Noda itu adalah darah.
Namun bukan darah dari luka yang terjadi semalam.
Tanganku gemetar ketika membaca tulisan di belakang foto pernikahan kami.
“Kalau kamu membaca ini, mungkin aku sudah dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Maaf karena pergi tanpa membangunkanmu. Ada sesuatu yang seharusnya kukatakan empat tahun lalu, tetapi aku terlalu takut untuk mengatakannya. Noda di seprai itu berasal dari pendarahan yang sudah beberapa minggu terakhir sering kualami. Aku sakit, Arga.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Sakit.
Satu kata sederhana, tetapi cukup membuat suara hujan, pendingin ruangan, bahkan detak jam di dinding seolah menghilang.
Aku segera membuka surat di dalam amplop.
Tulisan tangan Rani memenuhi hampir seluruh halaman.
“Aku datang ke Bandung bukan karena pekerjaan. Aku datang untuk menemui dokter di rumah sakit. Dua bulan lalu aku didiagnosis memiliki tumor di rahim. Dokter mengatakan aku harus menjalani operasi secepatnya. Kemarin aku datang untuk pemeriksaan terakhir sebelum menentukan jadwal operasi.”
Napas terasa tertahan di tenggorokanku.
Aku melanjutkan membaca.
“Aku tidak merencanakan bertemu denganmu. Aku bahkan tidak tahu kamu ada di hotel itu. Ketika melihatmu di bar, aku sempat ingin pergi. Tetapi aku berpikir mungkin hidup sedang memberiku satu kesempatan untuk mengucapkan sesuatu yang selama ini tidak pernah sempat kukatakan.”
Aku menutup mata.
Mendadak kenangan empat tahun lalu datang tanpa bisa kutahan.
Pernikahan kami sebenarnya tidak hancur karena perselingkuhan.
Tidak pula karena kekerasan.
Kami hancur karena sesuatu yang tampaknya jauh lebih sederhana.
Anak.
Setelah tujuh tahun menikah, kami belum juga memiliki anak.
Awalnya kami menghadapinya bersama.
Kami pergi ke dokter, menjalani berbagai pemeriksaan, mencoba program kehamilan, mengubah pola makan, bahkan mengambil cuti panjang agar Rani tidak terlalu stres.
Namun tahun demi tahun berlalu.
Tekanan dari keluargaku semakin besar.
Ibuku mulai mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak pernah dikatakan kepada seorang perempuan.
“Keluarga kita butuh keturunan.”
“Kalau memang tidak bisa, sampai kapan kamu mau menunggu?”
“Arga juga berhak menjadi ayah.”
Aku selalu mengatakan kepada Rani bahwa aku tidak peduli.
Bahwa aku mencintainya.
Bahwa hidup kami tetap bisa bahagia tanpa anak.
Namun perlahan aku berubah.
Aku mulai lebih sering pulang terlambat.
Lebih banyak diam.
Setiap kali melihat teman mengunggah foto bersama anak mereka, ada rasa iri yang tidak pernah berani kuakui.
Dan tanpa kusadari, Rani melihat semuanya.
Puncaknya terjadi suatu malam ketika kami bertengkar.
Aku masih mengingat kalimat yang keluar dari mulutku.
Kalimat yang selama empat tahun terakhir ingin sekali kutarik kembali.
“Mungkin Ibu benar. Aku juga ingin punya keluarga yang lengkap.”
Wajah Rani saat itu tidak menunjukkan kemarahan.
Justru itulah yang paling menghancurkanku.
Dia hanya menatapku cukup lama.
Lalu bertanya pelan, “Jadi selama ini aku bukan keluargamu?”
Aku tidak menjawab.
Kesalahan terbesar dalam hidupku bukan kalimat yang kuucapkan.
Melainkan diamku setelah pertanyaan itu.
Tiga bulan kemudian, Rani meminta cerai.
Aku kembali menatap surat di tanganku.
Di bagian bawah halaman, ada beberapa kalimat lagi.
“Arga, ada satu hal yang tidak pernah kamu tahu. Setelah perceraian kita selesai, aku menemui dokter lain. Dari pemeriksaan yang lebih lengkap, dokter mengatakan masalah kesuburan kita kemungkinan besar bukan hanya berasal dariku.”
Aku membeku.
Aku membaca kalimat berikutnya.
“Dokter menyarankan agar kamu juga diperiksa lebih mendalam. Tetapi waktu itu semuanya sudah selesai. Aku tidak punya keberanian untuk menghubungimu. Aku juga tidak ingin kamu merasa aku sedang mencari siapa yang salah.”
Tanganku mulai dingin.
Empat tahun.
Selama empat tahun aku hidup dengan keyakinan bahwa tubuh Rani adalah alasan kami tidak memiliki anak.
Padahal tidak pernah ada pemeriksaan lengkap terhadap diriku.
Aku terlalu yakin.
Terlalu egois.
Dan mungkin terlalu pengecut untuk menghadapi kemungkinan bahwa masalahnya justru berasal dariku.
Di bagian terakhir surat, tulisan Rani tampak sedikit tidak rapi.
“Semalam bukan tentang mengulang pernikahan kita. Aku hanya ingin sekali saja mengingat bagaimana rasanya berada di dekat seseorang yang pernah menjadi rumahku. Kalau operasiku berjalan baik, mungkin kita akan bertemu lagi. Kalau tidak, setidaknya kenangan terakhirku tentangmu bukan ruang sidang.”
Aku tidak sanggup melanjutkan membaca.
Aku langsung mengambil ponsel dan menelepon resepsionis.
“Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kami bantu?”
“Perempuan yang menginap di kamar 304. Namanya Rani Prameswari. Apakah dia sudah check-out?”
Terdengar suara keyboard.
Beberapa detik terasa seperti beberapa menit.
“Sudah, Pak. Sekitar pukul lima lewat dua puluh.”
“Apakah dia mengatakan mau pergi ke mana?”
“Mohon maaf, kami tidak memiliki informasi itu.”
Aku menutup telepon dan langsung berlari keluar kamar.
Di lift, aku mencoba menghubungi semua nomor yang mungkin masih terhubung dengan Rani.
Teman-teman lamanya.
Sepupunya.
Bahkan mantan rekan kerjanya yang terakhir kukenal.
Tidak ada yang tahu.
Sampai akhirnya aku menelepon Maya, sahabat Rani sejak kuliah.
Begitu mendengar namaku, Maya terdiam cukup lama.
“Kamu bertemu Rani?”
“Semalam.”
Suara di ujung telepon berubah.
“Dia cerita?”
“Sedikit.”
“Sedikit?”
“Aku menemukan surat.”
Maya mengembuskan napas.
“Arga, Rani melarangku memberitahumu.”
“Aku tahu dia sakit.”
Sunyi.
Aku menelan ludah.
“Tolong kasih tahu aku dia sekarang di mana.”

“Untuk apa?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Maya melanjutkan dengan suara dingin.
“Empat tahun lalu dia pergi sendirian dari rumahmu. Sekarang ketika dia sakit, kamu tiba-tiba mau datang sebagai apa?”
Aku tidak memiliki jawaban yang pantas.
Akhirnya aku berkata, “Aku tidak tahu.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku tahu.”
Aku menatap pintu lift yang tertutup.
“Tapi kali ini aku tidak mau membiarkan dia menghadapi semuanya sendirian.”
Maya tidak langsung menjawab.
Kemudian terdengar suaranya lebih pelan.
“Rumah Sakit Hasan Sadikin. Dia punya konsultasi tambahan jam sembilan.”
Aku melihat jam.
08.17.
Aku berlari keluar hotel tanpa kembali mengambil koper.
Hujan masih turun.
Aku naik taksi dan meminta sopir melaju secepat mungkin.
Sepanjang perjalanan, hanya satu pikiran yang berputar di kepalaku.
Bagaimana kalau terlambat?
Aku sudah terlambat empat tahun.
Aku tidak sanggup terlambat sekali lagi.
Ketika sampai di rumah sakit, aku berlari menuju bagian kebidanan dan kandungan.
Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya aku melihat sosok yang sangat kukenal.
Rani duduk sendirian di kursi lorong.
Mantel kremnya terlipat di pangkuan.
Wajahnya pucat.
Dia sedang menatap lantai ketika aku berhenti beberapa meter di depannya.
“Rani.”
Dia mengangkat kepala.
Matanya langsung membesar.
“Arga?”
Aku berjalan mendekat.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku membaca suratmu.”
Wajahnya berubah.
“Kamu seharusnya tidak datang.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak menulis surat itu supaya kamu mengejarku.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Aku duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat kami tidak mengatakan apa pun.
Kemudian aku bertanya, “Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”
Rani tersenyum kecil.
“Memberitahumu tentang apa? Bahwa mungkin masalah kesuburan kita bukan hanya dariku?”
Aku menunduk.
“Atau tentang penyakitku?”
“Keduanya.”
Dia menatap lurus ke depan.
“Karena kita sudah bukan siapa-siapa.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan.
Namun aku tahu aku pantas menerimanya.
“Aku minta maaf.”
Rani tertawa kecil, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu tahu berapa kali aku menunggu kalimat itu?”
Aku tidak menjawab.
“Bukan setelah perceraian,” lanjutnya. “Tapi sebelum perceraian. Aku menunggu kamu mengatakan bahwa aku tetap keluargamu. Aku menunggu kamu membelaku ketika ibumu menyalahkanku. Aku menunggu kamu mengatakan bahwa kita akan menghadapi semuanya bersama.”
Air matanya jatuh.
“Tapi kamu diam.”
Aku merasakan tenggorokanku tercekat.
“Aku pengecut.”
Rani menghapus air matanya.
“Ya.”
Anehnya, aku justru tersenyum.
Untuk pertama kalinya, aku tidak mencoba membela diri.
Beberapa menit kemudian seorang perawat keluar dan memanggil nama Rani.
Dia berdiri.
Aku ikut berdiri.
Rani menatapku.
“Kamu tidak perlu ikut.”
“Aku tahu.”
“Arga.”
“Aku hanya akan menunggu di luar.”
Dia menatapku beberapa detik sebelum akhirnya masuk ke ruang dokter.
Hampir satu jam kemudian, pintu terbuka.
Rani keluar dengan wajah sulit dibaca.
Aku segera berdiri.
“Bagaimana?”
Dia tidak menjawab.
Kami berjalan sampai ke ujung lorong.
Barulah dia berhenti.
“Dokter ingin operasinya dilakukan minggu depan.”
“Seberapa berbahaya?”
“Belum tahu pasti sampai jaringan diperiksa.”
Aku mengangguk.
Kemudian berkata, “Aku akan datang.”
Rani menatapku tajam.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena rasa bersalah bukan alasan yang baik untuk kembali ke kehidupan seseorang.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Dia benar.
Mungkin semua yang kulakukan pagi itu hanyalah kepanikan seorang laki-laki yang baru menyadari betapa buruk dirinya di masa lalu.
Aku akhirnya berkata, “Kalau begitu aku tidak akan menjanjikan apa pun.”
Rani menunggu.
“Tapi kalau kamu mengizinkan, aku ingin mulai dari hal kecil.”
“Hal kecil apa?”
“Menemanimu minum kopi.”
Rani hampir tersenyum.
“Hanya kopi?”
“Hanya kopi.”
Kami pergi ke sebuah kedai kecil dekat rumah sakit.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu semalam, kami berbicara tentang perceraian.
Tentang rasa sakit.
Tentang kesalahan.
Tentang empat tahun yang hilang.
Tidak semuanya selesai hari itu.
Beberapa luka ternyata tidak bisa disembuhkan hanya dengan permintaan maaf.
Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya, kami berhenti berpura-pura bahwa luka itu tidak pernah ada.
Seminggu kemudian, aku datang ke Jakarta.
Rani menjalani operasi selama hampir empat jam.
Aku menunggu bersama Maya di luar ruang operasi.
Ketika dokter akhirnya keluar, lututku hampir kehilangan tenaga.
“Operasinya berjalan baik.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Dokter menjelaskan bahwa tumor berhasil diangkat dan hasil pemeriksaan awal cukup meyakinkan. Rani masih membutuhkan kontrol rutin, tetapi peluang pemulihannya sangat baik.
Tiga hari kemudian aku menemuinya di kamar perawatan.
Dia sedang membaca buku ketika aku masuk.
“Aku membawa sesuatu,” kataku.
“Apa?”
Aku meletakkan sebuah amplop di meja.
Rani langsung menatap curiga.
“Apa ini?”
“Hasil pemeriksaan.”
“Hasil apa?”
Aku duduk.
“Pemeriksaan kesuburanku.”
Rani membeku.
Aku menarik napas panjang.
“Kamu benar.”
Dia tidak mengatakan apa pun.
“Dokter menemukan masalah pada kualitas spermaku. Kemungkinannya sudah ada sejak dulu.”
Wajah Rani perlahan berubah.
Aku tersenyum pahit.
“Jadi selama bertahun-tahun, orang-orang menyalahkanmu untuk sesuatu yang bahkan mungkin lebih banyak berasal dariku.”
Rani menunduk.
Air mata menetes ke selimut.
Aku tidak mencoba menyentuhnya.
Aku hanya berkata, “Aku minta maaf karena membuatmu membawa rasa bersalah yang bukan milikmu.”
Dia menangis cukup lama.
Dan aku membiarkannya.
Karena mungkin ada tangisan yang memang harus selesai sebelum seseorang bisa benar-benar memulai hidup baru.
Enam bulan berlalu.
Kami tidak langsung menikah kembali.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada lamaran mendadak.
Kami memulai semuanya dari nol.
Kopi.
Makan malam.
Berjalan di taman.
Sesekali bertengkar.
Sesekali mengungkit masa lalu.
Namun kali ini aku belajar untuk tidak diam ketika sesuatu harus dibicarakan.
Setahun setelah malam di Bandung itu, kami kembali ke kota yang sama.
Hujan turun seperti malam ketika kami bertemu.
Kami duduk di bar hotel yang sama.
Rani memesan anggur.
Aku memesan kopi.
Dia tertawa.
“Sejak kapan kamu berhenti minum wiski?”
“Sejak sadar keputusan terbesar dalam hidupku sering terjadi setelah minum wiski.”
Rani tertawa lebih keras.
Kemudian aku mengeluarkan sesuatu dari saku.
Bukan cincin.
Melainkan foto pernikahan lama kami.
Foto yang dia tinggalkan di kamar 304.
Aku menyerahkannya.
Di bagian belakang foto itu, di bawah tulisan Rani setahun sebelumnya, aku menambahkan satu kalimat.
Dia membacanya.
“Kalau dulu kita gagal menjadi suami dan istri, mungkin kali ini kita bisa belajar menjadi dua orang yang benar-benar saling memilih.”
Rani menatapku lama.
Kemudian bertanya, “Ini lamaran?”
“Belum.”
“Kenapa belum?”
“Karena aku ingin kamu memilih tanpa rasa kasihan, tanpa takut kehilangan, dan tanpa merasa berutang apa pun kepadaku.”
Rani tersenyum.
Dia mengambil pena dari tasnya lalu menulis sesuatu di bawah kalimatku.
Setelah itu dia mengembalikan foto tersebut.
Aku membacanya.
“Kalau begitu, tanyakan lagi besok.”
Aku tertawa.
Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, Rani menggenggam tanganku.
Dan untuk pertama kalinya aku mengerti sesuatu.
Malam di kamar 304 bukanlah malam ketika aku mendapatkan mantan istriku kembali.
Justru sebaliknya.
Malam itu adalah saat aku akhirnya kehilangan perempuan yang pernah kunikahi dengan cara lama.
Perempuan yang dulu diam-diam menanggung kesalahan, tuntutan, dan luka sendirian sudah tidak ada.
Yang duduk di hadapanku sekarang adalah Rani yang berbeda.
Lebih kuat.
Lebih berani.
Dan kali ini, jika aku ingin berada di sisinya, aku harus mengenalnya kembali dari awal.
Keesokan paginya, di bawah langit Bandung yang masih kelabu, aku benar-benar bertanya.
“Rani, maukah kamu mencoba membangun hidup bersamaku sekali lagi?”
Dia tidak langsung menjawab.
Dia memandang hujan di balik jendela, kemudian menatapku.
“Aku mau.”
Dadaku terasa ringan.
“Tapi ada satu syarat.”
“Apa?”
“Kali ini jangan pernah membuatku merasa bahwa keluarga hanya lengkap kalau ada anak.”
Aku menggenggam tangannya.
“Tidak akan.”
Rani tersenyum.
Beberapa bulan kemudian kami menikah kembali dalam acara sederhana.
Tidak banyak tamu.
Tidak ada pesta besar.
Hanya keluarga terdekat dan beberapa sahabat.
Kami tidak lagi mengejar kehamilan sebagai ukuran kebahagiaan.
Kami juga tidak lagi membiarkan orang lain menentukan seperti apa keluarga seharusnya terlihat.
Dan hidup, seperti biasa, punya kejutan terakhirnya sendiri.
Dua tahun setelah pernikahan kedua kami, kami menjadi orang tua.
Bukan melalui kehamilan yang selama bertahun-tahun pernah menjadi sumber luka.
Kami memilih membuka rumah kami bagi seorang anak yang membutuhkan keluarga.
Pada malam pertama setelah semuanya resmi, ketika rumah akhirnya sunyi, Rani duduk di sampingku.
“Lucu ya,” katanya.
“Apa?”
“Kita menghabiskan bertahun-tahun bertanya kenapa kita tidak diberi keluarga yang kita inginkan.”
Aku memandangnya.
Rani tersenyum.
“Ternyata mungkin kita hanya sedang diarahkan menuju keluarga yang membutuhkan kita.”
Aku tidak bisa menjawab.
Aku hanya menggenggam tangannya.
Saat itulah aku kembali teringat noda merah di atas seprai putih kamar 304.
Dulu aku mengira noda itu adalah pertanda bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Ternyata aku salah.
Noda itu memang berasal dari penyakit Rani.
Namun tanpa kami sadari, ia juga menjadi tanda berakhirnya kehidupan lama kami.
Karena terkadang hidup tidak mempertemukan kembali dua orang agar mereka mengulang masa lalu.
Hidup mempertemukan mereka kembali untuk melihat apakah mereka sudah cukup dewasa untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Dan pada akhirnya aku memahami satu hal yang seharusnya kupahami sejak bertahun-tahun lalu.
Keluarga tidak pernah ditentukan oleh siapa yang mampu memberikan keturunan.
Keluarga adalah tentang siapa yang tetap memilih tinggal ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang direncanakan.
