MESKI SETIAP BULAN AKU MEMBERI IBU MERTUAKU RP3 JUTA, AKU BENAR-BENAR MALU SAAT PULANG KAMPUNG DAN MELIHAT PEMANDANGAN DI DEPAN RUMAH…

Tetangga itu bernama Pak Wiryo. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya saat pulang ke Klaten, tetapi tidak pernah benar-benar berbincang lama.

Hari itu wajahnya terlihat tegang.

Ia menatap Arif, lalu menatapku.

“Mas Arif, Mbak Rani, sebaiknya masuk dulu,” katanya.

Aku justru semakin gelisah.

“Pak, sebenarnya ada apa?”

Pak Wiryo menghela napas panjang, kemudian menoleh ke halaman rumah Bu Sulastri.

Barulah aku benar-benar memperhatikan apa yang ada di sana.

Atap teras rumah terlihat bocor di beberapa bagian. Sebuah ember diletakkan di bawah talang yang retak. Cat dinding mengelupas. Pagar bambu di samping rumah nyaris roboh.

Tetapi bukan itu yang membuat wajahku panas karena malu.

Di halaman depan terdapat beberapa meja panjang. Di atasnya tersusun puluhan kotak nasi, kantong beras, minyak goreng, telur, mi instan, dan beberapa kardus obat.

Beberapa perempuan desa sibuk memasukkan barang-barang itu ke dalam tas plastik.

Di sudut halaman, sekitar belasan orang lanjut usia duduk mengantre.

Sebagian membawa tongkat.

Sebagian mengenakan pakaian sederhana yang bahkan sudah memudar warnanya.

Aku terpaku.

“Ini… apa?”

Pak Wiryo memandangku seperti sedang memilih kata-kata.

“Sudah hampir empat tahun Bu Sulastri melakukan ini.”

Aku mengernyit.

“Melakukan apa?”

“Membantu warga yang kesulitan.”

Arif langsung menoleh.

“Apa?”

Pak Wiryo mengangguk.

“Setiap bulan ada pembagian sembako. Kalau ada orang sakit dan tidak punya biaya berobat, Bu Sulastri ikut membantu. Kalau ada anak yang hampir putus sekolah, beliau juga sering membayar perlengkapan sekolahnya.”

Aku merasa seolah baru salah mendengar.

“Dari mana uangnya?”

Pak Wiryo diam.

Jawabannya sebenarnya sudah bisa kutebak.

Tetapi aku tidak ingin mempercayainya.

Pak Wiryo akhirnya berkata pelan, “Sebagian besar dari uang yang kalian kirim.”

Dunia di sekitarku seperti mendadak berhenti.

Aku menatap Arif.

Arif menatap halaman rumah ibunya dengan wajah pucat.

“Tidak mungkin,” katanya.

Pak Wiryo tersenyum pahit.

“Mas Arif, Ibu kalian hidup sangat sederhana. Lebih sederhana dari yang kalian bayangkan.”

Aku menggeleng pelan.

“Setiap bulan kami kirim tiga juta rupiah.”

“Iya.”

“Kadang lebih.”

“Iya.”

“Terus Ibu makan dari mana?”

Pak Wiryo menunjuk kebun belakang.

“Dari sana. Sayur menanam sendiri. Beras kadang dapat dari hasil sawah kecil milik almarhum suaminya yang digarap tetangga. Telur dari ayam. Untuk kebutuhan lain, beliau menggunakan uang pensiun kecil dari almarhum Pak Sastro.”

Aku tidak tahu mengapa kalimat itu terasa seperti tamparan.

Selama ini setiap kali mentransfer uang, aku merasa telah menjalankan kewajibanku dengan baik.

Bahkan diam-diam pernah ada sedikit rasa bangga.

Aku menantu yang tidak melupakan ibu mertua.

Aku rutin mengirim uang.

Aku tidak pernah mengeluh.

Aku merasa cukup.

Ternyata aku bahkan tidak tahu bahwa perempuan yang kukirimi uang setiap bulan hidup dengan sandal yang sudah menipis dan rumah yang nyaris tidak pernah diperbaiki.

Tiba-tiba suara seorang perempuan terdengar dari dalam rumah.

“Pak Wiryo, yang obat Bu Aminah jangan lupa dimasukkan.”

Aku mengenali suara itu.

Bu Sulastri keluar dari pintu rumah sambil membawa sebuah kardus kecil.

Begitu melihat kami, langkahnya berhenti.

Wajahnya langsung berubah.

“Arif?”

Kardus di tangannya hampir terlepas.

“Rani?”

Aku berjalan cepat menghampirinya.

“Bu.”

Entah mengapa begitu dekat dengannya, semua pertanyaan yang tadi memenuhi kepalaku justru berubah menjadi kemarahan.

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

Bu Sulastri terlihat bingung.

“Bilang apa?”

Aku menunjuk meja-meja di halaman.

“Ini semua.”

Beliau menoleh sebentar, lalu kembali menatapku.

“Oh, ini?”

“Oh, ini?” suaraku tanpa sadar meninggi. “Bu, kami kirim uang tiap bulan supaya Ibu hidup enak. Supaya Ibu tidak kekurangan. Tapi rumah Ibu begini. Atap bocor. Pagar rusak. Ibu malah membagi uangnya ke orang lain.”

Arif menyentuh lenganku.

“Rani.”

Aku tahu ia meminta agar aku tenang, tetapi dadaku sudah terlalu sesak.

“Kenapa, Mas? Aku salah?”

Bu Sulastri tidak marah.

Beliau hanya tersenyum kecil.

“Masuk dulu, Nak.”

“Aku mau tahu sekarang.”

Untuk beberapa detik beliau diam.

Lalu katanya, “Karena Ibu tidak membutuhkan sebanyak itu.”

Aku nyaris tertawa karena tidak percaya.

“Tidak membutuhkan? Bu, rumah ini saja perlu diperbaiki.”

“Nanti juga bisa.”

“Sandal Ibu bahkan sudah tipis.”

“Masih bisa dipakai.”

“Kalau Ibu sakit?”

“Ada BPJS.”

Aku menatapnya.

“Jadi uang yang kami kirim hampir semuanya Ibu berikan?”

“Tidak semuanya.”

“Berapa yang Ibu pakai?”

Bu Sulastri terlihat berpikir.

“Kadang lima ratus ribu. Kadang lebih sedikit.”

Aku memejamkan mata.

“Ya Allah, Bu.”

Beliau justru menepuk lenganku.

“Kenapa kamu marah?”

Aku tidak bisa menjawab.

Aku sendiri tidak benar-benar tahu.

Aku marah karena khawatir.

Marah karena merasa dibohongi.

Dan yang paling memalukan, aku marah karena ternyata uang yang selama ini membuatku merasa menjadi menantu baik justru digunakan Bu Sulastri untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dariku.

Arif akhirnya bertanya, “Sejak kapan, Bu?”

Bu Sulastri terdiam.

“Sejak kamu mulai kirim uang rutin.”

“Hampir empat tahun?”

Beliau mengangguk.

Arif menarik napas panjang.

“Ibu kenapa tidak pernah bilang?”

“Untuk apa?”

“Supaya kami tahu.”

“Kalau kalian tahu, nanti kalian melarang.”

Jawaban itu membuat beberapa orang di halaman tersenyum tipis.

Aku masih belum bisa menerima.

“Bu, membantu orang boleh. Tapi jangan sampai Ibu sendiri hidup kekurangan.”

Bu Sulastri menatapku lama.

Kemudian beliau berkata sesuatu yang sampai sekarang tidak pernah kulupakan.

“Rani, kekurangan itu ukurannya apa?”

Aku terdiam.

“Ibu masih bisa makan tiga kali sehari. Masih punya rumah. Masih bisa tidur tanpa memikirkan cicilan. Masih punya kalian yang menelepon. Masih sehat dan masih bisa berjalan.”

Beliau menunjuk seorang nenek yang duduk di kursi plastik.

“Itu Bu Aminah. Anak satu-satunya meninggal dua tahun lalu. Dia pernah tiga hari makan nasi dengan garam karena uangnya habis untuk obat.”

Kemudian beliau menunjuk seorang lelaki tua kurus.

“Itu Pak Darmo. Dia hidup sendiri. Pernah jatuh di kamar mandi, tidak ada yang tahu sampai besok siang.”

Suara Bu Sulastri tetap tenang.

“Kalau Ibu punya uang lebih sementara tetangga Ibu tidak bisa membeli beras, masa Ibu harus membeli televisi baru?”

Aku menunduk.

Tidak ada satu pun kalimat yang bisa keluar dari mulutku.

Namun kejutan hari itu ternyata belum selesai.

Pak Wiryo tiba-tiba berkata, “Bu, sekalian bilang saja tentang rumah belakang.”

Bu Sulastri cepat-cepat menoleh.

“Pak Wiryo.”

Aku langsung menangkap sesuatu.

“Rumah belakang apa?”

Bu Sulastri tampak enggan.

Arif bertanya, “Ibu menyembunyikan apa lagi?”

Akhirnya Pak Wiryo yang menjelaskan.

Ternyata sekitar dua tahun sebelumnya, sebuah rumah kosong di ujung desa hampir dijual murah oleh pemiliknya.

Bu Sulastri membeli rumah itu secara mencicil.

Bukan untuk dirinya.

Rumah itu diperbaiki sedikit demi sedikit dan sekarang digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi perempuan lanjut usia yang hidup sendiri atau tidak memiliki keluarga.

Saat itu ada empat orang yang tinggal di sana.

Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

“Dari uang kami juga?”

Bu Sulastri tersenyum kikuk.

“Sebagian.”

“Berapa harga rumahnya?”

Beliau tidak menjawab.

Pak Wiryo menyebut angka.

“Tiga puluh lima juta.”

Aku hampir tersedak.

“Bu!”

Bu Sulastri tertawa kecil.

“Kan bayarnya dicicil.”

Arif mengusap wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak kami tiba, aku melihat matanya berkaca-kaca.

“Bu, kenapa Ibu seperti ini?”

Bu Sulastri menatap putranya.

“Seperti apa?”

Arif tertawa getir.

“Bikin anak sendiri merasa tidak pernah mengenal ibunya.”

Suasana mendadak sunyi.

Bu Sulastri memegang tangan Arif.

“Justru karena kamu anak Ibu, Ibu bisa melakukan semua ini.”

Arif terdiam.

“Waktu ayahmu meninggal,” lanjut beliau, “Ibu pernah merasakan bagaimana takutnya memikirkan hari esok. Kalau waktu itu tidak ada tetangga yang membantu panen, mengantar Ibu ke puskesmas, atau sekadar membawakan makanan, mungkin Ibu tidak akan bisa membiayai kuliahmu sampai selesai.”

Beliau menatapku.

“Manusia sering merasa bisa berdiri sendiri setelah hidupnya membaik. Padahal kadang kita sampai di tempat yang nyaman karena dulu ada banyak tangan yang menolong tanpa kita ingat lagi namanya.”

Aku merasakan tenggorokanku tercekat.

Tiba-tiba seorang perempuan tua dari antrean memanggil.

“Bu Sulastri.”

Beliau menghampiri.

Perempuan itu menyerahkan sebuah plastik berisi pisang.

“Ini buat Ibu. Jangan ditolak.”

Bu Sulastri tertawa.

“Lho, buat cucu saja.”

“Cucu saya sudah makan. Ini memang buat Ibu.”

Aku melihat bagaimana mereka saling tersenyum.

Tidak ada rasa kasihan.

Tidak ada hubungan orang kaya dan orang miskin.

Yang ada hanyalah dua manusia yang saling menjaga harga diri.

Malam itu aku dan Arif menginap.

Hujan turun cukup deras.

Benar saja, air menetes dari atap ruang tengah.

Aku terbangun sekitar pukul dua dini hari dan menemukan Bu Sulastri sedang memindahkan ember.

Aku langsung bangkit.

“Bu, besok kita panggil tukang.”

“Tidak usah buru-buru.”

“Tidak bisa.”

Beliau hendak membantah, tetapi kali ini aku menggenggam tangannya.

“Kalau Ibu ingin membantu orang lain, silakan. Aku tidak akan melarang lagi.”

Beliau menatapku.

“Tapi ada satu syarat.”

“Apa?”

“Ibu juga harus membiarkan kami merawat Ibu.”

Untuk pertama kalinya hari itu, mata Bu Sulastri terlihat berkaca-kaca.

Beliau mengangguk.

Keesokan paginya, aku membuka aplikasi bank.

Arif melihat layar ponselku.

“Kamu mau apa?”

“Mengubah transfer bulanan.”

“Kamu mau kurangi?”

Aku menoleh kepadanya.

“Tidak.”

Aku mengubah jumlah transfer dari Rp3 juta menjadi Rp4 juta.

Arif terkejut.

Aku tertawa kecil.

“Tiga juta untuk Ibu. Satu juta khusus untuk kegiatan beliau. Tapi aku mau laporan.”

Bu Sulastri yang mendengar dari dapur langsung protes.

“Laporan apa?”

Aku menjawab keras-keras.

“Foto atap rumah setelah diperbaiki.”

Semua orang tertawa.

Dalam tiga bulan berikutnya, kami memperbaiki rumah Bu Sulastri tanpa mengubah bentuk sederhananya.

Atap diganti.

Kamar mandi dibuat lebih aman.

Pagar diperbaiki.

Kami juga membantu mengurus kegiatan sosial yang selama ini dilakukan beliau secara informal.

Arif membuat rekening terpisah.

Aku membantu mencatat pemasukan dan pengeluaran.

Beberapa teman kami di Jakarta ikut menyumbang setelah mendengar ceritanya.

Namun satu hal yang Bu Sulastri larang keras adalah memasang namanya di kegiatan tersebut.

“Jangan pakai nama Ibu,” katanya.

“Kenapa?”

“Nanti orang kira Ibu ingin terkenal.”

Akhirnya warga menamainya Rumah Singgah Rukun.

Sederhana.

Persis seperti Bu Sulastri.

Setahun kemudian, sesuatu terjadi yang tidak pernah kami duga.

Setelah hampir delapan tahun menikah, aku dinyatakan hamil.

Saat melihat dua garis di alat tes kehamilan, aku menangis sampai tanganku gemetar.

Orang pertama setelah Arif yang kami telepon tentu saja Bu Sulastri.

Beliau tidak langsung menjawab.

Di telepon hanya terdengar tangisnya.

Beberapa bulan kemudian, ketika kandunganku semakin besar, kami pulang ke Klaten.

Rumah Bu Sulastri kini jauh lebih layak.

Tetapi meja panjang di halaman masih ada.

Kotak beras masih berjajar.

Orang-orang masih datang.

Seorang nenek yang dulu pernah menerima bantuan menghampiriku dan mengusap perutku.

“Semoga anaknya sehat.”

Aku tersenyum.

“Amin.”

Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuatku hampir menangis.

“Dulu ibumu sering bilang, kalau suatu hari dia punya cucu, dia ingin cucunya tumbuh di tengah orang-orang yang tahu cara saling menolong.”

Aku menoleh ke arah Bu Sulastri.

Beliau pura-pura sibuk menata kantong beras.

Saat itulah aku memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun, aku selalu menghitung kebaikan dalam angka.

Tiga juta setiap bulan.

Tiga puluh enam juta setahun.

Sekian biaya berobat.

Sekian uang Lebaran.

Aku merasa angka-angka itu adalah bukti bahwa aku sudah melakukan cukup banyak.

Bu Sulastri mengajariku bahwa nilai sebuah pemberian tidak pernah berhenti pada jumlah yang keluar dari rekening.

Uang yang sama bisa hilang dalam satu kali belanja.

Tetapi di tangan orang yang tepat, uang itu bisa berubah menjadi nasi untuk seseorang yang kelaparan, obat untuk orang yang sakit, atap untuk orang yang tidak punya tempat pulang, bahkan harapan bagi seseorang yang merasa hidupnya sudah tidak berarti.

Hari ketika aku turun dari mobil dan merasa malu melihat keadaan rumah ibu mertuaku, aku benar-benar mengira rasa malu itu muncul karena beliau terlihat miskin.

Ternyata aku salah.

Aku malu karena baru menyadari bahwa perempuan yang selama ini kukhawatirkan hidup kekurangan justru memiliki sesuatu yang jauh lebih banyak daripada kebanyakan orang.

Bu Sulastri mungkin tidak punya rumah mewah.

Tidak punya perhiasan mahal.

Tidak punya tabungan besar.

Tetapi beliau punya satu kekayaan yang bertahun-tahun tidak pernah kulihat.

Hatinya selalu merasa cukup.

Dan karena merasa cukup, beliau tidak pernah takut untuk berbagi.

Beberapa tahun kemudian, ketika Bu Sulastri meninggal dengan tenang dalam tidurnya, halaman rumah itu penuh sesak.

Bukan hanya keluarga.

Bukan hanya tetangga dekat.

Ada orang-orang dari desa lain.

Ada mantan penerima bantuan.

Ada perempuan yang pernah tinggal di Rumah Singgah Rukun.

Ada seorang pemuda yang datang dari Semarang dan menangis di samping makam.

Aku tidak mengenalnya.

Setelah pemakaman, ia menghampiriku.

“Mbak Rani?”

“Iya.”

Ia menyerahkan sebuah amplop tua.

“Bu Sulastri pernah membayar biaya sekolah saya waktu SMA. Kalau bukan karena beliau, saya mungkin berhenti sekolah.”

Aku terdiam.

“Saya sekarang sudah bekerja. Saya sebenarnya ingin mengembalikan uang itu, tapi Bu Sulastri selalu menolak.”

Ia menatap Rumah Singgah Rukun.

“Jadi saya ingin meneruskannya.”

Di dalam amplop itu ada uang sepuluh juta rupiah.

Aku langsung menangis.

Bukan karena jumlahnya.

Namun karena akhirnya aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh laporan keuangan mana pun.

Kebaikan ternyata bisa menghasilkan bunga.

Bukan bunga bank.

Bukan keuntungan yang masuk kembali ke rekening kita.

Melainkan kebaikan baru yang tumbuh di dalam hidup orang lain.

Dan saat orang yang pertama menanamnya sudah tidak ada, kebaikan itu tetap berjalan dari tangan ke tangan.

Sejak hari itu, transfer Rp4 juta yang dulu kukirim kepada Bu Sulastri tidak pernah benar-benar berhenti.

Hanya tujuan rekeningnya yang berubah.

Setiap bulan, aku dan Arif masih mengirim jumlah yang sama ke rekening Rumah Singgah Rukun.

Kadang lebih.

Dan setiap kali aku menekan tombol kirim, aku selalu teringat kalimat Bu Sulastri.

Kekurangan itu ukurannya apa?

Sekarang aku tahu jawabannya.

Manusia tidak selalu kekurangan karena memiliki sedikit.

Kadang manusia justru paling miskin ketika sudah memiliki banyak, tetapi masih merasa semuanya hanya cukup untuk dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang