IBUKU MELARANGKU MENGUNCI PINTU KAMAR SELAMA BERTAHUN-TAHUN, DAN AKU TAK PERNAH TAHU ALASANNYA.

Namaku Nadira. Umurku dua puluh delapan tahun.

Setelah pernikahanku berakhir dengan cara yang sampai sekarang tidak ingin kuceritakan kepada siapa pun, aku memutuskan kembali tinggal bersama Ibu di rumah lama kami di pinggiran kota.

Rumah itu sudah cukup tua dan terasa terlalu besar untuk hanya dihuni dua orang. Ada lorong panjang yang menghubungkan kamar-kamar dengan ruang tengah. Siang hari, lorong itu hanya tampak seperti bagian rumah yang kurang mendapat cahaya. Namun setelah tengah malam, lorong itu selalu terasa berbeda.

Seolah panjangnya bertambah.

Seolah ujungnya menjauh.

Ayah meninggal enam tahun lalu.

Sejak saat itu, Ibu tinggal sendirian di rumah tersebut.

Ada satu kebiasaan aneh yang masih dilakukan Ibu sejak aku kecil.

Setiap malam, sebelum aku masuk kamar, ia selalu mengatakan kalimat yang sama.

“Kalau mau tidur, jangan tutup pintunya rapat-rapat.”

Dulu aku menurut tanpa pernah mempertanyakannya. Namun setelah kembali tinggal di rumah ini sebagai perempuan dewasa, larangan itu mulai terasa semakin aneh.

“Bu, aku sudah dua puluh delapan tahun. Masa pintu kamar sendiri saja enggak boleh kututup?”

Saat itu Ibu sedang melipat pakaian di ruang tengah. Begitu mendengar pertanyaanku, kedua tangannya mendadak berhenti.

“Pokoknya jangan.”

“Kenapa?”

Ibu menatapku cukup lama.

Lalu ia tersenyum tipis.

“Ibu lebih tenang kalau pintunya sedikit terbuka.”

Jawaban itu tidak masuk akal.

Dan justru karena itulah aku mulai memperhatikan hal-hal kecil di rumah ini.

Ibu selalu tidur lebih awal. Biasanya sebelum pukul sepuluh malam, lampu kamarnya sudah padam.

Namun beberapa kali, aku terbangun karena mendengar suara langkah kaki di lorong.

Pelan.

Teratur.

Seperti seseorang sedang berjalan sambil berusaha agar langkahnya tidak terdengar.

Setiap kali suara itu muncul, aku selalu membuka pintu kamar untuk memeriksa.

Tapi lorong selalu kosong.

Aku pernah bertanya kepada Ibu apakah ia suka berjalan-jalan di tengah malam.

Ibu bilang tidak.

Awalnya aku berpikir mungkin aku hanya terlalu lelah. Mungkin rumah tua memang suka mengeluarkan suara aneh pada malam hari.

Sampai suatu malam, aku terbangun dan melihat seberkas cahaya tipis dari celah bawah pintu.

Bukan cahaya dari kamar Ibu.

Bukan pula cahaya dari luar rumah.

Cahaya itu bergerak perlahan melewati pintu kamarku.

Lalu berhenti.

Tepat di depan pintu.

Aku menahan napas.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara seperti benda kecil diletakkan di lantai.

Aku hampir bangun untuk membuka pintu ketika tiba-tiba suara Ibu terdengar dari kamar sebelah.

“Nadira.”

Tubuhku langsung menegang.

“Iya, Bu?”

“Jangan keluar.”

Nada suaranya membuat bulu kudukku berdiri.

Itu bukan nada seorang ibu yang sedang menasihati anaknya.

Lebih terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha memastikan anaknya tetap aman di balik pintu.

“Ada apa, Bu?”

Tidak ada jawaban.

“Ibu?”

Tetap sunyi.

Keesokan paginya, Ibu kembali bersikap seperti biasa.

Ia membuat teh, menyiapkan sarapan, bahkan tertawa melihat wajahku yang masih mengantuk.

Seolah kejadian semalam sama sekali tidak pernah terjadi.

Aku semakin penasaran.

Malam berikutnya, aku memutuskan untuk tidak langsung tidur.

Aku mematikan lampu, berbaring di tempat tidur, lalu menunggu.

Pukul 01.48.

Tidak terjadi apa-apa.

Pukul 02.06.

Rumah masih sunyi.

Aku hampir menyerah ketika pukul 02.16 terdengar langkah kaki dari ujung lorong.

Aku langsung meraih ponsel.

Mataku terpaku pada angka di layar.

02.17.

Langkah itu berhenti.

Tepat di depan kamarku.

Tanganku mulai terasa dingin.

Seperti biasa, pintu kamarku memang kubiarkan sedikit terbuka sesuai pesan Ibu.

Namun malam itu rasa penasaranku mengalahkan ketakutan.

Aku ingin tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Ibu selama bertahun-tahun.

Perlahan aku bangkit dari tempat tidur.

Aku berjalan menuju pintu.

Kemudian menutupnya rapat.

Tanganku meraih kunci.

Klik.

Aku menguncinya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sengaja melanggar satu larangan yang selalu Ibu ulang sejak aku masih kecil.

Aku kembali ke tempat tidur dan berpura-pura tidur.

Satu menit berlalu.

Dua menit.

Tidak terdengar apa-apa.

Aku mulai berpikir mungkin semua ini memang hanya kebetulan.

Sampai tiba-tiba terdengar suara kecil.

Klik.

Mataku langsung terbuka.

Gagang pintu bergerak.

Turun perlahan.

Lalu berhenti.

Beberapa detik kemudian, gagang itu bergerak lagi.

Seseorang sedang mencoba membuka pintuku dari luar.

Aku menutup mulut dengan kedua tangan agar tidak berteriak.

Lalu terdengar ketukan.

Pelan sekali.

Tiga kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Aku tidak menjawab.

Jantungku berdetak begitu keras sampai rasanya suara detaknya bisa terdengar dari luar kamar.

Kemudian seseorang berbisik dari balik pintu.

“Nadira…”

Tubuhku membeku.

Suara itu terdengar familiar.

Sangat familiar.

Untuk sesaat, tanganku bahkan sudah hampir meraih kunci pintu.

Namun sebelum sempat bergerak, ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Dari Ibu.

Padahal kamar Ibu hanya berjarak beberapa meter dari kamarku.

Dengan tangan gemetar, aku membuka pesan tersebut.

Hanya ada satu kalimat.

“Jangan jawab siapa pun yang berdiri di depan pintumu. Ibu sedang mengunci diri di kamar.”

Aku menatap layar ponsel cukup lama.

Darahku seperti berhenti mengalir.

Kalau Ibu sedang mengunci diri di kamarnya, lalu siapa yang berdiri di depan pintuku?

Aku bahkan belum sempat menemukan jawabannya ketika gagang pintu kembali bergerak.

Kali ini jauh lebih keras.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Orang di luar seperti sudah tahu bahwa aku belum tidur.

Aku mundur perlahan dari pintu.

Kemudian semuanya mendadak sunyi.

Tidak ada langkah kaki.

Tidak ada ketukan.

Tidak ada lagi suara yang memanggil namaku.

Aku berdiri terpaku sambil menatap celah di bawah pintu.

Lalu sesuatu bergerak dari sisi luar.

Sebuah benda kecil didorong perlahan melewati celah pintu.

Aku menahan napas.

Benda itu berhenti tepat di lantai kamarku.

Awalnya aku tidak berani mendekat.

Namun ketika akhirnya kulihat benda apa yang tergeletak di sana, seluruh tubuhku langsung gemetar.

Sebuah jepit rambut berwarna biru tua.

Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian.

Aku mengenal benda itu.

Aku pernah memilikinya ketika berusia sembilan tahun.

Lebih tepatnya, aku mengenakan jepit itu pada malam ketika aku hampir hilang dari rumah ini.

Kenangan yang selama ini kukira hanya mimpi buruk tiba-tiba kembali begitu jelas.

Hujan deras.

Lampu padam.

Aku kecil berdiri di lorong sambil menangis.

Ada seorang laki-laki memanggil namaku dari dapur.

Suaranya menyerupai suara Ayah.

Aku berjalan mendekat karena mengira Ayah pulang lebih cepat.

Lalu seseorang menarik lenganku dari belakang.

Ibu.

Ia membekap mulutku dan menyeretku kembali ke kamar.

Malam itu Ibu berkata aku hanya bermimpi.

Keesokan harinya jepit rambut biruku hilang.

Aku tidak pernah melihatnya lagi.

Sampai malam ini.

Tanganku langsung meraih ponsel.

Aku mengetik kepada Ibu.

“Bu, dia kasih jepit rambutku yang dulu.”

Pesanku dibaca.

Namun Ibu tidak segera membalas.

Lima belas detik kemudian, pesannya masuk.

“Kamu masih ingat malam hujan itu?”

Aku menelan ludah.

“Sedikit.”

Kali ini balasannya lebih panjang.

“Kalau dia pergi dari depan pintumu, keluar lewat jendela belakang. Jangan lewat lorong.”

Aku langsung menatap jendela.

Kamarku berada di lantai dasar. Di luar jendela ada halaman samping yang terhubung dengan bagian depan rumah.

Aku buru-buru membuka pengunci jendela.

Lalu berhenti.

Dari luar kamar terdengar suara langkah menjauh.

Pelan.

Menuju kamar Ibu.

Aku langsung mengetik.

“Bu, dia ke arah kamar Ibu.”

Tidak ada jawaban.

“Ibu?”

Tetap tidak ada.

Aku menunggu beberapa detik sebelum memutuskan meneleponnya.

Panggilan masuk.

Dari kamar sebelah terdengar bunyi getaran ponsel.

Tapi Ibu tidak mengangkat.

Kemudian terdengar suara benturan.

Keras sekali.

Aku tidak berpikir lagi.

Aku membuka jendela dan memanjat keluar.

Udara malam terasa dingin.

Tanpa alas kaki, aku berlari mengitari rumah menuju jendela kamar Ibu.

Tirai kamar tertutup.

Lampunya mati.

Aku mengetuk kaca pelan.

“Bu.”

Tidak ada jawaban.

“Ibu.”

Aku mengetuk lebih keras.

Tiba-tiba tirai tersibak sedikit.

Wajah Ibu muncul.

Pucat.

Matanya merah.

Begitu melihatku, ia langsung membuka jendela.

“Masuk.”

Aku memanjat masuk.

Ibu segera mengunci jendela lagi.

“Siapa dia?” tanyaku.

Ibu tidak menjawab.

“Bu, aku sudah bukan anak kecil. Tolong jangan bohong lagi.”

Ibu duduk di tepi ranjang.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat tangannya gemetar.

“Kamu pikir Ayah meninggal enam tahun lalu karena serangan jantung.”

Aku mengangguk pelan.

“Itu yang Ibu bilang.”

“Ibu bohong.”

Dadaku langsung sesak.

Ibu menarik napas panjang.

“Enam tahun lalu, Ayah ditemukan di gudang belakang. Ada luka di kepalanya.”

Aku menatapnya.

“Ayah dibunuh?”

“Ibu tidak tahu.”

“Lalu kenapa polisi tidak pernah datang?”

“Polisi datang. Tapi kamu waktu itu sudah kuliah di luar kota. Ibu sengaja tidak memberi tahu semuanya.”

Aku merasa marah sekaligus takut.

“Kenapa?”

“Karena orang yang dicurigai polisi adalah kakak Ayah.”

Aku diam.

Ayah memang pernah punya seorang kakak bernama Surya.

Aku hanya mengingatnya samar-samar.

Ia jarang datang.

Seingatku, sejak aku masih kecil keluarga kami tidak pernah lagi membicarakan namanya.

“Pakde Surya?”

Ibu mengangguk.

“Dia tinggal di rumah ini sebelum kamu lahir. Rumah ini sebenarnya rumah orang tua mereka. Setelah kakek dan nenekmu meninggal, terjadi masalah warisan. Ayahmu yang mendapatkan rumah, sementara Surya tidak menerima apa-apa.”

“Terus?”

“Dia mulai datang diam-diam.”

Aku teringat suara langkah di lorong.

Jepit rambut.

Suara yang menyerupai orang lain.

“Dia yang memanggilku waktu kecil?”

Ibu menutup wajahnya sejenak.

“Malam itu dia masuk lewat pintu dapur. Dia tahu Ayah sedang bekerja malam. Dia memanggilmu memakai suara yang dibuat semirip mungkin dengan suara Ayah.”

“Kenapa?”

Ibu menatapku.

“Karena dia mau menculikmu.”

Aku merasa tengkukku dingin.

“Untuk uang?”

Ibu menggeleng.

“Untuk memaksa Ayah menyerahkan rumah.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

Ibu melanjutkan.

“Setelah malam itu, Ayah memasang kunci tambahan di semua pintu. Tapi Surya pernah bilang sesuatu yang tidak pernah bisa Ibu lupakan.”

“Apa?”

“Kalau pintu kamarmu terkunci, katanya akan lebih mudah membuatmu terjebak.”

Aku langsung memahami semuanya.

Larangan Ibu.

Pintu yang harus selalu sedikit terbuka.

Bukan karena ia ingin mengawasi.

Bukan karena ia terlalu protektif.

Tapi karena ia ingin aku bisa keluar secepat mungkin.

“Setelah itu Pakde ditangkap?”

“Tidak. Tidak ada bukti cukup. Dia menghilang bertahun-tahun.”

“Lalu Ayah meninggal.”

Ibu mengangguk.

“Beberapa hari sebelum Ayah meninggal, dia bilang pernah melihat Surya berdiri di ujung jalan.”

Suasana kamar mendadak terasa semakin sempit.

“Bu, kalau begitu kita harus telepon polisi sekarang.”

“Aku sudah menelepon.”

“Sejak kapan?”

“Sejak sebelum mengirim pesan kepadamu.”

Aku menatap Ibu.

“Lalu kenapa kita masih di sini?”

“Karena polisi sedang menuju kemari.”

Tiba-tiba terdengar suara dari luar kamar.

Tok.

Tok.

Tok.

Kami berdua membeku.

Lalu suara seseorang berkata pelan.

“Mira.”

Itu nama Ibu.

Namun suara yang terdengar dari luar bukan suara lelaki.

Itu suara Ayah.

Aku tidak pernah lupa suara Ayah.

Enam tahun sudah berlalu, tapi aku masih mengenali intonasinya.

“Mira, buka pintunya.”

Ibu langsung menutup mulutnya sendiri.

Air matanya jatuh.

Suara itu datang lagi.

“Aku pulang.”

Tanganku menggenggam lengan Ibu.

Bagaimana mungkin seseorang bisa meniru suara Ayah seakurat itu?

Kemudian aku melihat sesuatu di wajah Ibu.

Bukan hanya takut.

Ada rasa bersalah.

“Bu,” bisikku. “Ada apa lagi yang belum Ibu ceritakan?”

Ibu menoleh kepadaku.

“Surya bukan satu-satunya yang bisa meniru suara orang.”

Aku menatapnya bingung.

“Ayahmu juga bisa.”

Dari luar, gagang pintu bergerak.

Ibu berdiri.

Wajahnya berubah.

“Selama bertahun-tahun Ibu yakin orang yang datang malam-malam adalah Surya.”

“Lalu?”

“Enam bulan terakhir, Ibu mulai ragu.”

“Kenapa?”

“Karena Surya meninggal tujuh bulan lalu.”

Dunia seakan berhenti.

“Apa?”

“Ibu mengetahuinya dari seseorang di kampung asalnya.”

Aku menatap pintu.

Suara Ayah kembali terdengar.

“Nadira.”

Kali ini namaku.

Aku tidak mampu bergerak.

Ibu berbisik sangat pelan.

“Orang yang di luar itu bukan Surya.”

“Lalu siapa?”

Sebelum Ibu menjawab, terdengar bunyi kaca pecah dari arah dapur.

Lalu suara langkah cepat.

Tidak lagi pelan.

Tidak lagi berusaha bersembunyi.

Seseorang berlari melewati lorong.

Ibu menarikku menuju jendela.

“Kita keluar.”

Kami memanjat keluar dan berlari menuju rumah tetangga yang berjarak dua rumah.

Belum sampai ke pagar, terdengar suara sirene.

Dua mobil polisi masuk ke jalan kami.

Beberapa petugas turun.

Kami berteriak menunjukkan rumah.

Malam itu polisi memeriksa seluruh ruangan.

Pintu belakang ditemukan terbuka.

Salah satu kaca dapur pecah.

Ada jejak sepatu berlumpur.

Namun orang itu sudah pergi.

Aku berharap semuanya selesai sampai di situ.

Ternyata tidak.

Salah seorang polisi menemukan sesuatu di loteng.

Sebuah ruang sempit di balik panel kayu yang selama ini tertutup lemari tua.

Di dalamnya terdapat kasur tipis.

Botol air.

Senter.

Beberapa makanan kemasan.

Dan sebuah kotak berisi barang-barang milikku sejak kecil.

Jepit rambut.

Foto sekolah.

Gelang plastik.

Bahkan buku gambar yang hilang ketika aku berusia sebelas tahun.

Seseorang bukan hanya sesekali masuk ke rumah kami.

Seseorang pernah tinggal di dalam rumah itu.

Diam-diam.

Selama entah berapa lama.

Polisi memasang kamera dan memeriksa sidik jari.

Tiga hari kemudian, mereka menemukan identitas orang tersebut.

Namanya bukan Surya.

Bukan pula orang asing.

Namanya Arman.

Aku mengenal nama itu.

Ia adalah anak Surya.

Sepupuku sendiri.

Aku hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali ketika masih sangat kecil.

Setelah konflik keluarga, ia menghilang bersama ayahnya.

Menurut polisi, Arman tumbuh dengan keyakinan bahwa keluargaku telah merampas kehidupan ayahnya.

Selama bertahun-tahun, Surya menceritakan bahwa rumah kami seharusnya menjadi milik mereka.

Arman mulai datang diam-diam sejak masih remaja.

Awalnya hanya untuk mengambil benda-benda kecil.

Lalu ia mulai mengamati kehidupan kami.

Mempelajari kebiasaan kami.

Mempelajari suara kami.

Bahkan merekam suara Ayah dari kaset keluarga lama yang tersimpan di gudang.

Setelah Ayah meninggal, kebiasaannya tidak berhenti.

Malah menjadi lebih buruk.

Polisi menangkap Arman seminggu kemudian di sebuah rumah kontrakan di kota sebelah.

Di sana mereka menemukan puluhan rekaman suara.

Suara Ayah.

Suara Ibu.

Bahkan suaraku sendiri.

Ada juga peta rumah.

Jadwal harian Ibu.

Dan sebuah catatan bertuliskan satu kalimat yang membuatku tidak bisa tidur selama berhari-hari.

“Kalau Nadira pulang, rumah ini akan kembali lengkap.”

Aku tidak pernah ingin tahu apa arti kalimat itu.

Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, Ibu menjual rumah lama kami.

Awalnya ia menolak.

Rumah itu penuh kenangan.

Tempat aku tumbuh.

Tempat Ayah menghabiskan sebagian besar hidupnya.

Namun aku berkata kepadanya bahwa kenangan tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk bangunan.

Kadang-kadang, melepaskan sebuah tempat adalah satu-satunya cara agar kita berhenti hidup di dalam ketakutan yang ditinggalkannya.

Kami pindah ke rumah yang lebih kecil di kawasan yang jauh lebih ramai.

Malam pertama di sana, aku masuk kamar lalu menutup pintu.

Ibu berdiri di lorong.

Untuk sesaat, kami saling menatap.

Aku tersenyum.

“Boleh dikunci?”

Ibu terdiam.

Lalu untuk pertama kalinya sejak aku kecil, ia menjawab dengan tenang.

“Boleh.”

Aku mengunci pintu.

Klik.

Suara sederhana itu seharusnya terasa biasa.

Namun bagiku, suara tersebut terdengar seperti sesuatu yang jauh lebih besar.

Seperti akhir dari sebuah ketakutan yang diwariskan selama bertahun-tahun.

Sebelum tidur, aku sempat memeriksa jam.

02.17.

Aku menatap pintu cukup lama.

Tidak ada langkah kaki.

Tidak ada cahaya di bawah celah.

Tidak ada seseorang yang memanggil namaku dengan suara orang yang telah meninggal.

Hanya keheningan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, keheningan tidak terasa menakutkan.

Aku hampir memejamkan mata ketika ponselku bergetar.

Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Tidak ada tulisan.

Hanya sebuah foto.

Foto rumah lama kami.

Diambil dari seberang jalan.

Aku langsung duduk.

Di depan rumah berdiri sebuah papan besar bertuliskan dijual.

Namun bukan itu yang membuat tubuhku membeku.

Di salah satu jendela lantai atas, terlihat bayangan seseorang berdiri di balik tirai.

Aku memperbesar foto itu.

Lalu napasku tercekat.

Polisi memang sudah menangkap Arman.

Rumah itu juga sudah kosong.

Tetapi sosok di balik jendela mengenakan kemeja putih yang sangat kukenal.

Kemeja yang dipakai Ayah dalam foto terakhirnya sebelum meninggal.

Beberapa detik kemudian muncul pesan kedua.

Hanya satu kalimat.

“Kamu masih selalu mengira cuma ada satu orang di rumah itu.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang