Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamar kami.
Aku bisa mendengar napasku sendiri. Pendek, terburu-buru, seperti paru-paruku lupa bagaimana caranya bekerja dengan benar.
Fajar berdiri dari tempat tidur.
Wajahnya pucat.
Air mata masih menggantung di sudut matanya ketika ia mengangkat telunjuk ke bibir, memintaku diam.
Aku menatap amplop di tanganku.
“Jar,” bisikku. “Apa maksudmu orang di luar juga bernama Nadia?”
Ia tidak menjawab.
Dari balik pintu terdengar suara gesekan pelan.
Seperti ujung kuku menyentuh permukaan kayu.
Sekali.
Dua kali.
Lalu suara seorang perempuan terdengar.
“Fajar.”
Aku membeku.
Suara itu lirih, tetapi jelas.
Bukan suara orang tua.
Bukan pula suara anak kecil.
Suara perempuan dewasa.
“Fajar, buka pintunya.”
Fajar menutup mata.
Wajahnya seperti seseorang yang baru mendengar mimpi buruk masa kecilnya kembali menjadi nyata.
Aku berbisik, “Siapa dia?”
Ia menggeleng.
“Jangan jawab.”
“Dia siapa?”
“Nadia, kumohon.”
Suara dari luar kembali terdengar.
Kali ini lebih dekat.
“Fajar.”
Kemudian hening beberapa detik.
“Kenapa kamu membiarkan dia membuka laci itu?”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Aku menatap Fajar.
Perempuan di luar tahu.
Ia tahu aku baru saja membuka laci.
Fajar berjalan cepat ke arahku, meraih amplop dari tanganku, lalu memasukkannya kembali ke laci.
“Kita harus pergi.”
“Apa?”
“Sekarang.”
Ia membuka lemari lain, mengambil jaket dan sebuah tas kecil yang ternyata sudah berisi beberapa pakaian, dokumen, serta uang tunai.
Aku semakin bingung.
Tas itu seperti sudah disiapkan sejak lama.
“Fajar, jelaskan dulu.”
“Nanti.”
“Enggak. Sekarang.”
Ia memegang kedua bahuku.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang begitu murni di wajah suamiku.
“Kalau kamu masih percaya sedikit saja kepadaku, ikut aku keluar lewat jendela kamar mandi.”
Aku tertawa pendek karena gugup.
“Kita ada di lantai dua.”
“Ada kanopi di bawahnya.”
“Siapa perempuan itu?”
Fajar terdiam.
Dari luar terdengar suara gagang pintu bergerak.
Pelan.
Turun.
Naik lagi.
Untungnya pintu terkunci.
Fajar memandang ke arah sana sebelum akhirnya berkata,
“Dia kakakku.”
Aku tidak memahami jawabannya.
“Katamu kamu anak tunggal.”
“Aku bohong.”
“Kenapa?”
“Karena semua orang di keluargaku menganggap dia sudah meninggal.”
Suara di luar mendadak berhenti.
Aku merasa bulu kudukku berdiri.
“Kalau dia sudah meninggal, siapa yang ada di luar?”
Fajar menatapku.
“Itulah masalahnya.”
Aku menarik tanganku dari genggamannya.
“Jangan bicara seperti itu. Jangan buat aku semakin takut.”
“Namanya Nadia.”
Aku menelan ludah.
Fajar melanjutkan dengan suara gemetar.
“Dan wajah yang dicoret di foto itu adalah wajahnya.”
Aku tidak tahu mana yang lebih mengerikan, kenyataan bahwa ada seorang perempuan bernama sama denganku berdiri di luar kamar, atau kenyataan bahwa suamiku selama tiga tahun menyembunyikan keberadaan kakak yang seharusnya sudah meninggal.
“Kenapa namaku sama dengan dia?”
Fajar tidak sempat menjawab.
Tiba-tiba terdengar benturan keras.
BRAK.
Pintu kamar bergetar.
Aku menjerit kecil.
Fajar menarikku menuju kamar mandi.
Benturan kedua terdengar lebih keras.
BRAK.
“Kita keluar sekarang!”
Kami masuk kamar mandi. Fajar membuka jendela kecil di atas bak cuci. Ia lebih dulu keluar, menginjak kanopi seng di bawah, lalu membantuku turun.
Tanganku gemetar hebat.
Saat kakiku baru menyentuh kanopi, terdengar suara kayu pecah dari dalam kamar.
Pintu berhasil dibuka.
Fajar menarikku turun melalui sisi kanopi menuju halaman belakang.
Kami tidak melihat siapa pun.
Kami langsung berlari ke mobil.
Beberapa detik kemudian, mobil melaju meninggalkan rumah.
Aku menoleh ke belakang.
Di jendela kamar lantai dua, ada seorang perempuan berdiri memandang kami.
Rambutnya panjang.
Tubuhnya kurus.
Wajahnya tidak terlihat jelas karena gelap.
Tetapi ada sesuatu yang membuat darahku terasa dingin.
Ia mengenakan gaun berwarna pucat.
Mirip dengan gaun anak perempuan dalam foto.
Aku tidak berkata apa pun sampai mobil keluar dari kompleks perumahan.
Baru setelah kami memasuki jalan utama yang masih ramai meskipun sudah lewat tengah malam, aku bertanya,
“Kita mau ke mana?”
“Rumah ibuku.”
Aku menatapnya tajam.
“Dan kamu akan menjelaskan semuanya.”
Fajar mengangguk.
Sepanjang perjalanan, ia tidak berkata apa pun.
Rumah ibu Fajar berada hampir satu jam dari tempat kami tinggal, di sebuah kawasan lama di pinggiran Bogor.
Bu Ratih membuka pintu sekitar pukul satu lewat dua puluh menit.
Ketika melihat kami, wajahnya langsung berubah.
“Ada apa?”
Fajar hanya berkata,
“Nadia membuka laci.”
Gelas yang dipegang Bu Ratih jatuh ke lantai.
Pecahannya berhamburan.
Perempuan itu menatapku lama sekali.
Lalu ia bertanya,
“Kamu membaca suratnya?”
“Belum.”
Bu Ratih menutup wajah dengan kedua tangan.
“Ya Allah.”
Aku mulai kehilangan kesabaran.
“Bu, saya enggak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Tapi malam ini ada seorang perempuan datang ke rumah kami. Fajar bilang dia kakaknya. Namanya Nadia.”
Bu Ratih perlahan duduk.
Wajahnya tampak puluhan tahun lebih tua.
“Aku sudah bilang kepada Fajar, suatu hari semua ini harus diceritakan.”
Fajar menatap ibunya.
“Ibu juga yang dulu menyuruhku diam.”
“Karena waktu itu dia belum siap.”
Aku menyela.
“Siapa yang belum siap?”
Bu Ratih memandangku.
“Kamu.”
Ruangan langsung terasa semakin sempit.
Aku tertawa kecil.
“Kenapa semua orang bicara seolah-olah sudah mengenalku sebelum aku bertemu Fajar?”
Bu Ratih tidak menjawab.
Ia berdiri, berjalan ke sebuah lemari di ruang tengah, lalu mengambil kotak plastik tua.
Dari dalam kotak itu, ia mengeluarkan sebuah album.
Ia membuka halaman tertentu dan menyodorkannya kepadaku.
Aku melihat foto yang sama seperti di dalam laci.
Fajar kecil.
Neneknya.
Anak perempuan dengan wajah yang kini tidak dicoret.
Aku mendekat.
Lalu napasku berhenti.
Wajah anak perempuan itu membuat seluruh tubuhku dingin.
Ia mirip denganku.
Bukan sekadar mirip.
Mata.
Bentuk hidung.
Lengkungan bibir.
Bahkan tahi lalat kecil di bawah mata kiri.
Aku menyentuh wajahku sendiri.
Aku juga memiliki tahi lalat di tempat yang sama.
“Tidak mungkin.”
Bu Ratih menunduk.
“Namanya Nadia Larasati.”
Aku berbisik,
“Nama lengkap saya juga Nadia Larasati.”
Air mata mulai menggenang di mata Bu Ratih.
“Itu karena kamu memang dia.”
Aku mundur satu langkah.
“Apa?”
Fajar memejamkan mata.
Aku menatap mereka bergantian.
“Jangan bercanda.”
Bu Ratih menggeleng.
“Kamu bukan orang asing yang kebetulan memiliki nama sama. Kamu adalah anak perempuan dalam foto itu.”
Aku langsung menatap Fajar.
Ia tidak berani menatapku.
“Kamu tahu?”
Fajar diam.
“FAJAR, KAMU TAHU?”
“Sejak pertama kali kita bertemu.”
Rasanya seperti seluruh lantai di bawah kakiku menghilang.
Aku terduduk.
Tiga tahun pernikahan.
Lima tahun hubungan kami.
Semua percakapan.
Semua kenangan.
Tiba-tiba terasa seperti sebuah kebohongan panjang.
“Jelaskan.”
Bu Ratih menarik napas.
“Dua puluh dua tahun lalu, terjadi kebakaran di rumah nenek Fajar.”
Ia menunjuk rumah tua dalam foto.
“Nadia saat itu berusia delapan tahun. Setelah kebakaran, dia hilang.”
“Bukan meninggal?”
“Kami tidak pernah menemukan jasadnya.”
“Lalu kenapa semua orang bilang dia meninggal?”
“Karena polisi akhirnya menghentikan pencarian.”
Bu Ratih mulai menangis.
“Beberapa bulan kemudian, nenek menerima surat tanpa nama. Surat itu bilang Nadia masih hidup, tapi jangan pernah mencarinya.”
Aku mulai merasa mual.
“Siapa yang mengirim?”
“Kami tidak tahu.”
Aku mencoba mengingat masa kecilku.
Yang muncul hanya potongan-potongan kabur.
Panti asuhan.
Seorang perempuan bernama Bu Mira yang kemudian menjadi ibu angkatku.
Sekolah dasar di Bandung.
Aku tidak pernah memiliki ingatan jelas sebelum usia delapan atau sembilan tahun.
Bu Mira selalu mengatakan aku mengalami trauma setelah kecelakaan.
Dan aku mempercayainya.
“Kenapa saya tidak ingat?”
Bu Ratih menjawab,
“Kamu mengalami amnesia.”
Aku menatap Fajar.
“Lalu kamu menemukanku bagaimana?”
“Waktu kuliah.”
Suara Fajar hampir tidak terdengar.
“Aku melihatmu di sebuah seminar. Awalnya aku hanya merasa wajahmu familiar. Kemudian aku melihat tahi lalat itu.”
Ia tersenyum pahit.
“Aku pulang dan membuka album lama.”

“Jadi kamu tahu aku kakakmu?”
Fajar langsung menggeleng.
“Bukan kakak kandung.”
Aku membeku.
Bu Ratih berkata,
“Fajar diadopsi.”
Aku menatapnya.
“Kami mengadopsi Fajar ketika dia berusia dua tahun. Nadia satu-satunya anak kandungku.”
Ruangan kembali hening.
Aku mencoba memahami semuanya.
Fajar bukan adikku secara biologis.
Namun ia tumbuh bersamaku.
Ia mengingatku.
Aku tidak mengingatnya.
“Lalu kenapa kamu menikah denganku?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Fajar terlihat terpukul.
“Awalnya aku mendekat karena ingin memastikan siapa kamu. Aku tidak langsung yakin.”
“Lalu?”
“Aku meminta tes DNA diam-diam.”
Aku menatapnya dengan jijik bercampur sakit hati.
“Kamu mencuri sampel DNA-ku?”
“Rambut dari sisirmu.”
“Hasilnya?”
Fajar memandang ibunya.
Bu Ratih menjawab,
“Kamu anakku.”
Air matanya jatuh.
“Seratus persen.”
Aku merasa ingin muntah.
“Berarti kalian tahu aku masih hidup.”
“Iya.”
“Kenapa tidak pernah memberitahuku?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku berdiri.
“Kenapa?”
Bu Ratih menangis semakin keras.
Fajar akhirnya berkata,
“Karena nenek melarang.”
“Nenekmu sudah meninggal sebelum kita menikah.”
“Dia meninggalkan surat.”
“Surat dalam amplop itu?”
Fajar mengangguk.
Aku langsung teringat pesan di belakang foto.
Kalau Nadia sudah menemukan ini, jangan biarkan dia melihat isi amplop.
“Isinya apa?”
Fajar menggeleng.
“Aku tidak pernah membukanya.”
“Kamu bohong lagi.”
“Demi Allah, kali ini tidak.”
Bu Ratih terlihat pucat.
“Ibu pernah membacanya.”
Aku menatapnya.
“Apa isinya?”
Bu Ratih tidak langsung menjawab.
Ia bangkit, mengambil ponselnya, lalu menelepon seseorang.
“Bu Mira,” katanya ketika panggilan tersambung. “Nadia sudah tahu.”
Aku mengenali nama itu.
“Ibu angkat saya?”
Bu Ratih mengaktifkan speaker.
Suara perempuan di seberang langsung terdengar panik.
“Ratih, jangan kasih tahu semuanya malam ini.”
Aku meraih ponsel.
“Bu.”
Hening.
“Nadia?”
“Kenapa Ibu bohong tentang masa kecilku?”
Suara Bu Mira bergetar.
“Nadia, dengarkan Ibu.”
“Siapa perempuan yang datang ke rumah saya malam ini?”
Semua orang terdiam.
Aku mendengar Bu Mira menarik napas panjang.
Kemudian ia berkata,
“Itu bukan kakak Fajar.”
Aku menatap Fajar.
Ia terlihat sama bingungnya.
“Lalu siapa?”
“Namanya bukan Nadia.”
“Dia bilang namanya Nadia.”
“Karena selama bertahun-tahun dia memakai identitasmu.”
Aku merasa tengkukku dingin.
Bu Mira melanjutkan.
“Perempuan itu bernama Sinta.”
Nama itu tidak berarti apa pun bagiku.
Namun Fajar mendadak berdiri.
“Sinta masih hidup?”
Bu Ratih menutup mulut.
Aku semakin bingung.
“Siapa Sinta?”
Bu Mira berkata,
“Anak perempuan yang menyebabkan kebakaran itu.”
Potongan-potongan kecil mendadak muncul di kepalaku.
Api.
Asap.
Suara kaca pecah.
Seorang anak perempuan menangis.
Aku memegang kepala.
“Nadia?”
Aku tidak menjawab.
Sebuah gambaran datang begitu cepat.
Aku berlari di lorong rumah tua.
Tanganku ditarik seseorang.
Seorang anak perempuan berbisik,
“Kalau mereka tahu, kita akan dipisahkan.”
Aku membuka mata.
“Sinta siapa?”
Bu Ratih menjawab,
“Anak pembantu rumah tangga nenekmu.”
Kami seumuran.
Kami tumbuh bersama hampir seperti saudara.
Malam kebakaran, Sinta bermain dengan korek api di gudang belakang. Api menyebar terlalu cepat.
Kami berdua terjebak.
Nenek berhasil menyelamatkan Fajar.
Sementara aku dan Sinta keluar melalui pintu belakang.
Namun setelah itu kami menghilang.
“Kenapa?”
Bu Mira berkata,
“Ibu kandung Sinta panik. Dia takut dituduh menyebabkan kebakaran. Jadi malam itu dia membawa kalian berdua kabur.”
Aku merasa seluruh masa laluku perlahan terbuka seperti luka lama.
“Ibu menemukan kami?”
“Beberapa bulan kemudian. Ibu bekerja sebagai relawan di sebuah yayasan. Kamu ditemukan sendirian di terminal, demam tinggi, tidak mengingat siapa pun.”
“Dan Sinta?”
“Hilang.”
Aku duduk kembali.
“Lalu kenapa dia memakai identitasku?”
Bu Mira menjawab,
“Karena ibunya membawa akta kelahiranmu ketika kabur.”
Keheningan terasa menyesakkan.
Kini semuanya mulai masuk akal.
Ada seseorang di luar sana yang selama puluhan tahun hidup menggunakan namaku.
“Kenapa dia datang sekarang?”
Tidak ada yang tahu.
Tiba-tiba ponsel Fajar berdering.
Nomor tidak dikenal.
Ia tidak mengangkatnya.
Pesan masuk.
Fajar membukanya.
Wajahnya langsung berubah.
“Apa?”
Ia menunjukkan layar kepadaku.
Ada foto.
Foto rumah kami.
Diambil beberapa menit lalu.
Di bawahnya tertulis satu kalimat.
Kembalikan surat nenek kepadaku, atau besok semua orang akan tahu siapa sebenarnya Nadia.
Aku menelan ludah.
“Dia menginginkan amplop.”
Fajar mengangguk.
Aku berdiri.
“Berarti kita harus kembali.”
“Tidak.”
“Apa pun yang ada dalam amplop itu adalah alasan dia muncul.”
“Kita panggil polisi.”
Aku menggeleng.
“Kalau kita panggil polisi sekarang, kita bahkan belum tahu tuduhan apa yang akan dibuat.”
Bu Ratih menatapku.
“Kamu benar-benar mau kembali?”
Aku memandangnya.
“Selama dua puluh tahun, semua orang memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh kuketahui tentang hidupku.”
Aku mengambil kunci mobil dari meja.
“Sekarang aku mau tahu semuanya.”
Kami kembali ke rumah menjelang pukul tiga pagi.
Polisi sudah kami hubungi diam-diam dan diminta menunggu beberapa rumah dari lokasi.
Pintu depan rumah terbuka.
Lampu ruang tamu menyala.
Padahal Fajar selalu mematikannya tepat pukul sebelas.
Seorang perempuan duduk di sofa.
Untuk pertama kalinya, aku melihat wajahnya dengan jelas.
Usianya kira-kira sama denganku.
Dan aku langsung mengerti sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari.
Kami mirip.
Bukan karena darah.
Melainkan karena seseorang telah berusaha bertahun-tahun membuat dirinya mirip denganku.
Potongan rambut.
Bentuk alis.
Bahkan tahi lalat palsu di bawah mata kiri.
Perempuan itu tersenyum.
“Halo, Nadia.”
Aku menggenggam amplop.
“Kamu Sinta?”
Senyumnya lenyap.
“Jangan panggil aku begitu.”
“Itu namamu.”
“Bukan.”
“Lalu siapa kamu?”
Ia menunjukku.
“Kamulah yang mencuri namaku.”
Aku terdiam.
Sinta berdiri.
“Sejak kecil, semua orang memilihmu. Nenekmu memilihmu. Fajar memilihmu. Bahkan setelah kau hilang, mereka tetap mencarimu.”
Ia tertawa pahit.
“Sedangkan aku? Anak pembantu. Anak yang dianggap membawa sial.”
“Kebakaran itu kecelakaan.”
“Bukan.”
Aku membeku.
Sinta tersenyum.
“Aku sengaja membakarnya.”
Fajar bergerak maju, tetapi aku menahan tangannya.
“Kenapa?”
“Karena malam itu aku mendengar ibumu mau memecat ibuku.”
Bu Ratih yang berdiri di belakang kami terisak.
Sinta melanjutkan.
“Aku cuma mau menakut-nakuti kalian. Tapi apinya terlalu besar.”
“Apa isi surat nenek?”
Tatapannya langsung berpindah ke amplop.
“Itu milikku.”
“Kalau begitu kamu tahu isinya.”
“Berikan.”
Aku merobek amplop.
Sinta berteriak.
“JANGAN!”
Aku menarik beberapa lembar kertas.
Tanganku gemetar saat membaca baris pertama.
Nadia, kalau suatu hari kamu membaca ini, berarti ingatanmu mungkin belum kembali, tetapi kebenaran akhirnya menemukan jalan pulang.
Aku membaca cepat.
Nenek menjelaskan kebakaran.
Sinta.
Ibu Sinta.
Pelarian kami.
Namun bagian terakhir membuatku terpaku.
Jika suatu hari Sinta datang dan mengatakan bahwa dia adalah kamu, jangan membencinya. Dialah yang menyelamatkan hidupmu malam itu.
Aku mengangkat kepala.
Sinta menangis.
“Apa maksudnya?”
Ia tidak menjawab.
Aku melanjutkan membaca.
Setelah membakar gudang, Sinta menyadari Nadia terjebak di kamar. Ia kembali masuk ke rumah yang sudah terbakar dan menarik Nadia keluar melalui jendela dapur. Tangannya terbakar parah karena itu.
Aku menatap tangan Sinta.
Selama ini ia mengenakan lengan panjang.
Perlahan, ia menarik kainnya.
Bekas luka bakar memenuhi lengan kanannya.
Air mataku jatuh tanpa sadar.
“Kamu menyelamatkanku.”
Sinta tertawa sambil menangis.
“Aku juga yang hampir membunuhmu.”
Suara sirene mendekat.
Sinta menoleh ke jendela.
“Kamu panggil polisi?”
Aku tidak menjawab.
Ia mundur.
“Kamu sama seperti mereka.”
“Sinta.”
“Jangan panggil aku begitu.”
Aku mendekatinya.
“Kamu bisa memiliki hidupmu sendiri.”
Ia menggeleng.
“Aku bahkan tidak tahu siapa aku.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
Selama bertahun-tahun, aku juga tidak tahu siapa diriku.
Bedanya, aku diberi kesempatan memulai hidup baru.
Sinta hidup terperangkap dalam kesalahan yang ia buat ketika masih kecil.
Polisi masuk beberapa detik kemudian.
Sinta tidak melawan.
Sebelum dibawa pergi, ia menoleh kepadaku.
“Fajar benar-benar mencintaimu?”
Aku menatap suamiku.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak tahu jawabannya.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan membuka banyak hal.
Identitas palsu yang digunakan Sinta.
Dokumen-dokumen lama.
Kebakaran yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Aku menjalani tes DNA kedua.
Hasilnya sama.
Bu Ratih memang ibu kandungku.
Aku juga memulai terapi untuk mencoba memahami potongan-potongan ingatan masa kecil yang perlahan kembali.
Namun ada satu keputusan yang paling sulit.
Aku meminta Fajar pergi dari rumah.
Bukan karena kami memiliki hubungan darah.
Kami tidak.
Bukan pula karena aku berhenti mencintainya.
Aku hanya tidak tahu bagaimana melanjutkan pernikahan dengan seseorang yang mendekatiku sejak awal sambil menyimpan kebenaran sebesar itu.
“Aku takut kehilanganmu,” katanya ketika mengemasi pakaian.
Aku menjawab,
“Dan karena takut kehilangan aku, kamu membuatku kehilangan hak untuk mengetahui siapa diriku.”
Fajar menangis.
Aku juga.
Tetapi kali ini aku tidak menahannya.
Enam bulan kemudian, laci tua itu masih berada di kamar.
Aku tidak membuangnya.
Aku juga tidak menguncinya lagi.
Di dalamnya kini hanya ada foto lama yang wajahnya tidak lagi dicoret.
Aku.
Fajar kecil.
Nenek.
Dan di belakang kami, Sinta.
Beberapa minggu lalu, aku menerima surat dari lembaga pemasyarakatan.
Tulisan pertama di halaman itu membuatku menangis.
Namaku Sinta.
Bukan Nadia.
Aku sedang belajar menerima itu.
Aku membaca suratnya sampai selesai.
Di bagian terakhir, ia menulis,
Mungkin kita berdua menghabiskan terlalu banyak waktu hidup memakai cerita yang dibuat orang lain. Kalau suatu hari aku keluar dari sini, aku tidak ingin menjadi kamu lagi. Aku cuma ingin tahu apakah masih mungkin menjadi diriku sendiri.
Aku melipat surat itu dan menyimpannya di dalam laci.
Untuk pertama kalinya, aku merasa laci tersebut tidak lagi menyimpan rahasia.
Hanya masa lalu.
Dan aku akhirnya memahami sesuatu yang nenek mungkin ingin kami ketahui sejak awal.
Rahasia tidak benar-benar melindungi seseorang.
Rahasia hanya menunda rasa sakit sampai suatu hari rasa sakit itu tumbuh terlalu besar untuk disembunyikan.
Malam itu, tepat pukul sebelas, aku duduk sendirian di ruang tamu.
Biasanya Fajar akan mematikan lampu pada jam tersebut.
Aku membiarkannya tetap menyala.
Pintu belakang hanya kuperiksa sekali.
Tidak dua kali.
Kemudian aku berjalan menuju kamar.
Di depan lemari, aku berhenti.
Laci tua itu terbuka sedikit.
Aku yakin tadi sudah menutupnya.
Aku menariknya.
Di atas surat Sinta terdapat sebuah foto yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Foto dua anak perempuan berusia sekitar delapan tahun sedang berpelukan di depan rumah nenek.
Aku dan Sinta.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan kecil.
Bukan tulisan nenek.
Bukan tulisan Fajar.
Aku mengenal tulisan itu.
Tulisan masa kecilku sendiri.
Sinta bilang kalau suatu hari aku lupa siapa diriku, dia akan mengingatkanku.
Aku berdiri diam cukup lama.
Lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, satu ingatan kembali dengan sangat jelas.
Malam kebakaran itu.
Sinta menggenggam tanganku sambil menangis.
Api membesar di belakang kami.
Aku ketakutan dan tidak mau berlari.
Lalu Sinta berteriak kepadaku,
“Nadia, lihat aku. Jangan lihat apinya. Lihat aku.”
Aku memejamkan mata.
Air mata mengalir.
Selama ini aku mengira pertanyaan terbesar dalam hidupku adalah siapa perempuan yang tinggal di luar kamar malam itu.
Ternyata bukan itu.
Pertanyaan sebenarnya adalah siapa diriku sebelum semua orang mulai menentukan jawabannya untukku.
Kini aku tahu.
Namaku Nadia Larasati.
Aku adalah anak yang pernah hilang.
Perempuan yang pernah hidup tanpa masa lalu.
Istri yang dicintai dengan cara yang salah.
Dan seseorang yang akhirnya memilih hidup bukan berdasarkan rahasia orang lain, melainkan berdasarkan kebenarannya sendiri.
