Nama yang muncul di layar ponsel itu membuat lututku hampir kehilangan tenaga.
dr. Reza Mahendra.
Dokter dari klinik yang menandatangani surat kematian Nisa.
Aku menatap penyidik, lalu menatap Dimas. Wajahnya yang sejak tadi merah karena marah kini pucat seperti kertas.
“Itu bukan ponsel saya,” katanya cepat.

Komisaris Arif, penyidik yang sejak siang menangani laporan kami, mengangkat wajah.
“Kalau bukan milik Anda, kenapa ada di tas Anda?”
“Saya tidak tahu. Mungkin seseorang memasukkannya.”
“Siapa?”
Dimas membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Rambo kembali menggeram.
Kali ini Dimas tidak berani membentaknya.
Polisi membawa Dimas ke kantor untuk dimintai keterangan. Pemakaman Nisa resmi ditunda sampai pemeriksaan forensik selesai.
Malam itu rumah kami terasa lebih sunyi daripada sebelumnya.
Ibu duduk di lantai dekat peti sambil memegang foto Nisa. Sejak petugas menemukan bekas suntikan, Ibu hampir tidak berbicara.
Aku sendiri tidak bisa menangis lagi.
Di kepalaku hanya ada satu pertanyaan.
Rekaman kamar Nisa.
Pesan di ponsel lama itu jelas mengatakan seseorang harus menghapusnya.
Tapi rekaman apa?
Nisa tidak pernah memasang kamera di kamarnya.
Setidaknya, itu yang kuketahui.
Aku masuk ke kamar Nisa bersama seorang polisi perempuan bernama Briptu Maya. Rambo mengikuti kami sampai ambang pintu.
Kami memeriksa meja, rak buku, lemari, bahkan bagian bawah tempat tidur.
Tidak ada kamera.
Sampai Rambo tiba-tiba berjalan menuju rak kecil di samping meja rias.
Ia mengendus sebuah boneka beruang cokelat yang selama ini diletakkan Nisa di sana.
Aku mengenal boneka itu.
Dimas memberikannya pada ulang tahun Nisa tiga bulan lalu.
Aku mengambilnya.
Ada sesuatu yang keras di bagian mata sebelah kiri.
“Mbak Maya.”
Polisi itu mendekat.
Ia membuka jahitan kecil di belakang kepala boneka.
Di dalamnya terdapat kamera mungil.
Aku merinding.
“Itu bukan milik Nisa,” bisikku.
Maya memeriksanya.
“Tidak ada kartu memori.”
Harapanku langsung jatuh.
Namun ketika boneka itu dibalik, terlihat stiker kecil berisi kode perangkat dan nama sebuah aplikasi penyimpanan cloud.
Polisi membawa kamera itu.
Malam semakin larut ketika Komisaris Arif meneleponku.
“Kameranya masih terhubung dengan akun.”
Aku berdiri dari kursi.
“Rekamannya ada?”
“Sebagian.”
Aku menahan napas.
“Ada aktivitas penghapusan sekitar empat jam setelah Nisa dinyatakan meninggal. Tapi tim kami berhasil memulihkan beberapa file.”
“Apa isinya?”
Arif terdiam beberapa detik.
“Kami ingin Anda dan ibu Anda datang besok pagi.”
Aku tidak tidur malam itu.
Rambo juga tidak.
Ia berbaring di depan peti Nisa, dagunya menempel pada lantai, matanya terbuka.
Sekitar pukul tiga pagi, aku duduk di sampingnya.
“Kamu lihat sesuatu malam itu, ya?”
Rambo mengangkat kepalanya.
Aku mengusap bulunya.
Nisa menemukan Rambo di pinggir jalan empat tahun lalu dalam keadaan kurus dan terluka. Sejak itu, anjing itu mengikuti Nisa ke mana pun.
Aku baru menyadari sesuatu.
Pada malam Nisa meninggal, Dimas mengatakan Rambo dikunci di halaman belakang karena terus menggonggong.
Siapa yang menguncinya?
Dimas.
Pagi harinya, Ibu dan aku pergi ke kantor polisi.
Kami diperlihatkan satu rekaman.
Tanggalnya malam sebelum Nisa meninggal.
Pukul 21.47.
Nisa masuk ke kamar sambil membawa laptop. Beberapa menit kemudian Dimas masuk.
Awalnya suara mereka tidak jelas.
Kemudian Nisa meninggikan suara.
“Aku tidak akan tanda tangan.”
Dimas berdiri di depan pintu.
“Kita akan menikah dua bulan lagi. Apa bedanya?”
“Bedanya itu uangku.”
“Nisa, aku calon suamimu.”
“Justru karena kamu calon suamiku, aku mau tahu kenapa kamu punya utang hampir delapan ratus juta.”
Tubuhku membeku.
Aku tidak pernah tahu soal itu.
Di rekaman, Dimas mencoba mengambil laptop.
Nisa mundur.
“Aku sudah cek semuanya,” katanya. “Pinjaman online, utang bisnis, bahkan uang yang kamu ambil dari rekening perusahaan ayahmu.”
“Jangan bicara sembarangan.”
“Aku juga sudah bicara dengan ayahmu.”
Wajah Dimas berubah.
Nisa melanjutkan.
“Aku membatalkan pernikahan.”
Dimas menatapnya hampir sepuluh detik.
Kemudian ia tersenyum.
Senyum itu membuat tengkukku dingin.
“Kamu akan menyesal.”
Ia keluar.
Rekaman berhenti.
File berikutnya berasal dari malam kematian Nisa.
Pukul 23.18.
Nisa sedang tidur.
Pintu terbuka perlahan.
Seseorang masuk.
Dimas.
Ia mengenakan sarung tangan medis.
Tangannya membawa sesuatu.
Sebuah alat suntik.
Ibu menjerit.
Aku memeluknya sebelum tubuhnya jatuh dari kursi.
Di layar, Dimas mendekati Nisa.
Namun sebelum ia melakukan apa pun, pintu kamar kembali terbuka.
Seseorang lain masuk.
Dokter Reza.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Reza memeriksa Nisa yang terbangun setengah sadar.
“Kalian mau apa?” suara Nisa terdengar lemah.
Dimas memegang kedua tangannya.
Reza menyuntikkan sesuatu di belakang telinganya.
Nisa berusaha melawan.
Hanya beberapa detik.
Lalu tubuhnya lemas.
Aku tidak sanggup melihat selanjutnya.
Namun Arif menghentikan rekaman sebelum bagian terakhir.
“Ada sesuatu yang perlu kalian ketahui.”
Ia menunjukkan hasil laboratorium awal.
Zat yang ditemukan dalam tubuh Nisa memang obat penenang veteriner, tetapi dosisnya tidak cukup untuk langsung membunuh orang dewasa sehat.
“Jadi Nisa tidak meninggal karena suntikan itu?” tanyaku.
“Tidak secara langsung.”
Aku menatapnya.
“Lalu karena apa?”
“Zat tersebut menyebabkan penurunan kesadaran dan menekan pernapasan. Pada seseorang dengan riwayat asma, risikonya jauh lebih tinggi. Tapi ada faktor lain.”
Arif memutar rekaman lagi.
Setelah Nisa kehilangan kesadaran, Dimas terlihat panik.
“Kenapa dia tidak bangun?”
Reza memeriksa denyut nadinya.
“Panggil ambulans.”
Dimas justru berkata, “Tidak.”
Reza menatapnya.
“Dia butuh rumah sakit.”
“Kalau dibawa ke rumah sakit, mereka akan menemukan obatnya.”
“Dimas, dia bisa mati.”
Dimas mondar-mandir.
Lalu terdengar gonggongan keras dari luar kamar.
Rambo.
Dimas keluar sebentar.
Ketika kembali, gonggongan itu terdengar semakin jauh.
Ia telah mengunci Rambo di halaman belakang.
Reza kembali memeriksa Nisa.
“Napasnya makin lemah.”
Dimas hanya berdiri.
“Kalau dia mati, bilang asmanya kambuh.”
Aku menutup mulut.
Jadi bukan hanya suntikan.
Nisa mungkin masih bisa diselamatkan.
Dimas memilih membiarkannya mati.
Polisi menangkap dokter Reza pagi itu juga.
Dimas masih bersikeras bahwa semuanya hanya kecelakaan.
Namun bukti berikutnya menghancurkan pembelaannya.
Riwayat pencarian di ponselnya menunjukkan ia berkali-kali mencari tentang pencairan asuransi jiwa setelah menikah, pemalsuan tanda tangan elektronik, serta efek obat penenang tertentu terhadap penderita gangguan pernapasan.
Polisi juga menemukan percakapan antara Dimas dan Reza.
Dimas memiliki utang besar kepada beberapa pemberi pinjaman ilegal. Ia berencana menikahi Nisa, mengubah penerima manfaat polis, kemudian menggunakan uang asuransi untuk melunasi utangnya.
Tetapi dua hari sebelum kematian, Nisa mengetahui semuanya.
Ia menolak menandatangani perubahan polis dan memutuskan pertunangan.
Malam itu Dimas datang dengan rencana membuat Nisa kehilangan kesadaran agar ia bisa mengambil laptop, dokumen, dan memalsukan tanda tangannya.
Reza membantu karena Dimas mengetahui rahasia lain miliknya.
Dokter itu diam-diam menjual obat-obatan klinik tanpa izin.
Mereka mengira Nisa hanya akan tertidur beberapa jam.
Namun ketika kondisinya memburuk, Dimas mengambil keputusan yang mengubah semuanya.
Ia tidak memanggil bantuan.
Ia membiarkannya.
Setelah Nisa meninggal, Reza membuat surat kematian dengan penyebab serangan asma.
Dimas kemudian mulai mendesak kami agar pemakaman dilakukan secepat mungkin.
Semua terasa masuk akal sekarang.
Semua kecuali satu hal.
“Kenapa kameranya ada di boneka pemberian Dimas?” tanyaku kepada Arif.
Penyidik itu tersenyum tipis.
“Itu juga yang awalnya membingungkan kami.”
Ternyata kamera itu memang dipasang Dimas.
Ia memasangnya untuk mengawasi Nisa.
Namun Nisa menemukannya beberapa minggu sebelum meninggal.
Alih-alih mencabut kamera, ia mengganti kata sandi akun cloud dan membiarkannya tetap menyala.
Nisa tahu Dimas mencurigakan.
Dan tanpa disadari Dimas, kamera yang ia pasang untuk mengawasi tunangannya justru merekam kejahatannya sendiri.
Tiga hari kemudian, jenazah Nisa akhirnya diizinkan dimakamkan.
Pagi itu langit mendung.
Tidak ada Dimas.
Tidak ada dokter Reza.
Hanya keluarga, beberapa sahabat Nisa, tetangga, dan Rambo.
Ketika peti hendak diturunkan, Rambo menarik talinya.
Aku sempat takut ia akan kembali menolak pergi.
Namun anjing itu hanya berjalan mendekati peti.
Ia menempelkan hidungnya pada permukaan kayu.
Tidak menggonggong.
Tidak menggeram.
Hanya diam.
Lalu perlahan ia duduk.
Ibu menangis.
Aku pun akhirnya menangis setelah berhari-hari menahan semuanya.
“Sudah, Rambo,” bisikku. “Kita pulang.”
Untuk pertama kalinya sejak Nisa meninggal, Rambo menurut.
Ia berdiri dan berjalan bersamaku meninggalkan makam.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Dua minggu kemudian, aku menerima email terjadwal dari akun Nisa.
Subjeknya hanya satu kata.
Rani.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Pesan itu dibuat tiga hari sebelum ia meninggal.
Nisa menulis bahwa jika aku menerima email tersebut, berarti ia tidak sempat membatalkan pengiriman otomatisnya.
Ia menceritakan kecurigaannya terhadap Dimas, soal utang, polis, dan kamera.
Tetapi bagian terakhir membuatku menangis lagi.
Nisa sudah mengubah penerima manfaat polisnya.
Bukan Dimas.
Bukan juga Ibu.
Polis itu dibatalkan sebagai asuransi pribadi beberapa hari sebelum kematiannya dan dialihkan ke sebuah skema donasi melalui yayasan perlindungan hewan tempat ia menjadi relawan.
Ia bahkan meninggalkan pesan khusus untukku.
Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan salahkan Rambo kalau dia jadi galak. Dia cuma tahu lebih cepat daripada kita siapa yang harus dia percaya.
Aku menatap Rambo yang sedang tidur di dekat kakiku.
Kemudian aku membaca kalimat terakhir.
Dan satu lagi, Kak. Kalau suatu hari aku tidak bisa pulang, tolong jangan biarkan Ibu merasa kehilangan dua anak sekaligus. Tetaplah hidup. Bukan hanya untuk mengenangku, tapi juga untuk dirimu sendiri.
Aku menutup laptop dan menangis sampai dadaku sakit.
Beberapa bulan kemudian, Dimas dan Reza resmi menjadi terdakwa. Proses hukumnya panjang, tetapi bukti digital, hasil toksikologi, serta rekaman kamera membuat apa yang terjadi malam itu tidak lagi bisa disembunyikan.
Rambo tinggal bersamaku dan Ibu.
Anehnya, setelah pemakaman Nisa, ia tidak pernah lagi tidur di depan pintu kamar adikku.
Suatu sore aku menemukan Rambo duduk di teras sambil menatap jalan.
Aku duduk di sebelahnya.
“Masih nunggu Nisa?”
Ia menoleh kepadaku, lalu meletakkan kepalanya di pahaku.
Saat itulah aku memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan.
Selama dua hari di depan peti itu, Rambo bukan menolak menerima kematian Nisa.
Ia sedang berjaga.
Ia mencium orang yang terakhir menyakiti tuannya.
Ia melihat wajah yang membuatnya dikunci ketika Nisa membutuhkan pertolongan.
Dan karena ia tidak bisa berbicara, ia melakukan satu-satunya hal yang mampu dilakukannya.
Ia berdiri di antara Nisa dan orang yang ingin mengubur kebenaran bersamanya.
Dimas hampir berhasil.
Ia punya surat kematian.
Ia punya dokter yang bersedia berbohong.
Ia punya rencana untuk mempercepat pemakaman.
Ia bahkan hampir menghapus rekaman terakhir Nisa.
Namun ia melupakan satu saksi yang tidak bisa disuap, diancam, atau dibujuk untuk diam.
Seekor anjing yang hanya tahu satu hal.
Orang yang dicintainya telah disakiti.
Dan sampai kebenaran ditemukan, Rambo tidak akan pergi.
