AKU MEMASANG KAMERA SETELAH PUTRIKU BERULANG KALI BANGUN DENGAN KAUS KAKI YANG BERBEDA, PADAHAL PENGASUHNYA BERSUMPAH TIDAK PERNAH MENYENTUHNYA SAAT TIDUR.

Aku tidak langsung bergerak.

Tubuhku kaku, seolah lantai kamar Keira berubah menjadi es.

Dimas berdiri di sebelah kiriku. Tangannya masih mencengkeram lenganku, dingin dan gemetar. Sementara dari arah pintu, suara yang sama persis dengan suaranya baru saja memanggil namaku.

“Laras.”

Kali ini suara itu datang dari lorong.

Pelan.

Dekat.

Aku menahan napas.

Dimas menarikku menjauh dari gorden.

“Jangan jawab,” bisiknya.

“Keira ada di balik situ.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu buka!”

“Bukan Keira yang kubawa ke sana.”

Kalimat itu membuatku menatapnya.

“Apa?”

Dimas menelan ludah. Matanya merah, bukan karena menangis, melainkan karena panik.

“Aku masuk kamar ini sekitar setengah jam lalu.”

“Kenapa?”

Dia tidak menjawab.

“Kenapa, Dimas?”

Tangisan kecil Keira kembali terdengar dari balik gorden.

Kali ini lebih jelas.

Naluri dalam tubuhku langsung mengambil alih.

Aku menerjang maju.

Dimas memeluk pinggangku dari belakang.

“LEPAS!”

“Laras, dengarkan aku!”

“Itu anakku!”

“Itu bukan pertama kalinya!”

Aku berhenti meronta.

Dimas terengah-engah.

“Bukan pertama kalinya apa?”

Suara dari lorong mendadak berhenti.

Kamar menjadi senyap.

Bahkan suara pendingin udara terasa terlalu keras.

Dimas perlahan melepaskanku.

“Boks Keira pernah bergerak sebelumnya.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kapan?”

“Tiga minggu lalu.”

“Dan kamu nggak bilang?”

“Aku pikir aku salah lihat.”

“Kamu bohong.”

“Dua minggu lalu terjadi lagi.”

Dadaku terasa sesak.

“Terus?”

“Aku melihat seseorang berdiri di balik gorden.”

Aku menoleh ke kain panjang berwarna krem itu.

Diam.

Tidak bergerak.

“Siapa?”

Dimas menggeleng.

“Waktu aku buka, nggak ada siapa-siapa.”

“Lalu kenapa malam ini kamu masuk diam-diam?”

Dia menatap Santi yang masih tidak sadarkan diri.

“Aku dapat pesan.”

Dimas mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar.

Di layar ada sebuah percakapan dari nomor tak dikenal.

Pesan pertama masuk pukul 02.19.

Jangan biarkan Laras masuk kamar bayi malam ini.

Pesan kedua.

Kalau kau masih ingin putrimu hidup, ambil gelang dari kaki kirinya sebelum pukul tiga.

Aku menatap Dimas.

“Gelang apa?”

“Itu juga yang kupikirkan.”

Dimas melanjutkan.

“Aku masuk dan menemukan sesuatu di kaki Keira.”

Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah benda kecil.

Sebuah gelang benang kuning kusam.

Di tengahnya terikat potongan logam kecil berbentuk lingkaran.

Aku merasa perutku mual.

Bekas kemerahan yang kulihat di pergelangan kaki Keira.

Bukan karena kaus kaki.

“Siapa yang memasangnya?”

“Aku nggak tahu.”

Mataku beralih pada Santi.

Dimas mengikuti tatapanku.

“Bukan dia.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena waktu aku masuk, Santi sudah seperti itu.”

Aku berlutut di sebelah kasurnya, menyentuh leher Santi.

Nadinya ada.

Aku mencoba membangunkannya lagi.

“Santi.”

Tidak ada reaksi.

Dimas berkata, “Aku sudah coba.”

“Telepon ambulans.”

“Jangan.”

Aku menatapnya tajam.

“Jangan mulai lagi.”

“Nomor itu bilang jangan panggil siapa pun sampai lewat pukul tiga.”

“Dan kamu percaya pesan dari orang nggak dikenal?”

“Aku nggak percaya.”

“Lalu?”

Dimas memejamkan mata sesaat.

“Karena setelah aku melepaskan gelang itu, Keira membuka mata.”

Aku menunggu.

“Dia menatapku dan bilang, ‘Ayah.’”

Aku merinding.

Keira baru enam bulan.

Ia bahkan belum bisa menyebut “mama”.

“Itu nggak mungkin.”

“Aku tahu.”

Dimas menatap gorden.

“Lalu boksnya bergerak sendiri.”

Suara gesekan pelan terdengar.

Krrrkkk.

Kami berdua menoleh.

Kain gorden menggembung sedikit dari bawah, seperti ada sesuatu bergerak di belakangnya.

Tangisan Keira terdengar lagi.

“Mama…”

Darahku membeku.

Dimas langsung menutup mulutku dengan tangannya sebelum aku menjawab.

Keira belum bisa bicara.

“Mama…”

Aku mulai menangis tanpa suara.

Dimas berbisik di telingaku.

“Itu bukan dia.”

Kemudian ponselnya bergetar.

Pesan baru.

02.56.

JANGAN BIARKAN DIA MENJAWAB SUARA BAYI ITU.

Aku merebut ponselnya.

“Siapa kamu?” ketikku cepat.

Balasan datang hampir seketika.

ORANG YANG PERNAH KEHILANGAN ANAK KARENA KELUARGA DIMAS.

Aku mengangkat wajah.

“Apa maksudnya keluarga kamu?”

Dimas tidak menjawab.

“DIMAS!”

Dari luar kamar, terdengar langkah kaki.

Pelan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Berhenti tepat di depan pintu.

Gagang pintu bergerak turun.

Aku dan Dimas menahan napas.

Pintu terbuka beberapa sentimeter.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun suara seorang perempuan tua terdengar dari lorong.

“Dimas.”

Wajah suamiku berubah.

Aku langsung menyadarinya.

Dia mengenali suara itu.

“Siapa?”

Dimas mundur.

“Itu suara Ibu.”

“Ibu kamu ada di Surabaya.”

“Aku tahu.”

Suara itu terdengar lagi.

“Dimas, bukakan gordennya.”

Dimas menggenggam tanganku erat.

“Ibu pernah ngomong kalimat itu waktu aku kecil.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Untuk beberapa detik Dimas tampak seperti anak kecil yang ketakutan.

“Aku punya adik perempuan.”

Aku terpaku.

Selama tujuh tahun menikah, aku tidak pernah mendengar tentang adik perempuan.

“Namanya Dinda.”

“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”

“Karena dia meninggal waktu umur delapan bulan.”

Aku mulai memahami sesuatu yang buruk.

“Di kamar bayi?”

Dimas mengangguk.

“Waktu itu aku enam tahun. Kami masih tinggal di rumah lama di Solo. Dinda sering bangun dengan gelang benang kuning di kakinya.”

Aku menatap gelang di tangannya.

“Seperti ini?”

“Persis.”

Dimas menarik napas panjang.

“Ibu selalu bilang pengasuh yang memasangnya. Sampai suatu malam aku bangun karena dengar bayi menangis. Aku lihat Ibu berdiri di depan kamar Dinda. Dia terus bilang ke Ayah, ‘Bukakan gordennya.’”

“Apa yang terjadi?”

“Besok paginya Dinda meninggal.”

“Kenapa?”

“Mereka bilang gagal napas saat tidur.”

Suara di lorong tertawa kecil.

Tawa seorang perempuan.

Kemudian ponsel Dimas bergetar lagi.

KELUARGAMU TIDAK PERNAH MEMBERITAHUMU YANG SEBENARNYA.

Aku mengetik.

“Siapa kamu?”

Kali ini muncul sebuah foto.

Foto lama.

Kualitasnya buruk.

Seorang bayi perempuan berada dalam gendongan perempuan muda.

Di belakangnya berdiri ibu mertua dan ayah Dimas.

Di ujung foto, ada seorang perempuan lain.

Wajahnya dicoret tinta hitam.

Dimas memperbesar gambar.

Tangannya langsung lemas.

“Santi.”

Aku menatapnya.

Perempuan di foto memang sangat mirip Santi.

Hanya saja foto itu tampaknya diambil lebih dari dua puluh tahun lalu.

“Mustahil.”

Aku melihat Santi yang terbaring beberapa meter dari kami.

Wajahnya pucat.

Tapi bentuk mata, hidung, dan garis rahangnya sama.

Pesan berikutnya masuk.

NAMAKU SANTI.

Perlahan aku menoleh ke perempuan di kasur.

Ponsel berbunyi lagi.

PEREMPUAN YANG ADA DI KAMAR ITU BUKAN AKU.

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Dimas langsung berjalan mendekati kasur.

“Jangan sentuh dia,” kataku.

Terlambat.

Begitu Dimas menyentuh bahunya, mata Santi terbuka.

Aku menjerit.

Matanya menatap lurus ke langit-langit.

Tidak berkedip.

Kemudian bibirnya bergerak.

“Akhirnya.”

Suaranya bukan suara Santi.

Itu suara ibu mertua.

Dimas mundur begitu cepat hingga menabrak rak.

Perempuan itu duduk perlahan.

Lehernya bergerak kaku.

“Dimas,” katanya. “Ibu sudah menunggu lama.”

“Siapa kamu?”

Dia tersenyum.

“Anak yang pertama gagal kami selamatkan.”

Aku merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada ketakutan.

Karena kini aku sadar, apa pun yang terjadi malam itu bukan kebetulan.

“Keira mana?”

Perempuan itu memiringkan kepala.

“Di tempat yang seharusnya.”

Aku menerjangnya.

“Keira mana?!”

Tangannya bergerak cepat dan mencengkeram pergelangan tanganku.

Kuat sekali.

“Kalau mau anakmu kembali, buka gordennya.”

Aku terdiam.

Dimas berteriak, “Jangan!”

Perempuan itu menoleh padanya.

“Kamu tetap pengecut seperti ayahmu.”

Dimas membeku.

“Ayahku?”

Dia tertawa.

“Memangnya kamu pikir semua ini dimulai dari pengasuh?”

Kemudian gorden bergerak keras.

Sekali.

Dua kali.

Terdengar suara boks bayi menghantam dinding dari balik sana.

Aku tidak tahan lagi.

“Keira!”

Aku menarik gorden.

Dimas mencoba menghentikanku, tetapi terlambat.

Di balik gorden tidak ada jendela.

Aku tahu terdengar tidak masuk akal.

Namun tempat yang seharusnya menjadi jendela kamar Keira berubah menjadi sebuah pintu kayu tua.

Pintu yang tidak pernah ada sebelumnya.

Dimas menjatuhkan ponselnya.

“Aku kenal pintu itu.”

“Dari mana?”

“Rumah lama.”

Pintunya terbuka sedikit.

Dari celah gelap, terdengar tangisan bayi.

Kali ini aku tahu.

Itu Keira.

Bukan suara tiruan.

Tangisan asli putriku memiliki jeda kecil setiap kali ia menarik napas. Suaranya serak karena beberapa hari terakhir sedang tumbuh gigi.

Aku mengenalnya.

Seorang ibu akan mengenali tangisan anaknya meski di tengah seribu bayi.

“Aku masuk.”

Dimas memegang lenganku.

“Aku ikut.”

Kami melangkah melewati pintu.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Satu detik kami berada di rumah kami di Jakarta.

Detik berikutnya, kami berdiri di kamar tua dengan dinding lembap dan lantai tegel bermotif bunga.

Dimas menatap sekeliling.

“Ini kamar Dinda.”

Di tengah ruangan berdiri dua boks bayi.

Satu kosong.

Satu lagi berisi Keira.

Aku langsung mendekat.

Namun seseorang duduk di samping boks.

Ibu mertuaku.

Bukan suara.

Bukan bayangan.

Dia benar-benar ada di sana.

“Bu?”

Dimas nyaris tidak bisa bicara.

Ibu mertuaku menatap kami.

Wajahnya penuh air mata.

“Seharusnya kalian nggak datang.”

Aku tidak peduli.

Aku mengangkat Keira.

Tubuhnya hangat.

Hidup.

Aku mencium wajahnya berkali-kali.

“Kenapa Ibu di sini?”

Dimas bertanya.

Ibu mertuaku menatap gelang kuning yang masih dipegangnya.

“Karena aku tahu suatu hari ini akan kembali.”

“Apa yang kembali?”

“Ibu kamu berutang satu anak perempuan.”

Suara lain terdengar.

Kami menoleh.

Seorang perempuan muda berdiri di pojok kamar.

Wajahnya sama seperti Santi di foto lama.

Ibu mertuaku menangis.

“Maafkan saya.”

Perempuan itu tidak menjawab.

Ibu mertuaku akhirnya menceritakan semuanya.

Dua puluh sembilan tahun lalu, Santi adalah pengasuh Dinda.

Suatu malam, Dinda sakit parah. Ayah Dimas panik dan membawa seorang dukun yang dikenalnya dari desa asal keluarganya.

Orang itu memasangkan gelang kuning pada kaki Dinda dan mengatakan penyakitnya bisa dipindahkan.

“Tapi harus ada pengganti,” kata ibu mertuaku.

Aku memandangnya dengan ngeri.

“Pengganti siapa?”

“Santi sedang hamil.”

Dadaku seperti ditusuk.

“Ibu tahu?”

Ibu mertuaku menangis lebih keras.

“Kami ketakutan. Kami bodoh.”

Ritual itu gagal.

Dinda tetap meninggal.

Beberapa minggu kemudian, Santi kehilangan kandungannya.

Setelah itu, ia menghilang.

“Lalu pengasuh di rumah kita?”

Aku menatap perempuan muda di sudut.

Ibu mertuaku berkata pelan, “Aku yang mengirimnya.”

“Kenapa?”

“Dia datang menemuiku tiga bulan lalu.”

“Siapa?”

“Santi.”

“Yang asli?”

Ibu mertuaku mengangguk.

“Dia bilang utangnya belum selesai.”

Aku memeluk Keira semakin erat.

“Utang apa?”

Perempuan di sudut menjawab untuk pertama kalinya.

“Bukan utangku.”

Suaranya tenang.

“Utang mereka.”

Dia menunjuk Dimas.

“Tapi anak kecil tidak seharusnya membayar dosa orang tua.”

Kemudian aku memahami.

Dia bukan datang untuk mengambil Keira.

Ia datang untuk memaksa keluarga Dimas mengakui apa yang selama ini dikubur.

“Kenapa kaus kakinya diganti?”

Aku bertanya.

“Supaya kamu memperhatikan kakinya.”

“Gelang itu?”

“Dipakai untuk membuka jalan ke kamar ini.”

“Lalu siapa perempuan yang menjadi pengasuh kami?”

Santi menatap pintu.

“Dia sudah tidak bernapas sejak dua jam lalu.”

Aku menahan napas.

“Siapa dia?”

“Adik saya.”

Aku tercekat.

“Dia membantu saya masuk ke rumah kalian. Tapi ada sesuatu yang ikut masuk.”

Santi menatap gelap di belakang kami.

“Dan sesuatu itu tidak ingin Keira keluar.”

Tiba-tiba pintu kayu membanting.

Lampu padam.

Keira menangis.

Suara perempuan tua memenuhi kamar.

“SATU ANAK HARUS TINGGAL.”

Dimas menarikku.

“Lari!”

Ibu mertuaku berdiri di depan pintu.

“Bawa Keira!”

“Bu!”

“Kalian pergi!”

Dimas membeku.

Ibu mertuaku menatap anaknya sambil menangis.

“Dulu Ibu memilih menyelamatkan anak Ibu dengan mengorbankan anak orang lain.”

Ia menyentuh wajah Dimas.

“Malam ini biarkan Ibu yang membayar.”

Pintu terbuka.

Aku menarik Dimas keluar.

Ia menjerit memanggil ibunya, tetapi Santi menahan pintu dari dalam.

Aku berlari sambil memeluk Keira.

Kemudian semuanya gelap.

Aku terbangun di lantai kamar bayi.

Jam menunjukkan pukul 03.08.

Keira berada dalam pelukanku.

Dimas terbaring di sampingku.

Santi yang menjadi pengasuh kami ditemukan meninggal di kasur kecil, diduga karena serangan jantung.

Tidak ada pintu kayu di balik gorden.

Hanya jendela.

Ibu mertua Dimas ditemukan keesokan paginya di rumahnya di Surabaya.

Dia masih hidup.

Namun sejak malam itu, ia kehilangan ingatan tentang hampir seluruh masa lalunya.

Nama Dinda.

Nama Santi.

Bahkan nama Dimas.

Semuanya hilang.

Polisi tidak pernah menemukan Santi yang asli.

Nomor yang mengirim pesan kepada Dimas sudah tidak aktif.

Kami pindah rumah tiga minggu kemudian.

Dimas membuang jam tangannya.

Aku membuang seluruh kaus kaki Keira.

Kami tidak pernah membicarakan kejadian malam itu di depan siapa pun.

Keira tumbuh sehat.

Sekarang usianya hampir tiga tahun.

Dia ceria, aktif, dan sudah bisa berbicara banyak.

Aku sempat berpikir semua itu benar-benar sudah selesai.

Sampai minggu lalu.

Saat aku sedang melipat pakaian, Keira duduk di lantai sambil menggambar.

Aku bertanya, “Gambar siapa, Sayang?”

Dia mengangkat kertasnya.

Ada empat orang.

Aku.

Dimas.

Keira.

Dan seorang perempuan berdiri di belakang kami.

“Ini siapa?”

Keira menjawab santai.

“Tante Santi.”

Tanganku langsung berhenti.

“Kamu tahu nama Tante Santi dari mana?”

Keira menatapku seolah pertanyaanku aneh.

Kemudian ia menunjuk ke belakangku.

“Dia yang bilang.”

Aku tidak berani menoleh.

Sampai Keira menambahkan satu kalimat lagi.

“Mama, Tante Santi bilang jangan takut.”

Aku menahan napas.

“Kenapa?”

Keira tersenyum.

“Karena yang jahat bukan dia.”

Lalu wajahnya berubah serius.

“Yang jahat sudah tahu rumah baru kita.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang