PENGANTIN WANITA CANTIK ITU MENINGGAL DUNIA HANYA BEBERAPA JAM SETELAH MEMASUKI KAMAR PENGANTIN DI MALAM PERNIKAHANNYA.

Kalimat pertama dalam surat Nadira membuat napasku tercekat.

“Mas Arga, kalau Mas membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak sempat menjelaskan semuanya dengan mulutku sendiri.”

Aku berhenti membaca.

Kertas di tanganku bergetar begitu keras sampai suaranya terdengar di kamar yang sunyi.

Untuk beberapa detik, aku hanya menatap tulisan tangan itu. Tulisan yang sangat kukenal. Sedikit miring ke kanan, rapi, dengan huruf-huruf kecil yang selalu ia buat ketika sedang menulis sesuatu dengan serius.

Aku menarik napas, lalu melanjutkan.

“Aku minta maaf karena menyembunyikan sesuatu yang seharusnya Mas tahu sebelum kita menikah. Aku tahu mungkin setelah ini Mas akan marah. Mungkin Mas akan merasa dikhianati. Tapi aku sungguh tidak tahu bagaimana cara mengatakannya tanpa menghancurkan semua yang sudah kita bangun selama empat tahun.”

Mataku berpindah pada lembar hasil pemeriksaan rumah sakit.

Ada istilah-istilah medis yang tidak sepenuhnya kupahami. Namun, satu bagian dicetak cukup jelas.

Kelainan irama jantung berat.

Risiko kematian mendadak.

Aku membaca bagian itu berulang kali.

Jantungku seperti dipukul dari dalam.

Nadira sakit.

Dan ia sudah mengetahuinya sebelum pernikahan.

Aku kembali membaca suratnya.

“Beberapa bulan terakhir sebenarnya aku sering merasa jantungku berdebar sangat cepat. Kadang pandanganku gelap saat berdiri. Kadang aku merasa seperti mau pingsan. Aku selalu bilang kepada Mas bahwa aku cuma kecapekan karena pekerjaan. Itu bohong.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Semua potongan ingatan yang sebelumnya tidak berarti tiba-tiba terasa menyatu.

Nadira pernah berhenti mendadak ketika kami menaiki tangga di pusat perbelanjaan.

Ia pernah memegangi dadanya ketika kami menunggu makanan.

Pernah juga suatu sore ia membatalkan rencana bertemu dengan alasan sakit kepala.

Aku tidak pernah benar-benar mencurigai apa pun.

Nadira melanjutkan dalam suratnya.

“Aku akhirnya memeriksakan diri karena suatu hari aku hampir pingsan di kantor. Dokter mengatakan ada masalah serius pada irama jantungku. Aku diminta menjalani pemeriksaan lanjutan dan disarankan tidak menunda pengobatan.”

Aku menatap tanggal pemeriksaan itu lagi.

Tiga minggu sebelum pernikahan.

Tanganku semakin dingin.

“Dokter juga mengatakan kemungkinan terburuk bisa terjadi kapan saja, terutama kalau aku terlalu lelah, stres, atau kondisi tubuhku menurun.”

Aku menurunkan surat itu.

Untuk pertama kalinya sejak Nadira meninggal, rasa sedih di dalam diriku bercampur dengan sesuatu yang lain.

Marah.

Aku marah karena ia menyembunyikannya.

Aku marah karena semua orang mengetahui kematiannya sebagai sesuatu yang misterius, sementara ternyata Nadira sendiri sudah memegang sebagian jawabannya.

Aku marah karena ia tidak memberiku kesempatan untuk memilih.

“Kenapa, Nadira?” bisikku.

Suaraku pecah.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Aku melanjutkan membaca dengan mata kabur.

“Aku ingin memberi tahu Mas. Berkali-kali aku mencoba. Tapi setiap kali melihat Mas bicara tentang rumah kita, tentang rencana setelah menikah, tentang anak-anak yang mungkin akan kita punya, aku kehilangan keberanian.”

Aku memejamkan mata.

Dadaku terasa sesak.

“Tapi bukan karena aku ingin menipu Mas. Aku justru takut Mas akan tetap menikah denganku hanya karena kasihan.”

Aku terdiam.

Itu memang seperti Nadira.

Ia paling membenci dikasihani.

Bahkan ketika sakit demam sekalipun, ia selalu berusaha melakukan semuanya sendiri.

“Aku pernah berpikir membatalkan pernikahan. Aku sudah menyiapkan alasan. Aku mau bilang bahwa aku belum siap. Tapi malam itu, Ibu memergokiku menangis.”

Aku segera berdiri.

Ibu.

Apakah maksud Nadira adalah ibunya?

Aku membawa surat itu ke rumah orang tua Nadira sore itu juga.

Rumah yang beberapa hari sebelumnya dipenuhi dekorasi pernikahan kini terasa begitu kosong. Sebagian bunga sudah layu. Kursi-kursi tamu telah dibereskan. Hanya beberapa pita putih masih tergantung di sudut teras.

Ibu Nadira, Bu Ratih, membuka pintu.

Begitu melihat wajahku, ia langsung tahu ada sesuatu.

“Arga?”

Aku mengangkat amplop cokelat itu.

Wajahnya berubah.

“Ibu tahu soal ini?”

Bu Ratih tidak menjawab.

“Bu, saya tanya sekali lagi. Ibu tahu Nadira sakit?”

Bibirnya bergetar.

Ia akhirnya duduk di kursi ruang tamu.

Aku mengikuti dan meletakkan hasil pemeriksaan di meja.

“Ibu tahu?” ulangku.

Air mata mengalir dari matanya.

“Ibu tahu.”

Jawaban itu terasa seperti tamparan.

Aku berdiri.

“Kenapa tidak ada yang bilang ke saya?”

“Arga…”

“Kenapa?”

Suaraku meninggi tanpa bisa kutahan.

“Dia istri saya. Saya menikah dengannya tanpa tahu kalau dia punya risiko meninggal kapan saja.”

Bu Ratih menangis semakin keras.

“Karena Nadira memohon kepada Ibu.”

Aku menatapnya.

“Malam setelah dia pulang dari rumah sakit, dia datang ke kamar Ibu. Dia menangis seperti anak kecil. Dia bilang ingin membatalkan pernikahan.”

“Lalu kenapa tidak dibatalkan?”

Bu Ratih menggeleng.

“Karena setelah itu dia berubah pikiran.”

Aku membeku.

Bu Ratih mengusap wajahnya.

“Dia bilang hidupnya mungkin tidak panjang. Tapi dia tidak ingin keputusan terakhir dalam hidupnya dibuat karena takut.”

Aku duduk perlahan.

“Nadira bilang, kalau dia mundur tanpa mengatakan alasan yang sebenarnya, kamu akan menyalahkan dirimu sendiri seumur hidup. Kalau dia mengatakan semuanya, dia takut kamu akan menikahinya karena kasihan.”

Aku menatap lantai.

“Jadi dia memilih diam?”

“Ibu melarang.”

Bu Ratih menatapku lurus.

“Ibu bahkan sempat bertengkar dengannya. Ibu bilang itu tidak adil untukmu. Tapi Nadira bilang dia akan menjalani pengobatan setelah pernikahan. Dia yakin masih punya waktu.”

Aku kembali melihat surat.

Pada bagian berikutnya, Nadira menulis tentang rencana itu.

Setelah menikah, ia berniat memberi tahuku semuanya.

Bukan beberapa bulan kemudian.

Bukan bertahun-tahun.

Hanya setelah resepsi selesai dan keadaan lebih tenang.

“Aku berencana mengatakannya pada Mas pagi setelah pernikahan. Aku ingin meminta maaf, lalu kita pergi bersama ke dokter. Kalau Mas marah, aku akan terima. Kalau Mas kecewa, aku juga akan terima. Aku hanya ingin setidaknya sekali dalam hidupku berdiri di samping Mas sebagai istri, bukan sebagai perempuan sakit yang harus dikasihani.”

Aku tidak sanggup melanjutkan.

Aku meletakkan surat di meja dan menangis.

Bu Ratih ikut menangis tanpa suara.

Namun, ternyata rahasia Nadira belum selesai.

Dua hari kemudian, pihak rumah sakit menghubungi keluarga.

Aku datang bersama ayah Nadira dan seorang petugas dari pihak berwenang yang sebelumnya membantu memastikan tidak ada unsur kekerasan atau tindak pidana dalam kematiannya.

Dokter yang menangani pemeriksaan menjelaskan bahwa berdasarkan temuan awal, kondisi jantung Nadira memang sangat mungkin menyebabkan kematian mendadak.

Namun, ada sesuatu yang membuatku bingung.

“Apakah penyakitnya separah itu?” tanyaku.

Dokter terdiam sebentar.

“Risikonya memang serius. Tapi ada hal yang perlu Bapak ketahui.”

Ia membuka rekam medis.

“Nadira sebenarnya sempat dijadwalkan untuk menjalani tindakan lebih lanjut.”

“Tindakan apa?”

“Prosedur untuk mengevaluasi dan menangani gangguan irama jantungnya. Dalam beberapa kasus, pasien juga mungkin membutuhkan alat tertentu untuk membantu mencegah kondisi fatal.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa tidak dilakukan?”

Dokter menatapku.

“Karena pasien menundanya.”

Aku terdiam.

“Alasannya?”

Dokter menggeser salinan formulir.

“Tertulis karena persiapan pernikahan dan urusan keluarga.”

Dunia terasa berputar.

Aku marah lagi.

Kali ini bukan hanya kepada Nadira.

Aku juga marah kepada diriku sendiri.

Aku teringat minggu-minggu menjelang pernikahan.

Aku terlalu sibuk mengurus daftar tamu, katering, undangan, pembayaran dekorasi, dan rumah yang akan kami tempati.

Nadira beberapa kali berkata ingin menyederhanakan acara.

Aku justru mengatakan bahwa semuanya sudah telanjur dipersiapkan.

“Sekali seumur hidup,” kataku waktu itu.

Sekarang kata-kata itu menghantamku dengan cara yang kejam.

Sekali seumur hidup.

Aku tidak pernah tahu bahwa bagi Nadira, kalimat itu mungkin terdengar jauh lebih nyata.

Aku meminta izin melihat catatan kunjungan terakhirnya.

Ternyata empat hari sebelum pernikahan, Nadira datang sendirian ke rumah sakit.

Ia bertanya kepada dokter apakah aman menunggu satu minggu lagi.

Dokter menyarankan agar ia mengurangi aktivitas dan segera kembali jika muncul keluhan.

Tetapi Nadira tidak pernah kembali.

Hari pernikahan kami sangat melelahkan baginya.

Sejak pagi ia hampir tidak makan.

Ia berdiri lama.

Menyambut tamu.

Berfoto berkali-kali.

Tersenyum kepada ratusan orang.

Semua orang melihatnya sebagai pengantin perempuan yang cantik dan bahagia.

Tidak seorang pun tahu bahwa tubuhnya mungkin sedang berjuang keras sejak pagi.

Hasil pemeriksaan akhir akhirnya keluar.

Tidak ditemukan tanda kekerasan.

Tidak ditemukan zat berbahaya.

Tidak ada bukti bahwa kematiannya disebabkan oleh orang lain.

Penyebab paling kuat adalah gangguan irama jantung fatal akibat kondisi yang sebelumnya memang telah terdiagnosis.

Seharusnya aku merasa lega karena tidak ada kejahatan di balik kematiannya.

Namun, yang kurasakan justru kehampaan.

Selama berhari-hari aku terus mempertanyakan keputusan Nadira.

Apakah yang ia lakukan egois?

Apakah cinta bisa membenarkan sebuah rahasia sebesar itu?

Aku tidak menemukan jawabannya.

Sampai suatu malam, adik Nadira, Alya, datang ke rumah.

Ia membawa sebuah kotak kecil.

“Kak Nadira menitipkan ini kepadaku dua hari sebelum menikah,” katanya.

“Kenapa baru diberikan sekarang?”

Alya menggigit bibir.

“Dia bilang hanya berikan kalau Kak Arga menemukan suratnya.”

Aku membuka kotak itu.

Di dalamnya ada sebuah flashdisk.

Aku memasangnya ke laptop.

Hanya ada satu file video.

Tanganku gemetar ketika menekan tombol putar.

Nadira muncul di layar.

Ia duduk di kamar lamanya, memakai kaus sederhana berwarna abu-abu. Wajahnya pucat. Tidak ada riasan. Matanya sembap seperti habis menangis.

“Mas Arga,” katanya.

Aku langsung menutup mulut.

Untuk pertama kalinya sejak pemakamannya, aku mendengar suaranya lagi.

“Aku tidak tahu apakah Mas akan pernah menonton ini.”

Ia tersenyum kecil.

“Kalau ternyata aku berhasil melewati semuanya dan sempat menjelaskan langsung, aku akan hapus video ini.”

Air mataku mulai jatuh.

“Tapi kalau tidak…”

Ia berhenti cukup lama.

“Aku ingin Mas tahu satu hal. Aku tidak menikah dengan Mas karena aku ingin meninggalkan kenangan indah sebelum mati.”

Aku menatap layar tanpa berkedip.

“Aku menikah dengan Mas karena aku benar-benar percaya aku masih punya masa depan.”

Nadira menarik napas.

“Dokter tidak pernah mengatakan aku pasti akan meninggal dalam waktu dekat. Dia hanya mengatakan risikonya besar dan aku harus segera ditangani. Aku takut. Sangat takut. Tapi aku juga terlalu yakin bahwa aku masih punya waktu.”

Aku menunduk.

“Itu kesalahanku.”

Nadira mulai menangis di dalam video.

“Aku terlalu sibuk mempertahankan pernikahan kita sampai aku lupa bahwa cinta seharusnya tidak dibangun dengan menyembunyikan ketakutan.”

Aku menggenggam sisi meja.

“Kalau akhirnya aku benar-benar tidak ada, jangan jadikan kematianku alasan Mas berhenti hidup.”

Aku terisak.

“Jangan marah kepada Ibu. Jangan salahkan keluargaku. Jangan salahkan dirimu.”

Lalu Nadira mengatakan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.

“Dan satu lagi, Mas. Tolong buka rekening atas namaku yang selama ini tidak pernah kuceritakan.”

Aku mengernyit.

Video selesai beberapa menit kemudian.

Keesokan harinya, dengan bantuan Bu Ratih, kami menemukan dokumen rekening tersebut di antara berkas pribadi Nadira.

Jumlah uangnya tidak fantastis.

Namun, cukup besar untuk membuat kami semua terdiam.

Hampir seluruh tabungannya selama bekerja.

Di dalam amplop yang sama terdapat sebuah catatan singkat.

“Kalau aku tidak sempat menggunakannya untuk pengobatanku, gunakan uang ini untuk membantu orang lain memeriksakan jantungnya sebelum terlambat.”

Aku menangis lagi.

Beberapa bulan kemudian, aku dan keluarga Nadira membuat sebuah program kecil bekerja sama dengan sebuah klinik di Bogor.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Kami hanya membantu biaya pemeriksaan dasar bagi orang-orang yang sering mengalami pingsan, nyeri dada, atau jantung berdebar tetapi menunda berobat karena alasan biaya.

Program itu kami beri nama Nadira.

Awalnya aku ragu.

Aku merasa menggunakan namanya akan membuat luka ini tidak pernah sembuh.

Ternyata justru sebaliknya.

Setiap kali ada seseorang yang datang memeriksakan diri lebih awal karena mendengar kisah Nadira, aku merasa kepergiannya tidak sepenuhnya sia-sia.

Setahun setelah pernikahan kami, aku kembali ke kamar yang dulu kami tempati bersama hanya beberapa jam.

Aku masih menyimpan kebaya putihnya.

Masih ada foto pernikahan kami di dinding.

Dalam foto itu, Nadira tersenyum lebar.

Tidak seorang pun yang melihat foto tersebut akan menyangka bahwa malamnya ia akan pergi untuk selamanya.

Dulu aku menganggap suratnya sebagai bukti bahwa ia telah mengkhianati kepercayaanku.

Sekarang aku melihatnya secara berbeda.

Nadira memang membuat keputusan yang salah.

Ia seharusnya jujur.

Ia seharusnya tidak menunda pengobatan.

Cinta tidak membuat kesalahan itu menjadi benar.

Namun, aku juga akhirnya memahami bahwa manusia sering kali membuat keputusan paling buruk bukan karena tidak mencintai, melainkan karena terlalu takut kehilangan apa yang dicintainya.

Pada malam terakhir hidupnya, ketika Nadira menggenggam tanganku dan berkata bahwa besok ia pasti akan membaik, mungkin ia sendiri benar-benar mempercayainya.

Dan itulah bagian yang paling menyakitkan.

Ia tidak tahu bahwa ia sedang mengucapkan selamat tinggal.

Aku juga tidak tahu bahwa aku sedang mendengarkan kata-kata terakhir istriku.

Sejak hari itu, aku berhenti bertanya mengapa Tuhan hanya memberiku beberapa jam untuk menjadi suami Nadira.

Aku mulai bertanya hal lain.

Apa yang harus kulakukan dengan hidup yang masih diberikan kepadaku?

Jawabannya kutemukan dalam kalimat terakhir suratnya.

“Mas, kalau ternyata waktu kita memang singkat, jangan ukur cinta kita dari berapa lama kita sempat bersama. Ukurlah dari apa yang masih bisa kita lakukan setelah semuanya berakhir.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu untuk pertama kalinya sejak ia pergi, aku mampu tersenyum tanpa merasa bersalah.

Karena akhirnya aku mengerti.

Pernikahan kami memang hanya berlangsung beberapa jam.

Namun, kisah Nadira tidak berakhir pada malam ketika jantungnya berhenti berdetak.

Justru setelah kepergiannya, ia menyelamatkan orang-orang yang bahkan tidak pernah sempat mengenalnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang