IBU TIRIKKU MEMBUANG KOPERKU KE HALAMAN SAAT AYAH PERGI, LALU PUTRINYA MENUNJUKKAN FOTO IBUKU DI DALAM BRANKAS KELUARGA MEREKA
“Angkat kopermu dan pergi dari rumah ini sebelum Papa pulang.”
Koperku jatuh tepat di depan kakiku.
Bu Vina berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin. Di belakangnya, putrinya, Selma, memegang ponsel sambil merekam semua yang terjadi.
Aku menatap koper itu beberapa detik sebelum mengangkat wajah.

“Papa sendiri yang membawaku ke rumah ini.”
“Dan aku sudah tinggal di rumah ini selama dua puluh tahun.”
Bu Vina melangkah mendekat.
“Jangan salah paham, Nayla. Hanya karena kamu anak kandung suamiku, bukan berarti kamu otomatis menjadi bagian dari keluarga kami.”
Aku membungkuk, mengambil koperku, lalu tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kenapa Ibu begitu takut kalau aku tinggal di sini?”
Wajah Bu Vina seketika berubah.
Selma bahkan berhenti merekam.
Tanpa mereka sadari, aku memasukkan tangan ke saku dan menyalakan perekam suara di ponselku.
Sebulan sebelumnya, Mama meninggal dunia di sebuah rumah kontrakan kecil di Semarang.
Tiga hari setelah pemakamannya, seorang pria bernama Hendra Wijaya datang menemuiku.
Dia membawa sebuah foto lama Mama ketika masih muda.
“Aku ayahmu.”
Aku tidak memeluknya.
Aku juga tidak menangis.
Selama dua puluh tahun, Mama selalu menghindar setiap kali aku bertanya siapa ayah kandungku.
Namun sebelum meninggal, Mama meninggalkan satu pesan yang tidak pernah bisa kulupakan.
“Kalau Hendra datang mencarimu, ikutlah dengannya. Tapi jangan percaya apa pun sebelum kamu menemukan map biru.”
Itulah alasan sebenarnya aku datang ke rumah keluarga Wijaya di Surabaya.
Bukan karena aku merindukan seorang ayah yang tidak pernah kukenal.
Aku datang untuk mencari map biru itu.
Suara mobil memasuki halaman tiba-tiba membuat Bu Vina panik.
“Cepat masukkan kembali kopernya!” bentaknya kepada Selma.
Selma buru-buru menyeret koperku masuk.
Beberapa detik kemudian, Papa membuka pintu rumah.
“Kalian sedang apa?”
Ekspresi Bu Vina langsung berubah. Senyum manis muncul di wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tidak ada apa-apa. Nayla tadi cuma mau membersihkan kopernya.”
Aku menatapnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Papa kemudian merangkul bahuku.
“Malam ini jangan pergi ke mana-mana. Kita akan makan malam bersama.”
“Kenapa?”
“Ada sesuatu yang ingin Papa umumkan.”
Malam itu, selain kami, hadir pula adik Papa, Pak Adrian, serta pengacara perusahaan keluarga.
Di tengah makan malam, Papa meletakkan sebuah map hitam di atas meja.
“Mulai bulan depan, Nayla akan magang di kantor pusat.”
Sendok di tangan Selma berhenti bergerak.
Senyum Bu Vina langsung menegang.
“Untuk apa?”
Papa menatapku.
“Untuk melihat apakah dia layak menjadi bagian dari perusahaan keluarga.”
Pak Adrian segera menyela.
“Mas, bukankah ini terlalu cepat?”
“Dia anakku.”
“Masalahnya bukan soal itu.”
Papa mengangkat tangan, menghentikan perdebatan.
“Kalau Nayla berhasil menyelesaikan program evaluasi selama tiga bulan, aku akan memberikan sebagian saham pribadiku kepadanya.”
Gelas di depan Bu Vina hampir terlepas dari tangannya.
Selma langsung berdiri.
“Papa serius?”
“Sangat serius.”
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya mengambil gelas air di depanku.
Namun di bawah meja, ponselku tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
JANGAN TERIMA SAHAM ITU. IBUMU PERNAH MENCOBA HAL YANG SAMA.
Aku langsung membalas.
Siapa ini?
Tidak ada jawaban.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Sekitar pukul satu dini hari, aku mendengar suara pelan dari lantai bawah.
Aku membuka pintu kamar perlahan dan berjalan menuju tangga.
Bu Vina dan Pak Adrian sedang berbicara di ruang kerja Papa.
“Kalau Hendra sampai membuka arsip lama, habislah kita,” bisik Pak Adrian.
Bu Vina segera menjawab.
“Arsip itu sudah kubuang.”
“Semua?”
Hening selama beberapa detik.
“Ada satu dokumen yang tidak kutemukan.”
Aku menahan napas.
Pak Adrian menurunkan suaranya.
“Yang warna biru?”
Jantungku seketika berdegup kencang.
Aku mundur sebelum mereka keluar dan menyadari keberadaanku.
Keesokan paginya, aku berpura-pura tidak mengetahui apa pun.
Saat Bu Vina pergi ke salon dan Papa berangkat ke kantor, aku mulai memeriksa seluruh rumah.
Laci ruang kerja.
Lemari dokumen.
Gudang belakang.
Tidak ada map biru.
Aku hampir menyerah ketika Selma tiba-tiba muncul di depan pintu ruang kerja.
“Kamu sedang mencari apa?”
Aku cepat-cepat menutup laci.
“Charger.”
Selma tertawa kecil.
“Cari charger di ruang kerja Papa?”
Aku menatap matanya.
“Kenapa? Kamu takut aku menemukan sesuatu?”
Selma berjalan mendekat.
“Aku tidak takut.”
Kemudian dia merendahkan suaranya.
“Tapi Mama takut.”
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan pergi.
Siang harinya, pesan lain masuk dari nomor misterius yang sama.
CEK REKENING PERUSAHAAN TAHUN 2006. NAMA IBUMU ADA DI SANA.
Aku langsung menuju kantor pusat dengan alasan ingin mengurus dokumen magang.
Dengan bantuan seorang staf keuangan lama yang mengenal Papa, aku berhasil meminta arsip transaksi perusahaan dari dua puluh tahun lalu.
Di sanalah aku menemukannya.
Satu transaksi bernilai sangat besar.
Rp2,8 miliar.
Tanggalnya tepat dua puluh tahun yang lalu.
Nama penerimanya membuat tubuhku membeku.
Maya Kusuma.
Nama Mama.
Namun keterangan transaksinya jauh lebih mengejutkan.
PEMBELIAN 30% SAHAM PENDIRI.
Tanganku gemetar ketika memotret dokumen tersebut.
Mama ternyata pernah membeli tiga puluh persen saham perusahaan keluarga Wijaya.
Kalau begitu, kenapa selama bertahun-tahun kami hidup dalam kemiskinan?
Apa yang sebenarnya terjadi dengan saham Mama?
Malamnya aku kembali ke rumah.
Selma sudah menungguku di tangga.
“Kamu pergi ke kantor, ya?”
Aku tidak menjawab.
Dia melirik ke arah kamar Bu Vina, memastikan ibunya tidak berada di sekitar kami.
Kemudian, tanpa peringatan, dia menarik tanganku.
“Kalau kamu benar-benar ingin tahu kenapa mamamu pergi dari keluarga ini, ikut aku.”
Selma membawaku ke kamar mendiang kakeknya di lantai tiga.
Di balik sebuah lemari tua terdapat brankas kecil yang tersembunyi di dinding.
Selma memasukkan kode.
Klik.
Pintu brankas terbuka.
Di dalamnya tersimpan beberapa sertifikat, amplop, dokumen lama, dan tumpukan foto.
Mataku langsung tertuju pada salah satu foto.
Aku membeku.
Mama berdiri di samping Papa.
Namun mereka tidak sendirian.
Bu Vina juga berada di sana.
Ketiganya berdiri di depan sebuah kantor notaris.
Aku membalik foto tersebut.
Di belakangnya tertulis sebuah tanggal.
Tanggal yang sama persis dengan transaksi Rp2,8 miliar.
Tanganku mulai gemetar.
Kemudian aku melihat sebuah amplop biru terselip di bawah tumpukan dokumen.
Aku menariknya keluar.
“Aku pernah melihat Mama mau membakar itu,” bisik Selma.
Aku menoleh kepadanya.
“Kenapa dia tidak jadi membakarnya?”
Selma menggeleng.
“Aku juga tidak tahu.”
Aku membuka amplop itu perlahan.
Baru separuh lembar pertama berhasil kutarik keluar ketika tiba-tiba pintu kamar dibanting terbuka.
BRAK!
Aku dan Selma menoleh bersamaan.
Papa berdiri di ambang pintu.
Wajahnya pucat pasi.
Namun tatapannya bukan tertuju kepadaku.
Bukan pula kepada Selma.
Matanya terpaku pada lembar pertama yang berada di tanganku.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat ketakutan yang nyata di wajah ayahku.
