Rani… Dimas… besok seharusnya kalian berdiri di pelaminan. Kenapa sekarang kalian justru terbaring seperti ini…?

“Rani… Dimas… besok seharusnya kalian berdiri di pelaminan. Kenapa sekarang kalian justru terbaring seperti ini…?”

Suara Ibu Rani pecah di lorong rumah sakit menjelang sore.

Beberapa jam sebelumnya, rumah sederhana di pinggir desa itu masih dipenuhi kesibukan. Gerbang pernikahan berhias bunga putih dan merah muda baru saja selesai dipasang. Papan bertuliskan “Pernikahan Rani & Dimas” berdiri di tengah halaman. Para kerabat sibuk memasak, menata kursi, melipat kotak suvenir, dan sesekali membicarakan betapa serasinya pasangan yang esok pagi akan menikah.

Tak ada yang membayangkan bahwa sebelum matahari terbenam, dua keluarga itu justru akan berkumpul di depan ruang ICU.

Pagi itu, Rani dan Dimas pergi ke pusat kecamatan untuk menyelesaikan beberapa keperluan terakhir. Mereka mengambil foto prewedding, membeli pita untuk suvenir, lalu singgah sebentar di toko alat tulis untuk mencetak beberapa daftar susunan acara.

Menjelang tengah hari, hujan mulai turun tipis.

“Langsung pulang saja, ya?” kata Rani sambil mengenakan jas hujan.

Dimas menatap langit yang semakin gelap.

“Iya. Yang lain biar aku ambil nanti kalau hujannya reda.”

Mereka kemudian melaju meninggalkan pusat kecamatan.

Jalan menuju desa mereka melewati kawasan perkebunan dan beberapa tikungan tajam. Aspal menjadi licin setelah hujan. Dimas mengendarai motor lebih pelan dari biasanya.

Rani yang duduk di belakang masih sempat bercanda.

“Besok jangan sampai wajahmu tegang waktu difoto.”

Dimas tertawa.

“Kalau aku tegang, itu karena lihat jumlah tamu.”

“Bukan karena menikah denganku?”

“Kalau menikah sama kamu justru aku tenang.”

Rani tersenyum.

Itulah percakapan terakhir mereka sebelum semuanya berubah.

Di sebuah tikungan dekat jembatan kecil, sebuah mobil bak terbuka melaju dari arah berlawanan. Kendaraan itu terlihat oleng ketika mencoba menghindari lubang besar di sisi jalan.

Dimas hanya punya beberapa detik untuk bereaksi.

Ia membanting setang ke kiri.

Motor mereka tergelincir.

Suara benturan keras terdengar.

Tubuh Dimas terlempar ke bahu jalan, sementara Rani jatuh beberapa meter dari motor.

Mobil bak itu berhenti tidak jauh dari tempat kejadian. Sopirnya turun dengan wajah pucat.

Orang-orang yang berada di warung dekat jembatan langsung berlari.

“Panggil ambulans!”

“Yang perempuan masih bernapas!”

“Yang laki-laki juga masih sadar!”

Dimas membuka mata sesaat. Darah mengalir dari pelipisnya.

Hal pertama yang ia tanyakan bukan tentang dirinya.

“Rani…”

Seorang warga berjongkok di sampingnya.

“Jangan bergerak, Mas. Ambulans sedang dipanggil.”

“Rani bagaimana?”

“Masih bernapas.”

Dimas memejamkan mata.

Beberapa menit kemudian, ambulans dari puskesmas tiba dan membawa keduanya ke rumah sakit kabupaten.

Kabar kecelakaan menyebar lebih cepat daripada hujan yang turun semakin deras.

Telepon di rumah Rani berdering ketika ibunya sedang membantu menata hidangan.

Awalnya ia mengira itu telepon dari katering.

Namun setelah mendengar suara di seberang, nampan yang dipegangnya jatuh ke lantai.

“Bu, Rani kecelakaan.”

Untuk beberapa detik, seluruh rumah seakan kehilangan suara.

Ayah Rani yang sedang berbicara dengan para tetangga langsung berdiri.

“Apa?”

“Rani dan Dimas kecelakaan. Sekarang dibawa ke rumah sakit.”

Tak sampai sepuluh menit, beberapa kendaraan melaju meninggalkan rumah yang dipenuhi dekorasi pernikahan itu.

Bunga-bunga masih terpasang.

Kursi-kursi masih tertata.

Papan nama pengantin masih berdiri.

Namun calon pengantinnya kini sedang berjuang di ruang gawat darurat.

Setibanya di rumah sakit, keluarga Rani mendapati keluarga Dimas sudah berada di sana.

Ibu Dimas menangis tanpa henti.

“Aku tadi pagi masih bicara dengannya,” katanya berulang kali. “Aku bilang jangan pulang terlalu sore.”

Seorang dokter akhirnya keluar dari ruang penanganan.

“Keluarga Rani dan Dimas?”

Mereka semua berdiri.

Dokter menjelaskan bahwa Rani mengalami cedera kepala dan patah tulang pada bahu. Kondisinya serius, tetapi tekanan darahnya mulai stabil.

Sementara Dimas mengalami cedera pada dada dan pendarahan internal.

“Kami harus melakukan operasi segera.”

Wajah ayah Dimas langsung berubah.

“Dok, bagaimana peluangnya?”

Dokter berhenti sejenak.

“Kami akan melakukan semua yang kami bisa.”

Kalimat itu justru membuat semua orang semakin takut.

Sore berubah menjadi malam.

Operasi Dimas berlangsung selama hampir empat jam.

Rani masih belum sadar.

Di rumah, para kerabat mulai membongkar sebagian dekorasi karena hujan semakin deras. Namun tak seorang pun berani menyentuh papan bertuliskan nama Rani dan Dimas.

“Biarkan dulu,” kata seorang paman. “Kita belum tahu apa yang akan terjadi.”

Menjelang pukul sembilan malam, dokter keluar dari ruang operasi.

“Operasinya selesai.”

Semua langsung berdiri.

“Bagaimana anak saya?” tanya ayah Dimas.

“Pendarahannya berhasil kami kendalikan, tetapi kondisinya masih kritis. Dua puluh empat jam ke depan sangat menentukan.”

Ibu Dimas menutup wajah dengan kedua tangan.

Tak lama kemudian, sesuatu yang tidak diduga terjadi.

Rani sadar.

Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, tetapi ia membuka mata dan mencoba berbicara.

Perawat segera memanggil dokter.

Ibunya diperbolehkan masuk sebentar.

“Rani… Ibu di sini.”

Rani menatap ibunya dengan mata berat.

Bibirnya bergerak perlahan.

“Dimas?”

Ibunya terdiam.

“Dimas di mana?”

“Dia juga sedang dirawat.”

“Dia hidup?”

Pertanyaan itu begitu pelan, tetapi cukup untuk membuat ibunya menangis.

“Dia hidup.”

Rani menarik napas panjang.

Lalu matanya kembali tertutup.

Malam itu, dua keluarga bergantian duduk di lorong rumah sakit.

Dekorasi pernikahan masih terpasang di rumah.

Makanan untuk ratusan tamu sudah hampir selesai dimasak.

Undangan sudah tersebar.

Namun tak ada seorang pun yang berani membicarakan apakah pernikahan esok hari akan dibatalkan.

Menjelang tengah malam, ayah Rani akhirnya berbicara kepada ayah Dimas.

“Kita batalkan acaranya.”

Ayah Dimas mengangguk perlahan.

“Yang penting mereka selamat.”

Namun percakapan itu ternyata didengar oleh seorang perawat yang kemudian menyampaikannya kepada Rani ketika ia kembali sadar beberapa jam kemudian.

Pagi hari, tepat pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan mereka, kondisi Rani sedikit membaik.

Ia masih lemah, tetapi sudah bisa berbicara.

“Ayah,” katanya.

Ayahnya mendekat.

“Kamu jangan memikirkan apa-apa dulu.”

“Acara dibatalkan?”

Ayahnya tidak menjawab.

Rani menatapnya.

“Dimas bagaimana?”

“Masih di ICU.”

Rani memejamkan mata beberapa detik.

Kemudian ia berkata sesuatu yang membuat ayahnya terdiam.

“Aku mau menikah hari ini.”

“Rani…”

“Aku mau akad hari ini.”

Ayahnya mengira Rani masih berada di bawah pengaruh obat.

“Kondisimu belum memungkinkan.”

“Ayah.”

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, suara Rani terdengar tegas.

“Kalau Dimas sadar, aku mau menikah dengannya hari ini.”

Ibunya yang berdiri di dekat pintu mulai menangis.

“Kamu pikirkan kesehatanmu dulu.”

Rani menggeleng pelan.

“Tiga tahun kami menunggu hari ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku cuma tidak mau menyesal karena takut mencoba.”

Permintaan itu sampai kepada keluarga Dimas.

Awalnya semua menolak.

Namun sekitar pukul sembilan pagi, sesuatu yang hampir seperti keajaiban terjadi.

Dimas sadar.

Ia masih menggunakan alat bantu oksigen. Tubuhnya lemah dan ia tidak bisa banyak bergerak.

Dokter bertanya beberapa pertanyaan sederhana untuk memastikan kesadarannya.

Kemudian ibunya mendekat.

“Dimas.”

Ia membuka mata.

“Rani?”

Ibunya tersenyum di antara air mata.

“Dia sadar.”

Dimas terlihat lega.

Beberapa menit kemudian, ayahnya mengatakan bahwa Rani ingin tetap melangsungkan akad.

Dimas menatap ayahnya cukup lama.

“Kapan?”

“Hari ini.”

Ada senyum tipis di wajah Dimas.

“Kalau dokter izinkan… aku mau.”

Dokter tentu tidak langsung setuju.

Namun setelah berdiskusi, mereka akhirnya mengizinkan sebuah akad sederhana dilakukan di area rumah sakit dengan syarat tidak memindahkan kedua pasien dari ruangan masing-masing terlalu lama.

Masalah berikutnya muncul.

Rani dan Dimas berada di ruangan berbeda.

Akhirnya, pihak keluarga dan petugas rumah sakit menemukan cara.

Dimas tetap berada di tempat tidurnya.

Penghulu datang ke rumah sakit.

Ayah Rani menjadi wali.

Sementara Rani mengikuti proses dari ruangan lain melalui panggilan video.

Tidak ada pelaminan.

Tidak ada musik.

Tidak ada ratusan tamu.

Tidak ada gaun pengantin mewah.

Rani mengenakan pakaian pasien rumah sakit dengan selimut menutup sebagian tubuhnya.

Rambutnya belum sempat ditata.

Ada luka kecil di dahinya.

Dimas juga berada di ranjang rumah sakit dengan infus dan alat pemantau jantung.

Namun ketika penghulu mulai membacakan proses akad, suasana di ruangan itu terasa lebih khidmat daripada pesta mana pun yang pernah mereka bayangkan.

Ayah Rani menggenggam tangan Dimas.

Suaranya bergetar saat mengucapkan kalimat ijab.

Dimas menarik napas perlahan.

Semua orang menunggu.

Kemudian ia menjawab dengan suara lemah tetapi jelas.

“Saya terima nikahnya Rani…”

Kalimat itu selesai dalam satu tarikan napas.

Penghulu menoleh kepada para saksi.

“Sah?”

“Sah.”

Suara tangisan langsung memenuhi ruangan.

Di layar ponsel, Rani menutup wajah dengan kedua tangannya.

Ibunya memeluk bahunya.

“Sah, Nak.”

Rani menangis.

Bukan karena pesta yang gagal.

Bukan karena gaun pengantin yang tidak pernah sempat dikenakan.

Ia menangis karena di hari yang hampir merenggut segalanya, ia justru mendapatkan satu hal yang paling ia takut kehilangan.

Dimas.

Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa menit.

Tak lama setelah akad, kondisi Dimas tiba-tiba menurun.

Alarm dari alat pemantau berbunyi cepat.

Perawat meminta keluarga keluar.

Dokter segera masuk.

Ibu Dimas menjerit.

“Ada apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Pintu ICU ditutup.

Rani yang melihat kepanikan melalui panggilan video langsung pucat.

“Ada apa dengan Dimas?”

Ibunya mematikan layar.

“Tidak apa-apa.”

“Jangan bohong.”

Setengah jam berikutnya menjadi waktu terpanjang bagi kedua keluarga.

Dokter berusaha menstabilkan kondisi Dimas setelah tekanan darahnya turun drastis akibat komplikasi pascaoperasi.

Untungnya, kondisi itu berhasil dikendalikan.

Namun dokter menyampaikan bahwa beberapa hari ke depan tetap sangat berisiko.

Pernikahan mereka yang seharusnya dipenuhi ucapan selamat akhirnya berubah menjadi doa panjang dari ratusan orang.

Para tamu yang sudah terlanjur datang ke desa tidak pulang dengan tangan kosong.

Mereka berkumpul di rumah Rani.

Makanan yang sudah disiapkan tetap dibagikan.

Namun suasananya bukan pesta.

Semua orang duduk lebih tenang dari biasanya.

Beberapa tetangga bahkan mengadakan doa bersama.

Papan bertuliskan “Pernikahan Rani & Dimas” tetap berdiri di halaman.

Tiga hari kemudian, kondisi Rani membaik dengan cepat.

Dimas masih berada di ICU, tetapi sudah stabil.

Seminggu setelah kecelakaan, ia dipindahkan ke ruang perawatan biasa.

Ketika akhirnya Rani diperbolehkan menggunakan kursi roda untuk mengunjungi kamar Dimas, keduanya bertemu untuk pertama kalinya sejak kecelakaan.

Rani masuk perlahan.

Dimas sedang duduk bersandar di tempat tidur.

Begitu melihat istrinya, ia tersenyum.

“Kamu kelihatan cantik.”

Rani langsung tertawa sekaligus menangis.

“Cantik apanya? Rambutku bahkan belum keramas seminggu.”

“Masih lebih cantik daripada foto prewedding.”

Rani berhenti di sisi tempat tidur.

Tangannya menggenggam tangan Dimas.

“Kamu bikin aku takut.”

Dimas menatapnya lama.

“Aku juga.”

“Aku kira kita tidak akan sempat menikah.”

Dimas tersenyum lemah.

“Ternyata akadnya malah lebih dramatis dari yang kita rencanakan.”

Rani memukul pelan tangannya.

“Jangan bercanda.”

Mereka tertawa kecil.

Namun beberapa detik kemudian, Dimas berkata pelan.

“Ran.”

“Hm?”

“Kalau hari itu aku tidak selamat… aku senang satu hal.”

Rani langsung menggeleng.

“Jangan ngomong begitu.”

“Aku cuma mau bilang.”

Ia menggenggam tangan Rani lebih erat.

“Aku senang hal terakhir yang sempat kulakukan adalah menikah dengan orang yang memang ingin aku temani seumur hidup.”

Air mata Rani kembali jatuh.

Dua bulan kemudian, keduanya sudah jauh lebih sehat.

Keluarga mereka memutuskan mengadakan syukuran kecil di rumah.

Tidak ada resepsi besar seperti rencana awal.

Hanya keluarga, tetangga, beberapa teman dekat, dan makanan sederhana.

Gerbang bunga yang sempat dibongkar kembali dipasang.

Papan “Pernikahan Rani & Dimas” yang selama berbulan-bulan disimpan di gudang kembali diletakkan di halaman.

Kali ini Rani berdiri di samping Dimas tanpa infus, tanpa alat bantu napas, dan tanpa suara alarm rumah sakit.

Sebelum acara dimulai, pemilik studio foto yang dulu mencetak foto prewedding mereka datang membawa sebuah bingkai besar.

“Ada satu foto yang waktu itu belum sempat saya serahkan,” katanya.

Rani membuka bungkusnya.

Ternyata itu adalah foto mereka di depan studio pada pagi sebelum kecelakaan.

Foto itu bukan bagian dari sesi prewedding.

Pemilik studio mengambilnya diam-diam dari kamera CCTV luar ruangan.

Dalam foto tersebut, Dimas sedang memasangkan helm kepada Rani.

Rani tersenyum sambil menatapnya.

Sebuah momen sederhana.

Tidak ada pose.

Tidak ada pakaian khusus.

Tidak ada dekorasi.

Pemilik studio berkata pelan, “Saya pikir foto ini justru paling menggambarkan kalian.”

Rani menatap foto itu cukup lama.

Lalu ia melihat Dimas.

Barulah ia menyadari sesuatu.

Selama ini mereka mengira hari pernikahan yang sempurna adalah tentang dekorasi indah, pakaian bagus, foto yang menarik, dan tamu yang datang memenuhi ruangan.

Padahal hari yang benar-benar mengubah hidup mereka justru terjadi di tempat yang paling tidak pernah mereka rencanakan.

Di antara bau obat-obatan.

Di bawah cahaya putih rumah sakit.

Dengan luka di tubuh.

Dengan suara alat pemantau jantung.

Dan dengan dua keluarga yang tidak meminta apa pun selain satu hal.

Agar keduanya tetap hidup.

Rani kemudian menggantung foto sederhana itu di ruang tamu rumah mereka.

Di bawahnya tidak ada tanggal pesta.

Hanya ada satu kalimat kecil yang ditulis Dimas beberapa bulan kemudian.

“Kita tidak pernah tahu apakah besok akan berjalan sesuai rencana. Karena itu, cintailah orang yang kita miliki hari ini sebaik mungkin.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang