MEREKA MENGUBUR KAMI HIDUP-HIDUP, TAPI MALAM ITU KAMI BANGKIT UNTUK MENAGIH HUTANG DARAH

Aku tidak tahu siapa yang lebih dulu menyadari bahwa rencana kami terlalu berbahaya.

Mungkin Rina.

Mungkin juga Hendra.

Yang jelas, ketika jarak kami tinggal sekitar seratus meter dari rumah Om Wawan, Rina tiba-tiba menarik lenganku.

“Mas Ardi, tunggu.”

Aku berhenti.

Dari tempat kami berdiri, rumah dua lantai milik Om Wawan terlihat jelas. Lampu teras menyala terang. Beberapa mobil terparkir di halaman. Musik masih terdengar dari dalam, diselingi tawa orang-orang yang beberapa jam sebelumnya ikut memastikan kami terkubur hidup-hidup.

“Kita jangan masuk sembarangan,” kata Rina. “Kalau mereka berani mengubur kita, mereka juga berani melakukan yang lebih buruk.”

Kalimat itu mengembalikan pikiranku.

Benar.

Kami berlima memang berhasil keluar, tetapi kondisi kami menyedihkan. Tubuh lelah, tangan terluka, pakaian penuh lumpur. Sementara di dalam rumah itu ada Om Wawan dan orang-orang bayarannya.

Kalau kami menyerbu hanya karena emosi, mungkin malam ini benar-benar menjadi malam terakhir kami.

“Aku punya ponsel,” kata Hendra tiba-tiba.

Kami semua menoleh.

“Kamu masih bawa ponsel?”

“Disembunyikan di dalam sepatu waktu mereka menangkap kita.”

Dia mengeluarkan ponsel kecil dengan layar retak. Baterainya tinggal sembilan persen.

Budi langsung berkata, “Telepon polisi.”

“Jangan dulu,” jawabku.

Budi menatapku tajam.

“Kamu gila?”

“Aku mau mereka bicara.”

Aku menatap rumah itu.

“Mereka pikir kita mati. Kalau kita langsung melapor, Om Wawan bisa menyangkal semuanya. Lubang itu bisa dia bilang proyek lama. Orang-orangnya bisa kabur. Dokumen tanah bisa dihilangkan.”

Hendra mulai mengerti.

“Jadi kita rekam pengakuannya.”

Aku mengangguk.

Kami menyusun rencana sederhana.

Hendra akan mengaktifkan perekam suara. Budi dan Siti menunggu di dekat pagar belakang. Aku dan Rina mendekati teras depan.

Kami tidak akan menyerang siapa pun.

Kami hanya perlu membuat mereka percaya bahwa sesuatu yang mustahil sedang terjadi.

Lima orang yang sudah mereka kubur ternyata kembali.

Semakin dekat ke rumah, semakin jelas suara pesta.

Aku bahkan bisa mendengar suara Om Wawan.

“Besok pagi urusan sertifikat selesai. Setelah itu pembeli transfer uang muka.”

Seseorang tertawa.

“Lima orang itu bagaimana, Pak?”

“Sudah selesai.”

Darahku terasa dingin.

Kami belum perlu melakukan apa pun. Kesombongannya sendiri sudah mulai membuka mulutnya.

Hendra mengangkat ponsel dan memberi isyarat bahwa rekaman sedang berjalan.

Aku menaiki anak tangga teras.

Tok.

Tok.

Tok.

Aku mengetuk pintu tiga kali.

Suara dari dalam perlahan menghilang.

Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki.

Pintu terbuka.

Seorang lelaki bernama Darto berdiri di sana. Aku mengenalnya sebagai sopir sekaligus orang kepercayaan Om Wawan.

Begitu melihatku, wajahnya langsung kehilangan warna.

Matanya membesar.

Mulutnya terbuka.

“Kamu…”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya berdiri di bawah cahaya teras dengan pakaian penuh lumpur dan wajah kotor.

Rina muncul perlahan di belakangku.

Darto mundur satu langkah.

“Nggak mungkin.”

Gelas di tangannya jatuh.

Pecahannya berserakan di lantai.

Suara itu membuat semua orang di ruang tamu menoleh.

Om Wawan berdiri di dekat meja makan.

Saat mata kami bertemu, senyum di wajahnya lenyap.

Aku tidak akan pernah melupakan ekspresi itu.

Bukan sekadar terkejut.

Itu ketakutan seorang manusia yang baru saja melihat konsekuensi dari kejahatannya berdiri di depan mata.

“Selamat malam, Om.”

Om Wawan mundur.

“Kalian…”

Budi muncul dari sisi halaman.

Kemudian Siti.

Terakhir Hendra.

Lima orang.

Semuanya penuh tanah.

Semuanya hidup.

Darto membuat tanda salib di dadanya meskipun aku tahu dia bukan orang yang rajin beribadah.

Salah satu lelaki lain langsung berlari ke belakang.

“Jangan biarkan mereka pergi!” teriak Om Wawan.

Aku tertawa pendek.

“Kenapa, Om? Takut orang mati bisa bicara?”

“Diam!”

Om Wawan mengambil sebuah vas dari meja dan melemparkannya ke arahku.

Aku menghindar.

Vas menghantam dinding.

Rina menjerit.

Budi langsung maju, tetapi aku menahan dadanya.

“Jangan sentuh siapa pun.”

Om Wawan menatap kami satu per satu.

“Kalian seharusnya…”

Dia berhenti.

Aku sengaja menyelesaikan kalimatnya.

“Mati?”

Wajahnya semakin pucat.

“Seharusnya kami mati?”

“Tidak ada yang bilang begitu!”

“Tadi Om bilang lima orang itu sudah selesai.”

Om Wawan melirik orang-orang di sekelilingnya.

Dia baru sadar ada saksi.

“Kalian salah dengar.”

Aku melangkah masuk.

“Kalau begitu jelaskan kenapa kami berlima dikunci di ruang bawah tanah dan ditimbun.”

“Itu bukan aku.”

“Suara Om sendiri yang menyuruh mereka mengubur kami.”

“Itu fitnah!”

Tiba-tiba Darto berkata, “Pak, cukup.”

Semua orang menoleh.

Om Wawan membentaknya.

“Kamu diam!”

Namun Darto justru mundur.

“Saya nggak mau ikut lagi.”

“Apa maksudmu?”

“Saya cuma disuruh mengantar mereka.”

“Diam, Darto!”

“Saya nggak tahu Bapak benar-benar mau membunuh mereka.”

Ruangan itu mendadak senyap.

Aku menatap Hendra.

Ponselnya masih merekam.

Om Wawan menyadarinya.

“Apa yang kamu pegang?”

Hendra langsung mundur.

Om Wawan menerjang.

Budi menghadang.

Mereka bertabrakan dan sebuah meja kecil terbalik.

“Ambil HP-nya!” teriak Om Wawan.

Dua orang bergerak ke arah Hendra.

Saat itulah terdengar suara sirene.

Samar.

Lalu semakin dekat.

Om Wawan membeku.

Aku juga terkejut.

Aku menoleh kepada Rina.

Dia mengangkat ponsel tua lain yang ternyata ditemukan di dekat gudang ketika kami keluar.

“Aku telepon polisi sebelum kita datang,” katanya.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa ingin tertawa.

“Bagus.”

Sirene berhenti tepat di depan rumah.

Orang-orang Om Wawan langsung panik.

Salah satu mencoba melompat pagar belakang, tetapi Budi sudah membuka gerbang sehingga polisi yang datang bisa melihatnya berlari.

Beberapa petugas masuk.

“Semua tetap di tempat!”

Om Wawan langsung berubah.

Ekspresi takutnya hilang, digantikan wajah seorang lelaki tua yang seolah menjadi korban.

“Pak Polisi! Mereka menyerang rumah saya!”

Aku hampir tidak percaya.

Beberapa menit lalu dia memerintahkan orang merebut ponsel kami. Sekarang dia berdiri seperti korban perampokan.

Namun Hendra mengangkat ponselnya.

“Kami punya rekaman.”

Om Wawan menatapnya.

Darto tiba-tiba berkata, “Saya juga mau bersaksi.”

Kali ini Om Wawan benar-benar kehilangan kendali.

“Pengkhianat!”

Dia mencoba memukul Darto, tetapi polisi langsung menahannya.

Malam itu kami dibawa ke kantor polisi.

Bukan sebagai tersangka.

Sebagai korban.

Polisi kemudian mendatangi lokasi tempat kami dikubur.

Di sana ditemukan pintu besi, sekop, jejak kendaraan, tali yang digunakan untuk mengikat kami, dan sebuah sarung tangan milik salah satu orang Om Wawan.

Namun temuan terbesar bukan itu.

Di mobil Om Wawan ditemukan sebuah tas berisi dokumen.

Salinan sertifikat.

Surat kuasa palsu.

Bukti transfer.

Dan rancangan akta jual beli tanah warisan keluarga kami.

Ternyata rencananya jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan.

Om Wawan sudah menyiapkan dokumen seolah-olah kami berlima menyetujui penjualan tanah.

Kalau kami benar-benar mati, kematian kami akan dibuat terlihat seperti kecelakaan.

Dua minggu setelah malam itu, penyelidikan membuka rahasia lain.

Tanah lima hektare tersebut ternyata akan dijual bukan dengan harga yang selama ini Om Wawan katakan kepada keluarga.

Dia bilang nilainya sekitar tujuh miliar rupiah.

Harga sebenarnya hampir dua puluh tiga miliar.

Selama bertahun-tahun dia sengaja mengecilkan nilai aset itu agar ahli waris lain menerima bagian jauh lebih sedikit.

Tetapi kejutan terbesar datang dari seseorang yang sama sekali tidak kami duga.

Ibu.

Suatu sore, setelah pemeriksaan polisi selesai, Ibu memanggilku dan Rina ke rumah lama Kakek.

Dia membawa sebuah kotak kayu.

“Ada sesuatu yang selama ini Ibu simpan.”

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Kakek.

Surat itu dibuat enam bulan sebelum beliau meninggal.

Nama kami semua tertulis di sana.

Termasuk nama Om Wawan.

Namun bagian terakhir membuat tanganku gemetar.

Kakek ternyata sudah mengetahui bahwa Om Wawan pernah mencoba menjual sebagian tanah tanpa izin.

Karena itu, Kakek membuat ketentuan khusus.

Jika salah satu ahli waris terbukti melakukan penipuan, pemaksaan, atau tindakan kriminal untuk menguasai tanah tersebut, hak pengelolaannya otomatis gugur.

“Kenapa surat ini baru dikeluarkan sekarang?” tanyaku.

Ibu menatapku lama.

“Karena Kakek berharap keluarga kita tidak pernah sampai sejauh ini.”

Aku menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak malam penguburan itu, kemarahanku terasa melemah.

Bukan karena aku memaafkan Om Wawan.

Tetapi karena aku sadar sesuatu.

Semua ini bermula dari tanah.

Tanah yang bahkan setelah kami mati nanti tidak mungkin kami bawa.

Namun demi tanah itu, seorang paman tega mengubur keponakannya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, kasus Om Wawan masuk persidangan.

Darto menjadi saksi penting.

Rekaman Hendra diperdengarkan.

Dokumen palsu diperiksa.

Jejak di lokasi penguburan dicocokkan.

Satu demi satu kebohongannya runtuh.

Saat keluar dari ruang sidang pada hari putusan, Om Wawan sempat menatapku.

Tidak ada lagi lelaki sombong yang tertawa sambil memerintahkan orang menimbun kami.

Yang kulihat hanya seorang lelaki tua yang kehilangan keluarga, kebebasan, dan harga dirinya karena keserakahan.

“Ardi,” panggilnya.

Aku berhenti.

“Maafkan Om.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Dulu aku membayangkan hari ketika dia memohon kepadaku.

Kupikir aku akan merasa puas.

Ternyata tidak.

“Aku mungkin bisa memaafkan suatu hari nanti,” kataku. “Tapi memaafkan bukan berarti menghapus akibat dari apa yang Om lakukan.”

Petugas membawanya pergi.

Setahun kemudian, kami berlima kembali ke tanah warisan itu.

Bukan untuk menjualnya.

Kami sepakat menggunakan sebagian lahan untuk membangun tempat usaha bersama dan menyewakan sebagian lainnya kepada petani lokal.

Di dekat lokasi ruang bawah tanah tempat kami hampir mati, kami menanam lima pohon.

Satu untuk masing-masing dari kami.

Budi sempat tertawa ketika melihatnya.

“Lucu juga. Dulu kita hampir ditanam di sini. Sekarang malah kita yang menanam pohon.”

Siti memukul lengannya.

“Jangan bercanda soal itu.”

Kami tertawa.

Aku menatap kelima pohon kecil yang bergoyang diterpa angin.

Rina berdiri di sampingku.

“Mas masih sering mimpi soal malam itu?”

“Kadang.”

“Masih takut gelap?”

Aku mengangguk.

Ada luka yang tidak hilang hanya karena pelakunya masuk penjara.

Kadang ketika listrik mati, aku masih mencium bau tanah basah yang sebenarnya tidak ada.

Kadang suara pintu besi dalam mimpiku membuatku terbangun dengan napas tersengal.

Tetapi sekarang aku tahu ketakutan tidak selalu berarti kelemahan.

Kadang ketakutan hanya menjadi bukti bahwa kita pernah bertahan hidup.

Sebelum pulang, aku berjalan sendiri menuju lokasi lubang tempat kami keluar malam itu.

Lorongnya sudah ditutup demi keamanan.

Rumput tumbuh di sekitarnya.

Aku berdiri cukup lama di sana.

Dulu, ketika merangkak keluar dari tanah, aku bersumpah akan membalas mereka.

Aku ingin membuat mereka merasakan ketakutan yang sama.

Ternyata balas dendam terbaik bukan mengubur Om Wawan seperti dia mengubur kami.

Bukan juga menghancurkan hidupnya dengan tangan kami sendiri.

Kami hanya perlu tetap hidup.

Membiarkan kebenaran melakukan sisanya.

Aku berbalik menuju mobil.

Rina memanggil dari kejauhan.

“Mas Ardi, ayo!”

Aku melambaikan tangan.

Sebelum pergi, aku menatap tanah itu sekali lagi.

Malam itu Om Wawan mengira dia telah mengubur lima saksi kejahatannya.

Dia salah.

Yang dia kubur hanyalah rasa takut kami.

Dan ketika kami merangkak keluar dari tanah, kami membawa sesuatu yang tidak pernah bisa dia kubur.

Kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang