jatuh cinta padamu.”

Air mata Nindy akhirnya jatuh.

“Kalau itu yang kamu sebut cinta, aku lebih memilih tidak pernah dicintai olehmu.”

Keesokan paginya, kapal merapat di Pelabuhan Benoa.

Polisi sudah menunggu.

Namun kejutan terbesar belum selesai.

Ketika Nindy tiba di Jakarta dua hari kemudian, ayahnya menunjukkan hasil pemeriksaan dokumen perusahaan.

Surat kuasa yang ditandatangani Nindy ternyata hanya lapisan pertama.

Ada transaksi lama yang jauh lebih besar.

Selama hampir delapan tahun, Hendra diam-diam memindahkan dana perusahaan melalui beberapa perusahaan cangkang.

Nilainya lebih dari empat ratus miliar rupiah.

Rencana membunuh Nindy bukan hanya untuk merebut warisan.

Hendra ingin menghilangkan satu-satunya orang yang suatu hari berhak membuka audit penuh atas perusahaan.

Polisi menangkap Hendra di sebuah hotel dekat Bandara Soekarno-Hatta ketika ia mencoba meninggalkan Indonesia.

Namun sebelum dibawa pergi, Hendra meminta berbicara dengan Nindy.

Pertemuan berlangsung di ruang pemeriksaan.

“Kamu ingin tahu kenapa aku melakukan semuanya?” tanyanya.

Nindy menatap pamannya tanpa emosi.

“Karena uang?”

Hendra tertawa kecil.

“Karena ayahmu bukan orang suci.”

Ia mengeluarkan satu amplop tua yang sebelumnya disita polisi.

Di dalamnya terdapat dokumen perusahaan dari hampir tiga puluh tahun lalu.

Ternyata sebagian cerita Surya benar.

Ayah Nindy memang pernah mengambil alih perusahaan milik keluarga Danu.

Namun bukan dengan merampasnya.

Perusahaan tersebut hampir bangkrut karena kakek Danu terlibat penggelapan dana.

Ayah Nindy membeli utangnya agar ratusan karyawan tidak kehilangan pekerjaan.

Hendra mengetahui fakta tersebut sejak awal.

Ia sengaja memutarbalikkan sejarah untuk menanam kebencian dalam keluarga Danu.

“Jadi Danu juga kamu bohongi.”

Hendra tersenyum.

“Orang yang sedang marah selalu mudah diberi musuh.”

Nindy akhirnya memahami semuanya.

Danu memang bersalah.

Surya dan Rahma juga bersalah.

Tetapi kebencian mereka telah dipelihara bertahun-tahun oleh seseorang yang memahami bahwa dendam adalah alat yang jauh lebih murah daripada menyewa pembunuh.

Beberapa bulan kemudian, kasus tersebut memasuki persidangan.

Danu memberikan kesaksian lengkap mengenai keterlibatan Hendra dan menyerahkan seluruh pesan, transfer dana, serta rekaman pertemuan mereka.

Nindy tetap menggugat cerai.

Ia tidak pernah mengunjunginya.

Suatu sore, Maya datang ke rumah Nindy membawa dua cangkir kopi.

Mereka duduk di taman belakang tanpa banyak bicara.

“Aku masih nggak mengerti satu hal,” kata Nindy.

“Apa?”

“Kenapa kamu menyimpan foto itu empat tahun?”

Maya tersenyum tipis.

“Karena setelah kita bertengkar, aku hampir menghapusnya.”

“Lalu?”

“Ayahmu meneleponku.”

Nindy langsung menoleh.

“Ayah?”

Maya mengangguk.

“Beliau bilang, kalau suatu hari terjadi sesuatu yang aneh pada hubunganmu dengan Danu, aku harus tetap menyimpan foto itu.”

Nindy terdiam.

Malam itu ia menemui ayahnya.

“Papa sudah curiga sejak awal?”

Ayahnya menggeleng.

“Papa hanya merasa ada sesuatu yang tidak cocok.”

“Kenapa Papa tetap membiarkanku menikah dengannya?”

Pria tua itu menatap putrinya lama.

“Karena Papa pernah terlalu banyak menentukan hidupmu. Papa tidak mau kecurigaan Papa membuatmu kehilangan orang yang mungkin benar-benar kamu cintai.”

Nindy menggenggam tangan ayahnya.

“Dan kalau ternyata Papa salah?”

“Papa berharap Papa salah.”

Nindy menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian di kapal, ia menangis tanpa merasa takut.

Setahun kemudian, Nindy kembali ke Bali.

Bukan untuk berbulan madu.

Ia datang untuk meresmikan program audit dan perlindungan aset baru di perusahaan keluarganya.

Setelah acara selesai, ia berdiri di tepi pantai Sanur memandang laut.

Dulu ia percaya ancaman terbesar dalam hidupnya adalah orang asing yang mengincar kekayaannya.

Ternyata ia salah.

Bahaya terbesar justru datang dari orang-orang yang telah diberi tempat paling dekat.

Namun ia juga belajar sesuatu yang lain.

Kepercayaan bukan berarti menutup mata.

Cinta bukan alasan untuk mengabaikan keraguan.

Dan keluarga bukan selalu mereka yang memiliki darah yang sama.

Kadang orang yang pernah kita jauhi justru menjadi orang yang menyelamatkan hidup kita.

Ponsel Nindy bergetar.

Pesan dari Maya.

“Kopi besok?”

Nindy tersenyum.

Ia mengetik singkat.

“Tentu.”

Kemudian Nindy memandang laut sekali lagi.

Laut yang setahun lalu hampir menjadi makamnya kini terlihat tenang diterpa cahaya sore.

Tiga ratus miliar rupiah hampir membuatnya kehilangan hidup.

Tetapi foto lama yang selama bertahun-tahun ia anggap tidak penting justru mengembalikan sesuatu yang nilainya jauh lebih besar.

Kesempatan kedua untuk memilih siapa yang pantas ia percaya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang