“Dan, Bu Sulastri… salinannya bukan cuma ada pada saya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ibu menatap Alya seolah baru pertama kali melihat perempuan yang selama ini dianggapnya lemah.
“Di mana kamu simpan?” tanyanya.
Alya mengangkat stroller Kirana dan meraih tasnya.
“Di tempat yang tidak bisa Ibu ambil.”

“Alya.” Aku berdiri. “Kita bicara dulu.”
Ia berhenti di dekat pintu.
Untuk sesaat aku berharap ia akan menoleh dengan wajah marah, menangis, atau memberiku kesempatan menjelaskan semuanya. Namun ketika tatapan kami bertemu, yang kulihat justru kelelahan.
“Aku sudah bicara selama sebulan, Rangga.”
“Aku akan berubah.”
“Kamu selalu bilang begitu setelah sesuatu terjadi.”
“Aku serius.”
“Aku juga serius.”
Ia membuka pintu.
Aku mengejarnya.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah kakakku.”
“Bawa Kirana?”
Alya menatapku lama.
“Menurutmu aku harus meninggalkannya di sini?”
Aku tidak bisa menjawab.
Di belakangku, Ibu berteriak, “Kalau kamu keluar dari rumah ini, jangan harap bisa kembali!”
Alya berhenti.
Aku melihat bahunya menegang.
Lalu ia berbalik.
“Justru itu yang saya harapkan.”
Pintu tertutup.
Hari itu aku kehilangan istri dan anakku.
Bukan karena mereka diculik.
Bukan karena kematian.
Aku kehilangan mereka karena selama sebulan aku terus memilih berdiri di tengah, seolah tidak memilih pihak adalah tindakan paling adil.
Padahal ketika satu orang sedang disakiti, berdiri di tengah berarti membiarkan orang yang menyakiti terus melakukannya.
Tiga hari kemudian pengacara Alya menghubungiku.
Namanya Ratih Mahendra.
Ia meminta kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat Simpang Lima.
Alya tidak datang.
Ratih meletakkan beberapa dokumen di hadapanku.
“Klien saya tidak berniat memutus hubungan Anda dengan Kirana.”
Aku mengangkat kepala.
“Jadi aku masih boleh bertemu anakku?”
“Dengan kesepakatan tertentu.”
“Apa?”
“Pertemuan dilakukan tanpa kehadiran ibu Anda.”
Aku terdiam.
Ratih melanjutkan.
“Alya tidak ingin Kirana tumbuh di lingkungan yang membuat ibunya takut.”
“Aku ayahnya.”
“Benar. Karena itu Alya masih membuka kesempatan.”
Aku menatap dokumen.
“Kalau aku tidak setuju?”
Ratih menutup map.
“Silakan tempuh proses hukum. Tapi saya sarankan Anda mendengarkan semua rekaman terlebih dahulu sebelum memutuskan.”
Malam itu aku melakukannya.
Sendirian.
Aku memasang earphone dan mendengarkan dua puluh tiga rekaman yang dibuat Alya.
Pada rekaman pertama terdengar suara Ibu mengkritik cara Alya menggendong Kirana.
Pada rekaman kelima, Ibu mengatakan ASI Alya mungkin tidak bagus karena Kirana sering menangis.
Pada rekaman kesembilan terdengar suara pintu kamar dibuka tanpa izin.
Pada rekaman ketiga belas, Alya menangis dan memintaku mencari tempat tinggal sementara.
Kemudian terdengar suaraku.
“Nanti, ya. Jangan bikin masalah tambah besar.”
Aku menghentikan audio.
Tanganku gemetar.
Aku bahkan tidak ingat pernah mengucapkannya.
Rekaman berikutnya lebih buruk.
“Rangga, aku takut tidur kalau ibumu masih suka masuk kamar.”
“Aku bicara besok.”
“Kamu bilang begitu kemarin.”
“Aku capek, Alya.”
Aku melepas earphone.
Untuk pertama kalinya aku mendengar diriku sendiri sebagaimana Alya mendengarku.
Bukan sebagai suami yang terjebak di antara dua perempuan yang dicintainya.
Melainkan sebagai laki-laki yang selalu meminta orang yang terluka untuk bersabar agar dirinya tidak perlu menghadapi orang yang melukai.
Aku menangis malam itu.
Ibu menemukanku di meja makan.
“Kamu nangis gara-gara perempuan itu?”
Aku menatapnya.
“Bu, kenapa Ibu menampar Alya?”
Wajahnya langsung berubah.
“Sudah sebulan masih dibahas?”
“Jawab.”
“Ibu sudah bilang. Dia kurang ajar.”
“Karena tidak menyendokkan nasi?”
“Jangan mulai membela dia lagi.”
Aku berdiri.
“Besok Ibu pulang ke Kendal.”
Ibu membeku.
“Apa?”
“Aku sudah menghubungi Pakde. Besok dia jemput Ibu.”
Wajah Ibu memerah.
“Kamu mengusir ibu kandungmu?”
“Aku meminta Ibu pulang.”
“Karena istrimu?”
“Karena rumah tanggaku hancur.”
Ibu menamparku.
Keras.
Kepalaku sampai berpaling.
Anehnya, saat itu aku tidak marah.
Aku hanya menyentuh pipiku dan tiba-tiba membayangkan Alya empat hari setelah melahirkan, memeluk bayi kami ketika menerima tamparan yang sama.
Saat itulah aku benar-benar memahami betapa pengecutnya diriku.
Keesokan harinya Ibu pulang ke Kendal.
Namun Alya tidak kembali.
Aku meminta maaf.
Sekali.
Dua kali.
Puluhan kali.
Ia selalu menjawab dengan kalimat yang sama.
“Aku percaya kamu menyesal, Rangga. Tapi penyesalan tidak otomatis membuatku merasa aman.”
Proses perceraian berjalan.
Aku tidak melawan hak asuh Kirana.
Aku hanya meminta kesempatan bertemu putriku secara rutin.
Alya mengizinkan.
Setiap dua minggu aku datang ke rumah kakaknya. Aku membawa popok, susu, buah, atau mainan kecil.
Aku belajar mengganti popok.
Belajar menenangkan Kirana.
Belajar menyuapi ketika ia mulai makan makanan pendamping ASI.
Aku tidak pernah membawa Ibu.
Enam bulan kemudian perceraian kami resmi.
Hari putusan dibacakan, aku menunggu Alya di luar ruang sidang.
“Alya.”
Ia berhenti.
“Maaf.”
Ia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku masih mencintaimu.”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku juga pernah sangat mencintaimu.”
Kalimat itu menghancurkanku karena menggunakan kata pernah.
Setahun berlalu.
Hubunganku dengan Ibu memburuk.
Ia terus meminta bertemu Kirana.
Awalnya memohon.
Kemudian menuntut.
Lalu menyalahkan Alya.
“Dia sengaja menjauhkan cucu Ibu.”
“Bukan dia.”
“Lalu siapa?”
“Aku.”
Ibu terdiam.
Aku melanjutkan, “Aku yang setuju Kirana tidak bertemu Ibu dulu.”
Sejak itu Ibu jarang menelepon.
Sementara kehidupanku berjalan perlahan.
Aku pindah dari rumah lama.
Rumah tempat Alya ditampar kujual.
Aku tidak sanggup tinggal di sana.
Sebagian uangnya kupakai melunasi sisa cicilan. Sebagian lagi kusimpan untuk pendidikan Kirana.
Aku juga mulai menemui psikolog.
Awalnya aku merasa konyol.
Namun dari sesi-sesi itu aku menyadari bahwa sejak kecil aku dibesarkan dengan rasa bersalah.
Setiap pengorbanan Ibu selalu memiliki harga.
Kalau aku menolak keinginannya, berarti aku anak durhaka.
Kalau aku memilih sesuatu tanpa persetujuannya, berarti aku lupa jasa.
Aku tumbuh menjadi laki-laki yang mengira patuh adalah bentuk cinta.
Dan tanpa sadar, aku membawa pola itu ke dalam pernikahanku.
Dua tahun setelah Alya pergi, Kirana hampir berusia dua tahun satu bulan.
Ia sudah bisa berlari kecil dan memanggilku “Ayah”.
Satu kata itu cukup membuatku rela berkendara menembus hujan hanya untuk bertemu dengannya selama dua jam.
Alya kini tinggal di sebuah rumah kontrakan di Banyumanik.
Ia kembali bekerja sebagai desainer interior.
Hubungan kami jauh lebih tenang.
Tidak dekat.
Namun tidak lagi penuh luka terbuka.
Sampai suatu Minggu pagi Ibu datang ke apartemenku tanpa memberi kabar.
Ia membawa dua tas besar.
“Apa ini?”
“Hadiah buat Kirana.”
“Untuk apa dibawa ke sini?”
“Antarkan Ibu.”
Aku menghela napas.
“Tidak bisa.”
“Dua tahun, Rangga.”
“Ibu tahu kesepakatannya.”
“Dua tahun!”
Matanya mulai basah.
“Ibu neneknya.”
Aku diam.
“Ibu salah.”
Aku menatapnya.
Itu pertama kalinya aku mendengar kalimat tersebut keluar dari mulutnya.
“Ibu salah menampar Alya.”
Aku masih tidak menjawab.
“Ibu mau minta maaf.”
“Kenapa baru sekarang?”
Ibu menunduk.
“Karena Ibu kira kamu akan capek dan akhirnya membawa Kirana sendiri.”
Aku tertawa pahit.
Setidaknya kali ini ia jujur.
“Tapi kamu tidak melakukannya.”
“Tidak.”
“Ibu cuma ingin melihat cucu Ibu sekali.”
Aku menelepon Alya.
Ia diam cukup lama setelah mendengar permintaanku.
“Aku tidak akan memaksa,” kataku. “Kalau kamu bilang tidak, aku bawa Ibu pulang.”
Alya akhirnya menjawab, “Datang jam tiga.”
Tepat pukul tiga sore kami tiba.
Sepanjang perjalanan Ibu tidak banyak bicara.
Ia memeluk tas hadiah di pangkuannya.
Ketika kami berdiri di depan rumah Alya, tangannya mulai gemetar.
Aku menekan bel.
Tidak ada jawaban.
Ibu merapikan rambutnya.
“Alya masih marah?”
“Jangan berharap apa pun, Bu.”
Pintu akhirnya terbuka.
Namun bukan Alya yang berdiri di sana.
Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun muncul.
Rambutnya pendek, sebagian sudah memutih.
Ia mengenakan kemeja sederhana dan celana panjang.
Begitu melihatnya, wajah Ibu berubah pucat.
Tas hadiah terlepas dari tangannya.
“Bu… Ratna?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Ibu mundur satu langkah.
Tangannya gemetar hebat.
Aku menatap keduanya bergantian.
“Ibu kenal?”
Perempuan bernama Ratna itu menatapku.
“Kamu Rangga?”
Aku mengangguk.
Ia tersenyum getir.
“Saya ibunya Alya.”
Aku terpaku.
Selama menikah, Alya selalu mengatakan ibunya tinggal di luar kota dan hubungan mereka tidak dekat.
Aku tidak pernah bertemu dengannya.
Namun reaksi Ibu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar.
“Masuk,” kata Bu Ratna.
Ibu justru berbalik hendak pergi.
Aku memegang lengannya.
“Bu.”
“Pulang.”
“Kenapa?”
“Rangga, kita pulang.”
Bu Ratna berdiri di ambang pintu.
“Masih suka lari kalau masa lalu datang, Lastri?”
Tubuh Ibu membeku.
Tidak ada seorang pun memanggilnya Lastri selain keluarga dekat.
“Bu Ratna,” bisikku, “sebenarnya apa yang terjadi?”
Bu Ratna menarik napas.
“Dulu saya dan ibumu bekerja di pabrik garmen yang sama di Ungaran.”
Aku menatap Ibu.
“Sekitar tiga puluh tahun lalu,” lanjutnya. “Kami tinggal di rumah kos yang sama.”
“Cukup,” kata Ibu.
“Belum.”
Suara Bu Ratna bergetar.
“Waktu itu saya baru melahirkan Alya. Suami saya bekerja di luar kota. Saya sendirian.”
Dadaku mulai sesak.
Bu Ratna menatap Ibu.
“Suatu malam, anak saya demam. Saya minta Lastri membantu membawakan air hangat karena jahitan saya masih sakit.”
Ibu menutup mata.
“Dia bilang perempuan habis melahirkan jangan manja.”
Aku tidak bernapas.
“Besok paginya kami bertengkar. Dia menampar saya.”
Aku menoleh kepada Ibu.
Wajahnya basah oleh air mata.
Bu Ratna melanjutkan, “Saya pergi dari kos itu beberapa minggu kemudian. Kami tidak pernah bertemu lagi.”
“Kenapa Alya tidak pernah bilang?”
“Karena dia tidak tahu sampai setelah Kirana lahir.”
Aku terdiam.
Bu Ratna mengambil ponselnya.
“Ketika Alya mengirim foto pipinya setelah ditampar, saya bertanya siapa pelakunya.”
Ia menunjukkan sebuah foto lama.
Dua perempuan muda berdiri di depan bangunan pabrik.
Salah satunya ibuku.
Yang lain Bu Ratna.
“Waktu saya melihat foto mertua Alya, saya langsung mengenalinya.”
Aku merasa kakiku kehilangan tenaga.
Jadi itulah tempat salinan rekaman Alya disimpan.
Pada ibunya.
Dan mungkin itulah alasan Alya begitu tenang ketika pergi.
Ia akhirnya mengetahui bahwa apa yang dialaminya bukan kejadian pertama.
Ibu duduk di kursi teras.
Tangisnya pecah.
“Aku tidak ingat semuanya.”
Bu Ratna menatapnya.
“Tentu. Bagi orang yang menampar, mungkin itu cuma beberapa detik. Bagi orang yang ditampar saat sedang lemah, ingatannya bisa bertahan seumur hidup.”
Pintu kamar terbuka.
Alya muncul sambil menggandeng Kirana.
Ibu langsung berdiri.
Namun ia tidak mendekati cucunya.
Untuk pertama kalinya, ia justru menundukkan kepala di depan Alya.
“Maaf.”
Hanya satu kata.
Tidak ada alasan.
Tidak ada cerita tentang pengorbanannya.
Tidak ada kalimat bahwa zaman dulu perempuan lebih kuat.
“Maafkan Ibu.”
Alya tidak menjawab segera.
Kirana bersembunyi di belakang kaki ibunya.
Beberapa detik kemudian Alya berkata, “Saya tidak bisa menjanjikan akan memaafkan Ibu hari ini.”
Ibu mengangguk sambil menangis.
“Tapi kalau Ibu benar-benar berubah, mungkin suatu hari Kirana bisa mengenal neneknya tanpa harus takut pada orang yang sama yang pernah membuat ibunya takut.”
Ibu kembali mengangguk.
Ia tidak meminta memeluk Kirana.
Tidak memaksa masuk.
Ia hanya mengambil hadiah yang jatuh tadi dan meletakkannya di dekat pintu.
Lalu berjalan kembali ke mobil.
Aku tetap berdiri.
Alya menatapku.
“Antar ibumu.”
Aku mengangguk.
Sebelum pergi, Kirana tiba-tiba berlari kecil ke arahku.
“Ayah!”
Aku berjongkok dan memeluknya.
Ketika berdiri kembali, mataku bertemu mata Alya.
Aku tidak tahu apakah kami akan pernah kembali menjadi keluarga seperti dulu.
Mungkin tidak.
Ada hal-hal yang ketika pecah bisa direkatkan, tetapi bentuknya tidak pernah sama.
Namun hari itu aku memahami sesuatu yang seharusnya kupahami sejak awal.
Keluarga bukan tentang siapa yang paling tua, siapa yang paling berjasa, atau siapa yang memiliki hubungan darah paling dekat.
Keluarga adalah tempat seseorang seharusnya merasa aman.
Dan ketika orang yang kita cintai disakiti, diam bukanlah kedamaian.
Diam adalah keputusan.
Dua minggu kemudian, Ibu mengirim pesan kepadaku.
Bukan menanyakan kapan bisa bertemu Kirana.
Bukan menyalahkan Alya.
Pesannya hanya berisi satu foto.
Sebuah kartu jadwal konsultasi psikolog.
Di bawahnya ada satu kalimat.
Rangga, ternyata Ibu juga harus belajar menjadi ibu lagi.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Lalu untuk pertama kalinya setelah dua tahun, aku meneruskannya kepada Alya.
Ia tidak membalas.
Namun malamnya, sebuah foto masuk ke ponselku.
Kirana sedang tertidur sambil memeluk boneka kelinci yang tadi dibawa Ibu.
Tidak ada tulisan apa pun.
Aku menatap foto itu lama.
Aku tidak menganggapnya sebagai pengampunan.
Bukan pula undangan untuk kembali seperti dahulu.
Namun mungkin begitulah luka keluarga mulai sembuh.
Bukan dengan melupakan apa yang pernah terjadi.
Melainkan ketika seseorang akhirnya berhenti meminta orang lain memaklumi kesalahannya dan mulai berani mengubah dirinya sendiri.
