Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri memandangi ujung kertas kuning pucat yang menyembul dari saku jas Arga.
Mungkin hanya beberapa detik.
Namun rasanya seperti seluruh sepuluh tahun pernikahan kami diputar ulang dalam kepalaku sekaligus.
Aku maju satu langkah.
“Berikan kertas itu.”
Arga mundur.
“Laila, ini bukan tempatnya.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Bukan tempatnya?
Setelah bertahun-tahun dia membohongiku, setelah perempuan yang selama ini kukira sebagai selingkuhannya berdiri menangis di depanku, setelah perceraian kami baru saja disahkan beberapa menit lalu, dia masih berani menentukan kapan aku pantas mengetahui kebenaran?
“Berikan.”
Nada suaraku kali ini membuat Arga diam.
Naya menatap kami bergantian.
“Apa itu?”
Arga tidak menjawab.
Aku mengulurkan tangan.
Ketika dia tetap tidak bergerak, aku meraih kertas itu sendiri dari sakunya.
Arga sempat mencoba menahanku, tetapi aku sudah menariknya keluar.
Kertas itu terlipat empat.
Sudut-sudutnya menguning.
Ada bekas lembap di salah satu sisinya.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Begitu lipatan terakhir terbuka, napasku langsung tercekat.
Aku mengenali setiap kalimat di sana.
Surat itu kutulis sepuluh tahun lalu.
Tiga minggu setelah pernikahanku dengan Arga.
Saat itu kami masih tinggal di rumah kontrakan kecil di Depok. Uang kami pas-pasan. Aku baru keluar dari pekerjaan karena harus merawat ibuku yang sakit, sementara usaha Arga nyaris bangkrut karena ditipu rekan bisnisnya.
Aku masih ingat malam ketika surat itu kutulis.
Arga tertidur di lantai ruang tamu karena kelelahan.
Aku duduk sendirian di meja makan dan membuat keputusan yang kukira akan menyelamatkan rumah tangga kami.
Tanganku semakin dingin ketika membaca baris terakhir.
Aku, Laila Prameswari, dengan sadar menyerahkan seluruh hak atas dana warisan dari almarhum ayahku kepada suamiku, Arga Mahendra, untuk digunakan sebagai modal usaha keluarga, dengan syarat kepemilikan perusahaan dan seluruh aset yang berkembang dari dana tersebut tetap menjadi milik bersama selama pernikahan berlangsung.
Aku menatap Arga.
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
“Ini seharusnya ada di kotak kayu.”
Arga tidak menjawab.
Aku memandangi tanda tanganku di bagian bawah surat.
Di bawahnya ada tanda tangan Arga.
Dan tanda tangan seorang saksi.
Pak Hendra.
Kakak kandung mendiang ayahku.
Naya terlihat kebingungan.
“Apa maksudnya?”
Aku tidak langsung menjawab.
Pikiranku bekerja cepat.
Sepuluh tahun lalu, aku menerima warisan berupa deposito dan sebidang tanah dari ayahku. Nilainya pada masa itu sekitar satu miliar rupiah.
Hampir semuanya kuberikan kepada Arga.
Dia menggunakan uang itu untuk membangun perusahaan distribusi alat kesehatan yang sekarang memiliki kantor cabang di tiga kota.
Perusahaan yang selama bertahun-tahun selalu disebut Arga sebagai hasil kerja kerasnya sendiri.
Perusahaan yang menurut dokumen perceraian hampir seluruh sahamnya sudah tidak lagi atas namanya.
Aku menatap Arga dengan tubuh membeku.
“Jadi itu sebabnya.”
Arga memejamkan mata.
“Apa?”
“Dua tahun terakhir kamu terus bilang perusahaan sedang bermasalah.”
“Memang bermasalah.”
“Lalu kamu memindahkan aset.”
Dia langsung membuka mata.
Naya ikut menoleh kepadanya.
“Aset apa?”
Aku mulai memahami potongan-potongan yang selama ini tidak pernah cocok.
Rumah kami dijual kepada sebuah perusahaan investasi.
Mobil dipindahkan atas nama perusahaan.
Saham Arga berkurang drastis.
Bahkan dalam proses perceraian, pengacaranya menunjukkan laporan bahwa penghasilan Arga menurun hampir enam puluh persen.
Aku pikir dia sedang mengalami kesulitan bisnis.
Ternyata bukan.
“Kamu sengaja membuat dirimu terlihat tidak punya apa-apa sebelum menceraikanku.”
“Laila, dengarkan dulu.”
“Supaya aku tidak bisa menuntut bagian dari aset yang dibangun menggunakan uang warisanku.”
Naya menutup mulutnya.
Arga menggeleng cepat.
“Itu tidak sesederhana itu.”
Aku hampir tidak mengenali suaraku sendiri ketika berkata,
“Lalu sesederhana apa?”
Arga menatap pintu ruang sidang, mungkin berharap seseorang datang menyelamatkannya.
Tidak ada.
Naya tiba-tiba berkata pelan,
“Perusahaan itu sekarang atas nama siapa?”
Arga diam.
Aku menoleh kepadanya.
Naya terlihat semakin pucat.
“Arga.”
“Jangan ikut campur.”
“Aku tanya, perusahaan itu sekarang atas nama siapa?”
“Naya.”
“Jawab!”
Bentakannya membuatku terkejut.
Untuk pertama kalinya, Naya tidak terlihat seperti perempuan yang selama ini kubenci.
Dia terlihat seperti seseorang yang baru menyadari dirinya berdiri di tepi jurang.
Arga akhirnya berkata,
“Sebagian saham sudah dialihkan.”
“Kepada siapa?”
Arga tidak menjawab.
Wajah Naya berubah.
“Kepada aku?”
Aku menatapnya.
Naya mundur satu langkah.
“Tidak.”
Dia menggeleng berulang kali.
“Kamu bilang saham yang kamu masukkan atas namaku cuma untuk restrukturisasi perusahaan.”
Arga langsung mendekatinya.
“Naya, kita bicarakan di rumah.”
Naya menjauh.
“Kamu bilang itu sementara.”
Aku merasakan sesuatu yang lebih buruk mulai terbentuk.
“Naya, berapa persen saham yang atas namamu?”

Naya menatapku.
“Empat puluh lima persen.”
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit.
Arga memindahkan hampir setengah perusahaan kepada Naya.
Perempuan yang selama ini dikira semua orang sebagai kekasih gelapnya.
Namun sekarang aku mulai memahami kenapa dia melakukannya.
Bukan karena cinta.
Karena Naya adalah tempat persembunyian.
“Dan sisanya?” tanyaku.
Naya menelan ludah.
“Sebagian atas nama adik Arga. Sebagian lagi perusahaan cangkang yang katanya milik investor.”
Aku menatap Arga.
“Kamu merencanakan semuanya.”
“Aku melindungi perusahaan.”
“Dari siapa?”
“Dari kehancuran.”
“Bukan.”
Aku melangkah mendekatinya.
“Kamu melindungi perusahaan dariku.”
Arga diam.
Diamnya adalah jawaban.
Naya mulai menangis lagi.
“Ada satu hal lagi.”
Arga segera berbalik.
“Naya, jangan.”
Kali ini Naya justru mengeluarkan ponsel cadangan kecil dari tasnya.
Aku baru sadar ponsel yang tadi direbut Arga ternyata bukan satu-satunya.
“Aku membuat salinan.”
“Naya!”
Naya membuka rekaman suara.
Suara Arga terdengar jelas.
Aku mengenalnya terlalu baik untuk meragukannya.
“Setelah perceraian selesai, Laila tidak akan punya dasar kuat lagi. Surat aslinya sudah aku ambil. Dokumen perusahaan juga sudah aman. Tinggal beberapa bulan, nanti saham di namamu kita pindahkan lagi.”
Lalu suara Naya terdengar.
“Kalau dia menggugat?”
Arga tertawa.
“Dia tidak akan tahu.”
Rekaman berhenti.
Aku tidak bisa bergerak.
Selama ini aku pikir pengkhianatan terbesar Arga adalah mencintai perempuan lain.
Ternyata aku salah.
Pengkhianatannya jauh lebih sistematis.
Dia menggunakan cintaku untuk membangun hidupnya.
Lalu menggunakan perselingkuhan untuk membuatku lelah.
Membuatku merasa bersalah.
Mendorongku mengajukan perceraian.
Dan diam-diam menyingkirkan semua jejak yang bisa membuktikan hakku.
“Kamu sengaja membuatku membencimu,” kataku.
Arga menatapku.
Aku hampir bisa melihat jawabannya sebelum dia bicara.
“Aku tidak punya pilihan.”
Aku tertawa pendek.
“Kamu selalu punya pilihan.”
“Perusahaan itu sudah terlalu besar. Ada ratusan pegawai. Kalau aset dibagi—”
“Jangan bawa pegawai untuk membenarkan pencurianmu.”
“Aku yang mengembangkan perusahaan itu!”
“Dengan uang siapa kamu memulainya?”
Dia terdiam.
Aku menunjuk surat di tanganku.
“Dengan uang ayahku.”
Arga mengepalkan rahang.
“Aku bekerja sepuluh tahun untuk semuanya.”
“Dan aku menghabiskan sepuluh tahun mendukungmu.”
Aku tidak berteriak lagi.
Justru suaraku menjadi sangat tenang.
“Ketika kamu pulang jam dua pagi, siapa yang menunggumu?”
Arga diam.
“Ketika perusahaan hampir bangkrut tahun ketiga, siapa yang menjual perhiasan ibunya supaya kamu bisa membayar gaji karyawan?”
Wajahnya berubah.
“Ketika kamu sakit dan harus operasi, siapa yang menjaga kantor selama tiga bulan?”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Aku.”
Mataku panas, tetapi kali ini aku tidak menahan air mata.
“Dan balasanmu adalah membuatku percaya aku tidak cukup baik sebagai istri.”
Arga membuang muka.
Naya menunduk sambil menangis.
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu memberitahuku?”
Pertanyaan itu membuatnya mengangkat wajah.
“Karena tiga hari lalu aku tahu sesuatu.”
“Apa?”
Naya mengusap pipinya.
“Arga tidak pernah berniat hidup denganku setelah perceraian.”
Arga langsung berkata, “Itu tidak benar.”
Naya tertawa pahit.
“Aku menemukan tiket pesawat.”
Aku menoleh.
“Ke Singapura.”
Wajah Arga langsung pucat.
“Sekali jalan,” lanjut Naya. “Atas nama Arga. Dan seorang perempuan bernama Selena Wijaya.”
Aku bahkan tidak mengenal nama itu.
Naya menjelaskan dengan suara bergetar.
“Dia direktur perusahaan investasi yang menerima beberapa aset Arga.”
Aku menatap mantan suamiku.
Jadi bahkan Naya bukan tujuan akhirnya.
Dia hanya alat.
Seperti aku.
Arga mulai kehilangan ketenangannya.
“Selena itu urusan bisnis.”
Naya menggeleng.
“Aku melihat pesan kalian.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku tiba-tiba merasa lelah.
Bukan lelah karena marah.
Melainkan karena akhirnya melihat sosok Arga dengan jelas.
Selama sepuluh tahun, aku terus mencoba mencari penjelasan yang rumit untuk perilakunya.
Mungkin dia tidak bahagia.
Mungkin kami tidak cocok.
Mungkin aku berubah.
Ternyata jawabannya jauh lebih sederhana.
Arga hanya selalu memilih dirinya sendiri.
Naya perlahan mendekatiku.
Lalu, tanpa peringatan, dia berlutut.
Aku terkejut.
“Kak Laila, maafkan aku.”
“Naya, berdiri.”
“Aku tahu aku tetap salah.”
Dia menangis semakin keras.
“Aku masuk ke hubungan kalian. Aku percaya cerita dia tanpa pernah bertanya langsung kepada Kakak. Aku bahkan pernah merasa bangga karena mengira dia memilihku.”
Aku menunduk menatapnya.
Ada masa ketika aku membayangkan bertemu Naya dan menamparnya.
Ada masa ketika aku berharap dia merasakan sakit yang kurasakan.
Namun sekarang perempuan itu berlutut di depanku, dan anehnya aku tidak merasa menang.
Yang kurasakan hanya sedih.
Karena kami berdua sama-sama membuang bertahun-tahun hidup kami untuk seorang pria yang bahkan tidak pernah benar-benar memilih salah satu dari kami.
“Berdiri,” kataku lagi.
Naya menurut.
Lalu dia menggenggam tanganku.
Saat itulah aku merasakan sesuatu diselipkan ke telapak tanganku.
Sebuah benda kecil.
Flashdisk hitam.
Dia berbisik sangat pelan,
“Semua ada di sini.”
Aku menatapnya.
“Semua apa?”
“Rekaman. Surat elektronik. Bukti transfer. Dokumen pemindahan saham. Percakapan Arga dengan Selena. Aku simpan semuanya.”
Arga langsung bergerak.
“Apa yang kamu lakukan?”
Aku cepat-cepat memasukkan flashdisk itu ke dalam tasku.
Wajah Arga berubah total.
Untuk pertama kalinya hari itu, pria itu tampak benar-benar ketakutan.
“Laila, jangan lakukan sesuatu yang akan kamu sesali.”
Aku menatapnya lama.
Sepuluh tahun lalu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatku takut.
Hari itu tidak lagi.
“Aku sudah melakukan hal yang kusesali selama sepuluh tahun.”
Aku tersenyum tipis.
“Mempercayaimu.”
Aku keluar dari ruang sidang tanpa menoleh lagi.
Aku tidak langsung pulang.
Di parkiran pengadilan, tanganku masih gemetar ketika menelepon satu-satunya orang yang terpikir olehku.
Pak Hendra.
Paman yang menjadi saksi surat sepuluh tahun lalu.
Begitu mendengar suaraku, dia diam cukup lama.
“Paman,” kataku, “surat yang dulu kita tanda tangani masih punya salinan?”
Ada jeda.
Lalu dia menjawab,
“Bukan cuma salinan.”
Jantungku berdetak cepat.
“Apa maksud Paman?”
“Dulu ayahmu tidak percaya Arga sepenuhnya.”
Aku menahan napas.
“Tiga bulan sebelum meninggal, ayahmu meminta notaris membuat akta mengenai dana warisanmu. Surat tulisan tanganmu hanya pelengkap.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
“Karena ayahmu bilang baru beritahu kalau suatu hari Arga mencoba mengambil semuanya darimu.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena Arga.
Karena ayahku.
Ternyata bahkan setelah pergi, dia masih berusaha melindungiku.
Dua minggu kemudian, pengacaraku mengajukan gugatan baru.
Bukan untuk membatalkan perceraian.
Aku tidak menginginkan pernikahan itu kembali.
Kami menggugat pemindahan aset yang dilakukan Arga karena indikasi penggelapan harta bersama dan transaksi yang dilakukan untuk menghindari pembagian hak.
Flashdisk Naya menjadi salah satu bukti utama.
Namun kejutan terbesar datang dari audit perusahaan.
Dana yang dipindahkan Arga bukan hanya aset pernikahan kami.
Ada juga uang perusahaan yang dialihkan melalui beberapa rekening.
Nama Selena muncul berulang kali.
Tiga bulan kemudian, Arga tidak pernah jadi berangkat ke Singapura.
Paspor dan beberapa asetnya diblokir selama penyelidikan.
Naya menyerahkan saham atas namanya untuk diperiksa dan bersedia menjadi saksi.
Aku tidak pernah bertanya apakah dia akan dihukum atau tidak.
Hubungan kami juga tidak berubah menjadi persahabatan seperti dalam cerita-cerita indah.
Ada luka yang tidak bisa hilang hanya karena dua orang menyadari bahwa mereka telah dibohongi oleh pria yang sama.
Namun aku berhenti membencinya.
Dan ternyata itu sudah cukup.
Hampir setahun setelah perceraian, aku menerima keputusan mengenai pembagian aset.
Aku tidak mendapatkan semuanya.
Aku juga tidak menginginkannya.
Namun hakku yang selama bertahun-tahun coba disembunyikan Arga akhirnya dikembalikan.
Pada hari pengacaraku menelepon untuk memberi kabar, aku sedang berada di rumah lama ibuku.
Kotak kayu yang dulu dicari Arga terletak di depanku.
Aku membukanya perlahan.
Di bawah foto pernikahan kami, aku menemukan sebuah amplop kecil yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Tulisan di depannya adalah tulisan tangan ayahku.
Untuk Laila, kalau suatu hari kamu mulai menyalahkan dirimu sendiri.
Tanganku langsung gemetar.
Di dalamnya hanya ada selembar kertas.
Ayah menulis beberapa kalimat.
Laila, orang yang mencintaimu tidak akan membuatmu terus mempertanyakan apakah kamu layak dicintai. Kalau suatu hari seseorang membuatmu kehilangan dirimu sendiri demi mempertahankannya, jangan takut untuk pergi. Kehilangan orang lain mungkin menyakitkan, tetapi kehilangan dirimu sendiri jauh lebih berbahaya.
Aku duduk di lantai sambil menangis.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tangis itu terasa berbeda.
Bukan tangis seorang istri yang ditinggalkan.
Bukan tangis seorang perempuan yang dikhianati.
Melainkan tangis seseorang yang akhirnya kembali menemukan dirinya sendiri.
Aku lalu mengambil foto pernikahanku dengan Arga.
Aku menatap wajah perempuan dalam foto itu.
Perempuan berusia dua puluh enam tahun yang tersenyum begitu lebar, percaya bahwa cinta akan selalu cukup untuk menyelamatkan segalanya.
Aku tidak membenci perempuan itu.
Aku justru ingin memeluknya.
Karena sekarang aku tahu satu hal yang dulu tidak dia ketahui.
Hari ketika pernikahanku berakhir ternyata bukan hari ketika keluargaku hancur.
Itu adalah hari ketika kebohongan selama sepuluh tahun akhirnya kehilangan tempat untuk bersembunyi.
Dan perempuan yang selama ini kukira telah merebut hidupku ternyata justru menjadi orang yang mengembalikan kunci untuk membukanya.
Flashdisk kecil yang Naya selipkan ke tanganku hari itu bukan hanya berisi bukti kejahatan Arga.
Di dalam salah satu foldernya, aku menemukan sebuah rekaman lama.
Rekaman suara Arga bersama Selena.
Dalam rekaman itu, Selena bertanya sambil tertawa,
“Kalau nanti Laila tahu semuanya?”
Arga menjawab tanpa ragu,
“Dia tidak akan pernah berani melawan. Aku sudah membuatnya percaya bahwa dia tidak bisa hidup tanpa aku.”
Aku mendengarkan kalimat itu hanya sekali.
Lalu kuhapus salinannya dari laptopku.
Bukan karena aku ingin melupakannya.
Justru karena aku tidak lagi membutuhkannya.
Arga salah tentang satu hal.
Aku memang pernah percaya bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya.
Namun ternyata, selama sepuluh tahun itu, akulah yang membuat hidupnya mungkin.
Dan ketika akhirnya aku memilih pergi, yang kehilangan segalanya bukan aku.
