Nama yang tercantum di halaman terakhir itu membuatku duduk terpaku sampai hampir subuh.
Damar Prasetyo.
Ayahku sendiri.
Aku membaca nama itu berkali-kali, seolah dengan mengulangnya huruf-huruf tersebut akan berubah menjadi nama orang lain. Namun di bawahnya ada nomor rekening lama, salinan tanda tangan, dan percakapan yang tidak mungkin salah.
Ayahku meninggal lima tahun lalu.
Selama hidupnya, ia adalah orang yang paling keras menentang pernikahanku dengan Arga. Dulu aku mengira itu hanya karena ia terlalu protektif. Bahkan sampai hari pernikahanku, Ayah tidak pernah benar-benar menerima Arga sebagai menantunya.
Kini aku mulai memahami alasannya.
Aku kembali membuka dokumen di laptop.
Sebelas tahun lalu, perusahaan milik Ayah hampir bangkrut setelah salah satu mitranya menggelapkan dana proyek. Mitra itu adalah ayah Arga.
Kasus tersebut tidak pernah masuk pengadilan. Ayah memilih menyelesaikannya diam-diam karena skandal itu bisa menghancurkan perusahaan dan membuat ratusan pegawai kehilangan pekerjaan.
Sebagai gantinya, keluarga Arga menyerahkan sejumlah aset.
Salah satunya sebidang tanah di pinggiran Jakarta yang ketika itu nyaris tidak bernilai.
Tanah tersebut kemudian didaftarkan atas namaku.
Aku baru berusia dua puluh tahun saat itu dan sama sekali tidak mengetahuinya.
Beberapa tahun kemudian, kawasan itu berkembang pesat. Sebuah perusahaan properti besar berencana membangun kawasan komersial di sana.
Nilainya melonjak menjadi puluhan miliar rupiah.
Saat itulah semuanya dimulai.
Arga mendekatiku bukan secara kebetulan.
Dan Laras ternyata sudah mengenalnya jauh sebelum aku diperkenalkan kepadanya.
Aku menahan napas ketika membaca percakapan lama mereka.
Laras mendapat uang dari Arga untuk memastikan aku tetap dekat dengannya. Ia mengetahui kebiasaanku, kelemahanku, masalah keluargaku, bahkan tipe pria yang kusukai.
Arga kemudian muncul di waktu yang tepat.
Pertemuan pertama kami yang selama bertahun-tahun kuanggap sebagai kebetulan romantis ternyata telah dirancang.
Namun ada bagian lain yang membuat semuanya semakin rumit.
Ayah mengetahui rencana itu.
Bukan sejak awal, tetapi sebelum aku menikah.
Ia menyewa seseorang untuk menyelidiki Arga dan menemukan hubungan Arga dengan Laras. Itulah alasan Ayah begitu keras melarangku menikah.
Sayangnya, ia tidak pernah mengatakan kebenarannya.
Mungkin karena malu mengakui bahwa sumber semua masalah adalah kesalahan bisnis masa lalunya.
Mungkin juga karena ia tahu aku sedang begitu mencintai Arga sehingga apa pun yang dikatakannya hanya akan terdengar seperti usaha memisahkan kami.
Ayah memilih cara lain.
Diam-diam ia mengubah status kepemilikan tanah tersebut.
Arga tidak pernah mengetahuinya.
Dan dokumen perubahan itulah yang selama lima tahun kusimpan dalam sebuah amplop tipis.
Amplop peninggalan Ayah.
Aku bahkan belum pernah membukanya karena pesan terakhir Ayah hanya satu.
“Buka kalau suatu hari kamu merasa orang-orang di sekelilingmu tidak lagi mencintaimu karena dirimu sendiri.”
Dulu aku marah mendengar kalimat itu.
Kini aku menangis untuk pertama kalinya.
Bukan karena Arga.
Bukan karena Laras.
Aku menangis karena akhirnya memahami seorang ayah yang telah terlambat kupahami.
Tiga minggu berikutnya, aku menjalani hidup seolah tidak terjadi apa-apa.
Arga semakin jarang pulang.
Suatu malam ia bahkan berkata harus dinas ke Surabaya selama empat hari.
Aku hanya mengangguk.
Padahal melalui unggahan seorang teman Laras, aku tahu mereka sedang melakukan sesi foto pranikah di Bandung.
Aku tidak menghubungi mereka.
Aku menemui notaris.
Kemudian pengacara.
Setelah itu, aku menyerahkan salinan bukti transaksi, percakapan lama, dan dokumen yang kutemukan.
Pengacaraku, Pak Adrian, membaca semuanya hampir satu jam.
“Bu Rania,” katanya akhirnya, “kalau bukti ini autentik, masalahnya bukan sekadar perselingkuhan.”
“Apa mereka bisa mengambil tanah itu?”
Pak Adrian menatapku.
“Tidak.”
Aku terdiam.
Ia mendorong amplop peninggalan Ayah kembali ke arahku.
“Justru sejak lima tahun lalu tanah itu sudah tidak bisa mereka sentuh.”
Aku menatapnya bingung.
Pak Adrian menjelaskan bahwa sebelum meninggal, Ayah telah memasukkan tanah tersebut ke dalam sebuah badan pengelola aset keluarga dengan aku sebagai penerima manfaat utama.
Arga tidak memiliki hak kepemilikan atasnya.
Bahkan jika kami bercerai, aset itu bukan harta bersama karena berasal dari penyelesaian aset sebelum pernikahan dan kemudian telah dipisahkan secara hukum.
“Lalu kenapa mereka masih melakukan semua ini?”
“Karena kemungkinan besar mereka tidak tahu.”
Aku teringat undangan Laras.
Pernikahan mereka akan berlangsung sebelum perceraian kami selesai.
Tiba-tiba semuanya masuk akal.
Mereka ingin memaksaku bereaksi.
Mungkin berharap aku marah, menandatangani sesuatu, menerima kesepakatan perceraian, atau menyerahkan aset agar semuanya cepat selesai.
Namun ada satu hal yang belum kupahami.
Mengapa Laras mengirim undangan itu langsung kepadaku?
Jawabannya datang dua hari sebelum pernikahan.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Datanglah. Jangan batalkan rencanamu. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.
Aku mencoba menelepon nomor itu.
Tidak aktif.
Hari pernikahan tiba.
Acara berlangsung di sebuah hotel mewah di Jakarta Selatan.
Aku mengenakan gaun sederhana berwarna biru tua. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada riasan berlebihan.

Aku datang sendirian.
Beberapa tamu mengenaliku.
Bisikan langsung terdengar ketika aku berjalan memasuki ballroom.
“Itu Rania, kan?”
“Bukannya dia masih istrinya Arga?”
Aku terus berjalan.
Di depan, Laras berdiri dalam gaun putih.
Matanya langsung menemukanku.
Untuk sesaat senyumnya menghilang.
Arga yang berdiri di sampingnya tampak jauh lebih pucat.
Aku tersenyum kecil.
Laras mendekat.
“Kamu benar-benar datang.”
“Kamu yang mengundang.”
Matanya turun ke amplop di tanganku.
“Apa itu?”
“Hadiah.”
Wajahnya menegang.
Sebelum ia sempat bertanya lagi, seorang perempuan paruh baya memanggil Laras untuk kembali ke depan.
Acara berlanjut.
Namun akad yang mereka rencanakan ternyata tidak pernah benar-benar terjadi secara resmi. Mereka menyebutnya sebagai seremoni keluarga karena dokumen perceraian Arga denganku belum selesai.
Itu tidak menghentikan mereka menggelar pesta seolah semuanya sah.
Setelah beberapa sambutan, pembawa acara tiba-tiba menyebut namaku.
“Dan kami mendapat permintaan khusus agar Ibu Rania naik ke atas panggung.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku melihat Laras.
Ia tidak tampak terkejut.
Berarti ini bagian dari rencananya.
Aku berjalan naik.
Arga berbisik tajam begitu aku mendekat.
“Kamu mau bikin apa?”
“Bukankah kalian yang memanggilku?”
Laras mengambil mikrofon.
“Rania adalah sahabatku selama sebelas tahun,” katanya.
Beberapa tamu saling pandang.
“Aku tahu kehadirannya mungkin mengejutkan. Tapi aku ingin semuanya selesai hari ini tanpa kebencian.”
Aku hampir tertawa.
Laras menatapku.
“Aku berharap kamu bisa menerima kenyataan bahwa Arga sudah memilih.”
Aku menatap perempuan yang pernah tidur sekamar denganku, memelukku saat ibuku sakit, dan menjadi orang pertama yang kugandeng saat aku takut menjalani operasi tujuh tahun lalu.
“Aku sudah menerimanya.”
Laras tampak tidak menduga jawabanku.
Aku menyerahkan amplop kepada Arga.
“Ini untuk kalian.”
Arga langsung membukanya.
Wajahnya berubah ketika melihat dokumen pertama.
“Apa ini?”
“Dokumen tanah yang selama ini kamu cari.”
Tangan Arga membeku.
Ruangan menjadi semakin sunyi.
Laras mendekat dan membaca isi dokumen.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
“Kamu bohong,” katanya.
“Aku juga berharap begitu.”
Arga meremas kertas itu.
“Kamu sudah jual tanahnya?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Tanah itu tidak pernah menjadi bagian dari harta pernikahan kita. Ayah sudah mengamankannya lima tahun lalu.”
Arga menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Bukan marah.
Takut.
Aku melanjutkan.
“Dan kemarin, aku menyetujui kerja sama pengelolaan lahan itu.”
“Dengan siapa?”
Aku menoleh ke arah pintu ballroom.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di sana bersama Pak Adrian.
Aku mengenal pria itu.
Pak Surya, mantan direktur perusahaan Ayah.
“Dengan perusahaan yang dulu dirugikan ayahmu.”
Arga mundur satu langkah.
“Tidak mungkin.”
“Semua mungkin kalau selama tujuh tahun kamu sibuk menghitung berapa harga istrimu.”
Laras tiba-tiba menarik lenganku.
“Kita bicara di belakang.”
Aku melepaskan tangannya.
“Kenapa? Bukankah kamu ingin aku melihat bagaimana akhirnya semua ini?”
Kalimat yang ia tulis di undangan itu kembali kepadanya.
Namun sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Laras tertawa.
Pelan.
Lalu matanya berkaca-kaca.
“Akhirnya kamu mengerti.”
Arga menoleh tajam.
“Laras.”
Laras tidak memedulikannya.
Ia mengambil ponsel dari tas kecilnya lalu menyerahkannya kepadaku.
Di layar terdapat rekaman percakapan.
Suara Arga.
“Aku cuma butuh dia tanda tangan. Setelah aset pindah, terserah kamu mau pergi atau tetap denganku.”
Kemudian suara Laras.
“Dan Rania?”
“Dia nggak akan punya apa-apa.”
Aku menatap Laras.
“Apa maksudnya?”
Air matanya jatuh.
“Aku memang mengenal Arga sebelum kamu mengenalnya.”
Arga mencoba merebut ponsel itu, tetapi Pak Adrian sudah naik ke panggung bersama dua petugas keamanan.
Laras melanjutkan.
“Awalnya aku memang dibayar untuk mendekatimu.”
Dadaku terasa sesak.
“Tapi setelah bertahun-tahun, kamu benar-benar menjadi sahabatku.”
“Jangan pura-pura.”
“Aku tidak pura-pura.”
“Lalu kenapa menikahi suamiku?”
Laras menutup mata sebentar.
“Karena itu satu-satunya cara membuat Arga yakin aku masih berada di pihaknya.”
Aku terdiam.
Laras mengatakan bahwa setahun terakhir Arga mulai terobsesi mendapatkan tanah itu. Ia terlilit utang investasi yang nilainya sangat besar. Beberapa orang sudah mulai menagih.
Arga membutuhkan asetku.
Ketika Laras mencoba mundur, Arga mengancam akan menyeret namanya dalam seluruh transaksi lama.
Maka Laras melakukan satu-satunya hal yang menurutnya bisa memaksaku menyelidiki semuanya.
Ia mengirim undangan.
“Aku sengaja menulis kalimat itu supaya kamu marah,” katanya. “Aku tahu kamu. Kalau aku cuma bilang Arga selingkuh, kamu mungkin akan menangis dan bertanya padanya. Tapi kalau aku membuatmu merasa ada sesuatu yang lebih besar, kamu akan mencari sendiri.”
Aku tidak tahu harus marah atau menangis.
“Kenapa tidak bilang langsung?”
“Karena Arga memeriksa ponselku. Dan karena aku tidak tahu apakah kamu masih akan percaya padaku.”
Arga mendadak berteriak.
“Dia bohong!”
Semua mata tertuju kepadanya.
Namun saat itulah Pak Adrian mengeluarkan beberapa dokumen.
“Pak Arga, kami juga sudah menyerahkan bukti dugaan pemalsuan tanda tangan dan penggunaan dokumen tanpa izin kepada pihak berwenang.”
Arga terdiam.
Wajahnya benar-benar runtuh.
Pesta yang ia rancang sebagai kemenangan berubah menjadi ruangan penuh bisikan dan tatapan.
Aku turun dari panggung.
Laras memanggilku.
“Rania.”
Aku berhenti, tetapi tidak berbalik.
“Maaf.”
Aku menarik napas panjang.
“Aku percaya kamu menyesal, Ras. Tapi penyesalan tidak menghapus sebelas tahun kebohongan.”
Ia menangis.
Aku melanjutkan berjalan.
Enam bulan kemudian, perceraianku dengan Arga resmi selesai.
Penyelidikan terhadap transaksi keuangannya terus berjalan. Beberapa asetnya disita untuk menyelesaikan utang.
Aku tidak pernah kembali kepada Laras.
Setidaknya tidak sebagai sahabat.
Ada luka yang bisa dimaafkan tetapi tidak harus membuat kita membuka pintu yang sama untuk kedua kalinya.
Namun suatu sore, sebuah paket kecil tiba di rumahku.
Di dalamnya terdapat foto lama kami saat kuliah.
Aku dan Laras duduk di lantai kamar kos sambil tertawa, masih terlalu muda untuk mengetahui betapa rumitnya hidup kelak.
Di belakang foto ada tulisan.
Aku memang masuk ke hidupmu karena uang. Tapi bertahan sebelas tahun karena untuk pertama kalinya aku punya seseorang yang menganggapku keluarga. Aku tahu aku tidak pantas meminta persahabatan itu kembali. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa setidaknya satu bagian dari semua kebohongan itu pernah menjadi nyata.
Aku menyimpan foto tersebut.
Bukan karena ingin melupakan apa yang Laras lakukan.
Justru karena aku ingin mengingatnya.
Beberapa pengkhianatan datang dari orang yang tidak pernah mencintai kita.
Namun yang paling menyakitkan terkadang datang dari orang yang akhirnya mencintai kita setelah terlambat menyadari bahwa hubungan itu dimulai dengan kebohongan.
Malam itu aku membuka amplop peninggalan Ayah sekali lagi.
Di bagian paling bawah, ternyata ada secarik kertas kecil yang sebelumnya terselip di lipatan dokumen.
Tulisan tangan Ayah.
Rania, kalau kamu membaca ini, mungkin Ayah sudah tidak bisa menjagamu lagi. Jangan habiskan hidupmu mencari tahu siapa yang benar-benar mencintaimu. Lihat siapa yang tetap menghormati pilihanmu ketika mereka tidak mendapatkan keuntungan apa pun darimu. Di situlah kamu akan menemukan jawabannya.
Aku menangis lama sambil memegang kertas itu.
Selama bertahun-tahun aku mengira Ayah gagal memahami pilihanku.
Ternyata ia memahami bahayanya jauh sebelum aku sendiri mampu melihatnya.
Aku berjalan ke kamar putriku yang sedang tertidur, membetulkan selimutnya, lalu duduk di tepi ranjang.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa kehilangan suami.
Aku tidak merasa kehilangan sahabat.
Aku justru merasa mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.
Diriku sendiri.
Dan saat itulah aku akhirnya memahami mengapa Ayah tidak pernah menuliskan nama Arga atau Laras dalam pesan terakhirnya.
Karena sejak awal, amplop itu bukan dibuat untuk menyelamatkan tanah puluhan miliar.
Amplop itu dibuat untuk menyelamatkanku pada hari ketika aku akhirnya mengetahui bahwa harga sebuah pengkhianatan bukanlah kehilangan orang lain.
Melainkan kehilangan diri sendiri karena terlalu lama mempercayai mereka.
