Menjelang Hari Persalinan, Lani Diusir Suaminya Pulang ke Kampung dengan Alasan Biaya Melahirkan di Kota Terlalu Mahal

Dokter itu tidak langsung melanjutkan ucapannya. Ia justru menarik napas pelan, seolah sedang memilih kata yang paling tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Tom menatapnya dengan wajah tegang.

“Dok, saya tidak mengerti. Apa maksudnya identitas ayah biologis?”

Dokter menggeser sebuah lembar formulir ke arah Tom.

“Pada pemeriksaan awal setelah bayi lahir, kami menemukan kondisi darah bayi yang membuat tim medis perlu menanyakan riwayat golongan darah kedua orang tua. Ini bukan kesimpulan apa pun, tetapi ada ketidaksesuaian yang perlu diklarifikasi.”

Tom mengernyit.

“Golongan darah saya B.”

“Dan pasien?”

“A, kalau tidak salah.”

Dokter diam sesaat.

“Baik. Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Untuk saat ini, yang terpenting bayi dan ibunya sehat.”

Tom berdiri dari kursinya.

“Kalau begitu kenapa Anda bertanya soal ayah biologis?”

Sebelum dokter menjawab, pintu ruangan terbuka.

Seorang perempuan setengah baya masuk dengan tergesa-gesa. Wajahnya pucat, napasnya terengah-engah.

Tom mengenalinya.

Itu ibu Karen.

“Karen di mana?” tanyanya panik.

“Sedang beristirahat,” jawab dokter.

Perempuan itu mengangguk, lalu matanya jatuh pada Tom.

Ekspresinya berubah.

Bukan lega.

Bukan ramah.

Melainkan terkejut.

“Kamu masih di sini?”

Tom menatapnya bingung.

“Maksud Ibu?”

Ibu Karen menggigit bibir. Tangannya meremas tali tas yang dibawanya.

Dokter menyadari suasana berubah dan memilih memberi mereka ruang.

“Saya akan kembali setelah hasil pemeriksaan tambahan selesai.”

Begitu dokter pergi, Tom langsung mendekati perempuan itu.

“Ibu tahu sesuatu?”

“Tidak.”

“Jangan bohong. Kenapa Ibu bilang saya masih di sini?”

Ibu Karen tidak menjawab.

Tom semakin tidak sabar.

“Ibu, saya sudah menghabiskan hampir seratus juta untuk persalinan Karen. Saya yang membayar kamar ini. Saya yang menemaninya sejak semalam. Kalau ada sesuatu tentang bayi itu, saya berhak tahu.”

Perempuan itu menatap Tom cukup lama.

Lalu dengan suara lirih ia berkata, “Justru karena itulah saya kasihan kepadamu.”

Dada Tom seperti ditimpa sesuatu.

“Apa maksud Ibu?”

Ibu Karen menunduk.

“Bayi itu kemungkinan besar bukan anakmu.”

Dunia Tom terasa berhenti.

Beberapa detik ia hanya berdiri tanpa bergerak.

“Apa?”

“Karen pernah punya hubungan dengan seseorang sebelum dekat denganmu.”

Tom menggeleng cepat.

“Tidak mungkin. Karen bilang dia sudah lama sendiri.”

“Dia berbohong.”

Suara perempuan itu semakin kecil.

“Pria itu pergi ketika tahu Karen hamil.”

Tom menatapnya dengan mata membesar.

“Lalu saya?”

Ibu Karen tidak mampu menjawab.

Tom tertawa pendek. Bukan karena lucu, melainkan karena pikirannya belum sanggup menerima kenyataan.

“Jadi saya ini apa?”

Tidak ada jawaban.

“Dompet?”

Ibu Karen memejamkan mata.

Tom berjalan cepat menuju kamar perawatan Karen.

Ia tidak peduli ketika seorang perawat mencoba menghentikannya.

“Pak, pasien masih perlu istirahat.”

“Saya cuma mau bicara sebentar.”

Tom membuka pintu.

Karen sedang berbaring di ranjang dengan wajah pucat. Di sampingnya, bayi laki-laki yang baru dilahirkan tidur di dalam boks transparan.

Begitu melihat Tom, ekspresi Karen langsung berubah.

“Tom.”

Tom berdiri di dekat pintu.

Anehnya, kemarahannya justru terasa begitu besar sampai tidak ada satu pun kata yang langsung keluar dari mulutnya.

Ia memandang bayi itu.

Selama berbulan-bulan, ia membayangkan dirinya menggendong anak laki-laki itu. Ia sudah membicarakan nama, sekolah, bahkan masa depan bayi tersebut.

Ia menyebutnya kepada teman-temannya sebagai penerus keluarga.

Sekarang, untuk pertama kalinya, ia melihat bayi itu bukan sebagai anaknya, melainkan sebagai sebuah pertanyaan.

“Ayahnya siapa?”

Karen membeku.

“Tom, kamu sedang bicara apa?”

“Ayah bayi itu siapa?”

“Ya kamu.”

Tom tertawa pahit.

“Dokter bertanya soal ayah biologis. Ibumu juga sudah bicara.”

Wajah Karen kehilangan warna.

Tom mendekat.

“Siapa dia?”

Karen menatap boks bayi.

Air matanya mulai mengalir.

“Namanya Daniel.”

Tom menelan ludah.

“Daniel siapa?”

“Mantan pacarku.”

“Kapan kalian putus?”

Karen tidak menjawab.

Tom mengulangi pertanyaannya dengan suara lebih keras.

“Kapan?”

“Tujuh bulan lalu.”

Tom menghitung dalam pikirannya.

Kemudian wajahnya berubah total.

“Kita mulai dekat delapan bulan lalu.”

Karen menangis.

Tom mundur satu langkah.

Tiba-tiba semua potongan kecil yang selama ini tidak pernah dipikirkannya mulai tersambung.

Karen yang selalu menghindari membahas usia kandungan secara detail.

Karen yang menolak ketika Tom ingin ikut dalam pemeriksaan awal.

Karen yang hanya mengatakan dokter memperkirakan bayinya laki-laki.

Karen yang mendadak menjadi sangat manis setiap kali membicarakan biaya persalinan.

“Kamu sudah tahu sejak awal?”

“Aku tidak yakin.”

“Jangan bohong lagi.”

“Aku benar-benar tidak yakin, Tom.”

“Kalau begitu kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Karen terisak.

“Karena Daniel pergi.”

Tom menatapnya dengan tatapan kosong.

“Dan kamu butuh seseorang untuk menggantikannya.”

Karen tidak menjawab.

Diamnya sudah cukup.

Tom merasa sesuatu di dalam dirinya runtuh.

Namun di tengah kemarahannya, sebuah bayangan tiba-tiba muncul di kepalanya.

Lani.

Istrinya.

Perempuan yang ia kirim pulang menggunakan bus dalam keadaan hamil tua hanya karena ia tidak mau mengeluarkan uang untuk rumah sakit.

Perempuan yang sepanjang kehamilannya masih bekerja demi membantu keuangan mereka.

Perempuan yang berkali-kali berkata bahwa ia takut melahirkan tanpa dirinya.

Tom merogoh saku dan mengambil ponsel.

Tidak ada pesan dari Lani.

Tidak ada panggilan.

Sudah hampir dua minggu mereka tidak berbicara.

Entah mengapa, baru saat itu ia merasa khawatir.

Tom menelepon.

Tidak diangkat.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Panggilan ketiga akhirnya tersambung.

Namun yang menjawab bukan Lani.

“Hallo?”

Tom mengenali suara ibu mertuanya.

“Bu, Lani di mana?”

Hening beberapa detik.

“Kamu baru ingat punya istri?”

Nada suara perempuan tua itu dingin.

Tom menelan ludah.

“Lani baik-baik saja?”

“Sekarang baik.”

“Sekarang?”

“Ia melahirkan kemarin malam.”

Tom membeku.

“Apa?”

“Kamu bahkan tidak tahu?”

Suara ibu Lani bergetar menahan emosi.

“Anakmu lahir tadi malam. Laki-laki. Beratnya tiga koma dua kilogram.”

Tom menoleh ke arah Karen dan bayi di sampingnya.

Untuk sesaat, ia tidak bisa bernapas.

Anak laki-laki.

Anaknya sendiri.

Lahir pada malam yang sama ketika ia menunggu kelahiran bayi perempuan lain.

“Kenapa tidak ada yang memberi tahu saya?”

Di ujung telepon terdengar tawa kecil yang pahit.

“Harusnya siapa yang memberi tahu? Lani? Perempuan yang kamu usir pulang karena katanya biaya melahirkan terlalu mahal?”

Tom terdiam.

“Kami tidak punya waktu memikirkanmu semalam. Lani mengalami perdarahan setelah persalinan. Dokter harus bertindak cepat.”

Wajah Tom langsung pucat.

“Perdarahan?”

“Iya.”

“Sekarang bagaimana?”

“Sudah stabil.”

Tom memejamkan mata.

Tiba-tiba lorong rumah sakit swasta tempat ia berdiri terasa begitu dingin.

Seratus juta rupiah telah ia keluarkan tanpa ragu untuk seseorang yang membohonginya.

Sementara istrinya hampir kehilangan nyawa di rumah sakit daerah karena dirinya terlalu pelit untuk membayar persalinan di kota.

“Saya mau datang.”

“Tidak perlu.”

Tom terkejut.

“Bu…”

“Lani sudah membuat keputusan.”

Telepon kemudian diberikan kepada seseorang.

Beberapa detik kemudian terdengar suara Lani.

Lemah.

Namun tenang.

“Tom.”

Nama itu terdengar berbeda ketika keluar dari mulut istrinya.

Tidak ada lagi kehangatan.

Tidak ada lagi rasa takut kehilangan.

“Lani, maaf. Aku baru tahu kamu sudah melahirkan.”

“Aku tahu.”

“Aku akan ke sana hari ini.”

“Tidak perlu.”

“Aku ingin melihat anak kita.”

Lani terdiam cukup lama.

“Kamu memang berhak tahu bahwa dia lahir dengan selamat.”

“Lani…”

“Tapi setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan mengurus perceraian.”

Tom merasa lututnya melemas.

“Apa?”

“Aku sudah memikirkannya.”

“Karena Karen?”

“Bukan cuma karena Karen.”

Suara Lani masih tenang.

“Kalau hanya perselingkuhan, mungkin aku masih bisa marah, menangis, lalu memikirkan apakah aku mau memaafkan atau tidak. Tapi kamu mengirim istrimu yang sedang hamil tua pergi sendirian demi menghemat uang, sementara kamu menyediakan fasilitas terbaik untuk perempuan lain. Itu bukan sekadar selingkuh, Tom. Itu menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.”

Tom menutup mata.

“Aku salah.”

“Iya.”

“Aku bisa memperbaikinya.”

“Tidak semua hal harus diperbaiki dengan memberi kesempatan kedua.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada makian apa pun.

Tom menarik napas.

“Setidaknya izinkan aku melihat anakku.”

Lani tidak langsung menjawab.

“Kamu boleh melihatnya. Aku tidak akan menjadikan anak kita sebagai alat balas dendam. Tapi jangan berharap kehadiran seorang bayi bisa memperbaiki pernikahan yang sudah kamu hancurkan sendiri.”

Setelah percakapan itu berakhir, Tom berdiri lama di lorong.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa kerugian terbesar bukanlah uang seratus juta rupiah.

Melainkan keluarga yang baru saja ia buang dengan tangannya sendiri.

Dua hari kemudian, hasil tes yang diminta keluarga Karen keluar.

Karena kecurigaan semakin besar, ibu Karen sendiri meminta dilakukan tes DNA sesegera mungkin.

Tom awalnya tidak ingin datang.

Namun rasa penasaran memaksanya kembali ke rumah sakit.

Karen duduk di kursi roda saat dokter menyerahkan hasil tersebut.

Tangannya gemetar.

Dokter berbicara singkat dan jelas.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Saudara Tom bukan ayah biologis bayi ini.”

Karen langsung menangis.

Tom justru tidak bereaksi.

Seolah sebagian dirinya sudah mengetahui jawabannya sejak percakapan dua hari sebelumnya.

Namun ada satu hal lagi.

Dokter kemudian mengatakan bahwa Karen perlu mencantumkan riwayat keluarga biologis anak tersebut untuk kepentingan medis di masa mendatang.

Karen akhirnya menghubungi Daniel.

Pria itu datang sore harinya.

Ketika melihatnya, Tom justru merasa semakin bodoh.

Daniel bukan pria kaya.

Ia bahkan datang menggunakan jaket pengemudi ojek online.

Namun dari percakapan yang terjadi kemudian, kebenaran lain terungkap.

Daniel ternyata tidak pernah meninggalkan Karen karena mengetahui kehamilannya.

Karenlah yang memutuskan hubungan setelah mengetahui Tom memiliki pekerjaan tetap, apartemen, serta tabungan yang cukup.

Daniel menunjukkan pesan lama di ponselnya.

Dalam pesan itu, Karen menulis bahwa ia tidak mau membesarkan anak dalam kehidupan yang serba kekurangan.

Ia kemudian memblokir Daniel dan mengatakan bahwa bayi itu bukan anaknya.

Tom membaca pesan tersebut tanpa berkata apa-apa.

Ironis.

Karen meninggalkan seorang pria karena merasa ia terlalu miskin.

Lalu memilih Tom karena mengira Tom bisa memberikan kehidupan yang lebih baik.

Sedangkan Tom sendiri mengusir istrinya pulang karena tidak ingin mengeluarkan uang untuk persalinan.

Mereka berdua ternyata sama.

Sama-sama menilai kasih sayang berdasarkan siapa yang dianggap paling menguntungkan.

Beberapa minggu kemudian, Tom datang ke kampung Lani.

Ia membawa banyak barang.

Popok.

Susu.

Baju bayi.

Sebuah kereta dorong mahal.

Bahkan amplop berisi uang.

Namun ketika tiba di rumah sederhana ibu Lani, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti di depan pintu.

Lani sedang duduk di teras sambil menggendong bayinya.

Wajahnya masih tampak lebih kurus dibandingkan beberapa bulan lalu, tetapi sorot matanya berbeda.

Lebih tenang.

Lebih kuat.

Tom berdiri beberapa meter darinya.

“Namanya siapa?”

Lani menatap bayi dalam pelukannya.

“Raka.”

Tom mendekat perlahan.

“Boleh aku gendong?”

Lani menyerahkan bayi itu.

Untuk pertama kalinya, Tom menggendong anak kandungnya sendiri.

Raka membuka mata sebentar, lalu kembali tertidur.

Tom menatap wajah kecil itu.

Dadanya sesak.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Maafkan Ayah.”

Lani tidak berkata apa-apa.

Tom menoleh kepadanya.

“Aku akan menanggung semua kebutuhannya.”

“Aku tidak melarang.”

“Aku juga akan berubah.”

Lani mengangguk pelan.

“Berubahlah.”

Tom sempat tersenyum penuh harap.

Namun Lani melanjutkan,

“Tapi bukan supaya aku kembali. Berubahlah supaya suatu hari anakmu tidak malu memiliki ayah sepertimu.”

Senyum Tom menghilang.

Di atas meja teras terdapat sebuah map cokelat.

Lani mendorongnya perlahan ke arah Tom.

Di dalamnya ada salinan gugatan cerai.

Tom menatap dokumen itu cukup lama.

Dulu, ia mengira seorang istri akan selalu bertahan selama masih memiliki anak.

Ia pikir Lani terlalu lembut untuk benar-benar meninggalkannya.

Ia salah.

Beberapa bulan kemudian, perceraian mereka resmi selesai.

Karen akhirnya kembali tinggal bersama ibunya. Daniel memilih melakukan tes DNA sendiri dan setelah terbukti sebagai ayah biologis bayi itu, ia bersedia mengambil tanggung jawab sebagai ayah, tetapi menolak kembali menjalin hubungan dengan Karen.

Tom menjual mobilnya untuk menutup sebagian utang kartu kredit yang ia gunakan membayar persalinan Karen.

Apartemen yang dulu terasa terlalu mahal untuk dipakai membayar kebutuhan Lani akhirnya harus ia tinggalkan karena tidak sanggup lagi membayar cicilan dan biaya hidup sendirian.

Sementara itu, Lani memulai hidup baru.

Setelah masa pemulihan, ia bekerja dari rumah sebagai pengelola administrasi untuk sebuah usaha milik teman lamanya. Penghasilannya memang belum sebesar dahulu, tetapi ia cukup untuk membantu ibunya dan memenuhi kebutuhan Raka.

Setiap bulan, Tom tetap mengirim uang untuk anaknya.

Ia juga mulai rutin datang menjenguk.

Lani tidak pernah menghalangi.

Namun hubungan mereka tidak pernah kembali seperti semula.

Suatu sore, ketika Raka berusia hampir satu tahun, Tom datang membawa sebuah mobil-mobilan kecil.

Raka yang mulai belajar berjalan berusaha menghampirinya sambil tertawa.

Tom berjongkok dan membuka tangan.

Bayi itu jatuh ke pelukannya.

Lani melihat dari kejauhan.

Tom kemudian berkata pelan,

“Kadang aku masih berpikir, kalau waktu itu aku tidak menyuruhmu pulang…”

Lani memotong dengan lembut.

“Jangan hidup dengan kalau.”

Tom menatapnya.

“Karena setiap keputusan memang punya harga.”

Lani tersenyum tipis.

“Kamu dulu terlalu takut mengeluarkan uang untuk keluargamu. Pada akhirnya, keputusan itu membuatmu kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali dengan uang sebanyak apa pun.”

Tom menunduk.

Ia tahu Lani benar.

Dulu ia mengira seratus juta rupiah adalah bukti bahwa ia mampu memberikan segalanya kepada seseorang yang menurutnya akan memberinya anak laki-laki.

Namun pada akhirnya, uang itu justru menjadi harga yang membuka matanya.

Anak laki-laki yang selama ini ia cari ternyata sudah menjadi miliknya sejak awal.

Berada di dalam kandungan perempuan yang ia abaikan.

Dan ketika ia akhirnya menyadari nilainya, yang tersisa hanyalah kesempatan untuk menjadi ayah yang lebih baik.

Bukan lagi kesempatan untuk menjadi suami Lani.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang