SUAMIKU MEMINTAKU MENYAMBUT PARA TAMU DI RUMAHKU SENDIRI. TAPI MALAM ITU, AKU SADAR ADA SESUATU YANG SENGAJA DIA SEMBUNYIKAN DARIKU. AKU TETAP TERSENYUM KETIKA SEORANG PEREMPUAN MASUK, DAN SEMUA ORANG MENYAMBUTNYA DENGAN SEBUTAN YANG MEMBUAT DADAKU TERASA SESAK. LALU SUAMIKU MEMBERIKAN SATU PERINTAH YANG TAK PERNAH KUBAYANGKAN AKAN KELUAR DARI MULUTNYA. DAN AKU… JUSTRU MEMILIH UNTUK MENURUTINYA.
Namaku Rani.
Rumah yang kutinggali bersama suamiku, Dimas, bukan hadiah pernikahan dari keluarganya. Rumah itu juga bukan hasil patungan kami berdua.
Aku membelinya dengan uangku sendiri saat usiaku baru dua puluh lima tahun, jauh sebelum aku mengenal Dimas.
Saat itu, keinginanku hanya satu. Memiliki tempat yang benar-benar menjadi milikku. Tempat yang tidak bisa begitu saja direnggut oleh siapa pun.
Aku bekerja dari pagi sampai malam dan menyisihkan penghasilanku sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya, setelah bertahun-tahun berhemat, kunci rumah kecil itu benar-benar berada di tanganku.
Aku masih ingat pertama kali membuka pintunya.
Rumah itu kosong. Belum ada sofa, belum ada televisi, bahkan penerangannya hanya berasal dari satu lampu sederhana yang menggantung di ruang tengah.
Tapi aku bahagia.
Sangat bahagia.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa memiliki sesuatu yang benar-benar bisa kusebut milikku sendiri.
Setahun kemudian, aku bertemu Dimas.
Dia datang ke dalam hidupku dengan cara yang membuatku percaya bahwa mungkin, setelah sekian lama berjuang sendirian, hidup akhirnya mulai berpihak kepadaku.
Dimas bukan tipe laki-laki yang terlihat suka bermain-main dengan perempuan. Sikapnya tenang, tutur katanya sopan, dan dia selalu memperlakukan kedua orang tuaku dengan baik.
Ketika aku kesulitan, dia selalu berusaha membantu.
Bahkan sebelum kami menikah, dia sering berdiri di ruang tengah rumahku sambil bercanda tentang masa depan.
“Suatu hari nanti rumah ini pasti bakal ramai,” katanya sambil tersenyum. “Anak-anak kita bakal lari-larian di sini.”
Dan aku mempercayainya.
Setelah menikah, Dimas pindah ke rumahku.
Aku tidak pernah mempermasalahkan siapa yang membayar rumah itu sejak awal atau atas nama siapa sertifikatnya tercatat.
Bagiku sederhana.
Kami sudah menjadi suami istri.
Aku menganggap apa yang kumiliki adalah bagian dari kehidupan kami bersama.
Namun enam bulan terakhir, Dimas mulai berubah.
Perubahannya tidak terjadi sekaligus.
Awalnya hanya hal-hal kecil.
Ponselnya yang dulu sering diletakkan sembarangan, sekarang selalu dalam posisi layar menghadap ke bawah setiap kali berada di dekatku.
Notifikasi pesan sering menghilang beberapa detik setelah masuk.
Kadang aku melihatnya tersenyum sendiri membaca sesuatu, tetapi begitu aku mendekat, layar ponselnya langsung mati.
Kalau aku bertanya siapa yang menghubunginya, jawabannya selalu sama.
“Urusan kantor.”
Aku berusaha percaya.
Setidaknya pada awalnya.
Sampai suatu malam, ketika hendak mencuci jaketnya, aku menemukan sebuah struk restoran mahal di dalam saku.
Meja untuk dua orang.
Dua menu utama.
Dua minuman.
Satu hidangan penutup.
Aku tidak langsung menanyakannya.
Aku hanya melipat struk itu dan menyimpannya di dalam laci.
Sejak malam itu, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang selama ini mungkin sengaja kuabaikan.
Aroma parfum perempuan yang bukan milikku di kerah kemejanya.
Sehelai rambut panjang tersangkut di jok mobil.
Dan sebuah nama perempuan yang beberapa kali muncul di layar ponselnya.
Alya.
Nama yang sama.
Berulang kali.
Aku belum tahu siapa perempuan itu.
Namun tiga minggu sebelum malam pesta tersebut, rasa penasaranku akhirnya membawaku pada jawaban.
Hari itu Dimas mengatakan ada rapat sampai malam.
Sekitar pukul tujuh, aku keluar untuk membeli obat karena sakit kepalaku tidak kunjung reda.
Di lampu merah dekat sebuah pusat perbelanjaan, aku melihat mobil Dimas melintas.
Aku mengenali nomor polisinya.
Mobil itu tidak bergerak menuju kantornya.
Aku mengikutinya.
Aku tahu tindakan itu mungkin terdengar seperti sesuatu yang dilakukan istri pencemburu dalam sinetron. Tapi saat itu, ada perasaan kuat di dalam diriku yang mengatakan bahwa jika aku membiarkannya pergi, aku akan terus hidup dalam kebohongan.
Dimas berhenti di sebuah kafe.
Aku memarkir kendaraan cukup jauh.
Dari balik kaca, kulihat dia duduk bersama seorang perempuan.
Perempuan berambut panjang.
Wajahnya cantik, masih muda, mungkin sekitar dua puluh tujuh tahun.
Alya.
Aku tidak masuk.
Aku tidak membuat keributan.
Aku hanya mengamati.
Dimas menggenggam tangan perempuan itu di atas meja.
Kemudian Alya tertawa dan berkata sesuatu.
Aku tidak bisa mendengarnya.
Tapi yang membuatku benar-benar kehilangan napas adalah saat Dimas mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto rumah kami.
Rumahku.
Alya menunjuk layar itu, lalu tersenyum.
Beberapa menit kemudian, aku melihat bibir Dimas membentuk kalimat yang bisa kubaca meski dari jauh.
“Nanti kamu tinggal di sana.”
Aku pulang tanpa menunggu mereka selesai.
Malam itu aku menangis di kamar mandi agar Dimas yang pulang hampir tengah malam tidak mendengarnya.
Namun keesokan harinya, tangisku berhenti.
Digantikan sesuatu yang lebih dingin.
Aku mulai mencari tahu.
Aku mengecek dokumen rumah.
Sertifikat masih atas namaku.
Tidak ada perubahan.
Aku membuka laporan kredit dan dokumen perbankan yang bisa kuakses.
Tidak ada transaksi yang mencurigakan atas rumah tersebut.
Tetapi aku menemukan satu hal lain.
Dimas pernah memotret sertifikat rumahku.
Aku tahu karena cadangan otomatis fotonya tersimpan di tablet lama yang masih terhubung dengan akun yang pernah kami pakai bersama.
Ada tujuh foto.
Sertifikat.
Pajak bumi dan bangunan.
Kartu keluargaku.
Bahkan foto KTP-ku.
Aku langsung mengganti seluruh kata sandi dan memindahkan dokumen asli ke tempat aman.
Kemudian aku memasang dua kamera kecil di ruang tengah dan teras depan.
Aku tidak pernah memberi tahu Dimas.
Bukan karena ingin memata-matainya setiap saat.
Aku hanya ingin memastikan bahwa ketika kebohongan itu akhirnya masuk ke rumahku, aku memiliki bukti.
Dan malam ini, kebohongan itu benar-benar datang melalui pintu depan dengan mengenakan gaun putih dan membawa kotak hadiah.
“Selamat ulang tahun, Alya!”
Suara para tamu memenuhi ruang tamu.
Dadaku terasa seperti ditekan batu.
Bukan karena aku belum tahu siapa Alya.
Melainkan karena sekarang aku tahu hampir semua orang di ruangan ini juga mengenalnya.
Teman-teman kantor Dimas.
Orang-orang yang pernah makan bersamaku.
Orang-orang yang pernah memanggilku Mbak Rani dan tersenyum seolah tidak ada apa-apa.
Salah seorang perempuan memeluk Alya sambil tertawa.
“Akhirnya calon nyonya rumah datang juga.”
Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.
Aku melihat ke arah Dimas.
Wajahnya berubah.
Perempuan yang mengucapkan kalimat itu tampaknya baru sadar aku berdiri tidak jauh dari sana.
Dia langsung terdiam.
Alya justru tersenyum.
Seolah dia menikmati setiap detiknya.
Kemudian Dimas menyuruhku mengambil pisau untuk memotong kue.
Aku menurut.
Aku masuk ke dapur.
Mengambil pisau kue.
Lalu kembali.

Semua orang menatapku.
Aku melihat tulisan di atas kue.
Happy Birthday Alya.
Di bawahnya ada tulisan kecil.
Untuk awal yang baru.
Aku hampir tertawa.
Awal yang baru.
Di rumah yang kubeli sendiri.
Dengan suami yang masih sah menjadi milikku secara hukum.
Sungguh rencana yang mengagumkan.
Aku berdiri di depan kue.
Dimas menatapku dengan ekspresi yang mencoba terlihat tegas.
“Potong saja, Ran.”
Aku memandangnya beberapa detik.
Lalu mataku beralih ke kamera kecil di sudut ruangan.
Aku menarik napas.
“Baik,” kataku.
Aku mengiris kue perlahan.
Satu potong.
Dua potong.
Tiga.
Beberapa tamu terlihat kebingungan karena aku sama sekali tidak membuat keributan.
Dimas mulai sedikit tenang.
Sampai aku meletakkan pisau itu kembali di atas meja.
Kemudian aku berkata, “Mas, setelah kuenya dipotong, apa sekalian mau kasih tahu Alya kapan dia mulai tinggal di rumah ini?”
Wajah Dimas langsung pucat.
Suara percakapan berhenti.
Alya menatapku.
“Apa maksudmu?” tanya Dimas.
Aku tersenyum.
“Kamu sendiri yang bilang ke dia, kan? Nanti dia tinggal di sini.”
“Rani, jangan bikin masalah.”
“Bikin masalah?”
Aku tertawa kecil.
“Aku cuma memastikan rencanamu jelas.”
Alya akhirnya berbicara.
“Mbak, sepertinya ada salah paham.”
Aku menoleh padanya.
“Salah paham yang mana? Kamu pacaran dengan suamiku, atau kamu kira rumah ini milik dia?”
Wajah Alya berubah.
Dimas langsung maju.
“Jaga bicaramu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa? Takut dia tahu?”
Alya menoleh cepat kepada Dimas.
“Tahu apa?”
Dimas tidak menjawab.
Di situlah aku mengerti sesuatu.
Alya ternyata tidak mengetahui seluruh kebohongan Dimas.
Mungkin dia tahu aku istrinya.
Tetapi ada bagian tertentu yang disembunyikan Dimas darinya juga.
Aku mengambil map cokelat dari laci lemari ruang tengah.
Aku sudah menaruhnya di sana sejak sore.
Aku meletakkannya di meja.
“Rumah ini kubeli sebelum menikah. Sertifikatnya atas namaku. Semua cicilannya lunas sebelum aku bertemu Dimas.”
Alya menatap Dimas.
“Katanya rumah ini rumah keluargamu.”
Dimas langsung berkata, “Bukan begitu maksudku.”
“Dan kamu bilang sedang proses balik nama,” lanjut Alya.
Ruangan seketika riuh oleh bisikan.
Aku hanya memandang Dimas.
Jadi dugaanku benar.
Dia bukan hanya berbohong kepadaku.
Dia juga sedang menjual masa depan palsu kepada Alya.
Dimas mendekat kepadaku.
“Ran, kita bicara di dalam.”
“Tidak.”
“Ini urusan rumah tangga.”
Aku menatap orang-orang di sekeliling kami.
“Lucu. Waktu kamu mengundang pacarmu ulang tahun ke rumah istrinya, kamu tidak menganggap ini urusan rumah tangga.”
Beberapa tamu menunduk.
Tidak ada yang berani menatapku.
Alya tampak semakin pucat.
Dia lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Aku memang tahu kalian masih menikah.”
Aku mengangguk pelan.
Setidaknya dia mengaku.
“Tapi Dimas bilang kalian sudah lama pisah kamar. Katanya kalian sedang mengurus perceraian. Dia bilang Mbak cuma masih tinggal di sini sementara karena belum menemukan tempat lain.”
Aku menatap Dimas.
Untuk sesaat, aku benar-benar tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis.
Rumahku sendiri.
Dan dalam cerita yang dia jual kepada kekasihnya, justru aku yang menumpang.
“Hebat,” kataku pelan. “Kamu bahkan berhasil membuat aku jadi tamu di rumahku sendiri.”
“Rani, cukup!”
Suara Dimas meninggi.
Dia menggebrak meja.
Beberapa gelas bergetar.
Untuk pertama kalinya malam itu, amarahnya terlihat jelas.
“Kalau kamu memang sudah tahu semuanya, kenapa dari awal diam saja?”
Pertanyaan itu justru membuatku tenang.
Karena inilah momen yang kutunggu.
Aku menatap kamera di sudut ruangan.
“Karena aku butuh kamu mengatakannya sendiri.”
Dimas mengikuti arah pandanganku.
Wajahnya berubah.
“Apa itu?”
“Kamera.”
Ruangan langsung hening.
Aku melanjutkan, “Merekam sejak tamu pertama datang.”
Dimas bergerak cepat menuju sudut ruangan.
Tapi aku langsung berkata, “Percuma. Rekamannya otomatis tersimpan di cloud.”
Dia berhenti.
Wajahnya merah.
“Untuk apa kamu merekam kami?”
“Untuk berjaga-jaga.”
“Berjaga-jaga dari apa?”
Aku mengambil ponselku.
Kemudian membuka satu pesan.
“Misalnya dari seseorang yang tiga hari lalu mencoba mengajukan pinjaman menggunakan fotokopi sertifikat rumahku.”
Dimas membeku.
Alya menatapnya dengan mata membesar.
Para tamu mulai berbisik lebih keras.
Aku sudah menerima telepon dari salah satu perusahaan pembiayaan dua hari sebelumnya.
Mereka meminta verifikasi karena ada pengajuan menggunakan dokumen rumah sebagai jaminan tambahan.
Permohonan itu tidak pernah kusetujui.
Nama pemohon utama adalah Dimas.
Aku tidak langsung melapor karena aku ingin melihat seberapa jauh dia akan bergerak.
Sekarang jawabannya sudah jelas.
“Untuk apa uangnya, Mas?” tanyaku.
Dimas diam.
Alya mendadak berkata pelan, “Buat usaha kita?”
Dimas menoleh kepadanya.
Aku ikut menatap Alya.
“Apa?”
Air mukanya seketika berubah.
Dia tampak seperti baru menyadari bahwa dirinya juga terperangkap.
“Dimas bilang mau buka kafe buat aku,” katanya. “Katanya modalnya dari penjualan aset keluarga.”
Aku mengangguk perlahan.
Tidak ada aset keluarga.
Tidak ada rumah milik Dimas.
Tidak ada proses perceraian.
Hanya kebohongan yang ditumpuk di atas kebohongan lain.
Dimas mulai kehilangan kendali.
“Kalian semua jangan sok suci!” bentaknya. “Aku cuma mau memulai hidup baru!”
Aku menatapnya lama.
“Kalau mau hidup baru, kenapa harus pakai rumah dan uang dari hidup lamamu?”
Dia tidak punya jawaban.
Aku mengambil sebuah amplop putih dari dalam map.
Kemudian menyerahkannya.
Dimas melihatnya tanpa menyentuh.
“Apa ini?”
“Surat dari pengacara.”
Wajahnya mengeras.
“Aku sudah mengajukan gugatan cerai pagi tadi.”
Suasana seketika senyap.
Tangannya mengepal.
“Kamu sudah merencanakan ini?”
“Iya.”
“Lalu pesta ini?”
“Aku sengaja membiarkanmu mengadakannya.”
Dimas menatapku seolah aku baru saja menjadi orang asing.
“Kamu gila.”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin. Tapi setidaknya aku tidak merencanakan pesta ulang tahun pacarku di rumah pasangan yang sedang kukhianati.”
Alya menutup mulutnya.
Kemudian dia mengambil tasnya.
Dimas segera menahannya.
“Alya, tunggu. Aku bisa jelaskan.”
Perempuan itu menarik tangannya.
“Apa lagi yang mau kamu jelaskan?”
“Aku melakukan semuanya buat kita.”
“Buat kita?”
Alya tertawa pahit.
“Kamu bilang rumah ini milikmu. Kamu bilang Rani menolak pindah. Kamu bahkan bilang dia masih bergantung secara finansial kepadamu.”
Aku tidak merasa puas mendengarnya.
Anehnya, yang kurasakan justru sedih.
Betapa mudahnya seorang manusia menciptakan versi kehidupan yang sama sekali berbeda demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
Alya menoleh kepadaku.
Untuk pertama kalinya sejak datang, sikap angkuhnya lenyap.
“Maaf.”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku tidak ingin memaafkannya malam itu.
Aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa dia tidak tahu sedang menjalin hubungan dengan laki-laki beristri.
Jadi aku hanya berkata, “Semoga setelah ini kamu belajar untuk tidak membangun kebahagiaan di atas rumah tangga orang lain.”
Dia menunduk.
Kemudian pergi.
Satu demi satu tamu ikut pulang.
Beberapa orang menggumamkan permintaan maaf.
Sebagian bahkan tidak berani menatapku.
Kurang dari dua puluh menit kemudian, ruang tamu yang tadi penuh tawa berubah kosong.
Tersisa aku dan Dimas.
Kue ulang tahun masih berada di meja.
Lilin-lilinnya belum sempat dinyalakan.
Dimas duduk di sofa dengan wajah kosong.
“Jadi ini yang kamu mau?” katanya.
Aku berdiri beberapa langkah darinya.
“Bukan.”
Dia menatapku.
“Aku maunya suamiku tidak selingkuh.”
Untuk pertama kalinya malam itu, suaraku bergetar.
Bukan karena aku takut.
Karena ternyata, meski sudah menyiapkan semuanya, tetap ada bagian dari diriku yang berduka.
Aku pernah benar-benar mencintai laki-laki itu.
Pernah menyiapkan makan malam ketika dia pulang terlambat.
Pernah menunggunya saat sakit.
Pernah membayangkan menua bersamanya di rumah ini.
Dan sekarang, laki-laki yang sama duduk di ruang tengah sambil memikirkan bagaimana caranya mengambil rumahku untuk membangun kehidupan dengan perempuan lain.
Dimas menunduk.
“Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”
Kalimat itu hampir membuatku tertawa.
“Terlambat.”
“Ran.”
“Besok kamu keluar dari rumah ini.”
Dia langsung berdiri.
“Kamu mengusir aku?”
“Iya.”
“Aku suamimu.”
“Sampai pengadilan memutuskan lain.”
Dia menatapku tajam.
“Kamu pikir gampang mengusirku?”
Aku mengangkat ponsel.
“Kalau kamu menolak pergi, rekaman malam ini dan bukti percobaan penggunaan dokumen rumahku akan aku serahkan ke pihak berwenang.”
Dimas terdiam.
Aku tidak tahu apa yang berputar di kepalanya.
Namun malam itu dia akhirnya masuk ke kamar tamu.
Dan untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan, aku tidur dengan pintu kamar terkunci.
Keesokan paginya, dia pergi membawa dua koper.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada salam perpisahan.
Hanya suara pintu depan yang tertutup pelan.
Proses perceraian kami berlangsung beberapa bulan.
Dimas sempat menyangkal sebagian tuduhanku.
Namun bukti yang kumiliki terlalu banyak.
Pesan.
Foto.
Rekaman.
Dokumen pengajuan pinjaman.
Kesaksian beberapa orang yang hadir malam itu.
Rumah tersebut tetap menjadi milikku.
Alya menghilang sepenuhnya dari hidup kami.
Aku hanya pernah mendengar dari seorang kenalan bahwa dia juga meninggalkan Dimas setelah mengetahui banyak cerita lain yang tidak pernah diceritakan kepadanya.
Beberapa bulan setelah semuanya selesai, aku mengganti hampir seluruh isi ruang tengah.
Sofa baru.
Meja baru.
Cat dinding baru.
Bukan karena benda-benda lama salah.
Aku hanya ingin berhenti melihat kenangan setiap kali memasuki ruangan.
Suatu sore, ketika sedang membersihkan lemari, aku menemukan foto lama.
Foto aku dan Dimas saat baru menikah.
Kami berdiri di depan rumah.
Tangannya melingkar di bahuku.
Di belakang foto itu, ada tulisan tangannya.
Rumah kita.
Aku membaca kalimat tersebut cukup lama.
Kemudian tersenyum.
Dulu aku merasa bangga ketika melihatnya.
Sekarang aku akhirnya memahami sesuatu.
Rumah bukan menjadi milik seseorang hanya karena dia tinggal di dalamnya.
Sama seperti cinta tidak menjadi nyata hanya karena seseorang mengucapkan janji.
Aku merobek foto itu menjadi dua.
Bukan karena membenci masa lalu.
Aku hanya tidak ingin lagi hidup di dalamnya.
Malam pesta itu, Dimas mengira perintah paling kejam yang bisa dia berikan kepadaku adalah menyuruhku memotong kue ulang tahun perempuan yang dia cintai di rumahku sendiri.
Dia tidak tahu bahwa aku sudah mengambil keputusan jauh sebelum pisau itu berada di tanganku.
Aku menurutinya bukan karena aku lemah.
Aku menurutinya karena untuk terakhir kalinya, aku ingin melihat seberapa jauh dia sanggup merendahkanku ketika dia mengira aku tidak tahu apa-apa.
Dan setelah malam itu, aku tidak pernah lagi takut kehilangan seseorang yang sudah lebih dulu memilih kehilangan aku.
