PENGUSAHA PALING DITAKUTI MENODONGKAN PISTOL KE ARAH PEMBANTUNYA SAAT WANITA ITU MENYUSUI BAYINYA YANG SEKARAT.

Suara perempuan di balik pintu itu membuat Larasati membeku.

Bukan hanya karena perempuan itu mengetahui namanya.

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang terasa aneh, seolah ia sudah lama menunggu malam ketika Larasati akhirnya masuk ke kamar Arka.

Hendra mendekat ke pintu dengan pistol terangkat.

“Siapa kau?”

Tak ada jawaban.

Hanya terdengar langkah kaki menjauh perlahan di lorong.

Hendra menarik gagang pintu. Terkunci.

Ia menoleh kepada Larasati.

“Jangan bergerak dari sana.”

Larasati mengangguk. Arka kembali menyusu dengan tenang, seolah tidak memahami bahaya yang sedang mengelilinginya.

Hendra mencoba menghubungi kepala keamanan melalui ponselnya.

Tidak ada sinyal.

Ia memeriksa jaringan rumah.

Terputus.

“Mustahil,” gumamnya.

Rumah itu memiliki sistem komunikasi internal dan jaringan cadangan yang seharusnya tetap aktif bahkan ketika listrik utama padam.

Hendra berjalan ke panel darurat di samping lemari dan menekan tombol alarm.

Tidak terjadi apa-apa.

Untuk pertama kalinya, Larasati melihat ketakutan nyata di wajah pria itu.

Bukan ketakutan terhadap seseorang yang hendak membunuhnya.

Melainkan kesadaran bahwa seseorang yang sangat dekat dengannya telah menguasai rumahnya sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara batuk dari sofa.

Suster Rini bergerak.

Matanya terbuka perlahan.

Ketika melihat Hendra berdiri sambil memegang pistol, wajahnya langsung pucat.

“Tuan Hendra?”

Hendra mendekatinya.

“Apa yang kau berikan kepada anakku?”

Rini tampak kebingungan.

“Apa?”

Hendra meraih buku catatan medis dan melemparkannya ke meja.

“Catatan ini mengatakan Arka menghabiskan seratus dua puluh mililiter susu pukul sebelas malam. Botolnya masih hampir penuh di tempat sampah.”

Rini menatap botol tersebut.

Bibirnya bergetar.

“Saya bisa menjelaskan.”

“Jelaskan.”

Rini mulai menangis.

“Saya disuruh.”

Ruangan seketika sunyi.

“Oleh siapa?”

Rini tidak menjawab.

Hendra mencengkeram bahunya.

“Siapa yang menyuruhmu membuat anakku kelaparan?”

“Saya tidak bermaksud membunuh Arka!”

“Siapa?”

Rini menutup wajahnya.

“Ibu Ratna.”

Nama itu membuat Hendra melepaskan tangannya.

Larasati mengenal nama tersebut.

Ratna Baskoro adalah kakak kandung Hendra.

Sejak Shinta meninggal, Ratna praktis mengurus seluruh rumah. Ia mengatur staf, jadwal dokter, obat-obatan Arka, bahkan menentukan siapa yang boleh menemui bayi itu.

“Bohong,” kata Hendra.

Rini menggeleng cepat.

“Saya punya bukti.”

Ia mengambil ponsel dari saku seragamnya.

Namun sebelum sempat membuka layar, terdengar suara benturan dari lorong.

Kemudian seluruh lampu kamar padam.

Larasati menahan teriakan.

Arka menangis.

Hendra segera menyalakan senter ponsel.

“Jangan panik.”

Beberapa detik kemudian lampu darurat berwarna redup menyala.

Rini terlihat semakin ketakutan.

“Mereka tahu saya bicara.”

“Mereka siapa?”

Rini menatap pintu.

“Ibu Ratna bukan satu-satunya.”

Sebelum Hendra sempat bertanya lagi, terdengar suara kunci bergerak.

Pintu terbuka.

Dua pengawal pribadi Hendra berdiri di luar.

Di belakang mereka ada Ratna.

Perempuan berusia empat puluh enam tahun itu mengenakan piyama sutra abu-abu. Rambutnya terikat rapi, wajahnya tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

“Hendra,” katanya, “turunkan pistolmu.”

Hendra tidak bergerak.

“Kau mengunci pintu ini?”

Ratna menatap Rini.

“Tidak.”

“Rini bilang kau menyuruhnya mengurangi susu Arka.”

Wajah Ratna tidak berubah.

“Dan kau mempercayai seorang perawat yang mabuk saat bekerja?”

Hendra terdiam.

Ratna menunjuk gelas anggur.

“Lihat sendiri.”

Rini berdiri.

“Itu bukan milik saya!”

“Cukup, Rini.”

“Saya tidak minum!”

Ratna menatap salah satu pengawal.

“Bawa dia.”

Kedua pengawal maju.

Namun Larasati tiba-tiba berkata, “Jangan.”

Semua orang menoleh.

Larasati sendiri terkejut mendengar keberaniannya.

Ratna menyipitkan mata.

“Kau pembantu baru, bukan?”

Larasati memeluk Arka lebih erat.

“Gelas itu memang bukan milik Suster Rini.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena sejak saya masuk tadi, dia tidak pernah terbangun meskipun Arka menangis. Napasnya juga terlalu lambat untuk orang yang hanya tertidur karena alkohol.”

Hendra menatap Rini.

Larasati melanjutkan.

“Mungkin dia dibius.”

Ratna tersenyum tipis.

“Kau dokter?”

“Bukan.”

“Kalau begitu jangan membuat kesimpulan.”

Hendra tiba-tiba mengambil gelas anggur menggunakan saputangan.

“Besok pagi cairan ini diperiksa.”

Senyum Ratna menghilang.

“Tidak perlu.”

Hendra menatap kakaknya.

“Kenapa?”

Untuk pertama kalinya, Ratna tidak langsung menjawab.

Saat itulah Larasati menyadari sesuatu.

Arka sudah berhenti menyusu.

Bayi itu tertidur di dadanya.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit sebelumnya.

Hendra juga melihatnya.

Tatapannya berubah.

“Kita ke rumah sakit sekarang.”

Ratna langsung berkata, “Dokter Arka akan datang pagi.”

“Tidak. Kita pergi sekarang.”

“Hendra.”

“Aku tidak meminta izin.”

Ratna terdiam.

Tiga puluh menit kemudian, Hendra membawa Arka, Larasati, dan Rini menuju sebuah rumah sakit swasta di pusat Surabaya yang tidak pernah menangani Arka sebelumnya.

Ia sengaja tidak memberi tahu dokter keluarga.

Hasil pemeriksaan awal keluar menjelang pukul empat pagi.

Dokter Aditya, spesialis anak yang sedang bertugas, masuk dengan ekspresi serius.

“Pak Hendra, saya perlu bicara.”

“Ada apa?”

Dokter melihat Larasati yang duduk sambil menggendong Arka.

“Bayi ini mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Tapi ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan.”

Ia meletakkan hasil laboratorium di meja.

“Kami menemukan kandungan obat penenang dalam darahnya.”

Hendra tidak bergerak.

“Obat apa?”

“Dalam dosis kecil pada orang dewasa mungkin hanya menyebabkan kantuk. Pada bayi seusia Arka, penggunaan berulang bisa mengganggu kemampuan menyusu, menurunkan kesadaran, dan memperburuk pernapasan.”

Rini langsung menangis.

“Saya tidak pernah memberinya obat itu.”

Dokter Aditya mengangguk.

“Saya belum mengatakan siapa yang memberikannya. Tetapi berdasarkan konsentrasinya, kemungkinan paparan terjadi berulang.”

Tangan Hendra mengepal.

Selama berminggu-minggu ia membayar dokter terbaik, membeli formula termahal, dan menyalahkan tubuh anaknya karena dianggap tidak mampu menerima makanan.

Padahal seseorang telah membuat Arka terlalu lemah untuk makan.

“Ambil sampel semua obat dan susu dari rumah saya,” katanya kepada kepala keamanan yang baru tiba. “Tidak seorang pun boleh menyentuh apa pun.”

Pagi itu rumah Baskoro berubah seperti tempat penyelidikan.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Rini.

Di hadapan Hendra, ia membuka ponselnya dan menunjukkan pesan-pesan dari nomor tanpa nama.

Kurangi takarannya malam ini.

Pastikan berat badannya turun lagi.

Jangan sampai Hendra membawa dokter dari luar.

Setiap pesan disertai bukti transfer.

Jumlahnya puluhan juta rupiah.

Hendra membaca semuanya dengan rahang mengeras.

“Kenapa kau lakukan?”

Rini menunduk.

“Awalnya saya hanya diminta membuang sebagian susu. Saya pikir Ibu Ratna ingin membuat kondisi Arka terlihat lebih serius agar Tuan tidak kembali bekerja terlalu cepat. Tapi kemudian saya menemukan obat dalam botol.”

“Dan kau diam?”

“Saya takut.”

“Anakku hampir mati karena ketakutanmu.”

Rini menangis semakin keras.

Namun Larasati memperhatikan sesuatu pada pesan terakhir.

Nomor rekening pengirim bukan milik Ratna.

Ia pernah melihat nama pemilik rekening itu.

Di mana?

Pikirannya berputar.

Tiba-tiba wajah Larasati kehilangan warna.

“Surya Wardana.”

Hendra menoleh.

“Apa?”

Larasati menunjuk layar.

“Itu nama mantan tunangan saya.”

Ruangan seketika sunyi.

Rini menatapnya dengan bingung.

Hendra mengambil ponsel itu.

“Kenapa mantan tunanganmu membayar perawat anakku?”

“Saya tidak tahu.”

Namun Larasati mulai gemetar.

Ia teringat malam ketika Surya mendorongnya dari tangga.

Pertengkaran mereka bermula karena Larasati menemukan uang ratusan juta rupiah di rekening Surya.

Surya yang selama ini mengaku terlilit utang tiba-tiba memiliki uang dalam jumlah besar.

Ketika Larasati bertanya dari mana asalnya, Surya menjadi brutal.

Dua hari setelah kejadian itu, ia menghilang.

Hendra langsung memerintahkan orang-orangnya mencari Surya.

Tidak sampai dua jam, mereka menemukan jejaknya.

Surya ternyata belum meninggalkan Surabaya.

Ia tinggal di sebuah apartemen mewah menggunakan identitas orang lain.

Yang lebih mengejutkan, rekaman kamera apartemen menunjukkan seseorang rutin mengunjunginya.

Ratna Baskoro.

Hendra menatap rekaman itu berkali-kali.

Kakak yang membesarkannya setelah kedua orang tua mereka meninggal.

Perempuan yang selama ini ia percaya mengatur rumah, menjaga istrinya ketika hamil, dan mengurus Arka setelah Shinta meninggal.

Siang itu Ratna dibawa ke ruang kerja Hendra.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada pistol.

Hendra hanya meletakkan beberapa lembar bukti di hadapannya.

“Kenapa?”

Ratna memandang foto-foto tersebut.

Wajahnya tetap tenang.

“Karena semua ini seharusnya milikku.”

Hendra menatapnya.

Ratna tertawa kecil.

“Setelah Ayah meninggal, kau mendapat perusahaan. Aku mendapat beberapa properti dan saham kecil. Karena kau laki-laki. Karena kau anak kesayangan.”

“Itu keputusan Ayah.”

“Dan aku menghabiskan dua puluh tahun melihatmu membangun kerajaan dari sesuatu yang seharusnya juga menjadi hakku.”

“Jadi kau ingin membunuh Arka?”

Ratna menatapnya dingin.

“Kalau kau meninggal tanpa ahli waris, sebagian besar saham keluarga kembali ke struktur warisan lama. Aku menjadi pemegang kendali terbesar.”

Hendra terdiam.

“Tapi aku masih hidup.”

Ratna tersenyum.

“Untuk sementara.”

Pintu ruang kerja terbuka.

Polisi masuk.

Wajah Ratna akhirnya berubah.

Penyelidikan berikutnya membongkar semuanya.

Surya adalah perantara.

Ia direkrut Ratna hampir setahun sebelumnya untuk mengawasi beberapa transaksi keluarga Baskoro. Ketika mengetahui Larasati hamil, Surya melihat kesempatan lain.

Ratna membutuhkan seseorang yang tidak akan dicurigai untuk membeli obat dan menyuap staf rumah.

Surya membutuhkan uang.

Namun ada satu bagian yang bahkan Ratna tidak pernah rencanakan.

Kematian bayi Larasati.

Ketika Larasati menemukan transaksi mencurigakan, Surya panik dan mendorongnya dari tangga.

Selama ini Larasati percaya Kirana meninggal karena jatuh itu.

Sampai seorang polisi datang menemuinya tiga hari kemudian.

“Kami memeriksa kembali dokumen rumah sakit Anda.”

Larasati menatapnya bingung.

Polisi itu meletakkan sebuah berkas.

“Tidak ada catatan kematian bayi bernama Kirana Larasati pada malam tersebut.”

Dunia Larasati seolah berhenti.

“Apa maksud Bapak?”

“Bayi Anda lahir hidup.”

Larasati tidak bisa bernapas.

“Tidak mungkin.”

“Ada pemalsuan dokumen.”

Tangannya mulai gemetar.

“Lalu anak saya di mana?”

Polisi itu tidak menjawab.

Ia hanya menoleh ke pintu.

Seorang perempuan masuk.

Perempuan yang suaranya didengar Larasati dari balik pintu kamar Arka malam itu.

Larasati langsung mengenalinya sebagai salah satu petugas administrasi rumah sakit tempat ia melahirkan.

Namanya Maya.

Maya menangis.

“Saya minta maaf.”

Larasati berdiri.

“Di mana anak saya?”

“Surya membayar seseorang untuk mengubah dokumen. Dia ingin Anda percaya bayi Anda meninggal.”

“Di mana Kirana?”

Maya mengusap air matanya.

“Bayi Anda dibawa keluar dari rumah sakit malam itu. Tapi orang yang membawanya ketakutan dan meninggalkannya di sebuah klinik bersalin di Sidoarjo.”

Lutut Larasati hampir tidak mampu menopang tubuhnya.

“Dia hidup?”

Maya mengangguk.

“Dia hidup.”

Beberapa jam kemudian, Larasati berdiri di sebuah ruangan kecil di klinik tersebut.

Di depan matanya ada seorang bayi perempuan berusia tiga minggu yang sedang tertidur.

Pada pergelangan kaki mungilnya masih terpasang gelang baru dari klinik.

Namun di dalam arsip penyimpanan, petugas menemukan gelang rumah sakit lama yang dilepas ketika bayi itu pertama kali ditemukan.

Nama di gelang itu tertulis jelas.

Kirana Larasati.

Larasati menutup mulutnya.

Seluruh tubuhnya bergetar.

Selama tiga minggu ia menangisi anak yang ternyata masih bernapas di dunia yang sama dengannya.

Ia mendekat perlahan.

Ketika Kirana diletakkan ke dalam pelukannya, tangis yang selama ini tertahan akhirnya pecah.

“Maafkan Ibu, Nak.”

Kirana bergerak kecil.

Larasati mencium dahinya berkali-kali.

Di belakangnya, Hendra berdiri sambil menggendong Arka.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Dua orang dewasa yang hampir kehilangan anak mereka karena keserakahan orang-orang yang mereka percayai berdiri di ruangan yang sama.

Hendra kemudian berkata pelan, “Kalau malam itu kau tidak masuk ke kamar Arka, mungkin anakku tidak akan hidup sampai pagi.”

Larasati menatapnya.

“Kalau saya tidak masuk ke kamar Arka, mungkin saya juga tidak pernah tahu Kirana masih hidup.”

Hendra menunduk memandang putranya.

Arka kini jauh lebih sehat. Dokter mengatakan tidak ditemukan kelainan bawaan serius. Setelah obat penenang benar-benar keluar dari tubuhnya dan asupan nutrisinya dipulihkan, berat badannya mulai naik.

Beberapa bulan kemudian, Ratna dan Surya menjalani proses hukum atas berbagai tuduhan yang melibatkan percobaan pembunuhan, penipuan, pemalsuan dokumen, penganiayaan, dan konspirasi.

Rini juga diproses, meski keterangannya membantu membongkar jaringan tersebut.

Larasati tidak kembali bekerja sebagai pembantu.

Hendra melunasi seluruh biaya rumah sakitnya, tetapi Larasati menolak ketika ditawari uang dalam jumlah besar.

“Saya tidak menyelamatkan Arka untuk dibayar.”

“Lalu apa yang kau inginkan?”

Larasati berpikir sebentar.

“Saya ingin belajar lagi.”

Sebelum hidupnya berantakan, Larasati pernah bercita-cita menjadi perawat.

Hendra akhirnya membiayai pendidikannya tanpa syarat.

Dua tahun kemudian, Larasati bekerja sebagai konselor laktasi di sebuah pusat kesehatan ibu dan anak di Surabaya.

Di dinding ruang konsultasinya terdapat sebuah foto.

Dua balita sedang duduk berdampingan.

Arka memegang mobil-mobilan.

Kirana tertawa sambil mencoba merebutnya.

Setiap kali Larasati melihat foto itu, ia selalu teringat malam ketika sebuah pistol diarahkan kepadanya.

Malam ketika semua orang mengira ia sedang melanggar aturan paling berbahaya di rumah Baskoro.

Padahal sesungguhnya, suara seorang bayi yang menelan susu untuk pertama kalinya telah membuka pintu menuju rahasia yang jauh lebih besar.

Rahasia tentang keserakahan.

Tentang pengkhianatan.

Tentang seorang anak yang sengaja dibuat kelaparan.

Dan tentang seorang ibu yang dibuat percaya bahwa bayinya telah mati.

Larasati akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.

Kadang-kadang kehidupan tidak mengembalikan apa yang hilang dengan cara yang lembut.

Kadang-kadang kebenaran datang melalui malam paling menakutkan, melalui pintu yang terkunci, melalui ancaman yang membuat tangan gemetar.

Namun selama masih ada keberanian untuk mendengar tangisan yang diabaikan orang lain, selalu ada kemungkinan bahwa di balik kehilangan yang paling menyakitkan, sesuatu yang kita kira telah pergi selamanya ternyata masih menunggu untuk ditemukan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang