Tanganku masih menggenggam kertas kecil itu ketika suara kendaraan lewat di depan rumah membuatku tersentak.
Aku segera menoleh ke jendela.
Untuk sesaat aku takut Dimas sudah kembali.
Namun halaman tetap kosong.
Aku menarik napas pelan, lalu membaca dokumen itu sekali lagi.
Di bagian atas tertulis nama sebuah kantor notaris di Jakarta Timur. Di bawahnya tercantum alamat rumah kami, nomor sertifikat, serta beberapa keterangan mengenai proses pengalihan hak dan pengajuan jaminan.
Namun bukan itu yang membuat lututku terasa lemas.
Nama yang tercantum sebagai pihak penerima manfaat adalah Ratih Prameswari.
Aku mengenal nama itu.
Tentu saja aku mengenalnya.
Ratih adalah kakak perempuan Dimas.
Sejak awal pernikahan kami, hubunganku dengannya memang tidak pernah benar-benar dekat. Ia selalu bersikap sopan di depanku, tetapi aku tahu ia tidak pernah menyukai kenyataan bahwa rumah yang kami tempati sekarang sebagian besar dibeli menggunakan uang warisan dari ayahku.
Ayah meninggal dua tahun sebelum aku menikah. Dari hasil penjualan sebidang tanah miliknya di Bekasi, aku menerima bagian yang cukup besar.
Uang itulah yang kemudian kugunakan sebagai uang muka rumah ini.
Dimas ikut mencicil, tentu saja.
Tetapi lebih dari enam puluh persen nilai awal rumah berasal dari uangku.
Karena itulah sertifikat rumah dibuat atas namaku.
Aku menelan ludah.
Kenapa Ratih tiba-tiba muncul dalam dokumen mengenai rumah kami?
Aku mengambil ponsel dan memotret setiap bagian kertas tersebut.
Setelah itu aku menyelipkannya kembali ke posisi semula.
Sepanjang pagi, pikiranku kacau.
Aku mencoba menghubungi seorang teman lama bernama Maya yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor hukum. Aku tidak menceritakan semuanya melalui telepon. Aku hanya mengirim foto dokumen tersebut.
Tidak sampai lima menit kemudian, Maya menelepon.
“Nara, kamu dapat ini dari mana?”
Nada suaranya membuat jantungku semakin tidak tenang.
“Di rumah.”
“Ini ada hubungannya sama sertifikat rumahmu?”
“Iya.”
Maya terdiam.
“Ra, aku bukan notaris, jadi aku nggak mau menyimpulkan terlalu jauh. Tapi dari formatnya, ini sepertinya bagian dari berkas persiapan pengalihan atau pengikatan jaminan. Kamu pernah tanda tangan surat kuasa?”
“Nggak pernah.”
“Yakin?”
Aku langsung teringat beberapa minggu sebelumnya.
Dimas pernah membawa setumpuk formulir saat aku baru pulang dari pemeriksaan kandungan.
Katanya itu dokumen untuk perubahan data asuransi kesehatan keluarga.
Aku menandatangani dua lembar karena sedang sangat lelah.
Saat itu aku bahkan tidak membaca secara teliti.
Dadaku mendadak sesak.
“Maya…”
“Apa?”
“Aku pernah tanda tangan beberapa kertas kosong di bagian tertentu.”
Maya menghela napas panjang.
“Dengar. Jangan panik dulu. Tapi kamu harus cek sertifikat asli masih ada atau tidak. Dan jangan tanda tangan apa pun lagi.”
Aku menutup mata.
Sertifikat asli ada di dalam map cokelat yang sudah kuserahkan kepada Dimas.
“Kalau sertifikatnya sudah dia bawa?”
“Cari tahu untuk apa. Secepatnya.”
Setelah telepon ditutup, aku duduk cukup lama di tepi ranjang.
Bayi dalam perutku bergerak pelan.
Aku mengusapnya tanpa sadar.
“Maaf,” bisikku.
Entah kenapa aku merasa bersalah.
Selama berbulan-bulan aku mempersiapkan kamar bayi, membeli pakaian kecil, memilih rumah sakit, memikirkan nama.
Sementara mungkin di belakangku, suamiku sedang merencanakan sesuatu yang dapat membuat kami kehilangan tempat tinggal.
Siang itu aku memutuskan pergi.
Aku tidak menemui Dimas.
Aku pergi ke kantor notaris yang namanya tercetak pada dokumen tersebut.
Perjalanannya hanya sekitar tiga puluh menit, tetapi rasanya jauh lebih lama karena perutku beberapa kali mengeras akibat kelelahan.
Begitu tiba, seorang staf menyambutku.
“Saya mau bertanya soal dokumen properti,” kataku.
“Dengan siapa, Bu?”
“Nara Adiningrum.”
Ekspresi perempuan itu berubah sedikit.
Ia mengetik sesuatu di komputer.
Kemudian menatapku.
“Ibu Nara?”
“Iya.”
“Sebentar, Bu.”
Ia masuk ke ruangan belakang.
Beberapa menit kemudian seorang pria sekitar lima puluhan keluar dan memperkenalkan diri sebagai Pak Haris, notaris yang menangani berkas tersebut.
Ia memintaku masuk.
Begitu pintu tertutup, aku langsung mengeluarkan foto kertas yang kutemukan.
“Saya ingin tahu ini apa.”
Pak Haris melihat layar ponselku.
Wajahnya berubah serius.
“Suami Ibu belum menjelaskan?”
Aku merasa tenggorokanku kering.
“Belum.”
Pak Haris tidak langsung menjawab.
Ia membuka sebuah folder di komputernya, lalu menatapku cukup lama.
“Ibu pernah memberikan kuasa kepada suami untuk menggunakan sertifikat rumah sebagai jaminan?”
“Nggak.”
“Pernah tanda tangan surat persetujuan?”
“Nggak pernah secara sadar.”
Kata terakhir itu keluar dengan suara bergetar.
Pak Haris bersandar.
“Beberapa hari lalu suami Ibu datang bersama seorang perempuan bernama Ratih Prameswari. Mereka menanyakan kemungkinan menggunakan rumah tersebut sebagai jaminan untuk fasilitas pembiayaan usaha.”
Rasanya seperti ada sesuatu menghantam dadaku.
“Usaha apa?”
“Saya tidak tahu detailnya. Tapi pengajuan itu belum kami proses.”
“Kenapa?”
“Karena sertifikat atas nama Ibu. Kami membutuhkan konfirmasi langsung dari pemilik.”
Aku hampir menangis karena lega.
Namun Pak Haris melanjutkan.
“Yang membuat saya khawatir, suami Ibu membawa surat persetujuan yang katanya sudah ditandatangani Ibu.”
Ia memutar layar komputernya.
Aku melihat hasil pindai sebuah dokumen.
Di bagian bawah ada tanda tangan menyerupai tanda tanganku.
Tetapi aku langsung tahu ada yang salah.
Itu memang mirip.
Namun terlalu rapi.
Dimas pasti mengambil contoh dari dokumen lain.
“Itu bukan tanda tangan saya.”
Pak Haris langsung diam.
“Yakin?”
“Sangat yakin.”
Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa sunyi.
Kemudian Pak Haris berkata, “Kalau begitu saya sarankan Ibu membuat pernyataan tertulis bahwa Ibu tidak pernah memberikan kuasa.”
Aku mengangguk.
Saat sedang menandatangani pernyataan, ponselku bergetar.
Dimas.
Aku tidak mengangkatnya.
Ia menelepon lagi.
Kemudian lagi.
Akhirnya sebuah pesan masuk.
Kamu di mana?
Aku menatap layar.
Tidak kujawab.
Ketika keluar dari kantor notaris, ada tujuh panggilan tidak terjawab.
Aku tahu cepat atau lambat aku harus menghadapi Dimas.
Tetapi aku belum siap pulang.
Aku meminta sopir taksi online membawaku ke rumah ibuku di Depok.
Ibu terkejut melihatku datang sendirian.
“Kamu kenapa? Kok pucat?”
Aku mencoba tersenyum.
Namun baru dua langkah masuk ke ruang tamu, pertahananku runtuh.
Aku menangis.
Ibu tidak banyak bertanya.
Ia hanya memelukku sambil mengusap punggungku.
Setelah aku tenang, barulah kuceritakan semuanya.
Tentang map cokelat.

Tentang amplop.
Tentang Ratih.
Tentang tanda tangan palsu.
Wajah Ibu berubah keras.
“Kamu jangan pulang sendiri.”
“Bu…”
“Dengar Ibu. Kamu tinggal beberapa hari lagi melahirkan. Jangan menghadapi masalah seperti ini sendirian.”
Sekitar pukul lima sore, Dimas datang.
Entah bagaimana ia tahu aku berada di rumah Ibu.
Ia mengetuk pintu berkali-kali.
Aku mendengarnya memanggil namaku dari luar.
“Nara!”
Ibu menatapku.
“Mau ketemu?”
Aku mengangguk.
“Biar selesai.”
Dimas masuk dengan wajah tegang.
Begitu melihatku, ia langsung bertanya, “Kamu ke kantor notaris?”
Aku menatapnya.
Bukan bertanya apakah aku baik-baik saja.
Bukan bertanya kenapa aku pergi.
Kalimat pertamanya justru tentang notaris.
Saat itulah sesuatu di dalam diriku seperti patah.
“Jadi memang benar?”
Dimas terdiam.
“Kamu mau pakai rumah kita sebagai jaminan?”
“Nggak sesederhana itu.”
“Terus sesederhana apa?”
Ia melirik Ibu.
“Bisa kita bicara berdua?”
“Di sini saja,” kataku.
Dimas mengusap wajahnya.
“Kak Ratih lagi ada masalah bisnis.”
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
“Jadi kamu mau menjaminkan rumah kita buat bisnis kakakmu?”
“Bukan menjaminkan selamanya. Cuma sementara.”
“Dengan tanda tangan palsu?”
Dimas membeku.
Aku melihatnya.
Untuk pertama kalinya ia tidak punya jawaban.
“Kamu memalsukan tanda tanganku?”
“Aku bisa jelasin.”
“Jawab.”
Dimas menurunkan suara.
“Aku cuma takut kamu langsung nolak.”
Air mataku jatuh.
Bukan karena marah.
Karena kalimat itu membuat semuanya menjadi jelas.
Ia tahu aku tidak akan setuju.
Karena itu ia memilih melakukannya diam-diam.
“Rumah ini sebagian besar dari uang Ayahku.”
“Aku juga bayar cicilan!”
“Aku nggak pernah bilang kamu nggak bayar. Tapi ini rumah kita. Rumah anak kita juga. Kamu bahkan nggak merasa perlu bicara denganku?”
Dimas mulai terdengar frustrasi.
“Kak Ratih butuh dana cepat. Kalau usahanya tutup, dia bisa kehilangan semuanya.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Terus kamu pikir solusinya bikin aku kehilangan semuanya?”
“Nggak akan sampai begitu.”
“Kamu tahu dari mana?”
Dimas diam.
Aku tiba-tiba teringat sesuatu.
“Berapa?”
“Apa?”
“Berapa uang yang mau dipinjam?”
Ia tidak menjawab.
“Dimas. Berapa?”
“Delapan ratus juta.”
Aku merasa pandanganku berkunang-kunang.
Delapan ratus juta.
Hampir menyamai sisa nilai rumah setelah dikurangi cicilan.
Ibu langsung berdiri.
“Kamu gila?”
“Bu, saya bisa jelaskan…”
“Jangan panggil saya Bu kalau kamu melakukan ini ke anak saya.”
Dimas menatapku.
“Ra, aku melakukan ini juga demi keluarga.”
Aku menggeleng pelan.
“Jangan pakai kata keluarga.”
“Nara…”
“Keluarga itu bukan orang yang kamu korbankan diam-diam supaya kamu bisa menyelamatkan orang lain.”
Wajahnya berubah.
Mungkin karena untuk pertama kalinya ia menyadari aku benar-benar tidak akan memaafkan semuanya hanya dengan penjelasan.
Ia duduk.
“Kamu nggak tahu kondisi Kak Ratih.”
“Dan kamu nggak tahu kondisi istrimu sendiri.”
“Aku tahu kamu sebentar lagi melahirkan.”
“Kalau tahu, kenapa justru sekarang kamu melakukan ini?”
Dimas tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian, teleponnya berbunyi.
Nama Ratih muncul di layar.
Aku langsung berkata, “Angkat.”
Dimas menolak.
“Angkat.”
Akhirnya ia menerima telepon dan mengaktifkan pengeras suara.
Suara Ratih terdengar panik.
“Mas, gimana? Notarisnya tadi bilang pengajuan dihentikan. Nara tahu?”
Aku menutup mata.
Ratih langsung menyadari sesuatu.
“Mas?”
Aku berkata, “Aku di sini, Mbak.”
Hening.
Kemudian Ratih mencoba tertawa kecil.
“Ra, jangan salah paham dulu.”
“Salah paham bagian mana?”
“Kami cuma pinjam sertifikat sementara.”
“Rumah bukan kartu identitas yang bisa dipinjam.”
“Nanti kalau dana cair, bisnis Mbak bisa jalan lagi. Paling enam bulan sudah selesai.”
“Kalau nggak selesai?”
Ratih terdiam.
Aku melanjutkan, “Kalau usahamu gagal, siapa yang kehilangan rumah?”
Tidak ada jawaban.
Aku menatap Dimas.
“Sekarang aku tahu kenapa beberapa minggu terakhir kamu tiba-tiba sangat baik.”
Dimas terlihat tersinggung.
“Apa maksud kamu?”
“Kamu merasa bersalah.”
“Nggak.”
“Iya.”
Ia menatap lantai.
Dan aku tahu aku benar.
Perhatian itu bukan perubahan karena akan menjadi ayah.
Itu rasa bersalah.
Aku pikir percakapan sore itu sudah menunjukkan sisi terburuk dari semuanya.
Ternyata belum.
Dua hari kemudian, Maya meneleponku.
Ia membantu mengecek beberapa informasi yang bisa diakses melalui jalur resmi karena aku sudah membuat pernyataan terkait dugaan pemalsuan dokumen.
“Nara,” katanya, “ada sesuatu yang perlu kamu tahu.”
“Apa?”
“Kamu ingat rumah kontrakan yang pernah Dimas bilang dibeli Kak Ratih tiga tahun lalu?”
“Iya.”
“Ternyata bukan Ratih yang beli.”
Aku mengernyit.
“Terus?”
“Nama Dimas pernah tercatat dalam transaksi awalnya.”
Aku terdiam.
Maya melanjutkan, “Kemungkinan dia menanam uang cukup besar di usaha Ratih sejak beberapa tahun lalu.”
Aku langsung memahami sesuatu.
Jadi Dimas bukan sekadar membantu kakaknya.
Ia sedang menyelamatkan uangnya sendiri.
Malam itu aku memanggilnya.
Kami bertemu di ruang tamu rumah Ibu.
Aku menunjukkan dokumen yang kubawa.
“Berapa uang kita yang kamu masukkan ke bisnis Ratih?”
Dimas langsung pucat.
“Siapa yang kasih tahu?”
“Berapa?”
Ia menatapku lama.
“Sekitar lima ratus juta.”
Aku merasa tubuhku mati rasa.
“Dari mana?”
“Tabunganku.”
“Tabungan kita.”
“Nggak semuanya.”
“Lima ratus juta itu uang yang kamu bilang disiapkan untuk pendidikan anak kita?”
Dimas menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku tidak menangis lagi.
Aneh.
Setelah titik tertentu, rasa sakit berubah menjadi sesuatu yang sangat tenang.
Aku hanya berkata, “Aku sudah menghubungi pengacara.”
Dimas langsung menatapku.
“Nara, jangan.”
“Aku nggak mau kamu dipenjara.”
Ia terlihat sedikit lega.
“Tapi aku juga nggak bisa pura-pura semuanya baik-baik saja.”
“Nara…”
“Aku mau pisah sementara.”
Wajahnya runtuh.
“Aku bisa perbaiki semuanya.”
“Mungkin.”
“Aku akan jual bagian investasiku. Aku balikin uangnya.”
“Bukan cuma uang.”
Aku menatapnya.
“Masalahnya aku sekarang tahu, kalau kamu takut aku akan mengatakan tidak, kamu merasa berhak mengambil keputusan atas hidupku tanpa sepengetahuanku.”
Ia menangis.
Selama enam tahun menikah, baru kali itu aku melihat Dimas benar-benar menangis.
Tetapi anehnya, aku tidak lagi merasa harus menenangkannya.
Tiga hari kemudian aku melahirkan seorang bayi laki-laki sehat melalui persalinan normal.
Dimas datang ke rumah sakit.
Ia berdiri di luar kamar sampai Ibu bertanya apakah aku mengizinkannya masuk.
Aku mengangguk.
Ketika ia melihat putranya untuk pertama kali, air matanya kembali jatuh.
Ia mendekati ranjang perlahan.
“Namanya siapa?”
Aku menatap bayi kecil di sampingku.
“Arka.”
Dimas tersenyum tipis.
“Bagus.”
Ia menyentuh tangan Arka dengan ujung jarinya.
Kemudian berkata, “Aku minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Aku tahu.”
“Bukan cuma soal rumah.”
Aku diam.
“Aku minta maaf karena selama ini aku berpikir jadi suami berarti aku harus menyelesaikan semuanya sendiri. Bahkan kalau caranya bohong.”
Aku tidak langsung menjawab.
Mungkin untuk pertama kalinya, Dimas memahami bahwa masalah terbesar kami bukan Ratih, bukan utang, bukan sertifikat.
Masalahnya adalah ia menganggap dirinya berhak menentukan mana yang boleh dan tidak boleh kuketahui.
Beberapa bulan kemudian, bisnis Ratih akhirnya benar-benar tutup.
Ia menjual beberapa aset untuk membayar sebagian utang.
Dimas juga menjual investasinya dan mengembalikan uang tabungan keluarga secara bertahap.
Sementara itu, sertifikat rumah tetap berada atas namaku dan kusimpan sendiri di sebuah safe deposit box.
Aku dan Dimas tidak langsung bercerai.
Tetapi kami juga tidak langsung kembali seperti dulu.
Kami menjalani konseling pernikahan.
Dimas pindah sementara ke apartemen kecil dekat kantornya.
Ia datang menemui Arka beberapa kali seminggu.
Ada hari-hari ketika aku berpikir mungkin kami masih bisa memperbaiki semuanya.
Ada juga hari ketika melihat wajahnya saja membuatku teringat tanda tangan palsu itu.
Satu tahun kemudian, saat ulang tahun pertama Arka, Dimas memberiku sebuah amplop putih.
Aku sempat terdiam ketika melihatnya.
Amplop putih.
Persis seperti benda yang setahun sebelumnya memulai semuanya.
“Buka saja,” katanya.
Di dalamnya bukan dokumen utang.
Bukan surat kuasa.
Bukan sesuatu yang disembunyikan.
Itu surat pernyataan pembatalan semua keterlibatan finansialnya dengan bisnis Ratih, bukti pelunasan pengembalian tabungan keluarga, dan satu surat tulisan tangan.
Aku membaca bagian terakhirnya.
Aku pernah mengira melindungi keluarga berarti mengambil keputusan sendiri supaya orang lain tidak perlu takut.
Ternyata yang kulakukan bukan melindungi.
Aku hanya mengambil hakmu untuk memilih.
Aku tidak tahu apakah kamu akan memercayaiku lagi.
Tapi mulai sekarang, aku tidak akan meminta kepercayaan. Aku akan berusaha pantas menerimanya.
Aku melipat surat itu.
Dimas berdiri beberapa langkah dariku sambil menggendong Arka.
Aku tidak berlari memeluknya.
Aku juga tidak mengatakan semua sudah dimaafkan.
Aku hanya berkata, “Besok datang jam sembilan. Kita masih ada sesi konseling.”
Dimas tersenyum kecil.
“Iya.”
Mungkin itu bukan akhir romantis seperti yang sering diceritakan orang.
Kami tidak tiba-tiba kembali bahagia.
Luka tidak hilang hanya karena seseorang meminta maaf.
Tetapi hari itu aku memahami sesuatu.
Kepercayaan tidak selalu hancur karena perselingkuhan atau kebencian.
Kadang ia hancur karena seseorang yang kita cintai merasa berhak membuat keputusan besar tanpa melibatkan kita.
Dan terkadang keberanian terbesar bukanlah meninggalkan seseorang.
Bukan pula bertahan bersamanya.
Melainkan memastikan bahwa apa pun keputusan yang kita ambil setelah dikhianati, keputusan itu benar-benar milik kita sendiri.
