Tujuh hari kemudian, pukul sembilan pagi, bel apartemen di Kuningan berbunyi tiga kali.
Rendra yang baru selesai mandi berjalan ke pintu sambil mengancingkan kemeja. Sejak Maya pergi, ia tetap menjalani hidup seolah tidak ada sesuatu yang serius terjadi. Bahkan kepada rekan kantornya, ia hanya mengatakan bahwa istrinya sedang menginap di rumah teman karena sedang “ngambek”.
Di ruang tamu, Bu Siska sedang menonton televisi sambil mengupas buah. Bayu duduk dengan laptop di pangkuannya, sedangkan Tari beristirahat karena sejak pagi merasa mual.
Ketika Rendra membuka pintu, dua pria dan seorang perempuan berpakaian formal berdiri di luar.
“Selamat pagi. Apakah ini unit milik Ibu Maya Indriani?”
Rendra mengerutkan kening.
“Iya. Ada apa?”
Perempuan itu tersenyum profesional dan menunjukkan kartu nama.
“Saya Livia dari Aruna Property. Kami sudah membuat janji untuk melakukan penilaian unit hari ini.”
“Penilaian?”
“Iya, Pak. Untuk kebutuhan penjualan apartemen.”
Wajah Rendra langsung berubah.
“Apa?”
Bu Siska yang mendengar percakapan itu segera bangkit dari sofa.
“Penjualan apa?”
Livia tampak sedikit bingung.
“Bukankah Ibu Maya sudah memberi informasi kepada keluarga?”
Rendra meraih ponselnya.
Ia menelepon Maya.
Sekali.
Tidak diangkat.
Dua kali.
Tetap tidak diangkat.
Pada panggilan kelima, barulah suara Maya terdengar dari seberang.
“Ada apa?”
“Kamu jual apartemen?”
Tidak ada salam.
Tidak ada pertanyaan tentang keadaan istrinya.
Langsung tuduhan.
Maya terdiam sesaat.
“Iya.”
Rendra tertawa pendek karena tidak percaya.
“Jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
“Kamu tidak bisa jual rumah kita begitu saja!”
Maya menjawab dengan suara tenang.
“Bisa.”
“Ini rumah kita, Maya!”
“Bukan.”
Satu kata itu membuat Rendra bungkam.
Maya melanjutkan.
“Dokumen kepemilikannya atas namaku. Aku membelinya sebelum menikah. Cicilan terakhir juga lunas dari penghasilanku.”
Rendra menoleh ke arah keluarganya.
Bu Siska berdiri dengan wajah pucat.
“Kamu sengaja mempermalukan keluargaku?”
“Aku tidak pernah meminta keluargamu datang tanpa izin. Aku juga tidak pernah menyuruh siapa pun mempermalukan dirinya sendiri.”
“Jadi sekarang kamu mau usir orang tuaku?”
“Tidak.”
Maya berhenti sebentar.
“Aku menjual aset milikku.”
“Kamu sama saja mengusir mereka!”
“Kalian punya pilihan untuk pindah sebelum proses serah terima dilakukan.”
Suara Bu Siska tiba-tiba terdengar dari belakang.
“Kasih teleponnya ke Mama!”
Rendra menyalakan pengeras suara.
Bu Siska langsung berkata dengan nada tinggi.
“Maya, kamu sudah jadi istri Rendra. Jangan mentang-mentang sertifikat atas nama kamu lalu merasa semuanya milik kamu sendiri. Dalam rumah tangga itu tidak boleh hitung-hitungan!”
Maya hampir tertawa.
Kalimat itu terdengar sangat ironis.
“Bu, waktu saya diminta tidur di sofa rumah saya sendiri, kenapa tidak ada yang bicara soal rumah tangga yang tidak boleh hitung-hitungan?”
Ruangan mendadak hening.
Bu Siska membuka mulut, tetapi tidak langsung menemukan jawaban.
“Namanya juga berkorban untuk keluarga.”
“Saya sudah terlalu lama berkorban, Bu.”
“Cuma tidur di sofa saja dibesar-besarkan!”
“Memang bukan soal sofa.”
Nada suara Maya tetap lembut.
“Ini soal seseorang yang merasa berhak mengambil keputusan atas rumah yang bahkan bukan miliknya. Soal suami yang bahkan tidak bertanya apakah istrinya setuju sebelum membawa empat orang menginap. Soal saya yang selalu diminta memahami semua orang, sementara tidak pernah ada yang mencoba memahami saya.”
Rendra memotong.
“Sudah. Kita bahas nanti. Sekarang suruh orang-orang ini pergi.”
“Tidak.”
“Maya!”
“Biarkan mereka bekerja.”
Lalu sambungan telepon terputus.
Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun bergerak.
Livia akhirnya berkata hati-hati.
“Pak, kami bisa menjadwalkan ulang kalau memang situasinya kurang nyaman.”
“Tidak usah,” suara lain terdengar.
Semua orang menoleh.
Pak Hendra berdiri di dekat lorong kamar.
Sejak pagi ia lebih banyak diam.
“Kerjakan saja.”
Bu Siska menatap suaminya tajam.
“Papa ngomong apa?”
Pak Hendra mengambil tongkatnya lalu duduk perlahan.
“Ini memang rumah Maya.”
“Kamu bela dia?”
“Saya tidak bela siapa-siapa. Saya cuma bilang yang benar.”
Untuk pertama kalinya sejak datang ke Jakarta, suara Pak Hendra terdengar tegas.
“Kalau dari awal Rendra tanya izin baik-baik, mungkin semua tidak akan begini.”
Wajah Rendra memerah.
“Papa juga sekarang menyalahkan saya?”
Pak Hendra menatap putranya.
“Papa menyalahkan cara kamu memperlakukan istri kamu.”
Bu Siska langsung berdiri.
“Sudah, jangan bikin suasana makin panas.”
Tetapi Pak Hendra justru melanjutkan.
“Kamu bahkan tidak mau kasih ruang kerja untuk adikmu sendiri, tapi istrimu kamu suruh tidur di sofa.”
Bayu menundukkan kepala.
Tari memandang suaminya.
Untuk pertama kali, Bayu terlihat benar-benar malu.
Penilaian apartemen berlangsung hampir satu jam.
Setiap ruangan difoto.
Ukuran dicatat.
Kondisi furnitur diperiksa.
Rendra mengikuti mereka dengan wajah keras, seolah sedang menyaksikan seseorang mengambil barang-barangnya satu per satu.
Padahal tidak ada satu pun benda yang disentuh.

Namun kenyataan bahwa apartemen itu bukan miliknya terasa semakin nyata.
Siang harinya, Maya menerima laporan awal.
Harga pasar unit tersebut lebih tinggi hampir tiga puluh persen dibandingkan saat ia membelinya.
Lokasinya strategis.
Kondisinya baik.
Dan karena cicilan sudah lunas, proses penjualan bisa berlangsung relatif cepat.
Tiga hari kemudian, Maya menerima tawaran serius dari seorang pengusaha Surabaya yang sedang mencari unit untuk anaknya yang kuliah dan bekerja di Jakarta.
Harga yang ditawarkan sedikit di bawah harga listing.
Maya meminta waktu satu malam.
Malam itu, ia duduk sendirian di kamar indekos sambil menatap dokumen apartemen di meja.
Aneh sekali.
Ia pikir menjual apartemen itu akan terasa seperti kemenangan.
Namun yang muncul justru kesedihan.
Di sanalah ibunya pernah menginap saat menjalani kemoterapi.
Di dapur kecil itu mereka pernah memasak sup tengah malam.
Di balkon, ibunya pernah berkata bahwa suatu hari Maya harus menikah hanya dengan lelaki yang membuat rumah terasa lebih aman, bukan lebih sempit.
Saat itu Maya tertawa.
Sekarang kalimat itu terasa seperti pesan yang datang terlambat.
Ponselnya bergetar.
Bukan Rendra.
Tari.
“Kak Maya, boleh ketemu?”
Maya sempat ragu.
Namun akhirnya mereka bertemu di sebuah kedai kopi di Tebet sore berikutnya.
Tari datang sendirian.
Wajahnya terlihat lelah.
“Aku minta maaf,” katanya bahkan sebelum duduk.
“Kamu tidak perlu minta maaf.”
“Aku tetap merasa bersalah. Aku tahu Kakak tidak pernah mengundang kami.”
Maya mengaduk kopi perlahan.
“Bayu bagaimana?”
Tari tersenyum pahit.
“Kami pindah ke hotel kemarin.”
Maya mengangkat wajah.
“Kenapa?”
“Karena aku bertengkar sama Bayu.”
Ternyata setelah agen properti datang, Tari mengatakan kepada suaminya bahwa ia tidak nyaman terus tinggal di apartemen itu.
Bayu awalnya marah.
Namun Tari bertanya satu hal yang membuatnya diam.
“Kalau suatu hari rumah yang kubeli sebelum menikah kamu pakai sesuka hati lalu kamu suruh aku tidur di sofa, menurut kamu itu wajar?”
Sejak saat itu, Bayu memutuskan membawa istrinya pergi.
Tari kemudian membuka tasnya.
“Ada satu hal lagi.”
Ia mengeluarkan kotak kayu kecil.
Maya mengenalinya.
“Itu dari kamar saya?”
Tari mengangguk.
“Waktu aku bantu Mama Siska rapikan lemari dua hari lalu, aku lihat Mama buka laci meja rias Kakak.”
Jantung Maya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Tari mendorong kotak itu ke arahnya.
“Ini yang dicari Kakak malam itu?”
Maya membukanya.
Di dalamnya ada liontin emas milik ibunya.
Tangannya langsung gemetar.
“Kenapa benda ini ada sama kamu?”
Tari menelan ludah.
“Aku lihat Mama Siska pegang. Katanya bagus dan mau dipakai sebentar.”
Maya membeku.
Tari cepat-cepat melanjutkan.
“Aku tahu itu bukan milik Mama. Jadi waktu beliau mandi, aku ambil lagi dan simpan.”
Maya menggenggam liontin itu erat.
Tiba-tiba kejadian malam ketika ia pergi terasa jauh lebih buruk.
Bukan hanya batas ruangnya yang dilanggar.
Barang pribadi peninggalan ibunya pun dianggap boleh diambil tanpa bertanya.
“Terima kasih.”
Suara Maya hampir berbisik.
Tari menatapnya beberapa saat.
“Kak, aku tidak tahu apakah aku pantas ngomong ini.”
Maya mengangkat wajah.
“Rendra memang selalu seperti itu.”
“Maksudmu?”
“Bayu cerita, sejak kecil kalau ada sesuatu di rumah, semua orang selalu mengalah untuk Kak Rendra karena dia anak pertama. Pilihan sekolah, kamar, motor, bahkan uang tabungan keluarga. Mama selalu bilang dia laki-laki pertama, jadi harus didahulukan.”
Maya tersenyum getir.
Sekarang semuanya masuk akal.
Rendra tidak tiba-tiba berubah.
Ia hanya membawa pola hidup lamanya ke dalam pernikahan.
Dan selama bertahun-tahun Maya ikut mempertahankan pola itu dengan terus mengalah.
Malam itu, Maya menerima tawaran pembeli.
Prosesnya berjalan cepat.
Rendra baru benar-benar panik ketika surat resmi mengenai rencana pengosongan unit sampai.
Ia datang ke kantor Maya tanpa membuat janji.
Maya sedang berjalan keluar dari ruang rapat ketika melihat suaminya menunggu di lorong.
“Kita bicara.”
“Aku ada pekerjaan.”
“Lima menit.”
Maya memandang jam.
“Silakan.”
Rendra menarik napas.
“Batalkan penjualannya.”
“Tidak.”
“Aku serius.”
“Aku juga.”
“Kita masih suami istri.”
“Untuk sementara.”
Wajah Rendra berubah.
“Apa maksud kamu?”
Maya mengeluarkan map tipis dari tas.
Di dalamnya ada salinan permohonan konsultasi perceraian yang telah ia buat bersama pengacara.
Rendra menatap kertas itu lama.
“Kamu mau cerai hanya karena kejadian sofa?”
Maya memandang lelaki yang sudah lima tahun menjadi suaminya.
“Masih belum paham juga?”
Rendra tidak menjawab.
“Aku mau berpisah karena selama bertahun-tahun kamu membuat semua keputusan besar sendiri. Kamu memakai tabunganku untuk membantu bisnismu tanpa bertanya. Kamu mengundang keluargamu menginap berbulan-bulan tanpa berdiskusi. Kamu meminjam mobilku dan menyerahkannya ke Bayu tanpa izin. Setiap kali aku keberatan, kamu bilang aku terlalu sensitif.”
Rendra terdiam.
Maya melanjutkan.
“Malam itu cuma pertama kalinya kamu mengatakan dengan jelas apa yang selama ini sebenarnya kamu pikirkan.”
“Apa?”
“Bahwa milikku dianggap milikmu. Tapi milikmu tetap milikmu.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan.
Rendra menunduk.
“Aku bisa berubah.”
Maya memandangnya cukup lama.
“Aku percaya orang bisa berubah.”
Mata Rendra sedikit terangkat.
“Tapi aku tidak wajib tinggal untuk menunggu perubahan itu terjadi.”
Dua bulan kemudian, apartemen di Kuningan resmi berpindah tangan.
Pak Hendra dan Bu Siska sudah kembali ke Bandung jauh sebelum hari serah terima.
Bayu dan Tari pulang lebih awal setelah pemeriksaan kehamilan selesai.
Rendra menyewa apartemen kecil tidak jauh dari kantornya.
Proses perceraian Maya belum selesai, tetapi hidupnya mulai terasa jauh lebih tenang.
Dengan hasil penjualan apartemen, Maya tidak langsung membeli properti baru.
Ia menyimpan sebagian besar uangnya, lalu menyewa sebuah rumah kecil di Jakarta Selatan dengan halaman sempit yang ditumbuhi pohon kamboja.
Tempatnya tidak semewah apartemen lama.
Namun setiap sudutnya ia pilih sendiri.
Tidak ada barang yang masuk tanpa persetujuannya.
Tidak ada orang yang menentukan di mana ia harus tidur.
Suatu sore, ketika Maya sedang merapikan kotak-kotak pindahan, ia menemukan liontin ibunya.
Ia membersihkan permukaannya dengan kain lembut.
Di bagian belakang liontin ternyata ada ukiran kecil yang selama ini tidak pernah benar-benar ia perhatikan.
Maya mendekatkannya ke cahaya.
Tulisan itu sederhana.
Untuk Maya, jangan pernah tinggal di tempat yang membuatmu kehilangan dirimu sendiri.
Maya membeku.
Matanya langsung panas.
Ia tidak tahu sejak kapan ibunya mengukir pesan itu.
Mungkin bahkan bertahun-tahun sebelum menyerahkan apartemen kepadanya.
Maya duduk di lantai sambil menggenggam liontin itu.
Untuk pertama kali sejak konflik dengan Rendra dimulai, ia menangis.
Bukan karena kehilangan rumah.
Bukan karena pernikahan yang berakhir.
Melainkan karena ia baru menyadari bahwa pesan yang ia butuhkan ternyata selama ini berada begitu dekat dengannya.
Beberapa minggu kemudian, Rendra mengirim pesan.
Aku baru paham sekarang. Maaf.
Maya membaca pesan itu lama.
Ia tidak membalas.
Tidak karena membenci.
Tidak juga karena ingin menghukum.
Ada permintaan maaf yang memang tidak membutuhkan jawaban.
Kadang permintaan maaf hanya perlu diterima sebagai tanda bahwa seseorang akhirnya memahami kesalahannya, meskipun pemahaman itu datang setelah semuanya terlambat.
Maya meletakkan ponselnya.
Lalu berjalan ke kamar.
Tempat tidur barunya tidak besar.
Tidak mahal.
Tidak memiliki kenangan apa pun.
Namun malam itu, ketika ia berbaring dan mematikan lampu, Maya tersenyum kecil.
Dulu ia mengira rumah adalah tempat yang tercantum dalam sertifikat kepemilikan.
Kemudian ia mengira rumah adalah tempat yang dibangun bersama pasangan.
Sekarang ia memahami sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Rumah adalah tempat di mana seseorang tidak perlu meminta izin untuk menjadi dirinya sendiri.
Dan ketika tempat itu tidak lagi memberinya rasa aman, Maya akhirnya berani melakukan sesuatu yang selama ini paling ia takutkan.
Bukan menjual apartemen.
Melainkan berhenti menjual harga dirinya sendiri demi mempertahankan sebuah pernikahan.
