SAAT SEDANG MELAYANI DI RESTORAN MEWAH, SEORANG WANITA KAYA MENUDUHKU MENCURI BROS MILIK PUTRINYA! AKU MEMINTA KACA PEMBESAR, DAN UKIRAN TAHUN 1977 DI BALIK BROS ITU LANGSUNG MEMBUAT WAJAHNYA PUCAT!

Kirana menatap Kartika tanpa berkedip.

Suasana di Restoran Sky View Jakarta terasa semakin sesak, meskipun pendingin udara bekerja seperti biasa.

Empat angka kecil di balik bros itu telah mengubah semuanya.

Tahun yang bahkan lebih tua daripada Maya Soedirja.

Aris masih memegang kaca pembesar ketika akhirnya berkata dengan suara rendah, “Ibu pernah melihat bros ini sebelumnya, kan?”

Kartika langsung menoleh kepadanya.

“Jangan bicara sembarangan.”

“Tapi Ibu mengenalinya.”

“Aris.”

Nada suara Kartika terdengar seperti peringatan.

Namun kali ini putranya tidak mundur.

Selama bertahun-tahun, Aris mengenal ibunya sebagai perempuan yang hampir selalu mampu mengendalikan keadaan. Bahkan saat ayah mereka meninggal akibat serangan jantung tujuh tahun lalu, Kartika tetap berdiri tegak di depan ratusan pelayat.

Tetapi sekarang, hanya karena sebuah bros tua di tangan seorang pelayan restoran, jari-jari wanita itu terlihat gemetar.

Kirana menyadarinya.

“Kalau Ibu memang pernah melihatnya,” kata Kirana, “tolong katakan dari mana.”

Kartika menarik napas panjang.

“Kamu tidak berhak menginterogasi saya.”

“Dan Ibu tidak berhak menyebut saya pencuri.”

Jawaban itu membuat beberapa tamu menahan napas.

Pak Hendra yang sejak tadi berdiri di antara mereka tampak kebingungan harus berpihak ke mana.

Akhirnya Aris mengembalikan bros itu kepada Kirana.

“Nama nenekmu Rahmi Melati?”

“Iya.”

“Beliau tinggal di mana?”

“Dulu di Tanah Abang. Setelah ibu saya meninggal, kami pindah ke daerah Palmerah.”

Aris memandang ibunya lagi.

Kartika justru memalingkan wajah.

Kirana merasa dadanya mulai berdebar lebih cepat.

“Apa Ibu mengenal Mbah Rahmi?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja.

Kartika langsung menjawab.

“Tidak.”

Terlalu cepat.

Aris memejamkan mata sebentar.

“Ibu.”

“Apa?”

“Jangan bohong lagi.”

Wajah Kartika menegang.

Aris melanjutkan, “Saya pernah mendengar nama Rahmi.”

Untuk pertama kalinya, Kirana terlihat benar-benar terkejut.

“Dari siapa?”

“Dari Ayah.”

Kartika menatap putranya tajam.

“Cukup.”

Namun Aris tetap bicara.

“Waktu saya masih remaja, saya pernah masuk ke ruang kerja Ayah tanpa izin. Saya menemukan sebuah amplop lama. Di depannya tertulis nama Rahmi.”

Kirana merasa telapak tangannya dingin.

“Apa isinya?”

“Saya tidak tahu. Ayah keburu datang dan mengambilnya. Tapi saya ingat ekspresinya. Dia marah sekali. Bukan karena saya masuk tanpa izin, tapi karena saya melihat nama itu.”

Kartika meraih tasnya.

“Kita pulang.”

Aris tidak bergerak.

“Ibu bisa pulang kalau mau. Saya akan tetap di sini.”

“Kamu mempermalukan keluarga kita.”

Aris tertawa pendek, tanpa humor.

“Yang mempermalukan keluarga kita bukan pertanyaan ini, Bu. Tapi rahasia yang membuat Ibu sampai menuduh orang tidak bersalah sebagai pencuri.”

Kartika memandang sekeliling.

Tatapan puluhan orang kini tidak lagi memperlihatkan kekaguman kepada keluarga Soedirja.

Sebagian justru menatapnya dengan curiga.

Akhirnya ia duduk kembali.

“Apa yang kalian inginkan?”

Kirana menggenggam bros itu.

“Kebenaran.”

Kartika memandangnya lama.

Kemudian tatapannya jatuh ke wajah Kirana, seolah baru kali ini ia benar-benar melihat wajah perempuan muda tersebut.

Garis rahang.

Bentuk mata.

Cara Kirana mengerutkan kening ketika gugup.

Semakin lama Kartika melihatnya, semakin pucat wajahnya.

“Kamu bilang nama ibumu Ratna?”

“Iya. Ratna Melati.”

Gelas di meja Kartika nyaris jatuh ketika tangannya tak sengaja menyenggolnya.

Aris sigap menahan gelas itu.

“Ibu mengenal Ratna juga?”

Kartika tidak menjawab.

Kirana merasa ada sesuatu yang seakan merambat dari tulang belakangnya ke tengkuk.

“Siapa sebenarnya ibu saya bagi keluarga Ibu?”

Kartika menunduk.

Untuk beberapa detik, wanita itu tampak jauh lebih tua dari usianya.

Lalu ia berkata, “Ini bukan tempat untuk membicarakannya.”

Kirana tersenyum pahit.

“Tadi tempat ini cukup pantas untuk menuduh saya mencuri.”

Ucapan itu menghantam tepat sasaran.

Kartika mengangkat kepala.

Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi suaranya masih keras.

“Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu bongkar.”

“Karena itu saya bertanya.”

Aris akhirnya menarik sebuah kursi kosong.

“Pak Hendra, saya minta satu ruangan privat. Tapi Kirana ikut bersama kami. Dan tolong pastikan dia tidak dianggap meninggalkan pekerjaan tanpa izin.”

Pak Hendra mengangguk cepat.

Beberapa menit kemudian, mereka bertiga berada di sebuah ruang makan privat di lantai yang sama.

Pak Hendra memilih menunggu di luar.

Begitu pintu tertutup, Kartika duduk menghadap jendela besar yang memperlihatkan langit Jakarta yang mulai gelap.

Aris berdiri di dekat meja.

Kirana tetap memegang bros di telapak tangannya.

“Ibu mulai dari tahun 1977,” kata Aris.

Kartika menghela napas panjang.

“Pada tahun itu, ayahmu belum menjadi siapa-siapa.”

Aris terdiam.

“Ia hanya anak kedua dari keluarga pedagang kecil di Semarang. Setelah kuliah, dia datang ke Jakarta dan bekerja di perusahaan konstruksi.”

Kartika menatap bros di tangan Kirana.

“Di perusahaan itu dia bertemu Rahmi.”

Kirana langsung membeku.

“Mbah saya?”

Kartika mengangguk perlahan.

“Rahmi bekerja sebagai staf administrasi. Dia pintar. Rajin. Tidak banyak bicara.”

“Apa hubungannya dengan bros ini?”

Kartika tersenyum getir.

“Bros itu dibeli ayah Aris untuk Rahmi.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Kirana merasa suaranya sulit keluar.

“Kenapa?”

Kartika tidak langsung menjawab.

Aris memandang ibunya dengan wajah berubah.

“Karena mereka berpacaran?”

Kartika menutup mata.

“Iya.”

Kirana menatap bros itu.

Tiba-tiba benda kecil tersebut terasa jauh lebih berat.

“Jadi Mbah Rahmi pernah punya hubungan dengan suami Ibu?”

“Jauh sebelum saya menikah dengannya.”

“Lalu kenapa Ibu terlihat takut?”

Kartika membuka mata.

“Karena itu bukan akhir ceritanya.”

Pada tahun 1978, perusahaan tempat mereka bekerja mengalami masalah keuangan. Beberapa proyek berhenti. Banyak pegawai diberhentikan.

Ayah Aris, Surya Soedirja, kemudian mendapat kesempatan bergabung dengan sebuah perusahaan properti milik keluarga Kartika.

Kartika saat itu baru berusia 22 tahun.

Keluarganya memiliki modal, jaringan, dan tanah.

Surya memiliki kemampuan.

Hubungan keduanya awalnya murni bisnis.

Namun ayah Kartika melihat potensi besar pada Surya.

Ia ingin Surya menjadi bagian dari keluarga.

“Jadi keluarga Ibu meminta dia menikahi Ibu?” tanya Kirana.

Kartika mengangguk.

“Bukan meminta. Menawarkan masa depan.”

Surya menolak pada awalnya.

Ia mengatakan sudah memiliki perempuan yang ingin dinikahinya.

Rahmi.

Tetapi beberapa bulan kemudian, sesuatu berubah.

Surya memutuskan hubungannya dengan Rahmi.

Setahun setelah itu, ia menikahi Kartika.

“Kenapa?” suara Kirana terdengar pelan.

Kartika menatapnya.

“Karena Rahmi hamil.”

Kirana seperti kehilangan napas.

Aris pun terdiam.

Kartika melanjutkan.

“Dan ayah saya memastikan Surya percaya bahwa bayi itu bukan anaknya.”

“Apa?”

Kartika mencengkeram ujung meja.

“Keluarga saya tidak akan membiarkan pernikahan gagal. Ayah saya membayar seorang dokter untuk memalsukan beberapa catatan. Ia juga menyewa orang untuk menciptakan cerita bahwa Rahmi memiliki hubungan dengan pria lain.”

Kirana mundur satu langkah.

“Mbah saya difitnah?”

Kartika mengangguk.

“Surya mempercayainya.”

“Dan Ibu tahu?”

Pertanyaan Kirana terdengar seperti bisikan.

Kartika tidak mampu menjawab.

Aris memukul meja dengan telapak tangannya.

“Ibu tahu?”

Kartika akhirnya berkata, “Saya tahu setelah pernikahan.”

Aris menatap ibunya seolah baru pertama kali melihatnya.

“Dan Ibu diam?”

“Saya sedang hamil waktu itu. Semua sudah terlanjur.”

“Itu bukan alasan!”

Suara Aris menggema.

Kartika menahan air matanya.

“Kamu pikir saya bangga? Saya hidup puluhan tahun dengan ketakutan bahwa suatu hari semuanya akan terbongkar.”

Kirana tidak peduli pada ketakutan Kartika.

Hanya satu hal memenuhi pikirannya.

“Bayi itu siapa?”

Kartika menatapnya.

Kirana sudah tahu jawabannya sebelum wanita itu berbicara.

“Ibumu.”

Lutut Kirana terasa lemas.

Ratna.

Ibunya.

Perempuan yang selama ini hanya ia kenal dari beberapa foto lama ternyata adalah anak kandung Surya Soedirja.

Artinya, Surya adalah kakeknya.

Dan Aris…

Kirana menatap pria itu.

Aris juga memandangnya dengan wajah terguncang.

“Kita…”

“Paman dan keponakan,” kata Kartika pelan.

Kirana langsung duduk.

Untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang bicara.

Suara musik restoran terdengar samar dari balik pintu.

Dunia di luar tetap berjalan.

Namun hidup Kirana seakan baru saja terbelah menjadi dua.

“Kenapa Mbah tidak pernah memberi tahu saya?”

Kartika menggeleng.

“Saya tidak tahu.”

Tiba-tiba Aris bertanya, “Apa Ayah akhirnya tahu kebenarannya?”

Kartika menggigit bibir.

“Iya.”

“Kapan?”

“Setelah Maya meninggal.”

Aris terlihat bingung.

“Apa hubungannya dengan Maya?”

Kartika mengeluarkan napas panjang.

“Karena bros itu.”

Ternyata pada ulang tahun Maya yang ke-21, Surya menghadiahkan sebuah bros bunga kepada putrinya.

Bukan bros milik Rahmi.

Melainkan replika.

Bentuknya hampir sama, hanya batu di bagian tengahnya berbeda sedikit.

Surya memesan benda tersebut berdasarkan ingatannya tentang bros yang pernah ia berikan kepada Rahmi.

Ketika Maya meninggal dua bulan kemudian dalam kecelakaan mobil, bros replika itu tidak pernah ditemukan.

“Jadi Ibu mengira bros Kirana adalah bros Maya karena bentuknya sama?” tanya Aris.

Kartika mengangguk.

“Tapi kenapa Ibu langsung mengenali bros asli Mbah?” Kirana bertanya.

Kartika menunduk.

“Karena sebelum ayahmu meninggal, ia menunjukkan sebuah foto kepada saya.”

Foto Rahmi.

Dalam foto tersebut, Rahmi memakai bros yang sama.

Surya baru mengetahui kebenaran ketika seorang mantan staf ayah Kartika datang menemuinya setelah puluhan tahun.

Orang itu mengaku pernah dibayar untuk ikut memfitnah Rahmi.

Surya kemudian mencari Rahmi.

Namun sudah terlambat.

Rahmi sudah meninggal.

“Dia menemukan Ratna?” tanya Kirana.

Kartika menggeleng.

“Ratna juga sudah meninggal.”

Surya hancur.

Ia menyadari bahwa selama puluhan tahun ia memiliki seorang putri yang tidak pernah sempat dikenalnya.

Setelah itu, ia mulai mencari apakah Ratna memiliki anak.

Namun sebelum pencarian selesai, Surya meninggal karena serangan jantung.

Kirana menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.

“Jadi kakek saya tahu saya mungkin ada.”

“Iya,” jawab Kartika.

“Tapi Ibu tidak melanjutkan pencariannya.”

Kartika diam.

Itulah jawaban sebenarnya.

Kirana menghapus air matanya.

“Kenapa?”

Kartika terdiam cukup lama.

“Aku takut.”

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi menggunakan kata saya.

“Aku takut kalau kamu ditemukan, semua yang selama puluhan tahun kami sembunyikan akan muncul. Aku takut Aris membenci keluarganya. Aku takut nama suamiku hancur. Aku takut orang tahu bahwa keluarga yang selama ini dianggap terhormat dibangun di atas kebohongan.”

Kirana menatapnya.

“Jadi Ibu lebih memilih membiarkan saya hidup tanpa tahu siapa keluarga saya.”

Kartika menangis.

“Aku salah.”

Aris memalingkan wajah.

Rasa marah dan kecewa memenuhi ekspresinya.

Kirana berdiri.

“Saya tidak membutuhkan harta keluarga Soedirja.”

Kartika langsung mengangkat kepala.

“Saya juga tidak datang mencari nama besar.”

Kirana mengangkat bros itu.

“Mbah saya hidup miskin. Dia bekerja sampai tangannya rusak demi membesarkan saya. Kalau benar keluarga Ibu pernah mengambil sesuatu darinya, itu bukan uang.”

Suaranya bergetar.

“Yang kalian ambil adalah haknya untuk dipercaya.”

Kartika menutup mulut.

Aris menatap Kirana lama.

“Apa yang kamu inginkan sekarang?”

Kirana menarik napas.

“Saya ingin melihat semua dokumen yang berkaitan dengan ibu saya.”

Aris mengangguk.

“Akan saya cari.”

Kartika tidak membantah lagi.

Dua hari kemudian, Aris datang ke rumah kontrakan Kirana di Palmerah membawa sebuah kotak arsip.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama milik Surya.

Foto.

Surat.

Catatan pencarian.

Dan satu amplop yang tidak pernah dibuka oleh siapa pun selain Surya.

Di bagian depannya tertulis nama Kirana.

Tangannya bergetar ketika membuka surat tersebut.

Tulisan tangan Surya sudah tidak terlalu rapi.

Kepada cucuku, jika suatu hari surat ini sampai kepadamu, berarti aku telah kehilangan kesempatan untuk meminta maaf secara langsung.

Aku tidak tahu seperti apa wajahmu.

Aku tidak tahu apakah kamu mirip Ratna atau Rahmi.

Tapi aku tahu satu hal.

Kesalahan terbesar dalam hidupku bukan meninggalkan Rahmi.

Kesalahan terbesar adalah memilih mempercayai kebohongan karena kebohongan itu lebih mudah daripada memperjuangkan orang yang kukasihi.

Kirana berhenti membaca.

Air matanya jatuh ke kertas.

Aris yang duduk di seberangnya hanya diam.

Surya juga menulis bahwa ia telah menyiapkan sebagian saham perusahaan untuk keturunan Ratna jika suatu hari mereka ditemukan.

Namun di bagian terakhir surat itu terdapat kalimat yang membuat Kirana terdiam paling lama.

Bros bunga yang kuberikan kepada Rahmi pada tahun 1977 bukan barang mahal. Saat itu aku bahkan harus menabung tiga bulan untuk membelinya. Tapi di balik bros tersebut ada ukiran kecil yang hanya diketahui kami berdua.

Bukan hanya angka 1977.

Kirana langsung mengambil kaca pembesar yang dibawa Aris.

Ia membalik bros itu.

Di bawah angka 1977 terdapat sebuah goresan yang selama ini dikira hanya bekas usia.

Setelah diperhatikan lebih teliti, ternyata itu tulisan sangat kecil.

S + R.

Surya dan Rahmi.

Kirana memejamkan mata.

Sekarang ia memahami alasan Mbah Rahmi menyimpan benda tersebut hingga akhir hayat.

Bukan karena emasnya.

Bukan karena nilainya.

Tetapi karena bros itu adalah satu-satunya bukti bahwa pernah ada seseorang yang mencintainya sebelum kebohongan merampas semuanya.

Seminggu kemudian, Kirana kembali bekerja di Sky View.

Pak Hendra sempat menawarkan cuti lebih panjang, tetapi ia menolak.

Ia tidak ingin hidupnya berubah hanya karena mengetahui darah keluarga besar mengalir di tubuhnya.

Pada malam pertama ia kembali bekerja, seorang tamu telah menunggunya di salah satu meja.

Kartika.

Wanita itu tidak mengenakan perhiasan berlebihan seperti sebelumnya.

Ia berdiri ketika Kirana mendekat.

“Kirana.”

Kirana berhenti beberapa langkah darinya.

Kartika mengeluarkan sesuatu dari tas.

Sebuah kotak beludru.

Di dalamnya ada sebuah bros bunga.

Hampir identik dengan milik Kirana.

“Bros Maya,” kata Kartika.

Kirana terkejut.

“Bukankah hilang?”

“Kemarin Aris menemukannya di salah satu kotak penyimpanan lama. Rupanya setelah kecelakaan, barang-barang Maya dikirim ke rumah tanpa diperiksa satu per satu.”

Kartika tersenyum pahit.

“Jadi sejak awal, aku menuduhmu mencuri sesuatu yang sebenarnya tidak pernah hilang.”

Kirana memandang dua bros yang kini berada di antara mereka.

Satu dibuat pada tahun 1977 untuk Rahmi.

Satu dibuat puluhan tahun kemudian untuk Maya.

Dua bunga emas.

Dua perempuan.

Dua generasi yang tidak pernah tahu bahwa hidup mereka saling terhubung.

Kartika menatap Kirana.

“Aku tidak datang untuk meminta kamu langsung memaafkan aku.”

Kirana diam.

“Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu yang seharusnya dilakukan keluarga kami sejak dulu.”

Kartika membungkuk.

Bukan sekadar menundukkan kepala.

Ia benar-benar membungkuk di depan Kirana.

Di tengah restoran yang sama tempat ia pernah menuduh Kirana sebagai pencuri.

“Maaf.”

Beberapa orang menoleh.

Namun Kartika tidak peduli.

Kirana menatap wanita itu cukup lama.

Lalu ia berkata pelan, “Saya belum tahu apakah saya bisa memaafkan semuanya.”

Kartika mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Tapi saya juga tidak ingin hidup dengan kebencian yang bukan milik saya.”

Kartika mengangkat wajah.

Kirana mengambil bros peninggalan Mbah Rahmi dan menyematkannya kembali di seragamnya.

“Ini tetap milik nenek saya.”

“Tentu.”

“Dan nama Rahmi harus disebut dalam sejarah keluarga Soedirja. Bukan sebagai wanita yang pernah punya hubungan dengan Pak Surya.”

Kirana menatap Kartika lurus-lurus.

“Tapi sebagai perempuan yang difitnah dan kehilangan haknya karena orang-orang yang lebih berkuasa memilih melindungi nama mereka sendiri.”

Kartika menahan air mata.

“Aku akan memastikan itu.”

Beberapa bulan kemudian, keluarga Soedirja mendirikan sebuah yayasan pendidikan kecil atas nama Rahmi Melati.

Namun Kirana menolak ketika namanya hendak dipasang sebagai pendiri.

Ia hanya meminta satu kalimat ditulis di dinding ruang utama.

Kebenaran mungkin bisa disembunyikan selama puluhan tahun, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.

Kirana tetap bekerja di restoran selama beberapa waktu sebelum akhirnya melanjutkan kuliah dengan tabungannya sendiri dan sebagian dana yang secara hukum memang menjadi haknya sebagai keturunan Surya.

Hubungannya dengan Aris perlahan tumbuh.

Tidak langsung seperti keluarga.

Lebih seperti dua orang asing yang sama-sama belajar menerima kenyataan bahwa hidup mereka ternyata terhubung oleh masa lalu yang tidak mereka pilih.

Sedangkan Kartika beberapa kali mencoba mendekat.

Kadang diterima.

Kadang Kirana menolak.

Tidak semua luka harus sembuh dengan cepat.

Dan tidak semua permintaan maaf otomatis menghapus akibat sebuah kesalahan.

Suatu sore, Kirana mengunjungi makam Mbah Rahmi seorang diri.

Ia duduk di depan batu nisan sederhana sambil memegang bros bunga yang kini kembali mengilap setelah dibersihkan.

“Mbah,” bisiknya sambil tersenyum kecil, “sekarang Kirana sudah tahu.”

Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.

Kirana menatap nama Rahmi Melati yang terukir di batu nisan.

Selama bertahun-tahun, Mbah Rahmi menyimpan rahasia besar tanpa pernah menggunakan kebencian untuk membesarkan cucunya.

Ia bisa saja mengajarkan Kirana membenci keluarga Soedirja.

Ia bisa saja menceritakan semua pengkhianatan itu.

Namun ia memilih meninggalkan satu petunjuk.

Sebuah bros.

Seolah ia ingin Kirana menemukan kebenaran saat sudah cukup dewasa untuk menentukan sendiri apa yang harus dilakukan dengannya.

Kirana menyentuh ukiran kecil di belakang bros.

S + R.

Dulu ia mengira warisan terbesar neneknya adalah benda kecil dari emas.

Sekarang ia mengerti.

Warisan terbesar Mbah Rahmi justru sesuatu yang jauh lebih sulit diberikan.

Kesempatan untuk mengetahui kebenaran tanpa diwarisi kewajiban untuk membenci.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang